0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (5.B)

Oleh: Martin Simamora

Benarkah Karena Tidak Menolak Injil Hingga Ke Tingkat Penghinaan Maka  Ada Kebenaran Lain Di Luar Kristus (5.B)



Salah satu bagian  pada Alkitab yang menggambarkan secara tajam bahwa Tuhan yang dikenal Israel adalah Sang Hakim atas segala bangsa di bumi ini terdemonstrasi secara tajam di sini:

Yesaya34:1-5 Marilah mendekat, hai bangsa-bangsa, dengarlah, dan perhatikanlah, hai suku-suku bangsa! Baiklah bumi serta segala isinya mendengar, dunia dan segala yang terpancar dari padanya. Sebab TUHAN murka atas segala bangsa, dan hati-Nya panas atas segenap tentara mereka. Ia telah mengkhususkan mereka untuk ditumpas dan menyerahkan mereka untuk dibantai. Orang-orangnya yang mati terbunuh akan dilemparkan, dan dari bangkai-bangkai mereka akan naik bau busuk; gunung-gunung akan kebanjiran darah mereka. Segenap tentara langit akan hancur, dan langit akan digulung seperti gulungan kitab, segala tentara mereka akan gugur seperti daun yang gugur dari pohon anggur, dan seperti gugurnya daun pohon ara. Sebab pedang-Ku yang di langit sudah mengamuk, lihat, ia turun menghakimi Edom, bangsa yang Kukhususkan untuk ditumpas.


Apakah Tuhan yang dikenal Israel itu adalah Tuhannya  bangsa Edom? Bukan! Apakah urusan-Nya sehingga Ia menghakimi bangsa yang memiliki tuhannya tersendiri? Siapakah DIA sehingga dapat berkata seenaknya “bangsa yang Kukhususkan untuk ditumpas?” Sekudus apakah IA, memangnya? Seberkuasa apakah IA, memangnya? Benarkah Ia, satu-satunya hakim dan tak adakah yang dapat menahan pedang-Nya yang dilangit untuk tak mengamuk seganas itu, karena Ia begitu bencinya dengan ketak-kudus-an?

Kapanpun anda membicarakan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya ada satu-satunya kebenaran, maka itu erat sekali dengan Siapakah Dia adanya! Tak bisa tidak akan bersilangan dengan kekudusan-Nya.


Saya akan memperlihatkan bahwa Ia satu-satunya yang kudus dan itu bukan saja pada pandangan-Nya tetapi pada penetapan-Nya yang terlihat nyata dalam kehidupan manusia, bahwa memang tak satu pun yang dapat berkenan dihadapan-Nya. Tak pernah ada upaya yang mendatangkan hidup selaras yang karenanya menjadi jalan keselamatan dan pemasti keselamatan, sekalipun, ya dan benar kehidupan yang menyenangkan Tuhan dikehendaki-Nya sebagai kehidupan di dalam saya dan anda sebagai umat Tuhan dan harus menjadi jiwa kehidupan sementara masih di dunia ini. Bahwa memang saya masih memiliki ketakberdayaan-ketakberdayaan daging yang harus ditaklukan berdasarkan pengudusan Tuhan yang telah saya terima dan memberikan kuasa bagiku untuk berjalan dalam kebenaran-Nya dan kehidupan-Nya. Itu juga bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, juruselamat dan Tuhan!


Tak terelakan apa yang menjadi motif pedang-Nya dilangit mengamuk merupakan penggambaran yang begitu tajam bahwa “dunia orang mati” atau kehidupan manusia dalam naungan kegelapan, adalah dunia yang kepastiannya tak dapat diubahkan oleh manusia untuk berakhir pada kebinasaan. Pernyataan  “Edom yang Kukhususkan untuk ditumpas” tak lain menunjukan keniscayaan dunia manusia tanpa penyelamatan dari Allah. Edom adalah representasi segala bangsa di dunia yang tak dijumpai oleh-Nya sebagaimana Israel.


Dalam Perjanjian Lama, membicarakan “terang” Allah, akan terlihat dari tindakan Allah menghakimi dan menghukum bumi yang berada dalam naungan kegelapan; Allah yang mengacungkan tangan-Nya kepada semua lawan-Nya merupakan tanda yang begitu gamblang,bahwa kegelapan tak pernah sama sekali bertakhta mengatasi Allah, di bumi ini!


Mari kita lihat bagaimana terang Allah, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak sama sekali menganjurkan adanya kebenaran-kebenaran lain yang mendampingi kebenaran yang dinyatakan oleh satu-satunya kebenaran yang datang dari Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi serta segala isinya:



Hanya Ada Satu Terang Yang Datang Ke Dunia Ini, Sebab Ia Satu-Satunya Yang Berkuasa Untuk Menentukan Dan Mewujudkan Ketetapan-Nya di Bumi, Seperti Di Sorga


Pendeta Dr. Erastus Sabdono dalam “Keselamatan Di Luar Kristen (Pelajaran 5),” menyatakan:

▓“Dalam Alkitab Perjanjian Lama beberapa kali dapat ditemukan kata terang juga. Biasanya terang sebagai lambang sukacita atau kebahagiaan dan kebenaran. Terang yang dimaksud dalam Perjanjian Lama bukanlah terang yang sejajar dengan kehidupan yang berkualitas tinggi umat Perjanjian Baru dan kebenarannya tidak sejajar dengan Injil yang mampu membuka pengertian seseorang mengerti apa yang baik, yang berkenan dan sempurna di mata Allah. Terang dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada hukum-hukum Tuhan atau tuntunannya dalam Taurat Tuhan atau kehendak-Nya dalam batas tertentu.”


Benarkah “terang” dalam Perjanjian Lama menujukan lambang sukacita atau kebahagiaan dan kebenaran, berbeda dengan yang dimaksudkan pada Perjanjian Baru, yang menunjuk pada “kehidupan yang berkualitas tinggi.”  Dan benarkah “terang” pada perjanjian lama dan perjanjian baru tersebut merupakan kebenaran yang tak sejajar? Benarkah bahwa “terang” dalam perjanjian lama menunjuk  kepada hukum-hukum Tuhan atau tuntunan dalam Taurat Tuhan atau kehendak-Nya dalam batas tertentu? Mari kita menjelajahi Alkitab dan memeriksa pengajaran yang disampaikan pendeta Erastus.



Baik pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, terminologi ‘terang” dapat ditemukan: “or” dan “phos” yang keduanya secara literal bermakna  pertentangan tajam antara kekuatan-kekuatan baik melawan kekuatan jahat, antara orang-orang yang percaya kepada Allah yang satu-satunya itu melawan orang-orang yang tak percaya. Dalam Alkitab, tak ada sedikit saja gagasan bahwa kekuatan kegelapan itu bisa sedikit saja setara dengan kekuatan terang yang datang dari Allah. Allah secara berdaulat memerintah atas kegelapan dan kuasa-kuasa jahat.[Baker’sEvangelical Dictionary Of Biblical Theology: Light]


Dalam keseluruhan Alkitab, tidak pernah “terang” bermakna kehidupan yang berkualitas tinggi. Tepat pada bagian sebelum artikel ini, sudah saya tunjukan kesalahan teramat fatal dalam definisi yang diajukan oleh pendeta Erastus Sabdono terkait “terang”  yang dimaksud dalam Perjanjian Baru, khususnya Yohanes 1:1-5 yang sama sekali tak menunjukan pada “kehidupan berkualitas tinggi” atau “kehidupan manusia yang dipulihkan kembali pada gambar Allah,” karena Yesus tak pernah kehilangan  jati dirinya sebagai Ilahi sebagaimana sebelumnya Ia bersama-sama dengan Allah dan Ia sendiri adalah Sang Pencipta.


Sebagaimana Perjanjian Baru, pun demikian pada Perjanjian Lama, maka apa yang akan dijumpai adalah sebuah kesinambungan yang menunjukan sebuah penggenapan apa yang dinyatakan Allah pada perjanjian lama. Tepat pada apakah atau siapakah “terang” itu, sebagaimana Kitab Suci telah menuliskannya.


Kegelapan dan terang, dalam bahasa Ibrani, adalah kata-kata yang memberikan gambaran-gambaran kuat di dalam benak dan perasaan-perasaan manusia. Kegelapan adalah segala sesuatu yang anti-Tuhan: orang-orang jahat (misal: Amsal 2:13), penghakiman (Keluaran 10:21), kematian (Mazmur 88:12). Terang adalah pekerjaan-pekerjaan pertama oleh Sang Pencipta, yang mewujudkan operasi Ilahi dalam sebuah dunia yang diliputi kegelapan dan kekacauan. Walau memang terang itu sendiri, bukanlah Ilahi itu sendiri, namun secara metapora digunakan untuk menunjuk pada “hidup” (Mazmur 56:13), keselamatan (Yesaya 9:2), dan perintah-perintah (Amsal 6:23) dan kehadiran Ilahi dari Tuhan (Keluaran 10:23).


Allah adalah terang, dengan demikian! Semenjak terang merepresentasikan kebaikan dalam antitesisnya terhadap kejahatan yang ditautkan dengan kegelapan, maka merupakan langkah alami bagi para penulis  kitab-kitab, untuk memahami Allah sebagai ultimat kebaikan, sebagai terang. Terang adalah simbolisasi Sang Allah Kudus. Terang menunjukan kehadiran dan kesukaan akan Tuhan:

▲Mazmur 27:1 TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?

▲Yesaya 9:2 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar


Perhatikan Yesaya 9:2 ini, dan lihatlah bagaimana Injil Matius telah menunjuk peristiwa ini telah digenapi pada Yesus Kristus ketika Ia melangkahkan kakinya mendatangi bangsa-bangsa non-yahudi:

▬Matius 4:12-17 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"


Pada poin ini saja, apapun yang diajukan oleh pendeta Erastus terkait apakah terang itu, dalam definisi yang diajukannya, sama sekali tidak memiliki kesebangunan yang bagaimanapun. Pertama: tak pernah ada yang disebutnya sebagai ketaksejajaran pada “terang”  yang ada dalam “perjanjian lama” dengan “perjanjian baru”; Kedua: “terang” baik pada perjanjian lama dan perjanjian baru senantiasa menunjuk pada diri Allah dengan segala kehendak kudus-Nya, tak pernah menunjuk padakehidupan yang berkualitas tinggi.”


mari saya lanjutkan:
▬Amsal 6:23 Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan


Ini secara sempurna menunjukan bahwa manusia hidup di dalam kegelapan dan membutuhkan terang untuk menuntun perjalanan hidup manusia. Tidak sama sekali menunjukan bahwa manusia pada dirinya harus memperjuangkan sebuah kualitas hidup tinggi. Apa yang benar: manusia membutuhkan terang sebab Ia hidup dalam naungan kegelapan. Pelita itu tak ada pada dirinya sendiri. Apakah pelita itu dan dari siapakah? Inilah yang dimaksud dengan pelita itu dan dari siapa: TUHAN sendiri. Perhatikan ini: “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya- Amsal 6:16.”


Jadi terang yang dimaksud itu adalah antitesa terhadap anti-Tuhan, yaitu kejahatan dunia. Terang Tuhan melawan kegelapan dunia yang membelenggu manusia!

▬Keluaran 10:23 Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya.


Perhatikan ini: “tetapi pada semua orang Israel ada terang” bukan sama sekali sedang menunjukan adanya peraturan atau hukum Tuhan yang harus ditaati dan apalagi mengenai “kualitas hidup yang teramat tingginya,” tetapi terang dari Tuhan  yang diberikan kepada manusia yang dikehendaki-Nya, sehingga tulah kegelapan yang dikirimkan oleh-Nya sebagai penghukum yang meliputi seluruh negeri Mesir itu, tak bekerja pada mereka. Pada dasarnya “ada terang” ditempat kediamannya tak lain tak bukan adalah sebuah tindakan Tuhan yang hanya meluputkan atau menyelamatkan setiap kediaman Israel dari penghukuman Allah atau murka Allah atas seluruh tanah Mesir yang tak lain adalah  tempat setiap individu dan keluarga Israel juga  bertempat tinggal:


Keluaran 10:21-23 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba gelap itu." Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya.


Ini kegelapan yang tak dapat diusir dengan api dari pembakaran kayu-kayu bakar; ini kegelapan  dari Tuhan yang menelan segala terang yang diupayakan manusia. Ini kegelapan yang tak dapat ditanggulangi manusia. Sebuah kegelapan yang tak akan dapat dialami secara inderawi selain oleh generasi tersebut saja, sebagai sebuah gambaran betapa manusia tak dapat melepaskan kegelapan yang hanya dapat ditaklukan oleh terang dari Allah. Perhatikan ini: “Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari.” Dan ini memiliki antitesanya:” tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya,” Inilah yang dimaksud bahwa kegelapan tidak pernah dapat menandingi terang dari Allah di bumi yang dinaungi kegelapan ini.


Peristiwa ini merupakan bayang-bayang dari apa yang  kemudian digenapi oleh Yesus dalam sebuah kesempurnaan ilahi:


Yohanes 8:12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."


Terang dan kegelapan yang Yesus maksudkan di sini tepat seperti yang terjadi dalam peristiwa Keluaran 10:21-23. Artinya kegelapan yang tak dapat ditaklukan dengan segala macam dan berbagai macam terang yang bisa dihasilkan dan ditemukan manusia, dan juga bukan sebuah kegelapan yang dapat dilawan dan ditaklukan oleh manusia apapun. Kegelapan itu berlangsung 3 hari dan setelah itu selesai atau berakhir. Siapakah yang mengakhiri kegelapan 3 hari itu? Allah sendiri. Ini juga yang dilakukan oleh Yesus selama 3 hari di dalam rahim bumi: “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam- Matius 12:40 sebagai sebuah maksud Allah sendiri untuk menaklukan kegelapan sehingga berita keselamatan dapat diberitakan berdasarkan perbuatan Allah sendiri, bukan manusia:

Lukas 24:44-47 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.


Yesus adalah Sang Terang dunia, Ia tepat sebagaimana terang pada setiap rumah Israel kala kegelapan yang dahsyat meliputi segenap tanah Mesir. Ini begitu tajam, bahwa Mesir adalah gambaran dunia secara global, ini bukan tanah Israel, sehingga kehadiran terang-Nya di Mesir kala itu, memang sedang memaksudkan bahwa Ia adalah satu-satunya terang dan satu-satunya terang yang hadir di dunia, tetapi juga menunjukan:hanya akan hadir pada individu-individu yang percaya dan hidup di dalam kebenaran-Nya yang satu-satunya itu. Dan ini telah digenapi oleh Yesus sendiri kala berkata: “dan lagi dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Ini termasuk menjangkau Mesir dan tentu saja seluruh dunia, menjumpai orang-orang yang dikehendaki Sang Terang itu, sebagaimana  telah digambarkan-Nya di Mesir: hanya hadir di rumah-rumah orang yang dipilih-Nya. Di sini tak ada dasar kebenaran pada diri manusia sebagai dasar mengapa terang itu berdiam di kediaman orang-orang Israel.


Sehingga “terang” dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukan sejajar tetapi sebuah terang yang sama dan bersinambung dalam sejarah keselamatan manusia! Bukan dua macam terang dan dua macam kebenaran yang asing satu sama lain. Bukan tetapi terang yang sama dari Allah menggenapi segala pikiran dan kehendak Allah dalam terang yaitu Yesus Kristus.


Tahukah anda bahwa secara prinsip dan global, disepanjang era perjanjian lama itu sendiri, Allah tak pernah sama sekali ada memandang pada diri manusia ada sebuah jalan keselamatan dan jalan pendamaian berdasarkan menaati perintah-perintah dan hukum-hukum-Nya. Sebuah penaatan demikian tak pernah menjadi jalan keselamatan dan jalan pendamaian antara manusia dengan diri-Nya.


Mari saya tunjukan kepada anda, pilar tunggal ketakberdayaan manusia untuk menaklukan kegelapan dalam cara menuruti kebenaran yang merupakan terang yang memandu jalan-jalan kehidupan mereka di dunia ini. Dan perhatikanlah hal berikut ini:


Israel sebagai sebuah bangsa yang dijumpai Allah diantara begitu banyak bangsa yang ada saat itu, sangat mengenal betul bahwa hidup di dalam kegelapan adalah hal yang sangat dibenci Allah dan inilah dasar yang paling tajam untuk melihat bahwa kala berbicara kekudusan maka yang tersisa pada manusia tak ada sama sekali. Allah bahkan tak melihat sama sekali di diri manusia itu benih kekudusan sehingga Ia harus menuntun bangsa ini dalam cara yang begitu kontras tepat seperti terang terhadap gelap, yang menunjukan betapa dungunya manusia-manusia itu untuk sekedar membicarakan apakah yang kudus dan apakah yang tak kudus bagi Allah.



Perhatikanlah episode ini:
Yosua 24:14-18 (14) Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. (15) Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (16) Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! (17) Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,(18) TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita."


Sementara Israel penuh percaya diri untuk memilih TUHAN, tetapi Yosua sudah melihat terlebih dahulu masa depan kelabu generasi yang kelak akan ditinggalnya pergi untuk selama-lamanya, pernyataan Yosua ini menimbulkan sebuah kesengitan antara dirinya dengan yang dipimpinnya. Perhatikan pernyataan Yosua berikut ini:


Yosua 24:19-20 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu."


Tidaklah kamu sanggup! Ada apakah dengan Yosua? Tetapi siapapun tidak dapat menyalahkan Yosua sebab pada  dasarnya Yosua sebagai pemimpin melihat apa yang tak dilihat oleh rakyat  yang dipimpinnya. Yosua melihat sebagaimana apa yang telah dinyatakan oleh Allah: “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Tidaklah kamu sanggup!


Allah tidak sedang bersinisme tetapi menunjukan hati manusia sementara bertopeng dihadapan-Nya.

Sebab Ia tahu sejak semula tidak ada yang baik, satupun tidak. Bukankah Musa sendiri telah gagal masuk ke tanah perjanjian itu sendiri sekalipun di dalam kemenangan imannya? Perhatikanlah ini:


Bilangan 20:7- 13TUHAN berfirman kepada Musa: Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya. Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.


Musa dalam kemenangan iman bagi dirinya sendiri, telah gagal membawa masuk jemaah-Nya ke tujuan yang telah ditetapkan Tuhan. Ini adalah kegagalan pada  kegagalan Mesias Israel bernama Musa. Ia hanya sukses membebaskan Israel dari kegelapan di Mesir tetapi gagal membawa mereka sukses ke tempat tujuan-Nya. Mesias memiliki peran tertinggi di sini. Sehingga pola keselamatan berdasarkan karya dan kesempurnaan kerja Mesias sebagaimana kehendak Bapa, telah dipolakan Allah sejak Perjanjian Lama.


Musa adalah orang yang dikhususkan Allah menjadi pembebas Israel yang berada dalam tawanan dunia :


Keluaran 3:1-14 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."


Musa! Musa di utus dari tempat kudus dalam makna sesungguhnya, yaitu tempat dimana Allah bersemayam dalam kemuliaan-Nya yang penuh: api menyala-nyala yang tak boleh didekati secara serampangan kecuali mengindahkan perintah-perintah kudus-Nya. Musa dalam pengutusan oleh TUHAN sebagai : Allah sendiri yang turun ke dunia ini dalam cara “Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu.



Musa  dalam peristiwa ini merupakan bayang-bayang dari apa yang dilakukan oleh Yesus sendiri:

Yohanes 6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.


Musa dan Yesus. Yang pertama merupakan gambaran yang menunjukan pada yang kedua; yang tak sempurna sedang menunjuk pada yang sempurna, dengan sebuah signifikansi yang menjulang tinggi: pada Yesus tidak ada kegagalan sebagaimana Musa: gagal membawa masuk jemaah atau umat Tuhan sampai ke tujuan Allah sehingga bukan saja dirinya yang gagal tetapi semua yang dipimpinnya gagal menuju tujuan Allah. 


Perhatikan hal ini:
Yohanes 6:39-40 Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Apakah tujuan yang harus dicapai umat Allah yang diserahkan kepada Yesus, sebagaimana kehendak Bapa? Yesus harus memimpin umat kepunyaan Bapa, agar tiba di tujuan akhir dari perjalanan panjang itu dengan sebuah garansi dari Bapa sendiri: sukses sempurna rencana-Nya oleh Mesias-Nya. Sebagaimana dinyatakan oleh Yesus: jangan ada yang hilang, supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Tujuan yang ditetapkan Bapa di dalam tangan Yesus erat terkait dengan memiliki kehidupan yang bersumber dari Allah. Ini bukan soal  sekedar tidak mati-mati dan tidak binasa kala berbicara “jangan ada yang hilang dan Yesus membangkitkan semuanya pada akhir zaman,” tetapi ini berbicara mengalami kehidupan yang telah dipersiapkan oleh Bapa sendiri yang digenapi oleh Yesus Sang Mesias bagi semua umat-Nya, yang selama ini berada didalam penjajahan dunia (Mesir) dan dibawa masuk oleh Sang Firman yang telah turun ke dunia ini dan memimpin mereka sampai di negeri tujuan yang dikehendaki Bapa. Di situlah terdapat kehidupan Allah yang sempurna bagi mereka.


Itulah sebabnya terkait Musa, Yesus berkata demikian:

Yohanes 5:46 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.

Lukas 34:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.


Terang pada Musa dan Terang pada Yesus bukanlah terang yang tak sejajar, tetapi yang pertama sedang menyimbolkan yang akan datang. Terang yang tak sempurna pada musa sedang menunjuk pada yang jauh lebih sempurna, yaitu Yesus Sang Terang dunia.



Mari perhatikan hal-hal berikut ini:

▲Keluaran 34:27 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel." Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel." Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman. Ketika Musa turun dari gunung Sinai--kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu--tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN. Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia.


Pada Yesus, terang itu adalah totalitas dirinya:

▲Matius 17:1- 3 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.


Dan pada momen tersebut, Musa sendiri hadir dan berbicara dengan Dia. Di sinilah apa yang dimaksudkan Yesus, bahwa Musa menuliskan mengenai dirinya digenapi tepat didepan para muridnya: Petrus, Yakobus dan Yohanes.


Jika Musa berada di kediaman Allah selama 40 hari dan 40 malam dan secara sempurna mengalami kekekalan Bapa dan mengalami kekenyangan dan kepuasan tanpa dahaga sama sekali selama periode panjang itu: “tidak makan roti dan tidak minum air,” maka Yesus  pada mulanya adalah Allah dan bersama-sama dengan Allah: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah- Yohanes 1:1-2.” Jadi memang Musa itu sedang menunjukan  kepada Dia yang akan datang, Ia di tangan Allah yang memilihnya, telah digunakan-Nya untuk menggambarkan dia yang telah dirancangkannya sejak kekekalan dan kala dosa belum terjadi untuk terjadi kala segala sesuatunya telah diciptakan. Jika Musa dibawa masuk ke dalam kekekalan di hadirat Allah selama 40 hari 40 malam berjumpa dengan Allah yang memuaskannya, sehingga tidak lagi memerlukan makan dan minum sebagaimana manusia kala di dunia, maka Yesus adalah sumber makanan dan minuman yang jika diterima manusia maka tidak akan lagi lapar dan tidak akan lagi haus:


Yohanes 6:32- 35Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


Inilah pernyataan Yesus yang begitu tajam dan begitu terinci daripada sebelumnya: “ia menuliskan tentang Aku,” pada apakah yang dituliskan Musa pada kitab-kitab Musa itu sendiri.

Yesus ada sejak kekekalan dan berada bersama dengan Allah dalam kekekalan sebelum segala apa yang disebut sebagai ciptaan ada. Ia bahkan adalah firman dan penyata firman itu sendiri, pada dirinya sendiri:

▲Yohanes 12:49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan


Baik Musa dan Yesus menerima firman dari Bapa di dunia ini! Tetapi apa yang sungguh-sungguh membedakannya adalah siapakah Musa dan siapakah Yesus sesungguhnya dihadapan Bapa. Apa yang terjadi pada Yesus dan tidak terjadi pada Musa telah menunjukan siapakah keduanya masing-masing:

▲Yohanes 12:46- Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.


Perkataan Yesus adalah hakim bagi segenap manusia, pada akhir zaman. Perkataan Musa tidak akan menjadi hakim bagi segenap manusia. Mengapa? Karena Musa bukanlah Mesias atau pembebas manusia yang berkuasa membawa segenap umat Tuhan sampai ke tempat yang Bapa kehendaki di sorga! ia tak pernah membawa umat Tuhan menuju tujuan yang telah ditetapkan Bapa! Musa pada dasarnya tepat pada kemuliaannya sedang mewartakan kemuliaan yang lebih agung daripada dirinya sendiri!

Saya ingin menunjukan sebuah aspek yang akan memastikan bahwa pada sisi manusia, pada sisi perbuatan baik manusia sekalipun memang adalah perintah Allah untuk dilakukan dan senantiasa dikehendaki-Nya dalam ketakberdayaan manusia, sebagai lambang penundukan dan lambang ketaatan yang berwujud perbuatan-perbuatan taat atas kehendak kudus-Nya, tak pernah sama sekali, itu semua, menjadi alat atau aktivitas yang mendatangkan pengudusan di hadapan Allah. Perhatikan baik-baik, saya akan katakan sekali lagi: “Allah memang menghendaki semua umat-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang memuliakan nama-Nya diantara bangsa-bangsa yang tak mengenal-Nya sebagai lambang ketaatan dan lambang kehidupan yang tunduk dalam kepemimpinan satu-satunya Allah yang telah menyatakan satu-satunya kebenaran bagi dunia, yaitu pada Yesus Kristus, dalam realita ketakberdayaan manusia itu sendiri. Tetapi ini semua sama sekali tidak dapat berfungsi sebagai pengudusan atas segala kenajisan dan dosa yang senantiasa diproduksi oleh kompleksitas ketakberdayaan manusia itu, sementara disaat yang sama berupaya berjuang melawan segala kenajisan yang bekerja sebagai insting atau naluri alamiah manusia untuk melakukanya tanpa perlu dipasok dari luar dirinya.



Perhatikan ini, sehingga anda memahami apakah maksud saya, sehingga jangan pernah berkata: "masakan Allah memberikan perintah kepada manusia yang tak dapat dikerjakan manusia?" Hanya ketika anda tunduk kepada tujuan Allah atas segenap tindakannya, anda akan paham:


Kepada Israel, Allah memberikan 10 perintah yang merupakan kehendak kudus-Nya untuk dilakukan umat-Nya, agar sebagaimana Ia kudus, maka kuduslah juga yang menjadi umat-Nya. Bacalah Keluaran 20:1-17. Inilah kekudusan Tuhan yang begitu mulianya dan dikehendaki-Nya untuk dilakukan. Perilaku kudus harus menjadi sebuah jiwa kehidupan umat Tuhan diantara bangsa-bangsa yang tak mengenal-Nya. Ini sebuah kudus yang otentik:

Keluaran 20:18 Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.


Apakah tujuan Allah menghadirkan kekudusan-Nya dalam wujud perintah-perintah kudus untuk dijalankan di dunia ini? Untuk memisahkan siapapun dari yang tidak kudus, kala dilakukannya penuh ketaatan, dalam pandangan-Nya terhadap kehidupan dunia yang dinaungi kegelapan . Mengapa di sini pemisahan dari ketidak-kudus-an harus dengan menghadirkan perintah-perintah kudus-Nya? Sebab hanya Dia satu-satunya standard kebenaran apakah itu kudus dan tidak kudus atau dosa. Dengan kata lain, dosa adalah definisi Allah dalam sebuah kompleksitas diri-Nya yang tak terhampiri manusia berdosa. Jadi, ketika pendeta Erastus membangun dasar untuk pengajaran “Keselamatan di luar Kristen” berdasarkan kompleksitas  dosa dan “bertentangan dengan kehendak Tuhan,’ sungguh sebuah kekeliruan.



Perhatikan ini:
▲Keluaran 20:20 Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa."


Dosa bukanlah problem khusus Israel seolah hanya komunitas ini saja yang mengalami dan bangsa-bangsa lain, dengan demikian, tidak mengalaminya. Perhatikan apa yang dikatakan Musa: “Supaya takut akan Dia ada.” Ini bukan takut dalam arti negatif, ini adalah hidup dalam kebenaran Tuhan: tidak berbuat dosa karena mengenal dan mengikut Allah kudus sementara masih di dunia yang mengasihi kegelapan. Apa yang dibenci Tuhan, itulah yang tidak boleh dilakukan; apa yang disukai Tuhan, itulah yang dilakukan. Kalau anda membaca 10 perintah Allah, misalkan saja saya menyorot pada: jangan membunuh, jangan berzinah, dan jangan mencuri, apakah ini jenis-jenis dosa yang hanya terjadi pada bangsa Israel? Tidak sama sekali, di seluruh dunia pada semua individu ini adalah kegelapan yang terus memerintah manusia. Bahkan hingga kini!


Tindakan-tindakan pematuhan pada 10 perintah itu, tidak pernah dapat menguduskan mereka, sebaliknya malah membuat dosa itu sedemikian kerasnya oleh karena semenjak itulah apa yang dahulu telah merupakan kekejian di mata Tuhan kini semakin keras menimbulkan murka Allah kala itu dilanggar.


Bahkan Musa si penerima hukum kudus di tempat kudus Allah telah menjadi orang pertama, tepat dalam terang kudus Allah yang menunjukan betapa ia tetap seorang berdosa dan pemberontak terhadap kehendak kudus Allah atasnya:

Keluaran 4:13- 14Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.


Problem yang tak terpecahkan dengan penaatan10 perintah dan segala hukum yang diturunkan Allah ke dunia ini pada Israel, pada maksud-Nya, memang bukan untuk mengentaskan dosa pada segenap diri manusia melalui bertaat pada segenap perintah dan hukum Tuhan. Apa yang dilakukan Allah pada dasarnya melalui hukum-hukum kudus-Nya hendak menunjukan ketakberdayaan manusia terhadap segala kehendak kudus Allah. Dan andaikata saja Allah tidak memberikan solusi yang terlepas dari ketakberdayaan total semua manusia yang direfleksikan begitu sempurna pada Israel, maka kesudahan umat manusia adalah: kegelapan total yang membawa kebinasaan.


Jadi, dari manakah datangnya pengudusan itu, jika bukan datang dari ketaatan manusia terhadap perintah-perintah kudus Allah? Datang dari ketetapan Allah yang sama sekali tak memperhitungkan andil manusia.


 Perhatikanlah ini:

▓Imamat 4:1-35 TUHAN berfirman kepada Musa: Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya, maka jikalau yang berbuat dosa itu imam yang diurapi, sehingga bangsanya turut bersalah, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN karena dosa yang telah diperbuatnya itu, seekor lembu jantan muda yang tidak bercela sebagai korban penghapus dosa. Ia harus membawa lembu itu ke pintu Kemah Pertemuan, ke hadapan TUHAN, lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala lembu itu, dan menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN. Imam yang diurapi itu harus mengambil sebagian dari darah lembu itu, lalu membawanya ke dalam Kemah Pertemuan. Imam harus mencelupkan jarinya ke dalam darah itu, dan memercikkan sedikit dari darah itu, tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir penyekat tempat kudus. Kemudian imam itu harus membubuh sedikit dari darah itu pada tanduk-tanduk mezbah pembakaran ukupan dari wangi-wangian, yang ada di hadapan TUHAN di dalam Kemah Pertemuan, dan semua darah selebihnya harus dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran yang di depan pintu Kemah Pertemuan. Segala lemak lembu jantan korban penghapus dosa itu harus dikhususkannya dari lembu itu, yakni lemak yang menyelubungi isi perut dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu,… (13) Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu segenap umat Israel, dan jemaah tidak menyadarinya, sehingga mereka melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, dan mereka bersalah,(14)maka apabila dosa yang diperbuat mereka itu ketahuan, haruslah jemaah itu mempersembahkan seekor lembu jantan yang muda sebagai korban penghapus dosa. Lembu itu harus dibawa mereka ke depan Kemah Pertemuan.(15) Lalu para tua-tua umat itu harus meletakkan tangan mereka di atas kepala lembu jantan itu di hadapan TUHAN, dan lembu itu harus disembelih di hadapan TUHAN.(16) Imam yang diurapi harus membawa sebagian dari darah lembu itu ke dalam Kemah Pertemuan. Imam harus mencelupkan jarinya ke dalam darah itu dan memercikkannya tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir.(18) Kemudian dari darah itu harus dibubuhnya sedikit pada tanduk-tanduk mezbah yang di hadapan TUHAN di dalam Kemah Pertemuan, dan semua darah selebihnya harus dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran yang di depan pintu Kemah Pertemuan.(19) Segala lemak harus dikhususkannya dari lembu itu dan dibakarnya di atas mezbah.(20) Beginilah harus diperbuatnya dengan lembu jantan itu: seperti yang diperbuatnya dengan lembu jantan korban penghapus dosa, demikianlah harus diperbuatnya dengan lembu itu. Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan.(21) Dan haruslah ia membawa lembu jantan itu ke luar perkemahan, lalu membakarnya sampai habis seperti ia membakar habis lembu jantan yang pertama. Itulah korban penghapus dosa untuk jemaah.(22) Jikalau yang berbuat dosa itu seorang pemuka yang tidak dengan sengaja melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, Allahnya, sehingga ia bersalah,(23) maka jikalau dosa yang telah diperbuatnya itu diberitahukan kepadanya, haruslah ia membawa sebagai persembahannya seekor kambing jantan yang tidak bercela.(24) Lalu haruslah ia meletakkan tangannya ke atas kepala kambing itu dan menyembelihnya di tempat yang biasa orang menyembelih korban bakaran di hadapan TUHAN; itulah korban penghapus dosa.(25) Kemudian haruslah imam mengambil dengan jarinya sedikit dari darah korban penghapus dosa itu, lalu membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah korban bakaran. Darah selebihnya haruslah dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah korban bakaran.(26) Tetapi segala lemak harus dibakarnya di atas mezbah, seperti juga lemak korban keselamatan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya, sehingga ia menerima pengampunan(27) Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu seorang dari rakyat jelata, dan ia melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, sehingga ia bersalah,(28) maka jikalau dosa yang telah diperbuatnya itu diberitahukan kepadanya, haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosa yang telah diperbuatnya itu seekor kambing betina yang tidak bercela.(29) Lalu haruslah ia meletakkan tangannya ke atas kepala korban penghapus dosa dan menyembelih korban itu di tempat korban bakaran.(30) Kemudian imam harus mengambil dengan jarinya sedikit dari darah korban itu, lalu membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah korban bakaran. Semua darah selebihnya haruslah dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah. Tetapi segala lemak haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak korban keselamatan dipisahkan, lalu haruslah dibakar oleh imam di atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampunan.(32) Jika ia membawa seekor domba sebagai persembahannya menjadi korban penghapus dosa, haruslah ia membawa seekor betina yang tidak bercela.(33) Lalu haruslah ia meletakkan tangannya ke atas kepala korban penghapus dosa itu, dan menyembelihnya menjadi korban penghapus dosa di tempat yang biasa orang menyembelih korban bakaran.(34) Kemudian imam harus mengambil dengan jarinya sedikit dari darah korban penghapus dosa itu, lalu membubuhnya pada tanduk-tanduk mezbah korban bakaran. Semua darah selebihnya haruslah dicurahkannya kepada bagian bawah mezbah.(35) Tetapi segala lemak haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak domba korban keselamatan dipisahkan, lalu imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah di atas segala korban api-apian TUHAN. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia menerima pengampunan.


Adakah dalam perjanjian lama, “terang”  adalah hukum-hukum Allah yang harus ditaati sehingga memberikan pembebasan pada manusia dari kegelapan? Tidak pernah demikian. Faktanya, Allah sendiri telah menunjukan realita kelabu manusia yang bukan saja dengan berkata atau bersabda bahwa semua manusia bejat, tetapi menunjukan pada praktiknya mulai dari para imam hingga rakyat jelata berujung pada ketakberdayaan total untuk membersihkan dirinya dan memperjuangkan dirinya untuk berkenan melalui penaatan terhadap hukum-hukum kudus Tuhan. Tak ada jalan keselamatan, jalan pengampunan dan jalan pendamaian dengan Allah berdasarkan perbuatan-perbuatan baik atau membangun komitmen hidup kudus dari hari ke hari untuk semakin seperti Bapa. Tidak akan pernah dijumpai, pada faktanya, di perjanjian lama sekalipun itu yang dikehendaki Allah dan kehendak Allah itu tetap hidup dan mewarnai kehidupan orang-orang perjanjian baru, tetapi itu tak pernah menjadi jalan keselamatan dan dengan demikian tak pernah menjadi penjamin keselamatan melalui pengejarannya.

Pada dasarnya perintah Tuhan kepada Musa yang sedemikian kompleks ini, sedang menunjukan bahwa Allah senantiasa menghendaki kehidupan kudus mewarnai kehidupan setiap diri umat-Nya tetapi faktanya itu tak mungkin dipenuhi manusia. Allah memang  menyukai kekudusan, tetapi akankah kekudusan seperti yang dimaui-Nya dan seperti yang melekat pada diri-Nya akan pernah lahir dari diri manusia?


Vonis agung Allah terhadap ini: tidak akan pernah kekudusan lahir dari diri manusia, tepat seperti yang telah disingkapkan-Nya kepada Musa dalam Imamat 4 tadi, mulai dari imam-imam-Nya sendiri hingga umat-Nya yang hanya rakyat jelata? Jadi apakah yang dilakukan Allah?

Ia sendiri yang menyelamatkan, mendamaikan dan mengampuni, berdasarkan ketetapannya dan oleh diri-Nya saja tanpa ada satu saja eleman manusia sebagai pengudusnya. Apakah bukti tak ada sedikit saja dari manusia dapat menguduskan dirinya sendiri:

»Tak ada perintah dari-Nya untuk lebih sungguh dalam menaati firman atau hukum-hukumnya sebagai cara untuk menebus kesalahan dan mendamaikan dirinya dengan Allah. Tak pernah, itu, menjadi alternatif dari Allah.

»Pengudusan, pengampunan, pendamaian dan keselamatan sepenuhnya bergantung pada kurban hewan yang dipersembahkan kepada-Nya, tak ada persembahan rangkaian komitmen-komitmen  untuk kembali hidup berkenan kepada-Nya untuk mendapatkan pengudusan, pengampunan dan pendamaian.

»Imam pelaksana  upacara pengampunan dosa dengan korban hewan itu sendiri, pun tak luput dari dosa, sehingga ia sendiri memerlukan pengampunan yang datang dari pengorbanan binatang sebagaimana dikehendaki Tuhan. Ini menunjukan bahkan sarana-sarana kudus di dunia ini yaitu para pelaksana ketentuan Allah ini pun, mustahil bagi-Nya untuk mendapatkan satu saja yang tak memerlukan pengudusan terlebih dahulu.

Tiga poin sederhana ini telah menunjukan bahwa”terang” pada perjanjian lama, bukan sama sekali penaatan pada hukum –hukum atau perintah-perintah Allah, atau kehidupan berkualitas tinggi, tetapi  satu-satunya jalan keluar yang diberikan Allah dan diselenggarakan oleh Allah sendiri untuk mengatasi kehidupan manusia yang sepenuhnya tak berdaya untuk melepaskan diri dari dosa, sehingga menjadi kudus di hadapan Allah sementara ia tetap harus hidup dalam kehendak kudus Allah, bukan dalam kehendak dunia ini. Ketakberdayaan manusia tak pernah digunakan Allah untuk memastikan umat-Nya tiba di sorga, tetapi pada diri-Nya saja. Ia sendiri yang berkuasa untuk memastikan selama perjalanan kita di dunia ini, kekudusan adalah warna kehidupan kita sementara di saat yang sama, itu bukanlah jalan menuju sorga, tetapi Sang Kurban Agung dari Allah (Yohanes 1:29).


Sehingga harus diingatkan bahwa ketika pendeta Erastus menyatakan: “kebenaran pada perjanjian lama tidak sejajar dengan kebenaran pada perjanjian baru,” itu salah sama sekali, sebab bukan dua kebenaran yang berbeda tetapi sebuah kebenaran yang berkesinambungan: keselamatan yang datang dari Allah dan dilakukan oleh Allah sendiri bagi umat-Nya sendiri.

Jika pengajaran pendeta Erastus diusung sebagai kebenaran ilahi, maka itu bertentangan dengan Yesus sendiri yang menunjukan bahwa kebenaran pada perjanjian lama adalah kesinambungan pada dunia perjanjian baru yang bersentral pada dirinya dan segala sabdanya saja. Apakah,dengan demikian, hendak menyatakan bahwa Yesus bukan Mesias yang dinubuatkan dalam perjanjian lama, bahwa ia bukan terang dunia yang sudah hadir  untuk mengatasi ketakberdayaan manusia dihadapan dosa?


Renungkanlah dan berilah dirimu untuk mempelajari alkitabmu, kiranya Roh Kudus yang bersaksi mengenai kebenaran Yesus bagi dunia, juga menerangi hati dan pikiranmu dan memerdekanmu dari ketakberdayaan untuk mematuhi atau menaati kebenaran akan terang yang telah datang dari Allah bagi dunia di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.


Bersambung ke bagian 5.C

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform the cross

[dari seorang teolog yang saya lupa namanya]



P O P U L A R - "Last 7 days"