F O K U S

Penjelasan Yesus Mengenai Kebangkitan & Adakah Kehidupan Perkawinan Setelah Kebangkitan

Oleh: Martin Simamora “Apabila Orang Bangkit Dari Antara Orang Mati, Orang Tidak Kawin Dan Tidak Dikawinkan Melainkan Hidup Seper...

0 SEMPURNA SEPERTI BAPA (Bagian 2)

Astrid Sihombing


Sebaiknya membaca dahulu “Sempurna Seperti Bapa” Bagian Pertama untuk dapat memahami Bagian kedua ini, sehingga dapat dimengerti dengan baik. Selamat membaca.

BAGAIMANA DAN KAPANKAH KITA SEMPURNA
Untuk dapat menjadi anak anak Bapa di Sorga (ayat 45), maka kita harus memenuhi standar dan nilai hidup yang “lebih benar” dari ahli ahli Taurat dan orang Farisi.

Dalam pengertian ini menjadi sempurna adalah suatu perjuangan segenap hidup kita sampai pada titik kita bisa mencapai keberadaan menjadi anak anak Bapa (ayat 45), dan apabila pada akhirnya perjuangan kita sanggup dan berhasil memenuhi ayat 45 tersebut, maka barulah kita bisa masuk kedalam Kerajaan Sorga (ayat 20). Proses menjadi sempurna untuk menjadi anak anak Bapa dalam konteks ini adalah perjuangan dari diri sendiri untuk mencapai nya.

Pertanyaan paling mendasar…apakah hal itu mungkin bisa kita raih?? Standar yang ditetapkan Tuhan Yesus untuk menjadi anak Allah atau menjadi sempurna sangatlah mustahil. Untuk yang mempercayainya saya ucapkan selamat berjuang dan semoga berhasil.

Hal ini sebenarnya sebangun dengan apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 13:24 : “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang berusaha untuk masuk, tetapi TIDAK AKAN DAPAT.”


Kalau kita cermati dengan teliti sesungguhnya perjuangan menjadi sempurna untuk menjadi anak Allah adalah perjuangan yang tidak akan mungkin berhasil, karena memang dalam Pasal 5 ini sejak awal Tuuhan Yesus nengajarkan Ucapan Bahagia, Menjadi Garam dan Terang Dunia, serta Menjadi Sempurna seperti Bapa semuanya adalah proses yang didasari karena KITA SUDAH BERELASI DENGAN ALLAH. Kita sudah menjadi AnakNya terlebih dahulu barulah bisa masuk dalam proses menjadi sempurna seperti Bapa kita dan bukan sebaliknya. Kita menjadi Garam dan Terang dahulu barulah bisa menjadi asin dan mengasinkan serta menerangi dan bukan sebaliknya. Siapa kita barulah bisa menentukan apa yang kita lakukan. Dilahirkan kembali dahulu sebagai anak Allah barulah kita bisa hidup menjadi anakNya.

Oleh sebab itu ayat 48 ini ditujukan bukan kepada mereka yang belum menjadi anak-anakNya, tetapi tuntutan menjadi sempurna ini ditujukan kepada mereka yang SUDAH menjadi anakNya. Kalimat “sama seperti Bapamu yang di Sorga” adalah menunjukan bahwa menjadi sempurna itu adalah tuntutan terhadap anak anakNya. Siapakah anak anakNya?


SIAPAKAH ANAK ANAK BAPA DI SORGA
Sesuai dengan Yohanes 1:12 yang dimaksud anak anakNya adalah mereka yang percaya dalam namaNya, yaitu nama Anak Tunggal ALLAH. (Yohanes 3:16-18).

Seseorang yang belum dilahirkan kembali menjadi anakNya tidak akan mungkin bisa melihat Kerajaan Allah apalagi memasukinya (Yohanes 3:3,4), dan hanya merEka yang sudah memiliki benih ilahi dalam dirinya (I Yohanes 3:9) dapat disebut sebagai anak Bapa sehingga dapat masuk dalam proses mengambil bagian dalam kekudusanNya (Ibrani 12:10).

Dengan demikian perjuangan menjadi sempurna itu adalah perjuangan setelah kita menjadi anak anak Allah dan bukan perjuangan untuk menjadi anak anak Allah. Menjadi anak anak Allah bukanlah suatu pencapaian tetapi anugerah melalui kelahiran kembali, namun untuk menjadi sempurna itu adalah perjuangan sebagai anak anak Allah.


STANDAR MENJADI SEMPURNA SEPERTI BAPA
Sudah dijelaskan bahwa menjadi sempurna seperti Bapa bukanlah dalam arti Kesempurnaan Bapa itu menjadi tujuan dari perjuangan kita dalam berbuat baik, karena memang Kesempurnaan Bapa bukanlah hasil dari suatu proses Dia menjadi Sempurna, tetapi KesempurnaanNya adalah Hakekat DiriNya sendiri. Karena Bapa adalah Sempurna maka kita sebagai anak anakNya hendaklah juga “menjadi” sempurna. Itu adalah “teleios”.

Lalu kalau bukan Kesempurnaan Bapa yang menjadi tujuan proses kita dalam menjadi sempurna (karena Kesempurnaan Bapa bukan hasil dari suatu proses) siapakah yang menjadi standar kesempurnaan yang sedang kita kerjakan ini?

Seluruh Perjanjian Baru menegaskan bahwa proses kita menjadi sempurna harus kita tujukan kepada Tuhan Yesus.

Menjadi Seperti Tuhan Yesus lah tujuan akhir dari proses kita menjadi sempurna. Mengapa? Karena memang Tuhan Yesus adalah Allah Anak yang telah menjadi sama seperti kita agar kita sebagai manusia baru dapat peluang menjadi sempurna seperti Dia.

Theologia Ortodox menyebutnya “theosis”, yaitu suatu proses yang kita alami untuk dapat menjadi sama seperti Tuhan Yesus dimana kita memiliki benih ilahi saat dilahirkan kembali (I Yohanes 3:9) untuk kemudian di tumbuh kembangkan terus menerus melalui ketaatan kita sampai kita disempurnakan olehNya. Itu adalah proses menjadi sempurna sampai disempurnakanNya.

Pertanyaannya sekarang adalah kapankah kita mencapai Sempurna seperti Tuhan Yesus? Apakah dimungkinkan saat kita masih hidup didunia ini? Ataukah nanti setelah masuk dalam Surga proses menjadi Sempurna masih terus berjalan?

KAPANKAH KITA SEMPURNA?
Paulus menulis dalam I Korintus 13:10: “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.”

Dalam ayat ini dengan tegas dinyatakan bahwa apabila “teleios” (yang sempurna) telah tiba (mencapai tujuannya), maka “meros” (a part : tidak sempurna) akan lenyap.

Kata “meros” (bagian, belahan, pecahan) adalah lawan kata dari “teleios” (lengkap, tidak terbelah dua), yang sengaja digunakan oleh Paulus untuk menjelaskan bahwa pengetahuan, pengenalan dan “proses” kita untuk “menjadi” sempurna akan berhenti karena memang telah “sampai ujungnya” atau telah “lengkap”. Hal ini menunjuk bahwa proses menjadi Sempurna akan berhenti setelah kita mencapainya. Kapankah itu?

Rasul Yohanes menulis dalam I Yohanes 3:2 : “Saudara saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak anak Allah, tetapi belum nyata kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan DiriNya, KITA AKAN MENJADI SAMA SEPERTI DIA, sebab KITA AKAN MELIHAT DIA DALAM KEADAANNYA YANG SEBENARNYA. “

Dalam teks ini dengan tegas dan gamblang Rasul Yohanes menyatakan bahwa menjadi sama seperti Tuhan Yesus adalah perjuangan sebagai anak anak Allah, dan bukan perjuangan menjadi anak Allah.

Kata SEKARANG menunjukan bahwa keberadaan anak Allah harus sudah dimiliki dahulu sambil kita “menantikan” pernyataan Tuhan Yesus dalam keadaan yang sebenarnya. Ini tentunya menunjuk pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, dimana Dia akan datang dalam kemuliaanNya sepenuh sebagai Anak Tunggal Bapa.

Ditegaskan oleh Rasul Yohanes bahwa “kelak”, yaitu ketika kita telah melihat Tuhan Yesus dalam keadaan yang sebenarnya pada saat kedatanganNya kedua kalilah kita akan dapat menjadi sama seperti Dia.

Jadi bohong besarlah kalau ada pengajaran yang memberikan harapan palsu kepada orang Kristen bahwa dengan berjuang kita akan bisa Sempurna Seperti Bapa; seolah seolah hidup sempurna dapat dicapai pada saat kita masih hidup di dunia ini. Alkitab sama sekali tidak mengajarkan demikian.

Jadi kapankah kita bisa sempurna? Jawabannya adalah pada saat kita melihat Tuhan Yesus dengan keberadaanNya secara penuh sebagai Anak Allah Yang Maha Kuasa.

Jikalau sempurna seperti Tuhan Yesus adalah angka 100, dan ketika kita masih hidup berjuang berbuat baik hanya sampai angka 50 atau 60, maka kelak disaat kita bertemu dan melihat Tuhan Yesus dalam keberadaanNya kita menjadi di-seratus-kan.

Bagaimana caranya? Saya tidak tahu caranya Allah seperti apa, tetapi itu yang Alkitab ajarkan. Kita akan menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus pada saat kita melihat Dia dalam keadaan yang sebenarnya, tentunya saat itu kita belum sempurna melainkan disempurnakan atau dijadikan sempurna.


Pengajaran Alkitab tentang kesempurnaan seperti Bapa, yaitu dalam pengertian menjadi seperti Tuhan Yesus adalah suatu pertandingan hidup bagi semua anak anak Allah, yaitu mereka yang memiliki “benih ilahi” dan “potensi ilahi” untuk di tumbuh kembangkan sampai kita disempurnakan. Ini adalah suatu perjalanan hidup anak anak Allah yang sangat menantang dan menggairahkan yang semuanya dikerjakan dalam anugerahNya. Kerja keras, berbuat baik, hidup dalam kebenaran semuanya harus merupakan implementasi dari kodrat ilahi kita sebagai anak Allah dan bukan supaya menjadi anak Allah. Selamat menuju sempurna seperti Tuhan Yesus.
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9