0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (6.G-5)

Oleh: Martin Simamora

YEDIJA:
“Dikasihi Allah Karena Karunia-Nya Pada Manusia Yang Berada Dalam Kebinasaan, Bukan Karena Manusia Memperjuangkan Kebenarannya(6.G-5)”


Jika berdasarkan perjalanan  kelangsungan atau kelanggengan takhta Daud bukan sama sekali sebuah kebenaran berdasarkan ketaatan: Daud, monarkinya, dan keluarganya terhadap hukum Taurat, sehingga pun kelahiran Mesias dari eksistensi bangsa ini, dengan demikian, tak terelakan  berdasarkan kasih karunia Allah, lalu bagaimana dengan eksistensi hukum Taurat itu, apakah relasinya dengan Yesus Kristus, apakah hukum itu lenyap?


Relasi Yesus terhadap hukum Taurat, bukan saja diungkapkan oleh Sang Mesias sendiri. Ia menautkan dirinya dengan hukum Taurat  dalam kemanusiaannya yang sejati, namun tidak sama sekali dalam kegagalan demi kegagalan. Tapi, itu pun tidak hendak menyatakan sebuah kesempurnaan kemanusiaan di dalam atau berdasarkan kekuatan atau ketekunan kemanusiaannya, tetapi kesempurnaan keilahiannya atau kedivinitasan atau ketuhanannya yang begitu berkuasa atau begitu berdaulat atas setiap perjalanan kehendak Yesus untuk menaati semua yang telah dituliskan oleh Kitab Suci,sebagai manusia. Itu sebabnya, Ia,tak terhindarkan, dihadapan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,bukan saja ditakar begitu kurang ajar dalam ketentuan-ketentuan agama yang berlaku dan seharusnya pun dihormatinya, tetapi telah ditakar sebagai ia yang walaupun manusia telah menyamakan dirinya dengan Allah. Yesus Sang Mesias dalam Ia membangun relasinya dengan Hukum Taurat, dalam semacam itu, karenanya telah menempatkan dirinya mengatasi hukum Taurat itu dalam pengajaran-pengajarannya dan dalam instruksi-instruksinya, sehingga Ia berkata penuh ketajaman bersabda: “Ikutlah Aku” atau “Akulah kebenaran” atau “Akulah Jalan,” atau “Akulah hidup,” “Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab nabi-nabi,” bahkan Ia pun merelasikan dirinya dalam sebuah relasi yang begitu sukar untuk diterima,kala Ia juga menempatkan dirinya dalam relasi dengan pra-hukum Taurat. Bukan sekedar berbicara pra-eksistensinya, tetapi hendak menyatakan bahwa saat Ia berkata: “Akulah kebenaran,” “Akulah jalan,” “Akulah hidup,” dan “Ikutlah Aku,” pada dasarnya adalah kebenaran dirinya jauh sebelum hukum Taurat itu ada diterima di era nabi Musa. Jika demikian, maka memang, relasi Yesus terhadap hukum Taurat, pastilah bukan sebuah relasi semacam ini: “pra eksistensi Yesus baru ada karena hukum Taurat terlebih dahulu diadakan.” Pra Eksistensi[eksistensi sebelum Ia datang sebagai manusia]Yesus Sang Mesias, bukan ada  atau diadakan karena janji-Nya kepada Adam dan Hawa, Abraham, Musa hingga dinantikan Simeon yang secara khusus ditetapkan Allah tidak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Mesias.


Yesus memang memiliki relasi yang begitu ketat dengan kitab suci: hukum Taurat, Kitab Para Nabi, dan Mazmur. Simeon menunjukan kebenaran ini, Ia hidup dan beriman berdasarkan apa yang telah dituliskan kitab sucinya mengenai kedatangan Sang Mesias. Mari kita perhatikan hal ini melalui Simeon.


Simeon adalah seorang yang beriman kepada keselamatan atau pembebasan oleh Mesias berdasarkan janji-janji Mesianik  dalam Kitab Suci:

Lukas2:25-32Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."


Simeon telah menyatakan kegenapan janji-janji mesianik dalam perjanjian lama. Dia yang telah lama begitu dinantikan telah datang. Datang untuk apakah? Untuk membawa keselamatan dari Allah; pada diri Yesus Sang Mesias  bersemayam keselamatan dari Allah yang disediakan di hadapan segala bangsa. Dalam posisi atau dalam relasi yang bagaimanakah Yesus itu dihadapan bangsa-bangsa? Netralitaskan ataukah bersimbiosis mutualismekah terhadap kebenaran-kebenaran yang lain? Dinyatakan, bahwa Yesus Sang Mesias itu telah disediakan oleh Allah di hadapan segala bangsa sebagai Ia adalah terang yang dinyatakan  Bapa bagi bangsa-bangsa lain. Bagi Allah,semua bangsa tak memiliki terang dari-Nya, semua berada di dalam kegelapan dan  dengan demikan harus memiliki terang dari-Nya. Kedatangan Sang Mesias  melalui bangsa ini memang merupakah kemuliaan bagi umat-Nya, bangsa Israel.


Tetapi, apakah Dia yang merupakan kemuliaan bagi umat-Nya, bangsa Israel, akan begitu saja berharmonisasi dalam sebuah relasi  Ia disambut, Ia dicintai, Ia dipeluk mesra, Ia dipeluk dengan kecupan jiwa yang tulus jiwa yang tahu diri “aku membutuhkan keselamatan-Mu,” ataukah disambut penuh penentangan, penuh perlawanan, penuh kecurigaan dan penuh keraguan, benarkah Ia harus menjadi keselamatan satu-satunya dan benarkah dengan demikian keselamatan tak akan pernah datang dari hukum Taurat berdasarkan  ketaatan sehingga layak diselamatkan?


Simeon kala memberkati anak tersebut telah menyampaikan sebuah masa depan yang begitu keras dan kelam,yang sedang menanti seorang  anak manusia yang masih anak-anak. Beginilah Simeon berkata mengenai masa depan anak ini:

Lukas 2:34-35 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan--dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."



Kala Hukum Taurat Berjumpa Dengan Satu-Satunya Penggenapnya, Semua Jiwa Murka Penuh Kebencian Karena Kebenaran-Kebenaran Diri Mereka Lenyap Sirna Di Hadapan Sang Penggenapan Sekalipun Mereka berjuang Untuk Hidup Berdasarkan Ketentuan Taurat


Ia kemuliaan bagi Israel, umat-Nya, namun pewujudannya akan mengguncangkan kedamaian kehidupan keagamaan umat-Nya oleh-Nya. Ia memang menjadi kemuliaan bagi Israel tetapi kemuliaan itu, sebetulnya, bagiakan perak yang telah begitu kusamnya dan telah kehilangan kecemerlangannya. Ia harus memendarkan kemuliaan-Nya dalam cara yang  bukan saja menghentakan banyak orang tetapi akan benar-benar sebuah konfrontrasi Sang Mulia Sang Suci yang sedang mendatangi umat-Nya yang didapati-Nya begitu menjijikan dan begitu berlarut dalam dosa yang kegelapannya dan kepekatan dosanya begitu sempurna ditunjukan oleh Hukum Taurat dihadapan Yesus Sang Mesias. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan-dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri-supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”


Ia adalah keselamatan dari Allah, demikianlah Roh Kudus melalui mulut Simeon menyatakannya:

Lukas 2:25-26 Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.



Pada usianya yang ke-8 hari, Roh Kudus melalui mulut Simeon telah menyatakan bahwa Sang Keselamatan dari Allah itu datang menyelamatkan dalam kuasa penghakiman yang begitu absolut ada ditangannya. Ia bukan saja melawan satu atau dua atau 5 atau 10,20,50, 100 tetapi semua orang di Israel, sebab: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Ia menjadi hukum Taurat yang hidup dan menghakimi, menunjukan ketakberdayaan satupun juga manusia sehingga di dalam tangannya saja ada kuasa yang menentukan kejatuhan atau kebangkitan setiap manusia:” Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel.” SATU satu-satunya menghakim semua; SATU satu-satunya melawan semuanya. Begitulah Yesus Sang Mesias dalam menyatakan keselamatannya, sehingga inilah yang akan terjadi sebagaimana Roh Kudus telah menyatakannya melalui Simeon:


- untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
- suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri-supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang


Dia  akan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, ini secara disain hendak menyatakan bahwa Yesus Sang Mesias-Sang Juruselamat akan menjadi sebuah tanda kehadiran Tuhan di dalam dunia yang gelap pada manusia-manusia yang dibelenggu dalam kegelapan. Sebuah konflik tajam tak terelakan seperti halnya kekudusan versus kenajisan, demikianlah natur relasi Yesus dengan manusia-manusia Israel, sebagaiman relasi hukum Taurat dengan bangsa Israel selama ini sejak era bapa-bapa leluhur mereka. Sebagaimana hukum Taurat menyatakan kematian bagi setiap pelanggaran terhadap tuntutan-Nya, maka demikian juga Yesus terhadap jiwa-jiwa manusia yang berdiri dihadapannya akan bagaikan pedang yang sanggup menembus jiwa manusia untuk menyingkapkan apakah sesungguhnya pikiran hati banyak orang dibalik perjuangan hidup untuk selaras dengan tuntutan Taurat. Jikalau  hukum Taurat sanggup disimpangkan oleh para ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, maka pada Yesus tak dapat sama sekali disimpangkan atau diperdaya atau dijebak oleh mereka.


Tak hanya Simeon. Di Bait Allah ada seorang janda, seorang nabiah, seorang yang lanjut usianya, 84 tahun yang kehidupannya tak pernah lepas dari Bait Allah dan tak pernah lepas dari kehidupan Bait Allah yang penuh dengan ibadah siang dan malam dengan berpuasa dan berdoa! Ia, sebagaimana Simeon, mengenali siapakah bayi lelaki 8 hari itu, bahwa ia adalah:


Lukas 2:36- 38Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.


Yesus Sang Mesias, sejak usia 8 hari, telah ditetapkan untuk menjadi sebuah tanda yang menimbulkan banyak perbantahan dan suatu pedang yang akan menembus kedalaman banyak jiwa manusia-Ia Yesus yang dapat menghakimi bukan saja perbuatan eksternal manusia tetapi gerak-gerik dan perilaku jiwa-jiwa manusia-sebagai  yang lahir bukan saja dari trah Daud tetapi juga dari sebuah keluarga yang begitu taat pada segala ketentuan hukum Taurat:

Lukas2:21Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.


Sebelum dikandung, Ia telah bernama; sebelum Ia dikandung ibu-Nya, Sorga telah menamainya. Sebuah ketetapan sebelum segala sesuatu terjadi, sebelum si ibu mengandung dan sebelum apapun yang seharusnya lebih dahulu terjadi agar seorang wanita mengandung, terjadi, dan tak pernah terjadi sama sekali dalam Ia dikandung ibu-Nya. ITULAH MANUSIA YESUS diantara manusia-manusia.


Lukas2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,


Ia yang kelahiran-Nya di dunia ini dalam cara yang tak terjamahkan dunia dan manusia ini, adalah anak yang tunduk pada pentahiran menurut hukum Taurat Musa, membuatnya menjadi anak yang kudus di hadapan Bait Allah dan di hadapan masyarakat Yahudi. Bukan anak  kenajisan.


Sekalipun Ia tak memerlukan sama sekali akan itu, namun itulah kontak langsung dan pertama pada bagiamana Ia akan memiliki relasi dengan hukum Taurat bukan sebagai yang harus tunduk pada hukum Taurat untuk tetap memiliki kekudusan berdasarkan pentahiran itu. Ingatlah bagaimana malaikat Gabriel menyatakan siapakah anak ini:

Matius1:18-21 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."


Yesus, pada pokoknya bukan sekedar tak memerlukan penahiran pada dirinya, selain Ia sebagai keturunan Trah Daud,berdasarkan ketentuan Taurat, memenuhi hukum pentahiran sebagai ia seorang Yahudi yang taat dan menjujung tinggi pengudusan dan kudusnya hukum Taurat itu, namun IA adalah SANG PENYELAMAT satu-satunya  bagi umat Tuhan dari kebinasaan yang diakibatkan oleh dosa-dosa mereka sendiri dan bahwa semua berada di dalam pemerintahan belenggu maut tanpa mereka perlu berbuat dosa!


Sebagaimana nama yang akan diberikan telah dinyatakan malaikat kepada kedua orang tua Yesus, itu sebelum  Yesus sendiri dikandung, maka bawa Ia adalah Juruselamat manusia  yang melepaskan manusia dari kebinasaan dosa, juga telah ditetapkan begitu jauh ke belakang pada era yang akan sungguh sukar untuk dipercaya akan terjadi pada sebuah momentum waktu yang begitu jauh dan tak dapat diketahui, kapankah. Perhatikanlah ini:

Matius 1:22-25 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.


Relasi Yesus dengan hukum Taurat dan bahkan kitab para nabi, dengan demikian, telah terjadi bahkan dalam jalinan-jalinan yang dibangun Allah dalam sebuah rentang waktu yang begitu panjang melalui para nabi kudus-Nya itu: “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.”


Konstruksi relasi semacam ini,dengan demikian berada di dalam dua “dimensi” seketika, yaitu: “di atas waktu” dan “di dalam waktu,” berkat tindakanTuhan yang mengirimkan perkataan-perkataannya turun ke dalam dunia ini untuk menjumpai para nabinya, sehingga perkataan-perkataan yang diterima secara ilahi dalam tuntunan Roh dapat menjadi dilihat dan dibaca oleh setiap manusia melalui catatan tertulis yang ditransmisikan dari generasi ke generasi hingga transmisi itu berjumpa dengan Dia yang telah  berita-Nya dalam “sabda-sabda-Nya’ turun atau masuk  ke dalam dunia ini dan terus ada bekerja berdasarkan kehendak Sang Penyabda untuk digenapi. Mengenai ini, rasul Petrus menyatakannya secara sangat menakjubkan sebab di dalamnya terkandung keseketikaan “di atas waktu” dan “di dalam waktu.”


Beginilah rasul ini menyatakan kebenaran itu:

1Petrus1:10-12 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.


Bahkan Herodes pun tak dapat mengabaikan bahwa kelahiran anak ini adalah sebuah kebenaran dalam Kitab Suci yang telah dituliskan oleh para nabi sejak era purba. Hanya saja ia mempercayai  kebenaran itu dalam kejahatan dirinya atau dalam kuasa kegelapan yang tak dapat dilawannya untuk dapat menyambutnya penuh kehangatan dan penuh peluk mesra pada Yesus yang masih anak-anak. Karena itu, beginilah yang terjadi:


Matius 2:1-6 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."


Matius2:7-8 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."


Matius2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.


Matius2:13-15 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."


Seorang raja memanggil SEMUA imam kepala dan ahli Taurat Bangsa Yahudi, ini menakjubkan pada bagaimana sang Herodes sangat meyakini kitab purba yang bahkam tidak diimaninya sebagai keselamatannya tetapi sebagai kekuatan baginya untuk dapat membinasakan sang anak itu. Di sini, dapat dikatakan, persentuhan yang sangat lunak antara para imam dan ahli Taurat bangsa Yahudi, secara sangat negatif, karena telah menjadi alat kejahatan strategis di tangan Herodes.


Kegagalan Herodes mewujudkan misinya yang begitu sempurna itu,dalam disainnya, bukan karena ia melakukan kesalahan. Bukan itu, tetapi karena tadi, Tuhan sendiri yang telah menggagalkannya dengan memberikan peringatan kepada orang majus agar tidak kembali menghadap dan memberikan laporan kebenaran perihal itu kepada Herodes.


Tuhan tak hanya membuat Herodes tetap dalam kebutaan namun juga memastikan  Yesus dan keluarganya tak akan terjamah kekuasaan Herodes yang sangat hebat dengan memerintahkan mereka ke Mesir.


Ini adalah sebuah peristiwa yang  “di atas waktu” dan “di dalam waktu” atau dengan kata lain telah mengalami penggenapan. Sebagaimana nama Yesus telah ditentukan sebelum dikandung ibunya dan Ia adalah  Juruselamat  manusia telah ditetapkan jauh sebelum kelahirannya, maka tak perlu dipermasalahkan bahwa hal-hal yang kelam atau berbahaya juga sebuah peristiwa yang sepenuhnya dalam kedaulatan dan pengendalian Bapa-Nya. Tak dapat gagal, tak dapat disimpangkan, tak dapat dituliskan kembali sebagai tindakan korektif sehingga diperlukan pembangkitan nabi-nabi di era setelah kelahiran Yesus, untuk mengoreksi segala nubutan purba, akibat perubahan zaman (?). Itu tak pernah sama sekali, sebagaimana ini:


Matius 2:16-18 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."


Relasi Yesus dengan hukum Taurat dan kitab para nabi, pada dasarnya, adalah sebuah kedatangan kehendak Allah ke dalam dunia yang mana kehendak-Nya dalam setiap kata-kata-Nya yang telah disampaikan-Nya kepada para nabi akan bekerja berdasarkan kekuatan-Nya dan kekuasaan-Nya dan bukan pada bagaimana nabi-nabi itu sendiri bertanggungjawab atas penggenapan itu, dan apalagi bangsa Israel pada keseluruhannya.


Apakah kekuasan Sang Mesias,sementara ia masih kanak-kanak dan belum pada waktunya, untuk menghadapi segala kuasa dunia yang memburunya? Adakah? Ada!


Harus diingat secara cermat, Manusia Yesus itu bukan berbeda bukan pertama-tama karena Ia lahir tanpa proses alami  dimana seorang pria harus menyentuh seorang wanita, sebagai sebuah ketentuan Allah yang telah dituliskan para nabi, tetapi yang mulia adalah: SIAPAKAH DIA. Perhatikan pernyataan malaikat Gabriel ini:


Lukas 1:31-32 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,


Siapakah dia sesungguhnya yang bahkan belum dikandung Maria? Dia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, demikianlah malaikat menyatakannya sementara ia segera dikandung oleh Maria. Inilah Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Ilahi, tak ada satu penyurutan pada keilahian atau ketuhannya sebab malaikat sendiri menyatakan “Anak Allah Yang Mahatinggi.” Ia tak terpisahkan dari SIAPAKAH TUHAN ITU SENDIRI! Itu sebabnya ia memang dapat berkata pada fakta-fakta yang begitu keras untuk diterima manusia.


Nabi Yohanes Pembaptis, sehubungan dengan masuknya Anak Manusia kedalam dunia, juga menunjukan ketaksurutan keilahian atau ketuhanan Yesus. Beginilah satu-satunya nabi Perjanjian Lama yang berjumpa dengannya, menyatakan SIAPAKAH DIA:

Lukas 3:17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."


Kuasanya dalam dunia ini mencakup kuasa untuk menentukan dan mengeksekusi pada siapa-siapa saja yang akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan. Bukan Bapa tapi Anak. Ini ada hubungan dengan pernyataan Yesus yang berbunyi seperti ini:

Yohanes 5:22 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,

Yohanes 5:27 Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.


Nabi Yohanes Pembaptis menunjukan Siapakah Yesus dalam sebuah tipologi atau baying-bayang pada perjanjian lama yang digenapi oleh Yesus Sang Mesias, dengan berkata:

Yohanes 1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.


Tentulah menurut Kitab Musa, domba itu haruslah suci [ misal Keluar 12:5 “Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela”]. Hanya Yang Suci dapat menghapus dosa manusia pada dasarnya. Yesus disebut nabi Yohanes Pembaptis sebagai Anak Domba dari Allah, itu menunjukan bahwa kesucian Yesus begitu berkuasa untuk menghapuskan dosa-dosa manusia. Begitu sucinya sehingga dosa dengan noda-noda yang begitu pekat tak akan bertahan melawan penyucian oleh Sang Mesias itu.


Nabi Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Ia yang datang dari sorga tak mengalami penyusutan dalam kemanusiaannya pada ketuhanannya itu sekalipun di bumi ini mengenakan tubuh yang begitu sama dengan kita:

Yohanes 3:31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.


Mengapa bisa kemanusiaan Yesus dapat berelasi dengan hukum Taurat dalam cara yang begitu berbeda dengan semua manusia lainnya? Karena,bahkan, dalam kemanusiaannya Ia haruslah anak domba dari Allah, bukan dari dunia ini:


Ibrani 10:3-9 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--. Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.


Menyediakan tubuh bagiku, ini sebuah jawaban pada pertanyaan siapakah Yesus itu? Ia datang dari Allah dengan tubuh yang dijalinkan oleh Allah sendiri sehingga Ia memang ANAK DOMBA DARI ALLAH. Tak hanya itu, Epistel Ibrani, memberikan penekanan bahwa dengan demikian kebenaran hukum Taurat pada persembahan kurban binatang beserta darah, TIDAK LAGI DIKEHENDAKI ALLAH MESKIPUN DIPERSEMBAHKAN BERDASARKAN HUKUM TAURAT!


Dia sama seperti kita, hanya saja tubuhnya dipersiapkan Allah agar kekudusan pada tubuh jasmaninya tak akan mengalami kemerosotan yang bagaimanapun. Itu sebabnya Epistel Ibrani menuliskan begini:

Ibrani 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Itu sebabnya sungguh salah dan sungguh menyesatkan untuk tetap berkata dan mengajarkan bahwa tanpa Yesus, Israel tetap bisa selamat karena memiliki hukum Taurat dan dapat mempersembahkan kurban dan darah pada Tuhan untuk mendapatkan pengudusan. Itu sama sekali tak lagi memiliki tempat kala ANAK DOMBA DARI ALLAH TELAH DATANG, karena pada dasarnya Yesus sendiri telah melakukan ketentuan hukum Taurat secara sempurna dan penuh kuasa dalam IA SEKALIGUS IMAM BESAR DAN KURBAN HEWAN ITU SENDIRI:

Ibrani 2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.


Tubuhnya dipersiapkan Allah dengan satu tujuan saja: agar tubuh itu dapat mengalami tekanan-tekanan kuasa dosa atas tubuhnya namun dalam hal itu tak melayaninya sama sekali, sebaliknya agar IA DAPAT MENOLONG SAYA DAN ANDA YANG BERIMAN:

Ibrani 2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.


Yesus tidak terperosok ke dalam dosa sebab itulah Ia tak dapat berdosa, Hanya yang tak dapat berdosa berdasarkan keilahian saja yang dapat MENOLONG MANUSIA DARI KUASA DOSA.


Tubuhnya dipersiapkan Allah agar IA sepenuhnya mengenali segenap aspek kelemahan manusia sehingga kejituan dan kesempurnaan penyelamatan Yesus itu memang tak bercela jikalaupun Iblis dapat menggugat Yesus dan karyanya karena ada aspek-aspek penyelamatan yang terlewatkan pada semua yang telah diselamatkan. Perhatikan ini:


Ibrani 5:1-2 Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan,


JIKA ia bukan seperti manusia, maka mustahil juga baginya menjadi Imam Besar di bumi ini dan melakukan pekerjaan itu berdasarkan ketentuan hukum Taurat dalam kuasa dan kesempurnaan yang mulia dan kekal. SEKALI LAGI, IA DISAMAKAN DENGAN KITA SEKALIAN bukan sama sekali agar IA menjadi SEKUSAM SAYA DAN ANDA, sebab beginilah yang terjadi kala Ia menjadi imam besar di bumi ini:

Ibrani 5:5 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini",


Telah kuperanakan Engkau. Apakah maksudnya? Inilah maksudnya: “Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.” Bahwa kemanusiaan Yesus itu datang dari KEHENDAK ALLAH yang bertakhta atasnya, itu sebabnya Ia dalam kemanusiaannya digambarkan seperti ini:


Ibrani 7:24- 26Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,


Fakta Yesus: ketakberdosaannya bukan karena ia sukses berjuang melawan dosa, juga bukan karena ia bisa menaklukan dirinya pada kehendak Bapa maka ia tak berdosa. Dengan kata lain, ketakberdosaanya bukanlah sebuah pencapaian di dunia ini, sebaliknya karena natur tubuhnya datang dari Bapa: “diperanakan Bapa.” KEMANUSIAANNYA diperanakan Bapa atau  Yesus dikandung dari Roh Kudus pada dara Maria.


Itu sebabnya dalam KEIMAMATANNYA BERDASARKAN HUKUM TAURAT, Sang Mesias ini sungguh berbeda dalam keimamatan yang dilakukan oleh para imam-imam sebelumnya. Pertama-tama itu menunjukan bahwa Ia adalah mahakudus dalam ia sebagai manusia dan dalam ia melakukan tugas keimamatannya dalam ia mempersembahkan tubuhnya sendiri olehnya sendiri sebagai imam besar di hadapan Allah:


Ibrani 7:27-28 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.


Yesus memenuhi syarat Taurat: “yang menjadi Imam Besar adalah orang-orang yang diliputi kelemahan.” Yesus menggunakan tubuh yang demikian, namun karena itu datang dari kehendak Bapa, maka tubuh itu dalam kelemahan semacam itu tak pernah bisa melayani dosa. Di taman Getsemani, kita bisa melihat kelemahan semacam ini: :ya Bapa jika boleh biarlah cawan ini berlalu dariku,” tetapi itu hanya sampai menunjukan ia memang manusia sesejati anda dan saya, namun Ia tak akan didikte oleh kelemahan-kelemahan itu sebagaimana manusia pada umumnya. Itu sebabnya dikatakan: TIDAK SEPERTI IMAM-IMAM BESAR LAINNYA.” Apakah yang tidak sama, adalah: jika para imam-imam besar lainnya harus mempersembahkan korban untuk dirinya sendiri, maka Yesus tidak sama sekali pernah memiliki kewajiban untuk mempersembahkan korban untuk pengudusan dirinya sendiri.”



Itu sebabnya kesempurnaan Yesus itu, secara tak bercela memenuhi ketentuan hukum Taurat bahkan dalam konsekuensi-konsekuensi legal pada kata demi kata yang membangun ketentuan-ketentuan bagaimana hukum itu bekerja, mengikat dan menyeleksi kelayakan untuk menjabat sebuah jabatan yang diatur dalam hukum. Yesus, karena Ia tak terikat pada ketentuan pengudusan diri HARIAN, maka Ia kudus berdasarkan ketak bercelaan yang dituntut oleh hukum Taurat . Bahwa Anak menjadi satu-satunya jalan  keselamatan dan ketentuan Taurat diakhiri pada dirinya terkait bagaimana keselamatan harus berlangsung, bukan sebuah dualistik atau sebuah pengingkaran kebenaran hokum Taurat, tetapi dalam hal itu Ia-KEMANUSIAANYA- telah dinyatakan kudus tak bercela berdasarkan ketentuan hukum Taurat itu sendiri.


Itu sebabnya tak ada dualisme atau jalan-jalan lain pada keselamatan dari Allah, seolah ada jalan berdasarkan hukum Taurat dan ada jalan jalan berdasarkan Yesus Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh pdt.Dr. Erastus Sabdono.


Bersambung ke bagian 6.G-6

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform the cross

[dari seorang teolog yang saya lupa namanya]


P O P U L A R - "Last 7 days"