0 Khotbah di Atas Bukit Atau Didalam Hatimu? (Bag. 1)


artisanchurch

Pada awalnya bisa jadi orang-orang Farisi memiliki maksud yang baik dan tulus dalam rangka untuk menyenangkan Tuhan, setidaknya hal ini dilakukan pada awalnya. Mereka memiliki hasrat yang luar biasa untuk Tuhan untuk melindungi hukum-hukum-Nya. Apa yang mereka kemudian lakukan adalah membangun tembok disekitar hukum itu, 613 perintah. 

Tembok ini terdiri dari 100 hingga 1.500 hukum tambahan buatan manusia melengkapi perintah-perintah awal yang ada dalam Perjanjian Lama. Logika  orang-orang Farisi yang melandasi penambahan demikian, dengan menempatkan sebuah pagar, sebuah halang pelindung disekitar Hukum Suci, maka jika ada serangan maka penyerang/pelanggar  harus terlebih dahulu meruntuhkan tembok (atau hukum tambahan buatan manusia) untuk dapat meruntuhkan  Hukum Tuhan dan penyerang/pelanggar tersebut menjadi bersalah dan dihukum. 


Permasalahannya, seiring perjalanan waktu, orang-orang Yahudi menjadi lebih terbiasa dengan hukum-hukum buatan manusia (Farisi) ketimbang kepada Hukum Tuhan itu sendiri. Singkatnya ada begitu banyak hal yang harus dipelajari  sebelum seseorang dapat melewati  tembok itu dan menjadi betul-betul bersalah dihadapan Tuhan.

Dalam Perjanjian Baru dalam seluruh pelayanan Yesus, pernah sekali waktu Yesus berhadapan dengan tradisi-tradisi Yahudi. Orang-orang Farisi menghendaki Yesus untuk mengesahkan dan menyetujui apa yang mereka sebut sebagai tardisi para Tua-Tua (bapa-bapa) - Markus 7:1-9; Matius 15:1-4. Perdebatan antara Yesus dan para pemimpin agama meningkat sebab mereka menghendaki pengesahan dan persetujuan Yesus terhadap tradisi-tradisi mereka sehingga dapat dipandang setara dengan Kitab Suci. Yesus tegas menyatakan tidak akan menyetujui tradisi-tradisi buatan manusia itu dengan menyatakan :"Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia" (Markus 7:8). Orang-orang Farisi dengan hukum-hukum buatannya membangun penghalang antara Tuhan dengan manusia, menjadikan perintah-perintah Tuhan tak berdampak. Karena orang-orang Farisi mencegah orang-orang untuk melihat firman Tuhan dan mereka ahirnya tak keberdosaan mereka tak tersingkapkan.

Atas dasar inilah Yesus mengecam mereka dengan berkata :Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi."Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Lukas 11:52-54)

Orang-orang Farisi tahu banyak (namun TIDAK semua) dan mereka tidak memiliki kepedulian untuk menyampaikan kepada orang-orang biasa yang tidak termasuk kedalam kelompok religiusnya. Yesus datang dan menjelaskan berbagai hal mengenai Tuhan bagi orang-orang biasa dan orang-orang Farisi melihat hal ini dan mulai kehilangan kendali diri. 

Mereka seharusnya menyampaikan firman kepada orang banyak namun yang terjadi mereka malah menyembunyikannya. Yesus sebaliknya bahkan melakukan hal yang jauh lebih besar lagi dan memberikan pengertian kepada para murid mengenai perumpamaan, berbagai misteri Kerajaan surga (Matius 13:11).

Jika kita melihat ke Perjanjian Baru, Yesus mendefinisikan apa sejatinya yang dimaksud dengan "memelihara hukum" dalam khotbah Yesus di bukit. Khotbah di bukit dalam Matius 5 tidak dimaksudkan menjadi "Aturan Emas" bagi etika Kristen masa kini. Namun demikian banyak yang berpikir kita HARUS mematuhi khotbah ini SUPAYA SELAMAT, hal ini menjadi sanggahan terhadap Farisi Judaisme dan maksud sejati pemberian Hukum yang diterima oleh Musa.

Matius 15:1-3 :
Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:"Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan."Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?

Markus mencatatnya lebih luas, Markus 7:2-5
Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"

Merujuk prinsip-prinsip Farisi, beberapa hukum mereka mengenakan penghukuman yang lebih berat ketimbang dosa-dosa pelanggaran terhadap Hukum Musa. Tradisi para tua-tua menyatakan dia yang menolak tangannya dibasuh bagaikan seorang pembunuh, penghakimannya adalah kemiskinan.

Judaisme Farisi  memiliki dekrit-dekrit yang menyertai tradisi-tradisi (sehingga memiliki kekuatan hukum dan kemampuan untuk menjalankan didalam masyarakat), tujuannya untuk memisahkan Yahudi dari semua hubungan dengan semua non Yahudi yang dipandang nazis. Setiap hubungan dengan non Yahudi, bahkan bersentuhan dengan bajunya, dapat berarti pencemaran, jadi pulang dari pasar ortodoks Yahudi harus membasuh diri dengan air. Benda-benda buatan terikat dengan ketakmurnian harus dihancurkan; benda-benda yang terbuat dari kayu, tanduk, gelas, atau logam harus dibasuh, sementara itu jika benda-benda itu dibawah oleh orang-orang non Yahudi; harus dibasuh, ditempatkan dalam air mendidih, disucikan dengan api, atau setidaknya digosok hingga kemilau.

Mereka membasuh tangan (dengan cara menggosok) dengan dengan kuat-membasuh disini bukan sekedar membasahi jari-jari atau tangan didalam air sebagai simbol penyucian, tetapi dengan menggosokan kedua tangan secara bersamaan seperti sebuah bola atau kepalan tinju, kebiasaan umum dengan menuangkan air keatas tangan. Sehingga membasuh bermakna "secara seksama, secara hati-hati, secara konstan". Hal terutama yang harus menjadi perhatian utama membasuh dan melakukannya secara hati-hati dan sesuai dengan peraturan. 

Yesus selalu meletakan  tradisi-tradisi Farisi dihadapan otoritas tertinggi firman Tuhan, Yesus mengutip Yesaya 29:13 (Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,seperti tercatat di Markus 7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku".

Dengan menambahkan tradisi-tradisi bersandingan dengan firman Tuhan, mereka meluruhkan Kebenaran. Tradisi-tradisi mereka  menjadi lebih penting dibandingkan dengan apa yang Tuhan katakan melalui Musa.

Bersambung ke Bagian 2









P O P U L A R - "Last 7 days"