0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (7)

Oleh: Martin Simamora

Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini- 3

Bacalah lebih dulu: “bagian 6

Jika Yesus Sang Mesias dan Anak Allah begitu tunduk kepada dan berdiri di atas kebenaran firman di hadapan iblis, maka seharusnya Ia tak akan menolak sebuah permintaan (lagi oleh iblis) yang akan memuliakan Allah yang mengutusnya. Tetapi apa yang tak pernah diketahui iblis adalah, Yesus bukan sekedar memiliki pengetahuan dan  ketaatan pada firman sebagaimana dituntutkan untuk dilakukan manusia di dunia dan di hadapan iblis, tetapi Ia didunia ini sepemerintahan dengan Bapa sehingga dalam kesatuan sabda dan bersabda [lihat:Yohanes 7:16, 8:26, 8:28, 12:49, 14:10, 14:24, 14:31]. Jikalau pada Yesus, ketaatannya belaka berdasarkan determinasi dan konsistensi kemanusiaan sebagaimana pada manusia, dapat dipastikan ia tak akan sanggup berhadapan dengan iblis yang hadir  dalam segenap kegemilangan pemerintahan dan kuasanya yang sedang memelukan erat tubuh Yesus dengan bujuk rayu manis menopengi tipu muslihat yang teramat laten bersalutkan penyabdaan firman yang membinarkan hasrat untuk mentaatinya sehingga memuliakan Bapa, jika dilakukan penuh taat:
═Lukas 4:9-11 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."

Perhatikan pada pernyataan “sebab ada tertulis” mengenai Engkau atau diri Yesus sendiri: “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” merupakan  sebuah kegelisahan terdahsyat yang pernah dialami oleh iblis dan dihasilkan seorang manusia sementara ia belum lama tadi berkata “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki- Lukas 4:6??” Sang iblis yang baru saja membusungkan dadanya di ketinggian yang dipanjatnya sendiri demi peninggiannya, kini, mendadak mengakui bahwa Yesus memang sama sekali mustahil direbut dari sepasang tangan (pemerintahan) yang satu-satunya agung mulia berkuasa atas Yesus, sementara ia sendiri tidak memilikinya!? Kini, ia menuntut itu dibuktikan, sekali lagi di ketinggian yang ditentukan si iblis, demi “sebab ada tertulis?”Kini, sebenarnya, iblis sudah masuk ke dalam kegilaan yang paling mengerikan sebab seharusnya ia lebih baik bunuh dirinya saja, bukankah ia begitu jumawa kepada bumi dan kepada langit dengan berkata kepada Yesus: "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu…jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu-Lukas 4:6-7??" 

Iblis kini begitu inferior, ini bukan sekedar menjilat ludahnya tetapi ia sedang menista dirinya sebab tiba-tiba ia menyatakan adanya sebuah pemerintahan yang kesemestaannya, saat itu juga, sedang mengintimidasinya dan begitu mempermalukannya hingga ia kehilangan logika kuasa yang berkuasa atas apapun juga seperti klaimnya yang begitu sok berkuasa: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.” Dan Yesus sejak 2 pencobaan pertama, itu sendiri telah menunjukan bahwa kuasa bukan omong kosong, bukan kata-kata optimis dan bukan kata-kata positif yang diumbarkan di udara, tetapi kuasa adalah kedaulatan Allah dan sebagaimana Allah menghendaki kedaulatannya bekerja- hanya Allah yang memiliki kuasa yang diklaim iblis. Itu sebabnya Yesus berkata begitu sederhana menjawab permintaan pembuktian ketaatan bersalut muslihat pada “apa yang tertulis agar Yesus mentaati iblis” dengan berkata ” "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!- Lukas 4:12"

Satu hal penting  di sini, bahwa Yesus sendiri memiliki otoritas dan kuasa untuk mendatangkan malaikat-malaikat untuk bekerja demi dirinya dan demi keamanannya sendiri, tetapi kuasa pada dirinya begitu integral dengan kehendak pada dirinya untuk menggenapi sabda Allah, sebab hanya ia yang berkuasa menjadikan apapun yang telah disabdakan Bapa untuk terjadi, baik di bumi ini dan di sorga di atas sana. Coba perhatikan hal ini sebagai pembanding:



“Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"- Matius 26:50-54

Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi."- Matius 26:56

Siapakah yang berpemerintah atas diri Yesus? Sabda ibliskah atau sabda Bapa-Nya?


Sia-sia dan begitu terpecundanginya iblis tanpa ampun sebab ia bukan saja mengalami rasa malu yang tak pernah terkoreksikan sebab ia telah dijatuhkan oleh Yesus diketinggian kemuliaan iblis yang ditegakan iblis sebanyak 2 kali!

[ada 2 kali iblis membawa Yesus ke  puncak pemerintahannya yang dimuliakannya dan ditinggikannya dihadapan Yesus, pertama pada peristiwa: “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia- Lukas 4:5” dan yang kedua pada peristiwa:” Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah”-Lukas 4:9.]


Sebetulnya, pencobaan yang dilancarkan oleh iblis kali ini dapat dikatakan sebagai puncak kemuliaan manusia Yesus yang mengatasi iblis dan kerajaannya beserta kuasanya. Iblis harus  takluk dan tak bisa  berdalih, bagaimanapun juga, terhadap-Nya, terhadap segala jawaban atau sabda Yesus, sehingga mundur secara memalukan sebagai kerajaan yang telah divonis tak ada nilainya sama sekali dalam sebuah penaklukan yang menghadirkan kemuliaan Kerajaan Allah yang eksistensinya dihadirkan oleh Yesus [bandingkan dengan Ibrani 1:3], sementara iblis bersombong bersabda: "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu- Lukas 4:6-7??"


Apa yang menjadi pondasi pencobaan iblis kali ini terletak pada “sebab ada tertulis,” yang merupakan sebuah kutipan dari Kitab Suci, sebuah pengakuan oleh iblis bahwa ia adalah yang telah lama dijanjikan Allah untuk datang ke dalam dunia ini. Iblis kepada Yesus, mengutip bagian yang berkata: “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Bagian yang dikatakan iblis sebagai “Menganai Engkau.” Tulisan purba sedang menuliskan Ia yang datang ke dalam dunia belum juga tiba tetapi telah dituliskan mengenai Ia yang akan datang dari Allah? Bagian tersebut dapat ditemukan dalam buku Mazmur 91 ayat 11-12: “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.”


Pencobaan ini, dengan demikian, memiliki aspek profetis, atau dengan kata lain pencobaan ini memasuki ranah Yesus adalah Sang Penggenap Kitab Suci, hanya dia dan tiada yang lain. Menyatakan Yesus  adalah penggenap Kitab Suci, sebab pencobaan ini menarik tulisan purba dan meletakannya pada Yesus sebagai Ia satu-satunya yang dapat membuat nubuat tersebut bukan saja benar-benar berbicara tetapi tergenapi secara gemilang. Ini jenis pencobaan yang bukan sama sekali berpondasi pada aspek kemanusiaan Yesus apalagi determinasi untuk bertaat hingga mati sebagai manusia yang berjuang mati-matian berpihak pada kehendak Allah. Bukan sama sekali, sebab Yesus di sini memang adalah sang penggenap. Mengapa di sini Yesus memang adalah Sang Penggenap dan dengan demikian pencobaan iblis kali ini memang secara jitu sebuah langkah yang jauh lebih dalam dibandingkan pencobaan pertama bahkan kedua, sebab Yesus secara gamblang menjawab: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Lukas 4:12).Siapakah yang sedang dicobai oleh iblis? Allahkah atau Yesuskah? Jika Yesus bukan Tuhan, mengapa Yesus berkata ada firman: jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu, sementara iblis, bukankah ia sedang mencobai dirinya??” Siapakah Yesus sampai ia berkata terhadap peristiwa yang sedang menimpa dirinya ini berkata menjawab iblis ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu! Di sini iblis bungkam dan mundur tanpa sebuah perdebatan apapun juga.


Ini adalah pencobaan yang menyeruakan keilahian Yesus secara teramat gemilang sampai-sampai iblis tak bisa bertahan lebih lama lagi di hadapan Yesus: “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik- Lukas 4:13”. Ini memang pencobaan pada divinitas Yesus di dunia ini  yang menunjukan bahwa ia memang sungguh-sungguh “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”- Yohanes 1:18, bukan pencobaan kemanusiaan Yesus sebagaimana pada semua manusia umumnya. Tak ada manusia yang eksistensinya telah dituliskan sebagai begitu divinitas atau begitu ilahi dalam sebuah tulisan purba dan dalam momen tersebut Ia yang menggenapi secara berhadap-hadapan dengan iblis, selain Yesus. Di sini tak ada semacam kelimbungan pada diri Yesus antara kemanusiaannya dan kedivinitasannya, seolah-olah kemanusiaannya merespon lebih kuat dari kedivinitasannya, dan sebenarnya tak pernah ada konflik semacam itu sebab ia sungguh-sungguh  berada di pangkuan Bapa! Bahwa dia adalah Ia yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan kini  telah mengambil wujud seorang hamba manusia dan ada di dunia ini.


Itu sebabnya Yesus menjawab dalam cara yang menunjukan, bahwa kebenaran pemerintahan-Nya di dunia ini bukan menuruti keinginan dunia ini dan apalagi terkait pembuktian kebenaran Allah sebagai penulis agung kebenaran dalam Mazmur dan kebenaran Yesus sebagai satu-satunya penggenap kebenaran Allah di bumi ini, berdasarkan kemauan/pemikiran iblis. Itu sebabnya ia meruntuhkan pemerintahan iblis dengan memperhadapkan firman yang diucapkannya secara langsung di jantung pemerintahan iblis yang sedang dipamerkan iblis, dengan berkata: ADA  FIRMAN: jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” Jawaban ini bukan hendak menyatakan bahwa  iblis ber-Tuhan, sebab jawaban Yesus dimulai dengan ADA FIRMAN. Permulaan jawaban semacam itu adalah pelurusan terhadap upaya iblis untuk membengkokan kebenaran firman terkait “SEBAB ADA TERTULIS mengenai Engkau.” Hanya firman yang berkuasa meluruskan pembengkokan kebenaran firman  yang dilakukan oleh iblis. Itulah maksud dari “ Ada firman : jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” Ini sedang menunjukan Pemerintahan Yesus pada hakikatnya  adalah pemerintahan yang berlangsung di dalam setiap firman Allah, bukan  diri Yesus dalam relasi Allah sebagai seorang hamba tanpa pemerintahan firmandi mulutnya sehingga belaka  seorang hamba yang harus berupaya taat agar digenapi berdasarkan determinasi dan konsitensi jiwa.


Jadi tanpa Yesus tak ada pernah ada satu bentuk penggenapan yang bagaimanapun dan dengan demikian “Ia berfirman maka semuanya jadi” pada merupakan predikat eksklusif ilahi pada  Manusia Yesus pada mulutnya yang berkata-kata. Penggenapan oleh Yesus bahkan dimulai dari eksistensi dan hakikatnya sendiri yang sama sekali tak berbicara soal ketaatan sebagai jalan untuk mencapai predikat semacam itu. Bahkan pada apa yang terlihat  pada manusia sebagai: ketaatan merupakan jalan bagi Yesus untuk menggenapi apa yang dikehendaki Bapa, pada pokoknya hanya bisa terjadi jika Ia sungguh-sungguh yang memiliki predikat “Ia berkata maka jadilah sebagaimana ucapannya” termasuk salah satunya:


“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”- Lukas 4:18-21


Itu sebabnya saat Ia menjawab: “Ada firman: jangan engkau mencobai  Tuhan, Allahmu,” yang hendak ditunjukannya adalah, bahwa Ialah Sang Pelaksana Firman  yang keluar dari mulut Bapa untuk tergenapkan dengan cara menggerjakannya sebagaimana maksud Bapa atau dengan cara, Yesus  bekerja sebagaimana Bapa bekerja [ bandingkanlah dengan "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak”- Yoh 5:19], dan dengan demikian, tak akan pernah ada firman yang tergenapi dan bekerja berdasarkan rancangan dan maksud dunia ini, sebagaimana iblis berkehendak dengan  cara membawa Yesus ke bubungan bait Allah.


Ia Anak Allah, bukan anak atau datang dari atau memiliki kesehakekatan dengan iblis sehingga dapat juga mengalami apa yang telah terjadi pada iblis, jatuh kedalam pemberontakan melawan Allah.


Itu sebabnya tak ada lagi yang dapat iblis lakukan terhadap  Yesus, hanya satu yang harus dilakukan dirinya: mundur! Maka inilah yang dicatatkan bagi kita:

Lukas 4:13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.


Namun ia sang iblis tetap menantikan momen-momen yang baik untuk mengulangi atau melancarkan kembali serangan-serangan semacam ini. Hanya saja nanti kita melihat iblis menggunakan agensi-agensi manusia sebagai perpanjangan tangannya. [itu sebabnya kita akan mendengarkan perkataan Yesus yang semacam ini: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu”- Yohanes 8:43-44 yang sebetulnya turunan dari apa yang telah dilakukan iblis pada Yesus, hanya saja kemudian pada manusia-manusia. Akibat atau hasil yang ditelurkannya teramat mematikan, begitu berbeda dengan Yesus, sebab Yesus adalah  satu-satunya manusia yang berada di pangkuan Bapa, Yang menyatakan Bapa.]



Rangkaian-rangkaian pencobaan ini, pada injil Lukas, ditutup dengan: “Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu”- sebagai sebuah  penutup yang menggenapi pembukanya yang berbunyi: “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun- Lukas 4:1 yang menunjukan, sekali lagi, bahwa apa yang nampak di mata manusia bahwa ketaatan badani/kemanusiawian Yesus merupakan jalan bagi Yesus untuk memiliki kuasa yang memampukannya untuk menggenapi maksud Bapa-Nya, bukan sama sekali  eksistensi ketaatan Yesus selama di dunia, tetapi eksistensi ketaatannya dari dan berada dalam “Dalam kuasa Roh Kembalilah” dan “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus,” atau dengan kata lain natur Yesus yang senantiasa [tidak pernah berjedah/berinterval segenap waktu][ penuh dengan Roh Kudus adalah jalan bagi manusia Yesus untuk mentaati dan menggenapi kehendak Bapa-Nya. Itu sebabnya mengapa ia dalam tubuh manusia dikatakan tak dapat berdosa dalam ia dapat lapar, dapat  mengalami dan merasakan opresi-opresi iblis terhadap kemanusiaannya. Itu juga sebabnya, mengenai Yesus dalam konteks ini, penulis ibrani menuliskan begini:

Ibrani 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.


Sang Firman menjadi manusia (Yohanes 1:14; Ibrani 1:6; Ibrani 10:5),  dan memang benar pada manusianya, ia dapat secara sempurna merasakan berbagai aspek kelemahan-kelemahan manusia dan bagaimana iblis dapat memanipulasi kelemahannya yang pada semua manusia di luar dirinya, iblis dapat meletakan mereka dibawah telapak kaki kekuasaannya, menginjaknya kuat-kuat untuk menjadikan mereka budak-budak kejahatan dan yang tak dapat memahami apa yang disabdakannyanya sehingga adalah anak-anak iblis (Yohanes 8:43-44). Itu sebabnya, terkait Yesus sebagai manusia Imam Besar, ia digambarkan seperti ini:

Ibrani 5:2 Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan,


Mengapa Yesus dapat dicobai jika Ia Anak Allah? Maka memang jawabannya: karena ia sebagai manusia mengalami sebagaimana kita, yaitu penuh dengan kelemahan. Tetapi sebagaimana rangkaian-rangkaian pencobaan tadi, telah dibuktikan oleh Yesus sendiri via pencobaan iblis tadi bahwa kelemahan dirinya sendiri telah dituliskan oleh Kitab Suci (maksudnya, adalah ini: JATUHKANLAH DIRIMUIa akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan TERANTUK KEPADA BATU – sebagai representasi bahwa Ia sama seperti kita dapat dilukai dan dengan  demikian memiliki aspek kelemahan seorang manusia)sebagai dasar untuk menegakan pemerintahan firman-Nya yang memiliki maksud dan kehendak yang hanya ia saja bisa menggenapinya.


Itu sebabnya dalam serangkaian pencobaan itu, tidak tersingkap sedikitpun bahwa Yesus pada kemanusiaanya memiliki potensi untuk berdosa, selain menunjukan bahwa ia sendiri mengenakan tubuh yang penuh kelemahan—apakah maksudnya penuh dengan kelemahan? Maksudnya, iblis dapat sepenuhnya menimpakan tekanan-tekanan terdahsyat yang dapat dikeluarkannya untuk menghancurkannya. Dalam tubuh Yesus yang penuh kelemahan, Ia senantiasa penuh dengan Roh Kudus, adalah kunci jawaban mengapa dosa tak lahir dari tubuh manusiawinya yang dapat lapar dan haus itu, dan tak hanya sekedar ia manusia yang penuh dengan Roh Kudus, tetapi Ia adalah manusia yang eksistensinya telah lebih dulu dituliskan oleh kitab suci, sebagaimana tampil pada episode akhir pencobaan dalam injil Lukas.


Itu sebabnya, terkait ini,  penulis Surat Ibrani menuliskan mengenai kemanusiaan Yesus yang penuh kelemahan,  dapat menangis karena merasakan kesedihan dan  beratnya perjalanan yang harus ditempuhnya, dan doa yang memang menjadi kehidupan Yesus dan keluhannya telah dituliskan sebagai deskripsi sempurna bahwa Ia satu-satunya manusia yang tak berada di dalam pemerintahan maut sebagaimana iblis tak pernah dapat sukses meretakan Roh Kudus yang memenuhi Yesus dalam pencobaan padang gurun tersebut. Mari perhatikan :

Ibrani 5:7Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.


Perhatikan, bahwa “Dalam hidup-Nya sebagai manusia” bukanlah kehakikatanyang menunjukan bahwa ia manusia dalam belenggu kuasa dosa,sebab  “sebagai manusiabukan mata air dan sekaligus pokok batang yang melahirkan dinamika-dinamika kehidupan dalam taklukan dosa. Itu jelas dari jenis doa dan  permohonan dengan ratapan seperti apakah?? Inilah jenisnya: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.”


Apakah yang menyebabkan ia diselamatkan dari maut? Kesalehannyakah? Bukan! Apa yang membuat ia diselamatkan dari maut adalah: ia memiliki hubungan dengan Bapa yang tak terpisahkan dalam sebuah kesatuan sebagai keduanya Bersabda: “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan- Yohanes 12:49”


yang memastikan apapun yang didoakan dan dimohonkan dengan ratap tangis dan keluhan ia sebagai manusia yang memiliki kesalehan! Ini adalah relasi! Jenis relasi semacam ini:

·        “Seperti Bapa telah mengasihi Aku”- Yohanes 15:9
·   “Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."- Yohanes 11:41-44


Sehingga kesalehannya pada Ibrani 5:7 adalah eksistensi yang melekat pada kedirian Yesus Sang Mesias, bukan eksistensi yang diupayakan dan dikejar-kejar agar dimiliki. Yesus telah menunjukan begitu  gamblang bahwa  kesalehannya, sehingga ia didengarkan, adalah eksistensi yang melekat pada kedirian Yesus Sang Mesias, melalui momentum ia bersabda melawan pemerintahan maut yang sudah membuat mayat Lazarus berbau dan busuk kerena sudah 4 hari meninggal dunia (Yohanes 11:39), bangkit dari kematian dan keluar dari kubur mentaati perintah Yesus! Yesus bahkan mendahuluinya dengan sebuah penjelasan yang menyingkapkan aspek internal yang selama ini tak terlihat oleh publik: “tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya.” 

Apakah itu? 

Bahwa ia memang senantiasa didengarkan: “Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku.” Inilah eksistensi yang tak terpisahkan pada kedirian Yesus seperti Yesus pasti bernafas dan pasti berdaging dan bertulang sebab ia manusia! Maka sebagaimana Ia dan Bapa satu maka adakah alasan Ia tak selalu didengarkan??? 

Jelas tidak ada! Begitulah memahami kesalehan Yesus dalam relasi: Bapa sanggup menyelamatkannya dari maut! Itu sebabnya ini hanya terjadi pada Yesus saja!



Itu sebabnya “kesalehan” pada Yesus akan senantiasa bertaut dengan Ia adalah Anak Allah sekalipun memang adalah Anak Manusia. Epistel Ibrani pun menyatakan jenis kesalehan yang hanya ada pada Yesus dan tak mungkin diadopsi oleh siapapun manusia di dunia ini. Perhatikanlah ini:

Sebab inilah yang merupakan mata air sekaligus pokok batangnya: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya”- Ibrani 5:8


Sebagai manusia dan “sekalipun Ia adalah Anak” merupakan 2 natur Yesus yang  sedang ditunjukan di sini, dan perihal ini sama dengan:”Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku”- Ibrani 10:5  yang mana pada “Ia masuk ke dunia” dan “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku,” yang mana “Engkau menyediakan” menunjukan di dalam tubuh manusia Yesus yang penuh kelemahan itu, pada hakikatnya kehendak Allahlah yang memerintah pada tubuh jasmaninya, sebab dilahirkan oleh kehendak Allah bukan kehendak seorang pria melalui kelahiran dari Maria! Ini menunjukan bahwa keilahian pada Yesus tak sama sekali mengalami degradasi sehingga ia menjadi lebih rendah daripada Bapa pada jati diri Anak di hadapan Bapa. Apa yang membuat dia menjadi  terlihat benar-benar rendah, bukan karena ia mengalami penyusutan oleh berbaurnya keilahiannya dengan kemanusiaannya, tidak begitu. Karena di sini “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku” merupakan cara Allah memastikan bahwa Ia yang masuk ke dunia tetap sama sebagaimana sebelumnya dan untuk selamanya ia berada di dalam persekutuan kekal dengan Bapa, sementara ia telah menjadi manusia dan di bumi ini.


Itu sebabnya terkait ini penulis Ibrani menyatakan bahwa  Sang Firman menjadi manusia itu sebagai tindakan Allah yang seperti ini:

Ibrani 2:9  Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus


Akibat perendahan semacam ini maka kita melihat kehidupan Yesus yang mengalami pencobaan-pencobaan oleh iblis, melihat Yesus bersedih atau berduka, melihat Yesus yang berdoa dalam ratap tangis dan rasa penderitaan yang dahsyat dan pada puncaknya mati. Itu sebabnya 2:9 tersebut memiliki  puncak tujuan perendahan semacam ini:
2:9:… kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia


Ia mengalami penderitaan maut dan mengalami maut, tentu saja itu terjadi karena Ia telah menjadi atau Ia juga manusia; Ia dapat mengalami maut bagi semua manusia, tentu saja  itu terjadi karena Ia adalah Anak Allah.


Mengalami penderitaan maut memang dapat dipandang sebagai sebuah ketaatan yang luar biasa Yesus pada Bapa-Nya, tetapi ketaatan-Nya bukanlah hakikat untuk “Ia mengalami maut BAGI SEMUA MANUSIA,” tetapi  karena Ia adalah Anak Allah.


Ini harus diperhatikan seksama.




Tadi, saya telah menunjukan bahwa ketika anda membaca “Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan, harus dipahami bahwa demikianlah kehidupan-Nya di dunia sebagai yang hidup dalam pemerintahan Allah. Juga harus dikatakan: tak boleh diartikan sebagai manusia Yesus, faktanya, harus berjuang keras penuh ketaatan, penuh perjuangan yang tak mudah untuk memenuhi harapan Bapa untuk melayakan ke-Anak-an atau untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan bagi dirinya sendiri.  


Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan” jelas bukan perjuang dan upaua daging tetapi upaya pemerintahan Allah untuk bertindak; Yesus tidak mempersembahkan kesalehan berdasarkan ketekukanannya sehingga ia dapat dibebaskan dari maut. Apa yang dipersembahkan Yesus, secara tajam menunjukan, begitulah sesungguhnya Ia berelasi dengan Bapa, bahwa apa yang diperlukannya hanya mempersembahkan doa dan permohonan sementara kesalehannya adalah eksistensi kedirian Yesus Sang Mesias!

.

Berbicara ke-eksistensi-an diri Yesus yang semacam itu, juga dinyatakan oleh Ibrani 5:7 bahwa manusia Yesus telah dating dalam sebuah eksistensi yang pas dan berkuasa penuh untuk menggenapi maksud Bapa dalam ia, oleh maksud Bapa, menjadi manusia, yaitu:

“Ia masuk ke dunia… Engkau telah menyiapkan tubuh bagi-Ku.”


Apakah yang merupakan kemanusiaan pada tubuh Yesus atau manusia Yesus adalah kemanusiaan yang berada persekutuan dalam pemerintahan bersama Bapa. Jadi, walau diwarnai oleh corak kelemahannya sebagai manusia, Yesus pada kemanusiaanya telah dirancang oleh Bapa untuk mengerjakan apapun yang dikehendaki Bapa. Itu sebabnya mengenai tubuh kemanusiaan Yesus telah diungkapkan juga dalam sebuah kedivinitasan terkait apakah tujuan/destini/purpose tubuh Yesus itu: “Engkau telah menyiapkan tubuh bagi-Ku.”


Bahwa tujuan Allah dalam Ia “menyiapkan tubuh bagi-Ku”  adalah:

Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--. Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.- Ibrani 10:7-10


Pada tubuh Yesus  bersemayam kehendak Allah yang hanya bekerja kala ia mati atau masuk ke dalam pemerintahan maut! Inilah eksistensi kesalehan Yesus, bahwa kesalehan Yesus semata-mata lahir dari apakah tujuan Bapa atas tubuh manusia Yesus, yaitu: “pengudusan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.”


Karena kesalehan yang eksis sejak permulaan kemanusiaanya sebagaimana tubuh pasti memiliki organ-organ internal sebagaimana memiliki anggota-anggota, maka jenis kesalehan Yesus bukan dalam kategori manusia dalam dosa sedang berjuang untuk bertaat pada sabda-sabda Allah.


Bersambung ke Bagian 7


Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah

P O P U L A R - "Last 7 days"