0 Ketika Dalam Kematian Telah Lahir Kehidupan:


Oleh: Martin Simamora


Aku Ini... , Bukan Hantu


Betapa kemudian, kerasnya fakta kematian di tangan Yesus bagi manusia-manusia itu tak stop di kubur, sementara kubur adalah fakta kematian dan bukan konsepsi belaka. Itu sendiri tak mendamaikan manusia sebab pada Yesus di kematiannya sendiri merupakan fakta kematian yang mengalahkan kematian itu sendiri, sementara mustahil bagi manusia untuk mengalahkannya. Pada “Kematian Bukan Dambaan” sudah saya tunjukan.  Saya sekarang akan menunjukan sejenak, bahwa sekalipun semua tahu dan melihat sehingga menjadi peristiwa nasional atas seorang manusia yang  proses kematiannya begitu panjang dan di saksikan oleh lautan manusia dan telah dikonfirmasi dalam mekanisme militer Roma yang seperti ini:

Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.”- Yohanes 19:31-34


Tetap saja menjadi bayang-bayang mencekam bagi para pemimpin agama Yahudi dan penguasa politik setempat.

Yohanes 19:31-34 merupakan mekanisme pembuktian kematian yang sangat cepat namun sangat efektif dalam  tata laksana penentuan kematian seorang terhukum tervalidasi. Kalau kedapatan masih  belum benar-benar mati, maka patahkanlah kakinya. Pada Yesus, pematahan kaki tidak dilakukan karena menurut pengamatan para prajurit Roma, ia memang telah mati sempurna. Tetapi ada satu tindakan yang terlihat non prosedural dilakukan pada Yesus, yaitu: “tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Peristiwa ini tidak dicatatkan sebagai sebuah kelaziman yang dilakukan oleh prajurit Roma dalam menentukan atau memastikan kematian, tetapi dicatatkan oleh Rasul Yohanes sebagai bertemali dengan Kitab Suci bahwa dalam salah satu momen kematian dan momen kesunyian yang begitu senyap [karena kerumunan orang banyak yang berteriak salibkan dia kini mulai surut setelah kemauannya terpenuhi] dinyatakan: “Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan." Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."- Yohanes 19:36-37.

Catatan ini sangat penting karena Kitab Suci sendiri hendak menyatakan setidaknya dua hal terkait keotentikan kematian Sang Kristus:

-   Sebagaimana jelang kematian dimana Yesus masih berdaulat atas tubuhnya atau ia masih dapat menguasai tubuh jasmaninya, maka demikian juga setelah ia meninggalkan tubuh jasmaninya, Ia sendiri masih  berdaulat untuk menentukan apa-apa saja yang boleh terjadi atas mayatnya, yaitu: “tidak ada tulangnya yang akan dipatahkan”- “supaya genaplah yang tertulis di dalam Kitab Suci


-    Kematian Yesus adalah benar-benar kematian yang menghancurkan segenap fungsi internal tubuh bagian dalamnya atau  telah dipastikan tidak ada yang namanya semacam mati suri dan kematian yang diskenariokan tidak mematikan dengan sebuah tindakan yang bahkan menunjukan  betapa tubuhnya sudah tidak lagi menopang kehidupan:” seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Lambungnya telah dipenuhi oleh  darah yang bercampur dengan air.


Bagi manusia, jika manusia dapat melampaui kematian atau melepaskan diri dari kematian yang begitu sempurna validasi atau pengesahan kematiannya dalam tata laksana militeristik, taklah lantas begitu saja menempatkan martabat kemanusiaan si mati yang bangkit itu menjadi dipulihkan sedia kala sehingga ketika muncul akan dipeluk erat-erat. Karena itulah menjadi begitu sukar untuk disambut, selain disangka sebagai hantu. [ini sendiri menunjukan betapa manusia begitu tak berdaya terhadap kematian selain ketakutan, kecemasan dan kemencekaman pada dunia kematian itu sendiri. Padahal itu pasti dimasukinya tanpa perlu anda mengakui dan menghormati kematian, sebab tubuhmu sendiri akan menua, mengeriput, berpenyakit dan makin renta sebagai tanda bahwa tubuhmu semakin rindu untuk masuk ke dalam liang kubur walau anda berteriak setengah mampus untuk menolaknya]


Tetapi pada Yesus, kita akan melihat bahwa Yesus dan segala pengajarannya, perbuatan-perbuatannya terkait kematian dan kebangkitannya, bukan sama sekali gagasan manusia dan bukan pemikiran manusia, sebab setelah kebangkitannya, ia bangkit dengan membawa serta untuk  menghadirkan tubuh yang telah menjalani berbagai siksa, penderitaan, kubur, berada dalam dunia kematian, tetapi kini hadir dihadapan para murid dan masuk ke dunia manusia hidup dengan kehidupan yang telah menaklukan maut sebagaimana terekam jelas pada tubuh jasmaniahnya! CorpusDelicti  pada Yesus adalah tubuhnya yang telah menaklukan dan menghancurkan kejahatan maut atas manusia yang dipersembahkannya dihadapan manusia dan Allah!


Sebab ia adalah dia yang telah menaklukan maut di dalam kematian itu sendiri atau menaklukannya dengan jalan masuk ke dalam kematian itu sendiri, maka jelas ini bukan sedang membicarakan bangkit dari kematian semata konsepsi atau iman yang akan datang.  Bukankah Yesus sendiri meminta saudari almarhum Lazarus yang terkasih untuk percaya bahwa ia akan melakukannya saat itu juga? 


Ingatlah kembali ini semua:

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"- Yohanes 11:25-26


“Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"- Yohanes 11:39-40


“Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."- Yohanes 11:43-44



Ini adalah iman berdasarkan bukti sebab untuk itulah ia datang ke dunia ini, yaitu untuk menaklukan perhambaan maut atas manusia:

“Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.”- Yohanes 11:27 


“Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?’- Matius 26:51-53


“Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"- Matius 26:54


“…Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi."- Matius 26:56

Ia datang untuk kematian itu sendiri tetapi dalam fakta kematian yang berada di dalam kedaulatan Allah bukan dalam kedaulatan iblis. Yesus terintegerasi dengan maksud Allah terhadap kematian yang membelenggu manusia yang divalidasikan sendiri oleh Yesus dengan ucapan dan tindakannya yang menyerahkan diri ke dalam tangan para penguasa dunia. 


Sementara kematian yang akan terjadi ada dalam fakta kedaulatan Allah, yang kedaulatan termaksud tersebut ditunjukannya  dalam bahasa yang begitu mengerikan bagi telinga manusia: “Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?" dan “Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Ini fakta-fakta dalam peristiwa kelam  yang melampaui daya tahan manusia dan kemanusiaan setiap murid-murid Kristus,  sebab tak satupun yang berdaya untuk menerima kebenaran dalam kematiannya yang telah dituliskan para nabi, apalagi berdaya dengan kekuatan sendiri beriman bahwa akan lahir kehidupan yang menang atas maut sementara dibunuh  dengan serentet penyiksaan mendahuluinya, dan masuk ke dalam dunia orang mati. Maka inilah tontonan paling ironi yang harus disaksikan Yesus, ditinggalkan sendirian: “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.” (Matius 26:56).



Kebangkitan dari kematian itu sendiri, telah secara sengaja disajikan Yesus Kristus  sebagai pengajaran yang berpasangan dengan bukti, sebagaimana telah saya sajikan pada “Kematian Bukan Dambaan” atau tepat sebagaimana  pengajaran Yesus tentang ia menaklukan pemerintahan Penghulu Iblis bertautan secara ketat dengan bukti, sebagaimana telah saya sajikan pada “Yesus Sang Penguasa Atas Iblis.”


Tetapi tentu saja sebagaimana kematiannya begitu sukar diterima, pun kebangkitannya menjadi jauh lebih sukar. 


Berbeda dengan kematian dan kebangkitan pada orang lain lebih mudah untuk disambut dan menjadikan Yesus semakin mengagumkan para murid. Kematian Yesus yang diakui secara luas oleh masyarakat Yahudi dan para pemimpin agama, bagi mereka itu hanya menunjukan bahwa ia bukan Mesias.


Bagi mereka, Mesias harus tidak  boleh mengalami kematian [jadi bukan manusia kekal maksud pengertian tafsir mereka] sebelum menduduki takhta Daud dan memulihkan kerajaan Daud, jika sampai mati sebelum memulihkan kerajaan Daud dan tidak memenuhi ketentuan Taurat berdasarkan tafsir mereka, maka ia jelas bukan Mesias sebagaimana dipikirkan berdasarkan tafsir mereka. 


Coba perhatikan  bagaimana Yesus diidentifikasi masyarakat Yahudi kala ia belum masuk ke penggenapan meminum cawan dari Bapa:


Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.    - Yohanes 7:40-44


“Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya? Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea."- Yohanes 7:45-52


Kita harus mengerti bahwa Yesus sejak semula telah menyatakan  bahwa tafsir apapun yang diajarkan oleh para guru agama Yahudi adalah tafsir manusia neraka dan hanya ia satu-satunya penggenap bukan saja hukum Taurat dan kitab para nabi. Perhatikanlah ini:


Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.- Matius 5:17-18


Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.- Matius 5:19-20


Mengapa disebut tafsir orang neraka? Karena Yesus sendiri menyatakan bahwa guru dengan tafsir  yang bertentangan dengan sabda Kristus akan jatuh ke dalam  neraka sehingga demikian juga pelaku atau murid atau jemaatnya, misalkan:

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.- Matius 5:21-22


Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.- Matius 5:27-29



Sementara Yesus menyatakan dirinya sebagai penggenap hukum Taurat dan kitab para nabi, tetapi mereka tetap tak paham mengapa ia harus mati? Ini tentu jelas mustahil dimengerti sebab fakta kematian yang dibicarakan Yesus tak seperti anggapan manusia yang diburu oleh bayang-bayang maut atau kematian. Ini begitu jelas, sebab sekalipun Yesus telah menjelaskan: “tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah- Yoh 12:24” tetap saja reaksi mereka adalah menolak kemesiasan Yesus berdasarkan hukum Taurat, sebagaimana berikut ini:

Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?" – Yohanes 12:34


Jelas sekali para pendengarnya memahami kalau “harus ditinggikan” bermakna Yesus akan mati dibunuh! Ini ditegaskan oleh penulis injil Yohanes: “Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati- Yoh 12:33” untuk menjelaskan kepada para pembaca injil ini pada apa yang dijelaskan Yesus pada para pendengarnya saat itu, sungguh dimengerti dengan baik sehingga mereka memutuskan ia bukan Mesias itu. 


Mereka, sayangnya, gagal memahami bahwa kematian yang dibicarakannya dan dialaminya sendiri berpasangan dengan “aku menarik semua orang datang kepada-Ku” pada momentum kematian itu sendiri atau “aku ditinggikan dari bumi,” sebagaimana dikatakannya: “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku- Yoh 12:33"


Semua tak memahami kematian Kristus yang memberikan hidup, sebuah hal yang tak berdaya sama sekali untuk diraih manusia, sekalipun manusia itu sungguh bermoral atau mahabaik di dunia ini, kecuali Yesus melakukan tindakan ini: “Aku akan menarik semua orang kepada-Ku.”

Mereka tak akan pernah paham bahwa dalam ia mati ia menarik! Jika ia menarik dalam ia mati, apakah ia mati? Pernyataan ini sama atau seidentik dengan pernyataan Yesus sebelumnya yang berbunyi:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24)


Kita harus mengerti bahwa fakta kematian pada Yesus yang semacam ini, sungguh menggelikan dan akan dianggap sebagai menyamakan diri dengan Allah. Tentu kita juga akan mengingat nuansa-nuansa yang membuat Yesus sukar diakui sebagai Mesias selain seorang penghujat Allah karena berlaku dan berkata seperti Allah itu sendiri, menurut tafsir mereka sebagaimana pada peristiwa ini:

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri? Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."- Markus 2:5-12


Bahwa Yesus begitu sukar untuk kembali diakui sebagai Mesias berdasarkan hukum Taurat, pun terjadi pada para murid, dan itu dikarenakan ketakberdayaan mereka atas dunia maut yang memenjara mereka sehingga tak sanggup di atas kaki mereka sendiri dapat memahami sehingga beriman bahwa kematian Yesus itu adalah kematian yang menaklukan kematian itu sendiri. Berkali–kali diajarkan tetapi tak mengerti juga apalagi untuk menggerakan menjadi beriman? Itulah bukti semua manusia tak berdaya untuk datang kepada Yesus bahkan untuk sekedar beriman kepadanya, jika Yesus tak lebih dahulu melakukan sesuatu atas mereka sehingga dapat merespon dan beriman sebagaimana dalam perbuatan yang lahir dari iman itu sendiri. 


Perhatikan dialog ini yang mengiris hati sebab sekalipun murid yang senantiasa bersama Kristus tetapi untuk sekedar beriman pada perkataan atau sabdanya saja tak mampu! Sebagaimana semua manusia:

Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.- Lukas 24:19-21


Jika mesias mati lalu bagaimana membebaskan mereka, pikir mereka? Ini adalah problem yang berakar pada ketakberdayaan manusia untuk beriman pada Kristus yang datang untuk menggenapi Kitab suci. Perhatikan kecaman Yesus berikut ini sesaat ia telah bangkit dari kematian dan menampakan diri kepada sejumlah murid dalam perjalanan menuju Emaus:

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.- Lukas 24:25-27


Kematiannya begitu keras karena kematiannya bertolak belakang dengan pengharapan mesianik yang tertanam berdasarkan pengajaran para guru mereka. Bertolak belakang karena mereka tak bisa mengerti apakah relasi kematian harus dialami seorang mesias dengan penggenapan kitab suci, sebagaimana ajaran Sang Kristus sendiri. 


Yesus menggenapi pengharapan  mesianik dalam cara yang tak dapat dipahami oleh manusia terkait kuasa mesias atas dosa dan dunia orang mati; terkait kerajaan Daud yang  Rajanya adalah Yesus berkuasa atas dosa dan pemerintahan dunia  orang mati. Itulah problemnya.


Dan untuk terakhir kalinya Yesus kembali mengkonfrontasikannya:

“Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada” daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.- Lukas 24:36-40






Semua  tanpa kecuali akan berakhir di peti mati ini. Seindah apapun peti itu dan......

Semua  tanpa kecuali akan berakhir di peti mati ini. Seindah apapun peti itu dan semahal apapun harganya,  tubuhmu akan membusuk dan menjijikan untuk dikisahkan lebih detail. Sungguh tak  pantas dan tak santun untuk menuliskan keadaan yang kita sangat kasihi itu. Kisah apakah yang dapat anda tuliskan dalam kematianmu? Sementara ini adalah topik yang sangat menjengkelkan tetapi kita harus tahu bahwa kematian dapat menginterupsi gelak tawa seorang sahabat karib sekalipun muda, sangat sehat dan penuh energi; ia bahkan juga dapat sekejab mengubah kebahagiaan sebuah pernikahan menjadi raungan tangis karena keluarga dan pengantin harus meninggalkan dunia secara menggenaskan.


Kematian bukan kisah menyenangkan tetapi tetap saja kita menantikannya dan mempersiapkannya. Coba lihat, apakah anda memikirkan apa yang hendak anda wariskan kepada anak-anakmu. Itu sangat penting, tetapi perjalanan anda selanjutnya akan jauh lebih penting sebab detak jantung andapun akan meningkat kala anda membicarakan kematian, apalagi kematian dirimu. Ah…sudahlah mari lebih baik minum bir saja. Ok…saya terima segelas bir dari anda, tetapi ingatlah bahwa kematian sekalipun tak didamba tetapi akan menjadi "sahabat" kita di hari tua, atau jangan-jangan, saatnya sebentar lagi bagi saya dan anda?




Soli Deo Gloria

P O P U L A R - "Last 7 days"