Golgota(3)
Yesus disalibkan bersama dengan 2 penjahat.
Mat 27:38 - “Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiriNya”.
Mark 15:27-28 - “(27) Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kananNya dan seorang di sebelah kiriNya. (28) [Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: ‘Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.’]”.
Luk 23:32-33 - “(32) Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. (33) Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya”.
Yoh 19:17-18 - “(17) Sambil memikul salibNya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. (18) Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah”.
I) Yesus dihukum mati melalui penyaliban.
1) Pemikulan salib.
a) Dalam Matius, Markus, dan Lukas, diceritakan adanya Simon dari Kirene yang membantu memikul salib Yesus pada saat Yesus sudah tidak kuat lagi memikul salibNya. Dalam Yohanes hal ini tidak diceritakan. Ini bukan kontradiksi; Yohanes tidak wajib menceritakan semua detail.
b) Mengambil jalan sejauh mungkin.
Matthew Henry: “To add to his misery, they obliged him as long as he was able, to carry his cross (v. 17), according to the custom among the Romans” [= Untuk menambah penderitaanNya, mereka mengharuskanNya sejauh yang Ia mampu, untuk memikul salibNya (ay 17), sesuai dengan kebiasaan di antara orang-orang Romawi].
c) Ini merupakan penderitaan yang hebat.
Matthew Henry: “As a part of his sufferings; he endured the cross literally. It was a long and thick piece of timber that was necessary for such a use, and some think it was neither seasoned nor hewn. The blessed body of the Lord Jesus was tender, and unaccustomed to such burdens; it had now lately been harassed and tired out; his shoulders were sore with the stripes they had given him; every jog of the cross would renew his smart, and be apt to strike the thorns he was crowned with into his head; yet all this he patiently underwent, and it was but the beginning of sorrows” (= Sebagai bagian dari penderitaanNya; Ia menahan salib secara hurufiah. Itu merupakan kayu / pohon yang panjang dan tebal yang perlu untuk penggunaan seperti itu, dan sebagian orang beranggapan bahwa kayu / pohon itu tidak dihaluskan atau dibentuk. Tubuh Tuhan Yesus yang terpuji itu lembut, dan tidak terbiasa pada beban seperti itu; tubuh itu saat itu telah disiksa dan diletihkan; pundakNya luka-luka dengan bilur-bilur yang mereka berikan kepadaNya; setiap sentakan dari salib itu memperbaharui rasa sakitNya, dan mungkin / condong untuk memukul duri-duri dengan mana Ia dimahkotai pada kepalaNya; tetapi semua ini Ia alami dengan sabar, dan itu baru merupakan permulaan kesedihan / penderitaanNya).
d) Ini merupakan teladan bagi kita, karena kita juga harus ‘memikul salib’.
Matthew Henry: “Our Master hereby taught all his disciples to take up their cross, and follow him. Whatever cross he calls us out to bear at any time, we must remember that he bore the cross first” (= Tuan / Guru kita dengan ini mengajar semua muridNya untuk memikul salib mereka, dan mengikuti Dia. Apapun salib yang Ia panggil kita untuk memikulnya pada saat manapun, kita harus ingat bahwa Ia memikul salib lebih dulu).
Mat 16:24 - “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.