0 Alkitab Tidak Ada Salahnya (Infallible & Inerrant)



Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div

Alkitab Tidak Ada Salahnya (Infallible & Inerrant)



1)Yang ‘inerrant’ (=tidak ada salahnya), adalah Kitab Suci asli (autograph), yang sudah tidak ada lagi.


a) Manuscript-manuscript / naskah-naskah hasil salinan sudah tidak lagi inerrant, apalagi Kitab Suci yang sudah diterjemahan dari bahasa asli ke bahasa lain.

Karena itu kita tidak perlu bingung pada waktu ada orang yang membuktikan bahwa ada kontradiksi / kesalahan dalam Alkitab. Mengapa? Karena autograph sudah tidak ada lagi, sehingga tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa autographnya yang salah atau mengandung kontradiksi. Kalau salinan/copy mengandung kontradiksi / kesalahan, kita dengan mudah bisa berkata bahwa dalam hal itu telah terjadi kesalahan penyalinan.


b) Ada orang kristen / hamba Tuhan yang mempercayai bahwa Alkitab kita yang sekarang inipun tidak ada salahnya. Ini adalah pandangan yang mungkin sekali tulus dan bermotivasi benar (untuk membela Tuhan / Firman Tuhan / kekristenan), tetapi bagaimanapun juga ini jelas merupakan pandangan yang salah dan bodoh!


Hal ini bisa dibuktikan dari adanya:


1.Perbedaan-perbedaan antara manuscript yang satu dan manuscript yang lain.
2. Kontradiksi yang tidak mungkin bisa diharmoniskan dalam Kitab Suci.

 
Misalnya: 2Taw 22:2 dan 2Raja 8:26 adalah ayat-ayat yang paralel, yang sama-sama menceritakan naiknya Ahazia ke takhta kerajaan. Tetapi kalau 2Taw 22:2 mengatakan bahwa Ahazia berusia 42 tahun pada waktu ia menjadi raja, maka bagian paralelnya, yaitu 2Raja 8:26, mengatakan bahwa Ahazia berusia 22 tahun pada waktu ia menjadi raja. Ini betul-betul kontradiksi yang tidak bisa diharmoniskan, dan semua orang yang bisa menggunakan logika / akal sehatnya pasti setuju bahwa 2 kebenaran tidak mungkin bisa bertentangan. Pada saat terjadi pertentangan antara 2 hal, maka pasti salah satu salah atau bahkan kedua-duanya salah.


  • 2Taw 22:2 - “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri”.

  • 2Raja 8:26 - “Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel”.


Catatan: dalam NIV, untuk 2Taw 22:2 dituliskan ‘twenty two’ dua puluh dua), sehingga menjadi sama dengan dalam 2Raja 8:26. Tetapi pada catatan kakinya dituliskan bahwa itu didapatkan dari beberapa naskah LXX / Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke bahasa Yunani) dan Alkitab bahasa Syria/ Aram, sedangkan dalam bahasa Ibrani ‘forty two’ (=empat puluh dua).


Jadi, kalau kita melihat naskah dalam bahasa asli, yaitu Ibrani, maka kedua ayat di atas bertentangan! Ini menunjukkan bahwa salah satu pasti salah, dan dengan demikian, naskah-naskah itu sudah tidak lagi inerrant!


c) Mengapa Allah tidak menjaga supaya copy-copy / manuscript-manuscript itu juga inerrant? Mungkin tidak ada jawaban yang pasti tentang hal ini, tetapi seorang penafsir dan ahli theologia Reformed yang bernama William G. T. Shedd menjawab pertanyaan ini dengan kata-kata sebagai berikut:

“Why did not God inspire the copyists as well as the original authors? Why did he begin with absolute inerrancy, and end with relative inerrancy? For the same reason that, generally, he begins with the supernatural and end with the natural. For illustration, the first founding of his church, in both the Old and New dispensations, was marked by miracles; but the development of it is marked only by his operations in nature, providence and grace. The miracle was needed in order to begin the kingdom of God in this sinful world, but is not needed in order to its continuance and progress. And the same is true of the revelation of God in his written Word. This must begin in a miracle. The truths and facts of revealed religion, as distinguished from natural, must be supernaturally communicated to a few particular persons especially chosen for this purpose. Inspiration comes under the category of the miracle. It is as miraculous as raising the dead. To expect, therefore, that God would continue inspiration to copyists after having given it to prophets and apostles, would be like expecting that because in the first century he empowered men to raise the dead, he would continue to do so in all centuries”

[= Mengapa Allah tidak mengilhami para penyalin sama seperti para pengarang orisinil? Mengapa Ia mulai dengan ketidakbersalahan yang mutlak dan mengakhiri dengan ketidak-bersalahan yang relatif? Karena alasan yang sama dimana Ia bia-sanya mulai dengan hal-hal supranatural dan mengakhiri dengan hal-hal yang natural / alamiah. Sebagai ilustrasi: pendirian pertama dari gereja, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ditandai oleh mujijat-mujijat; tetapi perkembangan gereja hanya ditandai oleh pekerjaanNya dalam alam, providensia dan kasih karunia. Mujijat itu dibutuhkan untuk memulai Kerajaan Allah dalam dunia yang berdosa ini, tetapi itu tidak dibutuhkan untuk kelanjutan dan kemajuannya. Dan hal yang sama juga benar untuk wahyu Allah dalam Firman tertulisNya. Ini harus dimulai dengan mujijat. Kebenaran dan fakta dari agama yang diwahyukan, berbeda dengan yang alamiah, harus diberikan secara supranatural kepada beberapa orang tertentu yang dipilih secara khusus untuk tujuan ini. Pengilhaman termasuk kategori mujijat. Itu sama mujijatnya dengan pembangkitan orang mati. Karena itu, mengharapkan bahwa Allah terus mengilhami para penyalin setelah memberikannya kepada nabi-nabi dan rasul-rasul, sama seperti mengharapkan bahwa karena pada abad pertama Ia memberikan kuasa kepada manusia untuk membangkitkan orang mati, Ia akan terus melakukan hal itu dalam semua abad] - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 135-136.


d) Satu hal lagi yang ingin saya persoalkan adalah suatu pertanyaan yang mungkin sekali akan muncul dalam persoalan ini, yaitu: apa gunanya kita mempercayai bahwa Alkitab asli (autograph) itu inerrant / tidak ada salahnya, padahal autograph / Alkitab asli itu sudah tidak ada lagi, dan manuscript-manuscript / naskah-naskah yang ada sudah tidak lagi inerrant? 

Bukankah itu menjadi sama saja dengan kepercayaan bahwa autographnyapun ada salahnya? Saya menjawab: tidak sama. Mengapa? Karena jika autographnya ada salahnya, maka kita tidak mempunyai cara / jalan untuk mengetahui bagian mana yang salah dan bagian mana yang benar. Tetapi jika manuscript yang salah, kita bisa mengetahui hal itu, karena biasanya akan terjadi perbedaan manuscript yang satu dengan manuscript yang lain.


e) Sekalipun Kitab Suci kita yang sekarang ini ada salahnya, tetapi hal ini tidak perlu menggoncangkan iman kita terhadap Kitab Suci, karena:

  1. Persentase kesalahan itu sangat kecil, mungkin di bawah 1 %, dan dengan membanding-bandingkan manuscript-manuscript yang ada, seringkali kita bisa mendeteksi adanya kesalahan, dan bahkan mengetahui yang mana yang salah dan yang mana yang benar. 
  2. Kita boleh percaya bahwa Allah pasti melindungi FirmanNya dari kesalahan-kesalahan yang fatal. Apa dasar dari kepercayaan ini? Dasarnya adalah kebijaksanaan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan membiarkan kesalahan besar / fatal masuk ke dalam FirmanNya!


Tentang ketelitian para penyalin dalam menyalin manuscript-manuscript, perhatikan 2 kutipan di bawah ini.
 

  1. ‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “Until 1947 the oldest known Hebrew manuscripts of the Old Testament dated from the ninth and tenth centuries AD. They were copies of the first five books of the Bible - the Pentateuch. Then in 1947 came the remarkable discovery of the Dead Sea Scrolls. ... These manuscripts are about a thousand years earlier than the ninth century AD documents. Amongst the Dead Sea Scrolls are copies of all the Old Testament books except Esther. These early manuscripts from Qumran are very important because they have essentially the same text as the ninth-century manuscripts. The text of the Old Testament had changed very little for a thousand years. The careful copyists had made few errors or alteration. ... we can be confident that the Old Testament as we now have it is substantially the same as its authors wrote many centuries ago”


    [= Sampai tahun 1947 manuscripts Ibrani dari Perjanjian Lama tertua yang dikenal, berasal dari abad ke 9 dan ke 10 Masehi. Lalu pada tahun 1947 terjadilah penemuan yang luar biasa tentang Dead Sea Scrolls (gulungan-gulungan manuscript dari Laut Mati). ... Manuscript-manuscript ini berumur sekitar 1000 tahun lebih kuno dari pada dokumen-dokumen pada abad ke 9 Masehi. Di antara gulungan-gulungan dari Laut Mati itu ada naskah-naskah dari kitab-kitab Perjanjian Lama kecuali Ester. Manuscript-manuscript dari Qumran ini sangat penting karena mereka pada dasarnya memiliki text yang sama dengan manuscript dari abad ke 9 itu. Text dari Perjanjian Lama telah berubah sangat sedikit untuk waktu 1000 tahun. Penyalin-penyalin yang teliti telah membuat sedikit kesalahan atau perubahan. ... kita bisa yakin bahwa Perjanjian Lama seperti yang kita miliki sekarang pada pokoknya adalah sama seperti yang ditulis oleh para pengarangnya berabad-abad yang lalu] - hal 65-66.

  2. ‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “Over the last 250 years many careful scholars have worked hard to make sure that we have a New Testament which is as close as possible to what its authors originally wrote. The few small areas of doubt which remain are over minor matters of wording. But none of these questions raises any doubt whatever about the basic meaning of the New Testament”

    [= Selama 250 tahun terakhir ini banyak ahli-ahli yang teliti yang telah bekerja keras untuk memastikan bahwa kita memiliki Perjanjian Baru yang sedekat mungkin dengan apa yang ditulis secara orisinil oleh para pengarangnya. Sedikit daerah-daerah keragu-raguan yang tertinggal hanyalah tentang persoalan kecil tentang penyusunan kata. Tetapi tidak ada dari pertanyaan-pertanyaan ini yang menimbulkan keraguan apapun tentang arti dasar dari Perjanjian Baru] - hal 68.


f) Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan yang ada dalam Kitab Suci, penting sekali untuk membanding-bandingkan beberapa terjemahan Kitab Suci, misalnya Alkitab terjemahan baru, Alkitab terjemahan lama, TB2-LAI, Alkitab bahasa Inggris (NASB, NIV, KJV, RSV, ASV, dll), Alkitab bahasa Jawa, Alkitab bahasa Belanda, Alkitab bahasa Tionghoa, dsb. Dengan membandingkan terjemahan-terjemahan Kitab Suci tersebut, kita dapat mendeteksi kesalahan-kesalahan itu dan mungkin mengoreksinya.


Cara-cara lain yang bisa digunakan adalah dengan mengikuti Pemahaman Alkitab yang baik, atau dengan menggunakan buku-buku tafsiran. Jaman sekarang ini bisa didapatkan oleh orang awam dari internet.


Perlu diingat bahwa kita tidak selalu bisa tahu penjelasan yang pasti dari hal-hal yang kelihatannya bertentangan dalam Alkitab. Dalam hal ini perhatikan 2 kutipan di bawah ini.


“Oftentimes, though we may not be able to demonstrate the harmony of Scripture, we are able to show that there is no necessary contradiction”


[= Seringkali, sekalipun kita tidak bisa menunjukkan keharmonisan Kitab Suci, kita bisa menunjukkan bahwa di sana tidak harus terjadi kontradiksi] - ‘Collected Writings of John Murray’, vol I, hal 10.
Sebagai contoh, kalau kita membandingkan Mat 5:1 dengan Luk 6:17, maka kita akan bingung dimana khotbah di bukit diberikan oleh Yesus.
  • Mat 5:1 - “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya kepadaNya”.
  • Luk 6:17 - “Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-muridNya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon”.

Kata-kata ‘naiklah Ia ke atas bukit’ dalam Mat 5:1 kelihatannya bertentangan dengan bagian paralelnya, yaitu Luk 6:17 yang mengatakan: ‘Lalu Ia turun ... pada suatu tempat yang datar’. Bukankah ‘naik’ bertentangan dengan ‘turun’, dan ‘bukit’ bertentangan dengan ‘suatu tempat yang datar’?

Bagaimana mengharmoniskan 2 bagian yang kelihatannya bertentangan / kontradiksi ini?

John Stott mengatakan bahwa mungkin ‘tempat datar’ itu terletak di bukit. Matius menyoroti secara global dan karena itu ia berkata ‘naiklah Ia ke atas bukit’; sedangkan Lukas menyoroti bagian / daerah yang lebih kecil, sehingga ia berkata ‘turun ke tempat yang datar’.

Apakah memang ini merupakan penjelasan yang benar? Kita tidak tahu, tetapi yang pasti, dengan adanya penjelasan seperti ini jelas bahwa Mat 5:1 tidak harus bertentangan dengan Luk 6:17.


“When therefore we meet difficulties in the Bible let us reserve judgment. If any explanation is not at hand, let us freely acknowledge that we do not know all things, that we do not know the solution. Rather than hastily to proclaim the presence of an error is it not the part of wisdom to acknowledge our ignorance?” [= Karena itu pada waktu kita menjumpai problem dalam Alkitab baiklah kita menahan diri dari penghakiman. Jika tidak ada penjelasan yang tersedia, baiklah kita dengan bebas mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu, bahwa kita tidak mengetahui penyelesaiannya. Dari pada dengan tergesa-gesa menyatakan adanya kesalahan, tidakkah merupakan bagian dari hikmat untuk mengakui ketidak-tahuan kita?] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.



Memang belajar Firman Tuhan itu tidak mudah. Tidak ada jalan pintas. Tetapi asal saudara sungguh-sungguh rindu pada Firman Tuhan dan senantiasa berdoa supaya Tuhan memimpin dan menolong saudara untuk mengerti FirmanNya, maka saudara boleh yakin bahwa Dia, yang adalah Gembala yang baik, pastilah akan memimpin saudara pada jalan yang benar.




2)Dasar dari kepercayaan terhadap ‘inerrancy of the Bible’ ketidak-bersalahan Alkitab).

a) Kalau Kitab Suci memang adalah Firman Allah, bagaimana Allah bisa salah dalam berbicara?

E. J. Young: “We must maintain that the original of Scripture is infallible for the simple reason that it came to us directly from God Himself” [= Kita harus mempertahankan bahwa Kitab Suci yang orisinil tidak ada salahnya karena alasan yang sederhana dimana Kitab Suci itu datang kepada kita langsung dari Allah sendiri] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 87.

Banyak orang Liberal yang mengatakan bahwa karena Allah menuliskan firmanNya menggunakan manusia, maka adanya faktor manusia ini memungkinkan, atau bahkan memastikan, terjadinya kesalahan dalam Kitab Suci.


Terhadap pandangan seperti ini, ada 2 hal yang bisa diberikan sebagai jawaban:


1. Kalau Kitab Suci salah, maka Allahlah yang harus dipersalahkan.
E. J. Young: “If actual error is found in the Bible, it is God, not the human writers, who is responsible for that error. From this conclusion there is no escape” [= Jika ada kesalahan yang sungguh-sungguh ditemukan dalam Alkitab, maka Allahlah, bukan para penulis manusia, yang bertanggung jawab untuk kesalahan itu. Ini adalah kesimpulan yang tidak terhindarkan] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.


2. Sekalipun Allah menggunakan manusia dalam menuliskan FirmanNya / Kitab Suci, itu tidak berarti bahwa Kitab Suci harus mengandung kesalahan, karena:

a. Allah itu mahakuasa!
Tidak bisakah Ia menggunakan manusia sedemikian rupa sehingga Kitab Suci betul-betul tanpa salah? Dalam diri Yesus, yang juga mempunyai ‘faktor ilahi dan manusia’, Allah bisa menjaga sehingga Yesus suci murni. Lalu mengapa ini tidak bisa Ia lakukan dalam menulis FirmanNya?

b. Allah sudah mempersiapkan penulis manusia itu sedemikian rupa sehingga ia menjadi alat yang cocok sempurna untuk menuliskan firmanNya. Dengan demikian, sekalipun kepribadian, pengalaman, dan pemikiran dari penulis itu masuk ke dalam Kitab Suci yang ia tuliskan, tetapi semua itu cocok sempurna dengan yang Tuhan kehendaki, sehingga apa yang ia tuliskan betul-betul adalah firman Allah.


E. J. Young mengutip kata-kata B. B. Warfield sebagai berikut:

“As light that passes through the coloured glass of a cathedral window, we are told, is light from heaven, but is stained by the tints of the glass through which it passes; so any word of God which is passed through the mind and soul of a man must come out discoloured by the personality through which it is given, and just to that degree ceases to be the pure word of God. But what if this personality has itself been formed by God into precisely the personality it is, for the express purpose of communicating to the word given through it just the colouring which it gives it? What if the colours of the stained-glass window have been designed by the architect for express purpose of giving to the light that floods the cathedral precisely the tone and quality it receives from them? What if the word of God that comes to His people is framed by God into the word of God it is, precisely by means of the qualities of the men formed by Him for the purpose, through which it is given?”

[= Sebagaimana sinar yang melalui kaca berwarna dari jendela suatu katedral, adalah sinar dari surga, tetapi dikotori oleh warna-warna dari kaca yang dilaluinya; begitu juga dikatakan bahwa firman Allah yang melalui pikiran dan jiwa manusia pasti keluar dengan dikotori oleh kepribadian melalui mana firman itu diberikan, dan sampai pada tingkat itu berhenti menjadi firman yang murni dari Allah. Tetapi bagaimana jika kepribadian ini telah dibentuk oleh Allah menjadi kepribadian yang persis cocok sehingga mewarnai firman yang melaluinya sesuai tujuan Allah? Bagaimana jika warna dari jendela dengan kaca berwarna telah direncanakan oleh sang arsitek, dengan tujuan memberikan sinar yang memasuki katedral itu sifat dan kwalitet yang diterimanya dari warna-warna itu, persis seperti yang dikehendakinya? Bagaimana jika firman Allah yang datang kepada umatNya dibentuk oleh Allah menjadi firman Allah, dengan memakai kwalitet dari orang-orang yang dibentuk olehNya untuk tujuan itu, melalui siapa firman itu diberikan?] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 64.


William G. T. Shedd: “The infallibility of Scripture is denied upon the ground that it contains a human element. The human is fallible and liable to error. If therefore the Bible has a human element in it, as is conceded, it cannot be free from all error. This is one of the principal arguments urged by those who assert the fallibility of Scripture. This objection overlooks the fact, that the human element in the Bible is so modified by the divine element with which it is blended, as to differ from the merely ordinary human. The written Word is indeed Divine-human, like the incarnate Word. But the human element in Scripture, like the human nature in our Lord, is preserved from the defects of the common human, and becomes the pure and ideal human. ... Those who contend that the Bible is fallible because it contains a human element commit the same error, in kind, with those who assert that Jesus Christ was sinful because he had a human nature in his complex person. Both alike overlook the fact that when the human is supernaturally brought into connection with the divine, it is greatly modified and improved, and obtains some characteristics that do not belong to it of and by itself alone”

[= Ketidak-bersalahan Kitab Suci ditolak dengan dasar bahwa Kitab Suci mengandung elemen manusia. Elemen manusia ini bisa salah. Karena itu jika Alkitab mempunyai elemen manusia di dalamnya, seperti yang memang kita akui, maka Kitab Suci tidak bisa bebas dari semua kesalahan. Ini merupakan salah satu argumentasi utama yang diberikan oleh mereka yang menegaskan kebersalahan Kitab Suci. Keberatan ini melupakan / mengabaikan fakta bahwa elemen manusia dalam Alkitab begitu dimodifikasi oleh elemen ilahi dengan apa elemen manusia itu dicampurkan, sehingga berbeda dengan semata-mata manusia biasa. Firman yang tertulis memang adalah ilahi-manusiawi, seperti Firman yang berinkarnasi. Tetapi elemen manusia dalam Kitab Suci, seperti hakekat manusia dalam Tuhan kita, dijaga / dilindungi dari kesalahan dari manusia biasa / umum, dan menjadi manusia yang murni dan ideal. ... Mereka yang berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena Alkitab mengandung elemen manusia, melakukan kesalahan yang sejenis, dengan mereka yang menegaskan bahwa Yesus Kristus berdosa karena Ia mempunyai hakekat manusia dalam pribadiNya yang kompleks. Keduanya melupakan / mengabaikan fakta bahwa pada waktu elemen manusia itu dihubungkan secara supranatural dengan elemen ilahi, maka elemen manusia itu sangat dimodifikasi dan diperbaiki / ditingkatkan, dan mendapatkan beberapa sifat yang tidak dimilikinya dari dan oleh dirinya sendiri] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 101,102,103.


c) Kalau Kitab Suci mengandung kesalahan, mengapa Tuhan melarang kita mengubah Kitab Suci, baik mengurangi maupun menambahi Kitab Suci?


  • Ul 4:2 - “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu”.
  • Ul 12:32 - “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya”.
  • Amsal 30:6 - “Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta”.
  • Mat 5:19 - “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga”.
  • Wah 22:18-19 - “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

Kalau Kitab Suci memang ada salahnya, bukankah seharusnya bagian yang salah itu bisa diubah atau dibuang dan diganti dengan yang benar?


3) Apa pentingnya kepercayaan terhadap ‘inerrancy of the Bible’?
Kepercayaan ini penting karena kalau kita mempelajari Kitab Suci dengan anggapan bahwa Kitab Suci itu ada salahnya, maka pada waktu kita melihat ada 2 bagian dari Kitab Suci yang kelihatan bertentangan, kita dengan mudah akan mengambil kesimpulan bahwa salah satu dari dua bagian itu adalah salah. Tetapi kalau kita beranggapan bahwa Kitab Suci tidak ada salahnya, maka kita akan berusaha untuk mengharmoniskan kedua bagian yang kelihatannya bertentangan itu.


Contoh: perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

  • Luk 14:26 - “‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”.

  • Kel 20:12 - “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

  • Kel 20:13 - “Jangan membunuh”.

  • Mat 22:39 - “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

  • Mat 10:37 - “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu”.

Luk 14:26 (harus ‘membenci’ keluarga), kelihatannya bertentangan dengan Kel 20:12 (‘hormatilah ayahmu dan ibumu’), Kel 20:13 (‘jangan membunuh’), dan Mat 22:39 (‘kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’). Ayat yang bisa mengharmoniskan bagian-bagian tersebut adalah bagian paralel dari Luk 14:27 tersebut, yaitu Mat 10:37 (tidak boleh mengasihi keluarga lebih dari Yesus).


William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted; either that they were originally inerrant and infallible, or that they were originally errant and fallible. The first view is that of the church in all ages: the last is that of the rationalist in all ages. He who adopts the first view, will naturally bend all his efforts to eliminate the errors of copyists and harmonize discrepancies, and thereby bring the existing manuscripts nearer to the original autographs. By this process, the errors and discrepancies gradually diminish, and belief in the infallibility of Scripture is strengthened. He who adopts the second view, will naturally bend all his efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate and establish discrepancies. By this process, the errors and discrepancies gradually increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened” 


[= Salah satu dari pandangan-pandangan tentang Kitab Suci ini harus diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak bersalah, atau Kitab Suci orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah pandangan dari gereja dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah pandangan dari para rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan pertama, secara alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari para penyalin dan mengharmoniskan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian, dan dengan itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara alamiah akan berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus kesalahan-kesalahan dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebih-lebihkan dan meneguhkan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian itu. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian bertambah secara bertahap, dan ketidak-percayaan kepada ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan] - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 137.



E. J. Young: “It is perfectly true that if we begin with the assumption that God exists and that the Bible is His Word, we shall wish to be guided in all our study by what the Scripture says. It is equally true that if we reject this foundational presupposition of Christianity we shall arrive at results which are hostile to supernatural Christianity. If one begins with the presuppo-sitions of unbelief, he will end with unbelief’s conclusions. If at the start we have denied that the Bible is God’s Word of if we have, whether consciously or not, modified the claims of the Scriptures, we shall come to a position which is consonant with our starting point. He who begins with the assumption that the words of the Scriptures contain error will never, if he is consistent, come to the point of view that the Scripture is the infallible Word of the one living and eternal God. He will rather conclude with a position that is consonant with his starting point. If one begins with man, he will end with man. All who study the Bible must be influenced by their foundational presuppositions”


[= Adalah sesuatu yang benar bahwa jika kita mulai dengan anggapan bahwa Allah ada dan bahwa Alkitab adalah FirmanNya, kita akan ingin untuk dipimpin dalam seluruh pelajaran kita oleh apa yang Kitab Suci katakan. Juga adalah sesuatu yang sama benarnya bahwa jika kita menolak anggapan dasar dari kekristenan ini, maka kita akan sampai pada hasil yang bermusuhan terhadap kekristenan yang bersifat supranatural. Jika seseorang mulai dengan anggapan dari orang yang tidak percaya, ia akan berakhir dengan kesimpulan dari orang yang tidak percaya. Jika sejak awal kita telah menolak bahwa Alkitab adalah Firman Allah, atau jika kita, secara sadar atau tidak, mengubah claim / tuntutan dari Kitab Suci, kita akan sampai pada suatu posisi yang sesuai dengan titik awal kita. Ia yang mulai dengan anggapan bahwa kata-kata dari Kitab Suci mengandung kesalahan tidak akan pernah, jika ia konsisten, sampai pada pandangan bahwa Kitab Suci adalah Firman yang tak bersalah dari Allah yang hidup dan kekal. Sebaliknya ia akan menyimpulkan dengan suatu posisi yang sesuai dengan titik awalnya. Jika seseorang mulai dengan manusia, ia akan berakhir dengan manusia. Semua yang mempelajari Alkitab pasti dipengaruhi oleh anggapan dasarnya] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 187.



4) Kompromi terhadap doktrin ‘Inerrancy of the Bible’.
Mungkin karena tidak bisa menjawab serangan yang menunjukkan kontradiksi atau kesalahan dalam Alkitab, maka ada orang yang lalu mengambil pandangan yang berkata bahwa Kitab Suci tidak ada salahnya kalau berbicara tentang keselamatan dan iman Kristen, tetapi Kitab Suci mungkin ada salahnya dalam persoalan sejarah, geografis, dan detail-detail kecil yang lain.

Pandangan ini merupakan pandangan kompromi yang berbahaya karena:
a) Kesalahan-kesalahan dalam hal kecil / remeh membuat kita meragukan kebenaran dari hal-hal yang besar.

b) Sejarah sering menjadi dasar dari doktrin.
Misalnya:

  1. Doktrin tentang dosa asal didasarkan pada fakta sejarah bahwa semua manusia berasal dari Adam.  
  2. Doktrin penebusan dosa didasarkan pada fakta sejarah tentang kematian Kristus. 
  3. Doktrin kebangkitan orang mati didasarkan atas fakta sejarah kebangkitan Kristus (1Kor 15:12-23).


Karena itu kalau ternyata fakta-fakta sejarah ini salah atau bisa salah, maka itu berarti doktrin yang dibangun di atasnya juga salah atau bisa salah.
 

E. J. Young: “History and faith cannot be divorced, the one from the other. Remove its historical basis and faith vanishes. ... To say that what the Bible relates of history is fallible, but what it relates of faith is infallible is to talk nonsense” [= Sejarah dan iman tidak bisa diceraikan / dipisahkan satu dengan lainnya. Buanglah dasar sejarahnya dan iman akan lenyap. ... Mengatakan bahwa apa yang Alkitab ceritakan tentang sejarah bisa salah, tetapi apa yang Alkitab ceritakan tentang iman tidak bisa salah, adalah omong kosong] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 101.




5)Serangan terhadap orang yang menolak ‘Inerrancy of the Bible’.

Orang yang mengatakan bahwa Kitab Suci (autographnya) ada salahnya perlu menunjukkan bagaimana ia bisa tahu yang mana yang salah dan yang mana yang benar, dan juga menjelaskan standard apa yang ia pakai untuk menyatakan kesalahan Kitab Suci itu, dan apa dasarnya ia memakai standard itu. Ia perlu ingat bahwa seharusnya Firman Tuhan itulah yang menghakimi kita (Yoh 12:48), dan bukannya kita yang menghakimi Firman Tuhan!

Perhatikan juga beberapa kutipan kata-kata E. J. Young di bawah ini.

  • E. J. Young: “if fallible human writers have given to us a Bible that is fallible, how are we ourselves, who most certainly are fallible, to detect in the Bible what is error and what is not?” [= jika para penulis manusia yang bisa salah telah memberikan kepada kita Alkitab yang bisa salah, bagaimana kita sendiri, yang jelas juga bisa salah, bisa mendeteksi dalam Alkitab mana yang salah dan mana yang tidak?] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 75.
  • E. J. Young: “If God is the Creator, and man a creature, there is no way in which man can set himself up as a judge of what God has revealed. There is no independent standard which man can drag in by which he can pass judgment upon the ‘reasonableness’ of God’s revelation”


    [= Jika Allah adalah Pencipta, dan manusia adalah makhluk ciptaan, maka tidak ada kemungkinan dimana manusia bisa menempatkan dirinya sendiri sebagai hakim terhadap apa yang Allah nyatakan / wahyukan. Tidak ada standard yang independen / bebas / berdiri sendiri yang bisa dibawa oleh manusia dengan mana ia bisa menyampaikan penghakiman terhadap ‘logis’nya penyataan / wahyu Allah] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 189.
  • E. J. Young: “We are told that the view of approaching the Bible which we are defending in this book is old-fashioned and no longer tenable. Modern scholarship, it is asserted, has shown that this traditional (we should say, Biblical) way of coming to the Bible is no more possible. We must abandon such an old-fashioned approach to the Scriptures. If this claim of modern theology is correct then, of course, it follows that throughout the history of the Church men have been approaching the Bible in the wrong way. They have come to the Bible as to the authoritative Word of God and in the Bible they have found Jesus Christ the Saviour. They were wrong, however; they should not have regarded the Bible as the final authority. With the insights and contributions of modern scholarship, we have now learned the correct approach to the Bible. There is, however, a question which at this point should be raised. If we must now approach the Bible in a way different from that which the Church has always used, how do we know that in the future the way which now seems acceptable to us will not then have been superseded by something more suitable to the men of that time? In the years ahead the approach to the Bible which present-day scholarship advocates may be entirely out of date. If it is then out of date, the scholars of that time will presumably have to discover a method of approach which will be more relevant to their day, more in keeping with their thoughts and attitudes. Should this be the case, then it would clearly follow that the benefit and blessing which in the past has seemed to come to mankind from the Bible, really was not derived from the Bible itself but rather from man’s way of looking at the Bible at any given time. For nearly two thousand years the old approach to the Bible brought blessing. Today, we are told, this approach must go; it is not scientific. Today, a new approach is requisite. Very well, this new approach supposedly meets the needs of the present day. What, however, about the future? In the future, will not some other approach to the Bible be necessary? If such is the case, it is perfectly obvious that what brings help and blessing is not the Bible itself but the approach to the Bible which we find relevant for our own day. It is then not the Bible, but rather our way of looking at the Bible that is of importance; not the Bible, but what we bring to the Bible. Thus, in effect, the demand for a new approach to the Bible amounts to nothing other than a demand that we bring to the Bible what seems to us to be relevant to our time. This is subjectivism. He who rejects the Biblical view of Scripture, no matter how much it may be disguised, has set up the human mind as an arbiter to decide how the Bible is to be regarded”


    [= Dikatakan bahwa pandangan untuk mendekati Alkitab yang kami pertahankan dalam buku ini sudah kuno / ketinggalan jaman dan tidak lagi bisa dipertahankan. Ditegaskan bahwa ilmu pengetahuan / kesarjanaan modern telah menunjukkan bahwa cara tradisional (kami lebih suka menyebutnya ‘cara yang Alkitabiah’) untuk datang kepada Alkitab tidak lagi memungkinkan. Kita harus meninggalkan pendekatan kuno seperti itu terhadap Kitab Suci. Jika tuntutan dari theologia modern ini benar, maka jelaslah bahwa dalam sepanjang sejarah Gereja orang-orang telah mendekati Alkitab dengan cara yang salah. Mereka telah mendatangi Alkitab sebagai Firman Allah yang mempunyai otoritas, dan dalam Alkitab mereka telah menemukan Yesus Kristus, sang Juruselamat. Tetapi mereka salah; mereka sebenarnya tidak boleh menganggap Alkitab sebagai otoritas yang terakhir / menentukan. Dengan pengertian / pengetahuan dan sumbangan pemikiran dari ilmu pengetahuan / kesarjanaan modern, sekarang kita telah belajar pendekatan yang benar terhadap Alkitab. Tetapi di sini ada satu pertanyaan yang harus ditanyakan. Jika sekarang kita harus mendekati Alkitab dengan suatu cara yang berbeda dengan cara yang telah selalu dipakai oleh Gereja, bagaimana kita tahu, bahwa pada masa yang akan datang, cara yang sekarang bisa kita terima tidak akan digantikan oleh sesuatu yang lebih cocok untuk orang-orang pada jaman itu? Pada masa yang akan datang, pendekatan terhadap Alkitab yang pada saat ini dinasehatkan, mungkin sepenuhnya akan menjadi kuno / ketinggalan jaman. Jika itu menjadi kuno, maka para ahli pada jaman itu mungkin akan menemukan suatu metode pendekatan yang lebih relevan untuk jaman mereka, lebih sesuai dengan pemikiran dan pendirian mereka. Jika ini adalah kasusnya, maka jelaslah bahwa keuntungan dan berkat yang pada masa lalu kelihatannya datang kepada umat manusia dari Alkitab, sebetulnya bukan didapatkan dari Alkitab itu sendiri tetapi dari CARA manusia memandang Alkitab pada satu saat tertentu. Selama hampir 2000 tahun pendekatan lama terhadap Alkitab telah membawa berkat. Sekarang dikatakan bahwa pendekatan ini harus dibuang; itu tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Sekarang dibutuhkan suatu pendekatan yang baru. Baiklah, pendekatan yang baru ini dianggap cocok untuk jaman ini. Tetapi bagaimana tentang masa yang akan datang? Pada masa yang akan datang, tidakkah diperlukan suatu pendekatan yang lain terhadap Alkitab? Jika demikian kasusnya, maka jelaslah bahwa apa yang membawa pertolongan dan berkat bukanlah Alkitab itu sendiri tetapi PENDEKATAN terhadap Alkitab yang kita anggap relevan untuk jaman kita. Jadi yang penting bukanlah Alkitab, tetapi cara kita memandang pada Alkitab; bukan Alkitab, tetapi apa yang kita bawa kepada Alkitab. Jadi sebetulnya, tuntutan untuk adanya pendekatan yang baru terhadap Alkitab tidak lain adalah suatu tuntutan bahwa kita membawa kepada Alkitab apa yang kelihatan bagi kita sesuatu yang relevan dengan jaman kita. Ini adalah subyektivitas. IA YANG MENOLAK PANDANGAN YANG ALKITABIAH TENTANG KITAB SUCI, TIDAK PEDULI BAGAIMANA HAL ITU DISAMARKAN, TELAH MENJADIKAN PIKIRAN MANUSIA SEBAGAI WASIT / HAKIM UNTUK MEMUTUSKAN BAGAIMANA ALKITAB ITU HARUS DILIHAT / DIPERHATIKAN] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 190-191.

6)Penjelasan lebih lanjut tentang arti ‘inerrancy of the Bible’.

Dalam persoalan inerrancy ini perlu diingat beberapa hal yang penting:

a)Tentang bilangan, Kitab Suci sering memberikan:
  1. Hanya perkiraan saja. Misalnya: pada waktu Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki.
  2. Pembulatan. Misalnya: Kel 12:40 menyebutkan 430 tahun, tetapi Kej 15:13 dan Kis 7:6 menyebutkan 400 tahun. Bilangan 400 ini mungkin merupakan pembulatan. Tak ada orang yang akan menyalahkan kalau seseorang yang berusia 49,5 tahun mengatakan usianya 49 tahun, atau 50 tahun.
b)Pada waktu mengutip, kutipan sering hanya diambil artinya lalu dikatakan dengan kata-kata sendiri (paraphrased). Ini pada umumnya terjadi pada waktu Yesus dan rasul-rasul, atau penulis Perjanjian Baru, mengutip Perjanjian Lama. Ini tidak terlalu berbeda dengan seorang pengkhotbah yang mengutip ayat Kitab Suci dengan hanya mengambil artinya, atau dengan menggunakan kata-katanya sendiri tetapi tidak mengubah arti ayat tersebut.


c)Pada waktu melukiskan sesuatu, Alkitab sering melukiskannya dari sudut peninjauan manusia, atau bagaimana kelihatannya hal itu oleh manusia.

Misalnya:
1. Maz 19:5-7 dan Yos 10:12-13 seolah-olah menunjukkan bahwa mataharilah yang beredar / mengelilingi bumi.

Maz 19:5b-7 - “(5b) Ia memasang kemah di langit untuk matahari, (6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. (7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya”.

Yos 10:12-13 - “(12) Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: ‘Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!’ (13) Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh”.

Perlu diingat bahwa Kitab Suci bukanlah kitab ilmu pengetahuan, sehingga Kitab Suci menuliskan peristiwa itu bukan dari sudut ilmu pengetahuan, tetapi dari sudut penglihatan manusia. Karena mata manusia melihat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, maka Kitab Suci menuliskan demikian. Jadi dalam hal ini tidak bisa dikatakan bahwa Kitab Suci salah atau bertentangan dengan ilmu pengetahuan.


William G. T. Shedd: “The inspired writers were permitted to employ the astronomy and physics of the people and age to which they themselves belonged, because the true astronomy and physics would have been unintelligible. If the account of the miracle of Joshua had been related in the terms of the Copernican astronomy; if Joshua had said, ‘Earth stand thou still,’ instead of, ‘Sun stand thou still’; it could not have been understood” 

[= Penulis-penulis yang diilhami diijinkan untuk menggunakan ilmu perbintangan dan fisika dari orang dan jaman mereka sendiri, karena ilmu perbintangan dan fisika yang benar tidak akan dimengerti pada saat itu. Jika cerita tentang mujijat Yosua diceritakan dengan istilah-istilah dari ilmu perbintangan Copernicus; jika Yosua berkata: ‘Bumi berhentilah engkau’, dan bukannya ‘Matahari berhentilah engkau’; itu tidak bisa dimengerti pada saat itu] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 104.


Shedd lalu menambahkan: “The modern astronomer himself describes the sun as rising and setting” [= Ahli ilmu perbintangan modern sendiri menggambarkan matahari sebagai terbit dan terbenam] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 104.
Shedd menambahkan lagi: “The purpose of the scriptures, says Baronius, is ‘to teach man how to go to heaven, and not how the heavens go.’” [= Tujuan dari Kitab Suci, kata Baronius, adalah ‘untuk mengajar manusia tentang jalan ke surga, dan bukannya bagaimana surga / langit berjalan’] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 104.

Saya berpendapat bahwa Allah menunjukkan hikmat yang luar biasa dalam mengatur sehingga Kitab Suci ditulis bukan menurut ilmu pengetahuan modern / fakta. Seandainya Kitab Suci ditulis menurut ilmu pengetahuan modern / fakta, orang-orang jaman sekarang bisa mengertinya, tetapi orang-orang jaman dahulu akan bingung, dan mungkin akan membuang Alkitab.


2. Kej 1:14-16 menunjukkan bahwa Allah menciptakan benda-benda penerang, yaitu matahari, bulan dan bintang-bintang.

Kej 1:14-16 - “(14) Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, (15) dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.’ Dan jadilah demikian. (16) Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang”.
Ada 2 hal yang perlu disoroti di sini:
a. Bulan dikatakan sebagai benda penerang, padahal jelas bahwa sebetulnya bulan bukanlah benda terang, karena bulan hanyalah memantulkan sinar dari matahari. Tetapi karena dari sudut pandang manusia bulan itu terang, maka Kitab Suci menggambarkannya sebagai benda penerang.

b. Dikatakan bahwa matahari dan bulan adalah benda penerang yang besar. Secara implicit ini menunjukkan bahwa bintang-bintang adalah benda penerang yang kecil. Padahal kita tahu bahwa bintang-bintang itu jauh lebih besar dari pada bulan dan bahkan banyak yang lebih besar dari matahari. Tetapi karena dari sudut pandang manusia kelihatannya matahari dan bulan lebih besar dari bintang-bintang, maka Kitab Suci lalu menggambarkannya demikian.

Seandainya Musa menuliskan berdasarkan fakta / pengetahuan modern, maka Kej 1:16 kira-kira akan berbunyi sebagai berikut: “Maka Allah menjadikan 2 benda yang kecil, yang satu adalah benda terang untuk menguasai siang dan yang lain adalah benda gelap yang memantulkan sinar untuk menguasai malam. Dan Allah juga menjadikan banyak bintang yang jauh lebih besar dari kedua benda tadi”.

Coba pikirkan: seandainya dituliskan seperti itu, mungkinkah orang-orang jaman dahulu bisa mengerti ayat ini? Apakah mereka tidak menjadi bingung semua dan menganggap Kitab Suci sebagai suatu omong kosong yang bertentangan dengan fakta?


Karena itulah Allah mengatur sehingga Musa (dan juga penulis-penulis Kitab Suci yang lain) seringkali tidak menuliskan menurut fakta / pengetahuan modern, tetapi menurut kelihatannya. Dan lagi-lagi ini tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Kitab Suci salah atau bertentangan dengan ilmu pengetahuan.


d) Pada waktu Kitab Suci mencatat kata-kata setan atau manusia, yang adalah salah, itu tidak berarti Kitab Sucinya salah / tidak inerrant. Sekalipun kata-kata setan / manusia itu salah, tetapi mereka memang mengucapkan kata-kata yang salah itu dan Alkitab mencatatnya secara akurat, dan karena itu Alkitab tetap benar / inerrant.


E. J. Young: “All that the Bible-believing Christian asserts when he declares that the Bible is inerrant is that the Bible in its statements is not contrary to fact. It records things as they actually were” 

[= Semua yang ditegaskan oleh orang kristen yang percaya Alkitab pada waktu ia menyatakan bahwa Alkitab tidak ada salahnya adalah bahwa Alkitab dalam pernyataannya tidak bertentangan dengan fakta. Alkitab mencatat hal-hal sebagaimana adanya hal-hal itu] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 135.


ooOoo

Bacaan yang baik untuk dibaca :

P O P U L A R - "Last 7 days"