0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (1N)



Oleh: Martin Simamora

Bacalah lebih dulu bagian 1M
Bagaimanakah wujud moralitas di dalam Perjanjian Lama itu? Tentu saja pertanyaan ini mengenai umat Israel atau umat Perjanjian Lama, masih terkait paragraf 12 yang berbunyi:


Dibanding dengan orang percaya, orang-orang yang tidak memiliki keselamatan dalam Yesus Kristus, mereka tidak akan mampu menyamai kebaikan moral orang percaya. Perhatikan, bagaimana tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama walaupun hebat-hebat dalam karya-karya iman mereka, tetapi mereka tidak akan dapat menyamai kebaikan moral Tuhan Yesus Kristus dan murid-murid-Nya yang mengikuti jejak-Nya.

Jika anda atau siapapun  membaca secara cermat Perjanjian Lama, maka kita akan menjumpai begitu banyak kode etik atau hukum  yang bersifat moral yang tertulis, mengatur hubungan antar manusia. Hukum tertulis  yang berkarakteristik pengajaran pada apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak boleh atau terlarang dilakukan; berkaitan apa yang benar dan apa yang salah dalam pandangan Allah. Untuk mengetahui seperti apakah wujud moral [dalam pengertian umum moral berkaitan dengan: perilaku yang benar atau sepatutnya, karakter, mengenai pembedaan antara yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari] saya akan menghadirkan sebuah contoh wujudnya dari kitab Musa:

Keluaran 22:2-31 (2)Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah; tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah. (3)Pencuri itu harus membayar ganti kerugian sepenuhnya; jika ia orang yang tak punya, ia harus dijual ganti apa yang dicurinya itu.(4) Jika yang dicurinya itu masih terdapat padanya dalam keadaan hidup, baik lembu, keledai atau domba, maka ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat.(5) Apabila seseorang menggembalakan ternaknya di ladangnya atau di kebun anggurnya dan ternak itu dibiarkannya berjalan lepas, sehingga makan habis ladang orang lain, maka ia harus memberikan hasil yang terbaik dari ladangnya sendiri atau hasil yang terbaik dari kebun anggurnya sebagai ganti kerugian.(6) Apabila ada api dinyalakan dan api itu menjilat semak duri, tetapi tumpukan gandum atau gandum yang belum dituai atau seluruh ladang itu ikut juga dimakan api, maka orang yang menyebabkan kebakaran itu harus membayar ganti kerugian sepenuhnya.(7) Apabila seseorang menitipkan kepada temannya uang atau barang, dan itu dicuri dari rumah orang itu, maka jika pencuri itu terdapat, ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat.(8) Jika pencuri itu tidak terdapat, maka tuan rumah harus pergi menghadap Allah untuk bersumpah, bahwa ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya.(9) Dalam tiap-tiap perkara pertengkaran harta, baik tentang seekor lembu, tentang seekor keledai, tentang seekor domba, tentang sehelai pakaian, baik tentang barang apapun yang kehilangan, kalau seorang mengatakan: Inilah kepunyaanku--maka perkara kedua orang itu harus dibawa ke hadapan Allah. Siapa yang dipersalahkan oleh Allah haruslah membayar kepada temannya ganti kerugian dua kali lipat.(10) Apabila seseorang menitipkan kepada temannya seekor keledai atau lembu atau seekor domba atau binatang apapun dan binatang itu mati, atau patah kakinya atau dihalau orang dengan kekerasan, dengan tidak ada orang yang melihatnya,(11) maka sumpah di hadapan TUHAN harus menentukan di antara kedua orang itu, apakah ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya, dan pemilik harus menerima sumpah itu, dan yang lain itu tidak usah membayar ganti kerugian.(12) Tetapi jika binatang itu benar-benar dicuri orang dari padanya, maka ia harus membayar ganti kerugian kepada pemilik.(13) Jika binatang itu benar-benar diterkam oleh binatang buas, maka ia harus membawanya sebagai bukti. Tidak usah ia membayar ganti binatang yang diterkam itu.(14) Apabila seseorang meminjam seekor binatang dari temannya, dan binatang itu patah kakinya atau mati, ketika pemiliknya tidak ada di situ, maka ia harus membayar ganti kerugian sepenuhnya.(15) Tetapi jika pemiliknya ada di situ, maka tidak usahlah ia membayar ganti kerugian. Jika binatang itu disewa, maka kerugian itu telah termasuk dalam sewa.(16) Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin.(17) Jika ayah perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya kepadanya, maka ia harus juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak mas kawin anak perawan."(18) Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup.(19) Siapapun yang tidur dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati.(20)Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas."(21) Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.(22) Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.(23) Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.(24) Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.(25) Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.(26) Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam,(27) sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."... (31) Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing."

Cukup panjang, dan sebenarnya saya ingin lebih panjang lagi. Namun karena tujuan saya bukan untuk secara khusus mengulas kode etik atau hukum yang mengandung moral terkait hubungan antarmanusia dan bertalian dengan kepemilikian, saya membatasi pembacaan Keluaran 22 itu, namun memadai untuk memberikan sebuah pemandu otentik pada apa yang sedang ditinjau saat ini. Apa yang terpenting, kita, saat ini, sedang membaca sebuah wujud otentik moralitas di dalam umat Perjanjian Lama.



Tuhan Sumber Moralitas Bagi Manusia, Sebab Tidak Ada Seorangpun Yang Baik Selain Allah
Pertanyaan maha penting: siapakah penulis hukum yang berisikan pengajaran moralitas tersebut? Apakah manusia, ataukah Allah? Jika anda membaca cuplikan di atas, jelas terlihat bahwa penulisnya adalah Allah sendiri. Dihadapannya, manusia itu adalah  wujud primitif kegelapan yang begitu membutuhkan Allah. Ketika saya menuliskan wujud primitif kegelapan, maka primitif, menunjukan betapa butanya manusia itu akan  bagaimana seharusnya berperilaku benar itu dalam pandangan Allah, sehingga Allah harus menuliskan hukum mengenai itu, menjadi terang bagi jiwa manusia yang begitu gelap dan busuk, perhatikan satu poin yang saya ambil dari Keluaran 22 di atas tersebut, :
Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah; tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah.”

Apakah yang lebih berharga di mata manusia, dan apakah yang lebih berharga di mata Allah? Bagi manusia, apa yang lebih berharga adalah harta benda, bukan nyawa. Sebaliknya bagi Allah, apa  yang lebih berharga adalah nyawa manusia.


Pada “jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah,” pada klausula ini jelas terlihat pembenaran oleh Allah terhadap tindakan melindungi kepemilikannya di dalam rumahnya sendiri, secara total, termasuk dengan cara kekerasan hingga yang menyebabkan kematian,jika ini yang terjadi, maka si pembunuh tidak berhutang nyawa. TETAPI klausula itu tidak  berakhir titik, sebab ada lagi klausula yang melindungi “hak hidup” si penjahat : “tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah.“ Tindakan membela diri hingga mengakibatkan kematian pada si penjahat, di mata Allah, tidak senantiasa benar dan dibenarkan oleh-Nya, sebab jikalau tindakan membela diri dalam cara kekerasan- [tentu saja kita harus menduga bahwa tindakan membela diri sedemikian terjadi oleh sebab sebuah situasi yang juga berpotensi membahayakan jiwanya atau anggota-anggota keluarganya]-sebab apabila tindaka bela diri  yang demikian terjadi setelah matahari terbit, maka korban perampokan yang membela dirinya  tetap diperhitungkan oleh Allah sebagai ‘berhutang darah.”
Allah memiliki keadilan [sebagai wujud bela kasih] terhadap penjahat itu, namun bukan sebagai orang merdeka namun dalam keadilan-Nya [ bacalahayat 3-4], bukan dalam keadilan menurut manusia. Keadilan Allah menerangi keprimitifan atau kepekatan kegelapan pada semua manusia. Baik pada penjahat dan korban kejahatan, kedua-duanya akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, termasuk membunuh. Si korban akan menjadi pembunuh dalam pembelaan dirinya kala dia melakukannya setelah matahari terbit.

Ini adalah kesempurnaan moral Allah, Allah yang kudus dan yang pengasih[ bacalah ayat 27 dan 31]. Pada poin ini dapat dipahami ketika Yesus berkata:

Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Teks firman Mat 5:48 ini didahului dengan sebuah pernyataan yang mencerminkan keadilan belas kasih Tuhan [sebagaimana telah ditunjukan-Nya pada Keluaran 22:2]:
Matius 5:43-48 (43)Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.(44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.(45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.(46) Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?(47) Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Klausula 2 pada  Keluaran 22, bukan saja memberi batasan  atau larangan Allah, bahwa pembunuhan sebagai mekanisme pembelaan diri tidak boleh dilakukan setelah matahari terbit, namun Allah memberikan pembelaan yang tak main-main terhadap si penjahat yang telah menjadi korban pembunuhan akibat kejahatannya sendiri! Allah menetapkan si korban bersalah, secara tak main-main: berhutang darah. Ini jenis hutang yang tak bisa anda bayarkan dalam cara yang otentik, sebab anda tak berkuasa untuk membunuh diri anda sendiri sehingga hutang darah itu menjadi lunas! Ini adalah pembelaan yang luar biasa oleh Allah dalam menegakan keadilan. Keadilan yang tak memandang bulu, Ia tak bisa disogok atau disuap seperti hakim-hakim masa kini :
Ulangan 10:17 Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;

[Roma 2:11-12 Sebab Allah tidak memandang bulu. Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.]


Ketika Allah menyatakan: “Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah; tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah.” Maka itu adalah sebuah KEADILAN YANG SEMPURNA, sebagai Allah yang kudus dan pengasih. Kasihnya kepada para penjahat ada dalam wujud keadilan: Allah membenarkan korban melakukan pembelaan diri hingga jika perlu membunuh; sekaligus Allah tidak membenarkan pembelaan diri hingga jika perlu membunuh manakala matahari terbit.



Moralitas Allah Pada Matahari Terbit Pada Semua Manusia, Kepada Yang Jahat dan Yang Baik
Ada keadilan Allah  bagi penjahat tersebut, ketika  matahari terbit maka membela diri yang berujung pada pembunuhan adalah terlarang [dalam hal ini Allah tidak melarang secara total pembelaan diri  total hingga terjadi pembunuhan, sebab sebelumnya  pada klausula pertama ayat 2 Keluaran 22, pembunuhan  membela diri sebelum matahari terbit, tidak diperhitungkan Allah padanya sebagai “berhutang nyawa”], ada kebaikan Allah pada penjahat tersebut kala matahari terbit. Ini hal yang sangat penting untuk diperhatikan sebab Yesus sendiri pernah berfirman: “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik.” Bapa mengasihi musuh saya dan anda, ini adalah kasih yang tak main-main sebab kasih semacam ini adalah kasih yang kudus, kasih yang tetap memperhitungkan orang jahat tetap sebagai orang jahat. Yesus tetap berkata “bagi orang yang jahat dan orang yang baik.” Manusia cenderung berbuat baik saja kepada yang baik pada dirinya, dan tentu saja orang mau berbuat baik kepada saya dan anda karena memiliki ekspektasi kebaikan-kebaikan dari diri anda dan saya. Manakala bukan, mustahil anda dapat baik atau sama baiknya, tanpa diferensiasi berbuat baik kepada  yang dahulu teman anda sebab pernah menipu anda. Jika demikian pola orang baik di dunia ini? Bahwa kebaikan manusia selalu memiliki motif   yang mengandung ekspektasi:
- Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?-Mat 5:46
- Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja-Mat 5:47


Maka bagi Yesus, sebetulnya, tidak pernah bisa ada dengan apa yang kita sebut orang baik dan kita jumpai memang pada kesehariannya adalah orang baik dalam standard Yesus; tidak ada orang baik pada pandangan Bapa, atau sebagaimana dikehendaki Yesus. Selama manusia memiliki motif berekspektasi yang demikian, maka tidak pernah ada orang baik  sebagaimana dikehendak Bapa. Ketika Bapa menerbitkan matahari pada orang jahat, apakah ekspektasi Bapa pada diri mereka? Tidak ada, sebab tetap mereka disebut “orang jahat.” Bukankah kita sendiri menilai matahari terbit sangat biasa, dan terlalu tinggi dan berlebihan untuk menjadi begitu kagum kepada Bapa, sebab itu pertanda Bapa begitu baik kepada baik orang yang jahat dan orang yang baik?? Malangnya kita semua, Yesus telah menilai tindakan Bapa-Nya itu begitu tinggi dan mulia. Pada faktanya, tak satupun dari saya dan anda secara otentik memiliki nilai mulia kebaikan yang Bapa kehendaki semacam ini. Sehingga dapat dipahami ketika Yesus berkata:


Markus 10:17-18”... "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"(18) Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.


Tak Seorang pun yang baik selain dari pada Allah Saja [bacalah bagian 1L]! Ini adalah  pernyataan yang menyingkapkan bahwa manusia tidak memiliki moralitas, sebagaimana yang disangkakan oleh manusia. Manusia tidak memiliki sumber itu pada dirinya sendiri, selain Allah sendiri yang harus menuliskannya bagi manusia, sebagaimana kita telah melihatnya pada cuplikan Keluaran 22 di atas tadi. Bahkan Keluaran 22 tadi telah mendemonstrasikan bahwa Allah adalah mata air moralitas peradaban di dunia ini:
-Allah pembenar  atas sebuah pembunuhan sebagai upaya pembelaan diri, sekaligus hakim yang mempersalahkan upaya semacam itu, manakala terjadi saat matahari terbit, ayat 2
-Harus menghadap Allah , ayat 8
-Hanya Allah yang bisa mempersalahkan sebuah kesalahan dalam kasus kriminal, ayat 9
-Allah mendengarkan  teriak ketidakadilan, dan Dia sendiri yang menumpahkan murka sebagai  penghukuman yang menghadirkan pembunuhan bagi sumber ketidakadilan, bagi para pelaku kejahatan itu, ayat 23-24 [bandingkan dengan Roma 12:19]
Allah berlaku kasih terhadap penjahat, tanpa melenyapkan keadilan dan tanpa menghapuskan perhitungan-Nya! Allah yang menuliskan atau mengajarkan moralitas hukum pada Keluaran 22, adalah Allah yang kudus dan Allah yang pengasih:

-Sebab aku ini pengasih, sehingga Allah bangkit mendengarkan seruan orang-orang yang tertindas, ayat 27. Sehingga oleh Kasih-Nya yang dahsyat itu, maka pembelaan-Nya sungguh keras:

Keluaran 22:23-24 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Allah yang memiliki kasih pada penjahat dalam Keluaran 22:2, bahkan menegakan keadilan yang sempurna bagi penjahat tersebut, tidak menghapuskan fakta bahwa penjahat adalah penjahat di mata-Nya dan murka-Nya adalah yang tersempurna dan teradil bagi mereka. Bukankah  pembalasan yang demikian adalah hak-Nya?
Roma 12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

Ulangan 32:35 Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka.


Manusia tidak memiliki moralitas apapun, sebab memang  sumber moral manusia terdapat pada apa yang telah dituliskan oleh Allah, atau Allahlah penulis moralitas bagi manusia, dan dalam setiap sumber moralitas yang Allah tuliskan bagi manusia, senantiasa mengandung berbagai kejahatan  yang telah dinantikan oleh hukum Allah, tersebut. Hukum moralitas Allah bagi manusia, senantiasa mengantisipasi dua hal negatif: a.kejahatan manusia dan b.hukuman atau keadilan Allah atas kejahatan dan pelakunya. Tak pernah sedikitpun ada ruang bagi manusia untuk secara independen dapat menghakimi. Saat manusia mengadili sebuah perkara, maka manusia itu harus menghadap Allah. Allah adalah penentunya!

Hal ini, Allah yang menuliskan hukum moral bagi manusia, telah menghadirkan bagaimanakah Allah yang kasih itu? A.Bahwa Dia adalah kudus dan adil.B. Bahwa karena dia Allah yang kasih sekaligus kudus dan adil maka Dia dapat bangkit  untuk memuntahkan murkanya  tanpa ampun terhadap lawan-lawan kasih-Nya, keadilan-Nya, dan kekudusan-Nya.


Matahari terbit baik bagi  orang jahat dan orang baik, menegaskan bahwa kebaikannya -Nya tak main-main! Tak main-main, sebab tak boleh sedikit saja ada yang boleh menganggap remeh  kebaikan Allah itu. Baik orang yang jahat dan orang yang baik, sama-sama membutuhkan kebaikan yang sempurna dan sekaligus tidak boleh memandang sepi kebaikan Allah itu. Ini adalah kebaikan yang tak dapat dibengkokan dengan  berkarung-karung lembaran dolar AS dan rupiah. Ketika Allah menerbitkan matahari, juga, bagi penjahat, telah menunjukan bahwa kebaikan Allah tak pernah dapat dikalahkan oleh kejahatan. Yesus berkata dan memerintahkan, demikian jugalah seharusnya setiap murid-muridnya:
Matius 5:46-47 .(46) Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?(47) Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 


Anda dan saya diminta untuk mengasihi orang yang tak mengasihimu, sekualitas  tindakanmu kepada yang mengasihimu! Seperti halnya Bapa, yang senantiasa, yang setia, tak pernah alpa, tak pernah sedikitpun berniat untuk tidak melakukannya disepanjang abad, disepanjang sejarah peradaban manusia, disepanjang penumpahan-penumpahan darah antar bangsa, disepanjang pembangkangan-pembangkangan manusia terhadap dirinya, disepanjang murkanya yang berapi-api memusnahkan setiap lawan-lawan-Nya, IA  TETAP MENERBITKAN MATAHARI:
Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.- Matius 5:45

Dapatkah anda dan saya memenuhi tuntutan Yesus? Sebuah tuntutan yang akan  segera  mengiritasi secara perih setiap kemuliaan-kemuliaan dirimu, bahwa anda sudah  berjuang untuk mencapai seperti apa yang dimintakan Yesus.


Punyakah anda moralitas matahari terbit yang semacam ini? Maukah anda menerbitkan mataharimu kepada seorang penjahat, sebagaimana anda menerbitkannya kepada seorang yang baik kepada anda? Hanya jika saya memiliki  apa yang dimiliki oleh Kristus, maka  saya dan anda dapat melakukan hal  yang sukar ini. Bapa berkuasa untuk memerintahkan matahari terbit, sementara kita tidak dapat begitu saja memerintah diri kita untuk menerbitkan mataharimu secara sukacita kepada orang yang jahat kepada dirimu dan diri saya.


Sehingga ini bukan moralitas belaka. Ini mengenai siapa saya dan dan anda terhadap Yesus dan Bapa-Nya! Ini adalah tindakan kasih Allah yang diminta oleh Yesus kepada kita untuk dimiliki: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. - Matius 5:43-44!


Bagaimana praktiknya pada perintah yang sukar pada Matius 5:43-44? Sumbernya ada pada apa yang telah diteladankan oleh: Bapa. Bapa telah memberikan praktik: MENERBITKAN MATAHARI tak  hanya pada orang baik, namun juga  yang jahat. Matahari terbit senantiasa untuk menandai hari-hari yang baru, dan setiap kali matahari terbit, juga terkandung berkat baru  bagi penjahat. Bagaimana saya dan anda?? [dengan mengingat bahwa dalam hal ini, Bapa tidak melenyapkan status mereka sebagai penjahat, dan tentu saja mereka sungguh berbeda dengan orang percaya yang memiliki berkat yang jauh lebih mulia: menjadi anak-anak Bapa, jika kita dapat mengasihi musuh kita]. Inilah sentral perintah:“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." 


Bahwa kita harus menjadikan kesempurnaan kasih Bapa [menerbitkan matahari baik kepada yang jahat dan yang baik], sebagai kehidupan kasih kita. Sebagaimana itu adalah keseharian Bapa [menerbitkan matahari], maka demikian jugalah keseharian kita untuk mengenakan kasih yang ada pada diri Bapa.


Sebagaimana manusia tak memiliki sumber moral pada dirinya, seperti pada Keluaran 22, demikian juga manusia tak pernah memiliki kasih pada dirinya sendiri, harus mengacu kepada Bapa, bahkan harus mutlak memiliki Bapa, agar sanggup melakukan: bagaimanakah kasih yang dikehendaki-Nya. Ia Sempurna dalam kasih-Nya, mencakup segenap mahkluk, tanpa kehilangan keadilan dan kekudusannya yang sangat membenci kejahatan dan pelaku dosa [bandingkan dengan Ibrani 10:30-31, Roma 12:19,  1Tes 4:6, 1 Tim 1:20, 2 Tim 4:14, Roma 2:6]


Apakah ada satu saja tokoh-tokoh Perjanjian Lama, yang sukses memiliki kebenaran karena telah memenuhit tuntutan Tuhan yang sedemikian?


Tokoh-Tokoh Perjanjian Lama Dibenarkan Bukan Karena Sukses Memenuhi Tuntutan Hukum Atau Berprestasi Dalam Moralitas, Tetapi Karena Berani Melangkah Dalam Kehendak Allah Didalam Iman Mereka

Berikut ini, saya akan sajikan sejumlah daftar tokoh Perjanjian Lama yang memiliki kebenaran, bukan karena apa yang telah diperbuatnya, namun karena dia menerima pembenaran dari Allah:
-Habel:
Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. – Ibrani 11:4

-Henokh
Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.- Ibrani 11:5

-Nuh
Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. –Ibrani 11:7

-Abraham, Ishak dan Yakub
Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.- Ibrani 11:8-10

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. – Ibrani 11:17-19

Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau. Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya. Ibrani 11:20-21

-Sara
Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Ibrani 11:11

-Yusuf
Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya. – Ibrani 11:22

-Musa
Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja. Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah [NIV: He regarded disgrace for the sake of Christ as of greater value than the treasures of Egypt; KJ: Esteeming the reproach of Christ greater riches than the treasures in Egypt; Holman: For he considered the reproach because of the Messiah to be greater wealth than the treasures of Egypt] Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. Karena iman maka ia mengadakan Paskah dan pemercikan darah, supaya pembinasa anak-anak sulung jangan menyentuh mereka. – Ibrani 11:23-28

-Bangsa Israel
Karena iman maka mereka telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga. Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya. – Ibrani 11:29-30

-Rahab
Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. – Ibrani 11:31

-Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, PARA Nabi
Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.

Ketika membicarakan Musa, apakah yang menonjol dan penting untuk dicatat pada dirinya? Moralitasnyakah? Atau, apakah Musa dicatat dalam epistel Ibrani terkait peristiwa dahsyat di gunung Sinai sebagaimana dicatat Keluaran 19-20? Bahwa  Musa berprestasi sukses menggenapi tuntutan-tuntutan hukum kudus Allah? Adakah Musa pernah dicatat sebagai orang yang unggul dalam memenuhi tuntutan moral taurat? Tidak! Bahkan, epistel Ibrani mencatatkan poin  tunggal: “karena iman” lebih dari satu kali bagi tokoh penting taurat ini! Bahkan terkait Mesias! Epsitel Ibrani, terkait Musa, mencatatkan Musa dengan demikian ketika meninggalkan Mesir, telah menganggap sang Mesias lebih tinggi daripada Mesir. Mesias dalam sejarah Musa?? [bandingkan perihal semacam ini dengan bagian 1M].

Adakah moralitas pada diri Musa yang layak untuk direkam sebagai kemuliaan pada dirinya? Tidak ada! Musa bahkan meniadakan sama sekali peran dirinya dalam sejarah keluarnya bangsa Israel dari Mesir, sebagaimana dilantunkannya dalam  pujian:

Keluaran 15:1-21
Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN yang berbunyi: "Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia. TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya. Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut; para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau. Samudera raya menutupi mereka; ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu. Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, TUHAN, menghancurkan musuh. Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menentang Engkau; Engkau melepaskan api murka-Mu, yang memakan mereka sebagai tunggul gandum. .... (13) Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.
Tidak ada pujian bagi Musa dari mulutnya dan dari segenap bangsa Israel yang dipimpinya, terkait usaha kerasnya, ketekunannya, kegigihannya, kesungguhannya dalam menjalankan kehendak Allah! Tidak ada sama sekali, yang ada hanya Allah dan selalu Allah saja yang ada.

Demikian juga pada bangsa Israel, para hakim dan para nabi di Perjanjian Lama, semua telah dikatakan dan dicatat “karena iman.” Bukan karena melakukan taurat sehingga nama mereka tercatat di dalam epistel Ibrani ini. Prestasi moral, tidak ada, sebab apa yang ada adalah prestasi buruk, mana kala kesukaran melanda (Keluaran 15:24, 16:2-3).

Keluaran 16:2-3 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."

[Mereka berpikir Musa membawa mereka kepada kebebasan yang membahagiakan dan sempurna]

Petrus, murid Yesus pernah menghadapi hal semacam Keluaran 16:2-3, pada:
Matius 16:21-24 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Moralitas manusia yang terluhur sekalipun dalam pandangan manusia, tak  lebih daripada moralitas yang disuntikan oleh iblis, dan itu sangat cukup untuk membuat manusia merasa jauh lebih bermoral, tahu sekali mana yang salah dan benar! Dibandingkan dengan apa yang telah Allah tuliskan di dalam kitab suci! Dan itu datang dari iblis. Hanya Yesus yang sanggup  menyembuhkan penyakit moralitas manusia “baik” itu. Manusia yang merasa bermoral-tahu mana yang baik dan benar, tak tahu bahwa itu adalah moralitas Setan.


Moralitas manusia yang seperti apakah yang sanggup mengenali kehendak Allah yang moralnya telah kita saksikan dalam Keluaran 22 dan pada Matius 5? Tidak ada, juga tidak pada murid-murid Yesus yang berkeseharian dengan dan dimuridkan dalam sebuah keotentikan oleh Yesus, terbukti membutuhkan Yesus sebagai sumber moralitas terkudus: “Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis .“ Hanya jika Kristus mengenyahkan Iblis beserta moralitas baik yang sangat satanik itu saja, maka Petrus selamat! Saya  dapat membayangkan jika moralitas satanik itu tidak dienyahkan oleh Yesus, maka Petrus akan tetap sebagai agen iblis yang menantang Yesus, sebagaimana Yudas Iskariot!


Dan senantisa Petrus akan selalu bergantung kepada Yesus, sebagai sumber moralitas bagi dirinya. Dirinya tidak memiliki itu, dan akan senantiasa salah dalam pikiran dan tindakanya, sekalipun dunia akan memuji tindakan pembelaan pada gurunya:

Yohanes 18:10-11 Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"


Satu kali lagi Petrus menunjukan dirinya membutuhkan Yesus dalam sebuah kesenantiasaan. Moralitas  kemanusiaannya tak sanggup memahami Kehendak Allah. Saya bisa membayangkan jikalau Yesus, sekali lagi, tidak menganugerahkan moralitas-Nya pada Petrus, sebuah tindakan yang akan mencegah Petrus untuk meneruskan moralitas iblisnya, sebuah moralitas atau karakter atau pengetahuan  mana yang baik dan benar, yang benar-benar  busuk dalam balutan perbuatan baik yang memang baik dalam pandangan manusia!

Petrus yang bermoral dan berkewajiban untuk menegakan kebenaran menurut pikirannya, pada dasarnya manusia yang tidak memiliki moralitas kudus pada dirinya. Peristiwa kelabu dan ketakberdayaan segera saja menjadilan dirinya bertuankan pada dirinya dan bukan Yesus, tak hanya yang telah lalu, tetapi pada masa yang akan datang. Masa depan moralitasnya adalah busuk, hanya karena Yesus saja, Petrus selamat dari moralitas busuknya:
Matius 26:34-35 Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga.

Dan itu terbukti:
Matius 26:69-75  Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu." Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud." Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu." Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Moralitas pada diri Petrus hanyalah sampah, tak berdaya ketika Setan mengelabuinya, dan tak berdaya ketika dagingnya enggan untuk tunduk pada kehendak Allah. Itu adalah natur Petrus pada moralitasnya, bahwa kedekatannya pada Yesus tidak bisa diperlakukan sebagai Petrus yang independen pada moralnya. Ini juga bukan seolah Petrus memiliki setengah nilai mulia moralitas pada dirinya, dan kemudian Yesus menambahkannya sehingga mulia, tidak.


Perhatikan, Yesus MENETAPKAN LEBIH DAHULU SEBUAH DOSA  YANG PASTI DIPERBUAT OLEH PETRUS di masa yang akan datang.  Tentang bagaimana busuknya moralitas Petrus. Petrus sendiri membenarkan predestinasi kebusukan moralitasnya: “Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.”

Apakah pada predestinasi perbuatan dosa ini, Petrus dirobotkan dan dipaksakan? Apakah Yesus menyuntikan sebuah gagasan dosa dalam diri Petrus?Tidak, perhatikan bagaimana Petrus secara alamiah memang menggenapinya, perhatikan bagaimana moralitas busuk Petrus menggenapi predestinasi Yesus bahwa kelak dia akan menyangkali Yesus:
-Tetapi ia menyangkalinya didepan semua orang
-Ia menyangkalinya dengan bersumpah
-Mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah

Poin-poin ini menunjukan kebebasan dia di dalam moralitas busuknya untuk menyangkali Yesus. Bahwa Predestinasi Yesus dalam kesempatan kali ini, terjadi sebab Yesus memang membiarkannya dalam kehendaknya [Yesus}, dan mengijinkanya dalam ketetapannya [Yesus]. Sangat berbeda ketika Yesus mencegahnya dalam kehendaknya dengan berkata: enyahlah Iblis!

Saya menyorot Petrus, sebab dia adalah murid yang sangat menonjol dalam mempertontonkan moralitas seorang murid yang berusaha berdedikasi penuh dan menjaga martabat gurunya. Namun sesungguhnya, bukan hanya Petrus yang moralitasnya  bobrok, sebab pada dasarnya, semua murid pergi meninggalkan Yesus, tak mau diketahui sebagai yang dekat dengan Yesus, sebagaimana Petrus:

Markus 14:48-50 Kata Yesus kepada mereka: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Moralitas seperti apakah ini, jika  pada akhir kehidupan  Yesus, mereka semua meninggalkan dan melarikan diri? Apakah moralitas para  murid Yesus lebih baik daripada para tokoh Perjanjian Lama? Jelas tidak, kedua era ini menunjukan satu poin penting: tak ada satupun manusia  yang memiliki  moralitas, sebuah moralitas yang tak dapat diperdayai oleh iblis, ancaman dan ketakutan. Jika Bapa adalah penulis hukum moral pada Keluaran 22, maka demikian juga dalam Perjanjian Baru, Yesus adalah penulis moral bagi Petrus dan para murid yang lain.


Apakah yang  dapat diperhitungkan kepada para murid Perjanjian Baru? Hanya Yesus saja yang membuat mereka memiliki sebuah nilai mulia, Yesus masih percaya sekalipun sudah terbukti sebelumnya mereka adalah murid-murid yang sangat-sangat tidak loyal dan bermoral buruk dengan demikian, namun Yesus masih menilai mereka sebagai murid-muridnya:

Lukas 24:13-21 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

Seperti kebanyakan orang-orang Yahudi, pendamba penggenapan nubuatan agung akan datangnya seorang Mesias pembebas bangsanya [yang kala itu dalam penguasaan Romawi], maka demikian juga para murid menyimpan kerinduan ini. Kekecewaan pun membersit dalam didalam diri mereka, tak tersembunyikan dan tak tertahankan, meluncur dari kedalaman kalbu, disampaikan kepada dia yang tak dapat mereka kenali! Apakah Yesus setelah mendengarkan realitas demikian, akan meninggalkan mereka? Yesus sudah tahu sejak Petrus, bahwa pengharapan Yahudi adalah mesias yang menjadi raja, bukan yang disalibkan. Itulah moralitas religiusitas mereka, yang mana pada setiap ekspresi ketakpercayaan dan pencegahan penyaliban Yesus, akan dinilai Yesus sebagai sebuah aksi yang berbapakan Iblis[Yohanes 8:42-47]. Pada dasarnya, para murid masih sukar untuk percaya bahwa perilaku Yesus yang mendatangi kematian adalah kehendak Bapanya, bahwa dia melakukan kehendak Bapanya. Barang siapa yang tak percaya dan meragukan perkataannya, oleh Yesus dikatakan: bapakmu adalah Iblis [Yohanes 8:44-45]. Iblispun berjuang menyerongkan Petrus, dan Yesus mengusirnya.


Apa yang hendak saya katakan adalah: berbicara moralitas, maka pada dasarnya  bukan saja Petrus, namun semua murid memiliki moralitas yang bersumber dari Iblis. Yesus bahkan kala di Emaus sedang kembali untuk ke sekian kali menghadapi realita ini, namun dia tidak kecewa sebab dia memang menghendaki mereka sebagaimana Bapa menghendaki mereka untuk diselamatkan [Yohanes 6:37,39; 10:28; 17:2,9,24]. Yesus aktif bekerja mendatangi mereka, bahkan pasca kebangkitannya untuk melakukan hal yang sama, menjaga mereka dari kuasa moralitas Iblis yang berusaha mengahalangi [Lukas 24:16] mereka untuk dapat memandang kebenaran dari Yesus. Hanya Yesus yang dapat menyingkirkan penghalang itu [Lukas 24:45] bahwa apa yang membuat mereka kecewa  pada dasarnya beranjak dari moralitas iblis yang memandang kematian Mesias adalah sebuah kesalahan fatal; Yesus menyatakan bahwa memang itulah yang diberitakan oleh segenap kitab suci [Lukas 24: 25-27,44]. Moralitas para murid sesungguhnya mati dan akan senantiasa berlawanan dengan moralitas Allah: Allah menghendaki kematian Yesus harus terjadi! Bahwa itu adalah rencana Allah yang telah dicatatkan sejak era Perjanjian Lama. Moralitas manusia akan senantiasa gagal untuk memandang dan mengenali bagaimana seharusnya seorang mesias membebaskan Israel:

Yohanes 8:32,36 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

Yesus Pembebas Israel, namun ditangkap dan dihukum mati. Bagaimana bisa menjadi pembebas Israel?? Moralitas religiusitas para murid berupaya mencegahnya, bahkan  hingga menggunakan pedang, untuk melindungi Mesias dari kematian. Pada Bapa, sebaliknya, memang Mesias harus mati agar Mesias benar-benar menjadi pembebas, melalui kematiannya, sehingga membebaskan dari kuasa dosa dan menjadi anak-anak Bapa!


Sehingga, ketika pendeta Erastus Sabdono  menyatakan:” Perhatikan, bagaimana tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama walaupun hebat-hebat dalam karya-karya iman mereka, tetapi mereka tidak akan dapat menyamai kebaikan moral Tuhan Yesus Kristus dan murid-murid-Nya,”  adalah sebuah kesalahan teramat fatal. Membandingkan moralitas  tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama dengan para murid Yesus,  justru kita melihat satu hal yang sama: tidak ada yang namanya moralitas seperti yang sedang diajarkan oleh pendeta Erastus, sebaliknya, Allah senantiasa secara aktif menjadi sumber moralitas bagi  orang percaya, sebab tidak ada satu mata air apapun pada diri manusia yang dapat disebut sebagai moralitas itu sendiri.


                                                                  AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN

P O P U L A R - "Last 7 days"