Oleh : Dr. RC Sproul
Meneropong
Hal Buruk Dalam Tujuan-Tujuan Allah
“Mengapa?” Pertanyaan
sederhana ini dijejali dengan asumsi-asumsi
yang disebut “teleology”oleh para filosofer.
Teleology, yang berasal dari kata Yunani untuk “sasaran yang hendak dicapai”
atau “arah
yang dibidik” (telos), adalah studi tujuan. Pertanyaan-pertanyan “mengapa”
adalah pertanyaan-pertanyaan tujuan. Kita mencari alasan- alasan untuk hal-hal yang terjadi sebagaimana adanya.
Mengapa hujan turun? Mengapa bumi berputar pada porosnya? Mengapa kamu berkata
demikian?
Ketika kita mengangkat pertanyaan tujuan,
kita sedang memedulikan sasaran-sasaran, maksud-maksud, dan tujuan-tujuan.
Semua istilah ini menyiratkan intensi
atau kehendak. Kata-kata ini membawa
makna ketimbang ketidakbermaknaan. Meskipun upaya-upaya para filosofer nihilis untuk menyangkali bahwa apapun juga memiliki makna dan
signifikansi ultimat. Pertanyaan “mengapa?” yang selalu ada di setiap masa ,
memperlihatkan bahwa para filsuf itu
belum jua sukses sepenuhnya dalam menjawab. Faktanya bahkan pertanyaan gegabah dilemparkan oleh si sinis
dengan “mengapa tidak?” yang
merupakan sebuah selubung tipis yang menutupi komitmen terhadap tujuan. Untuk
menjelaskan mengapa, kita tidak sedang
melakukan sesuatu, yaitu untuk
memberikan sebuah alasan atau maksud
untuk tidak melakukannya. Tujuan masih tetap ada dalam latar belakang. Manusia adalah
mahkluk hidup yang berkomitmen
terhadap tujuan. Kita melakukan hal-hal untuk sebuah tujuan—dengan sejumlah macam
sasaran yang hendak dicapai dalam pikiran.

