0 BENARKAH ADA RAKSASA DALAM ALKITAB?

Pdt. Esra Alfred Soru (ist,)
Satu lagi pertanyaan yang diajukan pada saya sebagai berikut : “Mohon penjelasan Pak Esra, benarkah ada raksasa dalam Alkitab seperti yang dikatakan Kej 6:4? Kok kelihatannya seperti cerita-cerita dongeng?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat bagus dan saya kira menjadi pertanyaan banyak orang. Benarkah ada raksasa dalam Alkitab? Bukankah cerita tentang keberadaan raksasa dalam Alkitab memberi kesan bahwa Alkitab tidak lebih dari sekedar buku dongeng saja?

Siapakah Anak-Anak Allah?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut baiklah kita melihat Kejadian 6:2 :


“maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka”.

Pertanyaan kita sekarang adalah “Siapakah anak-anak Allah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut?” “Dan siapakah anak-anak perempuan manusia yang diambil menjadi isteri oleh anak-anak Allah itu?”

Terhadap pertanyaan ini, telah muncul banyak pandangan/tafsiran. Ada yang mengatakan bahwa ‘anak-anak Allah’ itu adalah orang yang berkedudukan tinggi, sedangkan ‘anak-anak perempuan manusia’ adalah orang yang berkedudukan rendah. Jadi saat itu terjadi perkawinan antara orang-orang yang berkedudukan tinggi dan orang-orang yang berkedudukan rendah. Tetapi harus diakui bahwa tidak ada dasar bagi penafsiran seperti itu, karena dalam Kitab Suci memang kata-kata itu (anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia) tidak pernah diartikan sebagai orang-orang yang berkedudukan tinggi dan rendah.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa ‘anak-anak Allah’ di sana adalah malaikat, sedangkan ‘anak-anak perempuan manusia’ adalah manusia. Jadi di sini dianggap terjadi perkawinan antara malaikat dan manusia. Ada 3 hal yang dianggap mendukung pandangan ini :

(1) Malaikat sering disebut ‘anak Allah’ misalnya Ayub 1:6 : “Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis’. Ayub 2:1 : “Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN’ (lihat juga Ayub 38:7; Daniel 3:25,28).

(2) 2 Pet 2:4 & Yudas 4 dianggap menunjuk pada saat ini. Yudas 4 berbunyi : ‘Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus’ sedangkan 2 Pet 2:4 berbunyi : “Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman’. Frase ‘malaikat-malaikat yang berbuat dosa’ ditafsirkan sebagai malaikat-malaikat yang mengawini anak-anak perempuan manusia seperti kata Kejadian 6 :2. Namun demikian sepertinya tafsiran semacam ini terlalu dipaksakan. Selain Yudas 4 yang tidak membicarakan fakta itu secara langsung, frase ‘malaikat-malaikat yang berbuat dosa’ dalam 2 Pet 2 :4 sebenarnya menunjuk pada kejatuhan pertama dari malaikat, bukan perkawinan malaikat.

(3) Dari perkawinan ini lahir ‘raksasa’ (Kej 6:4). Pendapat ini mengatakan bahwa karena perkawinan dalam Kej 6 :2 adalah perkawinan antara malaikat dan manusia maka mereka melahirkan keturunan-keturunan yang aneh yang menjadi raksasa-raksasa seperti yang dikatakan Kej 6 :4.

Meskipun penafsiran semacam ini menarik namun ternyata ada hal-hal yang tidak memungkinkan pandangan ini. Pertama, Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa malaikat tidak kawin.

  • Mat 22:30 : ‘Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dari ayat ini saja sebenarnya tafsiran di atas sudah harus gugur.

  • Kedua, Di dalam Kej 6 :2 dikatakan bahwa anak-anak Allah itu ‘mengambil istri’, bukan sekedar melakukan hubungan seks. Ini lebih-lebih tidak mungkin dilakukan oleh malaikat.
  • Ketiga, Dalam Kej 6 :3,6,7 yang dihukum adalah manusianya saja, malaikatnya tidak. Kej 6 :3,6,7 : (3)Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." (6) maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (7) Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Kalau ‘anak-anak Allah’ itu adalah malaikat, seharusnya mereka juga dihukum oleh Allah. Selain itu pendapat yang mengatakan bahwa karena malaikat kawin dengan manusia maka melahirkan keturunan-keturunan raksasa juga adalah penafsiran yang keliru (nanti saya jelaskan).

Kalau memang ‘anak-anak Allah’ dalam Kej 6 :2 bukanlah orang-orang berkedudukan tinggi, bukan juga para malaikat, lalu siapa mereka? Saya percaya bahwa ‘anak-anak Allah’ di sana menunjuk kepada orang percaya (keturunan Set), sedangkan ‘anak-anak perempuan manusia’ menunjuk kepada orang yang tidak percaya (keturunan Kain/orang-orang di luar keturunan Set). Dasar dari pandangan ini adalah :

  1. Pertama, Orang percaya memang selalu disebut ‘anak Allah’ seperti Ul 14 :1 : "Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu; janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang’, Ul 32:5,6 : ‘Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau? Dan masih banyak ayat lainnya seperti Yes 1:2,3 ; Hos 1:10; Yoh 1:12; 1 Yoh 3:1, dll.
  2. Kedua, Penafsiran ini lebih cocok dengan konteks. Manusia mula-mula satu kesatuan, lalu memecah menjadi dua yaitu keturunan Kain (Kej 4) dan keturunan Set (Kej 5), tetapi sekarang dalam Kej 6 membaur lagi.
  3. Ketiga, Keturunan Set disebut ‘anak Allah’. Ini sesuai dengan kata-kata Hawa waktu Set dilahirkan (Kej 4:25). Jadi ‘anak-anak Allah’ dalam Kej 6:2 menunjuk kepada keturunan orang benar (keturunan Set) dan ‘anak-anak perempuan manusia’ menunjuk kepada orang-orang berdosa (keturunan Kain). Dengan demikian Kej 6:2 memperlihatkan kepada kita terjadinya perkawinan campur generasi waktu itu tanpa mempedulikan masalah iman bahkan mungkin tanpa mempedulikan masalah cinta karena “…mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
Demikian penjelasan di sekitar masalah ‘anak-anak Allah’ dalam Kej 6:2 dan dengan demikian jelas tidak ada kaitan antara manusia raksasa dalam Kej 6:4 dengan pekawinan ‘anak-anak Allah’ dengan anak-anak perempuan manusia’ dalam Kej 6:2.

Orang-orang raksasa

Di atas telah dijelaskan bahwa tafsiran yang mengatakan bahwa ‘anak-anak Allah’ menunjuk kepada malaikat dan dengan demikian telah terjadi perkawinan antara malaikat dan manusia yang melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raksasa-raksasa adalah tafsiran yang tidak tepat, lalu kalau begitu siapakah raksasa-raksasa ini? Bagaimana mereka bisa muncul? Bukankah cerita tentang adanya manusia raksasa hanya ada dalam dongeng? Dan jika benar, apakah Alkitab juga hanya menceritakan dongeng belaka?

Sebelum menjelaskannya, mari kita lihat Kej 6:4 :
“Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan”.

Kata “raksasa” di sini, di dalam Alkitab King James Version (KJV) disebut ‘giants’ (raksasa) sedangkan di dalam Revised Standard Version (RSV), New International Version (NIV) dan New American Standard Bible (NASB) diterjemahkan sebagai ‘the Nephilim’.

‘The Nephilim’ ini sebenarnya bukanlah terjemahan tetapi transliterasi (kata Ibraninya ditulis kembali dengan huruf Latin). Yang menarik adalah terjemahan KJV yang memakai kata ‘giants’ (raksasa). Terjemahan ini timbul karena diambil dari Septuaginta/LXX (Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) yang menerjemahkan kata tersebut dengan “GIGANTES”.

Selain itu kata ini dihubungkan dengan Bil 13:33 yang dalam versi NIV diterjemahkan sebagai berikut : “We saw the Nephilim there (the descendants of Anak come from the Nephilim). We seemed like grasshoppers in our own eyes, and we looked the same to them” = “Kami melihat orang-orang Nephilim di sana (keturunan Enak datang/muncul dari orang Nephilim). Kami kelihatan seperti belalang dalam mata kami sendiri, dan kami kelihatan sama bagi mereka”. Terjemahan ini memang menunjukkan bahwa orang Nephilim itu pasti sangat besar / raksasa.

Meskipun demikian, sebenarnya ada kemungkinan penafsiran yang lain dari teks ini. Pdt. Budi Asali dalam bukunya ‘Eksposisi Kitab Kejadian’ mengatakan bahwa kata bahasa Ibrani “NEPHILIM” yang dipakai dalam Kej 6:4 (yang oleh LAI diterjemahkan raksasa) sebenarnya berasal dari akar kata “NAPHAL” yang bisa berarti : (1) “to fall’ (jatuh). Mungkin semua orang yang bertemu mereka jatuh tersungkur karena takut kepada mereka. (2)‘to fall upon / to attack’ (menyerang).

Dengan arti ini, “NEPHILIM” kelihatannya bisa berarti penyerang, bandit, perampok. Kedua arti ini bisa digabungkan di mana “NEPHILIM” menunjuk kepada perampok-perampok yang ditakuti orang. Menurut pendapat saya penafsiran ini lebih cocok dengan konteks dibandingkan dengan penafsiran di atas yang mengatakan bahwa “NEPHILIM” adalah raksasa. Konteks Kejadian pasal 6 ini berbicara soal dosa manusia secara moral. Kalau tiba-tiba ayat 4 ini berbicara tentang ukuran tubuh, itu tidak sesuai dengan konteks atau tidak berhubungan dengan konteks.

Tetapi kalau NEPHILIM diartikan perampok, penyerang, bandit, maka itu sesuai dengan konteks Kejadian pasal 6 di mana di dalam ayat 4 juga dikatakan bahwa : “…inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan”. “Orang-orang yang gagah perkasa” di sini menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan fisik atau kepandaian berkelahi yang hebat sedangkan “orang-orang kenamaan” menunjukkan bahwa mereka terkenal karena jahatnya. Jadi, arti Kej 6:4 seluruhnya ialah bahwa pada waktu itu sudah ada perampok-perampok, tetapi lalu dengan adanya perkawinan campuran antara orang percaya dan orang tidak percaya, lalu lahir lagi orang-orang yang sejenis dengan perampok-perampok itu. Jadi, perkawinan campuran itu menyebabkan orang berdosa makin banyak! Dengan demikian sesuai dengan analisa kata dan konteks, saya percaya bahwa Kej 6:4 tidak berbicara tentang ukuran tubuh (raksasa-raksasa) melainkan kepada kebobrokan moral pada saat itu.

Raksasa di seluruh Alkitab

Meskipun kesimpulan di atas telah saya buat (khusus Kej 6:4), namun harus diakui bahwa di dalam PL juga ada cukup banyak ayat yang berbicara tentang adanya manusia-manusia raksasa.

Misalnya dalam Bil 13:33 : “Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." 2 Sam 21:16 : Yisbi-Benob, yang termasuk keturunan raksasa -- berat tombaknya tiga ratus syikal tembaga dan ia menyandang pedang yang baru -- menyangka dapat menewaskan Daud. 2 Sam 21:18 : ‘Sesudah itu terjadi lagi pertempuran melawan orang Filistin di Gob; pada waktu itu Sibkhai, orang Husa, memukul kalah Saf, yang termasuk keturunan raksasa. (Band. 1 Taw 20 :4). 2 Samuel 21:20 : ‘Lalu terjadi lagi pertempuran di Gat; dan di sana ada seorang yang tinggi perawakannya, yang tangannya dan kakinya masing-masing berjari enam: dua puluh empat seluruhnya; juga orang ini termasuk keturunan raksasa. (Band. 1 Taw 20:6). 2 Samuel 21:22 : ‘Keempat orang ini termasuk keturunan raksasa di Gat; mereka tewas oleh tangan Daud dan oleh tangan orang-orangnya’ (Band.1 Taw 20:8) .

Dari konteks ayat-ayat di atas, kelihatannya istilah “raksasa” menunjuk pada ukuran tubuh yang sangat besar. Misalnya di Bil 13:3, kata “raksasa” di sana menggunakan kata Ibrani “NEPHILIM”. Mayoritas terjemahan Alkitab tetap memakai kata “NEPHILIM” (ASV, BBE, ESV, CEV, GW, JPS, RV). Yang lain menerjemahkannya dengan “GIANTS” atau raksasa (KJV, Darby, Genewa Bible, LAI) sedangkan ada juga yang menerjemahkannya sebagai “MONSTERS” (DRB). Jika kita melihat konteks ayat ini di mana dikatakan bahwa : “…kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami” memang kelihatannya menunjuk pada ukuran tubuh yang sangat besar. Juga misalnya 2 Sam 21 :16, kelihatannya menunjuk pada ukuran tubuh yang besar dibandingkan dengan ukuran tombaknya.

Apakah dongeng ?

Kalau di dalam Alkitab ada cerita tentang raksasa-raksasa, berarti Alkitab tidak lebih daripada sekedar sebuah buku dongeng bukan? Tunggu dulu !

  • Hal pertama yang harus dipikirkan adalah asumsi dasar dari pertanyaan ini. Mengapa atau apa dasarnya mengatakan bahwa raksasa itu adalah sebuah dongeng?

Saya kira asumsi ini muncul karena teralu banyak membaca buku dongeng atau menonton film-film kartun yang bercerita tentang raksasa seperti ‘Hulk Si Perkasa’, dll. Mana yang ada lebih dahulu? Alkitab atau buku-buku dongeng tentang raksasa ? Alkitab atau film kartun? Ya jelas Alkitab! Maka kalau boleh dikatakan, bukanlah Alkitab yang meniru buku-buku dongeng itu tapi buku-buku dongeng itu yang meniru Alkitab tapi jika tidak mau dikatakan demikian maka yang bisa dikatakan adalah Alkitab tidak sama dengan dongeng hanya karena ada raksasa-raksasa dalam cerita dongeng.

Ingat, Alkitab lebih dulu ada daripada semua dongeng itu. Selain dari itu, saya kira pemikiran semacam itu muncul dari pemahaman kita terhadap kata “raksasa” itu sendiri. Kita terlanjur berasumsi bahwa ‘raksasa’ itu adalah dongeng maka ketika menemukan ada ‘raksasa’ di Alkitab, kita langsung mengklaimnya sebagai dongeng. Mungkin kata ‘raksasa’ ini harus dipahami sebagai suatu ukuran tubuh yang lebih besar daripada orang kebanyakan yang disebabkan oleh mutasi kromosom secara permanen yang diakui dalam dunia medis.

Kesimpulan

Dari semua uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa raksasa-raksasa yang dibicarakan di dalam Alkitab menunjuk pada ukuran tubuh yang lebih besar dari orang kebanyakan (kecuali Kej 6 :4 yang memang secara arti kata dan konteks tidak dapat diartikan sebagai ukuran tubuh). Ini bukan dongeng tetapi fakta. Pikiran bahwa itu adalah dongeng timbul dari asumsi yang salah terhadap istilah ‘raksasa’ itu sendiri. Jadi sekali lagi Alkitab bukan atau tidak sama dengan cerita dongeng.

Pdt. Esra Alfred Soru |GKIN (GEREJA KRISTEN INJILI NUSANTARA) "REVIVAL"

P O P U L A R - "Last 7 days"