0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (1/40)

Martin Simamora

Corpus Delicti  Dalam Pengajaran Pendeta Erastus Sabdono
(Lebih dulu di "Bible Alone"-Selasa, 5 Juli 2016)




Sebuah Pengantar: Mengenal Corpus Delicti ala Pendeta Erastus Sabdono

Pengajaran ini, bagi pendeta Erastus Sabdono telah dinilainya sebagai sebuah invensi atau penemuan baru yang sungguh bernilai dan sungguh berharga dalam kekristenan dan utamanya dalam iman Kristen. Baginya, “Corpus Delicti” merupakan penemuan sangat penting bagi kebenaran kekristenan yang sejati. Hal semacam ini dapat didasarkan pada pernyataannya sendiri dalam majalah Truth Edisi 26, pada halaman 33 dengan judul “Aturan Main,” ia menuliskan hal-hal berikut ini:    

 “Dalam lingkungan orang beragama,berbicara mengenai hukum selalu dikaitkan dengan perintah atau peraturan atau syariat. Namun dalam kekristenan, ternyata,hukum tidak hanya berkaitan dengan hal tersebut, tetapi juga berbicara mengenai kodrat atau ketetapan. Bukankah dalam kehidupan fisik di alam ini juga terdapat adanya hukum-hukum alam seperti hukum gravitasi,hokum termodinamika,hukum kekekalan energi, hukum Archimides dan sebagainya?Hukum-hukum alam ini bukan berbicara mengenai peraturan atau perintah yang ditujukan langsung kepada manusia untuk ditaati,tetapi merupakan fakta kehidupan yang harus dipahami dengan benar dan dihargai, dan manusia mau tidak mau tunduk kepadanya,sebab hukum-hukum tersebut mengikat.  Apabila anda tidak mau tunduk kepada hukum gravitasi dan terjun dari puncak gedung bertingkat 40,maka yang terjadi adalah Anda membuktikan hukum gravitasi tersebut mengikat anda, dan tubuh anda akan hancur. Hukum-hukum itu diciptakan oleh Tuhan dan harus dipahami dengan benar, bukan dihindari.Dengan pemahaman yang benar,kita bisa memanfaatkan fisika bagi kesejahteraan kita. Misalnya dengan memahami hukum Archimides,orang bisa membuat kapal yang mengapung di air.   Sebagaimana manusia harus memahami hukum-hukum Alam yang bertalian dengan hidup mereka setiap hari di dunia ini, maka manusia juga harus memahami hukum kehidupan yang bertalian dengan Allah guna kehidupan kekal. Hukum kehidupan ini disebut sebagai hukum rohani. Hukum rohani memuat fakta-fakta dalam alam rohani yang pasti membawa dampak pula pada kehidupan jasmani. Dengan demikian hukum rohani bisa dikatakan lebih bernilai dari hukum Alam yang kelihatan dan bisa dibuktikan secara sains. Hukum rohani bisa dibuktikan secara sempurna nanti saat penghakiman terakhir.”[paragraf-paragraf:1,2,3 halaman 34] 




Selanjutnya, perhatikan pernyataan pdt.Dr.Erastus Sabdono berikut ini:


Mengapa Lucifer tidak segera dihukum
Mungkin terbersit dalam benak Anda pertanyaan yang sulit ini: Mengapa saat Lucifer beserta para malaikat yang dihasutnya memberontak terhadap Allah, Allah tidak segera menghukum mereka dengan membinasakan mereka seketika itu juga? Bukankah jika Allah segera membinasakan mereka, manusia tidak perlu jatuh ke dalam dosa, dan planet kita ini tidak akan menghadapi bencana akibat sepak terjang Lucifer dan para pengikutnya yang jatuh itu [halaman 34] 


Pertanyaan semacam ini telah menjadi bagian dari lahirnya pengajaran corpus delicti dalam kekristenan yang diajarkan olehnya.   Juga perhatikan pernyataan pdt.Dr.Erastus Sabdono berikut ini:


Harus ada yang memikul
Kembali ke pertanyaan mengapa Adam tidak segera diampuni. Setiap kesalahan harus ada sanksinya. Allah memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tetapi Ia juga Allah yang Maha Adil. Ia tidak mungkin menyangkali hakikat keadilan-Nya. Keadilan-Nya menuntut setiap tindakan mendapat ganjarannya;setiap kesalahan juga harus ada konsekuensi dan sanksinya (Nah 1:3). Firman Tuhan tegas mengatakan bahwa apa yang ditabur orang,itu juga yang akan dituainya (Gal 6:7). Jadi harus ada yang memikul kesalahan manusia,demi supaya manusia dapat dibebaskan. [halaman 36-37) 


Pun telah menjadi bagian dari lahirnya pengajaran corpus delicti terkait diri manusia sebagai  bukti yang diajarkannya akan dapat membungkam Lucifer.  


CORPUS DELICTI, dengan demikian, menurut pendeta Erastus Sabdono, adalah tentang:
Siapakah yang menjadi barang bukti dalam pengadilan Tuhan untuk dapat membuktikan kesalahan Lucifer.  

Yesus, dalam pandangan dan pengajaran pendeta Erastus Sabdono, adalah “Corpus Delicti” tertinggi, sebab Ia juga selain Corpus Delicti  bagi dirinya sendiri dihadapan dan di dalam pengadilan Allah, Ia juga bagi manusia corpus delicti atau bukti berkekuatan hukum bagi manusia bahwa manusia  seharusnya dapat memiliki ketaatan sebagaimana dirinya sehingga dapat menjadi corpus delicti di dalam pengadilan Allah untuk membuat penghakiman Allah atas Lucifer, kokoh. Di sini jembatan emas relasi Allah dengan manusia, bukan Allah Yang Menebus manusia dari dosa berdasarkan kuasa kematian dan kebangkitannya. 


Perhatikanlah bagian ini: 
Firman Tuhan mengatakan upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Kalau Allah dengan gampang mengampuni kesalahan Adam dan Hawa, berarti Ia adalah Allah yang tidak adil,tidak tertib,tidak memiliki sistem dan aturan. Tetapi Allah kita tidak demikian, Ia memiliki integeritas yang demikian.Ia memiliki integritas yang sempurna. Tak mungkin Ia bertindak tanpa aturan.   Manusia harus dihukum,tetapi Allah ingin mengampuni manusia. Oleh sebab itu harus ada yang memikul atau menanggung dosa manusia tersebut. Itulah sebabnya Bapa mengutus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus untuk menggantikan tempat manusia yang harus dihukum tersebut. Ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI yang mebuktikan bahwa seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar. Iblispun terbukti dan pantas dihukum[halaman 37- “Aturan Main”] 



Corpus delicti,dengan demikian, dalam pengajaran pendeta Erastus Sabdono, merupakan penentu bagi tegaknya kebenaran diri Sang Allah, bahwa IA memang sesungguh-sungguhnya adil, tertib, memiliki sistem dan aturan. Konsep CORPUS DELICTI yang diaplikasikan oleh pendeta Erastus Sabdono kedalam keselamatan yang dari Allah, pada akhirnya menempatkan Yesus menjadi Juruselamat tanpa kuasa penebusan berdasarkan percaya kepada-Nya dan karya penebusan-Nya, sebab konsep corpus delicti tidak pernah mengenal keadilan berdasarkan penghapusan dosa atau tidak lagi mengingat kejahatan mereka yang telah ditebus dan diselamatkan-Nya, seperti yang semacam ini:


●Ibrani 8:12 Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka."

●Yesaya 43:25Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.  

●Markus 2:5,7 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri? 
 
●Yohanes 12:30 Jawab Yesus: "Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;    


Pengajaran corpus delicti,dengan demikian, sama sekali tidak mengakui pernyataan Yesus yang berkatasekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini; sekarang juga penguasa dunia ini akan dilempar ke luar,”  karena pada dasarnya yang dikatakan Yesus bukanlah berdasarkan sebuah pengadilan membutuhkan aplikasi hukum umum corpus delicti agar Yesus berkuasa melakukan penghakiman. Penghakiman Yesus dan kuasa penghakiman-Nya bukan berdasarkan kebenaran corpus delicti, tetapi,sebagaimana pengajaran Yesus sendiri:

●Yohanes 5:22-23 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. 


Ini jelas nyata terlihat dari bagaimana pendeta Erastus melakukan pemelintiran yang begitu berani demi tegaknya pengajaran atau penemuannya, yaitu Corpus Delicti. Perhatikan berikut ini: Pengutusan Anak oleh Bapa untuk: menggantikan tempat manusia yang harus dihukum sebagai mekanisme penegakan keadilan Allah, namun itu hanya terjadi jika Yesus dapat menjadi CORPUS DELICTI yang oleh pendeta Erastus Sabdono,terminologi hukum ini, dimaknai: Yesus adalah bukti [legal] bahwa seharusnya anak Allah dapat menghormati-Nya dengan benar- hingga atau sampai mati pada salib. Ketika Yesus sukses menjadi CORPUS DELICTI semacam ini (sehingga peristiwa salib semata barang bukti atau corpus delicti ketaatan-Nya pada Bapa bukan sama sekali genapnya ketetapan Allah bagaimana keselamatan itu  harus berlangsung bagi manusia melalui Anak), maka iblispun terbukti dan pantas dihukum.   


Pada pengantar ini, dapat dikatakan bahwa Yesus sekalipun, tak pernah mengajarkan perihal ini,  dan demikian juga dengan para rasul melalui epistel-epistelnya. Pada poin ini, maka sangat penting dan wajib untuk memahami apakah CORPUS DELICTI itu sendiri, sebelum melakukan peninjauan yang lebih dalam lagi.   Sekarang,tak terelakan, untuk harus memahami relasi CORPUS DELICTI dengan Lucifer- [dalam hal ini saya tidak akan terlebih dahulu melakukan keberatan-keberatan mengenai siapakah Lusifer itu dalam Alkitab, tepatkah untuk menunjukan Setan? Saya akan mengikuti konsepsi Lucifer yang dianut pendeta Erastus sehingga dapat memeriksa apakah CORPUS DELICTI memang memadai atau malah sangat menyesatkan diadopsi untuk menjelaskan HUKUM ROHANI yang ditemukan dan dibangun oleh pendeta Erastus]-,  sebab corpus delicti ini ditempatkan olehnya sebagai sebuah dasar kelayakan dan kemenangan dalam persidangan Allah bagi  penghakiman iblis oleh Allah; corpus delicti,olehnya, telah menjadi dasar mengapa Yesus tidak dapat [sebagai konsekuensi alami dari pengajarannya] berkata sebagai sebuah kebenaran sebagaimana Yohanes 5:22-23 atau Yohanes 12:30 yang sama sekali tak memperhitungkan corpus delicti, sebagaimana hakim dunia ini membutuhkannya, agar keputusan pengadilan adalah keputusan yang memenuhi rasa keadilan. Perhatikan hal berikut ini: 


CORPUS DELICTI
ALLAH TIDAK MEMBINASAKAN Lucifer seketika ia memberontak, sebab tindakan itu perlu dibuktikan kesalahannya secara pasti sehingga Lucifer tidak dapat berkelit.   Allah yang tertib tidak bisa melanggar hukum-Nya sendiri mengharuskan adanya verifikasi. Untuk membuktikan bahwa tidak semua angsa berwarna putih, harus dibuktikan bahwa ada angsa yang berwarna lain, misalnya hitam.   Lucifer dapat berdalih dalam tindakan-tindakannya bukan kesalahan, karena menurutnya semua mahkluk yang segambar dengan Allah pasti ingin menyamai Allah. Agar tidak ada celah ini, harus ada verifikasi atas kesalahan itu. Meminjam istilah hukum, kita sebut ini “Corpus Delicti,” yaitu fakta yang membutktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan.   Ini diteguhkan oleh pernyataan Alkitab sendiri dalam Roma 4:15 dikatakan, “….dimana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” Lalu Roma 5:13 mengatakan,”Sebelum hukum Taurat ada,telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.”   Hukum Taurat diberikan Allah untuk menunjukan bahwa manusia terbukti bersalah, atau menjadi “Corpus Delicti” untuk menuntun manusia kepada anugerah:bahwa dengan kemampuannya sendiri manusia tidak akan bisa memiliki keselamatan. Manusia tidak dapat selamat tanpa inisiatif Tuhan untuk menganugerahkan keselamatan itu.   Sejajar dengan ini, Lucifer yang jatuh juga TIDAK BISA DIBINASAKAN SEBELUM ADA CORPUS DELICTI. Cara Allah membuat pembuktian adalah melalui anak-anak-Nya yang lain, yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan-Nya yang benar. Ini akan membungkam iblis sehingga tidak bisa mengelak lagi. Ia memang bersalah [halaman 36]   


 Jadi yang merupakan atau berkait dengan Corpus Delicti:
●Lucifer
●Yesus Kristus
●anak-anak Allah yang lain

Pada Yesus Kristus,dengan demikian, Ia dapat menjadi CORPUS DELICTI kalau ia berhasil mentaati Allah sehingga seharusnya anak-anak Allah atau umat percaya dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar SEHINGGA iblis dapat dihukum. 
 

Pada anak-anak Allah, dengan demikian, mereka atau saya dan anda dapat  menjadi CORPUS DELICTI kalau memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan-Nya yang benar SEHINGGA iblis dapat dihukum   oleh Allah.


Pada Lucifrer, dengan demikian, CORPUS DELICTI sangat penting bagi Allah agar iblis tidak dapat mengelak dari penghakiman dan penghukuman Allah Dalam hal ini, Allah membutuhkan VERIFIKASI ATAS KESALAHAN LUCIFER.   

Dengan demikian Allah hingga saat anda sedang membaca ini adalah Allah yang bercelah dihadapan iblis karena hingga kini tak sanggup memverifikasi kesalahan iblis itu apa sesungguhnya.


Dapat dipahami, dalam pengajaran pdt. Erastus berasaskan corpus delicti, JALAN KESELAMATAN dalam Kristus, pada hakikatnya, bukan terletak pada Yesus dan karyanya untuk menebus dosa dan menguduskan tebusan dengan darahnya sehingga Iblis dapat ditaklukan kuasanya atas manusia-manusia tebusan. Kebenaran semacam ini:

Ibrani 2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;


Ibrani 2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.



Sangat salah, karena, di sini, penghakiman atas iblis dan keselamatan manusia, telah berlangsung sama sekali tanpa kaidah corpus delicti sebab berlangsung didalam kematian Yesus! Pendamaian bagi seluruh bangsa, bukan berdasarkan corpus delicti, tetapi PERAN KEIMAMATAN YANG DILANGSUNGKAN YESUS. Tentu saja keimamatan Yesus bukanlah sebuah pengadilan, tetapi sebuah ketetapan Allah bagaimana sebuah dosa dapat diampuni, disucikan sehingga menerima pendamaian dari Allah. 


Satu-satunya relasi antara Yesus dengan manusia dalam keselamatan, sebagaimana diajarkan oleh pdt. Erastus Sabdono, adalah: Kala Yesus dapat menjadi CORPUS DELICTI maka itulah sebuah dasar kokoh bagi manusia-manusia untuk menjadi CORPUS DELICTI sebagaimana Yesus. Wujud CORPUS DELICTI untuk mendakwa iblis adalah: ketaatan Yesus yang kemudian menjadi dasar bagi anak-anak Allah untuk menjadi CORPUS DELICTI juga. Keselamatan dikaitkan dengan mekanisme ini, yang mana Allah menggunakan Yesus dan anak-anak manusia agar keduanya dapat menjadi CORPUS DELICTI sehingga Allah memiliki dasar kokoh untuk menghakimi iblis tanpa dapat berdalih, kelak dalam penghakiman. Disitulah, menurut pdt. Erastus. kesempurnaan keselamatan manusia di dalam Yesus telah memenuhi prinsip keadilan, jikalau sukses menjadi CORPUS DELICTI sehingga berdasarkan bukti demikian, Lucifer tak dapat berdalih dalam penghakiman-Nya. Dengan demikian konsep keselamatan manusia berdasarkan anugerah versi pdt.Erastus, sungguh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus dan para rasul, karena Allah, oleh pdt. Erastus, telah dimodifikasinya menjadi begitu dependen dan begitu terikat secara asas legalistik dunia ini dalam melakukan persidangan-Nya atas iblis dan para manusia.


“KETIADAAN HUKUM TAURAT” dan “DOSA SEKALIPUN ADA NAMUN BELUM DIPERHITUNGKAN SEBAGAI DOSA, telah digunakannya sebagai dasar untuk membangun dan mengembangkan pengajaran CORPUS DELICTI adalah DASAR KESELAMATAN BERDASARKAN ANUGERAH. Tidak ada satupun penebusan dosa,dengan demikian, dalam konsep keselamatan anugerah dalam ajaran pendeta Erastus Sabdono, karena CORPUS DELICTI telah menahan itu untuk terjadi, sebab memang penebusan oleh Yesus Kristus 2000 tahun lalu, sama sekali telah diajarkan dan dikerjakan oleh Yesus bukan sama sekali IA adalah CORPUS DELICTI tetapi untuk menggenapi apa yang telah dituliskan para nabi kudus Allah [Lukas 24:44-48], dan itu terkait bagaimana keselamatan dari Allah datang, terjadi dan menyelamatkan manusia.   


Dalam bagian “Agenda Allah dalam Penciptaan MANUSIA, halaman 39–yang pada kesempatan ini belum saya “pindai” bagi anda:





begitu ditekankan bahwa problem Allah terhadap iblis begitu tak tertolongkan kecuali Allah sukses mendidik manusia untuk menjadi corpus delicti, yang oleh pendeta Erastus Sabdono malah diusung sebagai kemaha-adilan pada Allah.


Jadi dalam hal ini, keselamatan manusia berelasi ketat pada kesuksesan Allah yang berdasarkan kinerja manusia, atau itu benar-benar bergantung pada kesuksesan manusia menjadi CORPUS DELICTI, bukan pada karya Yesus. Ini wajar, karena pengutusan Yesus,menurut pendeta Erastus, bukan untuk menebus manusia dari dosa sehingga memiliki keselamatan berdasarkan anugerah dalam penebusannya, tetapi untuk menjadi CORPUS DELICTI sehingga iblis bisa dihukum. Yesus diutus Bapa pertama-tama untuk kepentingan soliditas penghakiman Bapa terhadap iblis, bukan pada keselamatan saya dan anda. Bahkan untuk memastikan soliditas penghakiman-Nya, Bapa juga menggunakan anak-anak-Nya untuk menjadi CORPUS DELICTI sehingga dapat menghakimi iblis. Kegagalan Yesus dan semua anak-anak Allah menjadi CORPUS DELICTI sangat strategis bagi kemenangan Allah untuk menghakimi iblis.  



Berlanjut ke bagian 2 



Segala Kemuliaan hanya Bagi Tuhan

P O P U L A R - "Last 7 days"