F O K U S

Nabi Daud Tentang Siapakah Kristus

Ia Adalah Seorang Nabi Dan Ia Telah   Melihat Ke Depan Dan Telah Berbicara Tentang Kebangkitan Mesias Oleh: Blogger Martin Simamora ...

0 Pemelintiran Ayat (4) : Wahyu 3:20 dan Tawaran Keselamatan


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D
Esai ini merupakan  bagian dari  sebuah serial esai-esai singkat   dengan topik “Pemelintiran Ayat.” Tujuan dari esai-esai yang sangat singkat ini untuk menentang interpretasi-interpretasi tertentu pada kitab suci yang telah menjadi popular,  yang sesungguhnya hanya memiliki atau tidak memiliki dasar.

Esai-esai terdahulu : esai 1, esai 2, esai 3


Wahyu 3:20.  Setiap orang mengenal teks ini. Ayat ini merupakan ayat yang kita gunakan untuk “menutup/mengakhiri” ketika menuntun seseorang kepada Tuhan Yesus. Gambar yang kita lukiskan adalah: jika seseorang mengundang Yesus  masuk kedalam hatinya, mereka akan diselamatkan. Satu-satunya permasalahan dengan hal ini adalah: ayat yang dimaksud tidak sama sekali sedang membicarakan apa  yang sedang dimaksudkan. Teks ini (pada bahasa asli Perjanjian Baru) dibaca :
jIdouV e{sthka ejpiV thVn quvran kaiV krouvw: ejavn ti" ajkouvsh/ th'" fwnh'" mou kaiV ajnoivxh/ thVn quvran, kaiV eijseleuvsomai proV" aujtoVn kaiV deipnhvsw met j aujtou' kaiV aujtoV" met j ejmou' (“Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk. Jika  siapapun mendengar suaraku dan membuka pintu, Aku akan datang  kepada/mendatangi ( come in to) dia dan akan makan malam bersama dengan dia dan dia [akan makan malam] bersamaku”).  Frasa krusial untuk tujuan-tujuan kita adalah “Aku akan datang kepada  dia.” Teks ini kerap diambil sebagai sebuah teks tawaran keselamatan bagi orang berdosa yang terhilang. Pandangan semacam  ini didasarkan pada dua asumsi: (1) bahwa orang-orang Loadika, atau setidaknya beberapa dari mereka, sungguh-sungguh telah terhilang, dan (2) bahwa  eijseleuvsomai prov" bermakna "masuk kedalam (come into)."

0 Pemelintiran Ayat (3) : Apakah Mengasihi Diri Sendiri Biblikal? –Matius 22:39

Bacalah rangkaian esai-esai pendek sebelumnya : esai 1, esai 2


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D

Matius 22:39 sederhananya dibaca,” Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dalam komunitas-komunitas Kristen populer ayat ini kerap ditampilkan sebgai sebuah teks yang mengajarkan bahwa kita diperintahkan untuk mengasihi diri kita sendiri. Dengan demikian makna tersirat ayat ini adalah, ”Anda harus mengasihi sesama seperti  halnya anda seharusnya mengasihi dirimu sendiri.” Pandangan semacam ini nampaknya berasal dari para psikolog sekuler (yang mengajarkan aktualisasi diri sendiri sebagai peringkat teratas dalam rangkaian target-target seseorang). Dari sanalah kelihatannya menjadi  jalan  untuk masuk kedalam  risalah-risalah atau paparan-paparan psikologi Kristen.


Tujuan kita dalam esai yang singkat ini bukan untuk melacak sejarah interpretasi semacam ini, tetapi untuk mengajukan argumentasi bahwa interpretasi semacam ini keliru. Membongkar atau mempreteli makna ayat tersebut menghasilkan terjemahan yang diluaskan sebagai berikut: ”Kamu harus mengasihi sesama sebagaimana  kamu telah  mengasihi dirimu sendiri.” Jadi, mengasihi diri sendiri merupakan asumsi dalam teks ini, bukan perintah.
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9