0 DALAM KEMATIAN



Oleh: Martin Simamora

Siapakah Yang Menggembalakanmu,  Sang Maut Atau Sang Juruselamat?



Sangat bernilai untuk terlebih dahulu membaca: “Kasih Karunia Adalah


Bahkan seorang  yang mengalami “near  death experience“ atau NDE sekalipun, tak bisa memberikan sebuah deskripsi yang memuaskan  mengenai pengalaman yang disebut kematian itu sendiri, bagaimanakah realitasnya. Karena sesungguhnya ia hanyalah nyaris mati. Alkitab memiliki deskripsi-deskripsi yang begitu tajam,mengenai peristiwa-peristiwa yang dapat menempatkan manusia dalam kemungkinan-kemungkinan kematian yang tak dapat dikendalikannnya agar itu merupakan peristiwa menjelang ajal yang membahagiakan hingga pada kekekalannya. Apalagi memberikan informasi pasti mengenai kematian pada peristiwa apakah yang akan berlangsung atau terjadi setelah kematian itu sendiri, tak ada apapun sama sekali. Kematian yang mencemaskan atau menakutkan, karena kemisteriusannya. Tak mungkin mengirimkan misi Apolo untuk melakukan penjelajahan pada dunia tanpa batas dan tak terpetakan itu.

Tuhan  sebagai pencipta  manusia, oleh atau berdasarkan Alkitab, telah digambarkan sebagai pemegang tunggal kepemilikan nyawa bahkan didalam peristiwa kematian dalam  ragam modus operandi yang berlangsung di dalam berbagai peristiwa sehari-hari. Kematian, apapun juga yang mengakibatkannya, hanya memiberikan 2 pilihan bagi manusia untuk menakar peristiwa  kematian itu, apakah? Hanya 2 dan itu begitu mendasar dan sekaligus paling mendebarkan, apakah kematian itu merupakan: (1)peristiwa yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Tuhan dan (2)peristiwa yang melibatkan  kedaulatan Tuhan atas berbagai peristiwa di dunia ini sebagai pencipta alam semesta dan segala mahkluk yang bernafas.


Bagaimana dengan Alkitab? Apakah yang akan ditunjukan pada manusia? Apakah Alkitab akan dan ada  memberikan informasi terkait kematian, dan apakah benar Tuhan  menjadi penentu kekekalan yang bagaimanakah pada setiap manusia, ataukah tidak sama sekali?

Mari kita memperhatikan hal berikut ini:


Mazmur 49:5-9 Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku, mereka yang percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka? Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya--supaya ia tetap hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur.

Kematian sebagai sebuah peristiwa, telah dinyatakan sebagai begitu erat dan tak terpisahkan dengan Tuhan, dalam sebuah cara yang begitu tak tertandingi: “tidak seorangpun dapat memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya.” Kematian telah digambarkan oleh pemazmur sebagai bukan hanya meregangnya nyawa dari tubuh seseorang, tetapi Tuhan sendiri telah  digambarkan sebagai yang berdaulat atau berotoritas atas kematian atau meregangnya nyawa seseorang: “memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawa,” atau dalam bahasa lebih renyah dapat dikatakan begini: “pergilah menghadap-Nya dan berilah sesuatu agar nyawamu yang “tersita dari ragamu” itu dapat kauambil kembali dari-Nya.” Tetapi dikatakan bahwa itu tak mungkin dilakukan oleh manusia. Alkitab tak menegaskan bahwa tak ada peristiwa kematian yang bagaimanapun sebagai yang terlepas dari genggaman tangan-Nya. Sesukar apapun  bagi kita untuk memahami peristiwa ini dalam realitasnya.


Sejujurnya secara alami, jika kematian menjadi topik yang dibicarakan maka inilah kehendak manusia secara umum: “manusia berharap ia tetap hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur.” 


Manusia bukan hanya tak kekal, bahkan lebih jauh lagi, ia tak berdaya untuk mempertahankan nyawanya dalam setiap tarikan nafasnya. Jarak antara setiap tarikan nafas seorang manusia pada dasarnya tak berada di dalam dua dimensi yang terpisah, seolah-olah manusia dapat menentukan kapan ia mau menyerahkan nyawanya. Ungkapan “manusia berharap tetap hidup seterusnya dan tidak melihat lobang kubur selamanya,” merupakan proposisi tunggal jiwa manusia dan pada sisi lainnya merupakan realitas tunggal yang tak terubahkan dan harus diterima sebagai sebuah kedefinitifan hidup itu sendiri. Hidup dan lobang kubur, itu memang sebuah rute perjalanan yang pasti. Anda tidak bias mengubah rute itu seperti anda membuat rute-rute opsional pada google map atau waze, misalnya. Oleh sebab tunggal saja: “manusia tidak dapat memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya.



Memiliki kehidupan kekal bagi seorang manusia, digambarkan oleh pemazmur seperti ini: “terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya,” sehingga ini hendak menyatakan: tak ada sama sekali upaya yang bagaimanapun dapat dilakukan oleh manusia pada dirinya sendiri sehingga nilai itu begitu tingginya untuk dapat membayar harga pembebasan nyawanya. Tidak  akan dapat dibeli dengan perbuatan-perbuatan baik, ritual-ritual, kemuliaan moralitasmu, dan apapun yang disebut keluhuran jiwa manusia tak memiliki setinggi itu. Realitas ini adalah sebuah kebenaran kekal: “tidak memadai untuk selama-lamanya.”


Sehingga ini sebuah hal yang bukan saja jauh dari jangkauan tangan manusia, tetapi pembebasan nyawa manusia hanya dapat dilakukan oleh tangan Tuhan. Adakah satu saja sebuah persembahan yang begitu mahal, begitu mulia bahkan begitu kudus yang dapat ditemukan atau dijumpai oleh manusia untuk kemudian dipersembahkan kepada Allah, sehingga nyawanya menerima pembebasan ?


Pembebasan dari apakah?




Digembalakan Oleh Sang Maut Atau Oleh Tuhan?


Ketika semua manusia berjumpa dengan kematian, maka apakah engkau itu pintar, bodoh atau dungu,  memiliki hikmat, keberakhirannya sama saja: binasa. Perhatikan lantunan pemazmur ini:

Mazmur 49:10 orang-orang yang mempunyai hikmat mati, orang-orang bodoh dan dungupun binasa bersama-sama


Dalam kematian, segala jerih payahmu pun tak dapat kaubawa sebab orang-orang lainlah yang menikmatinya:

Mazmur 49:10…dan meninggalkan harta benda mereka untuk orang lain
Kebinasaan atau mengalami kehancuran, itulah kesudahan hidup manusia.



Orang-orang yang memiliki hikmat atau yang kehidupannya selama di dunia memiliki hikmat yang menghasilkan kebijakan dan kesejahteraan bagi manusia,pun itu tak memberikan dirinya di hadapan Allah untuk dapat menebus nyawanya dari kebinasaan hidup. Tak ada kehidupan bersama Tuhan setelah kematiannya.


Manusia boleh saja berkata tak membutuhkan Tuhan atau mengakui keberadaan Tuhan menurut jalan-jalanya sendiri, tak perlu juga  menjadi orang yang berkata bahwa Tuhan tak ada,  namun dalam kesemuanya itu, ia tak akan berkuasa sama sekali dalam sebuah peristiwa yang justru jauh lebih penting dari kehidupannya selama di dunia. Orang-orang boleh saja berkata lantang bahwa hikmatku mengatakan bahwa kematian adalah ilusi untuk dicemaskan apalagi dikait-kaitkan dengan penghukuman yang menanti dibaliknya, tapi  dalam pembantahan semacam itupun, tak juga memiliki sebuah pengetahuan dan kuasa atas nyawanya sendiri setelah meregang dari tubuh ini. Pada dasarnya, ketika manusia-manusia itu mati memang benar-benar  tak ada bedanya dengan hewan, dalam hal kekuasaan atas dirinya sendiri dalam menghadapi dan memasuki kematian itu sendiri.


Segala prestasi moral atau prestasi spiritualitas atau keluhuran kemanusiaannya tak lantas membuat manusia itu begitu tahu dan begitu siap sepasti kala ia melangkahkan kakinya di dunia ini atau membuat perencanaan masa depan. Manusia tak dapat membuat perencanaan masa depannya terkait apa yang akan dijalaninya setelah ia meninggalkan dunia ini  melalui peristiwa kematian itu. 


Tanpa Tuhan Sang Juruselamat, maka semua manusia dalam menghadapi kematian itu sendiri, oleh pemazmur telah digambarkan tak ada bedanya dengan hewan:

Mazmur 49:12 Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.


Momen-momen kematian dengan demikian bukan saja momen paling sendiri dan paling berkuasa untuk mengucilkannya dari bahkan orang yang paling dikasihinya di dunia ini. Tetapi sebuah momen yang paling maut baginya, sebab siapakah yang akan ditemuinya dan dijadikan penuntun jiwanya kala ia memasuki sebuah dunia yang berbeda dengan sebelumnya. Dikatakan tadi, manusia  tanpa Tuhan Juruselamat,  boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Bagaimana tepatnya atau maksudnya kebinasaan yang sedang dibicarakan itu.


Inilah  realitas  manusia yang boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Binasa, kebinasaan dan dibinasakan itu adalah sebuah kekekalan di dalam tangan maut atau kehidupan setelah kematian yang meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut, bukan Tuhan! Perhatikan ini:

Mazmur 49:13 -14 Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri. Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.


Orang-orang mati tanpa Tuhan Juruselamat, tidak akan berdiam dalam bumi baru,  tidak akan berdiam dalam Kerajaan Sorga atau Kerajaan Tuhan. Tetapi “dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” Tanpa Tuhan Juruselamat yang menjadi  penyelamat jiwamu, maka ketika seseorang meninggal dunia maka ia akan seperti hewan [domba] yang meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka. Inilah yang dimaksudkan dengan kebinasaan.



Bagaimana dengan orang-orang yang mati dalam pengimanan mereka kepada Tuhan Juruselamatnya, sebagaimana janji-Nya yang telah dinyatakan-Nya kepada Adam dan Hawa, Abraham dan Musa? Beriman kepada satu-satunya keturunan Abraham yang akan menjadi berkat bagi manusia-manusia yang beriman kepada Sang Mesias?


Perhatikan penjelasan selanjutnya yang dipaparkan  oleh pemazmur :

Mazmur 49:15 Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku


Seorang yang beriman kepada Tuhan Sang Juruselamat akan dibebaskan Allah dari cengkraman dunia orang mati. Ia akan menarik aku.


Keselamatan telah dinyatakan oleh Yesus sebagai sebuah kepastian, itu memiliki dua dimensi yang pada kedua-duanya tidak dapat dikendalikan atau dikontrol manusia sekaligus tak dapat dibeli dengan kebaikan-kebaikan atau  moralitasnya. Pertama: kehidupan saat ini, dan kedua: kehidupan setelah kematian. Ketika Yesus mati di muka bumi ini maka dua dimensi ini yang diambil kedalam tangan kekuasaan-Nya sehingga IA berdaulat penuh atas setiap jiwa manusia domba-domba-Nya:

►Yohanes 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.


►Yohanes 12:27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.


►Yohanes 12:31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;


►Yohanes 12:32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku."


Satu-satunya manusia yang mengalami kematian yang menaklukan penguasa dunia atau iblis atau maut, adalah Yesus. Maut tak berkuasa untuk menggembalakan Yesus sehingga seperti domba yang meluncur ke dalam dunia orang mati. Ia bukanlah domba yang kediamannya adalah dunia orang mati. Bukan, sebaliknya ia dalam kematiannya telah melemparkan kuasa iblis atas setiap orang yang telah beriman kepadanya. Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku adalah semua orang yang menerima kehidupan, kebenaran dan jalan kepada Bapa berdasarkan pengimanan kepada Yesus dan karyanya pada Salib.



Apabila Aku ditinggikan dari bumi adalah peristiwa yang begitu spesifik:


►Yohanes 12:33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

menarik semua orang datang kepada-Ku” tak terhindarkan harus dimaknai sebagai semua yang beriman kepada Yesus dan menerimanya sebagai satu-satunya Mesias, bukan semua manusia  dan tak memedulikan apakah manusia itu memiliki iman atau tidak kepadanya/. Apakah dasarnya? Dasarnya adalah: kebenaran ini berdasarkan kitab suci dan dinantikan penggenapannya dalam sebuah relasi yang terjalin berdasarkan iman. Iman kepada Mesias tersebut.


Perhatikanlah bagaimana perihal begitu krusial untuk diterima atau ditolak:


►Yohanes 12:34 Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?"


Inipun hal yang begitu krusial bagi para  murid untuk menerima kebenaran Yesus yang mengatakan bahwa kematiannya merupakan penghakiman atas dunia dan penjungkalan penguasa dunia; para muridnya sendiri tahu sekali bahwa dasar untuk menerima pembebasan dari Sang Mesias adalah percaya kepada-Nya dan bagaimana itu berlangsung atau bagaimana Yesus melakukannya. Perhatikanlah hal ini:


►Lukas24:18-21 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.


Ia menarik semua manusia kepada dirinya,” senantiasa dalam konteks iman atau beriman kepadanya dan segala apapun yang dilakukan sesuai dengan Kitab Suci.


Yesus Sang Mesias yang telah bangkit dari kematian pun menegaskan bahwa relasi semua orang dengan dirinya adalah  relasi beriman kepada dirinya dan juga bahwa penderitaan dan kematiannya adalah sebuah cara yang memang dikehendaki Allah:


►Lukas24:25-26 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.


▬Lukas24:38-40 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.


“kematiannya akan menarik semua oranng,” harus dipahami sebagaimana Yesus bahkan pada murid-murid-Nya sendiri memahaminya tepat ketika Ia menarik mereka kembali untuk percaya kepada-Nya, yang penarikan itu tak terlepaskan dengan menjadi percaya pada kematian-Nya sebagaimana kitab suci telah menuliskan segala sesuatu mengenai diri-nya!



Perhatikan ini:

▬Lukas 24:44-46 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.


Yesus memiliki kuasa atas kematian. Satu-satunya domba yang tidak dapat digembalakan oleh maut  untuk meluncur kedalam dunia orang mati. Ini sungguh benar sebab masuknya Yesus kedalam dunia orang mati digembalakan oleh kehendak Bapa di sorga, seperti yang dinyatakan oleh Yesus sendiri:


▬Yohanes 10:17-18Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."


Ini adalah penggambaran kematian yang menggoncangkan Israel, sebab dengan demikian ia menyatakan dirinya sebagai bukan saja tak digembalakan oleh maut dan tidak memerlukan Tuhan untuk membebaskannya dari dunia orang mati, tetapi ia sendiri berkuasa untuk menaklukannya!



Perhatikan kegoncangan Israel ini:

▬Yohanes 10:19-20 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?


Inilah realitas Yesus atas kematian bukan hanya untuk dirinya saja tetapi bagi yang semua yang beriman. Ia bahkan berkata bahwa orang-orang beriman itu adalah domba-domba Gembalaan-Nya yang tak akan dapat disentuh dan dirampas oleh maut:


▬Yohanes 10:11Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

▬Yohanes 10:14-15 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.


Harus dipahami bahwa Yesus Sang Gembala mengenal domba-dombanya, itu dalam sebuah konteks penuh kuasa dan kekal, bukan saja di bumi tetapi  JUGA DALAM KEMATIAN  PARA DOMBANYA IA ADALAH GEMBALA MEREKA, sebab IA berkuasa dalam dunia kematian sehingga berkuasa untuk melepaskan yang beriman padanya dari cengkraman dunia orang mati. IA telah memberikan nyawa-Nya, nyawa yang tak dapat digembalakan oleh maut, malah menekuk kuasanya sehingga tak akan berkuasa atasnya dan semua domba kepunyaannya.


Suara Sang Mesias bahkan bukan hanya menggembalakan para dombanya selama masih berjalan di bumi ini, tetapi suaranya akan menggembalakan para domba-Nya dalam memasuki dunia kematian. Ia tak membiarkan saya dan anda sendirian menghadapi kematian. Perhatikan ini:


▬Yohanes 10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.


Penggembalaan oleh Yesus bukan saja saat kita masih hidup di dunia ini, tetapi juga saat saya dan anda pada akhirnya harus meregang nyawa. Dalam hal ini Ia menyatakan secara sangat tajam bagaimana saat ia menggembalakan kita dalam kematian,maka: kehidupan kekal menjadi milik domba-domba-Nya, mereka akan mengikut-Nya bukan mengikuti penggembalaan maut, sehingga dalam penggembalaan Yesus akan terjadi: ketidakbinasaan dan kegagalan dalam perjalanan melintasi kematian menuju tempat yang telah dipersiapkan Sang Gembala bagi para domba-domba-Nya.


Iblis dan maut tak dapat merampas dan merapuhkan pengharapan keselamatan saya dan anda, sejak awal Yesus sendiri sudah menjaminkan betapa ia sempurna dan perkasa di dalam menggembalakan para dombanya, bukan saja dalam dimensi kehidupan kini, tetapi dalam dimensi  kematian:

▬Yohanes 10:29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.


Kemanakah Yesus Sang Gembala akan membawa kita para domba-Nya setelah kematian kita? Beginilah Yesus menjelaskannya kepada kita:

Yohanes 10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.


Ini sungguh berbeda dengan kemana manusia-manusia yang digembalakan maut setelah kematiannya, yang dibawa ke kediaman “dunia orang mati.”


Realitas kehidupan para domba-Nya yang digembalakan hingga memasuki dunia kematian memang telah menunjukan bahwa tak ada yang dapat diusahakan oleh manusia untuk menebus nyawanya dari penggembalaan maut, selain jika percaya dan kemudian menjadi domba-domba gembalaan-Nya, sebab memang, sebagaimana Mazmur 49 menyatakannya, hanya Dia Sang Mesias yang dapat merampas atau memindahkan manusia dari cengkraman maut.


Suara Sang Gembala memastikan dalam kematianku dan anda,nanti, kalau mati, suara-Nyalah yang memandu jiwaku dan jiwamu:

▬Yohanes 6:24-25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.


Mendengar suaranya, berarti dapat mengikutnya dan jika demikian, maka jelas bukan maut yang menggembalakannya, tetapi Yesus. Akibat penggembalaan Yesus saja maka ”Ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Realitas ini sesungguhnya sudah diterima sementara  saya dan anda masih hidup dalam sebuah kehidupan yang digembalakan-Nya, bukan digembalakan oleh dunia beserta segala keinginannya yang melawan dan menista kasih karunia Tuhan! 




Ibrani 2: 14  Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

Mazmur 23:1-4 TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.



Amin
Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan



P O P U L A R - "Last 7 days"