0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (3Q-3d)


“Keselamatan Kristus Juga Untuk Mereka Yang Tak Beriman Kepada-Nya”

Oleh: Martin Simamora


Bacalah lebih dulu bagian 3Q-3c

Ketika siapapun membaca Matius 7:24-29, sebagaimana dikutipkan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono, sebagai salah satu kontruksi pengajarannya yang membukakan pintu untuk keluarnya pengajaran semacam ini “Walaupun mereka tidak menerima Yesus tetapi memperlakukan sesamanya secara benar” [paragraf 21] maka harus dicamkan bahwa Yesus sedang mendasarkan pengajarannya pada fundamental tunggal: memiliki kehidupan Kristus sehingga memiliki kuasa untuk hidup berbuah. Kelihatan membosankan, bukankah, mendengarkan “pohon dan buahnya?” Saya   berharap jangan, sebab hal ini adalah jiwa atau kehidupan dari sorga yang dibawa oleh Yesus kala Ia lahir ke dunia ini. Mari terlebih dahulu membaca ini:

Matius 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik

Matius 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Ketika Yesus membicarakan Matius 7:24-29, dan kemudian oleh pendeta Erastus diajarkan sebagai  manusia harus berusaha berkenan kepada Allah agar digarap [bahkan untuk digarap saja, manusia itu harus berjuang untuk berkilau agar menjadi titik perhatian Tuhan yang bernilai untuk diperhatikan], maka Yesus sama sekali tidak demikian. Ketika perbuatan-perbuatan baik tidak juga dihasilkan oleh sebuah pohon, maka  bagi Yesus yang harus disalahkan adalah pohonnya. Pohonnya yang diperiksa, bukan cabang! Mengapa demikian, bukankah Yesus pada Yohanes 15 menunjukan problem ada pada cabang yang  tidak berada didalam Kristus?


Matius 7:24 “"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”

KJ Therefore whosoever heareth these sayings of mine, and doeth them, I will liken him unto a wise man, which built his house upon a rock:

Jika anda memahami  apakah sesungguhnya “perkataan-perkataan-Ku ini” [jadi yang dimaksukan pada alkitab Indonesia, sesungguhnya bukan “perkataan” saja], maka didalamnya kita akan menemukan begitu banyak poin yang menunjukan pada “siapakah pohonnya.” Ada 2 hal  penting  yang harus dipahami di sini:


Pertama:“perkataan-perkataan-Ku ini”  adalah “semua perkataan Yesus dalam pengajaran-Nya kepada para murid-Nyadi hadapan orang banyak.” Jadi, ini sebetulnya bukan pengajaran umum bagi orang banyak, saat Ia mengajar di atas bukit:

Matius 5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Dan “perkataan-perkataan-Ku ini” dimulai dari:
Matius 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:..

yang selesai pada:
Matius 7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan-Ku…..
[baca juga Matius 7:28-29]


disertai dengan peringatan!         


Sehingga apa yang  Yesus maksudkan dengan “setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan-Ku in-Matius7:24" atau permulaan ayat-ayat yang digunakan pendeta Erastus,” pada substansinya menunjuk pada semua  hal yang diajarkan oleh Yesus selama Ia mengajar para murid di atas bukit. Inilah sebuah fondasi pertama yang harus dipahami terlebih dahulu, sebelum kita mencari tahu, benarkah ini perihal manusia yang berusaha untuk berkenan kepada Allah sehingga  akan digarap Allah untuk menjadi serupa dengan Yesus? Jangan keliru, memang semua orang percaya dikehendaki Bapa untuk menjadi serupa dengan Yesus. Yang menjadi sorotan adalah, benarkah kedatangan-Nya ke dunia ini dan pembangunan relasi antara Dia dengan manusia, harus ditentukan oleh manusianya, apakah ia [orang percaya tersebut] berusaha ataukah tidak untuk melayakkan dirinya dihadapan Allah bagi kemurahan Allah memberikan hidup kekal itu?




Datang Dari Sorga Untuk Mengatasi Maut & Memberikan Hidup Di Dalam Diri-Nya

Kedua: Mengapa Yesus  pada kesempatan ini, membicarakan pohon  terkait hal berbuah? Mengapa bukan cabang terkait buah yang menjadi sorotan-Nya? Sebagaimana pada:


Yohanes 15:1 "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.

Yohanes 15:2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

Jikalau kita memperhatikan pada salah satu poin dari “perkataan-perkataan-Ku ini” tepatnya pada Matius 7:18 dan ayat 19 ada sebuah perbedaan tajam:

■pada Yohanes 15, jika pohon anggur tidak berbuah maka  yang menjadi sumber masalah adalah cabang. Cabang dipotong. Menunjukan bahwa orang percaya itu tidak memiliki hubungan dan bukan yang berada di dalam Kristus [Yoh 15:4-5]


■sementara itu, pada Matius 7:18 berkata “Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik”, terkait buah atau keberbuahannya, Yesus memerintahkan untuk melihat atau memeriksa pohonnya. Bahkan, Yesus menegaskan, pohon yang tidak berbuah baik harus dibinasakan :”Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api- ayat 19.” Ini sungguh berbeda dengan Yohanes 15, terkait keberbuahan, jika tidak berbuah sebagaimana dikehendaki atau seharusnya, maka cabangnyalah yang dibinasakan, bukan pohonnya: “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar- Yoh 15:6”

Memang benar, pada pengajaran Yesus dalam Matius 7 ini, baik pohon yang baik dan yang tidak baik itu sama-sama berbuah, hanya saja sungguh berbeda hasilnya: baik dan tidak baik. Pertanyaan pentingnya, mengapa Yesus di sini, membicarakan pohon sebagai sumber masalah? Ini berbeda begitu tajam dengan Yohanes 14 yang menitikkan sumber masalah pada apakah ada relasi dengan Yesus  atau tidak memiliki:

■Yoh 15:4 demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
■Yoh 15:5 Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak
■Yoh 15:5 sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa



Sebuah Sabda Komando “Berbahagialah” Kepada Ciptaan Baru Didalam Kristus

Apa yang harus menjadi fokus tajam di sini adalah: pada Yohanes 15, Yesuslah satu-satunya pokok anggur atau pohon yang benar yang ditempatkan Bapa di dunia ini [Yoh 15:1]. Hanya manusia-manusia yang tak memiliki Kristus dan tidak berada di dalam Kristus akan memiliki masalah mendasar untuk dapat mendengar dan melakukan kehendak Bapa, sebab jika tidak di dalam Kristus maka Ia tak dapat melakukan kehendak Bapa itu  dalam kehidupannya sebagai orang beriman. Orang beriman berbuah atau hidup dalam kehendak Bapa, jika berada di dalam Kristus. Ini poin inti Yohanes 15.


Sementara pada Matius 5-7 yang berisikan pengajaran Yesus di bukit, Ia melakukan perbandingan tajam pada dirinya terhadap:
para ahli Taurat dan orang-orang farisi
nabi-nabi palsu
nilai-nilai dan atau kebenaran-kebenaran yang dianut atau diyakini dunia  


Ketiga hal tersebut  juga adalah sumber pengajaran atau sumber kebenaran, yang sedang disorot [Yoh 1:4,5,9-10] oleh Kristus. Dan dengan demikian dalam Matius 5-7, yang menjadi penekanannya adalah dirinya, bahwa Ia adalah sumber kebenaran sejati , sementara dunia tak mengaminkannya sebab lebih menyukai kebenaran yang dilahirkan kegelapan yang menguasai dunia ini [Yoh 3:19-21].  Inilah yang pokok-pokok yang sedang disorot oleh Yesus didalam pengajaran-Nya di bukit.


Itu sebabnya Yesus memulai pengajaran dengan menyatakan bahwa Allah adalah sumber kehidupan yang memberikan kemampuan untuk  dapat melakukan apa yang dikehendaki-Nya sekalipun sangat sukar dan mustahil pada manusia:


[mengapa sukar dan mustahil, akan turut dijelaskan]


■orang yang berdukacita – 5:4
■orang yang lemah lembut – 5:5
■lapar dan haus akan kebenaran – 5:6
■murah hati-5:7
■suci hatinya-5:8
■membawa damai-5:9
■yang dianiaya oleh kebenaran -5:10
■dicela dan dianiaya serta dilemparkan segala fitnah  oleh sebab Yesus Kristus-5:10


Perhatikan baik-baik, atas semua ini, Yesus berkataberbahagialah.” Artinya bukan sama sekali perintah yang bernilai kewajiban legalistik, tetapi kehidupan dalam jiwamu atau memang jiwamu hidup bagi atau dipersembahkan bagi  nilai-nilai demikian. Mana mungkin menjadi kebahagiaan kalau bukan sebuah kesukaan atau sebuah kehidupan jiwa!

Nilai-nilai ini memang berbicara sebuah kemampuan jiwa untuk hidup di dalam nilai-nilai demikian, dan juga melakukannya sebagai sebuah hasrat  yang membahagiakan untuk dikerjakan, seperti sebuah hal yang membahagiakan. Jiwanya berbahagia untuk melakukannya karena memang dia  diadakan untuk itu semua:
■ “Kamu adalah garam dunia”- Mat 5:13
■“Kamu  adalah lampu untuk menerangi dunia”- Mat 5:14

Garam memang secara natural akan mengasinkan dengan penuh kebahagiaan, tak perlu ia berusaha keras agar asin keluar dari dirinya. Juga pada lampu, ia memang pada hakikat dapat bersinar. Apa yang menjadi problem adalah jika  “lampu yang bersinar  sebagaimana fungsi yang melekat pada dirinya namun tidak pada tempat di mana ia harus berada” atau dengan kata lain “orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu”- Matius 5:15. Demikian juga dengan “kamu adalah garam dunia.” Sementara mereka pada dasarnya telah diciptakan menjadi  “garam” yang memang berkapasitas untuk  mengasinkan namun mereka tidak mau mengasini dunia ini  dengan bermurah hati, tidak suci hati, tidak lemah lembut, tidak tetap berpengharapan atau berbahagia sementara penderitaan melanda. Setiap  yang menjadi murid telah memiliki kuasa untuk hidup [ Yoh 1:12-13] sebagai anak-anak Allah, berperilaku sebagai anak-anak Allah di dalam dunia ini di hadapan anak-anak dunia ini.

Mengapa Yesus mengajarkan hal-hal ini sebagai pembuka pengajarannya di atas bukit? Hal terutama  yang harus dicamkan, ini adalah pengajaran khusus bagi para murid di hadapan orang banyak. Matius 5:10 menunjukan kekhususan pengajaran ini hanya bagi para murid. Dengan demikian kala Yesus mengucapkan serangkaian kata-kata berbahagialah, maka  kita menjadi mengerti, semua itu adalah kehidupan yang berdiam di dalam jiwa para murid, karena Yesus memerintahkannya dengan awalan “berbahagialah”, sebuah  awalan sabda KOMANDO  atau PERINTAH yang janggal  pada hal yang  secara cepat dapat dipahami sebagai sebuah hal yang harus diperjuangkan untuk dilakukan pada diri manusia dengan kekuatan dan kegigihannya. Satu-satunya penjelasan adalah: Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang menjadi muridnya adalah ciptaan-ciptaan Allah yang dipersiapkan untuk memberikan dampak bagi dunia, sehingga Bapa dimuliakan dihadapan orang banyak, dalam segala  tantangan dan risiko. Tak aneh dan sangat rasional, Yesus menyebut mereka “kamu adalah terang dunia” dan “kamu adalah lampu/pelita yang pada hakikatnya menunjukan pada benda yang memberikan kehidupan oleh karena naturnya memang demikian.” Ia bersabda untuk melahirkan kehidupan baru atas murid-murid-Nya. Sabdanya adalah kehendak-Nya dan para murid menjadi murid-murid-Nya atau yang percaya kepada-Nya , lahir dari kehendak-Nya:

“….diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah”-Yoh 1:12-13

Sehingga memang benar, haruslah dipahami bahwa kala Yesus memerintahkan berbahagialah yang lemah lembut, yang suci hati dan yang  dianiaya oleh kebenaran, tak perlu bersusah payah untuk menyamarkan atau melemahkan perintah itu sebagai yang bukan sebenarnya. Tak perlu kuatir bahwa itu semua adalah perintah Yesus yang menunjukan bahwa manusia harus berjuang keras pada dirinya sendiri untuk berkenan bagi Allah. Tidak sama sekali, karena Yesus berkata “berbahagialah” sebab inipun tidak boleh disamarkan maknanya sebagaimana tidak boleh menyamarkan berbahagialah yang suci hatinya, sebab ini bukan kemampuan dirimu. Hal semacam ini kemampuannya bersumber dari sabda Yesus yang melahirkan anda didalam kehendak-Nya untuk melakukan sesuai dengan firman-Nya. Firman-Nya menjadikan anda sebagai murid-murid yang makin bertumbuh dan makin produktif bagi Tuhan dihadapan dunia [bandingkan perihal ini dengan “setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah- Yoh 15:2”].


Jika melakukan sesuatu adalah kebahagiaan: “berbahagialah orang yang suci hatinya” maka itu pasti sesuatu yang begitu istimewa dan tak dapat dicapai oleh manusia manapun. Ini hal yang senilai dengan “"Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” Mat 16:17.

Mengapa semua perintah berbahagialah  adalah hal yang bagaikan “Simon dapat mengenali Yesus?” Tidak lain tidak bukan, karena pada dasarnya semua “berbahagia” yang diucapkan oleh Yesus, adalah pemberian berdasarkan ketakberdayaan manusia. Mari kita periksa pada:
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah- Mat 5:8

Tahukah anda, bahwa Yesus, di sini, sedang membicarakan sebuah kesucian hati yang bertautan dengan melihat Allah? Tunjukan pada saya, satu saja manusia pada generasi manapun di luar Yesus  yang karena suci pada hatinya sendiri, berdasarkan kesucian hati dapat melihat Allah? Bahkan para nabi kudus Allah tak ada yang dapat melihat Allah bahkan berdasarkan sucinya hati mereka, kalaupun bias diraihnya! Ini poin  nomor satu yang menunjukan bahwa kesucian yang dibicarakan disini, bukan dari dunia atau bernilai keduniaan ini.

Poin nomor duanya adalah “melihat Allah.” Tahukah anda bahwa Allah tak dapat dilihat dan hanya Yesus yang dapat melihatnya?
Perhatikan hal ini:

Yohanes 5:37 Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,


Melihat Bapa, bagi Yesus adalah melihat dirinya! Dan untuk dapat melihatnya, bukan hal alami  pada manusia:
Yohanes 14:8-11 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.


Mau sesuci apakah manusia itu agar dapat melihat Dia yang memang pada hakikat-Nya tak mungkin untuk dilihat? Sebab manusia tak pernah melihat. Jika tak pernah, apakah dasarnya untuk berkata: ya benar memang itu Bapa, kalaupun benar ada yang mengaku melihat-Nya? Apakah rujukan bagi rupa-Nya dan suara-Nya? Dan tak ada satupun tulisan suci yang memberikan rujukan raut muka  Dia Sang Yang Tak Terlihat itu!

Lagian Yesus berkata “Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja”-Lukas 18:19.

Jika tak ada yang baik, lalu apa lagi dasar bagi Yesus untuk masih berkata ada manusia yang dapat suci hatinya. Dalam hal ini kita menjadi pasti bahwa “berbahagilah yang suci hatinya” adalah hal yang ilahi, bukan sekedar kemuliaan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan. Bagi manusia berbicara kesucian hati dikaitkan dengan dapat melihat Allah, sungguh tak manusia dan sebuah candu pada hal Tuhan, sementara dapat dicapai tanpa Tuhan. Bagi manusia, kebaikan tak perlu melibatkan Tuhan. Dalam hal ini kala Yesus berkata “berbahagialah yang suci hatinya, akan melihat Allah,” Ia sedang berkata kepada dunia, bahwa hanya kesempurnaan yang semacam ini saja yang berkenan kepada-Ku. Kalau dunia menilai mampu untuk suci hati tanpa diri Kristus, maka memang dunia dapat mencapainya, tetapi jangan  pernah menyimpulkannya sebagai memenuhi kehendak Allah. Karena kehendak Allah adalah kesempurnaan : dapat melihat  Allah.



Itu semua Bukan Pintu [-Pintu] Lain Menuju Keselamatan Tanpa Yesus: “Faktor Absolut Sekiranya Mengenal Yesus, Mengenal Bapa”

Pada semua “berbahagialah,” disinilah nilai atau poin sentral yang harus diperhatikan. Sehingga pada hal yang nampak terlihat begitu normal seperti: “berdukacita”, “lemah lembut”, “lapar dan haus akan kebenaran,” “murah hatinya,” tak boleh ditakar sebagai sebuah nilai umum sebagaimana yang dikenal dunia, tetapi harus diperlakukan sebagai yang ilahi atau setara dengan “ yang suci hatinya maka melihat Allah,” “membawa damai akan disebut anak-anak Allah,” “yang dianiaya oleh kebenaran akan menjadi empunya kerajaan Allah.” Pada hal-hal yang ilahi ini pun bukan sebuah keilahian yang dapat dicapai oleh manusia pada dirinya sendiri, atau tak memerlukan perjumpaan dengan Kristus sama sekali dalam keberimanan atau bahkan tak memerlukan keberimanan pada Kristus. Yang penting dari kejauhan, orang tersebut melakukan apa yang dikatakan Yesus tanpa  wajib memiliki Sang Sabda. Elemen-elemen “maka melihat Allah,” “akan disebut anak-anak Allah,” “akan menjadi empunya kerajaan Allah” bukanlah pintu-pintu keselamatan lain yang tetap terbuka bagi siapapun yang sanggup untuk bersuci hati, yang sanggup menjadi  juru-juru damai, dan yang sanggup bertahan dalam aniaya demi sebuah kebenaran, sementara Yesus memang satu-satunya juruselamat khusus untuk yang Kristen saja! Ini bukanlah sabda  perjuangan hak-hak asasi manusia, kesetaraan iman, toleransi iman, dan apalagi sabda pembangunan moral manusia. Tidak sama sekali. Ini bukan sabda  perjuangan hak asasi manusia  atau kebenaran yang harus  dilakukan demi kemanusiaan. Tidak, sebab Yesus menjadi sentral dari deret komando berbahagialah:

Matius 5:16-19 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Mengapa deret sabda bersifat komando "berbahagialah" itu bukan sabda kebenaran universalitas? Karena Yesus sediri berkata “supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Ingat, orang-orang dunia tanpa Kristus dapat menunjukan kebaikan-kebaikannya, tetapi apakah dapat memuliakan Bapa di sorga? Bapa. Yesus menyebut Allah dalam sebuah relasi intim dengan Bapa.

Bagaimana manusia dapat berelasi dengan Tuhan Alam Semesta sehingga dapat memanggilnya Bapa? Lihatlah perkataan atau sabda Yesus ini:

Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Yohanes 14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."

Anda baru dapat memuliakan Bapa jika mengenal Yesus; anda harus mengalami perjumpaan dengan Yesus baru dapat mengenal Bapa sehingga perbuatan-perbuatan baikmu itu memuliakan Bapa.


Apa yang begitu frontal terhadap orang-orang tanpa Kristus, yaitu pada penggambaran mengenai siapakah orang percaya dalam pandangan Yesus sendiri: “orang percaya itu memiliki terang” sehingga Yesus mendahului “perbuatan-perbuatan baik dihadapan orang itu memuliakan Allah.” Dengan siapakah, saya dan anda dapat memiliki terang yang dapat bersinar melawan dunia? Bagaimana bisa terjadi? Sekali lagi karena saya dan anda memiliki Yesus:

Yohanes 8:12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."


Tak ada sama sekali,  Yesus berbicara mengenai perbuatan-perbuatan baik yang dapat menjadi pintu masuk ke kehidupan kekal  dalam berkat- bukan dalam hukuman abadi. Atau dengan kata lain, pengajaran di bukit oleh Yesus bukan pengajaran bagi orang yang baik namun menolak Yesus atau tak mau beriman kepada Yesus. Hanya ajaran yang penuh muslihat saja yang sanggup mengajarkan demikian.


Bersambung ke “Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen”(3Q-3e):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristen Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross

[oleh seorang teolog yang saya lupa namanya]





P O P U L A R - "Last 7 days"