F O K U S

Penjelasan Yesus Mengenai Kebangkitan & Adakah Kehidupan Perkawinan Setelah Kebangkitan

Oleh: Martin Simamora “Apabila Orang Bangkit Dari Antara Orang Mati, Orang Tidak Kawin Dan Tidak Dikawinkan Melainkan Hidup Seper...

0 NEOTHEISME (1)



www.normangeisler.com



Risalah
Ada seorang “anak” baru pada blok world view yang disebut “neotheisme.” Sementara world view tersebut mengklaim ada di dalam camp theisme, para pendukung pandangan ini melakukan sejumlah perubahan signifikan dalam natur ketuhanan (theistic)Tuhan dalam arahan teologi proses atau panentheisme. Mereka mengklaim, diantaranya, bahwa Allah dapat  mengubah pikiran-Nya dan bahwa Ia tidak dapat memiliki sebuah pengetahuan yang tak dapat salah akan masa depan. Karena terdapat sejumlah pemikir injili terkenal mengadopsi neotheisme, world view tersebut melawan secara tajam pemahaman ortodoks mengenai Allah. Sebagai contoh, jika Allah tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa mendatang, maka prediksi-prediksi pada Alkitab dapat menjadi salah. Sementara pandangan tersebut bukanlah bidat, namun demikian, itu merupakan sebuah penyimpangan doktrinal dari teisme tradisional dan merupakan penentangan yang  sangat tajam baik bagi pandangan tradisional Predestinasi Arminian dan  Calvinist.

Natur Allah merupakan isu fundamental dalam semua teologi. Itulah segala sesuatu dalam teologia. Padanya berdiri atau runtuhnya semua doktrin utama lainnya. Sejak permulaannya, Kekristenan ortodoks telah memegang teguh teistik tanpa kompromi. Belakangan ini, sebuah pandangan baru telah secara serius menantang sejarah yang telah tertata secara luar biasa dan teruji dalam perjalanan zaman. Faktanya, pandangan ini mengklaim sebagai ortodoks tetapi begitu berhasrat untuk melakukan perubahan-perubahan besar dalam pandangan teistik klasik. Sejumlah pendukung pandangan ini, termasuk Clark Pinnock, Richard Rice, John Sanders, William Hasker, dan David Basinger, telah berkolaborasi pada sebuah volume berjudul The Openness of God [1]. Para pemikir Kristen lainnya yang memiliki pandangan-pandangan serupa telah mengungkapkan simpati terhadap posisi ini, termasuk Greg Boyd, Stephen Davis, Thomas Morris, dan Richard Swinburne [2].


Para penganut neotheis memiliki beragam sebutan untuk pandangan mereka: “the openness of God” atau “free will theism.” Lainnya lagi telah menyebut ini sebagai bentuk baru theisme sebuah bentuk teologi proses atau panentheisme karena keserupaan-keserupaan pentingnya  terhadap posisi ini.[3] Namun demikian, kelihatannya lebih tepat untuk menyebutnya neotheisme karena beberapa alasan. Pertama, pandangannya memiliki perbedaan-perbedaan signifikan dari panetheism Alfred North Whitehead, Charles Hartshorn, dan teman-teman[4]. Neotheisme, seperti halnya theisme klasik, menerima banyak atribut esensial Allah, termasuk ketakterbatasan, keharusan independensi ontologikal, transedensi, ominiscience, dan omnipresence. Demikian juga, meyakini sebagaimana theisme tradisional, percaya akan  penciptaan ex nihilo  dan campur tangan langsung supernatural ilahi dalam dunia. Karena teologi proses menolak semua ini, nampak tidak adil untuk mendaftarkan  neotheisme sebagai sebuah sub-spesies dari pandangan tersebut.

Pada sisi lain, karena perbedaan-perbedaan signifikan tersebut ada antara theisme baru dan  theisme klasik, maka tidak juga neotheisme benar-benar selaras dengan kategori yang terkakhir. Sebagai contoh, neotheisme menyangkali pengetahuan sebelum atau foreknowledge akan tindakan-tindakan bebas masa mendatang yang dimiiki Allah, sebagai konsekuensi, Allah benar-benar berdaulat atau peristiwa-peristiwa manusia. Penyimpangan-penyimpangan ini berasal dari 2 milenia teologi Kristen yang cukup serius untuk memiliki nama lainnya, juga memunculkan perhatian serius. Maka terlihat tepat kemudian, untuk menyebutnya neotheisme.

Salah satu pendukung, Clark Pinnock, secara tepat telah memposisikan neotheisme dengan menjudulkan babnya dalam Process Theology “Between Classical and Process Theism.” Apapun juga itu disebutkan, pandangan ini merupakan sebuah tantangan serius bagi theisme klasik dan sebuah ancaman serius bagi banyak doktrin dan praktik penting yang telah dibangun pada pandangan tersebut. Karena mereka berhasrat untuk menjadi anggota kelompok theistik ortodoks, mereka secara mengerti telah membuang hal-hal tersebut dalam ajaran mereka. Mari kita memeriksa karakteristik-karakteristik nyata pada proposal mereka.


Karakteristik-Karakteristik Dan Inkonsistensi-Inkonsistensi Neotheisme
Sebagai anak baru pada blok neotheisme, neotheisme berhasrat untuk membuat dirinya jelas, dapat dikenali, dan menarik. Para pendukung membuat daftar lima karakteristik-karakteristik posisi mereka:


  1. Allah tidak hanya menciptakan dunia secara ex nihilo tetapi dapat (dan sepanjang waktu) mengintervensi secara spesifik dalam urusan-urusan dunia.
  2. Allah memilih untuk menciptakan kita dengan kebebasan inkompabilitas (libertarian)[5]—kebebasan atas hal yang ia manusia itu sendiri tak dapat mengupayakan kendali penuh.
  3. Allah begitu menghargai kebebasan-integritas moral makhluk-makhluk bebas dan sebuah dunia yang mana integritas semacam itu mungkin atau possible-bahwa ia  secara normal tidak membungkam kebebasan semacam itu, bahkan jika integritas moral itu melihat bahwa moralnya menghasilkan hasil-hasil yang tak dikehendaki.
  4. Allah selalu berhasrat kebaikan tertinggi bagi kita, baik secara individu dan korporat, dan karenanya mempengaruhi apa yang terjadi dalam kehidupan kita.
  5. Allah tidak memiliki pengetahuan yang menyeluruh atau komprehensif akan bagaimana kita menggunakan kebebasan kita secara pasti, walau ia bisa sangat baik pada waktu-waktu untuk diprediksikan dengan akurasi yang besar akan pilihan-pilihan yang akan kita buat secara bebas [6]


Neotheisme adalah sebuah bentuk theisme, dan tidak semestinya diperingkatkan sebagai sebuah bidat. Akan tetapi, itu jelas sebuah penyimpangan doktrinal yang signifikan dari theisme tradisional yang menjadi dasar ortdoksi historis. Dikarenakan hal semacam ini, ini memerlukan analisa yang hati-hati. Mengacu pada apa yang neotheisme yakini akan Allah, neotheisme inkonsisten. Lebih jauh lagi, itu adalah sebuah penyimpangan: pandangan klasik theistik akan Allah dapat secara logika ditarik dari premis-premis neotheisme, dan sentral hasrat neotheist bagi sebuah Allah yang interaktif adalah mungkin tanpa melepaskan pandangan klasik theistik terhadap Allah. Ini hanyalah beberapa problem dengan neotheisme yang sudah terlihat. (selagi kita memeriksa inkonsistensi-inkonsitensi logikal neotheisme, adalah perlu untuk mengulas beberapa dasar filosofis yang dapat membuktikan perkembangan lamban bagi para pembaca awam. Sebuah glosari telah disediakan untuk membantu para pembaca menelusuri bagian ini)


Creation Ex Nihilo Merujuk pada Theisme, Bukan Neotheisme
Neotheisme sejalan dengan  Theisme bahwa Allah telah menciptakan dunia ini dari tidak ada (ex nihilo). Allah independen secara ontologi dalam penciptaan-Nya. Sehingga, jika tidak ada dunia, tetap masih ada Allah. Namun pada saat yang sama, mereka mengklaim menolak atribut-atribut  tradisional Allah yaitu aseity (Ia ada dari dirinya sendiri dan berasal dari dirinya sendiri) dan kekekalan (non temporalitas). Secara logika, mereka tidak dapat memiliki keduanya bersamaan.

Kekekalan Allah  terjadi setelah Penciptaan Ex Nihilo. Jika Allah telah menciptakan seluruh alam semesta spatiotemporal, maka waktu adalah bagian dari  sari pati kosmos. Singkatnya, Allah telah menciptakan waktu. Lebih lanjut, jika waktu adalah sesuatu yang merupakan esensi penciptaan, maka waktu tidak dapat menjadi sebuah atribut bagi sang tak diciptakan-yaitu, Allah.

Jika pada rekonsiderasi neotheist memilih untuk memegang bahwa waktu telah ada sebelum penciptaan, maka problem-problem logika mengemuka. Apakah waktu “didalam” Allah-yaitu, bagian dari natur-Nya-atau diluar-Nya? Jika didalam, maka bagaimana dapat Allah menjadi tanpa sebuah permulaan, karena sebuah angka tak terhingga pada momen-momen temporal terlihat menjadi inkoheren (sebagaimana para pendukung argumen Kalam  untuk eksistensi Allah telah memastikannya).

Jika, pada sisi lainnya, waktu itu berada “diluar” Allah, maka semacam dualisme mengemuka. Terlebih lagi, jika waktu berada di luar Allah, maka kita harus bertanya, apakah waktu memiliki permulaan atau tidak. Jika waktu tidak memiliki permulaan, maka dapat diargumentasikan  bahwa ada sesuatu diluar Allah yang tidak Ia ciptakan, karena waktu sama kekalnya sebagaiman Ia ada. Ini bukan lagi  pemahaman baik klasikal atau nontheistik. Namun jikapun waktu diluar Allah dan memiliki sebuah permulaan, maka Allah harus menciptakannya (karena segala sesuatu dengan permulaan memiliki sebuah penyebab). Dalam peristiwa ini kita kembali ke posisi theistik bahwa Allah telah menciptakan waktu, dan bahwa Allah adalah Sang Kreator waktu tidak temporal.

Transendensi Allah menunjukan  Nontemporalitas-Nya. Menurut neotheisme, Allah dibelakang penciptaan. Ia lebih dari dan selain dari segenap dunia spatiotemporal. Kembali, walau begitu, jika Allah dibelakang waktu, maka ia tidak dapat menjadi temporal. Neotheis mungkin menjawab bahwa Allah juga immanen dalam dunia temporal, dan apapun adalah immanen dalam temporal adalah temporal. Namun sebuah pengertian yang tepat akan immanensi Allah tidak akan membuat Dia bagian dari sebuah dunia (sebagaimana dalam panentheisme) tetapi hanya hadir dalam dunia (sebagaimana dalam theisme). Allah dalam dunia sebagaimana dengan hakikat-Nya, dan hakikat-Nya adalah nontemporal. Ia ada dalam dunia dalam sebuah cara nontemporal.

Sebagai contoh, Allah adalah  necessary being (atau makhluk yang mutlak ada agar ada eksistensi-eksistensi apapun juga). Pada sedemikian, Ia adalah immanen dalam dunia yang contingent atau  kemungkinan serba tak pasti, tetapi ini tidak menjadikan Allah contingent. Sebaliknya, Allah yang necessary being  (mutlak ada bagi kepastian segala esksitensi) tersebut adalah immanen dalam hakikat contingent-nya dalam keselarasan dengan hakikat-Nya yang adalah sumber dari segala  keberadaan eksistensi. Sebagai Pencipta Ia adalah immanen dalam penciptaan-Nya. Ini tidak bermakna bahwa Ia bagian dari ciptaan hanya karena hadir di dalamnya. Karena itu, immanensi pada sebuah Allah nontemporal dalam sebuah dunia temporal tidak meminta bahwa Allah adalah temporal.

Uncasuality  dan Necessity Allah Menunjukan Aktualitas Murninya. Para theist baru juga percaya bahwa Allah tidak disebabkan oleh makhluk apapun juga, dan adalah dirinyalah sendiri sang penyebab segala makhluk lainnya. Tetapi jika Allah tidak disebabkan atau uncaused dalam hakikat-Nya, maka Ia pastilah aktualitas murni. Karena apapun yang tidak disebabkan tidak pernah berubah  menjadi; dan apapun yang tidak pernah berubah menjadi tidak memiliki potensialitas dalam hakikatnya. Tetapi jika tidak memiliki potensialitas, maka pastilah Aktualitas Murni atau Pure Actuality.

Untuk mengatakannya dalam cara lain, jika Allah tidak disebabkan, maka Ia tidak memiliki potensial. Karena menjadi disebabkan berarti memiliki satu potensial diaktualisasikan. Tetapi apa yang tidak memiliki potensial diaktualisasikan tidak memiliki potensi diaktualisasikan. Kemudian, Allah pastilah sejak awalnya adalah Aktualitas murni. Jadi para neotheist percaya bahwa Allah adalah sebuah makhluk yang tidak disebabkan yang secara logikal memiliki atribut yang mereka katakan mereka tolak, yaitu bahwa Allah adalah sebuah Hakikat Aktualitas Murni dengan tanpa pontensialitas dalam hakikat-Nya.

Pandangan theistik klasik  pada Allah, juga bersejalan dengan keyakinan neotheist bahwa Allah adalah Necessary Being; karena jika Allah adalah Necessary Being maka Ia tidak dapat menjadi—yakni, Allah tidak memiliki potensial dalam hakikat-nya untuk tidak menjadi. Sekali lagi, jika Allah tidak memiliki potensialitas dalam  hakikat-Nya, maka Ia adalah Aktualitas Murni. Karena itu, pandangan  theistik klasik  tentang Allah mengikuti apa yang diakui neotheist mengenai Allah. Namun demikian, neotheisme menolak atribut Aktualitas Murni. Sehingga neotheisme adalah inkonsisten dan inkoheren.

Konsekuensi-Konsekuensi Teologikal  Neotheisme
Menambahkan inkoherensi filosofis neotheisme, ada beberaoa konsekuensi serius teologikal. Beberapa akan dipaparkan ringkas di sini.

Nubuat Prediktif akan menjadi Salah
Jika semua nubuat melibatkan pilihan-pilihan bebas adalah kondisional, maka Alakitab tidak dapat diprediksi dimana Yesus akan dilahirkan. Mikha, akan tetapi, telah memprediksi bahwa Yesus akan dilahirkan di Bethlehem (Mikha 5:2), sebagaimana Ia telah lahir di sana. Benar sekali, Alkitab telah juga memprediksi kapan Ia akan wafat (Dan 9:25:27), bagaimana Ia mati (Yesaya 53), dan bagaimana Ia akan bangkit dari antara orang mati (Maz 16:10 bdk KPR 2:30-31). Terlepas dari apakah prediksi-prediksi ini tidak dapat salah atau apakah semata tebakan-tebakan di sisi Allah. Jika nubuatan-nubutan itu tidak dapat salah, maka neotheist salah, karena berdasarkan view atau pandangan mereka, Allah tidak dapat membuat prediksi-prediksi yang tidak dapat salah. Pada sisi lain, jika  nubuat-nubuat itu  bukan tidak dapat salah, maka Allah hanya menebak saja.

Sama benarnya juga pada hampir semuanya, jika tidak semua, nubuat-nubuat mengenai Mesias. Penggenapan-penggenapan profetik semacam ini melibatkan free choices atau pilihan-pilihan bebas dimanapun di sepanjang garis nubuat, yang mana—menurut neotheisme-Allah tidak mengetahui (pilihan-pilihan bebas itu). Sebagai contoh, jika Allah tidak tahu perbuatan-perbuatan bebas masa mendatang dengan kepastian, maka Ia tidak  mengetahui bahwa binatang dan nabi palsu akan berada di danau api. Alkitab, akan tetapi, berkata bahwa mereka akan ada di sana (Wahyu 19:20;20:10). Karenanya,  apakah nubuat ini secara potensial palsu, ataukah neotheisme yang tidak benar. Dengan kata lain, jika neotheisme benar, maka prediksi nubuat menjadi palsu.

Sebelum meninggalkan nubuat, poin lainnya yang harus dijelaskan. Neotheist mengklaim “problem dengan pandangan tradisional pada poin ini adalah bahwa tidak ada  jika dari perspektif Allah. Jika Allah mengetahui masa deoan secara menyeluruh atau komprehensif, maka nubuat kondisional kehilangan integritasnya [7]. Argumen ini merancukan dua perspektif.  Tentu saja, dari perspektif Allah (karena Ia mengetahui  masa depan secara tidak dapat salah) segala sesuatu adalah pasti. Sebagaimana telah dicatat di atas, ini tidak berarti bahwa dari sudut pandang manusia aksi-aksi ini tidak dipilih secara bebas. Ini semata Allah telah mengetahui secara pasti bagaimana manusia dapat secara bebas menjalankan pilihan mereka.



Sumber: normangeisler.com |Diterjemahkan oleh: Martin Simamora

Catatan kaki:


1 Clark Pinnock, et al., The Openness of God: A Biblical Challenge to the Traditional Understanding of God (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1994).


2 Those who have written books in favor or sympathy of neotheism include Richard Rice, God’s Foreknowledge and Man’s Free Will (Minneapolis: Bethany House, 1985); Ronald Nash, ed., Process Theology (Grand Rapids: Baker Books, 1987); Greg Boyd, Trinity and Process (New York: Peter Lang, 1992) and Letters from a Skeptic (Colorado Springs: Victor Books, 1994); J. R. Lucas, The Freedom of the Will (Oxford: Oxford University Press, 1970) and The Future: An Essay on God, Temporality and Truth (London: Basil Blackwell, 1989); Peter Geach, Providence and Evil (Cambridge: University Press, 1977); and Richard Swinburne, The Coherence of Theism (Oxford: Oxford University Press, 1977). Thomas V. Morris, Our Idea of God: An Introduction to Philosophical Theology (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1991), is close to the view. A. N. Prior, Richard Purtill, and others have written articles defending neotheism. Still others show sympathy to the view, such as Stephen T. Davis, Logic and the Nature of God (Grand Rapids: Eerdmans, 1983) and Linda Zagzebski, The Dilemma of Freedom and Foreknowledge (Oxford: Oxford University Press, 1991).

3 Clark Pinnock, “Between Classical and Process Theism,” in Nash; William Hasker, God, Time and Knowledge (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1989); David and Randall Basinger, eds., Predestination and Free Will (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986).

4 See Norman L. Geisler and William D. Watkins, “Panentheism – A World in God.” A Handbook on World Views: A Catalog for World View Shoppers (Matthews, NC: Bastion Books) 2013. Also Norman L. Geisler and Paul D. Feinberg, Introduction to Philosophy: A Christian Perspective (Baker, 1980).

5 By the “libertarian” or “incompatibilist” view of free will they mean “an agent” is free with respect to a given action at a given time if at that time “it is within the agent’s power to perform the action and also in the agent’s power to refrain from the action” (Pinnock, et al., 136–37). By the “compatibilist” view of free will they mean “an agent is free with respect to a given action at a given time if at that time it is true that the agent can perform the action if she decides to perform it and she can refrain from the action if she decides not to perform it” (137). As they observe, “the difference between the two definitions may not be immediately apparent.” The main distinction is that on a libertarian view, for free will to exist one must have both “inner freedom” (no overwhelming desire to the contrary) and “outer freedom” (no external restraints); on the compatibilist’s view only “outer freedom to carry out the decision either way she makes it” is necessary, even if “the decision itself may be completely determined by the psychological forces at work in her personality” (ibid.).

6 Ibid., 156.

7 Ibid., 52.

GLOSSARY
actuality: That which is actual as opposed to that which merely has potentiality. Pure actuality is the attribute of God that excludes all potentiality from Him (see aseity), including the possibility of nonexistence.
aseity: Self-existence; the attribute of God in which He exists in and of Himself, independent from anything else.
contingent: Dependent on another; a contingent being is dependent on another for its existence.
free will: The power of human beings to perform certain human actions that are free from external and/or internal constraint; the ability to cause certain actions by one’s self without coercion from another.
immanence: God’s presence within the universe as compared with His transcendence over it.
necessary being: A being that must exist; it cannot not exist (as opposed to a contingent being, which can not exist).
ontology: The philosophical study of the nature of being (from Greek ontos, being).
panentheism: The belief that all is in God, as opposed to pantheism, which claims that all is God.
potentiality: That which can be; the ability to be actualized.
process theology: A form of panentheism that holds that God is finite and constantly changing, having two poles or dimensions (bipolar).
theism: The belief in one infinite, personal, transcendent, and immanent God who created the world out of nothing (ex nihilo) and who also intervenes in it supernaturally on occasion.
transcendence: That which is more or goes beyond; that fact of God’s being beyond the universe and not only in it.

 

P O P U L A R - "Last 7 days"