0 “Keselamatan Kristus Juga Untuk Mereka Yang Tak Beriman Kepada-Nya” (3Q-3g2)

Oleh: Martin Simamora



Bacalah lebih dulu bagian 3Q-3g1

Ketika Allah disebut atau dipanggil sebagai Bapa, itu bukan sebuah pendekatan atau belaka cara pandang manusia terhadap Allah, bahwa Ia begitu dekat dalam sebuah jeritan harapan manusia untuk melihat-Nya demikian [yang mana ini sebuah hal yang begitu tersembunyi di kedalaman perut bumi, bagi jiwa manusia untuk sampai memandang Allah demikian, jika bukan sebuah mujizat!], menurut penilaian atau pengimanan jiwa manusia saja. Bukan, ini bukan soal emosional, soal psikologis, soal kasih yang berteriak dari bumi untuk membuka sorga! Tetapi, karena Yesus membawa masuk dan menyelenggarakan sebuah relasi dan kesatuan yang mustahil untuk dialami oleh manusia berdasarkan upaya manusia [bacalah Yohanes 6:37-38; Yohanes 5:20] :

Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu- Yoh 15:9


Perhatikan baik-baik, menjadi percaya atau beriman kepada Yesus Kristus dengan demikian disebut oleh Kristus, itu, bukanlah sebuah religiusitas atau spiritualitas yang dibangun berdasarkan teks-teks suci yang secara luar biasa dipelihara oleh Sang Empunya Firman, tetapi oleh sebuah kasih Allah dan tindakan kasih Allah. Kitab Suci  tanpa “Allah yang mengasihimu dan mengajakmu tinggal di dalam Kasih-Nya yang berasal dari Sorga dan lahir dari Bapa,” maka anda bagaikan orang buta dan tuli, bahkan dapat menjadi begitu bodohnya. Tanpa memiliki Kristus, Alkitab hanyalah buku yang menghantarkanmu dalam sebuah kepastian ke  neraka abadi! Dengarkanlah dia yang berkata:

Yohanes 5:39-40 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Bahkan, usaha keras manusia dalam ikhtiar terkudusnyapun tak melahirkan hidup yang didambakannya: hidup kekal bersama Allah yang menciptakannya: “menyelidiki Kitab-kitab Suci… menyangka mempunyai hidup yang kekal.”

Apakah bukti tertinggi ketakberdayaan manusia terhadap keselamatannya sendiri? Bahkan untuk sekedar menghakimi sesama saja, manusia tak ada  yang melakukannya sebagai yang tak bersalah. Semua bersalah, semua berdosa, bahkan kepekatan dosa manusia terdemonstrasikan kala manusia melakukan penghakiman, sebagaimana Yesus menunjukan:


Yang termulia pada bukti itu, bukan bisa menunjukan bahwa memang  sungguh kebejatan manusia itu total,  sehingga di dalam jiwanya yang hidup subur adalah keinginan demi keinginan dosa, tetapi,  kala manusia itu diperhadapkan dengan sebuah cermin yang datang dari Allah: kitab suci yang merupakan koleksi tulisan para nabi kudus Allah [Ibrani 1:1-2], manusia itu masih juga terpesona  oleh dirinya sendiri bahwa Ia berkuasa untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Itu sebabnya, Yesus bersabda:

Yohanes 6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.


Seseorang boleh saja menyebut  dirinya Kristen, ia bahkan boleh saja memiliki ketokohannnya tersendiri, memiliki kemuliaannya sendiri! Mengapa? Sebab ia bahkan dapat mengecam dalam berbagai paradigma yang mulia dan dimuliakannya untuk berkata: Yesus Kristus tak dapat dijadikan panutan total dalam dunia yang pluralistik ini, ia bukan “friendly God” bagi dunia ini dengan segala keinginan dan nilai atau kebenaran apapun yang luhur. Ajarannya menggusarkanku yang lebih percaya bahwa Allah mustahil sebagaimana yang Yesus gambarkan, begitu sempit dan piciknya: “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku- Yoh 14:6”


Yesus dengan segala  nilai-nilai di dunia ini memang relasinya adalah sebuah permusuhan. Tak ada aliansi, tak ada  persahabatan, tak ada satu saja perlintasan untuk saling berjabat tangan. Karena Ia begitu tinggi meletakan dirinya di antara semua apapun yang disebut sebagai kebenaran atau nilai atau moralitas dunia ini:

Yohanes 8:23 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.



Manusia-manusia dengan segala  spiritualitas dan dengan segala kebenaran apapun, yang sekalipun baik dan mulia, kesemuanya ini berasal dari bawah. Jika semua berasal dari bawah maka memang tak ada yang mulia dan berguna untuk bahkan sekedar didialogkan dengan Sang Kristus ini:

Yohanes 8:25 Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu?


Bagi Yesus, jika anda adalah orang Kristen, apalagi yang berbangga sebagai guru dan saban hari dan detik menampilkan diri sebagai “rabi-rabi modern” yang bahkan  berdasarkan kemuliaan hikmat diri dan kecemerlangan intelketualitas diri, memfatwa Yesus, memfatwa Alkitab, memfatwa surat-surat para rasul sebagai tak sepatutnya begitu tinggi dan mulia dinarasumberkan didalam setiap denyut kehidupanmu sebagai pengikut Kristus yang sedang berjalan di dunia ini, maka bagi-Nya, anda, adalah manusia-manusia tak bernilai untuk ditanggapi-Nya: “apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu?



Itulah suara penghakiman Sang Kristus bagimu. Bagi-Nya fatwa-fatwa teologismu atas Kristus, atas pengajaran-Nya, atas iman para rasul terhadap Yesusnya, berasal dari bawah; dari kegelapan dunia ini. Bagi-Nya, bagian manusia-manusia Kristen semacam ini, sudah pasti: penghakiman demi penghakiman, bukan kasih sebab tak ada kasih dari Allah bagi yang menista Sang Kasih itu sendiri:

Yesus 8:25 Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia."

Dunia seharusnya diam kala ia bersabda, bukan berbicara! Dunia seharusnya menundukan kepala tanda mendengar dan taat, bukan mendongakan kepala, mempertanyakan dan menghakimi diri-Nya. Dunia  membutuhkan  Yesus, sebagai satu-satunya.


Yesus dan dunia adalah sorga yang sedang menghakimi dunia di dalam Kristus! Dia memang datang membawa kasih, tetapi itu adalah kasih dari Allah bukan dari dunia ini. Kudus dan tak bercela, sehingga beta Ia akan sangat membenci segala kegelapan dengan segenap pernak-pernik yang diidolakan dunia:

Yoh 5:27 Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.


Haruslah manusia itu mengalami perjumpaan dengan Kristus untuk dapat memiliki hubungan yang begitu satu dan kasih sehingga menyebut-Nya Bapa. Ini sebuah hubungan yang menghapus segala permusuhan antara dirinya yang berdosa dengan Allah yang begitu kudus, oleh karena Kristus! Jadi, ini bukan sebuah  soal ke-biologis-an atau pengupayaan diri untuk  harus lebih dulu pantas menjadi anak, barulah dapat memanggil dan memiliki  Bapa. Sebaliknya ini  soal kedekatan dan keintiman pada sosok yang dikenal tak hanya kudus dan mulia tak terdekat’terhampiri, tetapi agung dan perkasa serta begitu api [Ibrani 12:29; 2 Tesalonika 1:7] terhadap segala bentuk ketak-kudus-an[ jadi, “Bapa”, irelevan untuk dibiaskan menjadi isu gender-isme, sebab Allah adalah roh: Yoh 4:24. Kristus memanggil-Nya Bapa harus dipahami sebagai perihal hubungan kasih yang begitu mesra pada figur yang dikenal  baik oleh orang-orang Israel sebagai sangat perkasa dan sukar untuk didekati begitu saja dan akan menghanguskan tanpa ampun segala bentuk pelanggaran, seremeh apapun itu dalam pandangan manusia, sebagaimana Allah sendiri menyatakannya kepada Musa: Keluaran 19:20-24]. Pun demikian kala Ia menyatakan dirinya adalah terang dunia [Yohanes 8:12] dan yang percaya dan mengikutnya  memiliki terang, maka yang sedang dibicarakannya adalah dirinya otentik terang dan memiliki relasi yang tak terpisahkan adalah dasar untuk memiliki terang dunia itu, jadi, ini bukan sebuah konsepsi spiritualisme [Yoh 12:35-36] yang dapat terjadi tanpa perjumpaan dengan Kristus. Bahkan Sang Kristus di sini dibicarakan sebagai yang ada secara kekal [Wahyu 5:2-7]! 



Itu sebabnya, membicarakan Yesus dan karyanya walau berlangsung  pada masa lampau,namun Ia dan kuasa keselamatannya tak pernah masa lampau,dengan demikian menjadi  Ia memang sebagaimana Ia berkata: Aku adalah jalan, Aku adalah kebenaran, Aku adalah hidup keselamatan yang abadi di sepanjang abad kehidupan dunia ini hingga kekekalan!




Dalam Ia memiliki relasi yang begitu  kasih dan begitu satu dengan Bapa dan Ia  adalah Sang Terang Manusia yang memiliki kuasa memberikan terang atau menarik manusia dari kegelapan kepada terang, Ia telah memberikan vonis yang begitu tajam, luas dan dalam pada jiwa manusia. Ia menghakimi sebagai yang  mahasempurna dalam sebuah deklarasi yang sangat agung: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya- Mat 5:17”


Apapun yang diajarkannya, telah Ia sampaikan sebagai yang melakukan dalam tatar menggenapi [tak ada satu iota kelengahanpun!], dan apapun vonis yang dinyatakannya, telah dilakukan sebagai hakim yang melakukan penghakiman yang benar, adil dan tanpa cela.


Bagaimana Ia sebagai Sang Hakim sempurna, DARI ATAS, mengajarkan kepada para murid-Nya di hadapan DUNIA, perihal menghakimi. Apakah  kesempurnaan-Nya di dalam pengajarannya ini?






Hal Menghakimi
Matius 7:1-5  Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."


Ini bukan larangan untuk menghakimi. Sama sekali bukan, sebab pertama-tama Ia sendiri seorang Hakim yang begitu keras dan nyaris mustahil untuk diterima para terdakwa [Matius 12:30-37; Matius 18:17-19; Matius 13:10-11; Matius 19:11; Yoh 8:24]! 


Sebagaimana banyak dipahami orang, sekalipun Yesus memulainya dengan: “jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi,”  jika anda membacanya secara utuh anda akan  mengetahui bahwa sebetulnya larangan  penghakiman yang terlarang ditujukan kepada penghakiman yang dilakukan oleh orang-orang/hakim-hakim munafik.



Apa yang menarik di sini adalah: jangan menghakimi supaya tidak dihakimi. Ini bukan sebuah formula keselamatan atau bahkan jadi ayat untuk mencegah seorang penjahat untuk dihakimi oleh lembaga hukum Negara. Bahkan, jangan pernah ditrerapkan sebagai dasar untuk mengajarkan bahwa kasih tertinggi di dalam praktiknya adalah: jangan menghakimi! Jika demikian yang anda terima dan bahkan anda ajarkan, maka Yesus memastikan itu adalah salah sama sekali.


Mengapa bisa seorang yang menghakimi menjadi tak berwibawa dihadapan  yang sedang dihakiminya? Apakah Ia tak ada bedanya sama sekali dengan apa yang sedang dihakiminya?

Ada pertimbangan tunggal yang sangat hakiki untuk menyatakan ini  bukan larangan untuk menghakimi, yaitu:

Yesus sendiri saat menyampaikan pengajaran di atas bukit-termasuk pada poin ini- memulainya dengan sebuah penghakiman yang begitu tajam, bahkan memberikan vonis neraka! Perhatikan  sejumlah poin pengajaran Yesus yang difirmankannya berikut ini:


■Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.


Dalam hal ini, Yesus sudah mengetukkan palu vonis bagi para ahli Taurat dan para orang Farisi: tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, dan bagi semua orang Yahudi : jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada mereka maka kamu pun tidak akan masuk ke dalam  Kerajaan Sorga.


Dengan kata lain, Yesus menyatakan bahwa pada saat Ia menghakimi secara demikian, Ia begitu sempurna sehingga saat penghakiman ia lontarkan, dirinya pun tidak dapat dihakimi oleh siapapun. Kesalahan tak terdapat di dalam dirinya, sama sekali.


Mengenai ini, saya diingatkan oleh sebuah catatan penting mengenai Yesus yang pada derajat yang begitu kuat diperhadapkan dengan sistem peradilan dunia yang dapat ditekan oleh massa, dapat ditekan oleh kekuatan politik keagamaan tertentu, dapat diwarnai oleh konspirasi politik demi stabilitas sebuah negara atau pemerintahan, dan dalam hal demikian sekalipun, Ia Yesus tak terbantahkan terbukti tak bersalah sama sekali. Catatan penting yang saya maksudkan adalah ini: disepanjang pelayanan Yesus yang memberitakan dirinya adalah kabar baik dari Allah dan juga menghakimi dosa demi dosa manusia, ia memang sama sekali tak  memiliki kesalahan apapun pada dirinya sendiri, bahkan status demikian dinyatakan sebagai sebuah status legal oleh pengadilan negara  yang begitu cermat mencari kesalahan-kesalahan pada dirinya yang mungkin saja terlewatkan dari pengamatan  para ahli hukum Taurat:


Lukas 23:1 Lalu bangkitlah seluruh sidang itu dan Yesus dibawa menghadap Pilatus.


Lukas 23:2 Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja."


Lukas 23:4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini."


Lukas 23:10 Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia.


Lukas 23:13 Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat,

Lukas 23:14  dan berkata kepada mereka: "Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.


bukan hanya Pilatus yang tak dapat menemukan kesalahan apapun pada Yesus sebagaimana yang dituduhkan oleh para imam-imam kepala [jadi, yang melontarkan penghakiman ini adalah sebuah dewan ulama yang begitu berotoritas!], namun bahkan raja Herodes tak dapat menemukan satu saja kesalahan pada diri Yesus Kristus:

Lukas 23:15 Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. [bacalah juga: Lukas 23:10-11,12]


Tentulah Herodes harus menjelaskan kepada Pilatus, mengapa Ia mengembalikan Yesus kepadanya.




Sungguh susah dan pasti begitu mengada-ada untuk menghakimi seseorang yang tak bersalah, dan sungguh kuat penghakiman yang dilakukan oleh orang yang tak memiliki salah, apalagi jika sama sekali.


Perhatikan saja penghakiman yang dilakukan oleh seorang yang tak memiliki kejahatan yang sedang dihakiminya. Apalagi jika anda memperhatikan sebuah tindakan penghakiman yang begitu kuat  untuk menentukan  bagaimanakah keakhiran manusia itu didalam kekekalan. Dia bukan sekedar tak bersalah, namun sama sekali tak memiliki kesalahan apapun juga, dan inilah penghakimannya kepada manusia-manusia:


■Matius 5:27-28 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka


Ini adalah penghakiman yang luar biasa, sebab bahkan Sang Hakim sudah menjatuhkan vonis  dicampakan ke dalam neraka untuk sebuah kesalahan tunggal yang bahkan  barang buktinya tak dapat disaksikan dan disajikan selain hanya Allah yang mengetahuinya: “keinginan” dan “di dalam hati.” Ini adalah kesucian totalitas pada  Sang Hakim dengan demikian dan kuasa yang dimilikinya bukan saja menghakimi  dengan vonis saat di dunia, namun juga  berkuasa,sebagai hakim, untuk memastikan tak ada yang dapat luput dari eksekusinya pada akhirnya. Manusia bisa saja  meluputkan diri dari sistem peradilan di dunia dengan menyuap dan memanipulasi perkara, namun pada Hakim Yesus, tidak akan pernah terjadi.


Itu sebabnya Matius 7:1-5 saat membicaralan “jangan kamu menghakimi,” dilengkapi oleh Yesus dengan identitas atau jati diri  siapakah sebetulnya orang yang menghakimi itu, bahwa yang sedang Yesus bicarakan adalah: “hakim munafik.” Jika anda sedang menghakimi seseorang atas sebuah perkara, janganlah pernah anda juga adalah pelaku kejahatan yang sama. Janganlah seorang hakim menghakimi tindak perkara korupsi, sementara dirinya sendiri adalah pelaku kejahatan yang sama. Dalam hal ini, Yesus berkata begini: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”


Itu sebabnya, pada kesempatan lain, Yesus mengajarkan bagaimana sebuah penghakiman harus dilakukan oleh manusia:

Yohanes 7:24 Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil."


Penghakiman itu adalah instrumen penting untuk menghadirkan keadilan. Betapa malangnya dunia ini sebab peradilan di dunia bahkan dapat memberikan diskriminasi bagi para hakim atau para penguasa hukum dunia ini, untuk steril dari kejaran hukum sementara ia melakukan kejahatan demi kejahatan. Penghakiman bukan saja untuk menunjukan kesalahan namun juga melindungi siapapun yang lemah atau tertindas atau dimanipulasi atau diserongkan oleh berbagai ragam kejahatan sementara  instrumen penghakiman itu dijalankan atas nama kebenaran dan keadilan, oleh manusia!


Realita dunia ini sungguh menjijikan. Hakim  bisa jadi tak bedanya dengan para bandit, kadang kala atau kerap kali. Hakim di sogok atau hakim yang membuat keputusan yang bertentangan dengan nilai keadilan. Ini sebetulnya menunjukan realita tunggal dunia dan tentu saja segenap manusianya: semua jahat, semua bejat total.


Manusia-manusia Israel adalah representasi kebejatan total pada  diri manusia yang begitu cantik memoles diri sebagai mulia dihadapan hukum sehingga lancang terhadap kemuliaan keadilan dan kebenaran yang harus ditegakkannya tanpa kemiringan sedikitpun.


Dalam epistel Roma perihal ini diajarkan dalam kaitan dengan mengajarkan kebenaran Allah yang menghakimi semua manusia sebagai semua berdosa:


Roma 2:21 Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?

Roma 2:22 Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?


Penghakiman yang dilakukan oleh seseorang, itu menuntut sebuah integeritas:” bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?



Jika anda menghakimi Yesus dan pengajarannya sebagai tak benar. Bahwa keselamatan berdasarkan kasih karunia adalah sesat; bahwa jika Yesus menyelamatkan seseorang maka orang tersebut akan benar-benar sampai ke sorga sebab Ia menyertai, menuntun dan mendidiknya/membentuknya selama di dunia ini dan anda mengatakannya sesat, maka anda harus lebih unggul daripada Yesus. Minimal anda  memang  berkuasa untuk menyelamatkan dan telah sukses menghantarkan sejumlah orang ke sorga berdasarkan pengajaranmu. Demikian juga, jika saya menghakimi pengajaran seorang hamba Tuhan, maka haruslah saya sendiri tidak melakukan kejahatan yang sama, kejahatan pengajaran yang sedang dihakimi berdasarkan Yesus Kristus SANG FIRMAN YANG TELAH MENJADI MANUSIA yang merupakan penggenap segenap perjanjian lama [ Lukas 24:27, 44  atau tulisan para nabi yang diinspirasikan oleh Roh Kudus [1Pet 1:10-12].


Mengajarkan firman Tuhan pada dasarnya menyampaikan penghakiman Allah; menyampaikan kebenaran Allah, itu bagaikan meletakan kekudusan Allah [Roma 7:12] di permukaan bumi ini yang kian lama akan kian menunjukan betapa berdosanya manusia itu, sebab hanya karena mengingini saja, satu kali saja, sudah mendatangkan kematian kekal sebagaimana Yesus  telah mengajarkannya.[ bandingkan juga dengan Roma 7:7]



Jadi seorang hakim haruslah memiliki kebenaran Kristus didalam dirinya sendiri, bisakah anda membayangkan dirimu yang telah menghakimi Yesus dengan segenap kebenaran keselamatan kasih karunia yang berlaku bagi seluruh dunia, bahwa tak ada keselamatan di luar dirinya, bagaimanapun, adalah sebuah ketakbenaran sehingga perlu dikoreksi menjadi “ada keselamatan di luar Kristen,” padahal Yesus menyatakan dirinya adalah satu-satunya  sumber kebenaran keselamatan:


Yohanes 8: - (21) Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang."(23) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. (24) Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." (26) Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia."(28) Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.(29) Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya."(31) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku (32) dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (34) Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.(35) Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.(36) Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."


Inilah kebenaran Yesus yang menghakimi siapapun yang menghakimi dirinya, yang menentang dirinya, yang berkata bahwa dirinya  memiliki kebenaran tersendiri yang terlepas dari Kristus, terlepas dari pengajaran Kristus dan terlepas dari karya keselamatan Kristus. Seperti yang ditunjukan secara keras oleh orang-orang Yahudi:

Yohanes 8:33 Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?"


Dan dalam hal ini, kebenaran yang sedang dibicarakan  oleh Yesus, adalah  kebenaran tanpa cela dan berkuasa untuk menyelamatkan dan adalah dirinya sendiri! Bukankah manusia itu sendiri menghendaki kebenaran tanpa cela dan juga berkuasa untuk menyelamatkan dalam nuansa kuasa yang sanggup menaklukan apa yang tak dapat ditaklukan oleh manusia? Sehingga memang di dalam kebenaran-kebenaran luhur dan kebenaran-kebenaran spiritualitas  di dunia ini, memang berupaya menjawab apa yang diinginkan oleh manusia, yaitu kesejahteraan lahir batin dan keselamatan jiwa, namun apa daya, tak berdaya sama sekali. Itulah yang hendak ditelanjangi dalam Roma 2:21-22, bahwa pada diri manusia itu sendiri tak akan pernah lahir kebenaran tak bercela. Kebenaran orang percaya itu sendiri adalah kebenaran Kristus diperhitungkan pada diri manusia itu : Roma 3:21-24. “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus – Roma 3:24.”


Harus diperhatikan bahwa  Matius 5:21-48  walau memang memperlihatkan Yesus sedang mengunjukan sebuah standard yang lebih tinggi, bukanlah sedang mengetengahkan itu sebagai sebuah hal yang dapat digenapi oleh  manusia, atau dengan demikian manusia itu diperlengkapi dengan kuasa dari  atas untuk melakukan itu. Sebaliknya kuasa dari atas diberikan kepada mereka yang percaya kepada Kristus sehingga mereka dilahirkan menjadi anak-anak Bapa berdasarkan kehendak Allah:


Yohanes 1:12-13 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.



Ia datang untuk menggenapi kitab Taurat dan kitab nabi-nabi bukan seolah Ia sedang membawa hukum Taurat yang lebih tinggi saat datang ke dalam dunia ini agar menjadi modal dasar bagi manusia pengikut Kristus untuk kemudian memperjuangkan keselamatannya, sebagaimana halnya seorang manusia yang diberikan kepintaran dan kekuatan dan segenap fasilitas di dunia ini oleh Allah untuk bekerja keras dan rajin sehingga dapat membawa pulang uang dan mencukup kebutuhannya sendiri hari demi hari secara mandiri!  Tidak sama sekali demikian.



Ketika Yesus menggenapi semua itu, maka tak terkandung sebuah ketakudusan didalam motif dan akibat setelahnya. Yang kudus datang kedunia ini untuk menguduskan siapa yang dikasihi-Nya,  pada sisi lainnya, kekudusan pada diri orang percaya yang lahir dari tindakan pengudusan Allah, melahirkan sebuah kehidupan yang teruji dihadapan kegelapan dunia ini:


1 Petrus 3:15-16 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.


Janganlah menghakimi sebagai orang munafik, dengan demikian, senilai dengan janganlah hidup sebagai orang munafik. Jika katamu,  dirimu adalah pengikut Kristus maka kehidupanmu di dalam dan dihadapan dunia ini memancarkan Kristus, sebab dalam hidup sebagai pengikut Kristus maka dunia ini senantiasa mencari kesempatan untuk menghakimi dengan penghakiman yang munafik, sebagaimana dahulu terhadap Kristus.


Dalam Kristus datang ke dalam dunia ini menggenapi  hukum Taurat dan kitab para nabi, itu dengan demikian, bukan malah membebaskan kita dari pengabdian kepada kebenaran dan segala yang kudus dari Allah, dan kemudian berperilaku seperti binatang-binatang yang hidup diluar kandang tuannya! Penggenapan oleh Kristus membuat setiap orang percaya dapat menjadi para pengabdi [bukan penggenap] kebenaran-kebenaran Allah  kudus dalam sebuah sukacita penuh kasih bersama Kristus. Kesanggupan orang-orang percaya menjadi para pengabdi iman dan tindakan kebenaran Allah, bukan lahir dari kemampuan dan kekuatan manusia tetapi  tindakan Allah saja:


Matius 11:27 (27)Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. (28) Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.(30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."


Mengenal Kristus adalah anugerah-Nya: “tidak seorangpun mengenal Anak selain… orang yang kepada-Nya Anak itu berkenan kepadanya.” Tetapi jangan pernah menyangka percaya atau beriman kepada Kristus itu bukanlah sebuah kehidupan sehari demi sehari bersama Yesus melakukan segala kehendak-Nya, sebaliknya: “pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah  pada-ku, karena Aku lemah lembuh dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Tahukah anda bahwa ketenangan jiwa di dunia ini terletak pada  menerima segenap kehendak Bapa yang disematkan pada dirimu dan belajar pada Yesus untuk melakukannya [sebab dialah satu-satunya yang tahu secara sempurna mengetahui kehendak Bapa dan melakukannya]. Dalam hal ini anda bersama-sama dengan Yesus didalam kuk itu. Yesus yang memandang setiap orang percaya sebagai saudaranya [Ibrani 2:11]. Mengapa Ia satu kuk bersama setiap orang percaya? Karena Ia adalah Anak Manusia yang dapat merasakan kelemahan-kelemahan manusia, ia bahkan memiliki kelemahan-kelemahan manusia itu sendiri sehingga ia dapat berkata “belajarlah padaku karena Aku lemah lembut dan  rendah hati,” ini adalah sebuah persekutuan yang hanya dapat dilakukan karena Bapa telah merendahkan Yesus untuk beberapa saat lamanya untuk mendatangkan keselamatan bagi manusia yang dikasihi-Nya [ Ibrani 2:7,9,14].


Yesus yang datang ke dalam dunia untuk menggenapi dan di dalam penggenapan itulah ia memiliki dasar terkokoh dan kudus untuk menunjukan bagaimana Ia menghakimi manusia berdasarkan dirinya sendiri sebagai satu-satunya penggenap atas “standard-standard yang lebih tinggi itu,” sementara para ahli Taurat dan para orang Farisi telah dinyatakan bukan saja tak dapat menggenapi namun sudah memvonisnya ke neraka.  Para ahli  Taurat dan orang-orang farisi adalah para hakim  yang menampilkan dirinya sebagai mereka yang munafik dan sungguh menjijikan bagi Yesus:


►Matius 23:2-5 Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang


►Matius 23:12 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Ini luar biasa dan mengerikan. Bagaimana bisa mengajarkan keselamatan berdasarkan perbuatan melakukan Taurat namun diri sendiri tak berdaya untuk menggenapinya? Itu sebabnya mereka adalah para hakim di Kursi Musa yang bahkan dirinya sendiri sebagai pohon kebenaran bahkan dibinasakan-tak masuk ke dalam pintu kerajaan sorga. Bandingkanlah dengan yang bukan sekedar hakim yang menghakimi belaka, tetapi hakim yang menggenapi segenap pasal-pasal kebenaran yang menjadi dasar penghakiman dan bahkan menjadi pintu atau jalan keselamatan itu sendiri melalui percaya dan hidup didalam persekutuan dengannya untuk hidup bagi kehendak Bapa yang mulia!




►Matius 23:15 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Ini pun luar biasa dan mengerikan.  Apa  yang dapat dilahirkan oleh manusia-manusia bejat [munafik] yang diharapkan menjadi penuntun dan pendidik bagi orang lain? Tak ada! “mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang dan menjadi pengikut-Nya,” ini pun dilakukan oleh Yesus [ Matius 9:35, Matius 4:23, Matius 9:35; Markus 1:14, Markus 1:21, Markus 1:39; Lukas 4:15, Lukas 4:43, Lukas 4:44, Lukas 6:6, Lukas 8:1, Lukas 13:10, Lukas 16:15-16; Yohanes 6:59, Yohanes 18:20], namun setiap orang yang telah ditobatkan oleh Yesus akan mengalami persekutuan dengan dirinya dan hidup bagi kehendak Bapa-Nya [Yohanes 15:14-17].


Yesus adalah hakim bagi seluruh kebenaran  yang ada di dunia ini. Vonisnya sudah dinyatakan: semua berasal dari bawah dan tak ada satupun yang berkuasa untuk menghantarkan manusia itu sampai pada keluputan dari  kematian kekal. Tak satupun bahkan yang dapat membawa manusia itu kedalam persekutuan dengan Allah secara amat karib sehingga memanggilnya Bapa, bahkan Yesus sendiri menjadi saudara bagi orang beriman itu agar dapat belajar melakukan kehendak Bapa. Kini Ia di sorga dan tetap memandu orang-orang beriman agar sampai kepada Bapa secara aman:


►Ibrani 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,


►Kisah Para Rasul 1:9-11Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka, Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."


Ibrani 7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka


Yesus, satu-satunya  hakim yang berkenan di hadapan  Allah. Ini hal yang tak dapat diperbadingkan dengan hakim-hakim manapun. Ia adalah Hakim yang bahkan berkuasa memastikan keselamatan setiap orang yang diselamatkannya benar-benar mengalami keselamatan sempurna pada akhirnya berdasarkan karyanya yang telah dilakukan dan karyanya yang hingga saat ini masih berlangsung: "senantiasa menjadi Pengantara mereka," untuk memastikan perjalanan setiap orang percaya menunju penggenapannya atau menuju tanah sorga itu, aman dan pasti dicapai!


Dalam ke-hakiman-an semacam atau semulia inilah, semuanya telah divonis oleh Kristus, sebagai berada didalam kegelapan dan tak berdaya atas kuasa dosa, maka, jika Yesus datang hanya untuk menunjukan standard Allah yang lebih tinggi lagi bagi manusia, maka itu adalah hal yang tak berfaedah dan dengan demikian Yesus bukan datang untuk menggenapi hukum Taurat.


Bukankah Ia sejak mulanya berkata: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi- Mat 5:17-18.


Bukankah standard-standard yang lebih tinggi itu “tetapi aku berkata kepadamu” adalah  penghakimannya atas pohon :para ahli Taurat dan para orang  Farisi? Dimana Ia telah memvonisnya: hukuman neraka kekal! Secara substansi maka standard-standard yang lebih tinggi itu sedang menunjukan bahwa semua standard kebenaran di luar “tetapi Aku berkata kepadamu” dengan demikian   bukan kebenaran berstandard Allah. Ini adalah penghakiman semesta atas semua manusia, bahwa semuanya tak ada yang benar dihadapan Allah.


Matius 7:1-5 dengan demikian menunjukan kesempurnaan Yesus dan kesempurnaan kebenaran  Allah di dalam penghakiman, bahwa penghakiman Allah menyatakan semua manusia  memiliki kesalahan yang sedemikian mematikannya sehingga tak satupun manusia pada hakikatnya dapat sama sekali menghakimi berdasarkan keadilan dan hukumnya sendiri!


Setiap kali penghakiman dilangsungkan, maka sebetulnya hakim-hakim manusia sedang dihakimi. Hanya ada satu hakim manusia yang tak mengalami penghakiman saat melakukan penghakiman, ia adalah: Anak Manusia: “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia - Yoh 5:27.


▓Jika hanya Yesus yang memiliki kuasa untuk menghakimi, itu menunjukan bahwa hanya dia saja manusia yang pada saat menghakimi tak dapat dihakimi dan ditemukan kesalahannya. Ia satu-satunya hakim yang tak perlu sama sekali dikecam dengan “keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”


▓Pengajaran mengenai penghakiman ini, mengajarkan bahwa penghakiman tak boleh dilakukan sebagai sebuah perilaku munafik. Sang hakim harus memiliki kehidupan selaras pada apa  yang sedang dihakimi atau  ia telah mengenali dan meninggalkan atau menghentikan kejahatan yang ia juga lakukan, sehingga Ia di dalam menghakimi tahu bahwa dirinyapun membutuh keadilan dan kebenaran yang tak dapat diserongkan. Dengan kata lain, penghakiman manusia walaupun dilakukan secara benar atau tidak munafik, tetaplah penghakiman yang [kuasanya amat] terbatas. Artinya, penghakimannya tak akan pernah menunjukan bahwa dirinya sendiri tak membutuhkan kebenaran atau dirinya adalah manusia-manusia yang bebas dari penghakiman-penghakiman itu sendiri.


Mengapa? Sebab tak ada satupun yang benar di hadapan Allah [ Roma 3:10; Mazmur 14:2-3]!



Bersambung ke “Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan DiluarKristen”(3Q-3g3):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristen Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”


AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN




The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross


[oleh seorang teolog yang saya lupa namanya]


P O P U L A R - "Last 7 days"