0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (6.E)



Oleh: Martin Simamora

“Yesus Sang  Mesias, Satu-Satunya Anak Domba Allah Yang  Memberikan Pembebasan Dari Segala Dosa, Karena Hukum Musa Tak Dapat Memberikannya(6.E)”




Pemberitaan Injil Kerajaan Sorga sejak di Yerusalem pada hakikatnya memang pertama-tama memberikan bidikan khusus pada orang-orang Yahudi, sebab  Yesus sendiri secara khusus membidik orang-orang Israel secara khusus pada tempat pertama. Mari kita memperhatikan hal-hal berikut ini:

Yohanes 5:39-40 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.


Yohanes 5:46 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.


Lukas 24:26-27 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.


Lukas 4:23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Kehendak Yesus adalah: agar orang-orang Yahudi percaya bahwa Kitab-Kitab Suci sedang menuliskan tentang dirinya, sebagai sumber kehidupan atau pemberi hidup. Yesus bahkan berkata:”Jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.” Betapa itu bukan saja sangat penting tetapi Yesus sedang menyatakan bahwa dirinya merupakan kegenapan pada apa yang sedang dinyatakan oleh Kitab-Kitab Suci, termasuk Musa! Pemberitaan ini dinyatakan Yesus sebagai memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebuah pemberitaan yang pada dasarnya merupakan berita dirinya sendiri, sebagaimana juga nabi Yohanes  sedang memberitakan dirinya saat berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”-Yoh 3:2, sebuah peristiwa yang telah dituliskan jauh sebelumnya oleh nabi Yesaya:” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya-Matius 3:3." Sehingga memang, di sini, Yesus memberitakan dirinya adalah kabar baik itu sendiri, yaitu bahwa benar sesuai Kitab Suci: “Dia yang dinantikan kedatangannya dan telah dituliskan oleh para nabi, termasuk Musa.” Yesus tidak sama sekali mengabarkan kembali kebenaran berdasarkan taat pada hukum Taurat, tetapi malah memperkenalkan dirinya sebagai Sang Penggenap Hukum Taurat itu. Sangat penting untuk diperhatikan, pondasi pemberitaan dirinya adalah: datanglah kepadaku untuk mendapatkan hidup.


Inilah yang diberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat Yahudi, bahwa diri-Nya saja yang dapat memberikan kehidupan, sehingga tidak binasa. Setelah penolakan  bangsa Yahudi dan penyalibannya, hingga kematian dan kebangkitannya, sampai kenaikannya ke sorga, itupun merupakan wujud dan isi pemberitaan injil mulai dari Yerusalem, oleh para rasul Kristus.



Yesus Sang Anak Domba Membebaskan Manusia Dari Kebinasaan, Hal Yang Tak Dapat Dilakukan Oleh Kurban Hewan beserta Darahnya  Sebagaimana Diatur Dalam Kitab-Kitab Musa


Yesus begitu gamblang menyatakan bahwa dirinya adalah Sang Pembebas dari kebinasaan dengan cara datang kepadanya untuk mendapatkan hidup. Dan sebagaimana Ia telah memberitakan hal itu secara khusus kepada orang-orang Yahudi, maka demikian juga dengan para rasul-Nya, telah memberitakan kebenaran ini di tempat-tempat ibadah Yahudi sebagai satu-satunya kebenaran. Bukan saja karena Yesus Sang Mesias memang satu-satunya, tetapi kehadiran dirinya telah membuat kerja hukum Taurat dan kitab-kitab itu selesai, sebab kerjanya sebagai penunjuk pada dia yang dinantikan berakhir  tepat pada saat kedatangannya dan  genap saat karya penebusan dosa oleh-Nya di salib melalui kematian dan kebangkitannya telah dituntaskannya.


Perhatikan sejumlah catatan penting berikut ini:

Kisah Para Rasul 9:26-29Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia.


Kisah Para Rasul 13:4-10  Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka. Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir dan nabi palsu. Ia adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah. Tetapi Elimas--demikianlah namanya dalam bahasa Yunani--,tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya. Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?


Kisah Para Rasul 13:13-43 Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ. Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: "Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!" Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: "Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang luhur Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu. Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul bin Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. Dan ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nyapun aku tidak layak. Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita. Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat. Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namun mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang ada tertulis tentang Dia, mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini. Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan dalam firman ini: Aku akan menggenapi kepadamu janji-janji yang kudus yang dapat dipercayai, yang telah Kuberikan kepada Daud. Sebab itu Ia mengatakan dalam mazmur yang lain: Engkau tidak akan membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan. Tetapi Yesus, yang dibangkitkan Allah, tidak demikian. Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa. Karena itu, waspadalah, supaya jangan berlaku atas kamu apa yang telah dikatakan dalam kitab nabi-nabi: Ingatlah, hai kamu penghina-penghina, tercenganglah dan lenyaplah, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu, suatu pekerjaan, yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan kepadamu." Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya. Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.


Kita melihat secara gamblang, bahwa Yesus merupakan satu-satunya sumber pengajaran bagi para rasul. Tak pernah para rasul kemudian merancang kredo atau pokok-pokok pengajaran Kristen sebagai sebuah rekayasa yang begitu membelok jauh dari kebenaran Musa. Rasul Paulus tak pernah melakukannya itu sebagai sebuah invensi teologianya, sebab Yohanes menyertai dan Barnabas dan para pemimpin  rumah ibadat Yahudi telah mendengarkannya dan memeriksanya, bahkan meminta kembali untuk mengajar kebenaran di dalam ibadah mereka.



Apa yang begitu fundamental pada peristiwa yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 13:13-43 tersebut adalah bagaimana Paulus dan Barnabas yang menghadiri dan turut beribadah di rumah ibadat di Psidia, Antiokhia, pada momentum yang begitu sempurna, Paulus berdiri sebagai sebuah kesempatan terbuka-diberikan oleh pejabat-pejabat rumah ibadat setempat-yang diambilnya untuk melanjutkan pembacaan Hukum Taurat dan Kitab Para nabi dengan menjelaskan bahwa itu semua telah digenapi. Paulus sedang melakukan tindakan yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus dan Roh Kudus, yaitu menyatakan bahwa Kitab-Kitab Musa, Kitab-Kitab Nabi dan Mazmur menuliskan mengenai dirinya:


Lukas 24:27  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 


Lukas 24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."


Apa yang dilakukan oleh Paulus dan juga oleh semua rasul lainnya, merupakan  ketaatan atau kepatuhan yang memenuhi perintah yang dikehendaki oleh Yesus:

Lukas 24:47-49 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi."


Yesus juga mengutus Dia yang telah dijanjikan Bapa untuk dikirimkan, yaitu Roh Kudus untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang dikehendaki-Nya agar dilakukan oleh para rasul:


Yohanes 16:7-11 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.


Yohanes 16:13- Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."


Tak dapat dibantah dan tak dapat diperdebatkan bahwa memang Yesus adalah sentral pemberitaan Kerajaan Sorga setelah Dia yang diberitakan oleh  nabi Musa telah datang. Dia yang telah datang itu, kini  menjadi satu-satunya yang dimuliakan oleh Roh Kudus, bukan kebenaran Hukum dan kitab para nabi serta Mazmur. 


Tak pernah rasul Paulus dalam memberitakan kebenaran yang disebut sebagai kebenaran berdasarkan kasih karunia itu, merupakan teologia ciptaan Paulus, sebab Yesuslah yang menghendaki untuk diberitakan baik pada para rasul yang kini telah meninggal dunia dalam Tuhan dan pada Roh Kudus yang tetap ada sebab kekal, Ia tetap memberitakan kebenaran ini, hingga kini, sementara anda sedang membaca artikel ini.


Kebenaran berdasarkan kasih karunia, pada dasarnya, pertama-tama telah diberitakan oleh para rasul Kristus di bait Allah sebagai penggenapan  pada pembacaan Hukum Taurat dan Kitab Para nabi, yang dinyatakan oleh Paulus dalam  cara yang begitu identik dengan apa yang telah Yesus lakukan, menunjukan apa yang tak dapat dilakukan oleh kebenaran dalam Kitab-Kitab Suci atau Tanakh tersebut, Paulus begini menyatakannya:” Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa,” tepat sebagaimana yang dimaksudkan Yesus kala Ia berkata:” Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu-Yoh 5:39-40,”; Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku- Yoh 5:46.” Paulus berdasarkan kebenaran yang diungkapkan Yesus Sang Mesias sendiri, kemudian menggemakan kebenaran ini, bahkan ia telah menjelaskan sejak permulaan bangsa Israel dipilih hingga kematian dan kebangkitan Sang Mesias itu.


Hukum Musa tidak dapat memberikan pembebasan dari dosa, maka itu termasuk pada pengampunan, pengudusan dan pendamaian melalui  mempersembahkan kurban hewan berdasarkan Kitab-Kitab Musa. Itu tak dapat memberikan pembebasan dari dosa, oleh karena  hakikat kurban binatang itu yang harus dilakukan berulang-ulang atau sebagai sebuah sistem yang harus senantiasa dilakukan untuk melindungi umat Israel dari kebinasaan yang diakibatkan perbuatan dosa mereka terhadap Allah. Perhatikan bagaimana sistem ini ditata sedemikian rupa dalam sebuah keketatan yang tak boleh dilanggar sekali secara turun-temurun:


Imamat 3:1-17 Jikalau persembahannya merupakan korban keselamatan, maka jikalau yang dipersembahkannya itu dari lembu, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia membawa yang tidak bercela ke hadapan TUHAN. Lalu ia harus meletakkan tangannya di atas kepala persembahannya itu, dan menyembelihnya di depan pintu Kemah Pertemuan, lalu anak-anak Harun, imam-imam itu haruslah menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya. Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai korban api-apian bagi TUHAN, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu. Anak-anak Harun harus membakarnya di atas mezbah, yakni di atas korban bakaran yang sedang dibakar di atas api, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN. Jikalau persembahannya untuk korban keselamatan bagi TUHAN adalah dari kambing domba, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia mempersembahkan yang tidak bercela. Jikalau ia mempersembahkan seekor domba sebagai persembahannya, ia harus membawanya ke hadapan TUHAN. Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala persembahannya itu dan menyembelihnya di depan Kemah Pertemuan, lalu anak-anak Harun harus menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya. Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemaknya sebagai korban api-apian bagi TUHAN, yakni segenap ekornya yang berlemak yang harus dipotong dekat pada tulang belakang, dan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang, dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu. Imam harus membakarnya di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian bagi TUHAN. Jikalau persembahannya seekor kambing, ia harus membawanya ke hadapan TUHAN. Lalu ia harus meletakkan tangannya di atas kepala kambing itu dan menyembelihnya di depan Kemah Pertemuan, lalu anak-anak Harun harus menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya. Kemudian dari kambing itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai persembahannya berupa korban api-apian bagi TUHAN, dan lagi kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, yang ada pada pinggang dan umbai hati yang harus dipisahkannya beserta buah pinggang itu. Imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan. Segala lemak adalah kepunyaan TUHAN. Inilah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu: janganlah sekali-kali kamu makan lemak dan darah."


Ini adalah ketetapan turun-temurun, sudah menunjukan bahwa sistem ini sama sekali tak dapat membebaskan mereka dari pembinasaan yang disebabkan oleh dosa yang mengurung atau menyandera mereka sebagai Penguasa kehidupan mereka. Kebinasaan adalah keniscayaan sementara mereka harus melakukan persembahan kurban binatang itu secara turun menurun.


Bahkan Allah pun dapat muak dengan persembahan yang diperintahkan-Nya untuk dilakukan secara turun-temurun ini, sebab mereka bisa begitu menjijikannya sementara datang menghadap Tuhan, bahkan bukan saja Imamnya yang dibinasakan tetapi beserta umat-Nya. Perhatikan sebuah  kasus pada era  nabi Yesaya ini, untuk memahaminya:


Yesaya1:2-5 Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya." Celakalah bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat-jahat, anak-anak yang berlaku buruk! Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia. Di mana kamu mau dipukul lagi, kamu yang bertambah murtad? Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu.


Apakah solusinya? Dengan mempersembahkan kurban binatang? Perhatikan apa yang  menjadi solusinya dan darimanakah atau siapakah yang melakukannya:


Yesaya 1:9 Seandainya TUHAN semesta alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang terlepas, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan sama seperti Gomora.


Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.


Yesaya 1:25 Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya.


Mengapa demikian? Apakah mereka sudah melalaikan  ketentuan yang harus dilakukan turun-temurun dimanapun mereka berada? Tidak, mereka tidak melalaikannya. Mereka masih setia bertekun mempersembahkan korban binatang itu untuk maksud mendapatkan pengampunan, pengudusan dan pendamaian:

Yesaya 1:11-13 Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.

Mereka masih mempersembahkannya tetapi Tuhan menolak bahkan kurban hewan yang ditetapkan-Nya sendiri.


Itulah sebabnya, Yesus Sang Mesias menyatakan bahwa apa yang dituliskan Musa dalam Kitab-Kitab-Nya itu pada dasarnya menunjuk pada dirinya. Jika demikian apakah relasi Yesus dengan Kitab-Kitab Tanakh itu. Perhatikan penjelasan Surat Ibrani:


Ibrani 10:1-6 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.


Perhatikan ayat 4- 6: “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.” Karena Yesus telah datang maka korban bakaran dan korban penghapus dosa berdasarkan darah hewan tidak lagi pernah bekerja. Tidak lagi bekerja karena sebetulnya itu semua adalah bayang-bayang dari apa yang sedang dinantikan oleh Taurat untuk menggenapinya, yaitu Yesus. Tidak lagi bekerja karena sementara hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian dalamnya, Yesus dapat menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian dalam diri-Nya, dalam karya-Nya. Sistem korban itu harus dilakukan turun-temurun, setiap tahun telah menunjukan bahwa manusia sungguh berdosa dan dalam pengudusan oleh korban binatang itu, tak sama sekali membuat mereka secara sempurna lepas dari kebinasaan yang disebabkan perbuatan dosa. Inipun bukan rekayasa teologi, sebab Yesus sudah menyatakan bahwa Kitab-Kitab  Tanakh itu tidak dapat memberikan kehidupan, kecuali datang kepada Dia yang dinantikan oleh Kitab Tanakh itu sendiri.



Itu sebabnya, harus dilakukan turun-temurun di segala tempat menunjukan hingga “keturunan Abraham itu, satu-satunya Mesias yang juga di nubuatkan nabi Musa dari antara bangsanya sendiri, datang atau lahir. Sehingga ketika Yesus Sang Mesias datang, semua sistem kurban hewan beserta darahnya telah tak berfungsi sama sekali.





Perhatikan baik-baik, menyatakan kebenaran ini sebagaimana yang disampaikan oleh Paulus dan Barnabas dalam 2 kali ibadah Sabat, tak sama sekali hendak menyatakan bahwa perbuatan baik atau pertobatan tidak dituntut atau dikehendaki Tuhan. Faktanya di dalam pertobatan, perbuatan baik, dan persembahan korban binatang yang tak dapat menguduskan mereka, sementara sebagian besar sudah dibinasakan dan sebagian kecil diluputkan melalui pengudusan “sekalipun merah seperti kermizi , akan menjadi putih seperti salju” yang merupakan tindakan kasih karunia pengudusan-bukan usaha manusia- tetap Allah memberikan perintah untuk berbuat baik setelah mereka dikuduskan dari kecemaran dosa dan kejijikan yang memuakan-Nya.


Perhatikan  kembali pada episode Yesaya tadi:

Yesaya 1:16-17 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Yesaya 1:19-20 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.


Setelah dikuduskan oleh Tuhan melalui tindakan-Nya:
Yesaya 1:25 Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya.

Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.


Perbuatan baik tidak menguduskan; pertobatan tidak memurnikan diri mereka. Apa yang memurnikan adalah tindakan Allah untuk memurnikan dan apa yang menguduskan mereka bagi-Nya adalah kemurahan Allah dengan mengajak  umat-Nya yang telah disebut-Nya sebagai manusia-manusia kebinasaan atau Sodom dan Gomora[Yesaya 1:10] untuk berperkara dengan-Nya, yaitu kehendak-Nya atau firman-Nya yang akan menguduskan mereka dari kenajisan atau kematian atau kebinasaan Sodom dan Gomora, firman yang akan melakukan ini: “sekalipun dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju.” Dan memang ini semua bersumber dari kasih karunia atau tindakan sepihak Allah untuk menyelamatkan sementara IA sendiri begitu jijik dengan semua ibadah mereka, inilah tindakan sepihak Allah itu:” Seandainya TUHAN semesta alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang terlepas, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan sama seperti Gomora.”


Bagaimana bisa kalau sudah seperti Sodom dan Gomora namun tidak binasa? Bagaimana bisa walau sudah seperti Sodom dan Gomora dan IA begitu jijik dengan korban-korban penghapus dosa, IA tak membinasakan keseluruhan Israel? Hanya satu jawabannya: Kasih Karunia. Darimanakah akarnya? Dari janji-Nya kepada Abraham: “dari keturunanmu seluruh bangsa akan diberkati.”


Dengan demikian, pengajaran pendeta Dr. Erastus Sabdono bahwa hukum Taurat dan darah anak domba dapat membawa kesempatan bagi orang-orang Israel untuk masuk ke bumi yang baru berdasarkan Taurat demi  kasih-Nya sendiri yang telah ditunjukan kepada Israel sewaktu di bumi, merupakan kesalahan fatal. Pertama: di perjanjian lama, bahkan bukan darah dari kurban hewan yang menyelamatkan mereka atau memberikan peluang kehidupan ke bumi yang baru, tetapi kasih karunia Allah yang terikat kuat pada bapa bangsa itu sendiri: Abraham, bahwa  keturunannya, yaitu satu-satunya Sang Mesias, itulah yang membuat Israel tetap ada dan tak binasa. Kedua: sebagaimana Allah dahulu telah memurnikan mereka, maka kelak semua Israel yang dikehendaki-Nya untuk diselamatkan, pasti akan mengakui Yesus adalah Sang Mesias sebagaimana telah ditunjukan Musa kepada mereka. Dan ini pada permulaan penyebaran Injil telah memulai perjalanan penggenapannya, sebagaimana telah ditunjukan pada peristiwa ini: “Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.” Ya… hidup dalam kasih karunia Allah, bukan dalam kebenaran berdasarkan taat pada hukum Taurat.



Bersambung ke bagian 6F

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform the cross


[dari seorang teolog yang saya lupa namanya]

P O P U L A R - "Last 7 days"