F O K U S

Nabi Daud Tentang Siapakah Kristus

Ia Adalah Seorang Nabi Dan Ia Telah   Melihat Ke Depan Dan Telah Berbicara Tentang Kebangkitan Mesias Oleh: Blogger Martin Simamora ...

0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (1B)



Oleh: Martin Simamora


Anda sangat dianjurkan untuk membaca bagian 1A


Sekarang, mari kita memperhatikan paragraf 6, paragraf 7 dan paragraf 8:
Paragraf 6: Hak istimewa ini tidak terdapat dalam ajaran dan agama manapun. Oleh sebab hak tersebut hanya ada melalui karya salib Kristus, maka tidak akan ada keselamatan di luar Kristus dan di luar Kristen. Tegasnya, tidak ada pemulihan karakter atau gambar diri seperti yang Allah kehendaki sesuai rancangan-Nya semula di luar Kristus dan di luar agama Kristen. Lagi pula di dalam agama manapun tidak ada sosok Yesus yang menjadi prototype yang harus diteladani. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar sosok Yesus sebagai “role model” nya. Justru sosok inilah yang menjadi “pokok keselamatan” bagi mereka yang mau taat kepada-Nya (Ibr 5:9).

Paragraf 7:Ketiadaan keselamatan dalam agama lain bukan hanya karena tidak ada penebusan oleh darah Yesus Kristus, tetapi juga karena tidak ada acuan atau standar kesempurnaan karakter yang harus dicapai. Dengan demikian kalau ada orang Kristen yang merasa dan mengaku memiliki penebusan dalam Yesus Kristus tetapi tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai acuan dan standar kesempurnaan moral yang harus dicapai, maka ia tidak memiliki dan mengalami keselamatan yang sejati. Jadi, jangan terkejut kalau suatu hari nanti orang-orang Kristen seperti itu disamakan dengan orang yang tidak mengenal Allah (Mat 24:45-51; 7:21-23).

Paragraf 8: Berkenaan dengan hal tersebut kita tidak boleh menggunakan pola keselamatan untuk orang yang mendengar Injil dengan orang yang tidak mendengar Injil. Pola keselamatan yang ditawarkan kepada orang yang mendengar Injil dan yang tidak mendengar Injil berbeda. Demikian pula dengan kualitas keselamatan yang dimiliki masing-masing. Pengertian keselamatannya pun juga berbeda. Bagi mereka yang mendengar Injil keselamatan ditentukan oleh sikapnya terhadap karya Kristus, tetapi mereka yang tidak mendengar Injil ditentukan oleh kebaikan hati nuraninya (Rom 2:11-16). Moral orang yang tidak mendengar Injil dituntut untuk baik sesuai dengan torat (baik yang tersurat di atas perkamen atau loh batu maupun yang tersurat di dalam hati), tetapi bagi orang yang mendengar Injil dan menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, mereka dituntut untuk sempurna seperti Bapa.

0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (1A)



Oleh: Martin Simamora



Pengantar
Sebagaimana yang telah dijadwalkan, kini saya akan menyajikan sebuah tinjauan terhadap sebuah pengajaran, yaitu pengajaran “Keselamatan Diluar Kristen”  yang dapat juga ditemui dan dibaca di situs Gereja GBI Rhema "GBI RHEMA Church" yang beralamat di Australia. Dalam situs tersebut terdapat 12 bagian (untuk kemudahan, anda dapat membacanya pada tautan ini) mengenai pengajaran tersebut. Tinjauan ini memiliki tujuan tunggal untuk mengetahui apakah Alkitab memang mendukung pengajaran yang hendak menyatakan sebuah kemungkinan adanya keselamatan di luar Kristen? Dengan kata lain apakah pengajaran yang diusung oleh Pdt.Dr Erastus Sabdono tersebut selaras dengan apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus dan oleh para rasul  sebagaimana yang tercatat di dalam Alkitab?

Sebelum saya memulainya, terlebih dahulu hendak menyajikan sejumlah refleksi dengan mengutip pandangan  dua teolog Kristen terkait  subyek bahasan kali ini. Dua pandangan ini  merupakan kaca mata kerangka berpikir dalam meninjau pengajaran tersebut.


It is in this discourse that we find the sixth “I AM” statement: “I am the way, the truth, and the life” (John 14:6). This particular statement has three different attributes, two of which we have explored already in the past few days. Yesterday, we saw that Jesus is the source and power of life. This is a clear affirmation of His own deity because any reader of the Bible knows that only God is the source and power of life. The “I AM” statement we find in 14:6 reinforces the fact of Jesus’ equality with God when Jesus claims again to be the Life.


Likewise, we have also seen that Jesus is the only way to the Father. He spoke of this before when He called Himself the Door of the Sheep, and reiterates it again in 14:6 when He calls Himself the Way. This statement was offensive to the pluralistic culture of that day and remains so even in the twenty first century.

Ada di dalam  ulasan berseri ini bahwa kita menemukan  “pernyataan AKU ADALAH” yang keenam: “Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6). Pernyataan pokok ini memiliki tiga atribut berbeda, dua diantaranya telah kita eksplorasi dalam beberapa hari lalu. Kemarin, kita telah melihat bahwa Yesus adalah sumber dan kuasa hidup. Ini adalah sebuah afirmasi yang jernih akan keilahiannya karena siapapun pembaca Alkitab mengetahui bahwa hanya Allah  sumber dan kuasa hidup. Pernyataan “AKU ADALAH” yang kita jumpai dalam 14:6 mengokohkan fakta kesetaraan Yesus dengan Allah ketika Yesus mengklaim  menjadi sang Hidup.


Demikian juga, kita telah melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Bapa. Dia telah mengatakan hal ini sebelum saat dia menyebut dirinya sendiri Sang Pintu Domba, dan menyatakannya kembali dalam 14:6 kala dia telah menyebut dirinya sendiri Sang Jalan. Pernyataan ini  telah menyerang budaya pluralistik pada  waktu itu dan bahkan masih tetap demikian dalam abad ke dua puluh satu. 
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9