0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (15/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Kedua
Yesus Kristus Dihadapan Iblis & Kuasa Pembebasan-Nya Atas Manusia

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Sabtu,30Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)


Bacalah lebih dulu: “bagian 14

Pendeta Erastus Sabdono versus Injil, Dalam Ketakberdayaan Allah Atas Corpus Delicti & Iblis
Sementara pendeta Dr. Erastus telah menunjukan bahwa Allah memiliki problem terhadap iblis untuk membuktikan kesalahan iblis secara telak tanpa dapat berkelit, sebaliknya injil secara keseluruhan membantah pengajaran tersebut bahkan menunjukan  Yesus sebagai yang memiliki kuasa apapun terhadap iblis atas manusia, sebab sama sekali tak ada problem corpus delicti ala pendeta Erastus. Pada injil bahkan kita melihat bagaimana Yesus memiliki hubungan dengan para murid-Nya secara langsung dengan iblis dan pemerintahannya yang bukan saja berupa  pengajaran atau sabda, bukan sekedar Yesus saja yang berurusan dengan iblis tetapi bagaimana Yesus  memberikan otoritas kepada para murid-Nya sehingga berkuasa untuk menaklukannya:

Markus 3:14-19 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Pada teks injil ini apa yang menjadi relasi Yesus terhadap orang-orang yang mau menjadi murid-muridnya bukan sebagaimana yang diajarkan oleh pendeta Erastus:

Manusia harus dihukum,tetapi Allah ingin mengampuni manusia. Oleh sebab itu harus ada yang memikul atau menanggung dosa manusia tersebut. Itulah sebabnya Bapa mengutus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus untuk menggantikan tempat manusia yang harus dihukum tersebut. Ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI yang mebuktikan bahwa seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar. Iblispun terbukti dan pantas dihukum[halaman 37- “Aturan Main,” Majalah Truth edisi 26]  

Relasi antara Yesus dengan para murid bukan dalam konteks “corpus delicti” sehubungan dengan problem Allah terhadap iblis bahwa hingga saat ini tak ada bukti apapun yang membuktikan kesalahan iblis sehingga dapat pantas dihukum dalam cara apapun juga.


Relasi Yesus terhadap para murid-nya terkait iblis secara langsung adalah:

Para murid Yesus memiliki kuasa untuk mengusir setan


Artinya para murid yang  baru saja dipilih dan baru saja diutus dan baru saja diutus untuk tujuan memberitakan injil telah diperlengkapi oleh Yesus dengan kuasa atas setan dan segala pekerjaannya. Apa yang menakjubkan adalah bagaimana bisa para murid itu berotoritas atas setan, bahwa itu dimiliki berdasarkan relasi kemuridan yang berlangsung dalam diri mereka terhadap Yesus, berdasarkan Yesus yang mereka bawa pada diri mereka dan itu yang membuat iblis bertekuk lutut dan takluk kepada para murid dalam cara yang sangat bertentangan dengan corpus delicti. Corpus delicti secara gamblang menunjukan bahwa iblis sampai kini (kini saat ini, saat anda membaca ini) masih belum bersalah sehingga iblis tak dapat disentuh dengan segala ragam penghukuman, sehingga relasi Yesus dengan para murid Yesus telah digubah oleh pendeta Erastus menjadi relasi corpus delicti yang semata menekankan dapat mentaati dan menghormati Allah secara benar sebagaimana Yesus dengan satu catatan mahapenting bahwa dalam melakukannya, iblis belum terbukti bersalah dan para murid harus membantu Allah dan Yesus agar kelak pada satu saat yang tak dapat ditentukan sebab begitu bergantung pada kekuatan manusia untuk mau menjadi corpus delicti hingga mati.


Harus dikatakan,justru, dalam hal ini Yesus datang dengan menghadirkan barang bukti bahwa Allah tak memiliki problem terkait corpus delicti dalam cara yang begitu ekstrim, yaitu menggunakan manusia-manusia pilihannya yang masih  berdosa dan masih dapat terus berdosa untuk mengusir setan secara memalukan dan setan tak dapat berdalih dengan menolak untuk mentaati para murid Kristus tersebut. Jadi sama sekali tak terbukti hingga kini iblis tak terbukti bersalah, sebaliknya iblis telah menjadi bulan-bulanan para manusia yang masih berdosa dan masih dapat berdosa namun selama memiliki relasi kemuridan dengan Kristus, semuanya berkuasa menaklukan iblis sebagai para penjahat yang dapat mereka hancurkan pekerjaannya dan mereka permalukan di hadapan mata para manusia. Coba perhatikan hal-hal berikut ini:


Matius 10:1 Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.


Markus 6:6-7 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,


Lukas 9:1-2 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,


Markus 6:12-13 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.


Matius 10:5-8 Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.


Lukas 10:1,17-18 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.[…] Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."


demi namamu,” apakah maksudnya, ini luar biasa karena demi namamu bukan seperti “demi Martin” sebab Martin tak memiliki pemerintahan dan kuasa atas iblis. Mereka mendatangi iblis dan mereka menaklukan iblis bukan demi nama sendiri tetapi demi sebuah nama dan lebih dari sekedar nama, tetapi sebuah pemerintahan yang berkuasa penuh untuk menghakimi iblis dan kerajaannya dalam sebuah kuasa yang bahkan tetap bekerja sekalipun penyataan atau penyingkapan realitas iblis terhadap Allah dilakukan oleh manusia-manusia fana yang pada dirinya tak berkuasa atas iblis. Ketika Yesus mengutus dan memperlengkapi mereka dengan kuasanya maka nyata terlihat seperti apakah sesungguhnya kuasa Yesus itu dan terlihat nyata seperti apakah kuasa penghakiman itu bahkan kala dilakukan atau dieksekusi oleh manusia-manusia fana yang berada di dalam pengutusan Yesus.


Sehingga siapakah Yesus sesungguhnya terhadap iblis dalam cara yang begitu ekstrim dan begitu menista iblis menjadi teramat penting! Yesus Sang Kristus telah mempermalukan dan mempecundangi iblis melalui manusia-manusia fana yang tak berkuasa sama sekali atas iblis dan dilakukan sementara Yesus tak sedang beserta dengan mereka:mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.”


Iblis telah dipecundangi oleh manusia berdasarkan kuasa nama Yesus atau berdasarkan relasi percaya pada Yesus yang mengutus mereka, bukan karena Yesus hadir beserta mereka.




Mengenai Yesus sendiri, sebagaimana yang telah disabdakannya sendiri  merupakan figur yang begitu ketat dan tak bercela dalam keselarasan seluruh dirinya dengan  Bapa dalam sebuah cara yang membuatnya tak mungkin dipisahkan sehingga tak mungkin sama sekali untuk dikatakan antara Yesus dan Bapa memiliki keduaan pikiran memerintah dan memiliki keduaan kehendak memerintah, sehingga membuat Yesus berpotensi untuk gagal dan berdosa terhadap apa yang menjadi pikiran dan kehendak Bapa dalam Ia telah menjadi manusia (Yohanes 1:14; Ibrani 1:6;Ibrani 10:5; Ibrani 5:7) sebagaimana telah dinyatakannya:  

Yohanes 5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.


“Anak tidak dapat…jikalau tidak Ia melihat Bapa” menunjukan kemanusiaan Yesus melayani Dia yang mengutus Bapa. Relasi yang menunjukan Yesus begitu bergantung pada Bapa merupakan bukti bahwa Yesus memang sungguh-sungguh manusia tetapi ketika ia berkata “jikalau tidak Ia melihat Bapa” telah menunjukan bahwa di dalam Ia manusia, Ia adalah manusia yang tak memiliki cela sedikitpun baik di hadapan iblis dan di hadapan manusia. Sangat menarik memahami “melihat Bapa” dalam penjelasan Yesus berikut ini:

Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat- Yohanes 5:37

Yesus Sang Kristus adalah satu-satunya manusia yang dapat senantiasa melihat Bapa.


Terkait kerendahan Yesus terhadap Bapa, beginilah Surat Ibrani menjelaskannya:

Ibrani 2:7,9 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.


Kerendahan Yesus terhadap Bapa,dengan demikian, harus dipahami bukan untuk tujuan menunjukan Yesus lebih rendah terhadap Bapa sebagai pokok pemberitaan tetapi apakah tujuan Bapa MEMBUATNYA lebih rendah bahkan daripada malaikat-malaikat.


Terkait kerendahan Yesus terhadap Bapa, beginilah rasul Paulus menjelaskannya:

Filipi 2:5-8 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.


Sebuah kerendahan yang terjadi berdasarkan kesukarelaan atau berdasarkan kehendak  Allah Sang Firman (Yohanes 1:14) untuk sebuah tujuan yang telah disepakati oleh Bapa dan Anak agar dilakukan Anak dalam rupa manusia. Manusia Yesus dalam taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib adalah manusia: walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan!

Terkait kerendahan Yesus terhadap Bapa, beginilah rasul Yohanes menjelaskannya:

Yohanes 1:14,18 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.


Terkait kerendahan Yesus terhadap Bapa, beginilah Yesus sendiri menjelaskannya:

Yohanes 5:19 jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak


Itu sebabnya keselarasan dan kesatuan Anak dan Bapa bukanlah keadaan yang diperjuangkan oleh mahkluk yang berbeda kelasnya untuk menjadi sama seperti Bapa. Surat Ibrani terkait ini berkata mengenai kesatuannya dengan Bapa sebagai tak terpisahkan dan berada dalam pemerintahan bersama dengan Bapa:

Ibrani 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,


Ia mengadakan penyucian dosatelah dilakukannya sebagai manusia yang merupakan tujuan dari tindakan Allah untuk membuatnya menjadi lebih rendah bahkan daripada malaikat-malaikat:

Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,- Ibrani 2:9-11

Sementara itu “duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” merupakan kedudukan semula Yesus sebelum ia dibuat Allah menjadi lebih rendah untuk sebuah tujuan penyelamatan dan pengudusan manusia bagi Bapa-Nya. Itu terjadi setelah Ia selesai melakukan apa yang hanya dapat dilakukan jika ia telah direndahkan terlebih dahulu: “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut”- Ibrani 2;9,14


Sehingga Yesus berbeda sama sekali dengan kasus dosa  yang dilakukan oleh oknum berikut ini:

Yesaya 14:13-14 Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!



Pada poin ini jelas Yesus diutus oleh Bapa bukan sama sekali diutus untuk menjadi corpus delicti sebaliknya untuk memusnahkan kuasa iblis TERHADAP MANUSIA sementara memang Allah berkuasa penuh dan tak memiliki problem apapun terhadap iblis. Apa yang dilakukan Allah dalam pengutusan Anak ke dalam dunia adalah sebuah pengatasan problem manusia terhadap iblis selama-lamanya. Bukan sama sekali terkait Allah bercela terhadap iblis terkait ketiadaan corpus delicti atau bukti kejahatan untuk menghakimi dan membinasakan iblis.


Dalam aspek apapun tak akan pernah ada satu saja mahkluk ciptaan dapat masuk ke dalam keselarasan hingga mencapai keidentikan sempurna pada pikiran dan kemampuan bertindak Allah seperti yang diungkapkan Yesus: “sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak,” karena untuk dapat melakukan hal semacam itu maka siapapun manusia itu haruslah tak memiliki problem terhadap pertanyaan ini: “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?- Ayub 11:7. Ketika Yesus berkata dalam Ia menjadi manusia dan bergantung begitu total pada Allah dalam perkataan seperti ini: “apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” maka Yesus benar-benar memahami, berkuasa dan berotoritas untuk menyatakan:


╟“kebesaran-Nya tidak terduga- Maz  145:3,
╟Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah- Maz 86:10,
╟TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah- Maz 95:3!

“Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri,” dengan demikian, tidak sama sekali menunjukan bahwa ia sejenis ke-allah-an yang lebih rendah sehingga Anak adalah Allah yang sedikit lebih rendah daripada Bapa, atau ada 2 Allah dalam pengajaran Alkitab, tidak demikian! Selain hendak menunjukan di dalam kemanusiaannya, Yesus, tidak terpisahkan sama sekali dengan Bapa dan “apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”


Ini menunjukan ketakbedaan kuasa yang dimiliki oleh Yesus dan Bapa dalam sebuah relasi yang bersekehendak dan bersepikiran dalam dua yang tak berbedakan dalam derajatnya sementara dalam kemanusiaannya secara nyata dapat dilihat kebedaan derajatnya dengan Bapa sebab  Yesus dapat mengalami penderitaan, dapat mengalami maut dan dapat mengalami kebangkitan tak sebagaimana Bapa, sebagai sebuah kealamian “Ia dibuat lebih rendah bahkan daripada malaikat untuk sementara waktu.”


Rasul Yohanes, pada pembukaan injilnya, telah menekankan ini sejak semula: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”- Yoh 1:3, yang tak lain sedang menunjukan ketinggian dan kemuliaan pada Yesus dalam kemuliaan yang dimilikinya sejak semula [Yohanes 17:5] dihadapan Bapa, tepat sebagaimana Bapa adanya atau dalam bahasa Yesus: “sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” Jadi ini adalah kuasa pada Anak yang memang telah dimilikinya sejak “pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah- Yoh 1:-12” yang ketika ia datang ke dalam dunia dinyatakan atau disingkapkannya kepada umat manusia olehnya sebagai manusia atau dalam keadaan ia telah dibuat menjadi lebih rendah daripada malaikat, apalagi Bapa dalam sebab ia dapat mati dan mengalami maut. Tetapi kematiannya bukanlah kematian bagi diri sendiri dan bukan kematian seorang martir, sebab  Yesus sendiri berkata bahwa kematiannya akan mengakibatkan banyak orang menjadi datang kepadnya dan menerima berkat keselamatan yang dihasilkan oleh kematiannya:

Yohanes 3:13-15 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.


Yohanes 12:31-32Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.


Matius 20:17-19  Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." [bandingkan dengan: Mat 12:39-40; Matius 16:21; Yoh 10:17-18; Matius 16:21;Matius 20:17-19; Mat 27:62-64; Markus 10:32-34; Lukas 18:31-34; Mat 26:20-30; Mark 14:17-26; Luk 22:14-38; Yohanes 13:21-30]



Inilah pondasi bagi  kehidupan etika atas perkataan-perkataan atau pengajaran-pengajaran dan perbuatan-perbuatan Yesus selama di dunia dan dalam relasinya terhadap para murid! Tak ada sama sekali gagasan dan instruksi Yesus kepada para murid yang mengindikasikan dalam cara bagaimanapun, Allah memiliki problem yang tak terkendalikan oleh-Nya sehingga membutuhkan bantuan-bantuan manusia. Ketaatan dan penghormatannya kepada Bapa, itu tak bisa dipisahkan dari ketakterpisahan-Nya dari Bapa yang menyingkapkan kesebangunan kehendak dan kuasa untuk melakukan kehendaknya di Bumi ini sebagaimana Bapa. Itu juga sebabnya ia di bumi ini, tetap berkata: “Aku dan Bapa adalah satu”-  Yohanes 10:30.  Ketika ia menyatakan dirinya satu dengan Bapa, itu lebih dari sekedar bahwa ia dan Bapa “sekelas” dan tak terpisahkan sementara dapat dibedakan, tetapi menununjukan bersama-sama memerintah. Sebagaimana Bapa memerintah, demikian juga Anak. Antara Anak dan Bapa, saat itu, bersama-sama melakukan apapun juga yang hendak diwujudkan di dunia ini: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku- Yoh 6:38 yang menunjukan kesatuan pemerintahan yang berlangsung dalam sebuah tatanan atau order/keteraturan yang disetujui oleh  Bapa dan Anak untuk saling menerima, untuk saling menyetujui pada setiap apapun yang dikehendaki dan bagaimanakah itu harus diwujudkan, yaitu: dengan cara: Bapa mengutus Anak ke dunia, Anak menerima pengutusan di sorga dan turun ke dalam dunia dalam rupa manusia sebagai yang berotoritas penuh sebagaimana Bapa sehingga apapun yang dilakukan Anak selama di dunia akan tergenapi dalam realitas dan kebenaran tak bercelaan namun begitu mulia dalam ukuran-ukuran Bapa. Apapun ukuran pada diri Bapa, Anak bukan saja memilikinya tetapi berkuasa untuk mewujudkannya tepat sebagaimana Bapa menghendakinya. Relasi semacam ini tidak mungkin terjadi dalam sebuah pertarungan kelas, sebab mana mungkin  Allah berbagi dalam cara apapun kepada selain dirinya atau di luar dirinya: “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain-Yesaya 42:8 dan “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku”- Yesaya 43:11. Itulah sebabnya, sekali lagi, ketika ditanyakan dimanakah atau tunjukanlah Bapa itu kepada kami, ia telah menjawab dalam cara yang tegas menggenapi Yesaya 42:8 dan Yesaya 43:11 dalam cara seperti ini: ” Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”- Yohanes 14:9. Tidak ada keduaan  eksistensi Tuhan seperti dua pribadi yang terpisah satu sama lain dan tidak ada jenis tuhan lain yang lebih rendah daripada Bapa! Sejak semula konsep atau gagasan semacam ini telah dieliminasi oleh Yesus dengan berkata: “melihat Aku, melihat Bapasementara ia memang ada di dunia ini dan Bapa berada di sorga [itu sebabnya di dalam Alkitab “suara Bapa” digambarkan sebagai datang dari langit, misal: “Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan- Markus 1:11."]  


Jika pendeta Dr. Erastus Sabdono mengajarkan bahwa Yesus datang  ke dalam dunia ini selain untuk memikul penghukuman ganti manusia-manusia (tanpa kuasa penebusan dari pemerintahan iblis, perhambaan maut, dan tanpa kuasa pengudusan), juga untuk menjadi corpus delicti bagi manusia, yaitu: anak-anak Tuhan seharusnya dapat taat dan menghormati Allah sebagaimana Yesus, maka harus dipahami bahwa Yesus telah membantah sepenuhnya pandangan dan ajaran  corpus delicti semacam itu kala ia menyatakan segenap ekesistensinya baik perkataan dan perbuatan tanpa jedah atau tanpa interval adalah dia yang satu dengan Bapa atau dia yang berada di dalam dan memerintah kerajaan sorga [Matius 3:2-3,12-17], bahkan berkuasa untuk melakukan penghakiman termasuk melemparkan siapapun ke dalam api yang tak terpadamkan [Mat 3:12].


Salah satu kuasa Yesus Kristus yang menunjukan bukan saja bahwa ia dan Bapa berada di dalam satu pemerintahan tetapi bersama-sama dengan Bapa memerintah, yaitu kuasanya untuk menghakimi bukan saja di dunia ini tetapi untuk menentukan kebinasaan atau kehidupan. Ia berkuasa untuk menentukan manusia-manusia, apakah untuk mengalami kebinasaan atau kehidupan, sementara dunia masih berputar pada porosnya.  


Perhatikanlah hal ini:  

╟Matius 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."  

Pengajaran Yesus, satu ini, merupakan pengajaran yang menyingkapkan betapa kuasanya berkuasa untuk menentukan keakhiran segala sesuatu, termasuk bagaimanakah keakhiran pekerjaan-pekerjaan iblis di dalam dunia ini [sebab kekuasaan Yesus atas manusia-manusia secara ketat berkaitan dengan pemerintahan iblis di dunia dan atas setiap manusia:” Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yoh 8:43-44]. Sebuah manifestasi kuasa Yesus yang bekerja secara tak kasat mata namun secara absolut melucuti dan menjungkalkan tatanan pemerintahan iblis.



Desakan Untuk Segera Membinasakan Atau Mengakhiri  Rejim Iblis
Bahkan dalam hal ini, Yesus Sang Hakim terkait desakan para murid untuk segera saja menghabisi rejim iblis di dunia ini, menjawab mereka begini:  


╟Matius 13:24-30 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."
[“musuh,” siapakah ini? Bandingkan dengan Lukas 8:12] 


Pada teks ini terjawab sebuah pertanyaan mahapenting bagi manusia, yaitu: mengapa hingga kini iblis masih saja bekerja jika benar Allah telah menaklukan iblis dan tak bermasalah dalam barang bukti kejahatan yang masih kebingungan Allah menyediakannya di hadapan iblis?? Jawabnya bukan sama sekali seperti apa yang diajarkan oleh pendeta Erastus, yaitu Allah belum memiliki barang bukti melawan iblis sehingga Iblis hingga kini masih bebas berkeliaran dan melakukan  keonaran dan malapetaka di mana-mana. Tetapi inilah jawaban Yesus:


Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang
Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai

Yesus sendiri memang sementara telah menghakimi dan menaklukan iblis tetapi masih membiarkan iblis beroperasi di antara manusia- bukan terhadap Allah. Dalam Yesus membiarkannya, iblis telah memiliki waktu kesudahannya di tangan Allah dan itu terkait waktu menuai bagi Allah. Apa yang ditunggu Allah sementara iblis saat ini dibiarkan tetap eksis DIANTARA MANUSIA, bukan berkuasa menantang dan melawan Allah dalam cara apapapun, adalah: WAKTU UNTUK MENUAI bukan WAKTU untuk menghadirkan barang bukti untuk membungkam iblis seperti yang diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono.


Teks ini sangat luar biasa menjelaskan realitas kehidupan Kristen yang sedang saya dan anda rasakan dan hadapi: tak selalu nyaman, penuh godaan, penuh tantangan, kadang kala dapat menggelicirkan atau membuat terjatuh tetapi pengharapan imanmu dan imanku kokoh dan berdasar untuk dapat bangkit dan kembali tegak berdiri dan berjalan dalam penuntunan kerajaan Allah, bukan kerajaan iblis. Mengapa? Karena dalam perumpamaan itu Yesus memastikan sementara iblis bekerja,  GANDUM TETAP GANDUM dan tak gagal untuk terus menjadi gandum dan berubah menjadi LALANG atau malah mati. Ketika Yesus menyatakan: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai,” ini merupakan bukti yang menunjukan betapa dalam Allah membiarkan iblis masih beroperasi diantara manusia, pada pihak Allah sendiri telah memastikan sebuah otoritas telah diberikan kepada anak-anak Allah untuk tetap berdiri dan hidup sebagai murid-murid Kristus yang sungguh berbeda daripada lalang di hadapan Allah!



Dunia ini adalah ladang Kristus, bukan iblis sampai waktu panen tiba. Pemanennya adalah Allah, bukan iblis sementara iblis dibiarkan bekerja diantara manusia dan semua masih menunggu tibanya saat Allah untuk memanen. Sementara Kerajaan Sorga itu telah datang, yaitu kerajaan yang hadir dan melakukan konfrontasi dahsyat terhadap rejim iblis tepat sebagaimana diungkapkan Yesus: “Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu- Lukas 11:19-20, namun pembinasaan total pada si iblis dan agensi-agensi kejahatannya memang dinyatakan oleh Yesus belum diakhiri seketika itu juga sebagaimana desakan para pekerjanya tapi harus menunggu saat yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga menjadi jelas diketahui apakah penyebab Alla tak segera membinasakan iblis bukan karena Allah masih menantikan bukti dari setiap anak-anak Allah yang mau menjadi corpus delicti agar penghakimannya memenuhi keadilan Allah secara sempurna, bukan sama sekali seperti yang disangkakan dan diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono!


Pemerintahan Kristus ketika menjatuhkan pemerintahan iblis yang menaungi dunia ini membuat Yesus berkuasa atas siapapun muridnya untuk dibebaskan dari kewargaan kerajaan iblis menjadi kewargaan sorga.  


Kegelisahan jiwa terkait mengapa tak segera diakhiri saja iblis dan karyanya, jelas kegelisahan semua manusia termasuk para murid sebagaimana dalam pengajaran Yesus tadi :”maukah tuan supaya kami mencabut lalang-lalang itu?” jadi bukan sekedar kegelisahan pendeta Erastus belaka. Apa yang menjadi kesalahan begitu fatal pada pendeta Erastus pada cara pandangannya terhadap relasi Yesus terhadap murid-murid-Nya yang diajarkannya sebagai hanya menjadi corpus delicti sebab Allah tak berdaya terhadap iblis, sebab dalam ajaran berupa perumpamaan tersebut, Yesus menunjukan bahkan para murid  dapat memiliki kuasa membinasakan karya iblis di dunia jika saja itu diberikan. Tetapi tidak sebab untuk itu, Allahlah yang akan mewujudkan kesudahan iblis yang secara nyata telah diindikasikan dengan kuasa para murid terhadap iblis SEKALIPUN YESUS TAK MENYERTAI MEREKA SECARA FISIK.


Maukah tuan supaya kami mencabut lalang-lalang itu,” menunjukan bahwa di dalam pengajaran Yesus tersebut,para hamba-Nya tersebut memiliki kuasa untuk mengakhir kehidupan kejahatan di dunia ini yang dilancarkan oleh si Musuh atau dia yang begitu penuh kebencian terhadap Allah dan Anak beserta pekerjaan-Nya di dunia ini. Jawaban “jangan”sang tuan atas ladang-dunia ini, merupakan kunci untuk memahami  apakah yang menjadi penyebab ketaksegeraan pengakhiran atau pembinasaan iblis beserta karyanya.


Yesus Kristus, karena itulah, dalam setiap pengajarannya, bukan saja menempatkan dirinya sebagai satu-satunya jalan keselamatan, seperti pernyataannya ini:”Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”-Yoh 14:6, tetapi juga terkait kuasanya untuk membebaskan setiap orang beriman dari cengkraman pemerintahan iblis: “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”- Yoh 8:12." Jika mengikut Yesus maka orang tersebut tidak lagi berjalan di dunia yang tak memiliki terang dan tak memiliki kebenaran dari Allah selain kebenaran dari kerajaan iblis di dunia. Saat berkata “mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan,” maka ini bukanlah kata-kata slogan atau kata-kata mutiara yang indah untuk dibuatkan stiker dan kemudian ditempelkan pada kaca mobil, tetapi benar-benar sebuah kuasa kehidupan yang dihasilkan dari dan dalam mengikut Yesus yang dipandu oleh terangnya yang berkuasa menaklukan iblis dan telah membawamu masuk ke dalam persekutuan dengan Sang Kritus yang satu dengan Bapa. Sebuah kehidupan yang harus dibangun dalam keseharian selama di dunia agar menjadi nyata terlihat di dunia ini, karena, sebagaimana tadi telah dinyatakan Yesus, si Iblis masih dibiarkan oleh Sang Kristus bekerja untuk menabur benih lalang yang akan  berjuang untuk menjepit. Tetapi kehidupan yang harus mengikut Yesus dan hidup di dalam Yesus bukan perjuangan hingga titik darah seolah mati atau hidup dalam iblis atau dalam Yesus berada dalam kuasa tanganmu. Tidak pernah demikian, sebab Yesus berkata kepada orang yang mengikutnya: berdasarkan dirinyalah dan berdasarkan ketaatan terhadap perkataan-Nya maka seorang manusia memiliki terang hidup, ini : “berdasarkan dirinya” dan “berdasarkan ketaatan terhadap perkataannya” adalah sepasang kebenaran yang harus melekat pada manusia agar memperoleh hidup kekal. Ketaatan pada firman tanpa Yesus dan karya keselamatannya adalah kesia-siaan dalam pengharapan keselamatan.




Mengapa begitu sentral diri Yesus dalam keselamatan manusia sehingga adalah kesia-siaan ketaatan yang tanpa Yesus Kristus?
Rasul Yohanes telah menjelaskan apakah yang dimaksud dengan “terang hidup,” yaitu hidup yang hanya ada di dalam Yesus Kristus: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia- Yohanes 1:4.” Sehingga dapat dipahami, ketika Yesus Sang Tuan atas ladang menjawab para hambanya: apakah perlu lalang itu dicabut, dengan jawaban: “jangan,” itu bukan sama sekali hendak menyatakan perjuangan yang harus dilakukan di dunia ini adalah perjuangan untuk mempertahankan keselamatan karena sementara anda memang pada realitasnya harus berjuang dengan otot-otot imanmu menghadapi berbagai tantangan, itu semua dapat terselenggara berkat anda telah memiliki terang hidup. Pemberian Yesus, yang mana terang hidup itu sendiri: kegelapan itu tidak menguasainya- Yohanes 1:5. Itulah sebabnya Yesus dapat berkata: biarkanlah Gandum dan Lalang hidup bersama-sama, sebab sebagaimana “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya- Yoh 1:5”   maka demikianlah dasar bagi setiap Gandum untuk tetap menjadi Gandum sementara Lalang-Lalang terus bertumbuhan menjepit kehidupan Gandum.



Mengikut Yesus yang telah menjatuhkan pemerintahan iblis dan telah memberikan terang hidup kepada setiap muridnya, selama di dunia ini, bukan tanpa risiko dan bukan tanpa ancaman, faktanya itu harus dihadapi dan harus dijalani dengan penuh tanggung jawab dan penuh pengenalan akan Tuhan, bukan  dalam hidup serampangan dan mengabaikan kehidupan rohanimu bersama kebenaran-Nya. Perhatikanlah indikasi teramat penting ini yang dapat anda temukan dalam doa Yesus kepada Bapa:


Yohanes 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.  

Kalau memang benar saya dan anda adalah orang-orang yang telah mengikut Yesus dan telah dibebaskan Yesus dari rejim kegelapan untuk menerima terang hidup, maka ada berlangsung sebuah kehidupan yang begitu berbeda akan mewarnai kehidupan kita dari hari ke hari berikutnya, yaitu: yang memampukan anda Gandum tetap Gandum sementara anda tak terelakan dihimpit oleh berbagai pekerjaan iblis yang menaburkan benih lalang. Sebuah kehidupan yang harus dibangun sementara si Musuh terus bekerja untuk menghimpit dan kalau bisa mematikan kehidupan rohani hingga meninggalkan Tuhan atau murtad. Itu sebabnya sementara setiap orang percaya itu hidup di dalam dua corak kehidupan sekaligus: hidup anak Tuhan di dalam dunia dimana iblis masih secara aktif bekerja untuk membunuh dan karena itulah kita harus setia menuruti atau berpegang atau berdiri di atas kebenaran dalam Kristus, dan dalam menjalani kehidupan yang taat pada firman Tuhan, satu-satunya jaminan  untuk tetap bertahan sebagai Gandum milik Allah tidak  pernah akan dipundakan pada determinasi manusia sebab Allahlah pemilik dan penuai laaing kepunyaan-Nya. Determinasi manusia hanya sebatas membangun kehidupan di dalam Tuhan didalam kuasa Yesus Kristus bagi saya dan anda untuk hidup sebagai anak-anak Terang. Itu sebabnya ada satu realitas yang ditekankan Yesus dalam doanya yang menunjukan bahwa kala kita beriman pada Yesus, kedudukan kita tidak berada dalam sebuah zona netral atau zona yang dapat mengayun kepada kepemilikian iblis pada satu waktu dan pada kesempatan lain kepada kempemilikan Bapa. Tidak demikian, sebaliknya dalam dinamika apapun, Ia akan memperlakukan kita sebagai tanaman miliknya di dalam ladang miliknya yang dibangunnya di dunia dimana iblis pun bisa menginvasi dan menghamai tanaman-tanaman kepunyaan miliknya. Perhatikan bagaimana Yesus memberikan kita keamanan atau pemeliharaan dalam kehidupan sebagai anak-anak yang harus bertanggungjawab dan bertekun dalam iman sementara iblis masih dapat menekan atau “Gandum tumbuh bersama lalang”:  


Yohanes 17:9-10,14-15,20 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.[…] Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. […]Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;


Kita masih hidup di dunia ini tetapi bukan milik dunia. Kepemilikan begitu ditekankan karena ini berkait dengan kuasa yang menaungi atas setiap yang merupakan milik-Nya dan berkait dengan bagaimana setiap miliknya dapat bertahan hidup didalam perjuangan imannya selama di dunia ini. Kekuatan setiap orang-orang beriman dengan demikian bukan kekuatannya tetapi kekuatan yang datang dari Sang Pemilik:

Yohanes 17:15-16 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.  


Setiap anak-anak Tuhan yang membangun kehidupan berimannya dalam penuh tanggungjawab dan ketekunan, dengan demikian dapat mengalami,pada satu titik tertentu dalam perjalanannya, sebagai anak-anak Tuhan, tergelincir, terduduk tetapi pasti tidak sampai tergeletak dan tidak dapat bangun lagi. Sejauh memang ia sungguh milik-Nya, pasti ia memiliki kekuatan dan determinasi iman yang kokoh untuk berjuang keluar dari segala upaya iblis untuk kembali menyeretnya menjadi bagian kerajaannya, sekalipun itu akan begitu menyakitkan, begitu berat dan memutus-asakan, begitu jauh dan dalam lembah-lembah yang harus dijalani hingga keluar dan sungguh-sungguh merdeka. Mengapa demikian? Karena: Bapa akan memberikan perlindungan sebagaimana doa Yesus, perlindungan yang akan memastikan, sementara Yesus tak lagi di dunia ini, akan tetap secara aman dalam kepemilikan Bapa atau tetap Gandung walau lalang menghimpit. Ini menjadi dasar yang kokoh untuk memberikan nasihat, penghiburan dan dorongan untuk tetap bersemangat atau tak berputus asa di dalam segala tantangan dan di dalam segala upaya untuk melepaskan diri dari kuasa kedagingan pada tubuh yang masih dapat disemaikan oleh iblis, sementara jiwa ini sudah merupakan kepunyaan Kristus.  


Ini adalah doa yang bahkan bekerja di sepanjang generasi pemberitaan injil di dunia ini:

Yohanes 17:20-21 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka [orang-orang percaya baru pasca kenaikan Yesus ke sorga dan pasca era para rasul hingga kini]; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.  


Kehidupan orang Kristen yang demikian kokohnya bukanlah kehidupan tanpa tanggung jawab atau sesukanya sendiri dan kemudian memperlakukan kehidupan yang begitu penuh kasih karunia itu bagaikan sirkus yang tanpa martabat dan harga diri yang tahu diri bahwa saya dan anda dipanggil dan diselamatkan dalam cara demikian bukan untuk memuaskan egoisme diri ini, sebaliknya di dalam kehidupan orang Kristen semacam ini, memiliki satu tujuan, yaitu: supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, atau pemberitaan injil.  


Tidak ada urusan dengan corpus delicti dan tidak pernah Yesus Kristus menjadi corpus delicti bagi setiap anak-anak Tuhan namun tak pernah melucuti kerajaan iblis dan kemudian tak berkuasa untuk membuat para manusia yang telah dibebaskannya agar namanya tercatat di sorga:
Lukas 10:20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."


sebuah cara penggambaran betapa kokohnya dan betapa berkuasanya Yesus sebagai Juruselamat dalam melepaskan manusia dari kerajaan kegelapan dan membawanya untuk menjadi milik kepunyaan Bapa[ baca juga Yohanes 14:1-4].



Sungguh berbeda dengan Yesus Kristus dan Allah versi pendeta Dr. Erastus Sabdono.




Bersambung ke bagian 16


Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah

P O P U L A R - "Last 7 days"