F O K U S

Kisah-Kisah Perjalanan Yesus Menurut Injil (3)

Oleh: Martin Simamora Dari Galilea Ke Kota-Kota Lain Memberitakan Tahun Rahmat Tuhan : Menaklukan Pemerintahan Iblis yang...

0 Allah Bukan Manusia

Oleh: Martin Simamora


Siapakah Yesus, Apakah Tujuan “Ia Telah Menjadi Manusia”, Mati & Bangkit dari Antara Orang Mati
Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi –Ibrani 1:3

NatGeo- Sermon on the mount

Ketika siapapun membaca:

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?- Bilangan 23:19

Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal."- 1 Samuel 15:29

Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah- Mazmur 89:34

Melalui sabda-sabda semacam ini, Allah ingin menyatakan bahwa sementara Ia menurunkan sabda-sabdanya ke dalam dunia ini melalui dan kepada manusia-manusia yang mampu berbicara dan tidak menepatinya atau berjanji dan tidak melakukannya atau berkata dan bertindak dan kemudian menyesali akan perbuataannya sendiri, Allah tidak demikian sama sekali!  Sabda-sabda diatas menjadi begitu pentingnya untuk diketahui oleh manusia, bahwa:

-Allah bukanlah manusia, sehingga berdusta
-Allah bukanlah anak manusia sehingga Ia menyesal
-Allah berfirman maka pasti dilakukannya
-Allah berjanji maka pasti ditepatinya
-Allah tidak tahu menyesal
-Allah bukan manusia  yang harus menyesali apapun keputusan dan perbuatan dirinya

(sehingga menjadi dasar penting untuk memahami bagian -bagian Alkitab yang menggunakan kosa kata humanis "menyesal" untuk menunjukan maksud betapa apa yang telah terjadi sebuah kedukaan atau kesedihan yang mendalam bagi Allah kala manusia melakukannya)

Dan hal yang sama diucapkan oleh Yesus. Perhatikan serangkaian perkataan-perkataan Yesus berikut ini:

Lukas 21:29-33 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."

Jika perkataan Yesus tidak akan berlalu  sementara langit dan bumi akan berlalu, bukankah itu bermakna Allah bukan manusia, sementara Yesus adalah manusia??



Matius  5:17- 18 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Jika IA adalah Yang Berfirman dan Melakukannya, sementara Yesus berkata terhadap hukum Taurat dan Kitab para nabi: Aku datang untuk mengenapinya dalam ketakbercelaan semacam ini: satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan tetapi “semuanya terjadi” berdasarkan Aku datang untuk menggenapinya. Bukankah  hanya Allah saja yang dapat menggenapi sabdanya secara tak bercela, sementara Yesus adalah manusia-bagaimana mungkin ia berkata sebagaimana hanya Allah saja yang dapat?

Allah bukan manusia! Tetapi bukankah Alkitab dan umat Kristen sendiri menyatakan  juga  bahwa  Yesus dilahirkan oleh seorang dara bernama Maria yang menunjukan bahwa ia memang benar-benar manusia?! Lalu bagaimana mungkin umat Kristen juga mempercayai Ia juga Ilahi? Bahwa Ia adalah Allah?! Beginilah Alkitab pada injil Lukas menjelaskan kelahiran Yesus:


Lukas 1:26-29 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Yesus dikatakan sebagai manusia yang dilahirkan oleh seorang perempuan yang adalah manusia biasa juga. Jadi memang  Yesus adalah manusia. Tetapi, bukankah Allah bukan manusia?!

Sekalipun Yesus dilahirkan dalam kemanusiaan yang utuh namun disaat yang sama kemanusiaannya tidak tunduk pada kemanusiawian yang terikat pada hukum-hukum biologis manusia. Hal ini sendiri disuarakan oleh Maria:

Lukas 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"


Bagi Maria, pernyataan malaikat tersebut bukan saja janggal atau aneh, tetapi mustahil karena mengandung dan melahirkan harus memenuhi  ketentuan hukum biologis yang bekerja bagi manusia jika hendak memiliki keturunan. Sebagai perempuan saleh, Maria berkata: “bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?


Malaikat tersebut selanjutnya menjelaskan  penjelasan terpenting yang bukan hanya menjawab pertanyaan Maria tetapi akan menjelaskan kemanusiaan seperti apakah yang dimiliki  Yesus. Kemanusiaan sejati seperti apakah yang dimiliki oleh Yesus. Mari kita memperhatikan penjelasan teramat penting ini:


Lukas 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Jawaban dan penjelasan malaikat tersebut tetap tidak memberikan penjelasan yang rasional selain hanya menyatakan Siapakah Yesus dan mengapa Ia adalah sebagaimana dinyatakan malaikat tersebut. Coba kita memperhatikan penjelasan malaikat tersebut, justru menampilkan 3 tokoh yang terlampau besar untuk menjelaskan bagaimana ia bisa mengandung. Tidak ditemukan semacam gagasan bayi tabung atau teknologi-teknologi surga yang tetap melibatkan seorang pria dalam pembuahan, selain Maria akan menerima:

-Roh Kudus
-Kuasa Allah Yang Mahatinggi
-Anak Allah

Mengapa Yesus disebut Anak Allah sementara Yesus adalah manusia? Apakah  Yesus sebuah bentuk keilahian yang lebih rendah daripada Allah dan Roh Kudus?

Ini sukar untuk dijelaskan dan diselami manusia, tak masuk akal!


Tetapi malaikat itu berkata kepada Maria:

Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

yang dijawab oleh  Maria:
Lukas 1:38 "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


yang menunjukan bahwa hingga ia berkata demikian, ia tetap seorang perempuan yang tak sanggup untuk memahami bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang bayi sementara ia tak bersuami dan tak disentuh oleh seorang pria apapun. Maria hanya sanggup berkata dalam ketakmengertiannya: “aku ini adalah hamba Tuhan.” Ia hamba  karena itu Ia bukan Tuhan atau bukan pada posisi untuk membantah atau membela diri dan martabat dirinya dihadapan manusia-tak bersuami namun mengandung?? Ia berkata jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Sejak saat itulah Maria telah masuk ke dalam apa yang disebut oleh  malaikat itu : engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah (Lukas 1:30). Kasih karunia yang tidak terpahaminya selain hanya menjadi hamba kehendak Tuhan!


Siapakah Yesus sejak dalam kandungan, dengan demikian? Adakah penjelasan tanpa spekulasi? Tentang siapakah Yesus sejak dalam kandungan, malaikat tersebut menyediakannya bagi kita sebagaimana Injil Lukas mencatatkannya bagi kita:


-Ia adalah manusia: engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus-Lukas 1:31

-Ia adalah Allah: Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi- Lukas 1:32

Sejak dalam kandungan ia adalah manusia dan ia adalah Allah yang disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Terminologi Anak Allah Yang Mahatinggi ini sangat unik karena dengan demikian  istilah “Anak” tidak akan menunjukan:

-relasi Yesus yang inferior atau lebih rendah daripada Allah, karena ia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi yang berelasi dengan  Allah Yang Mahatinggi:

“akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Lukas 1:32)
“kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Lukas 1:35)

-relasi yang bersifat biologis pada “Anak” tetapi menunjukan kedekatannya yang tak terpisahkan dengan Allah bahkan sejak detik pertama ia adalah anak manusia sejati dalam kandungan seorang perempuan bernama Maria, ia memiliki relasi yang tak terpisahkan dengan Roh Kudus dan Allah:

"Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah- Lukas 1:35

Turun kepada Maria  sehingga Roh Kudus dan Allah memiliki relasi yang nyata dengan Yesus sekalipun Ia adalah manusia.

Apa yang baru saja kita baca adalah Yesus sebagaimana disaksikan didalam Alkitab. Kita baru saja membaca bagaimana Alkitab menjelaskan Allah bukan manusia masuk kedalam dunia ini dalam rupa manusia. Surat Ibrani terkait ini  memberikan penjelasan  yang sangat kuat  tentang siapakah Yesus itu. Mari kita memperhatikannya:

Ibrani 1:1-4 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Penjelasan Surat Ibrani ini adalah penjelasan bagi orang-orang Yahudi Kristen yang dibuka dengan apakah tujuan kelahiran Yesus sebagai manusia ke dalam dunia ini. Di sini telah menjadi lebih kuat untuk dikatakan bahwa Yesus memang Anak Allah Yang Mahatinggi dalam makna  bukan merupakan allah yang lainnya lagi, diluar Allah itu sendiri. Ini ditegaskan dengan menyatakan bahwa Yesus adalah:

-Cahaya kemuliaan Allah
-Gambar wujud Allah

Sehingga  memang tidak pernah terjadi tritheisme atau adanya 3 allah yang berbeda satu sama lain, tetapi hanya ada satu Allah saja yang memiliki penciptaan dan pemerintahan oleh Anak yang datang atau berasal dari Allah itu sendiri:


“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada



Siapakah Yesus terhadap Allah atau apakah Yesus itu sebenarnya? Beginilah Alkitab pada Surat Ibrani menjelaskannya:


A Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya

Kalau Yesus adalah Allah yang bersabda kepada manusia dengan mengutus dia yang kemudian dinamai Yesus, maka jelas sekali hanya ada 1 sabda, 1 kehendak dan 1 pemerintahan. Tidak ada sabda Yesus dan tidak ada sabda Allah dan apalagi pemerintahan Anak sebagai berbeda dengan pemerintahan Allah.

Ini sendiri dinyatakan oleh Yesus:

Yohanes 12:49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan


Yohanes 5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.


Yohanes 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.


Yohanes 8:26 akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia."


Yohanes 8:28 Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.


Yohanes 14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.


Relasi Yesus dengan Allah terjadi sejak sebelum ia memiliki kemanusiaannya di dalam rahim Maria, ibunya, karena untuk mengatakan Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku, itu sendiri sebuah kesatuan  yang bersifat kekal dan harus memiliki kekekalan yang sama kekalnya dengan Allah  sementara ia memang manusia. Surat Ibrani sendiri memiliki penjelasan soal Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku dalam cara yang berbeda namun menunjukan hal yang sama bahwa memang “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” merupakan kebenaran Yesus sebagaimana Ia telah bersabda:

Ibrani 10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--.


Jika dikatakan Ia masuk ke dunia, maka Ia  telah ada sebelum Ia ada; bahwa Ia telah ada dalam kekekalan sebelum Ia sendiri ada di dalam waktu dan tempat dengan memiliki tubuh kemanusiaanya (materi). Bahwa Ia  telah ada sebelum Ia ada, itu sendiri  telah dinyatakan oleh Yesus:

Yohanes 8:58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."


Yohanes 17: 5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.


Yohanes 17:24 …agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.


Yohanes 6:26 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?


B.Penyuci  Manusia dari kecemaran dan kuasa dosa
Ini hendak menyatakan bahwa Allah membenci dosa dan dosa mendatangkan penghukuman- dosa bukan hal yang menyukakan Allah. Ini hendak menyatakan bahwa manusia tidak dapat mendatangkan penyucian atas dirinya sendiri atas dosanya sehingga bisa masuk kedalam hidup yang kekal. “Dan setelah Ia mengadakan penyucian dosa,” itu menjelaskan apakah tujuan-Nya masuk ke dunia ini dengan tubuh manusia melalui peristiwa kelahiran alami tetapi tanpa peristiwa biologis yang bagaimanapun juga tetap memiliki tubuh kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki manusia.


Apakah benar, Yesus memiliki kuasa terhadap dosa manusia-manusia, sementara ia sendiri adalah manusia? Pernahkah Yesus sekali saja menyatakan Ia dapat mengampuni dosa dan kemudian meluputkannya dari ketentuan-ketentuan hukum Taurat atau hukum Allah terkait dosa? Mari perhatikan hal berikut ini:


Markus 2:1-8,10 Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri? Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?... Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa"


Kita harus memahami bahwa kuasa mengampuni dosa oleh Yesus disini sekuat dan sekuasa pada Allah ketika mengampuni dosa seorang manusia. Itu sebabnya saat Yesus berkata demikian, para ahli Taurat segera berpikir bahwa Yesus  telah menghujat Allah, karena hanya Allah yang mengampuni dosa manusia!


Siapakah Yesus? Menjelaskannya lebih dari sekedar kompleks karena tidak ada satu bentuk intelektualitas yang dapat menerima kebenaran semacam ini. Para ahli Taurat telah membuktikannya: Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?


Apakah Yesus Allah? Tapi mengapa Ia manusia juga? Problemnya, Yesus tidak pernah menyatakannya secara terbuka dan berulang-ulang. Apa yang Yesus tunjukan hanyalah bukti-bukti yang lebih kuat dari perkataan, yaitu perbuatannya yang menyimpulkan sebagaimana penghakiman para ahli taurat: siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri!


Apakah Ia Allah? Ini bukan jawaban yang sederhana karena harus merujuk pada siapakah Yesus sendiri dan bagaimana Ia sendiri menyatakan dirinya kepada dunia selama ia ada di dunia dan tinggal di tengah-tengah manusia. Mari kita memperhatikan penjelasan Surat Ibrani berikut ini:


Ibrani 2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,


Ibrani 2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.


Ibrani 2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;



Menjawab apakah Ia Allah, tak terlepas dari siapakah ia sementara ia adalah manusia! Surat Ibrani kepada orang-orang Yahudi memberikan penjelasan mahapenting terkait kemanusiaan Yesus:

1. Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."- Ibrani 1:6

2. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--.Ibrani 10:5

3. Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat- Ibrani 2:7

Siapakah ia sementara ia adalah manusia menjadi sangat penting ketimbang mengejar membabi buta  apakah ia adalah Allah, karena sentral pemberitaan Alkitab sendiri adalah: Allah mengutus-Nya menjadi manusia. Seketika anda menyadari bahwa sentral pemberitaan Alkitab adalah Allah mengutusnya menjadi manusia maka segera anda akan begitu sukar untuk secara membabi buta mengejar penjelasan super lugas bahwa ia adalah Allah. Kerena harus disadari bahwa tujuan kedatangannya kedalam dunia ini bukan agar manusia secara gampang mengenali ia adalah Allah sekalipun ia adalah Anak Allah yang Mahatinggi. Mari kita memperhatikan hal-hal  yang menunjukan bahwa Ia memang diutus dalam sebuah keadaan yang lebih rendah untuk menunjukan bahwa Ia adalah Allah:


1.Allah memang membawa Anak-Nya ke dalam dunia dalam kedaan yang lebih rendah untuk memungkinkannya dikenali sebagai Allah: “Ketika Ia masuk ke dunia, engkau telah menyediakan tubuh bagiku.” Ini menunjukan keadaan lebih rendah bukanlah kehakikatan kekal padanya, sebagaimana Yesus sendiri telah menyatakannya:

Yohanes 17: 5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Yohanes 17:24 …agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

Yohanes 6:26 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?

Kita harus secara jujur menyatakan bahwa memang akan terjadi ketegangan yang tak mudah bagi siapapun untuk menerima kebenaran semacam ini, sebab memahami  kemanusiaan Yesus sebagai akibat: “Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” akan   begitu  mustahil untuk diterima kecuali konflik-konflik bagi manusia semacam ini dilepaskan saja. Yesus secara terbuka menunjukan konflik ini sebagai hal yang otentik sekali kala berkata: “bagaimanakah jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?” Yang menunjukan adanya sebuah kesementaraan pada kerendahan Yesus dalam kemanusiaannya yang ternyata memiliki ketinggian yang tak mungkin diterima atau dimengerti oleh manusia!


2. Keadaan lebih rendah itu adalah memiliki tubuh sebagaimana manusia: ‘Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibrani 2:14). 

Maka lengkaplah Ia semakin sukar untuk dikenali sebagai Allah, sebab “tubuh yang dipersiapkan Allah bagi-Nya saat masuk ke  dalam dunia” ternyata didesain Allah sedemikian rupa sehingga Yesus sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka. Terkait ini, bahkan Yesus mengajarkannya setelah Ia bangkit dari kematian:

Lukas 24:36- Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."


Apa yang kita saksikan di sini adalah Yesus sedang mengkomunikasikan dengan tubuhnya yang dapat mengalami kematian dan kehancuran tentang kebangkitannya dengan  menunjukan suratan yang telah ditorehkan kematian kepada tubuhnya yang telah menang dari kematian itu sendiri. Itu sebabnya Ia berkata:

-lihatlah tanganku
-lihatlah kakiku
-rabahlah aku
-aku ada daging
-aku ada tulangnya

Sebagaimana juga pada peristiwa ini:
Yohanes 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."


Apakah pemberitaan termulia dan terakbar dan pada apakah ditintakan, siapakah yang menintakannya dan siapakah pemberitanya? Tak terbantahkan lagi jawabannya secara berurutan adalah:

-kematian dan kebangkitannya dari antara orang mati
-pada tubuhnya
-maut dan kematian sebagaimana telah disabdakan Yesus sebelumnya
-Yesus yang sebelumnya telah mati dan dikuburkan namun sekarang telah bangkit

Saya ingin menyatakan, bahwa sentralitas pemberitaan Yesus  bukanlah manusia yang tak bersalah namun dikorbankan atau dikambinghitamkan, namun ia tetap setia pada Allah sehingga ia terbukti adalah manusia yang suci atau manusia martir atau manusia yang ilahi. Bukan itu sama sekali! Mengapa? Karena  hanya tubuh Yesus saja yang sanggup masuk ke dalam kematian dan menaklukannya dan menuliskan  apa yang menimpa tubuhnya selama ia berada dalam kematian, tepat pada tubuhnya sendiri. Inilah tubuh yang bersabda kepada manusia, bukan lagi perkataan Yesus tetapi tubuhnya menyabdakan sendiri kepada manusia-para muridnya bagaimana Ia telah mengalahkan maut sekalipun maut itu sanggup meremukan tubuhnya. Sekali lagi perhatikan bagaimana Yesus memberikan tubuhnya sendiri untuk bersabda kepada para muridnya:

"Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Itu sebabnya menjadi sama seperti manusia ketika dikenakan pada Yesus harus dijelaskan sebagaimana Yesus dan tubuhnya  telah menjelaskan. Ia sama seperti manusia tidak ada kaitannya dengan kualitas-kualitas dosa yang bekerja pada tubuh manusia. Sekalipun ia sama dengan manusia sehubungan dengan tubuhya itu, itu semua sama sekali tidak boleh dilepaskan oleh ketakberdayaan  Yesus untuk menjadi semacam allah lain yang lebih rendah dari Allah dan dapat berfirman dan bertindak pada  dirinya sendiri:

Yohanes 14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.


Harus dikatakan bahwa penjelasan Yesus  pada Yohanes 14:10 adalah penjelasan  tunggal untuk memahami apakah yang dimaksudkan dengan:

Ibrani 2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka


Bukan sama  sekali menunjukan  sebagaimana manusia dikuasai dosa maka Yesus pun karena tubuhnya itu pun masuk ke dalam  keadaan dikuasai dosa sehingga ia sendiri harus berjuang mati-matian untuk menaklukan dosa. Jika demikian maka kematiannya tidak mungkin sama sekali diasosiasikan dengan:

Ibrani 2:14 … Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

Karena PENYUCIAN DOSA dikaitkan dengan MEMUSNAHKAN IBLIS YANG BERKUASA ATAS MAUT maka hanya jika tubuh Yesus dan Yesus sendiri tidak dalam pemerintahan maut, ia dapat mengalahkan maut SAAT IA SENDIRI MATI dalam KUBUR, bukan pada saat Ia bangkit. Bukankah Maut dan Pemerintahan Maut dan Kemenangan Yesus ditorehkan oleh maut dan kuasa kebangkitan pada tubuh yang telah terlebih dahulu menjadi mayat dan dikuburkan? Bukankah Yesus memberitakannya dengan tubuh yang dipenuhi berita kematian dan berita kebangkitannya?!

Dan Yesus sendiri telah memberitakan kebenaran ini secara tajam:

Yohanes 12:23-24 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Yohanes 12:27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.


Jika Ia Allah, masakan bisa mati? Allah tidak bisa dan mustahil mati tetapi isu utamanya bukan “masakan Tuhannya Kristen bisa mati? Bukan itu! Tetapi bagaimana Allah mendesain penebusan manusia di dalam kekekalan bersama  Roh Kudus dan Anak melalui kematian Anak karena dikenakan Allah dengan tubuh manusia yang telah dipersiapkannya. Jadi ketika Yesus berkata “untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini,” Ia tidak sedang menyatakan Tuhan bisa mati sebagaimana manusia, tetapi Ia datang dalam  desain dan kehendak Bapa untuk menggenapi apapun yang telah dituliskan Allah didalam Kitab Suci.


Bukan Tuhan yang bisa mati! Tak pernah diberitakan Alkitab secara demikian. Tetapi Ia adalah Sang Firman yang dibuat Allah dalam sementara waktu menjadi sama dengan manusia agar dapat mengalami kematian yang menaklukan pemerintahan iblis:


Ibrani 2:9- Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia


Ibrani 2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;


Hanya yang berdarah dan berdaging yang dapat mati! Tetapi Yesus berbeda sama sekali sekalipun sama karena dalam keadaan yang sama seperti manusia, ia dalam kematiannya MEMUSNAHKAN IBLIS.


Ini benar sekali, karena Yesus sendiri mengaitkan Ia datang untuk mati dikaitkannya dengan KEBANGKITAN dan PENAKLUKAN IBLIS DALAM KEMATIAN:

Yohanes 12:31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;

Yohanes 12:32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.


Allah bukan manusia! Itu sebuah kebenaran absolut. Tetapi secara bersamaan kita harus memahami ketika Allah merendahkan Ia yang dibawanya masuk ke dalam dunia dengan memberikannya tubuh manusia, tidak bermakna Allah adalah  manusia! Karena tidak ada ada satupun manusia yang berjuang mati-matian menjadi Allah dapat memiliki kuasa menaklukan iblis tepat pada saat ia sendiri mengalami kematian dan lalu dengan tubuhnya sendiri yang telah mengalami kematian, mengalami kubur, mengalami menaklukan iblis dalam kematian, memiliki kebangkitan menjadikan tubuhnya sebagai penyabda kebenarannya itu sendiri!


Itu sebabnya Yesus sendiri adalah sebagaimana firman ini telah bersabda:

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?- Bilangan 23:19


Hal ini pun menjadi momentum penting untuk dijelaskan Yesus. Menjelaskan kebenaran ini:

Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?"- Yohanes 12:34


Kepada para murid-muridnya:
Lukas 24:19-21 "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

Lukas 24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari  kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.


Apakah Yesus telah berdusta karena Ia telah gagal menjadi Mesias bahkan mati? Ataukah semua telah gagal untuk memahami bahwa Mesias harus mengalami kematian dengan tujuan sebagaimana telah disaksikan oleh kitab Suci? Sebagaimana dinyatakan Yesus:

Lukas 24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."

Yesus mati dalam kemanusiaannya, tetapi ia tidak mati sebagaimana manusia pada umumnya karena kematiannya memiliki maksud untuk menghasilkan kehidupan kepada siapa yang percaya, menerima dan hidup bagi Yesus berdasarkan hidup yang telah diberikan kepadanya, hidup yang lepas dari pemerintahan maut:

Yohanes 5:24-25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.


Tujuan Allah terhadap Yesus sangat erat kaitannya dengan mengapa Ia menjadi manusia dan mengapa Ia harus mengalami kematian yang mengucurkan darah di salib itu. Surat Ibrani kepada  jemaat  Tuhan yang adalah orang-orang Yahudi menjelaskannya begini:

Ibrani 9: 11-28 Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, --artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, - dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup. Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah. Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, sambil berkata: "Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu." Dan juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya secara demikian dengan darah. Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu. Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.



Yesus, kemanusiaannya, kematian dan kuasa serta tujuannya, kebangkitan dan kenaikannya hanya tersedia didalam kebenaran yang dinyatakan Yesus sendiri dan disebarkan oleh para rasulnya. Itulah sebabnya dalam salah sebuah epistelnya, rasul Yohanes memulainya dengan memberitakan kemanusiaan Yesus, tubuh kematian dan tubuh kebangkitannya sebagai sumber sabda satu-satunya yang benar, ilahi dan kudus:

1 Yohanes 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu.


tidak ada kebenaran diluar sabda Yesus sendiri mengenai dirinya sendiri!

Soli Deo Gloria



Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9