0 Salib dan Kebangkitan: Skandal dan Kejutan Kemenangan

Pusat galaksi Bima Sakti (Milky Way) dimana planet Bumi berada.Image direkam oleh  Instrumen NACO di fasilitas teleskop : Very Large Telescope milik European Southern Observatory

Salib dan Kebangkitan: Skandal dan Kejutan Kemenangan


Salib yang merupakan salah satu simbol[1] utama kekristenan telah sekian banyak mengundang kontroversi. Buat orang-orang Yahudi, salib menjadi batu sandungan yang begitu besar, sementara bagi orang non Yahudi, sebuah ketololan konyol. Paulus yang kita percaya sebagai salah satu pewarta kekristenan otentik menyatakan bahwa salib adalah kekuatan Allah. Artikel singkat ini bertujuan untuk melihat bagaimana salib (peristiwa penyaliban Yesus Nazareth), di tengah-tengah skandal yang sangat memalukan itu bisa berbunyi sebagai kekuatan Allah (1Kor. 2:18). [2]

Penyaliban Kristus – Skandal dalam Warna Religius
Tidak sulit untuk kita melihat bahwa para penulis Injil mengreditkan peristiwa penyaliban Yesus Nazareth kepada orang-orang Yahudi, terkhusus para imam kepala serta orang-orang Farisi (Mat. 26:47, Mrk. 14:43, Yoh. 18:12). Urusan utama buat mereka adalah bahwa Yesus Nazareth dipandang sebagai ancaman yang serius karena Dia berbenturan dengan kepercayaan agamawi mereka.

N. T. Wright mengredit Ulangan 13:1-5 serta penafsiran rabinis mereka sebagai tuduhan utama yang dialamatkan kepada Yesus. Dia membuat banyak mujizat, dan dipandang menyeleweng dari pengakuan ortodoks pengabdian monotheistik terhadap YHWH.

Wright mencatat hal yang menarik, yaitu bahwa mengerjakan banyak mujizat dengan tetap berpaut pada tradisi Israel tidak akan membawa masalah bagi Yesus, sementara mengajarkan ketidaksetiaan (kepada tradisi Israel) tanpa melakukan mujizat mungkin bermasalah namun tidak membawa ancaman seserius apa yang dituduhkan kepada Yesus.

Dalam kurun 200 tahun sebelum Yesus Kristus, ada cukup banyak orang Yahudi yang dipandang menyesatkan dengan ajaran yang menyimpang dari nasionalisme Yahudi; beberapa orang yang sangat setia dan bersemangat terhadap adat istiadat Yahudi akan bersikap sangat keras terhadap orang-orang sedemikian, namun terhadap mereka tidak banyak tindakan yang diambil.[3] Kita melihat tindakan yang sangat berbeda terhadap Yesus Nazareth yang menarik banyak orang dengan berbagai mujizat dan tanda-tanda ajaib, dan pada saat bersamaan dituduh tidak setia. Babylonian Talmud yang dikutip oleh Wright menunjukkan dengan cukup jelas bagaimana mereka memandang Yesus bersalah khususnya dalam konteks Ulangan 13.
'He is going forth to be stoned because he practised sorcery and enticed and led Israel astray. Let everyone knowing anything in his defence come and plead for him.' But nothing was found in his defence, so he was hanged on the eve of Passover. [4]

Selanjutnya Wright menyatakan bahwa Yesus dipandang bersalah dalam kategori Ulangan 13 karena Dia mengikuti dan menyiarkan suatu agenda yang memasukkan berbagai simbol terhebat dalam Yudaisme pada zaman-Nya dan mengarahkan berbagai simbol tersebut demi loyalitas terhadap Diri-Nya sendiri. Secara lebih spesifik hal ini merujuk kepada perkataan-perkataan serta tindakan-Nya yang berkaitan dengan Taurat dan bait suci. Pada gilirannya, Dia memimpin orang-orang lain, melalui berbagai tindakan mujizat dan tanda-tanda ajaib, untuk memiliki pandangan dan melakukan hal yang sama dengan apa yang diajarkan-Nya. Maka dalam pandangan mereka Yesus Nazareth, dengan apa yang dikerjakan-Nya (tindakan, ajaran, serta berbagai mujizat) tidak dapat ditafsirkan yang lain selain sebagai nabi palsu. [5]

Berbicara mengenai kematian Tuhan Yesus, Craig Evans mendaftarkan beberapa poin penting. Beberapa hal sangat berkaitan dengan kesadaran dan sekaligus benturan religius dengan orang-orang Yahudi. Tindakan penyucian bait suci merupakan salah satu alasan yang mengemuka; tindakan tersebut diiringi dengan perkataan menusuk ...kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun (Mrk. 11:17).

Perkataan Yesus tersebut mengutip khotbah Yeremia (7:11) yang memberikan kritik tajam kepada para pemimpin bait suci pada zamannya; hal tersebut sangat menjengkelkan para imam kepala serta tua-tua Yahudi pada waktu itu.Evans menunjukkan catatan Josephus mengenai Yesus bin Ananias yang menyampaikan khotbah dengan kemarahan dengan mengutip Yeremia 7 yang juga dituntut untuk dihukum mati (meski akhirnya dia tidak jadi dijatuhi hukuman mati).

Perumpamaan tentang kebun anggur mengamplifikasi kejengkelan mereka; di mana perumpamaan yang mengutip Yesaya 5 tersebut memperingatkan mereka akan penghukuman Allah yang akan dijatuhkan karena kegagalan mereka memperjuangkan keadilan.[6] Di sini kita melihat bahwa penyaliban Yesus akan menambah daftar para nabi yang dianiaya dan dibunuh ketika berbicara kebenaran atas nama YHWH.

Penyaliban Kristus – Skandal Kuasa
Selain menampilkan dampak pandangan religius yang salah, penyaliban Kristus juga melibatkan permainan kuasa dan politik. Pertama, kita melihat bahwa Yesus dipandang sebagai ancaman terhadap status quo para imam kepala. Para imam kepala pada umumnya berasal dari beberapa keluarga kaya yang sering diasosiasikan dengan golongan Saduki. Imam besar memperoleh kedudukan yang cukup penting di Yerusalem khususnya setelah pencaplokan Yudea sebagai propinsi Romawi. Barnett dengan jitu menyatakan bahwa di Yudea (yang adalah sebuah daerah dengan masyarakat religius yang begitu kompleks), tidaklah bijak bagi pemerintah Romawi untuk secara langsung menyatakan kekuasaannya dengan memberikan pemerintahan dipegang oleh orang non-Yahudi.

Dengan demikian, imam besar beserta para imam kepala memperoleh kedudukan yang penting di sana sementara mereka menjalankan dalam banyak hal roda pemerintahan di bawah kekuasaan Romawi. Yesus mengetahui bahwa Yerusalem adalah daerah di mana secara politis para imam kepala memegang kuasa yang cukup besar. Dengan demikian, aksinya memasuki Yerusalem dengan cara seperti yang dinubuatkan bagi raja mesianis Israel (Zak. 9:9), serta tindakan penyucian bait suci di Yerusalem secara sangat lugas bisa dibaca sebagai tantangan terbuka terhadap otoritas iman besar dan para imam kepala.

Atas semua tindakan provokatif tersebut para imam kepala, para ahli Taurat, serta para tua-tua bertanya: dengan kuasa mana / atas otoritas apa... (Mrk. 11:28), dan seperti yang kita lihat, jawaban Yesus yang mengangkat perumpamaan tentang kebun anggur, yang mengetengahkan penghakiman, serta mengalamatkan Anak Allah pada diri-Nya sendiri begitu menjengkelkan mereka. Mudah dimengerti bahwa tindakan Yesus dipandang sebagai perampokan kuasa yang benar-benar menggoncang status quo mereka.[7]

Kekisruhan politis serta permainan kuasa yang berbaur di dalam peristiwa penyaliban Yesus Kristus tersebut dilengkapi oleh permainan penuh perhitungan Pilatus dari pihak penguasa Romawi. Josephus serta Philo menggambarkan Pilatus secara negatif; bersifat kejam dan brutal. Namun keadaan Pilatus ketika peristiwa penyaliban Yesus Kristus terjadi sangatlah berbeda dari masa-masa awal pemerintahannya.

Jika pada masa awal pemerintahannya, Roma secara de facto berada di bawah kuasa Aelius Sejanus yang bersifat anti-semitis, kini pemerintahan benar-benar berada di bawah kaisar Tiberius yang cenderung pro-semitis. Dalam kondisi sedemikian, Pilatus perlu benar-benar cermat berhitung; apakah dia perlu bertindak sesuai keinginan para imam kepala untuk mengeksekusi Yesus, ataukah melepaskan-Nya untuk menghindari pemberontakan dari orang-orang Yahudi yang pro-Yesus.[8] Dalam situasi seperti ini kita melihat bagaimana catatan Injil-Injil yang kita miliki menggambarkan sikap Pilatus yang seperti berusaha untuk mengulur dan menunda keputusan eksekusi bahkan bila mungkin membatalkannya. Pilatus perlu memastikan bahwa keputusannya, entah membebaskan ataukah mengeksekusi Yesus tidak akan menghasilkan pergolakan di antara orang-orang Yahudi.

Catatan Evans menjelaskan dengan sangat baik bahwa dalam kondisi normal mengeksekusi seorang pengacau di daerah kekuasaannya tidak perlu membuat Pilatus bimbang. Namun jika peristiwa tersebut terjadi di hari Paskah, yang bagi orang Yahudi adalah perayaan pelepasan Israel dari kekuasaan pemerintah asing (Wright menyatakan lebih lanjut bahwa Paskah merupakan simbol yang dahsyat berkaitan dengan pengharapan eksodus kedua, yaitu pemulihan mereka dari pembuangan yang berarti pembebasan mereka dari penjajahan Romawi) maka sebagai seorang yang jelas pada waktu itu dipandang sebagai pemerintahan asing, Pilatus menghadapi dilema yang cukup rumit; dia perlu berhati-hati agar keputusannya tidak mencoreng namanya di hadapan para tua-tua Yahudi dan reputasinya di hadapan Tiberius.

Dengan demikian Pilatus perlu memastikan bahwa jika memang harus dieksekusi; Yesus yang sudah cukup kondang tersebut harus benar-benar dipandang bersalah di hadapan para imam Yahudi. Dalam situasi seperti ini tidak aneh bahwa Pilatus mengajukan pertanyaan pancingan “tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya...” (Mrk. 15:14).

Sebelum pelayanan publik Yesus Nazareth, pemerintahan Romawi telah mengeksekusi (menyalibkan) beberapa orang yang dipercaya sebagai Mesias Israel (yang ternyata gagal); penyaliban Yesus hanya menambah satu orang dari daftar pejuang revolusioner Israel yang gagal. Namun berbeda dari para Mesias (yang gagal) sebelumnya, Yesus ini memberikan definisi yang begitu berbeda tentang kerajaan Allah, baik dalam pengajaran maupun tindakan.

Orang yang mengamati sepak terjang-Nya tentu akan melihat bahwa definisi panggilan Mesianis yang diemban Yesus sangatlah berbeda dari Teudas, ataupun Yudas orang Galilea sebelum Yesus, ataupun Simon bar Giora satu generasi sesudah Yesus. Yesus Nazareth tidak menghimpun kekuatan militer, dan di antara pengikutnya kita bisa menyaksikan para perempuan yang tidak dipandang memiliki potensi membahayakan stabilitas politik Romawi. Di sini kita melihat bahwa penyaliban Yesus di tangan kekuasaan Romawi adalah permainan politik yang penuh perhitungan; campuran kekisruhan status quo para imam serta kelanggengan kursi Pilatus yang dengan hati-hati mengendarai kejayaan pemerintahan Romawi sebagai eksekutor akhir.

Penyaliban Kristus – Kemenangan yang Unik
Berhenti sampai dua bagian di atas, panyaliban Yesus cukup sah untuk dipandang sebagai skandal memalukan yang menghasilkan batu sandungan dan layak dijuluki sebagai ketololan. Berhenti sampai dua bagian di atas, penyaliban Yesus bisa dilihat sebagai kecerobohan seorang pejuang Yahudi eksentrik yang kurang perhitungan, kecerobohan yang ditanggapi secara brutal oleh para pemimpin agama, dan diakhiri oleh pameran kesadisan kuasa Romawi.

Berhenti sampai dua bagian di atas, penyaliban akan berhenti pada tragedi dan skandal kemanusiaan yang sangat memalukan. Namun penyaliban tidak berhenti sampai di sana; penyaliban Yesus ternyata telah diantisipasi dan lebih jauh lagi diartikan oleh Yesus Nazareth sendiri. Dari berbagai prediksi yang diucapkan-Nya (Mat. 16:21, 17:22, Mrk. 8:31, 9:31, 10:32-34, Luk. 22:37) hingga pengartian kematian-Nya (Mrk. 14:22-25), menunjukkan kepada kita bahwa kematian-Nya bukanlah semata-mata tragedi yang dilahirkan dari kawin campur antara kelicikan dan permainan kuasa orang-orang Yahudi dan Romawi. Untuk melihat arti kematian Yesus kita akan melihat beberapa tindakan dan perkataan-Nya khususnya pada akhir-akhir masa pelayanan publik-Nya.

Wright memasukkan peristiwa makan Paskah yang berkait erat dengan tindakan penyucian bait suci yang dilakukan oleh Yesus sebagai tindakan yang menunggangi simbol-simbol kunci Yudaisme pada waktu itu. Makan Paskah bagi orang-orang Yahudi pada zaman tersebut merupakan suatu simbol yang berbicara sangat kuat, simbol yang menceritakan kepercayaan mereka bahwa Allah Israel telah membebaskan bangsa mereka dari Mesir di mana Allah yang sama akan membawa mereka kepada eksodus kedua (pemulihan dari pembuangan, dan dalam konteks waktu itu adalah pembebasan dari penjajah).

Dalam makan Paskah pada umumnya akan diberikan perkataan penjelasan mengenai arti tradisi simbolis tersebut; dan dalam konteks inilah Yesus memberikan arti yang baru terhadap para murid-Nya. Dalam penjelasan tersebut Yesus menyatakan adanya perjanjian baru di dalam Diri-Nya sendiri; ini adalah sebuah penjelasan yang tidak biasa, sebuah penjelasan yang perlu kita mengerti berkaitan dengan tindakan simbolis lainnya, yaitu aksinya menyucikan bait suci.

Tindakan kerasnya di bait suci menggambarkan penghakiman Allah atas sistem kepercayaan dan religi Yudaistik pada waktu itu. Maka ketika makan Paskah, Yesus memberikan penjelasan yang berbeda dari kepercayaan resmi bait suci Yerusalem. Selain penghakiman terhadap bait suci, berita sentral yang diusung oleh Yesus adalah bahwa eksodus kedua, pengharapan tradisional Yahudi pada waktu itu digenapkan dalam Diri-Nya.[9] Bagi sebagian besar orang Yahudi pada zaman Yesus Nazareth, pembuangan mereka belumlah usai, mereka membaca keberadaan mereka di bawah pemerintahan kafir Romawi sebagai keberlangsungan pembuangan karena dosa-dosa mereka.

Dengan demikian mereka benar-benar masih menantikan peristiwa datangnya penggenapan janji Allah akan pembebasan mereka. Dari sini kita benar-benar melihat tindakan Yesus sewaktu makan Paskah dengan murid-murid-Nya sungguh merupakan klaim yang tidak bisa diabaikan. Yesus memberitakan pengampunan dosa; pengampunan dosa yang bukan dimengerti sebagai pintu masuk surga imaterial dan atemporal, namun yang terutama sebagai kembalinya mereka dari pembuangan. Wright menyatakan:
...the historical and theological theme that dominated the horizon of those longing for the real return from exile was of course the exodus. Celebrated every year at Passover, the exodus created the classic Jewish metanarrative, within which the hope for return from exile made sense, and in terms of which that return was described in some of the classic prophetic texts.[10]

Salah satu hal yang kita perlu cermati adalah bahwa beberapa pandangan Yahudi bait suci kedua menyatakan bahwa kelepasan Israel akan diperoleh melalui jalan penderitaan hebat (messianic woe). Selanjutnya Wright menyatakan mengenai pandangan mereka mengenai penderitaan tersebut yang masuk dalam kategori yang lebih spesifik atau individual. Dalam hal ini nasib tragis para nabi merupakan salah satu alat peraga yang paling jelas. Beberapa teks intra dan ekstra Biblikal menjadi dasar pandangan ini.

Teks-teks seperti 2 Tawarikh 36:15, Nehemia 9:26, Yeremia 2:30, Yehezkiel 4:4-6 mewarnai pandangan ini; bersandingan dengan berbagai teks tersebut, ingatan mengenai kaum martir pada zaman Makabe memberikan nuansa yang cukup jelas. Melalui festival besar Hanukah, kisah kaum Makabe sangat dikenal pada waktu itu. Beberapa pandangan penting berkaitan dengan messianic woe antara lain adalah bahwa nasib para martir berkaitan erat dengan nasib Israel sebagai sebuah bangsa.

Adapun penderitaan mereka dikaitkan dengan penghukuman Israel (pembuangan mereka) – sebagaimana terdapat dalam tulisan-tulisan Yesaya 40-55 serta kitab Daniel. Selanjutnya penderitaan para martir yang menarik hukuman nasional Israel tersebut pada gilirannya bersifat menebus, sehingga penderitaan mereka akan membawa kelepasan nasional Israel. Latar teks kitab Daniel (7 khususnya), Zakharia 9-14,  Yesaya 40-55 (khususnya 52:13-53:12) dalam skala yang begitu besar, dalam cara yang sangat puitis menawarkan kisah besar pembuangan dan restorasi umat Allah. Di dalamnya dikisahkan kemenangan Allah atas kejahatan melalui penderitaan Mesias. Dalam konteks seperti ini, kita bisa membaca prediksi serta pengartian kematian yang diberitakan oleh Yesus sendiri sebagai suatu catatan historis yang benar-benar menantang. Di sini segala aksi serta perkataan-Nya sungguh tidak bisa tidak direspons.

Secara singkat apa yang dikerjakan Yesus (perkataan dan tindakan-Nya) menyatakan bahwa sistem religi dan segala agenda yang diwakili oleh bait suci Yerusalem saat itu sungguh telah korup, Allah akan menjatuhkan penghakiman terhadapnya. Namun metanarasi pembuangan dan kembali dari pembuangan (eksodus kedua) tidaklah berhenti.

Penghapusan dosa (yang membuat Israel mengalami pembuangan) kini diberitakan melalui Yesus Nazareth yang menggenapkan messianic woe dan pada gilirannya akan membawa kelepasan bagi umat Israel. Dalam konteks inilah Yesus Nazareth disalibkan, dan dalam konteks inilah para pengikut-Nya diminta untuk membaca kisah Getsemani – Golgota; dan dalam konteks inilah seorang mantan Farisi garis keras berani menyatakan: Aku tidak malu atas Injil, sebab Injil itu adalah kekuatan Allah. (Rm. 1:16)

Kebangkitan Kristus – Konfirmasi Kemenangan
Tanpa kebangkitan tubuh-Nya, prediksi dan pengartian kematian Yesus oleh-Nya sendiri belumlah menggenapkan kemenangan. Para penulis Injil cukup seragam mendeskripsikan para pengikut Yesus paska kematian dan sebelum kesadaran akan kebangkitan-Nya. Para perempuan mencari mayat Yesus untuk memperlakukan calon pembebas (yang lagi-lagi dikalahkan oleh pemerintahan Romawi) dengan baik; kita juga melihat ketidakpercayaan para murid, serta pupusnya pengharapan mereka karena ketidakmengertian (Luk. 24:20-27).

Tanpa kebangkitan Yesus, benarlah tuduhan bahwa mereka hanyalah sebuah sekte yang mengharapkan kemenangan dari seorang Nazareth yang fenomenal namun telah bertekuk lutut sebagai pecundang yang dipermalukan oleh orang-orang Yahudi yang tidak percaya serta kebrutalan pemerintahan Romawi. Paulus berkata dengan keras, “… jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.” (1Kor. 15:17-18).

Yesus yang mati dan tidak bangkit tidak dapat dijadikan objek iman yang dalam romantisme religius mengetengahkan kisah tentang cinta yang berkorban. Yesus yang tidak bangkit tidak akan membangkitkan gerakan kekristenan yang berfokus kepada perasaan religius yang damai ala kebatinan masa kini yang hadir di tengah kelelahan zaman modern. Tidak!!!

Itu semua akan menjadi omong kosong dalam pengharapan Yudaistik pada waktu itu. Tanpa kebangkitan Yesus, Kisah Para Rasul, seluruh surat Paulus serta seluruh bagian Perjanjian Baru akan menjadi dongeng konyol yang bahkan tidak bisa lahir. Wright menyatakan bahwa bagi sebuah gerakan mesianis yang ingin melanjutkan gerakan yang gagal dan telah berakhir dengan kematian pendirinya, mereka hanya punya satu pilihan yaitu mencari mesias baru.

Hal tersebut telah dilakukan oleh beberapa kelompok dalam Yudaisme abad pertama di mana setiap kali mesias mereka mati mereka mencari yang baru; baik itu saudara, sepupu, keponakan ataupun puteranya. Namun hal tersebut tidak terjadi pada para pengikut Yesus; mereka tidak mendapatkan Yakobus (saudara Tuhan Yesus yang adalah salah satu soko guru jemaat pada waktu itu) untuk dijadikan Mesias pengganti. Satu-satunya alasan untuk hal ini adalah bahwa mereka percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit; di sinilah terkonfirmasi bahwa Dialah sang Mesias, sang Kristus.[11]

Dalam keyakinan sedemikian, para murid mulai menjadi jelas akan agenda mesianis yang diemban Yesus. Dalam Yesaya 52:7-11 kita melihat pengharapan mesianis bahwa Allah Israel akan menang dan kembali berpihak kepada umat Israel.

Dalam konteks penggenapan ayat-ayat sedemikian Yesus Kristus hadir dan melaksanakan karya-Nya. Namun berbeda dari agenda bait suci Yerusalem (yang telah dihakimi-Nya) ayat-ayat sedemikian perlu diterjemahkan secara berbeda.

Tindakan penyelamatan Allah adalah tindakan penebusan ciptaan yang telah jatuh. Israel dipanggil bukan untuk keluar dari dunia yang akan dihancurkan Allah; namun untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Ini merupaka janji purba yang terus diingat oleh YHWH yang setia (Kej. 12:3), yang telah dipahami dalam semangat sakit hati yang narsistis oleh orang-orang Yahudi, namun dikembalikan oleh Yesus Kristus yang mati dan bangkit dari kematian.

Agenda inilah yang diteruskan oleh Kristus Yesus dalam Matius 28:18-20. Agenda sedemikianlah yang sebenarnya melekat dalam jati diri kita yang (entah nekad entah tidak sadar) berani menyandang nama Kristen, dan mengaku bahwa Kristusnya adalah Yesus Nazareth. Wright menyatakan:
He wanted to rescue Israel in order that Israel might be a light to the Gentiles, and he wanted thereby to rescue humans in order that humans might be his rescuing stewards over creation. That is the inner dynamic of the kingdom of God.[12]

Akhirnya, buat orang Kristen saat ini yang merespons peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, seturut dengan agenda Yesus sendiri, perkataan Wright ini patut untuk kita gumulkan:
You are — strange though it may seem, almost as hard to believe as the resurrection itself—accomplishing something that will become in due course part of God’s new world. Every act of love, gratitude, and kindness; every work of art or music inspired by the love of God and delight in the beauty of his creation; every minute spent teaching a severely handicapped child to read or to walk; every act of care and nurture, of comfort and support, for one’s fellow human beings and for that matter one’s fellow nonhuman creatures; and of course every prayer, all Spirit-led teaching, every deed that spreads the gospel, builds up the church, embraces and embodies holiness rather than corruption, and makes the name of Jesus honored in the world—all of this will find its way, through the resurrecting power of God, into the new creation that God will one day make. That is the logic of the mission of God.[13]

Sebagai penutup, kita akan melihat kontras kemenangan yang mengejutkan dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Kristus Yesus memberikan sebuah nubuat keras tentang Yerusalem dalam Lukas 21:20-24. Perkataan mengerikan tersebut dapat disaksikan realisasinya paska penghancuran bait suci Yerusalem oleh Titus.

Beberapa waktu setelah bait suci runtuh pada tahun 70 M, rabi Yosua berkata celakalah kita, sebab bait suci ini, tempat di mana dosa-dosa Israel ditebus kini telah dibiarkan runtuh!!! Tidak kalah pahit penafsiran Josephus yang menyatakan bahwa Allah Israel telah berpaling dari Israel dan memihak kepada musuh Israel. Di sisi yang lain, para pengikut Kristus Yesus menyanyikan ribuan himne tentang pengampunan dosa, pemulihan relasi dengan Allah; keajaiban dan keindahan penciptaan dan penebusan. Pertanyaan getir para rabi serta para imam terhadap terpukulnya pengharapan dan agenda mesianis mereka seiring runtuhnya bait suci Yerusalem kini dijawab bahkan oleh seorang balita yang menyanyi dosa k'luar air hidup masuk dengan berk'limpahan... Kini sebagai Gereja Tuhan yang mengaku Yesus sebagai Kristus; bagaimana kita merespons berita klasik yang sudah nyaris kehilangan kejutan dan tantangannya dalam dunia kontemporer saat ini? GOD be praised!

By:

Ev. Eko Aria
Pembina Pemuda GRII Bintaro

www.buletinpillar.org

Refrensi
[1] Dalam tulisan ini saya memakai kata simbol dalam arti artikulasi yang visibel dari Worldview/komitmen hidup sebuah masyarakat.
[2] Saya mengadopsi banyak hal skema bab 12 buku NT Wright – Jesus and the Victory of God (JVG)
[3] JVG, 440-441
[4] Ibid. 548
[5] Ibid.  548-9
[6] Craig Evans; Hari – Hari Terakhir Yesus 17-21
[7] Paul Barnett, Jesus & the Rise of Early Christianity 140-143
[8] Ibid. 146-147
[9] JVG, 554-563
[10] Ibid. 577
[11] N.T. Wright; Hari – Hari Terakhir Yesus 98-99
[12] N. T. Wright, Surprised by Hope, 202 (penebalan saya tambahkan)
[13] Ibid. 208

P O P U L A R - "Last 7 days"