0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (6.G-1)

Oleh: Martin Simamora

YEDIJA:
“Dikasihi Allah Karena Karunia-Nya Pada Manusia Yang Berada Dalam Kebinasaan, Bukan Karena Manusia Memperjuangkan Kebenarannya(6.G-1)”
 
Nabi Natan Menyampaikan Penghakiman Tuhan: "Engkaulah Orangnya!"
Lukisan: Angelika Kaufmann


Benarkah hukum Taurat diberikan kepada bangsa Israel untuk menunjukan standard kebenaran moral yang manusia sebelum jaman penggenapan harus miliki. Dengan kata lain kebenaran hukum Taurat itu sama sekali berbeda dan sama sekali terpisah dari kebenaran dalam Kristus, bahkan  bangsa Israel dapat dilestarikan  dengan hukum Torat? Sebagaimana yang diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono dalam “Keselamatan Di Luar Kristen“ pada paragraf akhir di halaman 18:



Mari pertama-tama memperhatikan penjelasan rasul Paulus berikut ini:

Roma 2:17-29 Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain." Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Bangsa Israel seharusnya dapat menjadi: penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa. Mengapa?Karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Namun yang terjadi sebaliknya: Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?


Apakah ini sebuah situasi temporer pada sebuah waktu atau era? Apakah ini sebuah situasi pada generasi-generasi tertentu Israel saja, dan apakah dengan demikian hukum Taurat tak dapat bekerja menjadi pandu bagi Israel, sebab:” oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain?” Seperti ada tertulis, apakah maksudnya? 




Tak lain tak bukan bangsa ini di antara bangsa-bangsa dunia ini secara konsisten dan secara meyakinkan telah menunjukan dirinya tak pernah dapat diharapkan menjadi- sebagaimana dinyatakan oleh pdt. Erastus- “pilot project, yaitu manusia yang dikehendaki Allah sebelum zaman Anugerah.” Ini bukan sebuah penghakiman berdasarkan analisa manusia, tetapi penghakiman Allah atas manusia, sebagaimana  penghakiman itu telah dituliskan oleh para nabi, diantaranya adalah:



Jika Bukan "Yedija," Maka Semuanya Binasa Berdasarkan Ketentuan Hukum Taurat


Peristiwa berikut ini akan menjadi poros utama dan tunggal bagaimana bangsa Israel dapat lestari atau langgeng, tidak dibinasakan akibat perbuatan dosa atau kejahatan mereka yang melanggar segala ketetapan Taurat dan kehendak Tuhan atas mereka. Apakah  kelestarian bangsa Israel dikarenakan hukum Taurat dalam spektrumnya yang kompleks?


Mari kita melihatnya dari  sejarah keselamatan dalam perjanjian lama yang merupakan sentral kemegahan janji Mesias atas bangsa ini bagi dunia:


Nabi Natan menyatakan penghakiman maut atas raja Daud:

2Samuel 12:7-23 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan." Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!" Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah." Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah." Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!" Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."


Apakah yang dapat dilihat dalam peristiwa ini? Satu saja, bahwa seharusnya Daud pun telah dibinasakan! Perhatikan ini:


2Samuel 12:5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.

2Samuel 12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.


Daud Sang Raja tahu pasti bahwa si orang kaya yang begitu semena-mena terhadap si miskin harus di hukum mati! Tetapi yang tak diketahui oleh Daud bahwa dirinyalah orang yang harus dihukum mati itu. Ini bukan sekedar masalah perilaku yang salah dan perilaku yang benar, bukan sekedar  masalah perilaku adil atau tak adil terhadap sesama manusia, tetapi ini adalah perbuatan yang menista atau menghujat Tuhan dalam pandangan Tuhan! Bukan saja Daud yang karena perbuatannya akan dibinasakan Tuhan, tetapi keturunan-keturunannya:” Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu- ayat 9-10.”


Bukan saja Daud yang akan dibinasakan, tetapi juga keturunannya akan diburu oleh pedang-maut? Berapa generasi yang akan diburu oleh maut?  Dua generasikah? Tigakah? Empatkah? Tujukah? Tidak? Maut atau pedang akan memburu generasi-generasinya sampai selama-lamanya. Dan itu harus dipahami dalam peristiwa ini:” dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir,” atau dengan kata lain kematian dalam peristiwa berdarah telah menjadi  destini pada setiap keturunannya tanpa satupun yang dapat mengubahkan ketetapan Tuhan ini.


Hukum Taurat tidak sama sekali melestarikan Daud Sang Raja dan keturunan-keturunannya. Padahal dari  trah Daud akan datang Sang Mesias itu:


Yohanes 7:42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."


Mazmur 89:4 Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun."



Jika Daud harus dibinasakan dan keturunan-keturunannya akan diburu maut, lalu bagaimana mungkin dari Daud akan datang Mesias? Apakah karena nabi Natan memerintahkan raja Daud untuk melakukan serangkaian ketentuan yang diatur dalam hukum Taurat sehingga dapat menghapuskan dosanya, memberikan pengampunan, mendatangkan pendamaian yang dapat memadamkan murka Allah atasnya? Tidak sama sekali, tetapi inilah yang terjadi:

2Samuel 12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.


Apakah yang menyelamatkan atau meluputkan atau melestarikan Daud? Hukum Tauratkah? Bukan sama sekali, tetapi tindakan sepihak Allah untuk melepaskan Daud dari kebinasaan dalam sebuah cara yang menghapuskan dakwaan-dakwaan yang diteriakan oleh hukum Taurat yang secara sempurna menyingkapkan keberdosaan Daud,sekalipun begitu tersembunyinya:”Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi-ayat12.”


Sementara Tuhan sudah memilih untuk melepaskan Daud dari kebinasaan, tetapi Tuhan menetapkan kebinasaan bagi anak yang dikandung mantan isteri Uria, Batsybea:


2Samuel 12:14-15 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.



Nabi yang menyatakan pengampunan atas Daud, kini harus pergi untuk melayani kehendak Tuhan, namun kali ini agar TUHAN menulahi anak yang dilahirkan mantan isteri Uria itu. Kejahatan terencana untuk membunuh dan memenuhi keinginan mata atas kemolekan tubuh isteri orang lain, lalu menidurinya dan isteri cantik orang lain itu, pun mengandung. Itu dilakukannya dengan kuasanya sebagai seorang raja yang begitu berkuasa:


2Samuel 11:2 Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.


2Samuel 11:4-5 Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya. Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: "Aku mengandung."


2Samuel 11:14-17 Paginya Daud menulis surat kepada Yoab dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria. Paginya Daud menulis surat kepada Yoab dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria. Pada waktu Yoab mengepung kota Raba, ia menyuruh Uria pergi ke tempat yang diketahuinya ada lawan yang gagah perkasa. Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang dan berperang melawan Yoab, maka gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud; juga Uria, orang Het itu, mati.


Dan perbuatan ini sungguh menista Tuhan! Mengapa begitu nista, karena pada dasarnya ia adalah raja yang begitu berkuas dan Tuhan telah membuatnya begitu berkuasa, mengapa merasa tetap tak berkecukupan? Jika merasa tak berkecukupan mengapa harus mengambil isteri orang? Harus bersiasat begitu busuk untuk membunuh suaminya yang adalah panglima perangnya sendiri? Perhatikan betapa Tuhan begitu terlukai melihat yang diurapi-Nya sendiri tak meminta kepada-Nya jikalau ia merasa tak juga cukup dengan semua yang dimilikinya:


2Samuel 12:7-8 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.


Kalau engkau mengingini sesuatu yang bergitu gelap dan begitu berdarah, itu adalah sebuah kekejian yang tak terampunkan bagi Tuhan:

2Samuel 12:9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.


Dalam menghadapi ketetapan Tuhan atas anak hasil hubungan gelapnya dengan isteri orang lain, Daud tidak berpasrah diri. Ia datang menghampiri Tuhan bermohon belas kasih. Di sini Daud tidak lagi berpikir mengenai hukum Taurat: apakah hukum yang seharusnya menimpa seorang pezinah dan perzinahan itu sendiri. Mengapa? Karena jika merujuk pada hukum Taurat, anak hasil perzinahan haruslah dibinasakan:


Imamat 20:10 Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.


Ulangan 22:22 Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.


Perhatikan baik-baik. Seharusnya Daud dan juga Batsyeba harus dihukum mati, dengan kata lain termasuk bayinya. Namun selain Daud yang mendapatkan pelepasan dari  kebinasaan, Batsyeba pun demikian, karena yang Tuhan kutuki hanyalah bayi yang ada di dalam kandungan mantan isteri almarhum Uria. Perhatikan permohonan Daud ini:


2 Samuel 12:6 Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.


Bisakah usaha keras Daud mengubah hati Tuhan, mendatangkan pengampunan? Bisakah pertobatan dan penyesalan yang begitu menghancurkan hati mendatangkan belas kasih Tuhan, pengampunan Tuhan? Tepat sebagaimana Daud telah dilepaskan dari kematian karena semata-mata kehendak atau tindakan sepihak Tuhan untuk menyelamatkannya dari kebinasaan atau kasih karunia Allah, maka demikian juga sebaliknya, tanpa kasih karunia,segigih apapun dan sepenuh jiwa manusia itu bermohon, berikhtiar pada Tuhan, semua itu tidak ada gunanya. Itu tak mengubah ketetapan Tuhan:


2Samuel 12:18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!"


Apa yang telah Tuhan kutuk sebagaimana ketetapannya atas manusia-manusia yang berdosa, tak ada manusia yang berkuasa mengubahkannya, selain bila Tuhan menarik manusia-manusia yang dikehendaki-Nya itu keluar dari kebinasaan dan datang dan beriman  kepada Yesus  dalam kehidupan-Nya.


Jika demikian, bagaimana mungkin dari Daud akan ada satu keturunan yang dapat menjadi generasi penerus yang akan memastikan dari  bangsa Israel, Mesias datang? Apakah dengan hukum Taurat? Sebetulnya pada poin Imamat 20:10 jika diaplikasikan maka sebetulnya baik Daud dan Batsyeba sudah harus binasa. Di sini hukum Taurat tidak bisa dibatalkan dan tadi sudah dinyatakan bagaimana kebinasaan atau kematian adalah upah dari dosa Daud, bahkan itu berlaku hingga selama-lamanya, atas keturunan Daud!


Sehingga dalam kasus ini, jangan coba berpikir bahwa berzinah tidak masalah karena kasih karunia menyelamatkan. Jangan pernah sebab itu adalah perbuatan maut, dan Tuhan sebelum memberikan kasih karunia itu bersabda demikian:


2Samuel 12:9-10 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.


Maut adalah sahabatmu jika anda berpikir berzinah [dan dengan demikian juga untuk setiap hal yang merupakan dosa bagi Tuhan] itu tak masalah karena anda dalam kasih karunia-Nya. Perbuatan jahatmu adalah sebuah penghinaan Tuhan dan pedang akan memburumu bahkan keturunanmu sampai selama-lamanya!


Jadi jangan pernah sama sekali untuk berpikir ringan atas dosa dan perbuatan dosa dalam kehidupan kasih karunia itu.


Daud dan Batsyeba tidak dilestarikan oleh hukum Taurat tetapi oleh kasih karunia:

►Tuhan melepaskan Daud dari maut atau kebinasaan
►Tuhan menulahi bayi yang dikandung Batsyeba, namun sama sekali tidak menulahi dirinya


Dalam hal ini bukan sama sekali IA merestui perzinahan. Tidak sama sekali. Upah kematian yang paling menyakitkan bagi seorang ayah dan ibu telah Tuhan derakan pada mereka: anak terkasih mereka telah ditulahi-Nya. Perhatikan TUHAN sendiri MENULAHINYA. Doa seorang ayah yang bermohon pada-Nya tak dapat sedikit saja menyurutkan pijar kekudusan kasih-Nya! Tidak ada satu tanda atau basis bagi pengajaran yang bagaimanapun untuk menyatakan dosa perzinahan diperbolehkan Tuhan, atau dosa yang ringan. Anda mau  keturunamu selama-lamanya diburu oleh pedang? Hati-hati mempermainkan atau menyalahgunakan kasih karunia, seolah-olah kekudusan sudah lenyap!


Bukan hukum Taurat yang melestarikan Israel; bukan hukum Taurat yang melestarikan Daud dan Batsyeba; bukan hukum Taurat yang melestarikan atau mengawetkan penggenapan janji keselamatan akan datang dari satu-satunya keturunan Abraham yang kelak merupakan dari trah Daud. Lalu apa? Satu saja: Kasih Allah yang agung telah bertindak bukan saja melepaskan Daud dan Batsyeba dari kebinasaan tetapi dalam IA MELAKUKANNYA SEMATA-MATA demi kegenapan maksud-Nya atas bagaimana keselamatan itu harus berlangsung:


2Samuel 12:24-25 Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini. dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedija, oleh karena TUHAN.


Dari 2 anak manusia yang berada dibawah  penghukuman-Nya: kebinasaan [Imamat20:10; Ulangan 22:22] telah terbit KASIH ALLAH. Setelah anak sebelumnya DITULAHINYA, kini anak berikutnya DIKASIHINYA. Daud memberi nama anak itu Salomo; TUHAN  memberi nama anak itu YEDIJA, yang artinya oleh karena TUHAN.


Semua ini atau kelangsungan trah Daud, kelangsungan generasi bangsa Israel dan keamanan penggenapan janji seorang Mesias dari keturunan Abraham dan yang akan seperti Musa dari saudara sebangsanya, bukan karena satu saja ada manusia Israel yang begitu sempurna dapat melakukan tuntutan hukum Taurat. Tidak sama sekali, tetapi KARENA TUHAN MENGASIHI.


Yedija, sosok ini akan begitu penting dan sentral bagi lahirnya Mesias dihadapan Israel. Yedija atau Salomo akan menjadi salah satu poin dalam garis keturunan yang akan membangun Bait Allah dan juga melahirkan Mesias. Perhatikan bahwa Bait Allah dapat berdiri bahkan bukan Karena kesempurnaan Salomo dihadapan Allah. Berdasarkan hukum Taurat [Imamat 20:10] ia sendiri seharusnya sudah binasa bersama  ibunya, akibat kelahirannya yang terjadi dalam sebuah hubungan yang menista Allah. Hanya karena TUHAN mengasihi Salomo maka ia boleh ada dan bahkan membangun bait Allah. Itu sebabnya kelayakan Salomo membangun bait Allah berdasarkan pemilihan Allah:


1Tawarikh28:6-7 Ia telah berfirman kepadaku: Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku sebab Aku telah memilih dia menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi bapanya. Dan Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya, jika ia bertekun melakukan segala perintah dan peraturan-Ku seperti sekarang ini.


Salomo atau Yedija memang benar-benar “karena Tuhan bertindak mengasihi atau meluputkannya dari kebinasaan akibat dosa perzinahan kedua orang tuanya.” Dalam pandangan Tuhan, berdasarkan hukum Taurat maka sebetulnya ia sudah tak berbapa dan beribu, karena seharusnya sudah binasa atau mati akibat dosa perzinahan tersebut, itu sebabnya kehidupan yang dimiliki oleh Salomo adalah berdasarkan tindakan Allah, yaitu: “Aku telah memilih dia menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi bapanya.” Ini lebih dari sekedar bernyawa, lebih dari sekedar hidup dan lebih dari sekedar bertuhan tetapi hidup dalam dan bagi Tuhan. Ini adalah kehidupan yang dimiliki Salomo bukan berdasarkan kepantasan kebangsaan atau kelahiran karena pada dasarnya terkutuk untuk mati; ini adalah kehidupan yang dimiliki Salomo bukan berdasarkan kekudusannya, tidak sama sekali. Kehidupan ini  dapat dimiliki karena “YEDIJA” atau “karena Allah bertindak” memilih dia menjadi anak-Nya dan IA menjadi bapanya. Sebuah relasi yang tak terpisahkan karena sebuah persekutuan antara ayah dan anak. Dalam kehidupan persekutuan yang berdasarkan tindakan Allah dan bukan berdasarkan ketaatan pada hukum Taurat, lahirlah janji yang dahsyat ini: “Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya, jika ia bertekun melakukan segala perintah dan peraturan-Ku seperti sekarang ini.” Ketaatan Salomo terhadap Tuhan bukan dalam dasar hubungan dengan hukum Taurat, tetapi berdasarkan Tuhan telah memilih dia menjadi anak-Nya dan TUHAN menjadi bapanya. Yang belakangan atau TUHAN menjadi bapanya, itulah sebuah jaminan bahwa relasi keduanya tak akan pernah lagi berdasarkan hukum Taurat sekalipun saat itu hukum Taurat memerintah. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya baik ayah dan ibunya sebagaimana seharusnya dirinya sendiri harus dibinasakan, hanya karena Tuhan memutuskan untuk memberikan kasih karunia atas Daud, Batsyeba dan Salomo, tetapi tidak untuk “saudara tuanya” yang telah ditulahi TUHAN, maka ia bisa menjadi anak-Nya dan IA menjadi bapanya. Tetap dalam hal ini, dalam kasih karunia, IA tetap menuntut ketaatan. Apakah maksudnya, maksudnya kehidupan sebagaimana seharusnya seorang anak Tuhan, hidup mengasihi dan melakukan apa yang dikehendaki Bapanya. Relasi ini tak akan bisa dihancurkan oleh ketidaktaatan terhadap hukum Taurat, sebagaimana juga ketidaktaatan Daud pada hukum Taurat tak dapat menghancurkannya!


Perhatikan hal berikut ini:

2Samuel 12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.


Karena sebuah tindakan Tuhan:

2Samuel 12:3 Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.


Tuhan tidak menghapuskan perhitungan dosa itu sementara IA melakukan penghukuman atas segala ketaktaatan. Ini bukan sama sekali pola dalam  hukum Taurat, bahkan menurut hokum pengampunan dan penghapusan serta pendamaian berdasarkan kurban binatang beserta darahnya.



Apakah Salomo begitu berbeda daripada Daud?


Tidak juga atau sama saja. Ia pun adalah manusia pemberontakan yang menjijikan  bagi Allah, tetapi perhatikan bagaimana pemberontakan yang menjijikan Allah itu tak membuat kelestarian bangsa Israel menjadi binasa atau punah, sehingga janji kedatangan Sang Mesias dari bangsa ini dapat gagal sepenuhnya:


IRaja-Raja 11:4-13Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih."


Seperti Daud ayahnya, demikianlah Salomo anaknya. Ini  hal yang mengerikan karena jika demikian maka kebinasaan adalah keniscayaan bagi Salomo. Mari kita melihat sejenak Salomo:

Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN


Apakah yang pasti menimpa Salomo? Perhatikan bagaimana Allah begitu murka dengan segala bentuk persembahan dan penyembahan kepada allah-allah:


Keluaran 32:2-10Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku." Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!" Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar."


Secara pasti, jika menuntut pada hukum Taurat, maka Salomo atau Yedija harus dibinasakan dalam murka-Nya.


Namun dalam murka-Nya yang dahsyat itu, TUHAN secara sepihak dalam kedaulatan-Nya untuk menggenapi kehendak-Nya, IA melakukan hal ini:


●Penghukuman tak segera terjadi, tapi akan berlangsung di era anaknya sendiri:
1Raja-Raja 11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya.



●Kerajaannya atau kelangsungan Israel tidak akan dibinasakan sepenuhnya sehingga lenyap dari muka bumi dalam kemurkaan-Nya:
1Raja-Raja 11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih."


Mengapakah itu bisa terjadi? Karena peran hukum Taurat yang memandu Salomo dan anaknya? Mengapakah TUHAN tidak mengoyakan semua kerajaan tetapi dalam murka-Nya yang menyala-nyala memutuskan untuk menyisakan satu suku kepada anak atau keturunan Salomo? Apakah itu karena hukum Taurat yang menahan Tuhan untuk melakukannya? Tentu tidak sama sekali, sebab justru hukum Taurat sejak semula telah memastikan  kebinasaan Daud dan seluruh generasi Israel. Hanya karena “YEDIJA” saja maka   kerajaan Israel tidak binasa dan generasi Israel akan lenyap. Apakah tindakan “Karena TUHAN” itu? Inilah:


Satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih.”



Janji dan pengurapan TUHAN atas Daud itu berdasarkan kehendak dan kemauan Allah berdasarkan pilihan:


1Samuel 16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."


Perhatikan baik-baik: Pemilihan atas Daud oleh Tuhan tidak mengakibatkan penolakan kala ia jatuh menista Allah. Daud tak pernah mengalami penolakan, sebaliknya melalui nabi Natan mendapatkan kasih karunia Allah yang begitu kudus. Ini sungguh berbeda dengan Saul yang dikatakan-Nya telah ditolak-Nya sekalipun Saul memang dipakai Tuhan untuk membebaskan umat-Nya dari penindasan  Filistin: ”Tetapi TUHAN telah menyatakan kepada Samuel, sehari sebelum kedatangan Saul, demikian: Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku. Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku- 1 Samuel 9:15-17"


Apakah yang membuat  Saul ditolak dan Daud tidak ditolak- bahkan takta kerajaan Daud bertahan selama-lamanya? Apakah karena Daud lebih baik daripada Saul: lebih kudus, lebih taat kepada Tuhan, lebih sungguh-sungguh dalam meratapi kesalahan-kesalahannya dihadapan Tuhan atau pertobatan Saul palsu tetapi pertobatan Daud sejati. Begitukah? Itukah yang menyebabkan perbedaan pada keduanya? Tidak sama sekali, tetapi inilah sebagaimana nabi Samuel menyatakan apakah yang TUHAN nyatakan:


2Samuel 7:13-17 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya." Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.



Satu-satunya penyebab yang membedakan Daud terhadap Saul, bukan karena satupun kebaikan pada diri Daud, sudah diketahui begitu jelas bahwa Daud adalah seorang yang seharusnya sudah dibinasakan karena dosa. Dengan kata lain, seharusnya ia tak ada perbedaan sedikit saja dengan Saul. Apa yang membedakannya adalah TUHAN sendiri:


terhadap Saul: IA melenyapkan kasih setia-Nya
terhadap Daud IA berjanji: kasih setia-Nya tidak akan hilang


Kasih setia di sini adalah “unconditional” atau tak bersyarat sama sekali. Tak ada satupun kejadian atau perbuatan yang dilakukan oleh Daud yang dapat melenyapkan kasih setia Tuhan, bahkan didalam kemurkaan-Nya yang menyala-nyala menentang Daud  yang begitu menjijikan dalam dosa-dosanya.




Daud sendiri tidak boleh dipahami sebagai orang yang tidak mengenal kebenaran kehidupan didalam Tuhan dan dalam kekudusan, sebab ia sendiri adalah salah satu penulis Kitab Mazmur atau Tehilim yang merupakan Kitab yang memastikan transmisi Torah berlangsung atau tak terputuskan, seperti ini misalnya:


Mazmur1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.


Mazmur 37:1-4 Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.


Mazmur 23:1-4 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.


Mazmur 32:1-9 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak ember nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.


Mazmur103:1- Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,



Sehingga dalam kasih karunia, Daud sangat tahu sekali betapa kekudusan adalah sebuah kehidupan dalam persekutuan dengan Tuhan merupakan hal yang tetap dikehendaki Allah, walau itu bukan merupakan syarat keselamatan jiwanya!Tetapi kehidupan sejati seorang yang diselamatkan-Nya.



Apakah hukum Taurat yang melestarikan bangsa Israel sehingga tidak binasa dan dapat melahirkan Mesias? Bukan sama sekali, tetapi KARENA TUHAN - YEDIJA. Sehingga menjadi jelas bagi kita kala rasul Paulus menuliskan: “Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain," itu hendak menunjukan bahwa bangsa Israel dapat tetap ada di muka bumi dan pada akhirnya Mesias telah datang melalui bangsa ini, bukan karena dilestarikan oleh hukum Taurat, bukan karena berdasarkan hukum tersebut, sebagaimana ada tertulis dan telah kita lihat bersama-sama, sebaliknyamelalui hukum itu hanya menunjukan bangsa itu hanya mampu membuat bangsa-bangsa lain menghujat nama Allah oleh karena pemberontakan Israel itu begitu konsisten disepanjang sejarah semua manusia, sehingga mustahil menjadi “pilot project manusia yang dikehendaki Allah di era atau zaman sebelum anugerah,” baik dahulu dan sekarang ini.


Bersambung ke bagian 6.G-2


AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform the cross

[dari seorang teolog yang saya lupa namanya]






P O P U L A R - "Last 7 days"