0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (8)

Oleh: Martin Simamora

Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini-4



Bacalah lebih dulu: “Bagian 7

Harus diakui, membuktikan keilahian atau kedivinitasan Yesus dalam kemanusiaannya tidak menunjukan atau membuktikan bahwa ia adalah sejenis Allah yang lebih rendah daripada Bapa, tetapi sehakikat dengan Bapa,  bukan sebuah problem yang dapat diselesaikan pada tatar konsepsi atau formulasi teologis sehingga seketika mendamaikan pikiran. Injil Yohanes, misalnya tidak memulainya dengan harmonisasi logika tetapi meminta setiap logika untuk menyembah siapakah Dia sesungguhnya:

Yohanes 1:1 “…Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah

Kala ia menjadi manusia (Yohanes 1:14) tidak mudah dan bukan perkara yang gampang untuk dijelaskan, belaka melalui penjelasan semantik pada bahasa aslinya, sebab faktanya rasul Yohanes sendiri dalam  menunjukan keilahian atau kedivinitasan Yesus tak melepaskan dari kemanusiaan Yesus itu sendiri yang tak terpisahkan dari kuasa pemerintahan Bapa di sorga. Harus dicamkan bahwa tujuannya datang ke dunia dalam rupa manusia agar  berjumpa dengan manusia, agar dapat masuk ke dalam dunia ketakberdayaan manusia terhadap dosa dan apa yang dproduksi dosa bagi dunia manusia. Ia masuk ke dalam dunia manusia sebagai manusia Yesus yang berkuasa atas dosa dan tak takluk pada apapun yang diproduksi dosa bagi dunia manusia.


Itu sebabnya, perlu berhati-hati dalam berupaya menunjukan kedivinitasan atau keilahian atau ke-Tuhan-an Yesus, agar jangan sampai memandang hina aspek kemanusiaannya, menakar kemanusiaan atau daging tubuh Yesus adalah materi yang jahat atau materi yang takluk pada perbudakan atau perhambaan atau setidaknya belaian bujuk dosa. Harus diingat, justru melalui kemanusiaannya ia dapat masuk ke dalam kematian tubuh terhadap pemerintahan maut untuk ditaklukannya. Demikian sebaliknya, jangan perlakukan Yesus sebagai Allah jenis atau kategori lain yang lebih rendah daripada Bapa sehingga Anak menjadi tak sehakikat dengan Bapa atau menjadi tak satu dengan Bapa.

0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (7)

Oleh: Martin Simamora

Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini- 3

Bacalah lebih dulu: “bagian 6

Jika Yesus Sang Mesias dan Anak Allah begitu tunduk kepada dan berdiri di atas kebenaran firman di hadapan iblis, maka seharusnya Ia tak akan menolak sebuah permintaan (lagi oleh iblis) yang akan memuliakan Allah yang mengutusnya. Tetapi apa yang tak pernah diketahui iblis adalah, Yesus bukan sekedar memiliki pengetahuan dan  ketaatan pada firman sebagaimana dituntutkan untuk dilakukan manusia di dunia dan di hadapan iblis, tetapi Ia didunia ini sepemerintahan dengan Bapa sehingga dalam kesatuan sabda dan bersabda [lihat:Yohanes 7:16, 8:26, 8:28, 12:49, 14:10, 14:24, 14:31]. Jikalau pada Yesus, ketaatannya belaka berdasarkan determinasi dan konsistensi kemanusiaan sebagaimana pada manusia, dapat dipastikan ia tak akan sanggup berhadapan dengan iblis yang hadir  dalam segenap kegemilangan pemerintahan dan kuasanya yang sedang memelukan erat tubuh Yesus dengan bujuk rayu manis menopengi tipu muslihat yang teramat laten bersalutkan penyabdaan firman yang membinarkan hasrat untuk mentaatinya sehingga memuliakan Bapa, jika dilakukan penuh taat:
═Lukas 4:9-11 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."

Perhatikan pada pernyataan “sebab ada tertulis” mengenai Engkau atau diri Yesus sendiri: “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” merupakan  sebuah kegelisahan terdahsyat yang pernah dialami oleh iblis dan dihasilkan seorang manusia sementara ia belum lama tadi berkata “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki- Lukas 4:6??” Sang iblis yang baru saja membusungkan dadanya di ketinggian yang dipanjatnya sendiri demi peninggiannya, kini, mendadak mengakui bahwa Yesus memang sama sekali mustahil direbut dari sepasang tangan (pemerintahan) yang satu-satunya agung mulia berkuasa atas Yesus, sementara ia sendiri tidak memilikinya!? Kini, ia menuntut itu dibuktikan, sekali lagi di ketinggian yang ditentukan si iblis, demi “sebab ada tertulis?”Kini, sebenarnya, iblis sudah masuk ke dalam kegilaan yang paling mengerikan sebab seharusnya ia lebih baik bunuh dirinya saja, bukankah ia begitu jumawa kepada bumi dan kepada langit dengan berkata kepada Yesus: "Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu…jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu-Lukas 4:6-7??" 

Iblis kini begitu inferior, ini bukan sekedar menjilat ludahnya tetapi ia sedang menista dirinya sebab tiba-tiba ia menyatakan adanya sebuah pemerintahan yang kesemestaannya, saat itu juga, sedang mengintimidasinya dan begitu mempermalukannya hingga ia kehilangan logika kuasa yang berkuasa atas apapun juga seperti klaimnya yang begitu sok berkuasa: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.” Dan Yesus sejak 2 pencobaan pertama, itu sendiri telah menunjukan bahwa kuasa bukan omong kosong, bukan kata-kata optimis dan bukan kata-kata positif yang diumbarkan di udara, tetapi kuasa adalah kedaulatan Allah dan sebagaimana Allah menghendaki kedaulatannya bekerja- hanya Allah yang memiliki kuasa yang diklaim iblis. Itu sebabnya Yesus berkata begitu sederhana menjawab permintaan pembuktian ketaatan bersalut muslihat pada “apa yang tertulis agar Yesus mentaati iblis” dengan berkata ” "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!- Lukas 4:12"

Satu hal penting  di sini, bahwa Yesus sendiri memiliki otoritas dan kuasa untuk mendatangkan malaikat-malaikat untuk bekerja demi dirinya dan demi keamanannya sendiri, tetapi kuasa pada dirinya begitu integral dengan kehendak pada dirinya untuk menggenapi sabda Allah, sebab hanya ia yang berkuasa menjadikan apapun yang telah disabdakan Bapa untuk terjadi, baik di bumi ini dan di sorga di atas sana. Coba perhatikan hal ini sebagai pembanding:

0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (6)

Oleh: Martin Simamora

Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini-2

 
Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: "Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?"- Lukas 22:64
Bacalah lebih dulu: “bagian5
Kemanusiaan Yesus tidak bisa ditakar sebagai yang memiliki properti-properti atau semacam kebendaan yang yang tunduk pada atau menjadi taklukan hukum-hukum kerajaan iblis yang realitas kerjanya tersembunyi bagi manusia dan hanya dapat disingkapkan oleh hukum-hukum kudus Allah yang bersabda melawan keterpenjaraan manusia dalam perhambaan dosa dan maut selama hidupnya [Ibrani 2:14]:

Keluaran 20:3-5,7-8,12-17  Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,[…]  Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat[…]Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Sabda larangan “jangan” dalam deretan semacam ini, menunjukan pemerintahan apakah yang secara internal menduduki kemanusiaan para manusia. Jadi pertama-tama di dalam kemanusiaan manusia berlangsung sebuah pemerintahan yang begitu menjijikan bagi Tuhan namun tidak dapat dikenali sebagai dosa dan tidak dapat dikenali sebagai siapakah yang memerintah manusia itu, sampai Allah bersabda dengan bunyi jangan “berbuat dosa ‘x’.” Siapakah yang mengajarkan manusia atau  bersabda kepada jiwa manusia untuk: berzinah, membunuh, mengingini isteri, dan banyak dosa lagi? Apa yang begitu jelas adalah: Allah bersabda agar manusia tidak mentaati sabda-sabda yang begitu menentang Tuhan, dengan berkata: jangan “berbuat dosa ‘x’.” Hanya karena Allah bersabda demikianlah maka tersingkaplah realitas manusia itu, bahkan ini bukan problem moralitas belaka, sebab ini semua adalah problem dosa, dosa melawan Tuhan. Bahwa setiap kali hanya berkeinginan berbuat dosa ‘x’ tertentu maka itu sudah senilai dengan melakukan atau berbuat dosa ‘x’ tertentu, bukan saja terhadap sesamanya manusia tetapi terhadap Tuhan:

0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?" (5)

Oleh: Martin Simamora

Perkataan–Ku Menghakimimu Di Sini Dan Setelah Ini - 1



Bacalah lebih dulu: “bagian 4

Manusia jenis apakah Ia?
Lukas memberikan sebuah catatan yang luar biasa mengenai Yesus yang baru saja menggenapi apa yang  harus digenapi-Nya bersama dengan nabi Yohanes Pembaptis (Lukas 3:21-22), sebuah catatan yang menunjukan bagaimana Yesus Kristus pada permulaan pelayanannya di bumi telah menunjukan siapakah Ia di hadapan iblis::

Lukas 4:1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.


Sebuah peristiwa yang terjadi segera setelah peristiwa ini:

Matius 3:16-17 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Ia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun  sebagai Dia yang dikasihi Bapa dan Dia yang kepadanya saja Bapa berkenan, sebagaimana Bapa telah bersabda kepada dunia.

Roh Kudus yang sama yang telah turun ke pada-Nya sehingga memenuhi diri-Nya dengan seluruh kuasa, otoritas untuk menggenapi segenap kehendak dan maksud Allah dan sebagaimana pada Allah, kini, tanpa keliru, membawa Yesus untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah. Pertama-tama dalam Ia PENUH DENGAN Roh Kudus, Ia DIBAWA OLEH Roh Kudus ke  padang  gurun.


Untuk apakah?

0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?"

Oleh: Martin Simamora

Sekarang Jiwa-Ku Terharu Dan Apakah Yang Akan Kukatakan?



Bacalah lebih dulu: "bagian 2"
Yesus memang benar sebagai manusia  mengalami pertumbuhan  sebagaimana manusia, tetapi bagaimanakah seharusnya setiap orang memahami  tumbuh kembang Yesus sejak dalam kandungan, bayi, kanak-kanak, hingga menjadi seorang pemuda? Maka tidak bisa tidak anda harus memperhatikan ketetapan Allah akan siapakah Ia yang telah menjadi manusia melalui peristiwa kelahiran manusia pada umumnya dan sekaligus sangat tak lazim  sebab  melalui konsepsi yang tak melibatkan seorang pria.  Tetapi apa yang lebih penting bagaimana turut terkandung dan dikahirkan ke dunia ini didalamn dirinya sendiri: pikiran dan kehendak Allah yang secara sempurna berdiam didalam Anak itu, yang secara megah telah dinyatakan malaikat kepada Maria: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Lukas 1:31-33)." Dinyatakan oleh malaikat itu bahwa “Yesus akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi,” sebuah  pesan kuat dan tegas bagi Maria untuk memahami siapakah SESUNGGUHNYA IA yang sedang dikandungnya saat itu, akan dilahirkannya saat itu, akan digendongnya saat itu, akan dirawatnya saat itu, akan dikasihinya saat itu, yang akan tinggal di dalam kehidupannya di dalam rumah dan akan mewarnai kehidupan mereka. Siapakah dia sesungguhnya yang mungil, yang menggemaskan dan memberikan sukacita besar baginya sebagai seorang ibu kala menggendong, menyusui hingga mengasupkan makanan-makanan yang lebih keras kelak. Bahwa Maria dan Yusuf harus senantiasa menyadari bahwa kehadiran anak itu bukanlah untuk diri mereka, bukanlah tempat bagi mereka untuk boleh berharap dan mencita-citakan kelak semoga ia akan menjadi seseorang yang akan menjadi….. Sesuatu yang pasti secara alami tak akan terelakan pasti akan lahir dari diri Maria sang ibu dan Yusuf ayahnya, tapi tak akan pernah bisa terwujud. “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan,” merupakan pesan yang pasti tak akan bisa begitu saja dapat dikandung oleh kemanusiaan Maria sekalipun rahimnya dimampukan untuk mengandung dan melahirkan yang akan disebut:”Anak Allah Yang Mahatinggi,” sebuah gelar yang mustahil ditanggung dan apalagi untuk dikuasai oleh tubuh manusia- Maria bukanlah seorang manusia yang sanggup menerima eksistensi bakal bayi bernama Yesus bahkan sejak detik pertama pengandungan itu dilaksanakan Allah pada rahim Maria, itu sebabnya terkait ketakberdayaan tubuh Maria dan kemustahilan tubuh manusia Maria untuk mengandung Anak Allah, maka kita membaca hal yang begitu krusial ini: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”- Lukas 1:35, pernyataan malaikat yang semacam itu, lebih besar daripada pertanyaan ketakmengertian Maria yang berteriak dalam jiwanya:”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”-1:34, sebuah tanya yang menunjukan  secara sempurna bahwa ketakmengertian manusia terhadap Yesus SESUNGGUHNYA telah dimulai dari ibunya sendiri. “Bagaimana mungkin tanpa suami aku hamil?” Jawab malaikat terhadap Maria, sekali lagi, hendak memberitahukannya, bahwa anak  yang dikandungnya bukanlah milik kepunyaannya sebab bukan ia ibunya yang memiliki maksud atau tujuan (harapan dan cita-cita kelak akan menjadi apa),tetapi Allah, yaitu: “anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Ia disebut Kudus karena Ia Allah pada hakikatnya, bukan karena Ia sukses menguduskan diri sehingga dapat menjadi Allah. Itulah juga sebabnya, ada 2 hal yang terjadi  atau lebih tepatnya, 2 hal yang harus dialami  Maria agar kemanusiaannya dapat mengandung dan melahirkan Anak Allah  yang bukan sekedar sebutan tetapi memang eksistensi Yesus memang Anak Allah bahkan sejak detik pertama pengandungan itu dimulaikan oleh Allah, yaitu: (1)Roh Kudus turun atas Maria, dan (2) Kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau.

0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?"

 Oleh: Martin Simamora 


Adakah Dewa Baru Muncul Di Yerusalem (2)
Bacalah lebih dulu:”Bagian-1

Lukas 2:40 dan 2:50 benar-benar untuk menunjukan bahwa ia memang memiliki kemanusiaan yang sejati, dan sebagaimana semua manusia maka tubuh manusia Yesus memiliki kebutuhan-kebutuhan jasmaniah yang harus dipasok untuk membangun kehidupan yang sehat dan kuat bagi tubuh itu sendiri [itu sebabnya kelak kita akan melihat Yesus juga menggambarkan dirinya sebagai terutama di atas yang segala terutama sumber makanan dan minuman atau sumber hidup bagi tubuh sekaligus jiwa yang bukan saja mengenyangkan atau menghilangkan dahaga tetapi membebaskan dari kebergantung pada sumber hidup dunia yang berada di atas pangkuan iblis atau pemerintahan kegelapan]. Dua teks tersebut tidak hendak menunjukan bahwa kemanusiaan Yesus,dengan demikian, juga tak lepas dari kelemahan daging terhadap pemerintahan duniawi atau kegelapan sebagaimana semua manusia pada umumnya. Tidak pernah demikian sejak mula Ia datang ke dalam dunia ini melalui anak dara Maria.

Coba perhatikan pernyataan malaikat berikut ini:

Lukas1:31-33 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."

Malaikat pembawa kabar pun menggambarkan kemanusiaan Yesus yang bertumbuh sejak dalam kandungan ibu-Nya atau sebagaimana semua manusia bahkan sejak dalam kandungan: “engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."

Tetapi Yesus ini, sejak semula di dunia berada di dalam pemerintahan atau kerajaan Allah, sehingga apa yang direncanakan Allah akan jadi sebagaimana kehendak-Nya melalui dan di dalam  Yesus Sang Mesias, tanpa kemelesetan yang bagaimanapun juga baik berdasarkan maksud atau tujuan-Nya, dan pikiran/pemikiran-Nya  (coba bandingkan ini dengan Yesaya 40:13, 41:28, Roma 11:34 dengan pernyataan Yesus berikut ini:  Yohanes 5:19-20,30-32,37; Yohanes 12:49; Yohanes 14:10,24) atau kehendak Bapa. Jadi sebagaimana Bapa memiliki kuasa serta otoritas pada diri-Nya sendiri maka pada diri Yesus Sang Mesias juga berdiam kuasa dan otoritas yang sama. Jika tidak, maka mustahil apa yang diucapkan dan diwujudkan Yesus di bumi ini adalah tepat sebagaimana Bapa di sorga berucap dan berkehendak agar terjadi di dunia. Di sini, kita, secara prinsip, telah melihat bahwa relasi Yesus terhadap Bapa itu melampaui sekedar kesatuan  pada pikiran dan kehendak tetapi juga sama  dalam kuasa dan otoritas di bumi (pada Yesus Sang Mesias) sebagaimana di sorga (pada Bapa), melihat tak satupun yang dikerjakan Manusia Yesus adalah agenda yang dirancang berdasarkan kapasitas kemanusiaan Yesus yang sama seperti semua manusia lainnya.

0 "Engkaukah Yang Akan Datang Itu Atau Haruskah Kami Menantikan Orang Lain?"



Oleh: Martin Simamora

Adakah Dewa Baru Muncul Di Yerusalem?
 
"Jesus is condemned by the  Sanhedrin"
Pada eranya, siapa yang tak mengenal Yesus, telah menjadi potret sejarah sekaligus melampaui kesejarahan itu sendiri atau abadi karena kekekalannya yang tak terkurungkan oleh kedagingannya. Ia bahkan begitu terkenal dan begitu tenar. Ketenaran yang mustahil didekati apalagi disaingin oleh siapapun juga pada kapanpun juga, sebab beginilah ketenaran itu digambarkan: “Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yohanes 12:12-13) sebuah ketenaran yang telah meletakan Yesus pada sebuah ketinggian yang tak mungkin dialami oleh manusia yang biasa-biasa saja, sebab sekalipun manusia jika bukan kebesaran yang  menaklukan kedagingannya sendiri, mustahil begitu megah disambut hingga menimbulkan keheranan yang menyesakkan jiwa: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia” (Markus 6:33, juga Matius 13:55). Yesus yang diteriaki sambutan yang begitu brilian dan begitu menggidikan siapapun juga saat itu,menyeret siapapun kedalam pusaran pesona kabar YESUS DATANG. Begitu magis tak terjelaskan apa yang terjadi dalam jiwa setiap pendengar ketika tahu Ia akan datang, bahkan pesta  yang dirayakan secara besar ditinggal demi sambutan spektakuler itu: “Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem”- Yoh 12:12” “mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru…”-ayat 13.

P O P U L A R - "Last 7 days"