F O K U S

Hiduplah Secara Bijak: Tebuslah Waktu! (1)

Oleh: P.A. Apakah Anda Mempergunakan Waktu, “Waktu Hidupmu?” Sebelum melanjutkan membaca, berhentilah sejenak dan buatlah seb...

0 Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!


Oleh: Martin Simamora

Ketika Dunia Semakin Menjadi Bukti Ketiadaan Allah Dalam Pandangan Manusia, Tetapi Bukan Sama Sekali Karena  Allah Hingga  Saat Ini Belum Berkuasa Untuk Menghakimi Penguasa Dunia itu

 
caak.mn
Pandangan bahwa dunia lebih tepat untuk dikatakan sebagai bukti ketiadaan Allah memang nyaris tak terelakan dalam pandangan manusia. Semenjak manusia menitikberatkan kebebasan manusia untuk melakukan apapun juga yang baik dalam pandangannya dan Tuhan  kelihatannya tak berbuat apa-apa, ini menggoda siapapun untuk mulai lebih berhati-hati untuk berkata Tuhan ada dan berkuasa atas setiap tindakan. Hal semacam ini bukan hal yang baru dalam Alkitab. Alkitab bahkan mengontraskan teramat benderang  kehendak bebas manusia yang memiliki kecenderungan untuk memberontak pada Tuhan sanggup memvonis: benarkah Allah ada, atau cuma sekedar mekanisme jiwa manusia untuk tetap memiliki pengharapan yang ditumpukan pada sosok atau “being” yang lebih tinggi dan lebih berkuasa dari dirinya, jika pun tidak terbukti mahakuasa. Misal saja ini:

Mazmur 73:9-11 Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?"

Ini adalah sebuah kejujuran beriman dari seseorang yang begitu dekat dengan Tuhan dalam kehidupan spirtualnya. Siapakah Asaf? Asaf si pemazmur ini, adalah sesorang musisi rohani yang sangat bertalenta dan juga seorang pelihat! Mari perhatikan siapakah Asaf ini dalam catatan kitab Tawarikh: “Lalu raja Hizkia dan para pemimpin memerintahkan orang-orang Lewi menyanyikan puji-pujian untuk TUHAN dengan kata-kata Daud dan Asaf, pelihat itu. Maka mereka menyanyikan puji-pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan sujud menyembah” (2Tawarikh 29:30).  Ia pelihat dan penulis lagi puji-pujian untuk Tuhan. Ia memiliki kehidupan spiritualitas yang nyata baik bagi jemaat dan bagi bangsanya bersama Daud.

Dan satu ketika, si Pelihat dan Penulis lagu puji-pujian untuk TUHAN ini,  harus menuliskan dalam mazmurnya baris-baris yang memilukan dan melemahkan jiwanya. Ia jujur dalam beriman dan ia mengemukakan pergumulannya. Tidak ada kemunafikan dan tidak membuatnya menjadi malu dalam ia sedang terpukul. Apakah yang  membuatnya menulis baris-baris pada Mazmur 73:9-11 itu? Jawabnya akan anda temukan dengan membaca mazmur tersebut secara keseluruhan.


Sangat sukar untuk melihat Allah ada dan mahakuasa ketika si Pelihat tidak mendapatkan visi yang otentik dari Allah ketika dunia semakin lama semakin menakutkan untuk dilukiskannya. Kalau seorang penulis lagu sampai menuliskan realitas ini dalam pujiannya, sementara ia sendiri adalah seorang pemimpin pujian dan pelihat, maka jelas ia sedang berada pada titik keberimanan yang tak dapat lagi ia sembunyikan bahwa dirinya tak lagi mampu untuk melihat Tuhan itu ada. Kejujuran dan keterbukaannya dapat kita lihat pada bait-bait ini misalnya:

Mazmur 73:2-3 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

Mazmur 73:13-14 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

Bisakah anda membayangkan seorang Pemimpin Pujian menuliskan bait-bait lagu bernada kekecewaan yang demikian vulgar ini? Asaf jujur dalam beriman, sebab ia tahu sekali apakah dasar pengimanannya itu, dan kepada siapakah ia beriman dan berharap. Tetapi kemanusiaannya tidak memiliki kuasa sama sekali untuk melindungi ketegarannya untuk bertahan lama. Ia bahkan ada di persimpangan jalan yang paling krusial untuk diputuskannya. Penuh pergumulan, sekaligus ia tak sanggup memalingkan matanya dari realitas hidup yang cenderung membuktikan Tuhan tidak ada! Coba perhatikan ini:

Mazmur 73:15 Seandainya aku berkata: "Aku mau berkata-kata seperti itu," maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.

Seorang pemimpin pujian seperti Asaf ini, legacy terbesarnya adalah mazmurnya itu sendiri. Tetapi mazmur atau lagu seperti apakah yang akan diturunkannya kepada generasi-generasi berikutnya? Apakah yang akan ditemukan dalam mazmurnya? Seorang pemimpin pujian adalah seorang yang berdiri bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk  Tuhan bagi umat-Nya. Dan ketika mulutnya memujikan Tuhan, haruslah itu sebuah kehidupannya, bukan semata prosa atau puisi. Mazmur ini dan pada semua mazmur, memang prosa, tetapi bukan  sajak-sajak lagu puitis yang fantasi dan utopia. Bukan! Mazmur akan menyingkapkan bagaimana seorang pemuji hidup di dunia yang kelam atau tak selalu terang dan sejuk. Pemuji tak bisa berdusta dibalik senyuman termanis dan kejituannya melantukan lagu di atas notasi dalam sebuah kepresesian yang gemilang. Tidak bisa. Dan jika benar seorang pemuji Tuhan adalah orang yang memiliki relasi dengan-Nya secara karib, hampir pasti dari mulutnya akan keluar potret terbaik dunia ini dan bagaimana manusia memandangnya.

Itu sebabnya, kemudian Asaf menuliskan bait ini:
Matius 73:16-17 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,

Dengarkan saya baik-baik. Jika seorang pelihat dan pemuji yang begitu karib dengan perjumpaan-perjumpaan kemuliaan dan kemegahan Allah yang dituangkan dalam tulisan-tulisan lagunya, sampai menuliskan “ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku”, maka itulah sebuah kejujuran berimannya, bahwa ia tak berdaya untuk menemukan sebuah landasan yang kokoh untuk memahami realitas itu. Dan itu artinya, itulah titik kritikal imannya.

Sementara ia berada dalam titik kritikalnya, ia tetap bernyanyi dalam hadirat Tuhan sementara ia sudah begitu terpukul. Dan ia tetap tak berdaya! Puji-pujiannya sudah tak mampu mengangkat jiwanya, tak mampu melepaskan pikirannya dari lingkaran setan pemikiran “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan Yang Maha?”

Ketika saya menuliskan bahwa Asaf adalah seorang pemuji yang begitu karib dengan perjumpaan-perjumpaan kemuliaan dan kemegahan Allah yang dituangkan dalam tulisan-tulisan mazmurnya, ini memang tak main-main. Pernahkah anda membaca mazmurnya yang menakjubkan ini? Ini luar biasa:

Mazmur 50:3-22 Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri, di hadapan-Nya api menjilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat. Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya: Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan! Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim. Sela Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Sela Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu. Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu. Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan.

Ini adalah kontras terhadap Mazmur 73. Mazmur 50 ini luar  biasa megah dan bahkan menunjukan bahwa keberdiaman Allah tidak boleh disangkakan dan diajarkan sebagai Allah memiliki problem di dunia yang jahat.

Lalu apa yang membuat Asaf terselamatkan pada  titik kritikalnya? Apakah karena ia semakin membangun kehidupan yang bertobat dan meninggalkan pikiran yang jahat mengenai Allah, membuang semua prasangkanya? Jelas tidak, lah…ia membuka mazmurnya dengan bait kebimbangan: Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;…dan seterusnya!

Saudaraku, benar kitab suci mengajak kita memandang pada Tuhan bukan pada apa yang ada di sekeliling kita, sebab sekeliling kita pada realitasnya bisa seperti ini: hari ini indah, esok sudah gosong karena perang atau karena musibah/bencana dan seterusnya. Jadi memang nggak akan pernah sekeliling kita yang indah-indah dan positif itu, bisa jadi pondasi beriman, walau dalam derajat tertentu bisa menjadi sarana-sarana terbatas untuk membangun pengharapan dan masa depan yang gemilang.


Lalu, Apakah Asaf Melihat Masa Depan Iman yang Gilang Gemilang, Pada Akhirnya?
Mungkinkan di dunia  yang penuh dengan kejutan-kejuatan tak menyenangkan, masih bisa memiliki masa depan iman yang gilang gemilang? Jawabnya sangat bisa, tetapi jelas tidak akan pernah dan tak akan mungkin datang dari dunia ini, tetapi dari Allah sumber damai sejahtera sejati bagi saya dan anda.

Asaf tak pernah terselamatkan karena kekuatan imannya yang memberinya kuasa untuk memulihkan jati diri imannya, tidak. Tetapi ini:

Maz 73:17-22 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina. Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.

Problem raksasa sebagaimana judul renungan ini, sebetulnya bercorak penghakiman pada keberdiaman Allah. Ketika manusia tak sepatah katapun pernah mendengarkan pengakuan ketakberdayaan Allah, namun manusia berani menghakimi-Nya, inilah problemnya. Ketika diam diartikan tak berdaya dan mahakuasa, ketika memuji Tuhan dan beriman dikatakan sekedar mekanisme pelarian jiwa untuk mendapatkan penenangan jiwa yang psikologis belaka, sementara terlihat logis, justru tak menjelaskan apapun. Bagi saya, kenapa tak pertama-tama mempertanyakan moralitas dan kehendak bebas manusia yang justru lebih rasional untuk dipahami dan dijelaskan dari sudut ilmu-ilmu pengetahuan. Bukankah rasionalnya ketika siapapun sudah sampai pada judgement Allah tidak berdaya pada kejahatan dunia ini, sudah seharusnyalah moralitas dan kehendak bebas manusia sanggup tampil sebagai tuhan sumber damai sejahtera dunia ini. Kenyataannya jelas tidak, karena manusia memiliki problem yang mungkin mampu dijelaskannya secara rasional akademik, tetapi jiwanya sendiri  bukan tumpuan dan bukan sumber kuasa yang bisa menciptakan order atau tatanan jiwa manusia yang lebih beradab, rasionalistik humanis yang memproteksi keberadaban kemanusiaan.


Karena memang bukan itu sumber pemulihannya, tetapi Tuhan. Sebab manusia memerlukan Tuhan. Saya dan anda memerlukan Tuhan untuk memulihkan kerusakan jiwa yang lebih menghamba kepada dosa ketimbang kehendak-kehendak suci Allah. Asaf pada bait berikutnya menuliskan begini:

Mazmur 73:23-24 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.

Aku tetap di dekat-Mu? Apa sebabnya? Inilah penyebabnya: Engkau memegang tangan kananku! Apalagi? Ini penyebabnya Asaf dan juga saya serta anda akan secara pasti tetap dekat dengan-Nya: dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku!

Pada akhirnya dunia ini akan semakin dalam rupa sebagaimana kehendaknya sendiri. Kehendak bebas dunia ini dengan segala kecerdikannya akan semakin memerintah tanpa bisa sama sekali membawa damai di dunia ini. Dunia punya versi sendiri akan apakah damai. Coba  baca lagi damai versi dunia pada artikel-artikel di bawah artikel ini, artikel-artikel sebelumnya tepat sebelum ini. Jadi apa yang paling penting bagi saya dan anda sebagai anak-anak Allah di dunia ini, sebagai tebusan Sang Kristus  yang sementara ini masih hidup dan masih harus menjalankan peran dan tanggungjawab penuh hormat kepada kemanusiaan dalam naungan tunduk kepada Tuhan? Ini yang terpenting sebagaimana Asaf bermazmur:

Maz73:25-28 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Karena dunia ini bukan bukti ketiadaan atau ketakmahakuasaan Allah sementara ya benar Ia berkuasa, maka Ia tepat kita jadikan tempat perlindungan saya dan anda. Kalau nggak…hentikan celoteh doa-doamu itu, itu benar-benar sakit jiwa berdoa kepada Tuhan namun sangat percaya bahwa Ia walau berkuasa, jelas tidak mahakuasa. Atau sekalipun mahakuasa, ia masih punya problem dengan iblis terkait barang bukti yang tak memadai untuk tegaknya penghakiman yang adil dan kudus tanpa celah.

Asaf berkata, pemikiran yang  memaksa untuk memahami dunia dan Allah pada kontrasnya yang paling pahit, hanya akan membuat kita tak lebih tak kurang adalah dungu dan tidak mengerti seperti hewan di hadapan-Nya.

Jadi hati-hati dengan siapa anda beriman, Tuhankah atau hantukah? Masak anda mau berdoa kepada Tuhan yang hingga saat ini masih jadi pecundangan iblis terkait Allah lemah dalam barang bukti penghakiman. Kita telah melihat Asaf, tidak menunjukan adanya problem semacam itu.

Yesus Sang Mesias, juga menunjukan hal yang sama kepada saya dan anda, bahwa tidak ada problem pada Allah terkait realitas dunia semacam ini. Bahkan ketika Ia dalam pandangan dan pemahaman kita, tak juga bertindak semestinya. Sang Kristus bahkan meninggalkan pesan vulgar dalam pengontrasannya terhadap  realitas dunia dan diri-Nya:

Yohanes 17:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Beriman itu tidak menjadikan kita orang-orang yang berpikir utopia! Nggak pernah seperti itu. Yesus itu manusia paling obyektif kok. Ia ngomong dua realitas paling kontras: ia tinggalkan damai sejahtera, tapi ia juga membicarakan ketakutan yang bisa muncul, sehingga juga berkata janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Apakah sekarang problem kita? Jadilah obyektif dan rasional dalam beriman. Jika Yesus begitu ilahi dan begitu rasional, mengapa saya dan anda tidak. Tentu pada akhirnya ia tak minta saya dan anda mendewakan kemampuan obyektivitas dan rasionalitas saya dan anda, karena pasti gagal dan bikin lemes iman. Tetapi dalam demikian, kita mendengarkan nasihat-Nya! Anda percaya nasihat-Nya ini adalah kebenaran dan berkuasa? Anda percaya dengan “janganlah gelisah dan gentar hatimu” dengan berpijak pada damai sejahtera yang ditinggalkannya itu?

Mari buat keputusan dan jadilah manusia yang tangguh. Saya dan anda boleh sedih, boleh aja kadang lemes imannya karena kalau saat didekat anda bom meledak dan anda diluputkan, anda pasti lemes imannya sementara anda sebisa-bisanya menguatkan diri.

Mari kita berdoa: Bapa yang baik, kami tahu  dunia tempat kami tinggal ini bukan rumah kami yang kekal. Kami tahu kalau ini semua sementara. Tetapi kami juga tahu melalui Anak-Mu yang tunggal kalau kami harus hidup secara benar dan serius di dunia ini untuk menghasilkan kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat bagi banyak orang, agar kiranya melalui diri kami yang sederhana ini, ada sinar kemuliaan Kristus yang penuh kasih memancar untuk menjangkau jiwa untuk menerima damai sejahtera-Mu. Roh Kudus, tolonglah kami, agar kami menjadi damai sejahtera yang ada di bumi ini, bahwa kami adalah para pembawa damai sejahtera-Mu. Urapilah kami ya Roh Kudus, agar dunia ini tidak mengalahkan kami, berilah kami kuasa dan otoritas seperti Asaf untuk masuk kedalam tempat Kudus-Mu, sehingga kami tahu bagaimana kami harus hidup dalam berbagai medan laga yang mungkin kami harus hadapi. Ya Bapa kami yang di sorga, curahkanlah kepada kami kekuatan untuk hidup, kekuatan untuk beriman dan kekuatan untuk menyatakan kasih Allah yang kami dapatkan hanya  di dalam dan melalui satu-satunya Anak Allah, Yesus Sang Kristus, Sang Penebus kami yang hidup. AMIN


"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
Maz 46:10
Soli Deo Gloria


Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9