0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr. Erastus Sabdono Pada Keselamatan Di Luar Kristen (5.A)

Oleh: Martin Simamora

Benarkah Karena Tidak Menolak Injil Hingga Ke Tingkat Penghinaan Maka  Ada Kebenaran Lain Di Luar Kristus (5.A)



Sebagaimana Allah memiliki satu-satunya ketetapan  dari diri-Nya bagi semua manusia, tanpa pandang bulu, maka kebenaran yang di sampaikan oleh Yesus Kristus, juga kebenaran tunggal. Ia tak membawa bermacam-macam kebenaran bagi manusia dan memperkenalkan berbagai macam sorga,dengan demikian. Tidak pernah sama sekali. Harus senantiasa dicamkan dan tak boleh dikesampingkan bahwa Yesus dari sorga dan datang ke dunia. Ini dinyatakan demikian, sehingga kehadirannya yang lokalitas tidak bermakna kesempitan  kebenaran yang ada pada dirinya. Ia senantiasa bertakhta di atas bumi ini dan memerintah serta menghakimi dunia ini sekalipun ada di salah satu titik di muka bumi ini:

Yohanes 3:16-17 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Sementara Ia berada di komunitas  bangsa Yahudi, Yesus berbicara ketentuan hidup setiap manusia di dalam dunia ini dalam kapasitas penyelamatan-Nya yang menjangkau bola dunia ini. Kala Ia berkata “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,” maka konteks “setiap orang” adalah orang-orang di dunia ini secara global dalam sebuah kehendak yang datang dari Allah Sang Pencipta langit dan bumi ini. Ketika Yesus berkata mengenai setiap orang yang percaya kepada-Nya atau diri-Nya :tidak binasa, maka tidak perlu sampai  orang-orang yang tak percaya itu perlu melawan hingga melahirkan penghinaan kepada Anak Allah, pembenci Kristus hingga sehingga menghambat dan merusak pekerjaan Allah, untuk baru dapat dikategorikan menjadi lawan bagi Kristus dan kebenarannya. Tak ada ketentuan khusus semacam itu yang menyempitkan makna. Tidak percaya kepada Yesus, oleh Yesus, benar-benar dalam makna yang sangat luas, seluas makna “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa.”

Pada bagian “Keselamatan Di Luar Kristen (Pelajaran 5)” pendeta Erastus berupaya membangun dasar bagi pengajarannya sendiri, yaitu “keselamatan di luar Kristen” yang sama sekali tak diajarkan oleh Sang Kristus itu sendiri, apalagi para rasulnya, sebagaimana yang coba dikonstruksinya walau tak pernah diajarkan atau ditemukan dalam penelitian seksama Kitab Suci [ Yohanes 5:39-40] yang bagaimanapun juga.



Satu-Satunya Kebenaran Dari Allah Pada Diri & Perkataan Yesus, Untuk Dunia Tanpa Pandang Bulu

Ada beberapa cara yang Yesus gunakan untuk menunjukan bahwa Ia datang dari sorga bagi dunia, walau memang benar kedatangan-Nya berlangsung dalam komunitas Yahudi. Mari kita memperhatikan sejumlah pernyataan Yesus yang menunjukan bawa Ia berasal dari sorga dan keyahudiannya bukan sama sekali jati diri ke-tuhan-an dirinya, seolah ia memang hanya kebenaran untuk orang-orang Yahudi. Ia bukan salah satu kebenaran di antara banyak kebenaran dari Allah, sebab bagi Yesus, tak pernah Allah menghadirkan keragaman pada kebenaran berdasarkan keragaman atau kemajemukan komunitas- komunitas manusia yang ada di dunia ini. Mari kita perhatikan penjelasan-penjelasan Yesus berikut ini:

Yohanes 5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

Apakah basis pelayanan dan sabda Yesus, selama di bumi ini?


Apakah berdasarkan keyahudiannya atau komunitasnya? Apakah berdasarkan salah satu kebenaran yang telah eksis atau ada sebelumnya? Tidak sama sekali! Yesus bersaksi mengenai dirinya, bahwa pekerjaan  yang dilakukan dirinya sebagai utusan Allah bukan berdasarkan keyahudiannya dan apalagi kebenaran yang telah eksis di kalangan masyarakat Yahudi, namun berdasarkan apa yang dilihatnya pada Bapa. Ia menegaskannya begini: “apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak?
“Bapa” bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh spiritualisme Yahudi. Saya sudah tunjukan bahwa bangsa Yahudi bukanlah  penemu Tuhan dan kebenaran-Nya tetapi yang ditemui oleh Tuhan untuk dapat mengenali-Nya!


Selama di dunia ini, basis pelayanan Yesus adalah apa yang dikerjakan Bapa di sorga, itulah sumber kebenaran dari segala perbuatan-perbuatan Yesus di dunia ini.


Yesus bukan saja sangat berhati-hati dan sangat tajam menyingkapkan dirinya itu siapakah dan kemuliaan  kekuasaan-Nya itu se-akbar apakah untuk dapat dikatakan bahwa memang kebenaran yang dibawanya adalah tunggal dan memang benar tidak pernah ada kebenaran-kebenaran yang harus diperlakukan-Nya secara hormat dan penuh kerendahan hati karena sama-sama dari Bapa yang dibawa selain dirinya.


Tidak pernah demikian.



Mari kita lanjutkan:

Yohanes 5:20 Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.


Kebenaran pada Yesus bukan kebenaran sebagian atau setengah atau seperempat kebenaran, dan pada saat yang sama, Allah tak sama sekali membagi kebenaran pada diri-Nya melalui multi kanal kebenaran yang akan di bawa oleh “si-a”, “si-b”, “si-c” dan seterusnya, sebab dikatakan “Bapa menunjukan segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri.” Segala sesuatu, ini bukan  membicara semacam volume kebenaran atau keseluruhan satu-satuan kebenaran secara total, bukan itu saja, tetapi ini menunjukan bahwa apa yang dikerjakan oleh Yesus sama sekali tidak memiliki sedikit saja penyimpangan atau pergeseran dalam  pikiran Allah dan maksud/kehendak Bapa. Mustahil ada sebuah kebengkokan sedikit saja bahkan dalam tatar pemikiran saja, kala Yesus berbuat apapun dalam pelayanannya di bumi ini. Pada puncak-Nya, segala perbuatan Yesus didalam keyahudian dan di komunitas Yahudi-Nya sungguh-sungguh sebuah perbuatan Allah pencipta langit bumi ini bagi dunia yang sedang ditunjukan kepada bangsa Yahudi berdasarkan Allah memutuskan untuk menyatakan pada bangsa ini. Seperti  pada bagian sebelumnya, inilah yang membuat Yahudi istimewa, pada Allah yang memilihnya, bukan karena bangsa ini begitu lain sendiri dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini.


Kemustahilan akan adanya kebenaran-kebenaran lain yang mungkin dibagikan melalui kanal-kanal lain di dunia ini, terletak pada puncak: betapa memang hanya kepada Yesus saja, Allah mau meletakan segenap pikiran dan kehendak-Nya untuk dinyatakan dan dieksekusi oleh Yesus, tanpa  pernah mau membagikannya kepada yang lain. Perhatikanlah ini: “bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu.” Siapakah yang sanggup membayangkan “pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi?” Jelas tidak ada dan tidak mungkin bisa. Itu sebabnya Yesus berkata: “sehingga kamu menjadi heran.” Yesus bukan  tuhan spiritualisme sebuah aliran keyakinan atau apalagi sebuah perjumpaan spiritualisme yang terbatas dalam budaya dan etnis atau apapun juga. Tidak pernah demikian!



Apa yang terpenting dari diri Yesus, adalah: sebuah kuasa yang akan menunjukan bahwa Ia memang kebenaran tunggal dan tidak ada yang lain. Jadi ketika Ia berkata: yang percaya kepada-Nya tidak binasa, maka seharusnya kematian berada di bawah kendali kedaulatannya. Dan tentu saja berbicara kematian, jelas tak mengenal  versi-versi kebenaran berdasarkan komunitas dan keyakinan atau keberimanan tertentu, sebab semuanya jelas tak berdaya dan tunduk kepada kematian. Kecuali Yesus, sebagaimana dituturkannya sendiri:

Yohanes 5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.

Sabda-Nya adalah kebenaran-Nya. Tetapi bagaimana bisa diketahui atau memang benar Ia itu sungguh Pembawa dan adalah kebenaran Tunggal itu sendiri dari sorga? Jelas dari memerintahkan kuasa dari dan pada dirinya untuk bekerja, yang sejak semula dikatakan-Nya “Anak melihat Bapa pada apa yang dikerjakan Bapa sendiri.” Ini jelas bukan lagi isu khusus Yahudi dan segala spiritualitasnya. Tak ada satu bangsa yang  dapat menaklukan kematian berdasarkan kehendaknya, tetapi Yesus berkata “demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Jika Yesus sebelumnya berkata “Siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa,” maka memang benar “menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya” adalah pasangan yang hadir karena memang begitulah hakikat kuasa pada Allah pencipta langit dan bumi, yang kini ditunjukan pada diri Yesus.

Siapapun yang dikehendaki-Nya! Mengapa ini berdasarkan kehendak-Nya? Karena memang orang mati tidak dapat berkehendak sampai-sampai minta dihidupkan. Adakah orang mati berteriak minta dihidupkan? Tidak ada!

Jadi ini bukan otoritas manusia, tetapi otoritas Allah yang bekerja total pada manusia Yesus.

Yesus sendiri menunjukan bahwa dirinya dihadirkan Bapa di dunia ini bagi dunia sementara Ia hadir di dalam keyahudian dan dalam komunitas Yahudi. Ini seperti Ia datang dalam rupa manusia namun tak membuat Ia sama sekali kehilangan kepenuhan ke-Allah-annya sementara di dunia ini Ia adalah manusia. Saya baru saja menunjukannya tadi.


Sekarang Yesus menunjukan bahwa memang maksud Bapa sendiri agar bumi mengenal dan menghormatinya dalam sebuah konsekuensi yang sangat mengerikan untuk sekedar dibayangkan bagi semua manusia di bumi ini:

Yohanes 5:22-23 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.

Kehendak Bapa adalah: supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa, dengan sebuah penghakiman yang menyertainya: “Barangsiapa tidak menghormati Anak, Ia juga tidak menghormati Bapa.” Anda tak perlu harus membenci hingga melakukan penistaan dan perlawanan yang keras, karena tak hormat di sini, dalam konteksnya, hanya membutuhkan tidak mempercayai dia, bahwa Ia adalah hakim atas seluruh dunia dan Allah sama sekali tidak akan ikut menghakimi.

Apakah anda sebagai pendeta atau pemimpin jemaat percaya bahwa demikianlah Yesus adanya?

Pada saat yang sama, inilah pernyataan Yesus yang akan memandang semua kebenaran lain di dunia ini menjadi tak ada artinya sama sekali, sebab: Allah telah menyerahkan seluruh penghakiman padanya. Tak ada hakim-hakim lain disamping dirinya, yang ada SANG HAKIM, satu-satunya, tepat sebagaimana Allah itu satu adanya dan tidak hadir dalam berbagai rupa atau ragam kebenaran berdasarkan komunitas-komunitas.


Ia satu-satunya kebenaran dan barang siapa tidak menghormati satu-satunya kebenaran, sama dengan tidak menghormati Bapa. Di dunia ini semua orang harus menghormati Allah pencipta langit bumi ini, tetapi akankah semua akan menghormati Anak, sebagaimana sungguh-sungguh menghormati Allah adalah Bapanya?


Jika anda memiliki pendeta mengajarkan bahwa Yesus bukan satu-satunya kebenaran bagi semua komunitas di dunia ini, maka awas, anda sedang digiring untuk menjadi penentang sabda ini. Pada bagian ini Yesus dihadirkan sebagai HAKIM BAGI SELURUH MANUSIA DI DUNIA INI. Jika dia satu-satunya hakim, apakah ada kebenaran lainnya berdasarkan komunitas-komunitas, seperti diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono? 

Renungkanlah ini secara cermat!


Pada keseluruhannya, Yesus hendak menyatakan bahwa Ia benar-benar kegenapan segala  pikiran dan kehendak Allah di sorga untuk terjadi di seluruh bumi ini! Itu sebabnya Yesus kemudian masuk ke dalam pembicaraan kuasa-Nya yang berkuasa penuh atas kuasa yang telah memperbudak bukan hanya orang-orang Yahudi, tetapi seluruh manusia. Masalah kematian dan segala misterinya tak pernah menjadi kekhasan spiritrualisme Yahudi, sebab itu masalah semua manusia, siapapun juga di dunia ini. Yesus, kemudian, meletakan dirinya bukan saja turun ke dunia ini tetapi turun hingga ke dunia yang tak satupun manusia dapat menaklukannya, yaitu dunia kematian atau maut.


Ia  tak pernah sama sekali datang kepada dunia ini hanya bagi komunitas Yahudi untuk menjadi tuhannya spiritualisme Yahudi dan kemudian Kristen, karena ia sebenarnya bukan saja turun ke dalam dunia ini namun juga turun ke dalam dunia yang sangat ditakuti manusia, yaitu  dunia kematian atau maut:

Yohanes 5:24-25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.


Pertanyaannya: bagaimana bisa orang-orang mati bisa mendengar? Ini problem maut bagi manusia. Bagaimana seseorang bisa memastikan kekekalannya sementara ia mati dan tidak bisa berbuat apapun lagi? Maka jawaban-Nya ada di tangan Anak Allah. Berdasarkan apakah akan ada seorang mendengarkan dan hidup, tidak turut dihukum, karena sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup? Berdasarkan penghakiman Anak Allah yang sama sekali bukan berdasarkan perbuatan apapun juga akibat ketakberdayaan untuk memenuhi apa yang dikehendaki Allah sekalipun memiliki kehendak dan perjuangan untuk melakukannya. Apa yang menarik di sini, Yesus tak hanya menyatakan “akan” tetapi “sudah.” Pada apakah? Pada kuasa suaranya yang membangkitkan orang mati: memindahkan dari dalam maut ke dalam hidup. Ini adalah pekerjaan Allah sendiri yang dilakukan oleh Yesus sendiri, tak ada satu saja sebuah kebedaan kala Bapa berbagai kekuasaan kepada Anak, sebab dalam hal itu, yang terjadi sebetulnya baik Bapa dan Anak saling memiliki satu sama lain, apa yang ada pada Bapa adalah milik Anak dan apa yang ada pada Anak adalah milik Bapa. Ini berarti ketika pendengar sabda Kristus menjadi percaya pada kebenaran-Nya maka Ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Jadi ini juga bermakna kehidupan dari Allah bagi mereka yang percaya dan masih hidup di dunia yang berada di dalam naungan maut.


Coba bandingkan dengan pengajaran Yesus ini:

►Yohanes 6:47-51 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."


►Yohanes 6:5- Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.


Apakah maksud Yesus dengan “ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup?” Saat itu juga? Beginilah Yesus menjelaskannya: “Ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”


Bagi Yesus semua manusia itu mati adanya, atau dengan kata lain: belum pindah dari dalam maut. Jelas ini problem tak dapat ditanggulangi oleh kerja keras manusia yang bagaimanapun kala ia sendiri mati; ini adalah sebuah kondisi dalam pandangan dan hukum Allah yang lahir dari bukan saja pikiran tetapi penghakiman Allah terkait apakah yang hidup dan mati bagi-Nya, bukan sama sekali dalam hikmat atau kebenaran atau filsafat manapun di dunia ini. itu sebabnya sementara Yesus berkata semua manusia berada di dalam maut, Ia, pada faktanya, mengajak orang-orang dalam maut itu untuk berbicara dengan sebuah maksud tunggal. Apakah itu? Untuk menunjukan bahwa  kematian yang sedang dialami oleh manusia bukan belaka makna kubur tetapi ketakberdayaan untuk melihat dan melakukan apa yang diteladankan Allah untuk dilakukan manusia, bahkan melalui para nabi kudus dan hingga pada Yesus. Apa jadinya ketika hal itu diperlihatkan? Inilah yang terjadi: “Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan- Yohanes 6:52." Sebuah respon yang sangat membingungkan untuk dimengerti: sekalipun menangkap dan mengerti namun tak jua sanggup menggerakan jiwa ini untuk menanggapnya!


Apakah solusinya? Yesus harus memanggil mereka dan menghidupkan mereka menurut kehendak-Nya! Dan inilah yang sebetulnya terjadi dan tidak akan bisa dilihat oleh semua manusia karena semua berada di dalam maut dan belum berada di dalam hidup atau di dalam Yesus:

►Yohanes 6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."

Solusinya: Bapa harus menyerahkan orang mati itu ke dalam tangan Yesus untuk menerima hidup kekal!


Terlebih lagi kuasanya atas dunia kuburan, pada akhirnya, secara menjulang tinggi  di hadapan semua manusia, menyingkapkan bahwa Ia memang satu-satunya kebenaran, dan tak pernah ada kebenaran-kebenaran lainnya berdasarkan komunitas-komunitas, sebagaimana diajarkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono. Perhatikanlah ini:

Yohanes 5:28 Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya


Ia memanggil semua orang di dalam kuburan sebagai satu-satunya hakim, karena tidak ada zonanisasi kuburan berdasarkan keragaman hakim menurut kebenarannya masing-masing. Di sini Yesus satu-satunya Hakim: “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia- Yohanes 5:27.”


Ia adalah Anak Manusia! Ia bukan Manusia Israel, tetapi Anak Manusia. Jati dirinya ada pada Allah yang menyerahkan penghakiman atas segenap ras manusia yang telah diserahkan sepenuhnya kepada Manusia Yesus Kristus.


Penghakiman berdasarkan: apakah orang-orang tersebut adalah yang telah dipindahkan oleh Yesus dari maut ke dalam hidup sehingga Sang Hakim ada di dalam orang tersebut dan orang tersebut di dalam Sang Hakim tersebut, dan apakah orang-orang tersebut yang tak memiliki Sang Hakim itu, yang menolak untuk percaya tak peduli dalam cara yang santun atau dalam cara penuh permusuhan dan kebencian. Tak ada sama sekali indikasi pembedaan antara yang menolak Yesus secara santun dan bermartabat dan yang menolak secara kasar dan mengancam. Itu bukan dan tak pernah menjadi kebenaran Sang Kristus, selain dusta maut.


Matius 4:15-16 sendiri, justru menunjukan Ia adalah satu-satunya kebenaran bagi semua bangsa. Tak ada sama sekali kebenaran bagi manusia berdasarkan komunitas:


Matius 4:14-16 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."


Ketika Yesus masuk ke wilayah bangsa-bangsa non Yahudi, apakah Yesus menunjukan adanya kebenaran-kebenaran lain berdasarkan komunitas-komunitas? Tidak sama sekali, sebab di situ Yesus menghakimi semuanya sebagai bukan sama sekali kebenaran dalam sebuah cara yang keras: “telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.”


Siapakah Terang yang dimaksud Yesus kepada bangsa-bangsa non Yahudi itu atau bangsa-bangsa lain itu? Dirinya! Perhatikan ini:


►Yohanes 8:12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."

●Yohanes 3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

●Yohanes 9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."

●Yohanes 12:35 Kata Yesus kepada mereka: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi.


Terang yang dimaksud itu adalah diri Yesus sendiri dan ia bukan hanya kebenaran bagi Yahudi saja dan komunitas lainnya memiliki versi-versi sendirinya, Ia terang bagi dunia ini. Hanya siapa yang percaya kepadanya akan memiliki terang-Nya:

►Yohanes 12:46 Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.


Tidak pernah Yesus mengadakan pembedaan kebenaran berdasarkan komunitas apalagi menyatakan adanya terang-terang lain selain dirinya. Tidak ada sama sekali, yang ada hanya satu terang saja yaitu dirinya saja.

Ia datang ke dalam dunia sebagai terang bagi dunia, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Apakah ada alternatif lain? Setidaknya mendekati kebenaran Yesus? Tidak ada. Jika ada maka Ia tak akan berkata “supaya jangan tinggal di dalam kegelapan” seolah-olah tidak ada terang lain atau tak ada pembawa terang lainnya. Yesus menutup sama sekali pembawa terang lain disamping dirinya, dengan demikian!


Hati-hati dengan definisi yang disajikan oleh pendeta Erastus Sabdono ini: “Terang yang dimaksud oleh Yohanes menunjuk kehidupan yang berkualitas sangat tinggi yaitu kehidupan manusia yang dikembalikan kepada rancangan Allah semula.” Ini salah sama sekali! Baik rasul Yohanes dan Yesus Kristus sendiri tak pernah berbicara Terang itu adalah kehidupan yang berkualitas. Mengapa? Setidaknya 2 hal telah nyata: (a) Semua manusia berada di dalam maut, dan hanya dapat pindah kalau Yesus memanggilnya, dan (b) Yesus senantiasa di dalam injil Yohanes sendiri menyatakan terang itu adalah dirinya. Ia berkata “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang.”


Yohanes 1:1-5 pun bahkan tak ada menunjukan bahwa terang itu adalah kehidupan yang berkualitas, perhatikan ini:

Yohanes 1:1-5 (1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.(3) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.(4) Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.(5) Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.


Adakah sedikit saja indikasi bahwa Terang itu adalah kehidupan yang berkualitas sangat tinggi yaitu kehidupan manusia yang dikembalikan kepada rancangan Allah semula.


Hanya ada satu manusia dalam Yohanes 1:1-5, yaitu Dia yang pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Allah. Dikatakan bahwa Ia juga adalah Sang Pencipta itu sendiri sebagaimana ayat 2 menyatakannya. Dikatakan  bahwa Ia memiliki hidup yang adalah terang manusia, pada Yesus ada terang manusia. Dikatakan Terang Manusia pada Yesus itu tak dapat dikuasai kegelapan itu, bukan saja Ia bersinar di dalam kegelapan, tetapi kegelapan bahkan tak berkuasa atas dirinya.  Dalam hal ini bahkan manusia Yesus bukanlah manusia yang harus menunjukan  kehidupan yang berkualitas  sangat tinggi yaitu manusia yang harus dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Yesus adalah yang datang dari Allah yang adalah Allah pada mulanya. Dalam Ia menjadi manusia tak sama sekali kehilangan ketuhanannya sampai-sampai jadi manusia berdosa yang harus berjuang memulihkan rancangan Allah pada dirinya. Yesus berkata bahwa Ia adalah terang yang datang ke dunia ini sehingga barangsiapa  percaya kepada-Nya tidak berjalan dalam kegelapan.


Yesus adalah sumber kebenaran dan kebenaran itu sendiri yang berkuasa atas kegelapan yang meliputi segenap orang dari segala bangsa. Jika percaya kepadanya maka orang tersebut tidak lagi berjalan dalam kegelapan, sebab Yesus tinggal bersamanya dan ia di dalam diri-Nya, itulah kehidupan kekal itu, sebagaimana dimaksudkan oleh Yesus.


Tak ada kebenaran-kebenaran lain disamping Yesus  sebagaimana diajarkan oleh pendeta Erastus Sabdono. Yesus tak pernah sedikit saja menyatakan ada kebenaran lain, ada hakim lain dan ada terang lain disamping dirinya.


Bersambung ke 5B

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform the cross

[dari seorang teolog yang saya lupa namanya]



Dianjurkan untuk membaca:






P O P U L A R - "Last 7 days"