0 Tinjauan:Pengajaran Pdt.Erastus Sabdono Tentang Corpus Delicti (14/40)

Oleh: Martin Simamora

Sepuluh Bagian Kedua
Umat Manusia Dalam Pandangan Allah Yang Mengustus Yesus

(Lebih dulu di “Bible Alone”-Rabu,27 Juli 2016- telah diedit dan dikoreksi)



Bacalah lebih dulu: “bagian 11” dan” bagian 13”  

B.Realitas Kedua Manusia: Berdosa Dan Apakah kemudian Allah mengalami perubahan baik dalam kekudusan-Nya dan pandangan-Nya terhadap manusia, dosa dan iblis sehingga Sang Firman ketika datang Ke Dunia Dalam Rupa Manusia Hanya Menanggung Penghukuman Dan Berupaya Menjadi Corpus Delicti


Apakah manusia  memang berdosa secara tak tertolongkan untuk ditanggulangi olehnya sendiri dan apakah manusia menjadi berdosa karena memiliki  gagasan-gagasan dosa dan kejahatan yang datang dari luar dirinya yang berjuang keras untuk menjajah manusia sehingga, kemudian, baru dapat membujuknya berbuat dosa, ataukah datang dari dalam dirinya sendiri sebagai hal yang tak dapat dipisahkan dari eksistensi setiap manusia?


Pertanyaan beruntun semacam tadi menjadi begitu penting untuk ditanyakan sebab pendeta Dr. Erastus Sabdono ketika membingkaikan manusia dalam konsepsi corpus delicti alanya (saya menggunakan “ala” atau “versi” pendeta Erastus, sebab ia mengaplikasikan corpus delicti yang sama sekali tak menunjukan atau membuktikan kejahatan iblis selain membuktikan apakah seorang anak Allah/orang beriman memang dapat menjadi corpus delicti –kembali, ala pendeta Erastus- sebagaimana Yesus, yang pada pandangan pendeta Erastus, menjadi corpus delicti atau menjadi substansi kejahatan iblis adalah dapat menjadi taat dan menghormati Allah secara benar hingga pada kesudahannya atau mati) yang dapat membungkam iblis dalam pengadilan Allah. Dengan kata lain, manusia-manusia membantu ketakberdayaan Allah terhadap kecanggihan kejahatan iblis terkait barang bukti.


Jika manusia memiliki natur yang begitu mulia untuk melawan iblis di pengadilan Allah, maka seharusnya ketakmuliaan  manusia harus berasal dari luar diri manusia itu sendiri. Dengan kata lain internal manusia adalah  tidak memiliki kenajisan walau barangkali belum sama sekali mencapai kesucian. Tentu saja untuk menjadi barang bukti yang sanggup mendakwa iblis hingga menjadi terpidana berkekuatan hukum, para anak-anak Allah itu juga harus manusia-manusia yang harus lebih kuat kemampuannya untuk mempidanakan iblis daripada Allah yang tak berhasil menyajikan barang bukti untuk mendakwa iblis hingga menjadi terpidana yang dapat seketika itu juga dibinasakan.


Apakah Yesus Kristus, setidak-tidaknya menyatakan bahwa manusia itu berdosa sama sekali dan senantiasa dibawah penghakimannya sebagaimana Allah pada era sebelum Ia Sang Firman menjadi manusia dan tinggal diantara manusia (Yohanes 1:14)? Mari kita perhatikan ucapan-ucapan Yesus berikut ini:



Matius 15:10-12 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?"  


Matius 15:17-20 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang."


Bagi Yesus Kristus, semua manusia memiliki problem maut untuk dapat berdiri di dalam sebuah pengadilan di mana para manusia adalah saksi-saksi untuk membantu Allah. Bukannya membantu Allah, pasti malah membuat iblis semakin pasti mustahil menjadi terpidana. Bagaimana mungkin para saksi  itu sendiri adalah para pembunuh,pezinah, pecabul, pengucap sumpah palsu sejak dari hati dan pikiran? Barang bukti yang begitu licik pada naturnya mau dihadirkan Allah dihadapan iblis??


Kecuali memang pendeta Erastus sedang berupaya membantah Yesus Kristus, sekuat tenaganya dan menggeser Yesus sebagai pusat kebenaran dan kebenaran itu sendiri.



Manusia memang memiliki pandangan dan spiritualitas yang menyatakan bahwa manusia dapat menguduskan dirinya atau membersihkan dirinya dari noda, kotoran atau berbagai macam kecemaran pada dirinya. Coba perhatikan ini:

“Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"- Markus 7:1-5


Pandangan semacam ini tidak diakui sama sekali oleh Yesus sebagai sebuah kebenaran yang diakui oleh Allah. Dalam hal ini, Yesus bukan menentang sebuah kehidupan yang tahir atau kudus, sebab itu kesukaan Allah untuk dilakukan oleh manusia. Problemnya adalah: pembersihan dari kecemaran atau pembersihan diri  secara demikian telah merupakan budaya spiritualitas yang telah melenyapkan kemuliaan kekudusan Allah, sehingga apa yang dianggap “bersih tak bernoda” oleh orang Yahudi bukan sama sekali sebuah kekudusan yang bersinar dari dalam diri sementara mereka membersihkan tubuh mereka, dalam cara mereka. Coba perhatikan  pernyataan Yesus berikut ini:

Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia- Markus 7:6-7

Bagi Yesus, semua manusia akan  senantiasa gagal untuk membersihkan dirinya sebagaimana realitas hatinya. Itu sebabnya hatinya jauh dari pada-Ku ujar Yesus. “Hatinya jauh dari pada-Ku” itu, sejauh apakah? Apakah itu sebuah kejauhan yang mengakibatkan sebuah keterpisahan dari Allah yang tak mungkin ditanggulangi manusia? Sebelumnya Yesus sudah menjelaskan kenajisan manusia yang tak mungkin dibersihkan dengan air dan apapun juga upaya manusia untuk membasuh hatinya, sebab pada manusia itulah sumber kenajisan bagaikan mata air yang tak pernah putus dan bagaikan tali kekang yang mengendalikan perilaku manusia, atau dalam  pernyataan Yesus tadi: Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang.


Manusia-manusia memang berusaha untuk memenuhi hukum Allah dan itu sesuatu yang akan menyenangkan dan akan membuat manusia itu mendapatkan perkenanan pada Allah. Tetapi pada realitasnya sejak era sebelum Yesus, relasi manusia dengan hukum Allah telah menunjukan bahwa kenajisan manusia pada hakikatnya telah membuat manusia senantiasa gagal membersihkan dirinya dari segala kecemaran secara permanen dan tanpa cela di hadapan Allah. Untuk hal ini, Yesus malah menunjukan fakta ini sebagai sebuah kebenaran  sejak era sebelum dirinya: Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Perkataan  nabi Yesaya yang sedang dimaksudkan oleh Yesus Kristus adalah ini:

Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,- Yesaya 29:13

Yesus Kristus bukan hanya menyatakan bahwa manusia tak berdaya untuk membasuh dirinya agar tak bernoda di hadapan Allah, tetapi menunjukan secara otentik bagaimana hati yang najis dan sumber segala kejahatan itu secara penuh kuasa telah membuat apapun usaha manusia untuk menyenangkan Tuhan dalam dedikasi setinggi apapun akan bercacat dan melenceng  dalam pandangan  Allah sebagai akibat keterbatasan dan ketakberdayaan manusia untuk menggenapi hukum kudus Allah yang mempersyaratkan ketakcemaran hati di hadapan Allah agar apa yang dilakukannya menjadi  bukan hal yang munafik, sebagaimana ini:

Matius 15:3-7 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. Hai orang-orang munafik!


Sekarang bahkan Yesus sedang memperlihatkan melalui penghakimannya bahwa hakikat manusia yang najis atau cemar itu bahkan dalam semangat untuk memenuhi tuntutan hukum-hukum  Allah pun akan membengkokan  kebenaran firman Allah dalam cara mengangkat dirinya sendiri sebagai “dia yang bersabda” dalam cara yang tragis sebagaimana penghakiman Yesus yang berbunyi: “Allah berfirman … tetapi kamu berkata…” Di sini kita menjadi memahami mengapa Yesus bersabda melawan semua manusia yang sekalipun berdedikasi dan penuh ketekunan memenuhi tuntutan atau kehendak Allah berdasarkan kitab suci tapi bagi Yesus semuanya adalah  orang-orang munafik (di sini munafik menjadi lebih dari apa yang kita sangka sebab Yesus menyatakan kemunafikan hingga ke tingkat pemutarbalikan kebenaran sabda Allah) sebab mereka melakukan apa yang tidak menjadi kehendak kudus yang difirmankan Allah  berdasarkan pengajaran  masa kini yang jauh dari maksud sesungguhnya Allah (sebab pada dasarnya mereka tak dapat mengupayakan pengudusan diri), perhatikan ini:


Matius 5:21-22 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.


Matius 5:27-28 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.


Matius 5:31-32 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Hukum baru ini atau perintah baru ini, misalnya, telah menjadi  bukti bahwa manusia akan senantiasa gagal menunjukan dirinya suci atau setidak-tidaknya menunjukan dirinya senantiasa membenci dosa. Mengapa? Karena “Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah” pada “karena zinah” itu harus memperhatikan “zinah” dalam apa yang telah diajarkan Yesus, yaitu “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Pasti tidak akan pernah ada seorang hakim manusia yang dapat menentukan isi hati manusia terkait apakah benar di dalam hatinya sebuah zinah telah ada dan sebaliknya tak akan ada manusia yang secara terbuka mau menyatakan telah berzinah di dalam hatinya, disamping memang siapapun manusia tak akan sanggup menentukan kapan dan bagaimana sebuah hasrat telah berkategori zinah. Sebab untuk melakukan penghakiman semacam ini, manusia itu harus sungguh-sungguh kudus sehingga sanggup melihat kedalaman hati manusia lainnya!


Sehingga memang pada era setelah Yesus kita melihat kontinuitas penghakiman Allah, sebagaimana pada era sebelum Yesus Kristus, atas dosa tanpa sebuah penyusutan. Kala Sang Firman telah menjadi manusia, pada faktanya pandangan Allah terhadap manusia, dosa dan iblis tak pernah berubah sama sekali. Sebagaimana dahulu ia begitu kudus dan begitu membenci dosa, maka demikian jugalah adanya IA kala Yesus telah datang ke dunia ini.


Ini membuat manusia akan senantiasa berada di dalam penghakiman Allah dan murka Allah sehingga untuk menjadi corpus delicti atau bukti yang membuat iblis tak berkutik dalam penghakiman Allah adalah hal yang demi hukum mustahil untuk terjadi.


Konsepsi manusia menjadi corpus delicti dalam konten berjuang untuk mentaati dan menghormati Allah dalam ketaatan hingga mati dalam tujuan untuk menutupi cela Allah di hadapan iblis, pada fakta dalam injil tak pernah terbersit sedikitpun. Manusia tak pernah diajarkan oleh Yesus dan juga oleh para rasul menjadi begitu berbeda dengan realitas manusia pada era sebelum Yesus datang. Sebagaimana dahulu pada era sebelum Yesus datang bahwa manusia berada di dalam kegelapan  yang membuatnya senantiasa memberontak pada Allah sehingga membutuhkan Terang Allah bagi ketakberdayaan manusia terhadap kehendak kudus Allah, maka demikian jugalah pada era Yesus datang.


Ini terlihat nyata pada injil dan penjelasan atau pengajaran atau perintah Yesus sendiri kepada orang banyak, menunjukan apa yang dapat dilakukan oleh Yesus memang sama sekali tak dapat dilakukan oleh manusia, dikarenakan siapakah dia dan apakah kuasa yang berdiam dalam dirinya! Ia adalah Sang Terang yang berkuasa atas kegelapan sebab terangnya menjawab pertanyaan terkait realitas dosa dan realitas manusia terhadap dosa, dalam cara yang menunjukan bahwa dosa dengan segala gagasannya tak datang dari luar diri manusia, sementara manusia pada dasarnya tak berdosa!  



Sang Terang Manusia [Yoh 1:4] menyingkapkan bahwa realitas manusia itu sesungguhnya: najis, yang merupakan karya global rejim pemerintahan iblis yang menguasai manusia, sementara pada Yesus, kegelapan tidak menguasainya sebagaimana rasul Yohanes menunjukannya:  

Yohanes 1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.  

Yohanes 1:9-10 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.    

Realitas dunia tidak mengenalnya sekalipun menerangi setiap orang telah menunjukan bahwa problem dosa memerintah pada diri manusia itu sendiri. Jadi maut berdiam didalam kehidupan manusia di dunia ini sehingga manusia tunduk pada kegelapan dan tak mampu menanggapi terang yang sedang meneranginya. Akan hal ini, beginilah Yesus bersabda:

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.- Yohanes 3:19


Begitulah keterpenjaraan semua manusia. Keterpenjaraan yang akan bikin siapapun akan menggelengkan kepalanya sebab “terang telah datang tetapi manusia lebih menyukai kegelapan” sebetulnya sedang menunjukan ketakmampuan manusia untuk mengenali gelap dan terang secara jitu dan rasional dalam  membuat pilihan. Itu karena ini bukan masalah rasionalitas tetapi masalah keterpenjaraan yang kuasanya tak akan sanggup ditanggulangi oleh apapun upaya manusia. Sekali lagi, Yesus menunjukan keterpenjaraan manusia untuk senantiasa menjadi lawan atau seteru Allah:

Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.- Yohanes 8:43-44


Semua manusia telah terpenjarakan oleh ketidakbenaran yang ada di dalam iblis yang membapakan dunia beserta segenap isinya dengan segala kegelapan dan  kebenaran-kebenaran yang bersabda dalam terang kebenaran iblis bukan kebenaran yang bersabda dalam terang kebenaran Allah, itulah sebabnya iblis disebut pendusta dan bapa segala dusta. Ini penjara yang begitu hebat dan begitu nyata kala Yesus berkata Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan.


Ingatlah ini adalah kebenaran global dunia kita:

Yohanes 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

Mengapa ini adalah kebenaran global atau segenap bola dunia ini, sebab dunia yang sedang dibicarakan di sini adalah “dunia yang dijadikan oleh-Nya.” Adakah dunia yang tak dijadikan oleh-Nya sehingga Yesus harus tereksklusi menjadi kebenaran absolut dan tunggal bagi segenap dunia dan segenap generasi manusia? Ini dulu harus dijawab dan dibantah sebelum menyatakan kebenaran semacam ini tidak global dan tidak abadi.





Sang Kristus sedang menghakimi dan penghakimannya itu sedang menunjukan bagaimanakah sesungguhnya dosa itu bekerja, bahwa seorang manusia bukan dikatakan atau menjadi tercemar dosa atau berdosa karena faktor-faktor dari luar diri manusia itu dan semata jika merupakan eksternalisasi atau mewujudnya keinginan hati atau pemikiran bermuatan jahat  itu dalam rupa tindakan, tetapi karena  faktor-faktor atau kehidupan-kehidupan internal jiwa atau hati manusia  yang memang tak dapat diketahui telah terjadi dosa atau terdapat sebuah kenajisan yang hidup menyala-nyala di dalam manusia selain jika telah mewujud di dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain: manusia pada hakikatnya berada dalam pemerintahan dosa atau manusia berada dalam pengendalian  hasrat-hasrat yang melayani kehendak rejim iblis dan dituntun untuk berjalan untuk semakin lama semakin dekat kepada kebinasaan sebagai buah matang pemberontakannya terhadap Allah.  Hal ini benderang terlihat pada penghakiman yang dinyatakan oleh Yesus dengan cara menggemakan sebuah nubuat kuno namun menunjukan realitas manusia dari generasi ke generasi:

Matius 15:7-9 -Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."  


Hati yang dikuasai pemerintahan rejim iblis tak akan mungkin dekat dengan Allah, dan apa yang begitu mencengangkan ditunjukan oleh Yesus, adalah: sekalipun hati manusia itu dikuasai oleh pemerintahan rejim iblis, itu tak berarti mereka tak sama sekali tidak mencari Tuhan; itu tak berarti mereka tak sama sekali memiliki kesadaran akan kebutuhan Tuhan; itu tak berarti mereka tak sama sekali tak berjuang untuk memiliki kekudusan atau tak dapat menghasilkan kebenaran-demi kebenaran yang mulia dan luhur dalam pandangan manusia.   Hanya  saja dasarnya adalah ajaran manusia dan perintah manusia bukan sebagaimana yang dikehendaki Allah.


Coba perhatikan ini seksama: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia,” yang secara prinsip menunjukan bahwa manusia-manusia yang hatinya jauh dari Allah [karena dikuasai oleh pemerintahan kuasa kegelapan] tetap mampu secara lahiriah sebagaimana juga sepenuh hati atau berkomitmen kuat dari dalam hatinya untuk beribadah kepada Allah walau menurut ajarannya dan kebenarannya sendiri pada pandangan dan penghakiman Allah


Dalam hal ini Allah menunjukan dan menghakimi peribdahan manusia dan pengejaran perkenanan-perkenanan terhadap Allah dalam ibadah dan dalam kebenaran yang mulia itu, sekalipun demikian adanya,  tetapi pada hakikatnya mereka semua, hatinya jauh dari Allah!   



Mengapa dikatakan hatinya jauh dari Allah? Karena hati manusia tidak sama sekali bekerja untuk melayani hasrat kudus Allah, sebaliknya hati manusia itu memiliki mata air yang begitu kotor dan berbau busuk, sebagaimana diangkat oleh Yesus hingga ke permukaan agar dapat dipertontonkan pada manusia: “Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang”- Mat 15:17-20.


Makanan yang masuk dari luar ke dalam mulut BUKAN sumber kenajisan  atau yang menajiskan manusia, seolah manusia pada dasarnya kudus atau memiliki potensi untuk kudus dan menguduskan dirinya sendiri! Tetapi hatilah yang merupakan sumber kenajisan manusia itu, kenajisan adalah eksistensi yang berada di dalam diri manusia itu sendiri selama manusia itu hidup. Di sini jelas sekali hati yang sedang dibicarakan bukan dalam makna organ tubuh, karena ini bahkan dinyatakan oleh Yesus sebagai pengendali pikiran yang berjiwa penuh kejahatan di hadapan Allah. Dalam hal ini menjadi dapat dipahami mengapa rasul Yohanes menuliskan situasi Yesus yang telah datang ke dalam dunia di di tengah-tengah manusia, dalam cara seperti ini: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya- Yohanes 1:5.” Dimanakah “bercahaya di dalam kegelapan itu?  Di dunialah terang itu bercahaya dan dunialah yang berada di dalam kegelapan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita-ayat 14,” sehingga ini adalah realitas yang menunjukan bahwa setiap manusia tak memiliki terang karena berada dalam penguasaan kegelapan sehingga kita membutuhkan pertolongan Sang Terang: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang-ayat 9. Ini sekaligus  menempatkan Manusia Yesus sebagai satu-satunya yang tak dikuasai oleh kegelapan yang berkuasa itu:” kegelapan itu tidak menguasainya- ayat 5.” Adakah anda melihat sedikit saja manusia dalam pandangan Allah dan Yesus berpotensi menjadi corpus delicti untuk membungkam iblis dan menolong Allah yang tak berdaya di hadapan iblis? Apakah Allah memiliki agenda  dalam penciptaan manusia sehubungan dengan pembuktian kejahatan iblis, seperti pengajaran di bawah ini?




Berdasarkan apa yang disingkapkan oleh Yesus, manusia pada segenap ras manusia digembalakan oleh hatinya yang menjadi sumber kenajisan bagi dirinya sendiri di hadapan Allah. Hati yang masih dapat menyadari dosa, masih dapat membedakan manakah yang benar dan salah, bahkan apa yang berdosa dan tak berdosa, tetapi hati manusia yang sama itu tak dapat mengenali Terang yang telah datang ke dunia sehingga sekalipun manusia itu masih memiliki hati yang dapat menyadari dosa, masih dapat membedakan salah dan benar, bahkan itu dosa dan itu bukan dosa, tapi secara absolut gagal untuk mengenali Sang Terang dan mengikutnya:

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.- Yohanes 3:19

Hati manusia dan pikiran manusia lumpuh untuk dapat membedakan terang daripada kegelapan. Jadi ketika membicarakan berada dalam kuasa kegelapan, itu sama sekali tak akan berisikan atau menjadikan manusia-manusia itu  adalah para pembunuh, para pemerkosa, para penipu,  dan apapun yang tak bermoral dan apapun yang tak beretika dan apapun yang tak manusiawi. Yesus bahkan menunjukan para manusia yang berada dalam kuasa kegelapan sanggup menjalani kehidupan yang begitu saleh dan begitu bertekun dalam Kitab Suci:

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. – Yohanes 5:39-40


Ini realitas yang sama persis dengan Yohanes 3:19 dan tentu saja sama persis dengan kehidupan manusia yang mengejar dan memperhatikan kehidupan yang menjauhi kecemaran dan memperhatikan bagaimana sebisa mungkin  sekudus-kudusnya berdasarkan kehidupan spiritualitas yang terpraktekan dalam kehidupan sehari-hari dari generasi ke generasi ( Markus 7:1-5).



Harus dicamkan kehidupan lepas dari terang dan tetap memilih bertahan dalam kegelapan bahkan dapat  melahirkan kehidupan yang teramat saleh dan itu nyata di mata manusia. Perhatikan ini:

Matius 19:16-25 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"


Perhatikan, di sini, kesalehen orang kaya tersebut benar-benar berdasarkan kitab suci, tetapi apakah  ia kemudian diselamatkan yang bermakna memperoleh hidup kekal? Faktanya tidak! Karena berbuat saleh sama sekali tidak mendatangkan kuasa baginya untuk diselamatkan, sebab perbuatannya sekalipun demikian saleh justru membuktikan ia  memiliki hati yang jauh dari Allah, tepat sebagaimana nabi Yesaya telah menyatakannya dan diteruskan oleh Yesus kepada bangsa Yahudi! Tidak masuk ke dalam kerajaan sorga, itu bukan dunia antara kerajaan sorga dan neraka, seolah selama saleh walau tak percaya pada Yesus tetap berpeluang untuk masuk ke dalam dunia dan langit baru.


Hal ini benar karena demikianlah yang diajarkan Yesus dan dipahami para murid sehingga para murid bertanya dalam  kegemparan: jika demikian, SIAPAKAH YANG DAPAT DISELAMATKAN. Tak diselamatkan berarti: tidak memiliki kehidupan kekal, sebagaimana yang ditanyakan orang kaya tersebut kepada Yesus.


Hatinya yang memandu pikirannya tak dapat menuntun manusia untuk masuk ke dalam kehidupan dan perbuatan kudus yang dapat menguduskannya sebagaimana dikehendaki Allah. Manusia-manusia pada keyakinan apapun memang dapat menghasilkan kehidupan-kehidupan berkualitas dan bahkan perbuatan-perbuatan yang bernuansa suci bagi nilai-nilai kebenaran manusia, tetapi sementara manusia-manusia itu dapat melakukannya dan memperjuangkannya, dapatkah benar-benar merupakan eksternalisasi hati yang kudus dalam pandangan dan kebenaran Allah? Sehingga penting untuk mengarahkan mata dan diri ini, pada apakah yang disabdakan Allah terkait hal-hal ini? Kebenarannya ada pada apa yang diungkapkan oleh Yesus Kristus pada realitas yang terjadi: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” [Matius 15:8]. Siapakah yang dapat mengatakan pada seorang manusia bahwa ia adalah yang benar-benar sedang menunjukan kehidupan yang berkualitas mulia, berkarakter agung dan menjauhkan diri dari segala bentuk nafsu dunia, sebagai orang yang hatinya jauh dari pada Allah?“ Tak akan pernah ada.


Hatinya jauh dari pada Allah” merupakan penghakiman yang begitu janggal bagi manusia sementara berkehidupan saleh, dan tak ada satu juga manusia yang sungguh berkuasa melakukan penghakiman semacam itu, sebab ditimpakan pada orang-orang yang mulutnya sedang memuliakan Tuhan dalam sebuah peribadatan yang dikuduskan oleh Allah dan tubuhnya memang sungguh sedang mentaati kehendak kudus hukum-hukum Allah! Ini adalah pembicaraan dosa yang tak akan sanggup dimasuki oleh kebenaran-kebenaran yang diproduksi manusia, sebab Yesus sedang membicarakan keberdosaan yang  masih “immaterial” atau “belum lagi mewujud.” Dengan demikian belum lagi mewujud bahkan pada fakta visualnya sedang berbuat hal-hal yang terpuji, namun telah dihakimi-Nya sebagaihatinya jauh dari Allah” atau “hidup dalam penguasaan dosa.”  


Dosa yang tak kasat pada mata manusia dan bahkan berwujud kehidupan saleh sehingga Yesus berkata keras bahwa orang tersebut tidak memperoleh kehidupan kekal atau tidak masuk ke dalam kerajaan sorga.  Sekalipun demikian menurut manusia, itulah sejatinya yang telah, tetap dan sedang dilihat oleh Allah dalam manusia itu sementara berjuang keras untuk memuliakan Tuhan atau berjuang keras untuk membangun moralitas yang kian lama kian mulia.
Ini bukan sedang membicarakan anti segala hal yang baik dan mulia dan harus diperjuangkan untuk kita hadirkan di dunia ini, tetapi ini sedang menunjukan bahwa pada itu semua bukan jalan menuju kehidupan kekal dan sama sekali tidak berkuasa menguduskanmu di hadapan Allah!



Jika munafik, bagi Yesus, terkait dengan apa yang yang berlangsung secara immaterial dalam diri manusia sementara manusia itu secara eksternal berbuat baik atau bahkan mulia yang mana hal immaterial itu menjadi “hakim” atas apa yang ditampilkan manusia secara eksternal, yaitu: “apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat”- Mat 15:18-19, atau ringkasnya, bagi Yesus, munafik itu, adalah: sementara memuliakan Tuhan, hatinya tak turut memuliakan Tuhan tetapi masih bekerja keras untuk menghasilkan kejahatan, maka jelas, dosa dan keberdosaan semacam ini, merupakan problem raksasa yang tak dapat disentuh manusia untuk ditanggulangi. Bagi manusia, membicarakan munafik setidaknya dua fakta visual yang saling bertentangan, misal: “si A dikenal sebagai tokoh gereja yang menganjurkan kepada banyak orang Kristen untuk menjunjung kesetiaan dan kekudusan di dalam rumah tangga, namun suatu ketika terbongkar skandal tokoh ini memiliki lebih dari satu wanita simpanan, selain isterinya,” inilah yang disebut sebagai kehidupan penuh kemunafikan, dibuktikan berdasarkan dua fakta visual. Sangat berbeda tajam bagi Yesus, sebagaimana tadi, tidak demikian, munafiknya seorang manusia tak memerlukan sepasang fakta yang bersifat visual bagi manusia, cukup satu fakta visual  bagi Allah untuk menghakimi manusia-manusia itu sedang munafik berdasarka realitas hatinya adalah sumber kenajisan dalam ia sedang memuliakan Tuhan atau sementara ia adalah seorang begitu berbudi luhur dan berjuang keras mengejar kekudusan hidup.  


Pada poin ini dapat dikatakan: tak mungkin  anak-anak Allah menjadi corpus delicti sebagaimana halnya Yesus, karena tak ada satu pun manusia yang kudus pada hatinya dan sanggup menguduskan dirinya. Kalau manusia memerlukan Yesus untuk membuatnya tak bercela, lalu bagaimana bisa Yesus diajarkan oleh pendeta Erastus sama sekali tak berurusan dengan kebercelaan manusia di hadapan Allah? Bagaimana bisa tidak dipecundangi iblis dalam pengadilan, sementara Allah yang mahakudus sekalipun menurut pendeta Erastus memiliki cela di hadapan iblis!




Peneladanan secara eksternal pada Yesus tak mengatasi fakta hati yang telah dinyatakan sebagai sumber kenajisan, sementara itu, fokus  menjadi corpus delicti tertuju setinggi-tingginya untuk membungkam iblis tanpa dapat melepaskan diri menjadi bagian kerajaan iblis beserta segala keinginannya. Bisakah manusia melayani 2 tuan dengan sama setianya lalu secara bersamaan, kemudian, menghakimi salah satunya sebagai upaya menolong tuan yang satunya lagi? Ini problem tajam yang tak diselesaikan dalam pengajaran pendeta Erastus.  Sehingga apa yang diajarkan olehnya semata pengajaran manusia, dan si pengajar telah menempatkan dirinya melampaui Yesus, karena tak mengakui penghakiman Yesus yang berbunyi melawan setiap manusia yang berpikir tak membutuhkan Tuhan sebagai kebenaran baginya:

Matius 15:14 Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."




Bagaimana bisa manusia berdosa [buta akan kebenaran keselamatan] menyingkirkan Yesus beserta segenap pengajaran dan kuasanya atas kerajaan iblis dengan pengajaran dirinya dan instruksinya kepada jemaat agar berjuang menjadi corpus delicti sehingga dapat membungkam iblis, karena Allah membutuhkan barang bukti yang kokoh dari manusia-manusia.


Bagaimana bisa manusia buta akan Allah dan realitas keberdosaan itu dapat mengubah sabda Yesus ini:

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya  tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal
Menjadi:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya Ia dapat memikul atau menanggung dosa manusia dan dapat menjadi corpus delicti bagi manusia berdasarkan ketaatannya yang menunjukan bahwa seharusnya manusia-manusia dapat menaati dan menghormati Allah, sehingga manusia-manusia dapat membungkam iblis

perhatikan baik-baik, bahwa  dapat membungkam iblis di sini bukan dalam tautan bahwa setiap anak Allah memiliki otoritas atas iblis di dalam dan melalui Yesus Kristus yang sudah menebusnya dari dan oleh nama Yesus yang telah melucuti kuasa pemerintahan iblis di dunia ini-sebab konsepsi corpus delicti ala pendeta Erastus menyanggah kebenaran semacam itu bahwa Yesus telah menghancurkan pemerintahan iblis dalam kedatangannya ke dunia ini, sebab bukankah hingga kini Allah masih bercela di hadapan iblis-, jika itu yang dimaksud dengan "dapat membungkam iblis" maka Allah bebas sama sekali dari problem ketiadaan problem corpus delicti yang membuatnya bercela dihadapan iblis. "Dapat membungkam iblis di sini adalah menyediakan dirinya bagi Allah untuk menjadi bukti kejahatan iblis berupa barang bukti "ia taat pada Allah sampai mati" yang mana ini bukan sama sekali bukti terkait kejahatan iblis. Mengenai membungkam iblis dengan menjadi corpus delicti, penting sekali untuk selalu menautkan dengan apakah sebenarnya corpus delicti itu sebagaimana pada pemaparan di "bagian 2" ini.


berdasarkan poin pengajaran pendeta Dr. Erastus Sabdono ini:

Manusia harus dihukum,tetapi Allah ingin mengampuni manusia. Oleh sebab itu harus ada yang memikul atau menanggung dosa manusia tersebut. Itulah sebabnya Bapa mengutus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus untuk menggantikan tempat manusia yang harus dihukum tersebut. Ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Sekaligus oleh ketaatan-Nya ia bisa menjadi CORPUS DELICTI yang mebuktikan bahwa seharusnya anak-anak Allah dapat taat dan menghormati-Nya dengan benar. Iblispun terbukti dan pantas dihukum[halaman 37- “Aturan Main,” Majalah Truth edisi 26]  



Siapapun manusia yang mengikuti pengajaran pendeta Dr. Erastus Sabdono ini, dapat dipastikan telah turut serta dalam sebuah gerakan “mesianik” baru. Mengapa dikatakan gerakan mesianik baru begitu menista Allah?  Mengapa harus dinyatakan demikian, karena pada substansinya Allah membutuhkan sebanyak-banyaknya pembebas-pembebas atau mesias-mesias yang mau membebaskan diri-Nya dari perbudakan ketakberdayaan-Nya untuk pada diri-Nya sendiri menyediakan bukti kejahatan iblis sehingga segera dapat membinasakannya. Dan Yesus Sang Mesias tak pernah mengatakan apapun dalam cara yang bagaimanapun bahwa pengutusan dirinya oleh Bapa juga untuk menjadi corpus delicti bagi manusia. Mengajarkan manusia-manusia dapat menjadi corpus delicti dalam konsepsi yang demikian, sama saja hendak mengatakan bahwa manusia tak memiliki problem mematikan sebagaimana yang Yesus kemukakan: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Dan dengan demikian, tak satupun manusia membutuhkan pertolongan Mesias untuk membebaskan dirinya dari perbelengguan iblis. Dosa yang sedang dibicarakan Yesus, juga, tak ada kaitanya dengan apakah mereka sedang melakukan kesalahan dalam peribadatan mereka, pada faktanya Yesus mengakui ekspresi lahiriah mereka memang memuliakan Allah. Manusia memang dapat melawan Tuhan dengan berargumen: bukankah salah satu bukti karakter manusia itu, apakah mulia atau tidak, dapat diukur dari perbendaharaan kata-kata yang keluar dari mulutnya? Memang benar dan itu aktual atau bukan kepura-puraan, namun yang menjadi masalah bagi manusia adalah: pada apa yang tak tertanggulangi atau tak teratasi oleh manusia sekalipun dengan membangun kehidupan peribadatan atau kehidupan yang memuliakan Tuhan, sekalipun, sebab inilah kegagal manusia yang membutuhkan pertolongan Mesias: problem hati sebagai sumber kenajisan yang internal dan integral dalam diri manusia.  


Penekanan pendeta Erastus Sabdono agar anak-anak Tuhan menjadi corpus delicti bersamaan dengan menyangkali kuasa Yesus untuk menghakimi dan melucuti pemerintahan iblis di dunia ini, sedang  menunjukan sebuah corak pengajaran yang memberontak terhadap penghakiman Yesus atas dirinya, pertama-tama, sebagai pengajar, bahwa di dalam diri setiap manusia, ada satu problem yang tak dapat diatasinya, yaitu: hati sebagai sumber kenajisan manusia, bukan apa yang datang dari luar dan masuk ke dalam kehidupan manusia itu. Bagaimanakah menguduskan hati atau jiwa manusia sehingga lepas dari pemerintahan kuasa kegelapan yang menuntun jiwa menuju kebinasaan hidup sebab jauh dari Allah? Mendekatkan hati pada Allah, berdasarkan  Yesus, bukan hal yang dapat diselenggarakan dengan aktivitas lahiriah dan pengarahan pikiran pada Kristus, sebab dalam aktivitas sedemikian pun, tak melahirkan kuasa pengudusan hati. Sebab Yesus tak pernah mengajarkan bahwa manusia  berkuasa untuk melepaskan diri dari pemerintahan iblis berdasarkan kebenaran sebagaimana ala pendeta Erastus.    



Manusia tak dapat pada dirinya sendiri meneladani Yesus dan kemudian berdasarkan peneladanan Yesus yang sukses menjadi corpus delicti, dan selanjutnya ia dapat mengejar dan memiliki pengudusan pada hatinya, lalu hatinya berhenti menjadi sumber kenajisan baginya.  Apalagi membungkam iblis? Bagaimana mungkin membungkam iblis sementara dirinya masih dipandu oleh gembala jahat di dalam hatinya, yaitu: iblis yang membina hati manusia untuk menjadi anak-anak kejahatannya! Alih-alih menjadi corpus delicti yang dapat membungkam iblis, manusia-manusia malah akan  berakhir menjadi para terdakwa di hadapan Allah untuk berakhir dalam vonis yang sama dengan iblis dan malaikat-malaikatnya[ Mat 25:32-34,41].  


Manusia pada hakikatnya memang mustahil menjadi corpus delicti ala pendeta Erastus, sebab Yesus memang menekankan begitu tajam realitas global manusia pada kemanusiaan segenap manusia, pada apakah dan dimanakah sumber penajisan diri manusia itu:  

Matius 5:21-22 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.  


“Marah” sebagai sebuah ekspresi jiwa atau hati manusia, oleh Yesus telah dinilai tak ada beda sama sekali dengan membunuh, ini bukan hal main-main, dan agar kebenaran ini terang tanpa spekulasi pada apakah maknanya memang sedemikian kerasnya, Yesus berkata:“yang marah terhadap saudaranya harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”  Mengapa marah dapat sama kerasnya dengan perbuatan membunuh? Karena marah lahir dari hati, hati yang sama, yang memancarkan begitu lebatnya segala pikiran yang jahat, termasuk untuk membunuh.  


Matius 5:27-29 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.  

Hati-hati, bahkan, apologia seorang manusia yang memandang dan menginginkan seorang perempuan bukan sama sekali sebuah ketersesatan yang sesaat sekalipun namun merupakan kealamiannya sebagai seorang laki-laki, tak akan pernah dapat menolongnya dari penghakiman sabda Yesus ini. Mengapa? Karena “memandang dan menginginkan” perempuan merupakan penghakiman Allah atas hati manusia sebagai sebuah sumber kenajisan itu sendiri, dengan kata lain: tak ada satupun manusia yang dapat memastikan kala memandang perempuan serta menginginkannya tak masuk kategori berzinah yang penghukumannya adalah neraka. Sebab manusia tak memiliki kekudusan Allah untuk menakar dirinya sendiri.



Apa yang baru saja dinyatakan atau disingkapkan oleh Yesus, adalah: semua manusia pasti berdosa tanpa perlu berwujud fakta yang berlangsung di dalam ruang dan waktu! Dosa yang menjerat manusia, bagi Yesus, adalah kenajisan yang memiliki kediaman pada diri manusia itu sendiri yang berkuasa untuk membuat hati manusia itu jauh dari Allah, sekalipun ia memang penuh dedikasi, hasrat dan ketekunan untuk beribadah pada Allah. Fakta  semacam inilah yang tak memungkinkan manusia-manusia untukmenyelesaikan problem ini kecuali Sang Mesias membebaskannya dari problem maut ini.


Keterpenjaraan manusia oleh dosa bukanlah sebuah peristiwa dinamis,ber-interval atau satu saat tertentu terpenjara dan pada saat lainnya tidak, mengacu pada momentum-momentum manusia itu berbuat dosa atau berhenti berbuat dosa. Keberdosaan atau hidup di dalam dosa, pada hakikatnya, tidak ditentukan oleh kemampuan manusia atau ketidakmampuan manusia untuk melawan hasrat jahat sehingga tak berwujud, tidak sama sekali seperti itu, tetapi ditentukan apakah hatinya dekat dengan Allah atau tidak, yang mana fondasi kedekatan itu adalah: hati  manusia yang menjadi sumber penajisan dirinya tidak lagi menjadi gembala yang berkuasa menuntun atau menggembalakan  jiwanya untuk membawanya menuju kebinasaan atau tak hidup bersama dengan Allah. Dengan kata lain, manusia memerlukan pertolongan Allah agar dalam ia mengejar kehidupan yang kudus, mengejar kehidupan yang berkarakter benar bahkan berlomba memiliki keotentikan hidup yang telah dikuduskan, sehingga semua yang dilakukan itu, dilakukannya sebagai manusia yang  hatinya digembalakan oleh Allah, bukan iblis atau bukan sementara ia berada di dalam pemerintahan kegelapan.


Sekali lagi, pengejaran kehidupan kudus sebagai sebuah perlombaan sebaik-sebaiknya sehingga dapat dipersembahkan sebagai keharuman hidup di hadapan Allah adalah buah kehidupan yang secara nyata akan menyenangkan Allah, dengan menjauhkan diri dari:

perzinahan [Keluaran 20:14, Im 18:20, Ul 5:18]
persetubuhan dengan binatang [Im 18:23, Ul 27:21]
tindakan-tindakan yang homoseksual [Im 18:22]
hubungan seks dengan orang yang masih memiliki pertalian sedarah [Im 18:6-18;Ul 22:30;27:20,22-23]
Prostitusi [zanah-ibrani; Im 19:29, Ul 23:18]
Perkosaan [Ulangan 22:25-29]
Seks sebelum pernikahan [Kel 22:16-17]
pelacuran atau hubungan seks terkait ritual keagamaan [Ul 23:17]
tindakan-tindakan najis [Im 18:19]
pelanggaran pertunangan [Kel 22:23-27]



namun sekalipun manusia berjuang keras untuk memenuhinya, itu sendiri taklah dapat mendatangkan pengudusan pada diri manusia, mengacu pada dosa menurut Yesus. Sehingga dapat dimengerti, mengapa penghukuman pada setiap pelanggaran, pasti mendatangkan maut bagi pelanggarnya,bahkan pada, pertama-tama, kejahatan dalam pemikiran itu sendiri, karena sejak semula dosa-dosa atau pelanggaran terhadap kekudusan Allah akan diganjar dengan kematian, misalkan:

bagi perzinahan : Im 20:10, Ul 22:22
bagi persetubuhan dengan binatang: Kel 22:19, Im 20:15-16
bentuk-bentuk terburuk hubungan seks dengan yang masih berelasi sedarah: Im 20:11,12,14 -tindakan-tindakan homoseksual: Im 20:13
pelanggaran pertunangan: Ul 22:23-27  



Yesus, ketika datang ke dalam dunia, tak pernah memfleksibelkan kekudusan Allah dan menyusutkan kekudusan, bahkan pada hukum-hukum larangan yang diatur dalam Taurat, tetapi membuat pengudusan diri dan kekudusan hidup itu semakin tajam sehingga menghakimi manusia sebagai yang berada di dalam rejim pemerintahan kegelapan yang bertakhta di dalam dunia, dengan menunjukan bagaimanakah penajisan itu berlangsung (Markus 7:18-23). Jika demikian, maka melawan atau mengekang atau mematikan diri terhadap keinginan-keinginan semacam ini tak pernah menjadi pemecahan masalah “semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam,” yang begitu berkuasa untuk mengendalikan dan menggembalakan perilaku manusia mulai dari aspek jiwa sebelum berbuah menjadi perilaku jahat.  


Yesus Kristus, dengan demikian, saat menyatakan bahwa manusia berdosa, telah dinyatakannya  sebagai Ia yang mahatahu atas jiwa-jiwa manusia yang berdosa atau semua manusia jauh dari Allah, bahkan Ia berkuasa untuk menghakimi ketakberdayaan manusia untuk menaklukan kinerja dosa atas tubuhnya sendiri sekalipun melalui membangun kehidupan baik atau kudus atau memenuhi tuntutan kudus Tuhan. Mengapa demikian? Sebab, pada dasarnya, bukan karena manusia gagal melakukannya maka manusia itu najis, tetapi karena pada dasarnya manusia itu berdosa atau kenajisan itu mengalir dari jiwanya sendiri. Manusia itu berada di dalam kehidupan jiwa dan perilaku yang diperintah dosa.  Sederhananya: perbuatan-perbuatan dosa adalah buah-buah lebat dari pohon kehidupan manusia yang memancarkan kenajisan dari dalam dirinya.


Apakah, kemudian, Yesus, sebagaimana diajarkan oleh pendeta Erastus Sabdono, meminta manusia untuk menjadi corpus delicti untuk menangangi problem ini dengan menjadi corpus delicti yang dapat membungkam iblis dalam ketakberdayaan Allah? Jelas tidak! 



Bersambung ke bagian 15  


Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah

P O P U L A R - "Last 7 days"