0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (1A)



Oleh: Martin Simamora



Pengantar
Sebagaimana yang telah dijadwalkan, kini saya akan menyajikan sebuah tinjauan terhadap sebuah pengajaran, yaitu pengajaran “Keselamatan Diluar Kristen”  yang dapat juga ditemui dan dibaca di situs Gereja GBI Rhema "GBI RHEMA Church" yang beralamat di Australia. Dalam situs tersebut terdapat 12 bagian (untuk kemudahan, anda dapat membacanya pada tautan ini) mengenai pengajaran tersebut. Tinjauan ini memiliki tujuan tunggal untuk mengetahui apakah Alkitab memang mendukung pengajaran yang hendak menyatakan sebuah kemungkinan adanya keselamatan di luar Kristen? Dengan kata lain apakah pengajaran yang diusung oleh Pdt.Dr Erastus Sabdono tersebut selaras dengan apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus dan oleh para rasul  sebagaimana yang tercatat di dalam Alkitab?

Sebelum saya memulainya, terlebih dahulu hendak menyajikan sejumlah refleksi dengan mengutip pandangan  dua teolog Kristen terkait  subyek bahasan kali ini. Dua pandangan ini  merupakan kaca mata kerangka berpikir dalam meninjau pengajaran tersebut.


It is in this discourse that we find the sixth “I AM” statement: “I am the way, the truth, and the life” (John 14:6). This particular statement has three different attributes, two of which we have explored already in the past few days. Yesterday, we saw that Jesus is the source and power of life. This is a clear affirmation of His own deity because any reader of the Bible knows that only God is the source and power of life. The “I AM” statement we find in 14:6 reinforces the fact of Jesus’ equality with God when Jesus claims again to be the Life.


Likewise, we have also seen that Jesus is the only way to the Father. He spoke of this before when He called Himself the Door of the Sheep, and reiterates it again in 14:6 when He calls Himself the Way. This statement was offensive to the pluralistic culture of that day and remains so even in the twenty first century.

Ada di dalam  ulasan berseri ini bahwa kita menemukan  “pernyataan AKU ADALAH” yang keenam: “Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6). Pernyataan pokok ini memiliki tiga atribut berbeda, dua diantaranya telah kita eksplorasi dalam beberapa hari lalu. Kemarin, kita telah melihat bahwa Yesus adalah sumber dan kuasa hidup. Ini adalah sebuah afirmasi yang jernih akan keilahiannya karena siapapun pembaca Alkitab mengetahui bahwa hanya Allah  sumber dan kuasa hidup. Pernyataan “AKU ADALAH” yang kita jumpai dalam 14:6 mengokohkan fakta kesetaraan Yesus dengan Allah ketika Yesus mengklaim  menjadi sang Hidup.


Demikian juga, kita telah melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Bapa. Dia telah mengatakan hal ini sebelum saat dia menyebut dirinya sendiri Sang Pintu Domba, dan menyatakannya kembali dalam 14:6 kala dia telah menyebut dirinya sendiri Sang Jalan. Pernyataan ini  telah menyerang budaya pluralistik pada  waktu itu dan bahkan masih tetap demikian dalam abad ke dua puluh satu. 



Prof. Dr. John Warwick Montgomery (Ph.D., Chicago, D.Théol., Strasbourg, LL.D., Cardiff, Dr. [h.c.], Institute for Religion and Law, Moscow), dalam  Defending The Hope That Is In Us: Apologetics For The 21st Century
A second gross error of the religious liberal is to capitulate to Postmodern thinking in its the refusal to take seriously the objective character of external reality. It is the position of contemporary thinkers such as Jacques Derrida that to try to find a core of objective meaning in the world or in literary materialssuch as the Bible is a chimerical quest. There are necessarily as many valid interpretations as there are interpreters, we are told, and interpreters always approach objects of study from their own personal, cultural, and presuppositional viewpoints. Moreover, in the case of literary works, meanings are always multilayered and can never be fully understood by efforts to get at an author’s original intention or purpose. Such a perspective is, of course, very hospitable to the religious liberal, who has never had a serious view of the unity of the Scriptures; has always regarded the Bible as a product of diverse human cultural experiences; and has had a powerful tendency to substitute for the doctrine that God created us in His image a humanistic theology of our creating God (and theology) in our image


Sebuah kesalahan besar kedua agama liberal adalah memberikan dirinya pada ketentuan-ketentuan pemikiran Postmoderen dalam penyanggahannya dan  mengambil secara serius karakter obyektif pada  realita eksternal. Ini adalah posisi para pemikir  kontemporer semacam Jacques Derrida yang berupaya menemukan sebuah inti makna obyektif  di dalam dunia atau di dalam tulisan-tulisan literatur seperti Alkitab, merupakan pencarian imajinari. Ada diperlukan  banyak interpretasi-interpretasi valid sehubungan adanya penafsir-penafsir, kita telah diberitahukan, dan para penafsir selalu mendekati obyek-obyek studi mereka dari  pribadi mereka sendiri, budaya, dan sudut pandang-sudut pandang presupoposional. Lebih lanjut, dalam kasus karya-karya literatur, makna-makna senantiasa memiliki banyak substansi dan tidak pernah dapat dipahami oleh upaya-upaya untuk mendapatkan sebuah apakah maksud atau tujuan penulis asli. Perspektif semacam ini, tentu saja, sangat bersahabat dengan agama liberal, yang tidak pernah memiliki sebuah  pandangan serius kesatuan  Firman-Firman Tuhan; senantiasa menilai Alkitab sebagai sebuah produk beragam pengalaman-pengalaman budaya manusia; dan memiliki sebuah kecenderungan yang sangat kuat untuk mensubstitusi doktrin Allah yang telah menciptakan kita dalam citranya dengan  sebuah teologi humanistik kita menciptakan Allah (dan teologi) dalam citra kita.


Tentu saja, dalam melakukan tinjauan, saya tidak akan menggunakan pendekatan yang sedemikian akademiknya walau memang godaan untuk melakukannya sangat kuat, namun sangat perlu bagi saya mengutip dua tokoh Kristen  yang setia kepada kebenaran firman Tuhan, sebab menjadi representasi penting bagi saya untuk membangun kerangka berpikir yang baik, dalam membangun sebuah tinjauan pengajaran semacam ini. Dengan kata lain, kesederhanaan akan menjadi warna utama dalam tinjauan-tinjauan ini, namun secara ketat memperhatikan bagaimana seharusnya Kristen, setia kepada segenap maksud Kristus terhadap semua manusia, maksud Allah yang dinyatakan kepada semua manusia sebagai kebenaran yang memiliki bobot setara, sebagaimana adanya tanpa sebuah diferensiasi kala dikategorikan pada realita-realita dunia global, yang pada akhirnya menghasilkan kebenaran-kebenaran dalam penakar-penakar dan penimbang-penimbang dunia manusia.


Tinjauan Pada Bagian 1 Sebagaimana Disajikan Oleh Situs
Paragraf 1-2
Menjadi pertanyaan yang terus terdengar dalam berbagai diskusi dan seminar rohani: Apakah ada keselamatan di luar Kristus atau apakah ada keselamatan di luar orang Kristen? Perdebatan sekitar hal ini belum pernah selesai. Sebagian orang Kristen dan rohaniwan tidak merasa perlu mempersoalkan. Ditambah lagi dengan alasan toleransi beragama serta dihindarinya tindakan menyinggung dan melukai masyarakat yang beragama lain, maka pokok ini dihindari untuk dibicarakan. Namun, bagaimanapun seharusnya kita tidak boleh menghindarkan diri dari mempersoalkan pokok masalah ini, sebab ini adalah pokok masalah penting yang harus dibedah dengan serius, jujur, analistis argumentative dan yang paling utama berdasarkan kebenaran Alkitab.

Saya menyetujui pendapat ini, dan sebetulnya topik ini sendiri sekalipun dikatakan sensitif bukan tidak dapat ditemukan dan bukan tidak pernah diangkat dalam tulisan setidak-tidaknya, misalkan sebagai contoh:
-Hubungan Yesus Dengan Allah, Martin Simamora


Menjawab pertanyaan tersebut di atas haruslah dirumuskan apakah yang dimaksud dengan keselamatan itu. Tanpa memahami pengertian keselamatan, maka persoalan ini tidak akan ditemukan jawabannya secara benar. Sayang sekali banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak atau belum memahami dengan benar apa yang dimaksud dengan keselamatan itu, walaupun mereka sering mendengar dan mengucapkannya. Mereka sudah memahaminya dengan lengkap, sehingga mereka tidak merasa perlu menggali lebih mendalam pokok masalah ini. Kebodohan tersebut terjadi atau berlangsung bertahun-tahun membawa dampak yang sebenarnya sangat fatal. Kesalahan memahami keselamatan tidak membangun pemahamannya mengenai pokok-pokok lain dalam Alkitab, juga mengenai keselamatan orang-orang non Kristen.
 
Saya  menyetujui bahwa memang ada banyak orang Kristen yang belum memahami secara tepat, apakah keselamatan itu. Ketidakmengertian betapa pentingnya keselamatan itu memang memiliki dampak pada peremehan terhadap kebenaran terkait keselamatan yang seharusnya digali pada Alkitab, sebagai satu-satunya sumber tulisan yang paling otoratif bagi setiap orang percaya untuk menggali, mempelajarinya, bahkan untuk menguji  para pengajar Kristen. Orang Kristen memang sepatutnya memiliki pemahaman yang benar, yang menyeluruh, sehingga kebodohan yang bertahun-tahun dapat dikoreksi. Keselamatan menurut siapakah? Tentu bukan menurut pemikiranmu dan filsafat-filsafat dunia ini, namun mutlak menurut Yesus dan tentu saja Alkitab, seperti:
-Pikiran-Ku Bukan Pikiranmu, Martin Simamora
-Janganlah Kamu Menyangka!, Martin Simamora
-Selamat Natal, Martin Simamora
-Kamu Adalah Pelita Dunia, Martin Simamora
-Kerjakanlah Keselamatanmu, Martin Simamora
-Pertobatan Beriman, Dr. Henry Clarence Thiessen


Sehingga pandangan seperti ini, sebagaimana dalam paragraf 3 :
Biasanya orang memahami keselamatan sekedar terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk Sorga. Rumusan ini berangkat dari pengertian kata selamat itu sendiri yang artinya terhindar dari musibah, malapetaka atau bencana. Dikaitkan dengan keselamatan abadi, biasanya orang memahami keselamatan sebagai terhindar dari bencana neraka. Pengertian keselamatan yang dangkal ini, mengaburkan kebenaran mengenai keselamatan yang ditawarkan Injil atau yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui karya-Nya.
Dapat dihindarkan


Selanjutnya, pengkhotbah mengajarkan demikian pada paragraf 4:
Sejatinya keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Untuk dapat kembali kepada rancangan-Nya, dibutuhkan fasilitas yang ada dalam karya Kristus. Hanya orang-orang yang menerima Yesus Kristus lah yang menerima “kuasa” supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12-13). Kuasa dalam teks ini adalah exousia yang menunjuk kepada “hak” (right, istimewa). Di dalam hak tersebut terdapat penebusan oleh darah Yesus, dimana orang percaya diberi peluang untuk bisa dapat dikembalikan kepada rancangan semula Allah. Di dalam hak tersebut juga termuat Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh 16:13), Injil yang mendatangkan iman (Rom 10:17) dan berkuasa menyelamatkan (Rom 1:16-17). Di dalam hal tersebut juga termuat penggarapan Tuhan melalui segala kejadian dalam kehidupan ini agar serupa dengan Tuhan Yesus Kristus (Rom 8:28).
Saya dapat katakan tanpa keraguan, bahwa ini adalah statement atau pernyataan yang sangat meninggikan atau memutlakan Allah sebagai sentralitas keselamatan sejak semula hingga kesudahannya. Kepada siapa peluang keselamatan itu tiba, pun  bersumber pada penebusan oleh darah  Yesus, menjadi anak-anak Allah pun tegas dikatakan sebagai pemberian bukan sebagai upaya, dan peran Allah dalam keselamatan bukan saja dalam permulaan keselamatan namun juga dalam kesinambungan  keselamatan itu di dalam diri orang percaya:“Roh Kudus yang berdiam didalam diri orang percaya  menuntun selama-lamanya  orang percaya  kepada segala kebenaran (Yoh 14:16-18, Yoh 15:26, Yoh 16:13, 1Yoh 2:27, 1Yoh 3:24).” Firman sebagai sentral  berimannya seorang  pun kokoh dipancangkan dengan menyatakan “Injil yang mendatangkan iman (Roma 10:17, 1Tes 2:13).” Saya sengaja mewarnai frasa tersebut dengan warna menyolok sebab poin ini akan banyak  ditautkan atau secara tak langsung tertautkan pada tinjauan  pengajaran ini pada seri-seri mendatang. Bahkan perjalanan kerberimanan orang Kristen itu dalam pergumulan dan perjuangan iman di kancah dunia ini dengan segala kompleksitas dan segala dilemanya telah dikatakan sebagai “penggarapan Tuhan” agar serupa dengan  Tuhan Yesus Kristus.


Namun sebuah distorsi atau penyimpangan tajam segera menyeruak dalam paragraf 5 sebagai berikut:
Kuasa atau hak (exousia) ini bila dimanfaatkan akan menggiring seseorang sampai kepada kesempurnaan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa di Sorga (Mat 5:48). Karena Bapa tidak kelihatan, maka Tuhan Yesus sebagai Anak Allah menunjukkan peragaan kesempurnaan yang dikehendaki oleh Bapa. Dengan demikian setiap orang percaya harus meneladani sikap hidup atau gaya hidup Tuhan Yesus sehingga serupa dengan Tuhan (Rom 8:28-29). Hal ini bisa terjadi atau terpenuhi dalam kehidupan orang percaya yang menggunakan “exousia” tersebut.

Ketika mengatakan bahwa “Kuasa atau hak (exousia) ini bila dimanfaatkan akan menggiring seseorang sampai kepada kesempurnaan,” maka secara tegas hendak menyatakan bahwa  keselamatan bukan sepenuhnya usaha Tuhan, dan ini bertolak belakang dengan apa yang baru saja dinyatakan pada paragraf 4. Sehingga dapat dikatakan, paragraf 4 adalah argumentasi yang dibangun di atas dasar firman Tuhan, dan pada paragraf 5, didasarkan pada pemikiran manusia yang humanis.

Sehingga ketika pengkhotbah melanjutkannya dengan mengutip perkataan Yesus: ”Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa di Sorga (Mat 5:48)” sebagai dalam satu  bangunan konteks paragraf 4 menjadi saling berkontradiksi, oleh sebab: Matius 5:48 digunakan sebagai teks untuk menjelaskan “Kuasa atau hak (exousia).” Menggunakan Matius 5:48 untuk menjelaskan “esxousia” seketika itu juga akan membuat kedua teks tersebut saling menganulir satu sama lain dan kehilangan keharmonisan antar teks.

Matius 5:48  juga menjadi lebih kehilangan makna kontekstualnya setelah diimbuhkan dengan “Karena Bapa tidak kelihatan, maka Tuhan Yesus sebagai Anak Allah menunjukkan peragaan kesempurnaan yang dikehendaki oleh Bapa.” Bapa memang tidak kelihatan, namun  itu sama sekali tak ada kaitannya dengan Matius 5:48 dengan makna: meneladani Yesus sebagai peraga kesempurnaan Bapa yang tak kelihatan, sebagaimana dikehendaki Bapa agar diteladani oleh orang percaya. Yesus diteladani secara sempurna sebagaimana Bapa sehingga orang Kristen juga mutlak meneladani secara sempurna, bukan itu yang sedang dimaksud Yesus. Bukan itu sama sekali!


Mari kita meninjau sejumlah poin dibawah ini:
(1)Matius 5:3 Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  Jika dikatakan sebagai simpulan, bahwa orang Kristen harus  mencapai kesempurnaan sebagaimana Bapa dengan meneladani Kristus secara sempurna, maka ketika kita memperhatikan keseluruhan khotbah Yesus, ada bagian lain yang berbicara mengenai mereka pemilik Kerajaan Sorga, bukan karena menjadi  sempurna sebagaimana Bapa, namun karena miskin (rohani) di hadapan Allah. Kita harus menilai bahwa 2  ayat tersebut memiliki kemuliaan yang sama, namun keduanya sama-sama menunjukan kebergantungan dengan anugerah Allah pada orang percaya untuk memiliki apa yang tidak dimiliki sebagai seorang yang miskin rohani.


(2)Matius 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Jika dikatakan bahwa orang Kristen harus mencapai kesempurnaan sebagaimana Bapa dengan meneladani Kristus secara sempurna/tanpa cela, namun bagian lain pada Matius 5 yang berbicara “ke-empu-an Kerajaan Sorga, karena orang percaya itu dianiaya oleh sebab kebenaran.” Sehingga kembali kedua teks tersebut harus dipandang sebagaimana poin 1 di atas.


(3)Demikian juga pada Matius 5:11-12 “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." Kita melihat seorang percaya menerima upah besar di sorga sebab dirinya dianiaya karena Yesus!  Tidak dikatakan orang Kristen mendapat upah di sorga karena SEMPURNA meneladani Bapa.


(4)Matius 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Adakah yang dapat melihat Allah? Tentu tidak ada, sebab andaikan ada maka bukan saja manusia Yesus yang dapat berkata “melihat Bapa.” Bahkan tidak juga tokoh sekaliber Musa,  yang  oleh kasih karunia Allah dapat “melihat” Allah, pun tidak pernah bisa melihat Allah dalam arti sebenarnya (terkait ini, baca artikel ini). Sehingga dapat dikatakan jika manusia senantiasa gagal untuk memiliki hati suci, maka  mustahil sekejab saja melihat Allah. Maka sebetulnya juga, manusia siapapun dia sebagaimana Musa, sekalipun dalam kasih karunia Allah, tidak mungkin dapat melihat Allah tanpa  Yesus (Yohanes 14:8),dan dengan demikian, manusia tanpa kasih karunia tak dapat melihat kesempurnaan dalam diri Yesus yang sempurna meneladani Bapa. Bukankah orang-orang Yahudi gagal melihat Yesus yang demikian?? (Yohanes 10:22-39).


Empat poin ini hendak memperingatkan kita, agar tidak gegabah dalam memahami apa yang Yesus perintahkan. Dan juga tidak menggunakan teks ini untuk menjelaskan (exousia) yang pada konteksnya menjelaskan bagaimana seorang dapat menjadi anak-anak Allah? Karena diberi kuasa! Jadi kuasa di sini terkait menjadi anak-anak Allah atau dilahirkan baru oleh Allah, bukan terkait  bagaimana menjadi sempurna sebagaimana Bapa. Tidak satu bentuk partisipasi yang bagaimanapun dari manusia untuk menjadi anak-anak Allah. Usaha Allah!


Sekarang  harus diketahui dahulu,  apakah ukuran-ukuran sempurna yang dimaksud oleh Yesus dalam Matius 5:48 itu? Apakah yang harus dilakukan agar dapat dikatakan seorang Kristen itu telah sesempurna Bapa? Adakah ukuran-ukurannya? ADA!


Mari kita lihat:



(1) Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.


(2)Matius 5:21-22 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.


(3)Matius 5:23-24 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.


(4)Matius 5:25-26 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.


(5) Matius 5:27-28 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.


(6)Matius 5:29-30 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.


(7)Matius 5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.


(8)Matius 5:33-37 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.


(9)Matius 5:38-39 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.


(10)Matius 5:40-41 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.


(11)Matius 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.


(12)Matius 5:43-47 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?


Perhatikan! Jika ayat 48 yang berbunyi “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna," dijelaskan dengan ayat yang terdekat, yaitu ayat 47, maka   ukuran kesempurnaan Bapa yang  harus diteladani oleh orang percaya adalah dalam hal Bapa yang  mengasihi baik kepada orang baik dan kepada orang jahat, dalam hal kehidupan dunia atau  yang sesaat ini : “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”


Dijelaskan dengan ayat-ayat yang lebih jauh, yaitu ayat 21-46, maka KESEMPURNAAN BAPA diindikasikan dengan firman Yesus yang berbunyi “Tetapi Aku berkata kepadamu.” Setiap kali anda membaca “tetapi aku berkata kepadamu” maka ingatlah bahwa Yesus sedang memberikan sebuah kedalaman tak terduga dari apa yang mejadi maksud Allah dari setiap ketentuan-ketentuan Allah yang kudus dalam taurat! Dan  Yesus berkata kepada setiap pendengarnya bahwa setiap taurat yang tertulis harus dilaksanakan berdasarkan firmannya, bukan pada apa yang diajarkan oleh para ahli Taurat. Yesus sedang membentangkan sebuah kedalaman maksud Allah dibalik setiap huruf-huruf mati pada taurat, Sang Firman/Logos sedang menginterpretasikan taurat bahkan bukan sekedar penginterpretasi tetapi sebagai Dia Yang Berfirman!

Sekarang, baik mengacu pada ayat yang terdekat dan ayat-ayat yang lebih jauh, kita sedang melihat apa yang tak pernah selalu atau senantiasa dapat dilakukan manusia dan apa yang senantiasa dikehendaki Bapa. Ketika Yesus berkata “Tetapi Aku Berkata Kepadamu” maka Yesus sedang berkata apa yang tidak pernah dilakukan manusia satu kalipun pada apa yang tak selalu berhasil dilakukan oleh manusia.
Jadi  kita sudah melihat betapa dalamnya dan agungnya kesempurnaan  yang dikehendaki Bapa dan yang dapat dilakukan oleh Yesus.


Yesus memang harus menunjukan bahwa kehendak Bapa adalah sempurna dan tidak mungkin diselaraskan dengan apa yang dapat dan tak dapat dilakukan manusia. Ketika berbicara sempurna maka memang berbicara kesempurnaan tanpa sedikitpun pengurangan yang sekecil apapun dari apa  yang dituntut Allah! Perhatikan ini:


Matius 5:17-19 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.


Kesempurnaan? Anda baru saja melihat kesempurnaan Yesus:” selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat. Ada 2 aspek kesempurnaan Yesus dalam memenuhi tuntutan taurat: (a)aspek waktu “selama  belum lenyap langit dan bumi” dan (b) aspek kesanggupan memenuhi segenap tuntutan tanpa setitikpun terlewatkan “satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat.”  Dalam hal inilah makna “Aku datang untuk menggenapinya.” Dan kita telah melihat bahwa penggenapan yang Yesus lakukan bukan sebatas pengertian hurufiah taurat tetapi pada apa yang sesungguhnya dikehendaki Bapa (Tetapi aku berkata kepadamu) dan kesanggupan dia untuk menggenapinya  dalam konteks waktu “selama belum lenyap langit dan bumi.” Dua aspek ini mustahil dipenuhi manusia oleh dua hal ini, oleh sebab pada dasarnya “Yesus dan Bapa adalah Satu atau aku didalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” 


Konsekuensinya, siapapun pembaca Alkitab harus memahami “Aku datang untuk menggenapi” sebagai HANYA DIA YANG DAPAT! Ketika Yesus menuntut manusia-manusia untuk sesempurna  Bapa maka dia berkata sebagai Juruselamat manusia dan sebagai dia yang berada di dalam Bapa dan Bapa di dalam dia secara sempurna TANPA KEPENGANTARAAN yang bagaimanapun antara dia dan Bapa. Ketika Yesus berkata bahwa dia adalah Sang Penggenap maka dia sedang berkata bahwa dia adalah Sang Kudus, Sang Tak Berdosa. Bukankah Yesus dikatakan oleh  bapak pendeta Erastus Sabdono bahwa Kristus meneladankan kesempurnaan Bapa yang tak terlihat itu?

Pada akhirnya, kita sebetulnya dapat mengatakan bahwa Matius 5:48 memang harus dikatakan sebagai tuntutan Bapa yang sempurna kepada manusia-manusia berdosa. Hanya saja,  manusia tak mungkin menjadi penggenap  pada dirinya sendiri sebab kemampuan dirinya untuk menggenapi sangat bergantung pada Yesus sang Penggenap atau manusia tidak memiliki kuasa untuk melakukannya atau menggenapi tuntutan Taurat sebagai representasi sesempurna Bapa!


Dan pada bagian lain, melakukan seluruh  hukum Taurat sangat erat hubungannya dengan hubungan sesama manusia:
Matius 7:12 Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Bandingkan dengan Matius 6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Uniknya, “sebagaimana kamu kehendaki” sama sekali tidak seperti yang dibayangkan oleh manusia manapun! Perhatikan ayat sebelumnya, 30:
“Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.”
Dan ayat sesudahnya,32-33: Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.


Sebagaimana kamu kehendaki  bukan  sama sekali apa yang ku-maui tetapi apa yang dikehendaki-Nya! Semua perintah Yesus senantiasa dan melulu berbicara kesempurnaan, tanpa memberi ruang sedikitpun bagi tak keberdayaan manusia untuk mengejarnya. Tak ada ruang bagi ketakudusan dihadapan Bapa, semua perilaku manusia harus dan mutlak berorientasi pada standard- standard Allah Pencipta Langit dan Bumi, Pencipta seluruh ras manusia! Manusia Yesus satu-satunya yang sempurna, Sang Penggenap, satu-satunya yang sanggup sesempurna Bapa dalam standard ilahi sebagaimana Bapa, ilahi adanya dalam segenap aspeknya.


Jika demikian apakah makna Matius 5:48? Maknanya sebagaimana ayat terdekat dan pada ayat-ayat terjauh. Hanya saja Yesus sedari awal sudah menyatakan bahwa hanya dialah PENGGENAP, dia telah datang menjadi Penggenap sebab tiada manusia yang mungkin menjadi penggenap dalam 2 aspek yang begitu mulianya. Jadi memang sebagai orang percaya anda harus menggunakan kasih (ayat 48) kepada setiap orang entah jahat entah baik secara SEMPURNA! Sebagaimana Bapa. Dan, sebagai orang percaya anda harus melakukan seluruh tuntutan hukum Taurat dalam konteks “TETAPI AKU BERKATA KEPADAMU.”  Inilah yang harus anda renungkan dalam-dalam dan menimbang secara serius kepada Yesus sebagai sumber kebenaranmu.


Sekarang, apakah motivasimu hidup dalam kasih yang memang diperintahkan oleh Yesus? Mengejar PENGGENAPAN agar sempurna seperti Bapa dalam standar Yesus yang sepanjang zaman atau hingga kesudahan, dan dalam kesempurnaan tiada cela setitikpun? Hanya jika anda mampu anda dapat, namun Yesus tidak hendak menuntut anda menjadi para penggenap  pada dirimu sendiri, sebab dia telah datang untuk menjadi Penggenap.


Mengejar kesempurnaan otentik atau terlepas dari apa yang telah dilakukan oleh Yesus sebagai Penggenap untuk sesempurna Bapa, merupakah kesalahan pada realita apa yang tak dapat dilakukan manusia yang berada didalam belenggu  hasrat daging. Hasrat daging selaten apapun (dalam pikiranmu atau dalam hatimu) telah membuat anda tak mungkin sesempurna Bapa. Tuntutan Yesus berlaku bagimu untuk dilakukan dan ketika anda tahu keadaanmu yang dipenjara hasrat daging yang  bahkan masih laten, maka anda tahu bahwa kesempurnaan Bapa yang kudus dalam keilahiaannya bukan sebuah “skor” untuk dikejar, namun sebuah petunjuk untuk memadang pada Yesus dalam melakukan kehendak Bapa yang kudus agar anda hidup dalam kekudusan Bapa, oleh karena Kristus di dalammu memberikan kuasa bagi setiap orang percaya untuk bertumbuh  atau hidup dalam Kristus (Kolose 1:25-29 Roma 8:10, 1Petrus 1:13-25). Perkataan Yesus bahwa dirinya datang sebagai Penggenap telah menegaskan bahwa semua manusia selain dirinya, tidak dalam posisi untuk menjadi penggenap  perilaku Bapa yang kudus. Kekudusan manusia tidak  lahir dari diri manusia  yang percaya padanya, namun lahir dari Kristus yang ada di dalamnya.


                                                                  AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN

P O P U L A R - "Last 7 days"