0 “Keselamatan Kristus Juga Untuk Mereka Yang Tak Beriman Kepada-Nya” (3Q-3g5)

Oleh: Martin Simamora


kredit: thewealthfountain.com
Bacalah lebih dulu bagian 3Q-3g4

Wujud kebedaan [Matius 7:28-29] Yesus dengan ahli-ahli Taurat lainnya adalah penekanan satu-satunya pada kesempurnaan Bapa didalam maksud dan didalam pewujudan maksud Bapa itu yang bersemayam di dalam diri Kristus (kehendak diri Kristus, sejatinya tak pernah eksis oleh sebab kehendak Bapa yang memerintah absolut), berlangsung sempurna dan berdaulat yang terpancar dari perkataan [Yohanes 12:49] dan berbagai pewujudan di dalam tindakan-tindakan [Yohanes 4:34, 6:38, 8:29, 17:4] olehnya. Dengan demikian Yesus kala berada di bumi, bukan sekedar Guru yang mengajarkan kitab suci atau seorang nabi yang mensyi’arkan agama, seolah ia adalah murid dari seorang  atau salah satu nabi besar. Kala Ia berkata, semacam ini: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” maka jelas Yesus sedang mengunjukan dirinya adalah Yang Berkuasa  bukan saja melakukan tetapi menyelesaikan atau menuntaskan pekerjaan Allah atau apa yang hanya berkuasa untuk dilakukan Allah. “Menyelesaikan pekerjaan-Nya,” dengan demikian adalah ke-Tuhan-annya, tanpa perlu berkata: “lihat Aku ini Tuhan.” Karena Allah pada hakikatnya bukan Allah yang  hanya  bercakap atau berbicara, tetapi berfirman (dengan demikian berfirman itu tak terpisahkan dengan kuasa untuk menggenapi apa yang dikehendaki firman itu sendiri) atau  bekerja mewujudkan segala ketetapan-ketetapan-Nya. Yesus dengan demikian, berdasarkan perbuatan dan perkataannya dengan demikian menunjukan ke-siapa-an dirinya dihadapan semua manusia. Tak ada sedikitpun kejengahan bagi dirinya sendiri untuk menuturkan perihal dirinya dalam kemuliaan dan kemartabatan Allah Sang Pencipta Langit Bumi, seperti ini: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga - Yohanes 5:17.” Tak ada satu saja ruang penghakiman yang bisa dimunculkan baginya.



Ia menunjukan bahwa dirinya sendiri, bukan saja suci atau kudus, namun juga menunjukan bagaimanakah pewujudannya itu tak boleh meleset sedikit saja, harus dalam kesempurnaan semacam ini: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga,” yang menunjukan sebuah unitas yang membuat Kerajaan Allah memang begitu dekat [Markus 1:14-15; Matius 4:17] dengan manusia. Kalau kesempurnaan adalah konsepsi (yang pada Yesus adalah sebuah kehakikatannya!), maka itu bahkan tak pernah sebuah konsep batang besi yang begitu lurus yang memorosi  kehendak untuk suci dan daya mewujudkan kehendak suci itu. Memperbandingkannya dengan Yesus,dengan demikian, bukan saja sukar namun tak terhampiri bagi manusia manapun yang disebabkan kesehakikatan Yesus dengan Allah, bahkan saat Ia Sang Firman menjadi manusia. Itu sebabnya Yesus tak pernah mengajarkan kepada para murid-murid-Nya untuk menghampiri dan memiliki kehidupan-Nya tanpa memiliki dirinya sendiri atau memiliki unitas atau memiliki kesatuan yang diselenggarakan olehnya: “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang- Yoh 6:39” (sehingga dapat dipahami Yesus menekankan unitas atau kesatuan seorang murid dengannya untuk dapat berbuat selaras dengan kehendak Bapa-Nya: Yohanes 15:5,7-9; Yohanes 6:48-58. Kesatuan ini pada hakikatnya menunjukan kebergantungan total manusia Kristen sejati dalam membangun kehidupan dalam keselamatan yang memuliakan Bapa : "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku- Yoh 15:7-8.” Sehingga tak pernah keselamatan yang bersumber mutlak pada apa yang telah dilakukan Yesus dan tetap setia mengasihi dan menjagai kita adalah sebuah pengajaran yang “sok sekali  merasa telah ke sorga.” Tidak. Sebab Yesus memastikan saya dan anda hidup berbuah; memastikan saya dan anda memiliki kehidupan yang memuliakan Bapa!).


Pada Yesus tak dapat lagi dipisahkan pada dirinya, manakah yang merupakan kehendak suci dan pewujudannya itu, karena sejak mula ia berkata: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi – Matius 5:17-18.” Atau dengan kata lain Ia tak memiliki kehendak diri sendiri sebagaimana adanya manusia selama Ia melayani di bumi ini [Yohanes 4:34; 5:19; 5:30; 6:38] (Sebetulnya tak usah menjadi perdebatan apakah Yesus memiliki kehendak didalam jiwanya sebagaimana manusia, jelas ada. Tetapi di saat yang sama Yesus mengunjukan bahwa kehendak manusia itu berada dibawah pemerintahan kehendak Allah yang berdaulat, sebagaimana ditunjukannya di dalam doa yang diajarkan atau diteladankannya: “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga- Mat 6:9”) Inilah “Kesempurnaan tak bercela” yang dimaksudkan dan dikehendaki Yesus, dan penghakiman dan segenap vonis yang telah dipalukan terhadap semua jenis pohon kebenaran yang berada di luar dirinya sebagai menuju kebinasaan.


Semua, tak ada yang masuk ke dalam kerajaan sorga, jika saja tidak ada yang seperti dirinya; semua manusia  tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga atau masuk neraka[ Misal Mat 5:22; Mat 5:28:29]: ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga – Mat 5:22.“


Kehidupan dalam kebenaran Taurat, hanya akan menghasilkan kehidupan kekal yang membawa kedalam kerajaan sorga, bukan ke neraja, jika bisa memenuhi kesempurnaan yang dikehendaki Yesus.  Perhatikan, harus yang dikehendaki Yesus, oleh sebab tunggal: Ia satu-satunya yang menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi. Spektrum penggenapan yang berentang  pada hukum Taurat dan Kitab para nabi, telah membuat semua manusia berada didalam penghakiman membinasakan.


Kesempurnaan yang sedang dibicarakan oleh Yesus disini adalah kesempurnaan yang tak bercela sama sekali, tak ada kemelencengan atau tak ada kecacatan sekecil apapun dimulai dari jiwa manusia itu. Inilah kesempurnaan yang dituntut oleh Yesus, harus sudah berlangsung sejak pada jiwa manusia itu. Perhatikan perihal ini: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala- Matius 5:21-22. Kalau para guru Taurat Yahudi hanya mengajarkan membunuh adalah tindak pembunuhan aktual, maka Yesus menyingkirkannya dan membawa ke kedalaman jiwa, bahwa kemarahan yang tak berdasar dan tanpa pertimbangan yang cermat, itu sendiri sudah merupakan tindakan membunuh.


Dan hanya oleh sebuah kemarahan saja, maka itu adalah sebuah tindakan yang tak ada bedanya dengan mencabut nyawa seseorang tanpa sebuah dasar apapun dan untuk satu tindakan ini saja maka konsekuensinya: diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.


Dan memang menjadikan Yesus sebagai teladan tunggal, maka penggenapan tuntutan hukum Taurat dan kitab para nabi harus dimulai pada bagian dalam diri manusia, yang mengharuskan manusia itu memiliki kehakikat yang kudus  dalam segenap maksud yang bersemayam di dalam diri setiap manusia yang mengharapkan kebenaran berdasarkan hukum Taurat.  Dalam hal ini, hanya [Matius 5:17-18] Yesus.  Yesus memiliki kekudusan dirinya sendiri bukan berasal dari dunia oleh karena Ia bukan berasal dari dunia  [Mat 6:10; Yohanes 6:38] ini, sementara  penggenapan-penggenapan yang dilakukan oleh Yesus itu, merupakan acuan atau ukuran tunggal kebenaran berdasarkan melakukan Taurat [ ini juga merupakan bagian dari apa yang dikatakan oleh Yesus sebagai tanda-tanda yang menunjukan siapakah dirinya itu (Yoh 5:30,36)]. Sehingga sangat jelas, Yesus dalam pengajarannya sebagai seorang ahli Taurat, telah memulainya dari haruslah seseorang itu memiliki kesempurnaan jiwa yang tak cemerlang tak bercacat; setitik noda saja kecacatan pada jiwa manusia sudah cukup untuk membawanya ke neraka yang menyala, sebab itu sudah melahirkan perbuatan-perbuatan yang kurang sempurna.


Ingatlah, kurang sempurna di sini tak sama sekali menunjukan bahwa orang tersebut lolos dari atau berpeluang luput dari kematian kekal pada pengadilan akhir kelak. Sebaliknya, tak sempurna dalam melakukan segala perintah Allah, ia kehilangan total pada kehidupan kekal itu atau ia kehilangan harta di sorga yang kekal itu (hidup kekal) [bandingkan dengan Matius 19:16, 18-21,22-23].


Prinsip ini jugalah yang dijumpai dalam perihal sedekah, perihal berdoa, hal berpuasa, hal mengumpulkan harta, hal kekuatiran, hal menghakimi, hal yang kudus dan berharga dan hal pengabulan doa.





Pun demikian dengan:


Hal jalan yang benar

Matius 7:12-14 Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."



Sekarang, ini sungguh mengagumkan. Dasar bagi saya untuk menyatakan ini sungguh mengagumkan adalah, Yesus menunjukan hal-hal yang  menakjubkan dalam relasi manusia dengan hukum Taurat. Hakikat hukum adalah menempatkan manusia berada dibawah segenap  tuntutan-tuntutan yang tertulis; manusia berkewajiban memenuhinya agar ia selaras dengan tuntutan-tuntutan itu. Jadi, relasinya tidak pernah sebagai sebuah hukum tertulis yang merefleksikan apa yang memang  hakikat yang berada di dalam jiwa atau natur manusia [jika demikian, maka tak perlu ada hukum]. Semua manusia pada hakikatnya adalah taklukan atau budak dosa yang membuat kehidupannya bagaikan dicucuk hidungnya, tak berdaya walau tak mau. Hukum Allah telah menjadi  sumber kehidupan kudus berkekuatan hukum yang menggembalakan manusia-manusia yang diperbudak dosa. Berkekuatan hukum sebab selain memberikan sanksi, juga menunjukan kecenderungan senantiasa manusia pada pelanggaran terhadap kehendak Allah, pasti mendatangkan kemalapetakaan pada manusia-manusia itu.


Namun di sini (pertama) [ini sangat identik dengan “tetapi aku berkata kepadamu”], Yesus mengatakan atau mengajarkan penggenapan atau implementasi hukum Taurat itu dalam sebuah cara  yang mencengangkan. Perhatikan pola Yesus ini:Segala sesuatu yang kamu kehendaki…… perbuatlah demikian.”


Berbicara apa yang saya atau anda kehendaki agar orang lain lakukan bagi kita, maka jelas itu adalah kualitas-kualitas perbuatan yang begitu tinggi dan begitu sangat tinggi. Tetapi, ini bukan soal egoisme atau ego-sentris  yang sedang diajarkan oleh Yesus, namun ini soal apa yang harus saya dan anda perbuat kepada orang lain dalam sebuah kualitas sebagaimana anda menghendaki itu terjadi padamu. Tak boleh sedikit saja berbeda, sehingga jika  anda menghendaki padamu menerima yang terbaik dari orang lain, maka berikanlah juga yang terbaik sebagaimana anda mampu mengadakannya bagi dirimu sendiri! Bahwa perbuatan-perbuatan itu haruslah dalam kualitas-kualitas perbuatan yang begitu tinggi dan begitu sangat tinggi. Perbuatan  baik kepada orang lain harus lahir dari hasrat-hasrat jiwa yang begitu mulia yang memuliakan dirinya sendiri begitu tinggi. Tentulah sangat mudah bagi saya dan anda untuk menghendaki bagaimana seharusnya orang-orang berlaku kepadamu dan saya dalam sebuah apreasiasi yang nilainya ada dalam penetapanmu! Dalam jiwa yang berapresiasi demikianlah juga, anda dan saya harus perbuat kepada orang-orang lain. Bahwa anda harus sebegitu tingginya memuliakan orang-orang lain dalam perbuatanmu, sebagaimana anda begitu tinggi mengapresiasi diri sendiri. Tetapi inilah problem manusia: tak pernah bisa manusia itu berlaku demikian. Jangan anda sangka ini main-main dan penekanan yang berlebihan. Justru karena anda beranggapan ini mengada-ada hanyalah menunjukan mengapa anda tak berdaya menyelamatkan dirimu sendiri. Bahkan Yesus harus mengajarkan ini melalui sebuah perumpamaan! Bukti  bahwa ini memang utopia dalam impian setiap manusia. Bacalah: Lukas 10:25-37.


Pengajaran Yesus ini, bukanlah nasihat atau kata-kata bijaksana, namun berkekuatan sama dengan hukum Taurat dan kitab para nabi, sebagaimana Ia mengatakannya: “Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”


Hal berikutnya (kedua), Yesus ketika mengatakan “itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi,  ini secara  tajam hendak menunjukan bahwa relasi manusia dengan segenap kehendak Allah yang kudus itu haruslah sebuah kehidupan yang memang kesukaan atau kelaparan jiwanya, sebagai telah diindikasikan oleh Yesus: “segala sesuatu yang kamu kehendaki… perbuatlah demikian.”


Kesempurnaan dalam melaksanakan tuntutan hukum Taurat, dengan demikian, bukan saja terletak pada kepresesian dalam melakukannya, tetapi  harus merupakan refleksi jiwa yang tak punya kelaparan lain selain melakukan kehendak yang dituntut hukum Taurat. Dengan kata lain, apapun yang disebut dengan “tuntutan” hukum Taurat, tidak lagi pernah merupakan tuntutan, tetapi sebuah kehidupan tak bercela pada jiwanya sendiri.


Jika Yesus berkata mengenai dirinya dihadapan hukum Taurat dan kitab para nabi:
■datang untuk menggenapi  (Mat 5:17)
■Penggenapan dalam durasi: selama belum lenyap langit dan bumi ini
■Penggenapan dalam pelaksanaan: satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi


Maka, sebaliknya. Yesus berkata/bersabda mengenai diri manusia dihadapan hukum Taurat dan kitab para nabi:

●Dituntut agar pelaksanaannya merupakan hal yang dikehendaki dan dilangsungkan dalam sebuah hasrat yang mulia kepada sesama manusia, sebagaimana dikehendakinya bagi dirinya sendiri.

●Jika manusia melakukan segala sesuatu yang dikehendaki bagi dirinya agar dilakukan oleh orang lain itu, maka ia telah melakukan isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

●harus dilakukan sebagai sebuah jiwa atau kehidupan yang penuh semangat atau hasrat [segala sesuatu yang kamu kehendakiperbuatlah demikian].


Yesus tak pernah menempatkan manusia pada posisi penggenap-penggenap hukum Taurat dan  kitab para nabi; Yesus  telah menempatkan manusia pada posisi yang menunjukan bahwa manusia mengalami problem yang begitu fatal dalam melaksanakan isi seluruh hukum Taurat, kala Ia mengajarkan: “segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Manusia tidak pernah berlaku demikian pada sesamanya sebagai sebuah hakikatnya, harus diperintahkan, bahkan, sebagai sebuah hukum. Bahkan, pada kenyataannya, Yesus tak akan pernah, baik dahulu, sekarang dan kapanpun juga, memiliki contoh faktual  yang bisa dirujukannya terkait perlakukan sesama manusia yang begitu memuliakan sebagaimana pada dirinya, selain menyajikan sebuah perumpamaan yang begitu terkenal “ Orang Samaria Yang Baik Hati” pada Lukas 10:25-37.


Sekarang, setelah Yesus mengajarkan apa yang  begitu prinsipil, bagaimana seharusnya relasi hukum Taurat dengan manusia-manusia, kini Yesus menyampaikan hal yang menjadi hukum mutlak jika ingin masuk ke dalam kehidupan kekal:

Mat 7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu,


Apakah pintu yang sesak itu, dalam hal ini? Tentu saja: “segala sesuatu yang kamu kehendaki…… perbuatlah demikian. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.”


Sejatinya sungguh hal yang menggusarkan kala Yesus menggambarkan “pintu” itu sebagai sesak. Sesak artinya susah untuk dilalui. Secara tajam kesusahan itu sungguh mematikan, karena sekalipun diberitahukan apakah yang harus dilakukan, Yesus, menunjukan hal yang amat mencengangkan: ”karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya.” Sekalipun sudah ditunjukan, manusia-manusia, banyak memilih jalan yang menuju kebinasaan!


Secara faktual Yesus, di dalam pengajaran ini, menunjukan kondisi universal pada segenap manusia itu, tak pernah satu saja yang akan dapat melakukan hal ini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki…perbuatlah demikian.”


Inilah jalan yang sempit itu, tetapi faktanya secara universal manusia  memilih jalan yang menuju kepada kebinasaan. Manusia  pasti menginginkan untuk mengalami kehidupan kekal, namun tak berdaya untuk  mewujudkan “segala sesuatu yang kamu kehendaki…perbuatlah demikian.”


Ketika Yesus berkata “jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang melaluinya,” maka ini begitu identik dengan sabda Yesus ini: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang- Yohanes 3:19.


Ketika Yesus mengajarkan “segala sesuatu yang kamu kehendaki..perbuatlah demikian. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.” Kemudian dilanjutkannya dengan “jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang masuk melaluinya,” sebetulnya, Yesus sedang menunjukan itulah hakikat ketakberdayaan manusia yang begitu mematikan, tak berdaya total terhadap tuntutan keselamatan Tuhan berdasarkan perbuatan yang harus dilakukan tanpa celah sedikitpun. Bahwa Yesus menunjukan apa yang harus dilakukan bahkan memberikan arah atau jalan pastinya, namun, lihatlah respon manusia-manusia itu, sungguh mengerikan: “memilih menuju jalan yang menuju kebinasaan” dalam ketahuan mereka “ mengetahui jalan yang menuju kehidupan kekal.” Dalam tak berdaya total, kemampuan manusia sebagai pribadi yang sanggup membuat pilihan-pilihan, menjadi nyata hanya hidup bagi kebinasaan dan mati bagi sekedar tawaran untuk hidup kekal.
Kegilaan ini jangan ditanyakan kepada manusia, sebab yang mengetahui kegilaan semacam ini hanyalah Yesus Sang Penggenap Taurat dan Kitab Para Nabi.


Dalam era Yesus sendiri selama di bumi, tak satupun ia menjumpai satupun manusia yang dapat pada dirinya sendiri untuk “ dapat memilih jalan menuju kehidupan kekal” bahkan dengan kehadiran dirinya sebagai Sang Pengajar dan Sang Penggenap, seperti pada kasus ini:

Matius 19:16-17 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."


jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah perintah Allah,”dan jika mengacu pada standard yang diajarkan para guru Taurat, ia adalah sempurna:

Matius 19:18-19 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti,  apa lagi yang masih kurang?"


Yesus tak perlu memperdebatkan (sangat mungkin memang Ia memenuhinya berdasarkan standard pengajaran para ahli Taurat) klaim orang itu “semuanya itu telah kuturuti.” Tetapi kepada orang yang menakar dirinya sudah sempurna dalam  memenuhi perintah Allah [apalagi yang masih kurang], jawaban Sang Penggenap telah menampar telak kebanggaan upaya dirinya  untuk membenarkan diri dihadapan Kristus, saat berkata: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku- Matius 19:2021"



Pertama dan satu-satunya problem semua manusia manapun yang berupaya memenuhi  segala perintah Allah, tidak pernah itu, memberikan indikasi bahwa Ia sempurna. Yesus memiliki satu cara tunggal terhadap manusia untuk membuktikan ketaksempurnaan manusia itu: pada siapakah atau apakah yang paling dicintainya begitu kokoh mencengkram jiwanya: “juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin [bandingkan hal ini dengan Matius 5:29-30; Matius 6:24].” Camkan, Yesus bukan sedang menjadikan murid-muridnya untuk tolol dan hidup memiskin secara membabi buta; Yesus memerintahkan satu hal untuk dilepaskan agar dapat menerima yang tak terbandingkan sebab tak berasal dari dunia ini: harta di sorga.


Tetapi memang, siapakah manusia yang dapat melepaskan segala kemuliaan harta benda yang diraih dengan jerih payah  atau warisan kebesaran orang tua, untuk sesuatu yang tak dapat dilihat dan diterima untuk kemudian dapat memberikan kemilau lahiriah yang lebih gemilang, sekalipun itu memberikan kehidupan kekal bersama Bapa?  Atau, dengan kata lain, siapakah yang sanggup untuk memenuhi hal ini:


Mat 5:29-30 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.


Tidak pernah demikian jiwa manusia itu pada dirinya sendiri, mampu membuat pertimbangan yang menghasilkan kebijaksanaan kudus [Mat 5:29-30] semacam itu [sebab tak mampu sebagaimana Yesus, melihat akibat yang mematikan: kebinasaan kekal], dan kemudian melakukan atau menggenapinya. Itu karena  hakikat manusia adalah memilih jalan menuju kebinasaan, sekalipun  manusia itu sudah ditunjukan apa yang harus dilakukan untuk menuju hidup kekal. Harta di sorga hanya dapat menjadi milik jika ia meninggalkan keandalan dan pengandalan dirinya untuk memenuhi segala perintah Allah dan beralih kepada keandalan dan pengandalan  pada diri Yesus; dan hal-hal ini hanya dapat terjadi jika ia dapat membuat pertimbangan yang menghasilkan kebijaksaan kudus; tentu saja hanya dapat terjadi jika ia pertama-tama adalah murid-murid (mengalami kesatuan dengan) Kristus, bukannya manusia-manusia yang tak diserahkan oleh Bapa kepada Kristus [Yohanes 6:36-37,42-44,65-67] untuk menjadi gembalaan atau milik Kristus [ Yohanes 17:6,8, 10-11,12; Yoh 10:7-9].


Harus dicamkan, hal memenuhi segala perintah Allah, itu sama sekali tak salah dan kudus adanya bahkan itu adalah kehidupan Kristus bersama para murid-murid-Nya sebagai para domba gembalaan Sang Gembala Yesus. Jangan pernah realita  ketakberdayaan manusia yang terkandung didalam pengajaran Yesus ini, kemudian diaplikasikan sebagai kehidupan para murid  yang kemudian setelah mengalami kesatuan dengan Kristus, tak  lagi berlangsung didalam panduan Bapa yang kudus.


Yesus dalam hal ini, tidak sedang melakukan penistaan hukum tertulis Allah dan berdasarkan penistaan itu Ia kemudian meninggikan dirinya. Tidak demikian.



Apa yang menjadi fundamental bagi  Yesus untuk menjadi sentral keselamatan dan sumber kehidupan didalam keselamatan dan sumber keamanan atau pemeliharaan selama  orang-orang tebusan  itu di dunia ini, adalah Yesus sendiri sebagai  Sang Pewujud dan pewujudan kehendak Bapa akan bagaimana keselamatan itu harus berlangsung atau bagamana  kehendak keselamatan Bapa itu diwujudkan di dalam Kristus di dunia ini:

♦Yohanes 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.


♦Yohanes 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.


♦Yohanes 17:12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.


♦Yohanes 17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;


♦Yohanes 17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

Pada Yesus secara total terdapat keselamatan dan keamanan atas keselamatan yang diberikannya, termasuk menjadi satu-satunya sumber kekuatan orang beriman untuk patuh, tunduk dan melatih dirinya hidup sebagai anak-anak Bapa (bukan dari dunia ini: Yoh 15:18-20). Jadi bukan pada manusianya.


Saat Yesus berkata “jikalau engkau hendak sempurna,” mengapakah Yesus untuk menjadi sempurna,memerintahkannya untuk menjual segala milik dan berikanlah kepada orang miskin?


Sementara orang tersebut boleh mengklaim telah melakukan ini semua:“Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” sebagai sudah semua dilakukan, namun bagi Yesus tak sempurna. Pada apakah? Maka jelas pada “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Bagaimanakah orang kaya itu memperlakukan dirinya? Maka setidak-tidaknya Ia memuaskan hasrat jiwanya dengan segala harta benda mulia yang dapat dibelinya untuk dirinya. Tetapi, apakah Ia sendiri, sudah mengasihi diri orang lain sebagaimana dirinya sendiri? Apakah Ia yang sudah mengasihi dirinya dengan kekayaannya yang mulia itu, juga telah mengasihi manusia sesamanya dalam cara yang sama, senilai, sekualitas?


Perintah Yesus berbunyi: “jualah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.” Ini adalah penjualan yang tak menyisakan  bagi dirinya sendiri sedikit saja, ini aktual, karena itu Yesus kemudian berkata “maka engkau akan beroleh harta di sorga.”


Perintah Yesus ini, pada hakikatnya, senilai dengan perintah ini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi- Matius 7:12”



Orang kaya itu bertanya: “perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Dan Yesus sudah menunjukan apa yang harus diperbuatnya, sayangnya tak sesuai dengan harapannya atau dambaan jiwanya. Perintah Yesus itu, secara keseluruhan, memenuhi hukum yang ditetapkan Yesus sendiri: “segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga.” Yesus menyuruhnya untuk berbuat hal ini: jualah semua segala miliknya [ini menyebabkan ketakpunyaan total yang akut] dan dengan demikian maka Yesus akan berbuat hal yang dikehendakinya [ ingin memperoleh hidup kekal- Mat 19:16]: “maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Dia menginginkan kehidupan kekal, Yesus memintanya untuk melakukan sesuatu baginya yang juga merupakan perintah Allah yang diklaimnya dihadapan Kristus sebagai semua sudah kulakukan:” kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Sayangnya tidak sama sekali!


Faktanya memang demikian, manusia memang hanya menuntut agar dirinya dikasihi sebegitu mulianya oleh orang lain, namun kala hal-hal yang dikehendakinya itu harus dilakukan sama mulianya kepada orang lain,maka itu sebuah kemustahilan: “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya – Mat 19:22.”


Pergilah ia dengan sedih.” Ini sungguh tak terpahamkan atau sebuah kegilaan pada manusia yang menyingkapkan rasionalitas manusia begitu bengkok kala berhadapan dengan kehendak kudus Allah dalam keselamatan pada faktanya, sebab yang sedang ia tinggalkan pergi adalah apa yang dikehendakinya: memperoleh kehidupan kekal. Ia tak melakukan itu karena pada dirinya ia tak berdaya untuk memenuhi segala perintah Allah, mulai pada kesempurnaan jiwanya sebagai manusia dihadapan kehendak Allah yang kudus. Tak pernah ada satu saja jiwa manusia yang sanggup menyantap segala perintah Allah sebagai santapan yang begitu lezat, sebagaimana pada Yesus.


Setiap kali keselamatan diletakan pada ketentuan Taurat maka memang kebenarannya berdasarkan pada melakukannya. Jadi, memang ini sebuah pilihan untuk menaatinya ataukah untuk tidak menaatinya. Tak ada celah sedikit saja untuk lalai pada satu bagian:

Yakobus 2:10-11Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.


Kesempurnaan semacam atau jenis ini tidak bisa dicapai manusia manapun, sehingga ketika Kristus berkata keselamatanmu ada padaku dan di dalamku saja [Yohanes 5:24; Yohanes 3:18; Yohanes 6:47,50-51,58; Yohanes 8:24; Yohanes 20:31], itu menunjukan realita kematian kekal manusia yang tak tertolongkan pada dirinya sendiri. Bagaimanakah pelaksanaan mengasihi sesama manusia itu menjadi kehidupan bagi setiap murid Kristus, maka inilah yang menjadi landasan bagi setiap murid: ”segala sesuatu yang kamu kehendaki….perbuatlah demikian.” Inilah kehidupan di dalam Kristus agar semakin lama bukan dirinya yang makin hidup, tetapi kehendak Kristus; inilah perjalanan seorang murid yang mengalami kesatuan dengan Kristus. Serupa dengan Kristus dengan demikian adalah tidak lagi menganggap penting dirinya sendiri oleh sebab memenuhi kehendak Bapa. Bandingkanlah dengan ini: “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia- Filipi 2:4-7


Landasan yang suci, sebab merupakan kehidupan yang bersumber dari Sang Kristus yang secara sempurna telah menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi. Penggenapan yang diwujudkan dengan mengasihi sesama manusia sebagaimana pada dirinya sendiri [lihatlah pernyataannya ini:"Aku mau, supaya dimanapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Ak" Yoh 17:24, pernahkah anda memberikan kepada sesamamu manusia didalam kekayaan/kebahagiaan/kesejahteraan/kehidupan  yang sekualitas  sebagaimana yang anda miliki? Untuk dapat turut dinikmati oleh mereka yang tak mampu bagaimanapun juga, berdasarkan kemurahan hatimu, sebagaimana diteladankan Yesus?]. Sebagaimana Bapa didalam Yesus Kristus telah menunjukan kasihnya kepada sesama manusia tanpa sebuah kecelaan, menjadikannya sebagai hakim yang sempurna untuk menghakiman semua pohon kebenaran.


Mengasihi sesama manusia, bukan sama sekali seperti yang diajarkan dunia ini. Pada Yesus mengasihi sesamamu manusia adalah kehidupan yang sama sekali  mengunjukan kasih yang begitu besar kepada sesama manusia, sehingga apapun yang paling berharga pada dirinya, diberikannya  [Ini pola Bapa: Ia menyerahkan Anak-Tunggal-Nya yang dikasihi-Nya kepada dunia ini: Yohanes 3:16, juga pola Yesus yang memberikan hal yang paling berharga pada dirinya: nyawanya –Yoh 15:13 sebagai bentuk kasih-Nya. Ini adalah hukum agung bahwa, oleh karena Allah lebih dulu mengasihi maka kita dapat mengasihi-Nya – 1Yohanes 4:19. Sekaligus menunjukan bahwa manusia memang tak berdaya sama sekali].


Pada hakikatnya, jalan itu sempit bukan semata-mata soal kesukaran untuk memenuhi pada apa yang dituntut, namun pada natur atau hakikat manusia yang menurut Yesus: berjalan menuju kebinasaan, sekalipun sudah diberitahukan dan sudah diperintahkan begitu jelas. Bahkan pada dasarnya diinginkan, namun tak berdaya untuk memilihnya dan mewujudkannya.


Tetapi sekalipun demikian natur manusia itu, Yesus memberikan penanggulangan yang tak bisa diberikan oleh pohon-pohon kebenaran dunia yang manapun juga, yaitu sebuah pengharapan yang pasti ditengah-tengah realita manusia memilih jalan yang menuju kebinasaan, sekalipun Yesus sudah menunjukan jalan yang harus dilalui untuk menuju hidup. Inilah pengharapan  itu:


Matius 7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Jalan yang sempit menunjukan tidak ada satu saja ruang bagi kesalahan manusia, bahwa manusia-manusia itu harus senantiasa berjalan lurus dan harus senantiasa mengikuti panduan Allah sebagaimana Kristus menunjukan kepada para murid-muridnya.  Situasi tak memberi ruang penyimpangan ini, bisa digambarkan seperti ini, melalui teks ini untuk membantu:

Bilangan 22:26 Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri.


Melakukan segala perintah Allah itu, berarti sebuah kesempurnaan yang standard kesempurnaannya ditetapkan dan dijaga oleh Allah. Manusia tak boleh menyimpangkannya ke kanan  atau ke kiri. Tak ada kebenaran yang diselaraskan dengan kepentingan manusia, tetapi manusia harus memenuhi kehendak atau tuntutan Allah, tanpa ada ruang sedikit saja untuk meredakan/menyurutkan atau melunakan.



Inilah jalan keluar Yesus itu, bagi manusia, kala ia berkata: Aku datang untuk menggenapi apapun yang dikehendaki Bapa dan dinyatakan kepada manusia oleh kitab Taurat dan Kitab para nabi.



Jadi, bagaimana bisa ada sedikit orang  yang mendapatinya? Fondasinya bukan pada manusianya. Dan hanya satu alasan untuk menyatakannya seperti itu, dan itu tepat pada pernyataan Yesus sendiri: “Aku datang untuk menggenapi.”


Tak ada manusia yang dapat memenuhi kehendak atau tuntutan Taurat sehingga pada hakikatnya semua sudah berada di dalam penghakiman Kristus: semua tidak ada yang dapat masuk ke dalam kerajaan Allah: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga- Mat 5:20.


Fondasinya adalah: hanya mereka yang dapat menerima mutiara dan barang kudus [Matius 7:6] dari Yesus, yaitu Yesus sendiri. Hanya jika mereka sudah dilepaskan dari keadaan bagaikan babi dan anjing, maka Ia dapat memiliki kehidupan kekal, yaitu dirinya sendiri. Tepat seperti Yesus yang berkata kepada orang yang kaya: maka engkau akan menerima harta di sorga: “Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku- Mat 19:21."


Memperoleh harta di sorga hanya dapat berlangsung kala seseorang dapat mendatangi Yesus dan mengikut diri-Nya. Tentu saja ia, pertama-tama, harus lepas dahulu dari hakikatnya  yang bagaikan babi dan anjing.



Bersambung ke “Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan DiluarKristen”(3Q-3g6):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristus Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”


AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN







The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross


[oleh seorang teolog yang saya lupa namanya]



P O P U L A R - "Last 7 days"