0 Khotbah Menyambut Natal 2017 dalam Kebenaran dan Iman yang Gemilang:



Oleh: Martin Simamora

Dunia dalam Kegelapan, Terang Manusia Datang Mengalahkan Kegelapan itu


Jelang natal, sudah menjadi kebiasaan atau tradisi bagi gereja atau keluarga-keluarga Kristen untuk memasang pohon natal. Pohon yang menarik bukan saja karena ornamen-ornamen atau hiasan-hiasannya yang khas, tetapi karena lampu-lampu yang bukan saja berkelap-kelip tetapi bahkan bisa menari dalam pola-pola yang indah. Tentu saja natal bukan soal memiliki dan memajang pohon natal yang megah dan mahal, sebab lampu-lampunya sendiri bukanlah terang bagi dunia ini sendiri. Alkitab sendiri memang secara tegas menunjukan bahwa natalnya Yesus atau inkarnasi Allah Sang Firman menjadi manusia merupakan kedatangan terang dari Allah ke dalam dunia. Mari kita membaca bagaimana injil Yohanes menyatakannya:

Yohanes 1:1-2 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

Yohanes 1:4  Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Ia yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah, menjadi manusia. Tetapi bukan sekedar menjadi manusia agar sama dengan manusia sebab dalam Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah itu menjadi manusia, di dalam dirinya ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia.




Terang Manusia:
Relasi Sang Terang Manusia dengan Umat Manusia  dalam Kegelapan yang Melingkupi Segenap Dunia

Semua kini tertuju kepada Dia  yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah yang telah menjadi manusia, bukan sekedar tertuju tanpa sebuah tujuan yang mencengkram dunia ini sehingga menyatakan keberadaan dunia ini secara mutlak bergantung kepadanya:


Yohanes 1:9-10Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

Natal bukan sekedar kedatangan-Nya ke dalam dunia ini untuk menjadi manusia sehingga sama dengan manusia, tetapi ia sendiri lebih besar daripada semua manusia dalam satu-satunya hal yang  memang sama sekali tidak dimiliki oleh setiap manusia, yaitu:
Ia  menerangi setiap orang”


Sehingga istilah Terang Manusia, memang telah mendudukan Yesus jauh lebih besar daripada manusia siapapun juga. Ia satu-satunya yang memiliki terang yang hanya dimiliki oleh Yesus Sang Firman yang telah menjadi manusia, atau dengan kata lain Ia adalah: Terang dari Allah  datang ke dalam dunia ini. Sehingga dapat dimengerti injil Yohanes memberikan pernyataan semacam ini mengenai Siapakah Yesus:

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.-Yohanes 1:14

Hendak menunjukan jati diri  Terang Manusia sebagai tak terputuskan dengan jati dirinya saat Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. “Firman itu telah menjadi manusia” bukan saja menunjukan inkarnasi tetapi menegaskan mengapa” Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Itu karena Ia adalah Firman- Sang Firman yang bersabda dalam rupa manusia.

Terang Manusia, dengan demikian, bukan menunjukan bahwa Yesus adalah manusia yang memiliki sebuah moralitas yang begitu mulia dan tinggi, bukan juga menunjukan bahwa Ia adalah manusia yang  mulia sehingga memiliki kehidupan dan relasi yang begitu dekat dengan Allah Pencipta Langit dan Bumi ini, sehingga Ia adalah Terang Manusia. Tetapi karena Ia adalah Firman yang menjadi manusia-Sang Firman yang datang dari Bapa dan satu dengan Bapa sementara Ia ada di dunia ini:

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya- Yohanes 1:18

Dunia dalam kegelapan lebih dari kegelapan karena ketiadaan terang! Injil Yohanes dengan segera menunjukan bahwa: dunia TIDAK mengenalnya (Yoh 1:10). Injil ini bahkan lebih spesifik lagi menyatakan:

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.- Yohanes 1:10-11

Dunia ini tak merasa sedang diliputi kegelapan dan melihat Yesus tidak bersinar begitu terik seperti matahari. Dunia memiliki mataharinya sendiri dan  memiliki pemerintahannya sendiri dan memiliki rakyatnya atau kepunyaannya sendiri, semua milik dunia ini hanya dapat melihat, mendengar dan mentaati tuannya yaitu dunia ini. Dan ini adalah sebuah pemerintahan dunia yang secara sempurna mengikat setiap manusia. Terkait hal ini, Yesus sendiri berkata secara gamblang:

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.- Yohanes 3:19

Sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat (poneros)”,  sedang menunjukan bahwa manusia-manusia di dalam kegelapan adalah manusia-manusia yang terlatih dan mahir untuk melayani kehendak dunia sebagai milik dunia ini, daripada terlatih untuk melayani kehendak Terang dari Allah. Umat manusia, dengan demikian, dalam pandangan Yesus, berada di dalam penyanderaan yang sangat fatal oleh dunia ini sehingga menyebabkan: lebih menyukai kegelapan. Ini sendiri, hampir-hampir sebuah gagasan  yang konyol dari seorang yang disebut Terang Manusia, kalau saja “lebih menyukai kegelapan” didasarkan olehnya pada realitas manusia lebih menyukai kriminalitas, kebejatan, kejahatan, amoralitas, konspirasi jahat, karakter buruk dan seterusnya dan tak mampu untuk membedakan, mempertimbangkan dan membuat keputusan dan pilihan untuk tidak melakukannya. Dapat dikatakan, tanpa Yesus, manusia dapat membedakan  mana yang hitam, putih bahkan abu-abu dan kemudian membuat keputusan yang bijaksana dan benar dalam  moralitas, karakter dan kebenaran-kebenaran universal.

Tetapi Yesus tidak pernah sama sekali menggagaskannya secara demikian ketika bersabda “tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang.” Itu nyata pada Yesus Sang Terang Manusia sejak ia berkata: “tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang” yang mana terang itu adalah dirinya yang telah datang ke dalam dunia ini: “Terang telah datang ke dalam dunia,” sebagaimana ia mengatakannya kepada Nikodemus.
 
Karena itulah, perbuatan-perbuatan jahat manusia dalam  sabda Yesus tersebut, harus dipandang melampaui apa yang dipahami sebagai perbuatan-perbuatan jahat dalam tatar moralitas dan karakter “dunia’ manusia; bahwa “manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang” bukan soal moralitas dan bukan soal keberpihakan pada kejahatan dan membenci segala rupa kebaikan yang bernilai bagi kemanusiaan kita. Mengapa harus demikian? Karena Yesus melakukan perbandingan  frontal antara kegelapan terhadap terang yaitu dirinya sendiri. Menolak dirinya atau tidak menyukai dirinya saja, karena itu telah dinyatakannya sebagai perbuatan yang jahat. Jadi ini hendak menyatakan relasi dirinya terhadap dunia ini dan terhadap manusia dunia ini sebagai dasar tunggal-Nya untuk menyatakan: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Itu sebabnya kegelapan versus terang akan senantiasa  berpijak pada dirinya  sebagai pemilik hidup dan hidup itu adalah terang manusia (Yohanes 1:4), bukan menyoal moralitas dan kemuliaan karakter manusia. Ini nyata dalam sabda-sabda pengajarannya ketika berbicara Ia adalah terang dunia:

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."- Yohanes 9:4-5

Yesus menyatakan keesensialan dirinya bagi dunia- bagi segenap manusia  bahwa tak ada yang dapat untuk sekedar diharapkan di dunia ini tanpa dirinya sehingga dapat lepas dari kegelapan itu: selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.  Menariknya, dalam hal ini, Yesus, sekali lagi, menunjukan bahwa saat Ia berkata Akulah terang dunia, tidak sedang menyatakan betapa semua manusia tidak memiliki moralitas atau moralitas yang baik yang tidak diperlukan bagi kemanusiaan. Itu bukan pokok kebenarannya, karena moralitas yang baik tidak dapat “menyembuhkan” kebutaan manusia sebagai akibat berada dalam kegelapan dunia ini. Ini bahkan bukan sekedar kegelapan karena ketiadaan terang, sebab sekalipun matahari bersinar dan sekalipun siang masih terbit, ia tetap berkata: Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia. Moralitas manusia sementara bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradabannya dan membuktikan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang tetap memiliki jejak-jejak  samar  relasinya dengan Allah, tetap tak membuat manusia itu memproduksi kemuliaan sehingga memiliki terang manusia pada dirinya sendiri. Jika demikian, bagaimana mungkin manusia memahami kebenaran semacam ini; jika ini bukan soal moralitas dan karakter mulia  yang harus diperjuangkan untuk dimiliki manusia, bagaimana mungkin  manusia menerima bahwa sekalipun mungkin untuk memiliki moralitas dan karakter mulia dalam perjuangan, tetap manusia itu berada dalam kegelapan? Bagaimana menerima kebenaran yang berbunyi: Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia? Jawabnya, hanya jika Yesus memelekannya. Bagi ahli Farisi, sekedar memelekan mata yang buta adalah tidak mungkin dilakukan oleh manusia:

Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.- Yohanes 9:15-16

Mengkomplikasikan “Aku adalah Terang Dunia” terhadap Moralitas dan karakter yang mulia pada seorang manusia, itu adalah soalan yang telah timbul sejak era Yesus. Orang-orang Farisi berkata mengenai Yesus adalah sebagai berikut: Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat. Sebagian lagi berkata tentang dia: bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat demikian?


Problem besar bagi manusia dalam memandang Yesus adalah terang dunia adalah: Ia bukan berasal dari Allah, Ia pelanggar hari Sabat, dan Ia adalah seorang berdosa. Sementara ini adalah dilema bagi semua manusia dalam memandang Yesus, Sang Terang Manusia menyediakan solusi tak terbantahkan untuk menyanggah tudingan dan menggenapi perkataannya: Akulah terang dunia. Bahkan dalam cara yang dapat diperiksa dan diuji oleh manusia itu sendiri:

Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?" Jawab orang tua itu: "Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri." Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri." Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa." Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?" Jawabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?" Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang." Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."- Yohanes 9:18-33

Pernyataan Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia, bukan pernyataan main-main, dan Yesus Sang Terang Dunia tidak bermain-main dengan dirinya dan perkataannya. Dirinya dan perkataannya adalah kebenaran, kebenaran yang memerintah di dunia ini. Adalah problem besar bagi orang-orang Yahudi jika benar ada orang buta dapat melihat kembali. Karena jika benar terjadi, maka pelakunya pasti lebih dari nabi. Maka situasinya menjadi begitu serius, sumpah diperlukan: “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah.”


Ketika Yesus berkata kepada Nikodemus: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat, realitasnya jauh lebih pelik. Manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sejatinya bukanlah soal manusia-manusia yang lebih suka dosa, pemberontakan dan anti hukum Tuhan. Bukan sama sekali. Faktanya para ahli Farisi sangat berhati-hati dalam melihat kesembuhan seorang buta, bahkan memperhatikan sumber kesembuhan itu apakah seorang yang berdosa atau tidak: “kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Tetapi problem ini tidak berakhir pada sebuah polemik tetapi pada  kebenaran yang diucapkan oleh mulut orang yang telah dimelekan matanya dari kebutaan, dengan berkata:


  • Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat
  • Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya
  • Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa

Sementara orang-orang Yahudi berspekulasi bahwa Yesus adalah orang berdosa, pada sisi lainnya yaitu orang yang telah dapat melihat atau sembuh dari kebutaan telah memberikan 3 kebenaran yang tak terbantahkan sama sekali. Itu sebabnya ia diusir: “Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar” (Yohanes 9:34).


Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia (Yohanes 1:4)  yang bersinar gemilang di dalam dunia yang berada dalam kegelapan: Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yohanes 1:5) memang bukan saja diajarkan tetapi ditunjukan oleh Yesus sebagai sebuah realitas yang sedang berjalan dan memerintah dunia ini:

Yohanes 12:35-36 Kata Yesus kepada mereka: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang."

Supaya saya dan anda menjadi anak-anak terang, itulah tujuan natalnya Sang Firman kedalam dunia ini!  Bahwa supaya saya dan anda menjadi anak-anak terang sangat erat dengan apakah saya dan anda percaya kepada-Nya  sebagai dasar untuk mampu tidak berjalan dalam kegelapan. Dan ini bukan kebenaran retorika, sebagaimana Yesus memelekan mata orang buta sehingga mengenal siapakah Yesus, maka sebuah perubahan pasti akan berlangsung didalam diri saya dan anda. Kalau orang buta yang disembuhkan tadi dapat berkata mengenai Yesus adalah:


  • Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat
  • Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya
  • Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa

Maka kitapun harus memiliki pengenalan sejati yang semacam ini. Pengenalan yang bukan saja membuat kita memberitakan kesaksian sebagai yang telah memiliki terang kepada mereka yang masih berada dalam kegelapan! Maksud saya, dengan Yesus berkata “Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang”, maka itu bukanlah retorika tetapi kehidupan. Kehidupan yang dapat melihat kebenaran dan yang membuat kita akan memegang erat-erat kebenaran itu walau harus dihakimi berdasarkan kitab suci moralitas:

Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang."

Sementara mereka memperlakukan Kitab Musa sebagai sebuah kitab moralitas untuk menghakimi Yesus sebagai: berdosa, melanggar hari Sabat, dan bukan berasal dari Allah. Yesus Sang Terang berkata:

Yohanes 9:39-40 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Yohanes 9:45-46 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.

Yesus adalah Terang Manusia; Yesus adalah Terang Dunia dan dunia beserta manusia berada dalam kegelapan, bukan sama sekali tentang semua manusia tanpa moralitas dan tanpa karakter mulia dalam kemanusiaannya. Tetapi itu semua tidak mampu menghasilkan kebenaran yang menuntun mereka kepada hidup. Yesus berkata bahwa mereka menyelidiki kitab-kitab suci tetapi tidak mau datang kepada-Nya untuk memperoleh hidup. Ini tentu sebuah kehidupan yang saleh dan bertekun dalam firman, namun pada itu sendiri, tidak dapat melahirkan sebuah mata yang dapat melihat bahwa kitab-kitab suci itu member kesaksian tentang Yesus Terang Manusia yang memberikan hidup.

Ketika dikatakan natal adalah Terang dari Allah  sedang menyinari manusia, maka kita harus mengerti pada saat Ia menyinari manusia, pada saat itulah menjadi nyata keberadaan manusia itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat- Yohanes 3:19. Dan perbuatan-perbuatan jahat manusia itu lebih besar atau lebih tepatnya harus dikatakan melampaui pentingnya moralitas dan karakter manusia yang menghargai kemanusiaan sebagai pemberian Allah, karena bukan untuk memulihkan dan menebus ketakberdayaan manusia untuk memulihkan moralitas dan karakter manusia, bukan itu! Tetapi ini:

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.- Yohanes 12:46

Sementara masih di dunia ini namun tidak tinggal di dalam kegelapan, maka dibutuhkan lebih agung daripada membangun karakter, moralitas dan kemanusiaan yang baik dan semakin mulia sebagai ciptaan Allah. Hal itu benar karena pada semuanya itu, tidak akan pernah menghasilkan kehidupan yang dilepaskan dari kegelapan. Jangan mengira jika berada dalam kegelapan maka tidak bertekun  mempelajari kitab suci untuk mengejar kebenaran; jangan mengira jika berada dalam kegelapan tidak menghargai hari Sabat; jangan merngira jika berada dalam kegelapan tidak peduli dengan dosa, moralitas, karakter dan manakah yang benar dan manakah yang salah. Dan pada saat yang sama, kita juga harus memahami bahwa Yesus dalam berkata Akulah terang dunia, bukan hendak menunjukan antihukum atau antimoral, tetapi ia hendak menunjukan bahwa pada semuanya itu tak berkuasa untuk membuat manusia lepas dari kegelapan dan hidup memiliki terang Allah! Mari  membaca sebuah percakapan yang luar biasa ini:

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."- Matius 19:16-26


Juga bacalah ini:

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."-Lukas 13:22-30


Bagaimana menjelaskan “Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir terhadap berjuang memiliki kebenaran dihadapan Allah berdasarkan ketaatan terhadap hukum Allah, membangun moralitas dan membangun karakter mulia? Tidak akan dapat saling menjelaskan karena memang bukan itu dasarnya tetapi pada: darimanakah engkau datang

Yesus Sang Terang pada satu kesempatan pernah bersabda demikian:

Matius 10:1-3 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

Mereka yang disebut domba-domba yang dipimpin Sang Gembala adalah domba-domba yang merupakan kawanan yang terpelihara dan terjaga secara baik dalam sebuah kawasan terproteksi agar tak ada bahaya yang dapat mengancam dan tak ada resiko yang mengakibatkan domba-domba terlepas tanpa diketahui  Sang Gembala. Demikian juga dengan siapa yang menggembalakan, tidak bisa sembarangan dan hanya bagi gembala sejati saja, pintu kandang akan dibukakan. Gembala inilah yang memiliki dan mengenal domba-domba-Nya. Uniknya, Yesus bukan saja gembala itu sendiri tetapi ia adalah pintu itu sendiri bagi para domba untuk masuk:

Yohanes 10:7-9 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu…. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Apa hubungan  penolakan Tuan rumah  terhadap ketokan pintu memohon masuk dengan jawaban: dari mana kamu datang dan Aku tidak tahu dari mana kamu datang, hanya bisa dijawab dengn pengajaran Yesus sebagaimana disajikan Yohanes 10:7,9.

Sementara kita masih di dunia ini dengan segala problemanya dan pergumulan hidup, kita dibuat menjadi mampu untuk menjadi anak-anak terang, dimampukan berjuang semaksimalnya untuk bersinar di  dunia ini:

Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1Yohanes 1:1-10

Begitu penting untuk menjadi anak-anak terang memiliki kehidupan yang sungguh-sungguh tidak menganggap remeh dosa, tidak menggangap dosa sebagai hal yang elok dipertontonkan sehingga ketika korupsi,misalnya, tidak lagi malu. Ketika rasul Yohanes menuliskan: Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran, di situ ia sedang menunjukan bahwa persekutuan dengan Kristus akan membawa saya dan anda pada kehidupan yang bukan saja kudus tetapi tidak bersekutu dengan kegelapan (ini hanya mungkin karena Yesus dan jika dimiliki dan memiliki Yesus). Maka adalah omong kosong juga untuk berkata hidup dalam kebenaran, tetapi menyangkali firman Kristus yang berbunyi : Aku adalah Terang dunia dan tidak ada  manusia tanpa Kristus memiliki terang tersebut.  Kehidupan anak-anak terang bukan untuk berjuang agar mampu untuk tidak berbuat dosa sehingga membuat darah penyucian dosa oleh Yesus tidak dibutuhkan, bahkan jiwa perjuangan hidup kita tidak terletak pada kemampuan saya untuk mencapai tidak berdosa sama sekali, tetapi pada penundukan dan pengakuan, bahwa penyucian hidup dari noda dosa, ini bergantung total pada-Nya sebagaimana telah dikerjakan oleh Yesus dalam ketaatannya kepada Bapa: dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

 
Formula yang berbunyi: jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa maka kita menipu diri kita sendiri, ini bukan formula pembenaran untuk tak masalah untuk berdosa, dan dengan demikian tidak membangun hidup penuh dedikasi dalam kekudusan di dalam persekutuan dengan Anak, tetapi formulasi kebenaran tersebut untuk menyatakan atau memiliki maksud kebenaran yang menyingkapkan mengapa Allah mengutus Anak kedalam dunia ini, yaitu untuk membasuh dosa kita. Bahwa  darah Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Saat kita berkata bahwa kita tidak berdosa atau kita mampu untuk tidak berdosa pada akhirnya, maka kita sedang mengatakan: Yesus sedang berkhayal terhadap ketakberdayaan manusia untuk pada akhirnya tak bisa tidak berdosa dan membutuhkan pengorbanannya di kayu salib, lebih jauh lagi Bapa adalah pendusta sampau berani memerintahkan nabinya untuk bernubut mengenai tujuan kelahiran Yesus adalah:

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.- Yesaya 53:1-12

Pernyataan yang berbunyi: Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita, hendak menunjukan: itulah sebabnya Ia  taat hingga mati, dan mati pada kayu salib, bahwa manusia tidak dapat menyucikan dirinya berdasarkan ketaatan pada hukum Taurat selain oleh darah-Nya:

Ibrani 10:5-8 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--.

Ibrani 10:10-13 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.

Sehingga kita dapat mengetahui bahwa pernyataan ini: “dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”,bukan sama sekali sebuah konsep rendahan dan nista bahwa darah Yesus adalah semacam “bleaching” atau “pemutih”  bagi noda-noda dosa yang kapan saja bisa anda pakai semau-maunya. Bukan itu sama sekali. Percayalah ia tidak dapat anda  permainkan, karena satu hal saja: ia mempersembahkan dirinya dan darahnya sendiri dan sendirian kepada Bapa, bukan di hadapan manusia! Perhatikan ini:

betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.- Ibrani 9:14
Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri.- Ibrani 9:24-25

Ia adalah terang dunia karena Ia berhasil melenyapkan kegelapan pengharapan kita akan kelepasan absolut dari kuatnya dosa mencengkram hidup ini, yang secara sempurna digambarkan dalam pelayanan para imam yang berdosa semacam ini dan Yesus adalah Imam yang gemilang pada dirinya dan pada pelayanannya:

Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.- Ibrani 9:25-26


Siapakah Yesus bagimu, itu akan menentukan bagaimana anda merayakan inkarnasi Sang Firman menjadi manusia. Mari periksa diri kita sendiri, mulailah dari memeriksa bagaimana anda beriman kepada Yesus Sang Terang Manusia itu. Berdoalah kepada Bapa agar  Roh Kudus menuntun anda kepada kebenaran akan Yesus Kristus, sebagaimana Sang Anak telah menyatakannya kepada Roh Kudus (Yohanes 16:13:15)


Selamat  menyambut natal, Selamat Natal 2017 bagi para pembaca dalam kasih Kristus
Salam hormat & kasih,
Martin Simamora beserta isteriku Shinta Ningrum br.Sigalingging dan putraku Natan Prakoso Simamora. 

Merry Christmas! 


Soli Deo Gloria



P O P U L A R - "Last 7 days"