0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (5.E)

Oleh: Martin Simamora

Benarkah Karena Tidak Menolak Injil Hingga Ke Tingkat Penghinaan Maka  Ada Kebenaran Lain Di Luar Kristus (5.E)





Apakah tujuan hidup umat Tuhan atau lebih spesifik lagi, apakah ada semacam perbedaan tujuan atau orientasi hidup antara umat Tuhan di era perjanjian lama dibandingkan dengan perjanjian baru? Menjawabnya memang akan menunjukan apakah yang menjadi orientasi kehidupan  mereka di masing-masing era itu, tetapi apa yang jauh lebih penting harus dipahami, atas keduanya, Allahlah yang menentukan apa yang harus menjadi tujuan atau kehidupan masing-masing mereka berdasarkan maksud-Nya dan dalam cara-Nya saja.  Saya akan tunjukan nanti, apakah yang dimaksudkan “Allahlah yang menentukan apa yang harus menjadi tujuan atau kehidupan masing-masing,” bahwa itu bukan sama sekali dengan tujuan pemaksaan atau sebuah pelenyapan pemberontakan, sebaliknya di tengah-tengah pemberontakan terkeras itulah, eksekusi penentuan apa yang harus menjadi tujuan-Nya,justru, berlangsung sempurna di dalam kekudusan-Nya,keadilan-Nya dan kasih setia-Nya.


Mari memulainya dengan: bagaimana Allah menetapkan tujuan hidup umat-Nya pada era perjanjian lama:
▬▬Imamat 26:40-46 Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa hidup mereka bertentangan dengan Daku --Akupun bertindak melawan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka--atau bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga.
Jadi tanah itu akan ditinggalkan mereka dan akan pulih dari akibat tahun-tahun sabat yang dilalaikan selama tanah itu tandus, oleh karena ditinggalkan mereka, dan mereka akan membayar pulih kesalahan mereka, tak lain dan tak bukan karena mereka menolak peraturan-Ku dan hati mereka muak mendengarkan ketetapan-Ku. Namun demikian, apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka. Untuk keselamatan mereka Aku akan mengingat perjanjian dengan orang-orang dahulu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir di depan mata bangsa-bangsa lain, supaya Aku menjadi Allah mereka; Akulah TUHAN." Itulah ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan serta hukum-hukum yang diberikan TUHAN, berlaku di antara Dia dengan orang Israel, di gunung Sinai, dengan perantaraan Musa.


Membaca bagian ini sendiri saja sudah menunjukan satu hal mahapenting: Allah yang memilih bangsa ini, adalah juga Allah  yang menjaga keamanan perjanjian-Nya dengan bangsa ini melalui perantaraan Musa, sekalipun mereka “berubah setia.” Apa yang harus dipahami bahwa tujuan-Nya, baik pada umat perjanjian lama dan perjanjian baru, telah dibangun-Nya atas dasar rancangan-Nya sendiri dan tidak dapat digagalkan oleh berbagai perubahan-perubahan manusia yang senantiasa gagal memenuhi tuntutan kekudusan-Nya.


Kita,juga, akan mengetahui, dalam hal tersebut, tak sekalipun menganjurkan satu  saja gagasan bahwa Allah tidak peduli dengan kebenaran-Nya dan kekudusan-Nya di dalam kehidupan umat-Nya, berdasarkan pada mengetahui atas dasar apakah Allah menjaga keamanan perjanjian-Nya dengan bangsa tersebut sekalipun berubah setia.




Tujuan Kehidupan Umat  Tuhan Sepenuhnya Ditentukan & Dijaga Oleh-Nya


Satu-satunya dasar bagi Allah untuk menjaga keamanan perjanjian-Nya dengan Israel, bukan karena ketaatan-ketaatan dan semua prestasi rohani apakah yang akan diperlihatkannya kepada Tuhan. Maksud “keamanan” perjanjian ini adalah kesinambungan perjanjian yang sama sekali berpondasi pada kehendak Tuhan, tidak akan pernah putus atau berhenti sesaat saja bahkan di dalam Ia mengganjar sangat keras dan menyakitkan bagi yang sedang diganjar-Nya, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Lewi bab 26 tadi pada bagian ini:


Namun demikian, apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka


Allah berkata: “Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka sehingga Aku akan membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka.”


Tetapi bukan itu yang terbesarnya. Perhatikan ini secara baik-baik: ada dasar- dasar yang kokoh bagi Tuhan untuk muak, untuk membinasakan dan membatalkan perjanjian-Nya dengan mereka. Mengapa? Karena setidak-tidaknya: berubah setia. Allah sendiri yang menyatakan mereka sebagai bangsa pilihan layak untuk dibinasakan sebab: berubah setia dalam apa yang diperbuat terhadap Dia dan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan-Nya. Di sini semua pembaca harus memberikan dirinya untuk memahami mengapa Allah bertindak “Aku tidak akan menolak,” atau “Aku tidak akan muak,” itu semua bukan sama sekali bersama-Nya, IA tidak menuntut kekudusan yang tinggi atau tidak menunjukan kegelapan  yang meliputi diri mereka, bukan sama sekali seperti itu. Lalu apa jika tidak seperti itu atau Mengapa? Karena, sebetulnya terhadap semua buah-buah kegelapan jiwa bangsa itu, IA menghukumnya dengan teramat keras. Sekali lagi dalam “Aku tidak muak” dan “Aku tidak akan menolak,” IA sangat keras menentang  segenap aspek ketakudusan yang dijumpai-Nya pada bangsa yang Ia pilih sendiri:

►“Akupun bertindak melawan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka

Pada  tindakan penghukuman oleh-Nya yang sangat keras pada Israel: “menjadikan diri-Nya sendiri lawan terhadap bangsa yang dipilih-Nya sendiri” dan “membawa mereka ke negeri musuh mereka,” sebuah kombinasi penghukuman yang normalnya membawa kebinasaan, Allah tak membiarkan kebinasaan adalah tujuan akhirnya. Allah sendiri, memberikan sebuah kondisi “kondisional” atau “bersyarat” jikalau ingin lepas dari kombinasi mematikan ini, yaitu:


►bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga

bila kemudian,” jelas merupakan sebuah keadaan bersyarat: jika… maka… . Keadaan bersyarat itu sendiri harus dipahami berjangkar pada janji-Nya yang dijanjikan untuk dipenuhi-Nya sendiri kepada Yakub, Ishak, dan Abraham. Sehingga tidak sedikit saja ada pergeseran  nilai kemuliaan janji-Nya bagi keturunan Abraham, Yakub, dan Ishak yang diakibatkan oleh berbagai kejahatan bangsa Israel di mata Allah. Sehingga tujuan kombinasi hukuman yang sangat keras itu adalah: menunjukan kemuliaan Tuhan dan memperlihatkan kepada bangsa itu dan semua bangsa, bahwa dia adalah Tuhan yang berdaulat dan memerintah, bahkan dalam pemberontakan yang terkritikal yang dapat didemonstrasikan manusia-manusia.


Itu sebabnya apa yang terjadi bila keadaan bersyarat itu dipenuhi, sungguh mulia karena menunjukan bagaimana Tuhan melakukan restorasi pada apa yang tak dapat direstorasi; pada apa yang tak ada kemuliaan-Nya menjadi kembali ada:

Jadi tanah itu akan ditinggalkan mereka dan akan pulih dari akibat tahun-tahun sabat yang dilalaikan selama tanah itu tandus, oleh karena ditinggalkan mereka, dan mereka akan membayar pulih kesalahan mereka


Penghukuman itu membuat bangsa itu terbuang dari tanah dimana seharusnya mereka berdiam, sebab mereka telah dibawa oleh Allah sendiri untuk masuk ke tanah musuh sebagai masa penghukuman yang panjang dan begitu menyengsarakan. Namun  kala syarat kondisional itu dipenuhi maka mereka akan pulih, dipulihkan  oleh Tuhan. Pemulihan ini bukan saja pada kehidupan manusianya tetapi pemulihan-Nya juga pada tanah mereka, sebagai akibat “tahun-tahun sabat yang dilalaikan.” Pengabaian sabat itu sendiri sebagai akibat Allah membawa mereka masuk ke tanah musuh untuk menjalani penghukuman.


Apakah selama masa penghukuman atas bangsa ini  dan selama  masa bangsa ini berada di tanah musuh, itu menunjukan  keadaannya yang sedang ditinggalkan sendirian sama sekali oleh Allah, sebab dibuang dari tanah sendiri oleh-Nya? Penghukuman semacam ini dan busuknya pembangkangan Israel terhadap Allah, telah begitu cepat menyeret pemikiran manusia untuk menentang kedaulatan Allah yang memerintah di dalam kasih setia-Nya. Bahkan penghukum yang begitu keras telah dipahami sebagai bentuk penolakan yang begitu kuat oleh Tuhan, dan apalagi dibawa masuk ke tanah musuh. Bukankah, dengan demikian, itu semua telah menunjukan sebuah pembuangan dan penolakan atau telah mengalami kehilangan kasih karunia Allah? 


Sangkamu??





Benarkah? Tidak sama sekali dan tak akan pernah demikian, karena dalam tanah pembuangan itu, Allah sendiri bersuara kokoh atas bangsa yang sedang dihukumnya dengan dicabut dari negerinya sendiri dan dibawa-Nya masuk ke tanah musuh, seperti ini:

Namun demikian, apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka


Apakah selama di negeri musuh, itu sendiri telah menujukan Allah sedang menolak Israel? Sedang menunjukan bahwa Allah sedang menolak sehingga membinasakan? Sedang menujukan Allah sedang muak sehingga membatalkan perjanjian-Nya? Jawabnya: tidak!


Ia tidak menolak dan tidak membinasakan; Ia tidak muak dan tidak membatalkan perjanjian, tepat di dalam IA sedang menghukum mereka dengan membawa bangsa itu masuk ke dalam tanah musuh. Tidak ditolak, tidak dibinasakan dan tidak  ada sama sekali pembatalan perjanjian!


Di sini Allah sedang menunjukan kekudusan-Nya bersamaan dengan kasih setia-Nya pada apa yang telah dijanjikan-Nya berdasarkan diri-Nya sendiri kepada Abraham, Yakub, dan Israel!


Umat Tuhan di era perjanjian lama, memang tak lepas dari berkat tanah di dunia ini dan juga segala berkat jasmaninya. Namun itu sama sekali bukanlah  sebuah pengejaran yang dilahirkan oleh jiwa manusia-manusia kepunyaan Tuhan di era perjanjian lama. Harus dipahami, Tuhan sendirilah yang menetapkan tujuan dan pencarian hidup mereka di dunia ini.  Itu jelas sekali, bahkan, sebagai hal yang turut masuk dalam  janji pemulihan kala syarat kondisional itu terpenuhi: “Jadi tanah itu akan ditinggalkan mereka dan akan pulih dari akibat tahun-tahun sabat yang dilalaikan selama tanah itu tandus.” Tanah dan pulihnya kehidupan mereka di dunia ini secara jasmaniah harus dipahami sebagai cara Allah mempertahankan eksistensi bangsa ini untuk dapat berada di dalam “kekekalan janji-Nya” selama menantikan penggenapan apa yang telah dijanjikan-Nya pada Abraham, Yakub, dan Ishak. Jika bangsa ini dibinasakan atau dibiarkan binasa maka jelas janji Allah kepada Abraham, Yakub dan Ishak gagal.



Sehingga, di sini, kembali terlihat bahwa keistimewaan Israel bukan pada kebangsaan-Nya dan kelanggengan bangsa itu semata terkait apakah maksud Allah di dunia ini yang terkandung di dalam bangsa itu.


Jadi, di sini, Allah tidak melayani Israel seolah pelayan keistimewaan Israel, sebaliknya Allah sendiri secara berdaulat memelihara, menghukum dan menjunjung eksistensi bangsa itu, demi kehendak-Nya sendiri yang hendak dipenuhi-Nya, sebagaimana telah diucapkan-Nya kepada; Abraham, Yakub, dan Ishak. Bahkan Israel sendiri sebagai bangsa seharusnya tunduk kepada apapun yang dihasilkan oleh penggenapan Allah melalui perjalanan kehidupan bangsa itu bersama Tuhan di sepanjang sejarah kehidupan mereka.


Pola ini secara kokoh memang muncul dalam sejarah Israel  di dalam tangan Allah pencipta langit bumi ini, di tengah-tengah segala bangsa. Mari perhatikan  pola demikian dalam teks-teks berikut ini, sehingga kita dapat lebih kokoh mengenali ini:


▬▬Yeremia 31:27-34 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan melimpahi kaum Israel dan kaum Yehuda dengan benih manusia dan benih hewan. Maka seperti tadinya Aku berjaga-jaga atas mereka untuk mencabut dan merobohkan, untuk meruntuhkan dan membinasakan dan mencelakakan, demikianlah juga Aku akan berjaga-jaga atas mereka untuk membangun dan menanam, demikianlah firman TUHAN. Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu, melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu. Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, (32) bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.(33) Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.(34) Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." Beginilah firman TUHAN, yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam, yang mengharu biru laut, sehingga gelombang-gelombangnya ribut, --TUHAN semesta alam nama-Nya:


Di sini pun sama saja, Israel dikenal Tuhan sebagai bangsa yang bertabiat pengingkar janji atau pembangkang, dan itulah sebabnya tak pernah ada sedikit saja dari manusia-manusia Israel,  lahir kontribusi apapun juga untuk   ikut bekerja dalam pemeliharaan atau penjagaan danpenggenapan janji-Nya atas mereka, tetapi tindakan Tuhan di sepanjang sejarah:

Aku akan berjaga-jaga atas mereka untuk membangun dan menanam, demikianlah firman TUHAN


Itu sebabnya, kemudian, ada sebuah masa depan keselamatan dan juga pemulihan yang akan memuliakan Allah, yang tersimpan di dalam dan dibawa oleh bangsa ini untuk menjadi sarana penggenapan di tangan Alah, berdasarkan apa yang telah dilakukan Allah tadi: Alah berjaga-jaga untuk membangun dan menanam, yaitu:

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda


Ini memang benar-benar perjanjian baru yang tak pernah ada terjadi dalam era perjanjian lama, namun itu telah ada dalam bentuk janji Allah pada dunia ini melalui Israel. Ini sangat berbeda dengan perjanjian lama dengan Musa:


bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN


Tak ada kepastian  pada ketaatan dan apalagi kekudusan pada bangsa  ini dan pada perilakunya, atau tak ada ketaatannya yang diperhitungkan Allah  terkait perjanjian baru tersebut. Tak ada dasar yang berasal dari ketentuan-ketentuan yang diberikan pada Musa untuk umat Musa itu sendiri.  Pada hal ini pun harus dicamkan, tepat sebagaimana pada Imamat, sebelumnya, tak sama sekali dalam perkara demikian, Allah menjadi Allah yang tak kudus dan Allah yang diam saja terhadap berbagai bentuk atau wujud ketakudusanyang berupa hukuman-hukuman yang bertujuan pada akhirnya sebuah pemuliahan oleh Allah sendiri.



Karena dalam Kitab Yeremia sendiri bangsa ini juga sedang dibawa ke dalam tanah musuh Israel: bangsa Babel ( Yeremia 1:1-3; Yeremia 25:1-14; Yeremia 27:1-22; Yeremia 29:1-23) karena perbuatan-perbuatan tidak setia kepada Allah, sebagaimana telah dinyatakan-Nya melalui nabi kudus-Nya, Yeremia:


▬▬Yeremia 2:1-7 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. Ketika itu Israel kudus bagi TUHAN, sebagai buah bungaran dari hasil tanah-Nya. Semua orang yang memakannya menjadi bersalah, malapetaka menimpa mereka, demikianlah firman TUHAN. Dengarlah firman TUHAN, hai kaum keturunan Yakub, hai segala kaum keluarga keturunan Israel. Beginilah firman TUHAN: Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia? Dan mereka tidak lagi bertanya: Di manakah TUHAN, yang menuntun kita keluar dari tanah Mesir; yang memimpin kita di padang gurun, di tanah yang tandus dan yang lekak-lekuk, di tanah yang sangat kering dan gelap, di tanah yang tidak dilintasi orang dan yang tidak didiami manusia? Aku telah membawa kamu ke tanah yang subur untuk menikmati buahnya dan segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian.


Pola Tuhan atas Israel sebagaimana telah kita lihat dalam Imamat, kembali kita lihat. Sekalipun Allah sendiri memastikan bangsa itu tidak binasa dan tidak pernah mengalami penolakan sehingga perjanjian-Nya dengan Yakub dibatalkan, didikan dan penegakan kekudusan dan kebenaran-Nya harus berlangsung dalam keadilan yang berpasangan dengan kasih setia-Nya demi diri-Nya sendiri di hadapan segala bangsa!


Satu hal yang harus saya tegaskan di sini: mengenai umat Tuhan perjanjian lama begitu tertuju pada hal-hal yang masih ada di dunia ini hendak dituju, bukan sama sekali merupakan rencana para manusia-manusia Israel sehingga merupakan dosa dalam pandangan Allah. Justru mereka  kini telah diserakan dalam sebuah cara yang begitu menyakitkan, dibuang ke Babel menjadi manusia-manusia buangan. Mereka adalah manusia-manusia dalam pembuangan namun sama sekali bukan bangsa yang telah ditolak dan apalagi mengalami pembatalan akibat gagal memenuhi hal-hal  kondisional tadi.  Perhatikan: “Aku telah membawa kamu ke tanah  yang subur untuk menikmati buahnya! Jadi jika nuansa berkat jasmaniah begitu menonjol pada Israel, apakah itu sebuah nafsu badani Israel? Apakah Israel pernah meminta tanah yang bahkan bukan sama sekali soal berkat-berkat daging karena disebut-Nya tanah itu sebagai “tanah-Ku-tanah milik-Ku.” Pada “untuk menikmati buahnya” bukan sama sekali hasrat-hasrat kekayaan duniawi atau ambisi-ambisi duniawi atau pengejaran-pengejaran akan harta dan kekuasaan duniawi, karena dalam Allah  menyebutkan “tanah-Ku” di situ atau pada tanah itulah terkandung maksud  kudus Allah yang sangat bertentangan dengan maksud manusia-manusia Israel. Itu sebabnya pada tanah itu-tanah-Ku yang merupakan salah satu bidang permukaan bumi yang dikhususkan bagi-Nya untuk maksud-Nya sebagaimana Ia telah mengkhususkan Israel diantara banyak manusia dan bangsa-bangsa di dunia ini, dapat terjadi “tetapi segera  setelah kamu masuk, kamu menajiskan.”



Jadi, bukan karena ke-Israel-an maka istimewa, dan dalam hal itu, tidak pernah sama sekali Allah melayani “ke-istimewa-an” Israel dan apalagi sampai harus pontang-panting mempertahankan janjinya pada keturunan yang tak becus sama sekali kehidupannya. Ketakbecusan dan  ketak-andal-an Israel itu sendiri, tak pernah membuat Allah menjadi picik terhadap kekudusan-Nya sendiri dan menjadi kalap atau gelap mata dalam membela Israel. Tak pernah demikian dan bahkan betapa kerasnya Ia menghukum dan betapa penghukuman itu dapat membinasakan bangsa itu, dan bagaimana Ia memilih bangsa perkasa dan besar untuk menjadi lawan bagi Israel sebagai sarana penghukuman-Nya telah dilakukan-Nya demi kekudusan dan keadilan-Nya. Dalam kekudusan dan keadilan-Nya itulah kasih setia-Nya yang ajaib bekerja tanpa mencemari kekudusan-Nya dan keadilan-Nya; dalam Ia tak membinasakan dan tak membatalkan janji-Nya dalam penghukuman besar itu, IA secara sempurna menegakan keadilan dan kekudusan baik di hadapan Israel dan di hadapan bangsa-bangsa dunia ini.



Perhatikanlah teks ini yang secara sempurna menunjukan perihal tersebut:


▬▬Yehezkiel 36:22-32:
(22)Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.

(23) Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.(24) Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.(25) Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.(26) Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.(27) Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. (28) Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.(29) Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. (30) Aku juga memperbanyak buah pohon-pohonanmu dan hasil ladangmu, supaya kamu jangan lagi menanggung noda kelaparan di tengah bangsa-bangsa.(31) Dan kamu akan teringat-ingat kepada kelakuanmu yang jahat dan perbuatan-perbuatanmu yang tidak baik dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri karena kesalahan-kesalahanmu dan perbuatan-perbuatan yang keji.


(32)Bukan karena kamu Aku bertindak, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ketahuilah itu. Merasa malulah kamu dan biarlah kamu dipermalukan karena kelakuanmu, hai kaum Israel.


(33) Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada hari Aku mentahirkan kamu dari segala kesalahanmu, Aku akan membuat kota-kota didiami lagi dan reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali. (34) Tanah yang sudah lama tinggal tandus akan dikerjakan kembali, supaya jangan lagi tetap tandus di hadapan semua orang yang lintas dari padamu.(35) Sebaliknya mereka akan berkata: Tanah ini yang sudah lama tinggal tandus menjadi seperti taman Eden dan kota-kota yang sudah runtuh, sunyi sepi dan musnah, sekarang didiami dan menjadi kubu.(36) Dan bangsa-bangsa yang tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.(37) Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia. (38) Seperti domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusalem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN."



Di sini, kita sedang melihat “Israel” yang  istimewa bukan sama sekali dalam makna keistimeaan berdasarkan kebangsaan sebuah bangsa atau berdasarkan turunan jasmaniah dari Abraham, Yakub dan Ishak maka mereka tidak binasa, tetapi berdasarkan ketetapan Allah dan berdasarkan pengudusan-Nya. Tentu harus kembali diingat, untuk memahami ini, bahwa dalam sejarahnya, ada banyak Israel-Israel yang dibinasakan dan hanya terselamatkan dari kebinasaan berdasarkan tindakan Allah melepaskan mereka dari kebinasaan Sodom dan Gomora- sebagaimana telah saya sajikan dalam kasus bangsa ini di era nabi Yesaya.


Sehingga mahkota  keistimewaan Israel ada pada  kehendak dan kemauan Allah; keamanan keistimewaan Israel sebagai bangsa pilihan-pondasinya- ada pada Allah yang kekal itu berkehendak melalui bangsa itu untuk  menggenapi apa yang telah ditetapkan-Nya sejak semula di dunia ini- dihadapan segala bangsa- digenapi-Nya berdasarkan kekuatan kekuasaan-Nya sendiri.


Dosa mendatangkan maut. Kebinasaan adalah keniscayaan bagi siapapun kala tidak setia kepada Tuhan. Namun dalam hal itu siapapun yang sungguh-sungguh merupakan pilihan Allah berdasarkan perjanjian-Nya yang kudus ia akan ditahirkan Tuhan dan dipertahankan sehingga melihat dan mengenal bahwaIalah TUHAN.”


Satu hal yang harus menjadi bidikan mata setiap pembaca, bahwa pengudusan telah menjadi bagian terus-menerus yang dilakukan Allah agar bangsa ini mencapai tujuan yang ditetapkan Allah: tiba di tanah-Nya.







Jika membandingkannya dengan perjanjian baru maka polanya juga sama, bukan berbeda seperti digagaskan pendeta Erastus Sabdono.


Perhatikan ini:
▬▬Wahyu 21:1-3 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.


membaca ini, kita sedang menyaksikan sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Yehezkiel sebagaimana telah saya sajikan dengan mengutip Yehezkiel 36:22-32 yang menyatakan: kekudusan dan kesetiaan Allah membawa Israel ke tujuan-Nya ada pada apa yang dilakukan oleh Allah: menguduskannya dan membawanya ke tanah milik-Nya yang kudus, sehingga di sini bukan sama sekali  kebangsaan Israel itu sendiri telah melindungi ketakudusan-ketakudusan, tetapi berdasarkan kekudusan-Nya dan kasih setia Allah pada janji-Nya sehingga menguduskan sebuah bangsa bagi diri-Nya sendiri. Tuhan mau menguduskannya: jumlahnya banyak seperti lautan manusia - sebagai domba-domba persembahan kudus. seumpama domba-domba Yerusalem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN."  Jika Wahyu menyatakan: mereka menjadi umat-Nya dan  Ia akan menjadi Allah mereka, maka Yehezkiel menyatakan hal yang sama dalam sebuah cara yang sama mulianya: Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup




Pada poin inilah telah dapat dikatakan bahwa apa yang diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono, keliru sama sekali bahkan pada hal-hal terhakikinya yang telah ditunjukan dalam Kitab Suci tadi. Inilah  bagian yang saya maksudkan pada pengajaran pendeta Erastus dalam “Keselamatan Di Luar Kristen (Pelajaran 05)” sejauh ini:


▓“Umat perjanjian Lama yang memiliki hidup adalah mereka yang melakukan hukum Taurat (mau memuaskan hati Tuhan) tetapi juga masih memiliki perhatian kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, masih mau memuaskan diri sendiri. Tetapi umat Perjanjian Baru mengerti kehendak Allah dengan sempurna, menjadikan Tuhan sebagai hukumnya (memuaskan hati Bapa dalam tingkat kepuasan yang lebih tinggi) dan tidak lagi memuaskan diri sendiri dengan memberi perhatian kepada pemenuhan kebutuhan jasmani. Fokusnya tertuju kepada langit baru dan bumi yang baru.”


Baik pada umat perjanjian lama dan perjanjian baru sama saja. Artinya. satu saja fokusnya: langit baru dan bumi baru atau menuju tempat yang dikehendaki Allah Sang Kudus, pada akhirnya. Bahkan sudah kita lihat, tadi, tanah dalam perjanjian lama,yang dimaksud Allah adalah tanah-Nya-tanah kudus yang dapat menunjukan kecemaran Israel kala memasukinya oleh karena ketakudusan hidup.  Jadi sekalipun tanah di bumi, bukan sama sekali dikuasai hukum-hukum duniawi tetapi kekudusan Allah di dunia ini, ada dan bekerja.


Bahkan pada umat perjanjian lama, sudah tersimpan janji yang kemudian digenapi pada perjanjian baru. Untuk memahami ini, saya pada kesempatan ini,  menyajikan secara singkat, penjelasan rasul Paulus, bahwa Israel memang dipersiapkan Allah sebagai umat kepunyaan-Nya sendiri yang kudus untuk membawa janji keselamatan Allah yang kudus ke dunia ini kepada bangsa-bangsa  di dunia ini, yang  tak hanya akan membawa Israel tetapi banyak orang dari berbagai bangsa yang mengenal keselamatan dari Allah yang telah pertama kali diterima Abraham, untuk pada akhirnya berjumpa dengan Allah yang berkehendak untuk tinggal diam bersama mereka di dunia ini untuk kemudian membawanya ke kekediaman kekal-Nya. Juga, sejak perjanjian lama telah diketahui bahwa Israel di sini bukanlah berdasarkan keturunan jasmaniah tetapi berdasarkan keturunan yang hidup berdasarkan janji yang sejak semula telah disampaikan Allah bahkan sejak Israel sebagai bangsa  belum ada atau eksis di dunia ini:

Galatia 3:16-18 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.

Galatia 3:29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.


Israel dalam tangan Allah, itulah kebenarannya. Bukan Israel didalam keisraelan atau kebiologisannya, sebab, jika demikian, seharusnyalah sudah binasa dan sudah seharusnya tak ada dasar untuk mempertahankan janji Allah yang telah dimulai-Nya sejak Abraham, kala  apa yang disebut bangsa Israel ada!



Yesus sendiri, pun pernah berbicara mengenai hal ini, langsung kepada Israel mengenai keturunan Israel diluar Israel sebagai bangsa penerima janji:

Matius 3:9 Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!


Yesus sendiri memang tidak pernah memperhitungkan keistimewaan Israel berdasarkan kebangsaan atau hubungan darah orang-orang Israel dengan Abraham. Perhatikan reaksi tajam orang-orang Israel kepada Yesus yang menyatakan bahwa mereka memerlukan kebenaran dari Allah sebagai satu-satunya yang dapat memerdekakan mereka:


Yohanes 8:31-34 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.


Jadi Yesus sendiripun telah menunjukan tidak ada perbedaan yang bagaimanapun, sebagaimana sedang coba dikonstruksikan oleh pendeta Erastus, sebab pada dasarnya semuanya itu melawan apapun yang disaksikan oleh kitab suci.


Bersambung ke 5F


AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform the cross


[dari seorang teolog yang saya lupa namanya]




P O P U L A R - "Last 7 days"