0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (8)

Oleh: Martin Simamora

Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini-4



Bacalah lebih dulu: “Bagian 7

Harus diakui, membuktikan keilahian atau kedivinitasan Yesus dalam kemanusiaannya tidak menunjukan atau membuktikan bahwa ia adalah sejenis Allah yang lebih rendah daripada Bapa, tetapi sehakikat dengan Bapa,  bukan sebuah problem yang dapat diselesaikan pada tatar konsepsi atau formulasi teologis sehingga seketika mendamaikan pikiran. Injil Yohanes, misalnya tidak memulainya dengan harmonisasi logika tetapi meminta setiap logika untuk menyembah siapakah Dia sesungguhnya:

Yohanes 1:1 “…Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah

Kala ia menjadi manusia (Yohanes 1:14) tidak mudah dan bukan perkara yang gampang untuk dijelaskan, belaka melalui penjelasan semantik pada bahasa aslinya, sebab faktanya rasul Yohanes sendiri dalam  menunjukan keilahian atau kedivinitasan Yesus tak melepaskan dari kemanusiaan Yesus itu sendiri yang tak terpisahkan dari kuasa pemerintahan Bapa di sorga. Harus dicamkan bahwa tujuannya datang ke dunia dalam rupa manusia agar  berjumpa dengan manusia, agar dapat masuk ke dalam dunia ketakberdayaan manusia terhadap dosa dan apa yang dproduksi dosa bagi dunia manusia. Ia masuk ke dalam dunia manusia sebagai manusia Yesus yang berkuasa atas dosa dan tak takluk pada apapun yang diproduksi dosa bagi dunia manusia.


Itu sebabnya, perlu berhati-hati dalam berupaya menunjukan kedivinitasan atau keilahian atau ke-Tuhan-an Yesus, agar jangan sampai memandang hina aspek kemanusiaannya, menakar kemanusiaan atau daging tubuh Yesus adalah materi yang jahat atau materi yang takluk pada perbudakan atau perhambaan atau setidaknya belaian bujuk dosa. Harus diingat, justru melalui kemanusiaannya ia dapat masuk ke dalam kematian tubuh terhadap pemerintahan maut untuk ditaklukannya. Demikian sebaliknya, jangan perlakukan Yesus sebagai Allah jenis atau kategori lain yang lebih rendah daripada Bapa sehingga Anak menjadi tak sehakikat dengan Bapa atau menjadi tak satu dengan Bapa.



Tidaklah mudah untuk menemukan semacam keproperan atau kepresesian sebagaimana adanya eksistensi Yesus itu ada hadir sebagaimana Ia adalah Sang Firman yang menjadi manusia. Kemanusiaan Yesus yang adalah “Sang Firman menjadi manusia,” itulah yang memisahkan eksistensinya dari semua manusia, sementara ia sendiri manusia berdaging. Itulah yang membuat pemerintahan maut tidak dapat menaklukannya sama sekali. Itulah yang membuat problem manusia dalam perbudakan maut dan dosa menjadi hanya dapat ditanggulangi Yesus, sekalipun ia juga adalah manusia. Semua hal ini, hanya bisa dijawab dan dipahami ketika kita meletakan kemanusiaan dan kedivinitasan/ke-Allah-annya sebagaimana kehendak Allah di sorga,  yang meletakan segenap maksud-Nya untuk hanya dapat digenapkan oleh Sang Anak di bumi ini:

┼Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."- Ibrani 1:6


┼ “Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--.Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.”- Ibrani 10:3-6


Karena itulah, kemuliaan keilahian Yesus tak terpisahkan pada kemuliaan kemanusiaan Yesus yang terletak pada tujuan kemanusiaan Yesus dan kuasanya untuk menggenapinya dalam ia dapat merasakan kelemahan kemanusiaan segenap manusia. Kemanusiaan yang memiliki tujuan demi penaklukan kelemahan-kelemahan segenap manusia yang terbudaki oleh kuasa perhambaan dosa. Sejak semula, hal kemanusiaan Yesus yang sama seperti semua manusia namun memiliki tujuan penaklukan dosa berdasarkan kuasa pemerintahan dirinya yang berkuasa untuk menaklukan kegelapan dan kuasa dosa yang eksis secara eksistensialis pada kedagingannya semua manusia (Ibrani 10:3-6), telah dinyatakan sebagai hal penting  oleh rasul Yohanes sejak semula:

Perhatikanlah ini:

Yohanes 1:4-5 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Sementara kedagingan semua manusia dunia pada setiap generasi berada dalam dekapan erat kegelapan, kedagingan Yesus Sang Mesias memproduksi terang manusia yang tak hanya berkuasa untuk menaklukan kegelapan yang membidik dirinya tetapi menaklukan pemerintahan kegelapan itu, sehingga tidak berkuasa atasnya. Inilah yang secara demonstratif ditunjukan oleh Yesus dalam peristiwa semacam ini:

Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat. Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud." etapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.  Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, iapun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?  Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.- Matius 12:22-28


Tidak ada kemanusiaan di dunia ini dan dari dunia ini yang dapat berdiri di hadapan iblis dan berkuasa untuk mengusir eksistensi kerjanya dalam ragam rupa yang menunjukan Kerajaan Allah sudah datang. Ini memang begitu tinggi, memandang Yesus secara demikian, sebab ini menempatkan Yesus bukan saja manusia diatas segala manusia dan manusia diatas segenap eksistensi pemerintahan iblis, tetapi menunjukan bahwa Ia adalah pemiliki dan penguasa Kerajaan Allah itu sendiri. Ada sebuah kesengitan tajam yang lahir dari kemanusiaan Yesus pada siapakah dia: “Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud." Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan." (Matius 12:22-23)

Siapapun harus memahami bahwa sementara keilahiannya tak mengalami penyusutan yang bagaimanapun sehingga ia tetap sehakikat pada Bapa seperti rasul  Yohanes sendiri nyatakan pada Yohanes 1:18 “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa,” atau penulis Surat Ibrani menunjukan kesehakikatannya dengan Bapa sementara menjadi manusia kala menyatakan Yesus adalah “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”- Ibrani 1:3.


Harus diakui bahwa kemuliaan sorga tak lagi nampak pada eksternal  atau pada lingkungan sekitar yang meliputi esksistensinya, karena Ia telah menjadi manusia [bukan karena ia telah dibaluti daging manusia yang merupakan materi lemah melawan dosa-sebab kemanusiaannya bukan yang demikian adanya dan asalnya]. Telah menjadi manusia adalah  eksistensi yang datang dari maksud Allah, bukan datang dari maksud manusia. Karena itulah untuk mengenali kemanusiaan Yesus, tak bisa dengan segenap refleksi diri manusia kita, sekalipun Ia telah menjadi manusia. Ini hal yang harus dimengerti sebagaimana rasul Yohanes menunjukannya:

Yohanes 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Mengapa kita tidak boleh memahami Yesus dalam refleksi kemanusiaan kita dan dalam refleksi pengalaman-pengalaman psikologis atau kemanusiaan kita, sekalipun ia memang menjadi manusia? Itu karena, sekalipun demikian, Ia berkuasa atas pemerintahan gelap sebagai yang berkuasa. Jadi ,di sini, kemanusiaan Yesus tidak berasosiasi dengan dengan pemerintahan dunia ini dalam subordinasi yang bagaimanapun, sebab pada Yesus yang terjadi adalah ini:

Yohanes 1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan

Yesus Sang Mesias sendiri menunjukan bahwa ia dalam kemanusiaannya memiliki sebuah tujuan yang integral dengan kemanusiaannya itu sendiri, yaitu tujuan Bapa yang bersemayam dalam kemanusiaannya. Sebab untuk itulah ia menjadi manusia dan mengerjakannya di dalam kemanusiaannya. Perhatikanlah ini:


Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.- Yohanes 3:13-17


Kemanusiaan atau kedagingan Yesus itu sendiri tidak pernah membinarkan apapun juga kelemahan manusia-manusia yang tak kebal dengan pendudukan kuasa kedagingan yang melayani  tuannya, iblis. Ini bukan spekulasi yang sampai memerlukan kajian psikologis atau biologis untuk memahami dan menjelaskan bahwa mustahil Yesus tak sedikit saja tercemar oleh kecemaran apapun, setidaknya pada batinnya, hingga bisa dan pasti bisa berdosa.  Yesus Sang Mesias sendirilah yang menyatakan bahwa  kemanusiaanya tidak dapat didekati secara psikologis dan biologis untuk menarik dia sama seperti manusia lainnya yang terbudaki dan tak berkuasa atas pemerintahan daging dan iblis. Coba kita memperhatikan sabda Yesus  berikut ini:

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.- Yohanes 13:19

Siapakah Yesus menurutnya sendiri, dan apakah kuasanya atas dunia dan pemerintahan kegelapan, itu sekaligus menunjukan bahwa semua manusia terbukti atau berdasarkan eksistensi kemanusiannya telah dibuktikan merupaka budak-budak iblis!


Pernyataan Yesus sebagaimana dicatat Yohanes 13:19, itu senilai dengan: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yoh 8:43-44).


Kemanusiaan Yesus atau eksistensi kemanusiaan Yesus pada asosiasinya dengan Iblis, adalah satu-satunya yang membuktikan bahwa manusia berada dalam perhambaan iblis dan hanya Anak Manusia ini saja yang berkuasa untuk memerdekakan dari perhambaan dosa: “Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka (Yohanes 8:34-36)." Yesus menggambarkan dosa pada eksistensinya, tidak berada dalam problem kejiwaan atau moralitas manusia atau pada manusia itu sendiri, sehingga “troubleshooting” atau “pemecahan masalahnya” ada pada semacam rekayasa atau pembangunan moralitas manusia untuk melahirkan semacam keakhlakan yang berkuasa atau menguasai jiwa, atau melahirkan keakhlakan yang akan menjadi tali kendali kebuasan jiwa untuk melahap nikmatnya keduniaan. Bukan itu eksistensialisme keberdosaan manusia itu, bukan! Tetapi pada sebuah pemerintahan dosa atas manusia. Yesus menunjukan bahwa dosa adalah sebuah pemerintahan atau memiliki kuasa atas jiwa manusia, jadi bukan pasif atau semata produksi kemanusiaan yang memilih melawan kebenaran. Bukan itu. Jika itu, maka Yesus tidak akan menunjukan dirinya adalah satu-satunya yang berkuasa atas sebuah pemerintahan yang memperhamba manusia, dalam cara semacam ini: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”  Ini, kuasa untuk memerdekakan kamu sehingga benar-benar merdeka, sangat identik dengan hasil pemerdekaan oleh Yesus atas pemerintahan iblis semacam ini: “Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak” (Lukas 11:14) yang pada peristiwa itu telah dijelaskannya sebagai kerja kuasa pemerintahan Kerajaan Allah atas kuasa pemerintahan iblis atas segenap manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu “ (Lukas 11:20).


Sekarang, Ia yang sebelumnya berada bersama Allah dan adalah Allah sendiri kini berada di dalam kegelapan. Apa yang harus menjadi perhatian tajam di sini, adalah pada bagaimana “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita- Yohanes 1:14 tepat pada “diam di antara kita” yaitu berdiam atau mendiami di dunia. Berdasarkan perkataan Yesus ini, dunia ini berada dalam pemerintahan kegelapan. Jika dunia ini berada dalam pemerintahan kegelapan, maka sungguh tidak benar memahami kemanusiaan Yesus yang datang dari Bapa dan yang menjadi penguasa dan eksistensi Kerajaan Allah itu sendiri di dunia,dengan menggunakan segenap refleksi jiwa manusia kita yang hidup di dunia gelap ini untuk menarik Yesus dalam berbagai eksplanasi-eksplanasi yang akan merasionalkan bahwa sebetulnya mustahil Yesus itu tak dapat berdosa, sehingga kita menjadi waras atau damai pikiran kalau mengenali kemanusiaan Yesus.


Pada poin ini,  apa yang harus menjadi perhatian tajam, di sini, adalah: dalam Yesus telah datang ke dalam dunia ini sehingga masuk ke dalam dunia yang diperintah kegelapan, ia tidak turut menjadi sama dengan kegelapan itu sendiri, sementara ia sendiri adalah manusia sama seperti kita. Terhadap ini, rasul Yohanes menunjukan bagaimanakah kemanusiaan  Yesus itu ketika berada di dalam kegelapan atau tidak lagi berada  bersama dengan Allah:

Yohanes 1:5 kegelapan itu tidak menguasainya

Dalam Ia Sang Firman telah turun ke dalam dunia menjadi manusia, ia tidak menjadi taklukan kegelapan; sementara, memang, eksistensi keberadaannya mengalami perubahan semacam ini:

dari: pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yohanes 1:1)

menjadi: telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yohanes 1:14)

memang sebuah perubahan pada bagaimana kemuliaan Allah yang begitu agung pada Sang Firman kini berubah menjadi kemuliaan Manusia di dunia  yang tidak dapat dikuasainya.  Perubahan yang bagaimanakah ini? Apakah menunjukan sebuah perubahan yang secara permanen menyusutkan ketuhanannya sehingga lebih rendah daripada Bapa-atau dengan demikian Allah tak pernah sama dahulu, sekarang dan selama-lamanya? Surat Ibrani memberikan jawaban bagi orang-orang Yahudi pengikut Kristus di perantauan, seperti ini:


Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, (Ibrani 2:7)

Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. (Ibrani 2:9)

Yesus Sang Mesias pun secara frontal menyatakan kesetaraannya dengan Bapa, sementara ia adalah manusia seperti kita- tetapi hanya dialah Anak Manusia yang dapat berkata begini:

Aku dan Bapa adalah satu." Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (Yohanes 10:30-31)


Pernyataan Aku dan Bapa adalah satu, adalah ungkapan yang menunjukan sebuah keilahian yang sehakikat atau tidak lebih rendah dan tidak lebih tinggi daripada Bapa sendiri, sementara Ia telah dibuat lebih rendah hingga sama seperti manusia, untuk beberapa saat lamanya! 

Perhatikanlah ini:

Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yohanes 10:32-33)

Ini kebingungan alami dan dipahami oleh Sang Mesias. Ia tidak membela diri secara konspesional atau kesemantikan “manusia” pada “sekalipun hanya manusia saja”, atau kesemantikan “Allah” pada “menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Ia tidak berapologetika secara linguistik dan  apapun juga, tetapi ia menarik segenap mata dan perhatian untuk melihat apakah yang dapat diperbuatnya itu memang menunjukan bahwa Ia memang adalah sebagaimana Ia berujar: “Aku dan Bapa adalah satu” sehingga membuktikan bahwa Ia tak menghujat Allah sekalipun sabda atau perkataannya memang menunjukan bahwa Ia menyamakan dirinya dengan Allah. Coba perhatikan penjelasan Yesus yang ini:


Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yohanes 10:37-38)  


Yesus sedang menyatakan bahwa sekalipun ia adalah memang manusia tetapi Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa di sorga. Bisakah anda membayangkan manusia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hanya Bapa yang berkuasa melakukannya atau ia haruslah sehakikat dengan Bapa itu sendiri dan satu dengan Bapa! Bukankah itu  yang disaksikan Yesus tentang dirinya dan kuasanya sekalipun manusia tetapi berkuasa melakukan apapun yang dikerjakan Bapa:


Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. (Yohanes 5:19-20)

Sekalipun Ia adalah manusia tetapi Ia mengerjakan apapun yang hanya dilakukan oleh Bapa, sehingga kamu heran. Itulah seharusnya yang dipandang pada kemanusiaan Yesus!


Ini menunjukan bahwa Yesus adalah theos yang tidak lebih rendah daripada Allah, atau kurios yang hanya semulia kemuliaan semantika atau  sebagaimana kurios-kurios hebat pada para raja dan penguasa dunia ini, tetapi untuk menunjukan apakah yang menjadi tujuan Yesus tinggal diantara manusia yaitu sebagai terang untuk menerangi manusia yang berada dalam cengkraman kuasa maut yang bertakhta di dunia ini. Lihat, tujuan ini merupakan pesan penting segera yang diungkapkan rasul Yohanes:


Yohanes 1;9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.


Mengapa Yesus sendiri tak menyibukan dirinya dengan meneriak-neriakan ketuhanannya sementara ia menjadi manusia? Mengapa ia tak mati-matian memperjuangkan harkat martabatnya dari kemanusiaannya sendiri yang memang menjadi gerbang emas bagi manusia untuk mengalami kebingungan akan siapakah Yesus? Jawabnya hanya satu, yaitu: begitu berkait erat dengan apakah tujuan kedatangannya ke dalam dunia ini bagi manusia, yaitu: “menerangi setiap orang di dalam dunia ini.” Ini hanya dapat terjadi jika ia telah menjadi manusia (Yohanes 1:14, bandingkan dengan Ibrani 2:14-15)


Ia bukan terang manusia yang menerangi kegelapan moralitas, sementara memang moralitas manusia mengalami kemerosotan, juga bukan menerangi kegelapan hati, pikiran dan perilaku manusia yang beroperasi dalam  jubah dan topeng kemilau moralitas dan manisnya kata-kata bijak yang sedang merayu nurani manusia untuk menjadikan dirinya tuhan bagi dirinya sendiri dan atas manusia-manusia lainnya. Tetapi ia adalah terang manusia yang adalah Sang Firman menjadi manusia  pemilik Terang yang menerangi fakta  ini:

dunia tidak mengenal Allah!


Allah yang mana? Jelas Allah yang dinyatakan oleh Yesus (Yohanes 1:18) yang pada faktanya tidak diinginkan jiwa manusia ( Yohanes 3:19: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang). Jadi ini adalah “tidak mengenal Allah” sebagaimana sabda Yesus, bukan sebagaimana apa yang dikenal sebagai theologi dalam agama Kristen!


Ini, dengan demikian, menjadi problem serius bagi manusia dan sebuah produksi kuasa kegelapan yang bertakhta di dunia ini. Perihal “duniatidak mengenal Allah dibuktikan melalui kedatangan Sang Firman menjadi manusia:


Yohanes 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.


Soal dunia ini tidak mengenalnya bukan karena ada yang memiliki kitab suci dan yang lainnya tidak mengenal kitab suci tertentu. Soal ini bukan berakar dari soal semacam itu, sebab yang memiliki kitab suci pun telah dinyatakan tidak mengenal Allah:


Yohanes 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

Yohanes 5:39-40 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.


Yohanes pasal 1 adalah bagian yang sedang menunjukan realitas global dunia, sebuah tindakan dan ketetapan Allah bagi segenap kosmos ini:


Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"- Matius 4:13-17


Siapakah Yesus? Ia adalah “Terang yang besar”; Ia adalah terang yang terbit di negeri yang dinaungi maut! Sekarang perhatikan bahwa seruan “bertobatlah” bagi bukan saja Yahudi tetapi bangsa-bangsa lain tidak pernah dalam definisi pertobatan  yang mengakibatkan perubahan moral, karakter dan perilaku sebagai pertama-tama yang berkuasa atas pemerintahan maut, tetapi  seruan “bertobatlah” itu adalah kerasionalan yang terasosiasi atau terhubungkan dengan “Terang besar yang terbit terhadap negeria yang dinaungi maut.” Artinya Yesus adalah Dia yang berkuasa atas pemerintahan maut dan yang berkuasa untuk menyerukan panggilan pertobatan yang melahirkan pembebasan manusia itu dari pernaungan dan pemerintahan maut. Inilah yang menyebabkan Yesus, kemudian, berkata:


“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."- Yohanes 8:34-36


Yang menunjukan seruan pertobatan Yesus adalah seruan yang berjangkar pada Ialah  terang besar yang bersinar di negeri yang dinaungi maut. Ada hal yang begitu krusial antara bertobat dengan realitas manusia dalam naungan maut. Bahwa jelas terlihat kehidupan manusia dalam pernaungan maut telah mengakibatkan manusia:

-diperbudak maut, dan manusia tidak berdaya membebaskan diri sendiri.
-perbudakan demikian, telah menyebabkan manusia harus bertobat
-pertobatan dengan demikian tak terpisahkan pada realitas apa yang dapat dilakukan Anak Manusia dan apa yang tak dapat dilakukan oleh manusia terkait dengan pernaungan maut atas dunia ini.


Pertobatan bukan sekedar berubah dari budak kejahatan menjadi budak kebaikan atau moralitas, tetapi berkait dengan dari hidup dalam perbudakan maut menjadi hidup menjadi anak-anak Allah yang dihasilkan oleh kehendak Allah. Perhatikan penjelasan rasul Yohanes:

Yohanes 1:12-13 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.


Itu sebabnya penanggulangan problem “dunia tidak mengenal Allah” dalam cara sedemikian telah membingungkan seorang Guru Kitab Suci Yahudi : Nikodemus:


Yohanes 3:2-7 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.


Sebagai manusia, Yesus telah membicarakan bagaimana seorang dapat mengenal Allah atau melihat Kerajaan Allah yang adalah Ia Sang Mesias itu sendiri (Yohanes 1:23 dan Matius 3:1-3) dalam bahasa manusia yaitu “dilahirkan”  dan “apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Dan saat Ia berkata demikian, Yesus sendiri adalah manusia yang tidak dilahirkan dari keinginan daging, sementara ia  memang adalah daging atau manusia, sebagaimana kita. Ia sendiri bukan hidup berdasarkan keinginan dagingnya sendiri. Itu sebabnya salah satu kekhasan manusia Yesus ada pada perkataannya yang semacam ini, baik kala ia mengajarkan orang lain dan juga pada dirinya sendiri sendiri,:

Matius 6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga


Lukas 22:42 Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.

Ia menjadi manusia memiliki sebuah tujuan utama agar ”dunia dapat mengenal Allah yang mengutus-Nya ke dalam dunia ini” dalam sebuah cara yang penggenapannya hanya bisa terjadi, jika ia menjadi manusia.


Bukan sebuah sandiwara kala dikatakan Yesus adalah manusia yang tak dapat berdosa, sebab kehakikatannya adalah “ Ia di pangkuan Bapa adalah yang menyatakan Bapa yang tak dapat dilihat” Yohanes 1:18, sementara ia di dunia ini.


Ia dalam kemanusiaan dikatakan tidak dapat dikonsepsikan secara piskologis dan biologis sebagai yang dapat atau dimungkinkan ditaklukan kuasa kegelapan dunia ini karena manusia Yesus adalah “Terang bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yohanes 1:5). Eksistensi manusia Yesus yang semacam Yohanes 1:5, melampaui kemampuan manusia mendefinisikan pada jiwa dan perilakunya apakah kekudusan atau kesucian yang semata moralitas, bukan  moralitas yang sama sekali perlu ditautkan pada kudusnya Allah. Eksistensi manusia Yesus yang demikian, dengan demikian, menunjukan apakah peran, tujuan, dan kuasa yang terkandung dalam kemanusiaannya  memang bukan untuk mengalami pembelengguan dosa sebagaimana manusia. 


Eksistensi kemanusiaan Yesus, dengan demikian, tak terpisahkan dengan apa yang ditetapkan Allah harus digenapi dalam Sang Firman menjadi manusia, harus terjadi:

Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.- Yohanes 12:27


Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.- Matius 26:45


Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"- Matius 26:53-54


Sehingga untuk itulah: “Engkau telah menyiapkan tubuh bagi-Ku”-Ibrani 10:5.  Apa yang terlihat dengan demikian adalah kelemahan-kelemahan manusiawi yang kemanusiawiaannya dikuasai oleh kehendak Allah, sebab kemanusiaan Yesus dilahirkan oleh kehendak Allah, bukan kehendak daging. Kita, dengan demikian, dapat melihat sebuah pergumulan dahsyat dan actual, menjelang ia meminum cawan yang hanya dirinyalah mampu meminumnya sebagaimana kehendak Bapa: “Jikalau Engkau mau, ambilah cawan ini daripadaku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Apa yang terlihat di situ?  Ini bukan sekedar bahwa Yesus sedang bergumul pada kehendaknya agar sebagaimana kehendak Bapa, tetapi bahwa hanya dia yang telah dipersiapkan Bapa sebagai satu-satunya yang berkuasa dalam kematian melahirkan kehidupan. Bandingkan dengan:


“Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”- Yohanes 12:23-24


“Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.”- Yohanes 12:27


Karena Yesus memang benar-benar manusia, sebagai akibat dibuat rendah oleh Bapa untuk beberapa saat, maka  ia memang memiliki kelemahan-kelemahan otentik yang menghasilkan kelemahan bernadaambilah cawan ini daripadaku” yang membuktikan bahwa ia memang benar-benar daging dengan indera-indera yang sempurna takut akan maut sebagaimana pada manusia. Tetapi karena kemanusiaannya adalah AKIBAT TINDAKAN BAPA MERENDAHKAN UNTUK SEBUAH TUJUAN : “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” maka di sinilah titik ketakmungkinan bagi Yesus untuk dapat dikatakan dapat berbuat dosa dalam derajat yang bagaimanapun. Nada “ambilah cawan ini daripadaku” secara sempurna menunjukan bahwa ia adalah Anak Manusia yang sempurna dan utuh yang berada dalam persekutuan dengan Bapa menjelang ia harus masuk ke dalam kerajaan maut, untuk menggenapi sabdanya sendiri: tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.


Kala ia berkata: “tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-mulah yang jadi,” ini semata menunjukan bahwa sekalipun ia manusia dengan kemanusiawiannya yang lemah dan berat dalam menanggung perjalanan menuju maut atau meminum cawan murka Allah atas dosa, ia melakukannya sebagai yang berada di atas pangkuan Bapa (Yohanes 1:18), bukan di atas pangkuan iblis, sama sekali. Karena ia  telah menjadi manusia, maka kita melihat ciri otentik ketakberdayaan manusia atas maut tetapi sekaligus didalam kemanusiaan yang demikianlah, sempurnalah penaklukan dan penebusan yang dilakukan oleh Yesus dalam ketaatannya sampai mati sebagai dia yang sejak semula duduk di sebelah kanan Allah:

katanya: "Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami." Jawab Yesus: "Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa." Kata mereka semua: "Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?" Jawab Yesus: "Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah." Lalu kata mereka: "Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri." - Lukas 22:67-71

Jadi, bagaimana seharusnya memahami kemanusiaan Yesus pada “Jikalau Engkau mau, ambilah cawan ini daripadaku?” Itu menunjukan bahwa Ia benar-benar manusia, adakah manusia yang girang menghadapi maut? Tidak ada. Tetapi pada saat yang sama, tidak bisa didefinisikan bahwa dengan demikian Yesus dapat berdosa dan bisa sekali berdosa, sebab sejak semula ia telah berkata “Aku dan Bapa adalah satu” dan lebih kuat lagi, ia bersabda kepada sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (Lukas 22:66) bahwa ia sebelum masuk ke dalam maut Ia TELAH duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa. Ini menunjukan  bahwa 2 hal sekaligus dinyatakan di taman Getsemani: ia adalah benar-benar manusia dan ia benar duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa: sehingga ia berkata: “Jikalau Engkau mau, ambilah cawan ini daripadaku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Dan bukti yang menutup spekulasi di taman Getsemani ia dapat berdosa atau dalam kesurutan kekudusan untuk sesaat pada pergumulan batin, adalah bukti yang ditunjukannya dan yang menunjukan ketakbercelaan dirinya di dunia di hadapan manusia dan di hadapan Allah, yaitu sabdanya yang berbunyi: Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.


Itu sebabnya Surat Ibrani menjelaskan Yesus dalam eksistensi sekaligus manusia dan sekaligus Allah yang berkuasa membebaskan manusia dari pemerintahan maut:

Ibrani 2:15 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.


Semua hal yang membuat kita berpikir ia dapat berdosa dan memiliki potensi gagal untuk mentaati dan menuntaskan misi  Bapa-Nya, harus ditautkan tanpa terputus dengan Ia tetap satu dengan Bapa namun telah dihadirkan-Nya di dunia ini :untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah, sehingga dapat TERLIHAT NYATA mengalami penderitaan maut dan mengalami maut beserta dinamika yang berada di sekitar momen-momen tersebut.


Itu juga sebabya, tadi, kita juga  melihat banyak orang  sekitar Yesus, yang mempertanyakannya dalam Ia sebagai manusia, tetapi bagaimana mungkin ia melakukan pekerjaan-pekerjaan itu atau pekerjaan Bapa, atau dengan kuasa manakah ia melakukan itu, atau dengan kuasa apakah ia melakukannya.


Mengenal Yesus,dengan demikian, memang benar seperti kata Yesus: “bukan karena keinginan atau usaha daging, tetapi karena dilahirkan Allah” mengingat manusia berada di dalam kuasa kegelapan.


Bersambung ke bagian 9

Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah




P O P U L A R - "Last 7 days"