0 Catatan Penting Jelang Jumat Agung hingga Kebangkitannya dari Antara Orang Mati:



Oleh: Martin Simamora

Momen-Momen Terpenting Dalam Kehidupan Umat Manusia Tanpa Allah, Oleh Allah Agar Keselamatan Adalah Kehidupan Bagi Manusia yang Percaya Kepada-Nya


Bagi  Sang Kristus, Ia harus melakukan apa yang telah menjadi kehendak Bapa-Nya agar segala maksud Allah tergenapi hingga pada titik-titik paling menentukan yang harus dihadapinya:

Markus 14:1-2 Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat, sebab mereka berkata: "Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat."

Matius 26:1-4Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya: Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan. Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia.

Ini momen dimana  kesengsaraan dan kematiannya bukan saja semakin dekat tetapi sedang menuju gerbang pewujudannya. Kita tahu sekali bahwa Yesus telah bukan saja mempersiapkan murid-muridnya untuk memasuki sebuah fase yang tak terjelaskan dalam rasionalitas manusia, tetapi mengajarkannya sebagai kebenaran yang mencengangkan siapapun. Mencengangkan siapapun:

Markus 8:31-33 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Kita harus memahami bahwa Yesus tidak mengajarkan ini sebagai sebuah kegilaan gagasan yang sedang dipaksakan untuk diterima oleh para muridnya, dalam sejumlah kesempatan Ia bahkan terlihat begitu tenang memberikan ruang kepada para muridnya yang lebih luas untuk menunjukan sebuah penolakan dan sebuah kebimbangan yang tak tertahankan untuk ditanggung oleh manusia:


Yohanes 6:50-52 Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."

Yohanes 6:60-61 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?

Yohanes 6:66-67 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"

Bukan saja Ia tidak mengajarkannya sebagai sebuah kegilaan gagasan yang dipaksakan tetapi Yesus dengan sengaja memberikan ruang yang teramat lebar bagi manusia untuk berpikir dan melakukan pertimbangan-pertimbangan untuk menemukan sebuah sudut penerimaan yang paling mungkin bagi seorang manusia. Yesus bahkan masuk ke dalam dimensi berpikir manusia untuk membantu jika saja kemanusiaan manusia kuat untuk menanggung kebenaran itu dalam jaring-jaring rasionalitas manusia. Begini ia memasukinya:

Yohanes 6:55-56 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Ia berupaya menguraikan kebuntuan pendengarnya agar sumbat “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan” dapat dienyahkan dengan sebuah statement yang begitu jernih: “sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” Yesus bahkan menarik sebuah peristiwa besar yang menjadi sejarah yang begitu monumental bagi  dunia ini pada bagaimana Allah pernah secara langsung memberikan makanan dan kehidupan sehari-hari pada sebuah bangsa, untuk menunjukan bahwa makanan yang sedang  dibicarakannya adalah makanan sementara makanan itu adalah yang memberikan kehidupan dari Allah:

Yohanes 6:57-58 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Satu-satunya yang membedakan “roti” itu adalah: “Roti ini akan memberikan hidup selama-lamanya.” 


Sebetulnya sudah jelas, pertanyaan “bagaimana ia dapat memberikan dagingnya kepada kita untuk dimakan” sudah terjawab! Tetapi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan rasional tersebut. Mengapa? Karena apa yang tak dapat dicerna rasional mereka adalah relasi Yesus dengan hidup selama-lamanya yang terletak pada diri Sang Mesias itu bisa merupakan kebenaran. Kalau pertanyaannya kemudian, apakah dasar dan kemampuan manusia untuk beriman pada Yesus sebagaimana yang diajarkannya sendiri, maka ini lebih dari sekedar kasih karunia yang populer ada dalam  benak anda. Karena  kasih karunia yang populer akan juga mengalami kesukaran yang begitu luar biasa untuk menerima penjelasan Yesus ini: “Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya- Yohanes 6:65” yang pada injil ini-pada ayat ini- seketika diikuti dengan realitas penggenapannya “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia- Yohanes 6:66.”

Ketika anda membaca realitas semacam ini: “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat”, maka harus dipahami bahwa problem yang dihadapi manusia sekaliber imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat bukan pada ketakmampuan rasio dan ketakmampuan theologis, tetapi pada ketakberdayaan manusia untuk pertama-tama datang dan menerima Yesus sebagaimana dikatakannya sendiri, yang oleh Yesus dikatakan hanya dapat ditanggulangi jika kasih karunia semacam ini saja: Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku (Yohanes 6:44).

Mengapa ini begitu penting? Ini menjadi begitu penting karena Yesus sendiri telah meletakan dirinya dalam peristiwa kesengsaraan dan kematian pada kayu salib sebagai sebuah pengajaran yang merupakan kulminasi mengapa Ia datang ke dunia ini. Ketika menerima Yesus seutuhnya terkait sekali dengan kebenaran “tidak ada seorangpun yang dapat dating kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku,” maka demikian juga dengan penerimaan siapapun terhadap ajaran Yesus terkait pengajarannya tetang kematian dan apa yang dihasilkan dalam kematiannya. Pada puncaknya, kulminasi penolakan Yesus beserta pengajarannya yang berujung pada “berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia,”juga bersumber dari “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.”


Mari kita melihat sebuah problem yang identik dengan "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan," tapi kali ini Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?

Yohanes 2:19-20 Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"

Penderitaan Yesus yang berujung kematian, sejak semula, telah menjadi kabar baik yang janggal bagi siapapun tetapi merupakan mahkota yang senantiasa dikenakan Yesus kemanapun ia pergi, yang semakin lama mahkota itu semakin berkemilau ketika memasuki tempat dimana penderitaan itu menemukan gerbang masuknya:

Yohanes 12:12-13 Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!"

Sementara penyambutan itu begitu memuliakannya sebagaimana nubuat Kitab suci menuliskannya:Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis” (Yoh 12:14- Zak 9:9), Yesus telah terlebih dahulu mengajarkan bahwa di kota dimana ia disambut dalam pemuliaan, di situ ia  juga akan menggenapi apa yang menjadi pikiran/rencana Bapa yang juga merupakan pikiran dan rencana Sang Mesias sendiri:

Markus 8:31-33 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Tak satupun yang akan berpikir bahwa Ia akan mengalami kemalangan kelam sebagaimana telah diajarkannya sendiri sebagai kehendak Bapa-Nya dalam dunia yang kelam ini, benar-benar terjadi. Semua terpana dan takjub pada daya kewibawaan Yesus kala masuk ke Yerusalem: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel! Siapakah manusia itu yang disambut sedemikian megah? Ini sendiri tak terpikirkan dan terpahami oleh para pemuka agama: Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: "Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia." (Markus 12:19).


Tetapi siapa yang menyangka bahwa Yesus tak akan mengubah pikirannya sama sekali, sebaliknya ia menyibakan kemuliaan teragungnya dibandingkan dengan pemuliaan dirinya secara masif di jalanan menuju Yerusalem tadi. Begini Ia sendiri berkata:

Yohanes 12:23-27 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.

Kita sekali lagi harus memahami bahwa reaksi individu atapun massa terhadap Yesus secara umum bersumber dari pengharapan bahwa Ia seharusnya datang dan tampil  sebagaimana pengharapan diri mereka yang semacam ini: Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel! Perhatikan  warna biru. Mereka berpengharapan bahwa Yesus memenuhi permintaan mereka agar Ia tampil sebagai yang telah dimahkotai publik dalam sebuah pemuliaan yang agung semacam itu, dan ini memang pengharapan yang bertumbuh perlahan dan makin kuat sejak lama:

Yohanes 6:14-15 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri

Apa yang tidak mereka ketahui dan mustahil untuk diterima sebagai kebenaran adalah apakah tujuan kedatangannya dan kemuliaan dan pemuliaan seperti apakah yang sebenarnya milik kepunyaan Yesus yang harus dikenakannya sendiri. Inilah itu: Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.


Dan keterpisahan antara Yesus dan dunia beserta segala keinginannya semakin vulgar dan terbuka lebar untuk semakin terpisah selebar dan sedalam samudra raya bahkan angkasa raya ini, ketika secara terus terang hal ini disingkapkan oleh Yesus dalam sebuah dialog yang begitu lugas :

Yohanes 10:31-33 Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."


Seperti dikatakan Yesus sebelumnya, satu-satunya penjelasan mengapa orang tidak dapat datang kepada Yesus dan menerima segenap ajarannya, bukan pada kemampuan rasionalitas untuk menerima, sebab tidak tersedia ruang sama sekali bagi rasionalitas untuk mampu memproses kebenaran semacam ini dalam benak:

▄Yohanes 10:33 Aku dan Bapa adalah satu."
▄"Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"
Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan


Kebenaran pada Yesus jelas sekali tidak dapat dipeluk dengan akal budi sementara akal budi manusia dapat menangkap dan mengolah perkataan Yesus menjadi sebuah logika bahasa yang sangat dimengerti manusia. Itu sebabnya, hasilnya adalah semacam ini: orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus dan pada puncaknya: “Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat.”


Apa yang ingin saya tunjukan pada catatan kecilku adalah ini: rentet penangkapan, siksa yang melahirkan kesengsaraan tak berkesudahan hingga kematiannya di kayu salib, bukan sekedar bentuk penolakan berdasarkan konflik antarmanusia, atau karena persinggungan perbedaan kebenaran yang tak terselesaikan secara tafsir. Karena misalkan saja untuk “Aku dan Bapa adalah satu” telah dijernihkan Yesus apakah maksudnya, jadi terkait siapakah dirinya terhadap Bapa, itu memang diluar jangkauan logika umum dan logika theologia yang bagaimanapun yang dapat dijaring oleh para pemuka agama kala itu. Coba perhatikan ini sejenak: “masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yohanes 10:36). Apa yang terjadi sebenarnya adalah: setiap kali manusia memandang dan mendengar pada Yesus, manusia akan senantiasa terjerembab dalam ketakberdayaan ini: engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Ketika kemuliaan Yesus yang akan ditegakannya bukan pada penyambutan megah di Yerusalem, tetapi kematiannya, maka beginilah reaksi manusia:

Yohanes 12:34 Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?"

Tak ada yang dapat menerima kebenaran ini tanpa jatuh kedalam kegelapan dunia yang wujudnya tak mungkin dilihat manusia sebagai sebuah musuh kebenaran Allah, yaitu engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Bukankah dalam banyak aspek yang lebih sederhana, begitulah kita? Celakanya lagi kita  dalam hal itu berpikir kalau itulah yang benar dari Allah. Kita secara umum memiliki problem Petrus terhadap kebenaran Allah “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia” yang tentu saja dalam ragam yang begitu variatif.

Anak Manusia harus ditinggikan, tetapi masak harus seperti itu? Yudas  merupakan wujud paling keras dari betapa hebatnya “bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” dapat mendikte dan menggiring manusia untuk bukan saja meninggalkan pikiran Allah untuk bergantung pada pikirannya sendiri, tetapi membuat diri manusia itu sebagai milik kepunyaan iblis sebagai instrumennya untuk mengalami perjumpaan paling frontal dengan Yesus semenjak perjumpaannya dengan Yesus di gurun (Matius 4:1-11), kali ini untuk maksud mempecudanginya:

▄Markus 14:43-45 Waktu Yesus masih berbicara, muncullah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat." Dan ketika ia sampai di situ ia segera maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Rabi," lalu mencium Dia.

yang dilakukan Yudas dari meja jamuan bersama dengan Yesus-jamuan makan yang tak tuntas diikutinya demi sebuah penghianatan terhadap Mesias yang telah mengecewakan pengharapannya:

▄Lukas 22:14-23 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah." Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang." Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!" Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.

Yohanes 13:26-28,30 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.


Malam itu adalah momentum yang akan benar-benar menyendirikan Yesus. Tak akan ada lagi murid-murid yang mengiringinya. Semua telah jatuh ke dalam bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia, dan tak akan ada yang sanggup bertahan dalam situasi yang begitu kelam dan bukan saja begitu tersendirikan tetapi melihat Sang Mesias tak dapat lagi,bagi mereka, bersikap realistis. Kita harus mengerti pada momen ini para murid masih berupaya keras membebaskan Yesus dari kejanggalan yang tak terpahami ini:

▄Matius 26:51-53 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?

Di sini jelas kalau Yesus tidak kehilangan akal sehatnya, tetapi jelas ini bukan soal akal sehat. Karena jika itu yang utamanya maka  tidak perlu para murid dan semua manusia jatuh kedalam ketakberdayaan abadi ini: engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.

Memiliki pikiran Bapa, menjadi jelas, bukan semacam kemewahan yang dapat diperjuangkan oleh manusia dengan segenap hikmat atau wisdomnya. Kecenderungan manusia sudah nyata pada hal terdasarnya yaitu: bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.  

Pada persidangannya, kita kembali melihat wujud keras dari Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, perhatikan, misalnya, pada episode ini:

Matius 27:39-44 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Apa pikirmu terhadap Yesus dengan kebenaran yang sungguh sukar ini? Apakah anda pikir Ia pasti manusia berdosa, jika tidak masakan ia harus alami penderitaan dan maut? Atau, anda pikir dia datang untuk menjadi contoh bagi kita sebagai corpus delicti sebagai bukti yang menunjukan iblis bersalah sehingga Bapa memiliki dasar yang kuat untuk menghakimi iblis-bahwa Yesus dan Bapa tak berdaya terhadap iblis dalam hal barang bukti kejahatan iblis yang begitu lemah saat ini hingga ada manusia-manusia yang dapat menjadi barang bukti kejahatan iblis kelak.

Untuk memiliki pikiran Allah, harus dicamkan, bukan merupakan aktivitas pembentukan mental dan pikiran sedemikian rupa untuk memiliki semacam kemuliaan jiwa yang kemudian ditakar sebagai ilahi berdasarkan pencapaian yang diperjuangkan hingga kesudahan. Sejak semula Yesus sudah meletakan sebuah pasak kebenaran dimana di situ saja kita boleh mengikat diri ini untuk melakukan perjalanan yang akan membawa diri ini untuk memiliki pemikiran Allah yaitu kehendak Bapa yang ada dalam Yesus Kristus. Pada Petrus,  Yesus telah berkata: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 16:17) terkait siapakah Ia Sang Mesias!


Berdasarkan ini, maka kita dapat memahami ketika Yesus berseru di Salibnya: “Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Matius 23:43), bukan sebuah pernyataan yang memaksudkan bahwa semua yang terlibat dalam penyalibannya adalah manusia-manusia yang kehilangan akal sehatnya dan kewarasannya, seolah semua adalah orang gila yang melakukan sebuah tindakan tanpa sebuah argumen yang dimilikinya. Mereka memilikinya, hanya saja tak satupun merupakan kebenaran, namun mereka tak berdaya untuk menjelaskan secara rasional apa yang tak dapat mereka pahami untuk diterima sebagai kebenaran, sehingga Yesus harus disingkirkan sebagai manusia yang sangat berbahaya. Kini, kita, seharusnya memahami bahwa “mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” sangat erat terkait dengan:

Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan
makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya

Yang bersumber dari Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku. Kita harus memahami bahwa doa Yesus dalam seruan itu, erat sekali dengan tujuan kedatangannya, sebagaimana ia katakan kepada Nikodemus Guru bangsa Yahudi itu:

Yohanes 3:16-17 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.


Apa yang Yesus serukan di atas kayu salib itu bukan seru pembinasaan yang memang sudah seharusnya, tetapi sebuah seru yang akan menegakkan sebuah ruang kasih karunia yang begitu efektif dan penuh kuasa pada setiap manusia yang percaya untuk secara sungguh dan benar mengalami sejak awal hingga kesudahaannya: supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa.


Pada salib itulah Ia Sang Mesias dapat benar-benar secara penuh kuasa dihadapan manusia dan iblis bahwa Ia sungguh berkuasa di dunia untuk menentukan siapapun juga yang dikehendakinya untuk mengalami: supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa! Itu juga sebabnya terkait hal ini, ia berkata setelah kebangkitannya: Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi- Matius 28:18.


Tanpa Yesus yang memiliki segala kuasa di sorga dan di bumi, mustahil ada manusia yang dapat beriman, bahkan sementara Ia Sang Mesias ini telah tiada di muka bumi (Ibrani 1:1-3) ini secara jasmaniah dan saya dan anda, dan berjuta-juta hingga bermilyar manusia yang akan datang, tidak mungkin dapat mengalami perjumpaan dengan Yesus sebagai Dia Sang Kebenaran dimana Segala kebenaran Allah berdiam dan hanya pada-Nya sebagaiman12 murid-Nya dan manusia sezamannya di tempat tersebut. Menjadi begitu penting untuk menutup catatan penting ini dengan baris-baris ini: Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya- 1Petrus 1:8.

Soli Deo Gloria



P O P U L A R - "Last 7 days"