Oleh: Martin Simamora
Predestinasi dan Kelahiran Sang
Juru Selamat
Ketika
ada pendapat yang mengatakan bahwa
predestinasi membuat manusia tidak perlu bertindak yang sepatutnya, misal dalam
hal ini tidak perlu berdoa dan bertindak
apapun juga sewajarnya seorang manusia; maka saya berpendapat itu adalah asumsi
yang tidak tepat sama sekali kala itu diujikan pada Kristus sendiri, pada pertama-tama. Mengatakan pada pertama-tama sebab Yesus adalah
demonstrasi terakbar perihal semacam ini. Ini memang satu hal yang tidak mudah bagi manusia untuk diterima
seperti makanan yang lezat, kelihatannya
memang inilah naturnya, bahkan Yesus sekalipun kala memperkatakan tak lantas
membuat para murid tunduk tanpa rejeksi atas perkataan yang menentukan sebuah
peristiwa mendatang dan kejadian tanpa koreksi. Sebuah dialog sangat berharga
menjadi dasar artikel sederhana ini dituliskan.
Sekarang mari kita aplikasikan asumsi di atas pada diri Yesus sendiri, sebab dia sendiri ada 3 kali mempredestinasikan dirinya untuk mati dimana 3 kali juga, ia telah membuat murid-muridnya cemas dengan caranya yang dapat disalahmengerti sebagai fatalisme, dan pada akhirnya tak pernah secara jitu memahami terminologi yang sangat erat dengan kedaulatan Tuhan dalam mewujudkan kasihnya yang akbar itu kepada manusia di bumi
Mari, sebagai jembatan emas untuk memahaminya, kita sangat perlu memandang 3 predestinasi itu dan apa reaksi para murid secara cermat:

