0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (3D)


“Keselamatan Kristus Juga Untuk Mereka Yang Tak Beriman Kepada-Nya”

Oleh: Martin Simamora
Memancing kepiting di Laut Bering yang sedang dilandai badai - Hak Cipta: Karen Ducey Multimedia
Bacalah lebih dulu bagian 3C

Jika anda mengikuti rangkaian tinjauan ini, maka salah satu penyimpangan menyolok yang dilakukan pendeta Dr.Erastus Sabdono, adalah: melakukan pengisolasian  kata atau bagian dari sebuah ayat  dari keseluruhan kalimat dan atau ayat, termasuk mengisolasinya dari bangun perikop, kitab, Injil atau Epistel, dan keseluruhan Alkitab itu sendiri. Mengisolasinya dan kemudian menariknya keluar hingga benar-benar terlepas dari historis keberadaan bagian itu pada asal-usul yang menjiwai atau yang membangunkan kebenaran pada teks-teks tersebut, untuk kemudian diberikan kehistorisan baru yang teramat asing, sehingga pada akhirnya membungkam kehistorisan gagasan yang hendak dibunyikan pada aslinya sebagaimana maksud penulis asli. Inilah yang saya maksudkan, bahwa pendeta Dr. Erastus Sabdono bertindak represif terhadap teks-teks yang memang tak berdaya dan tak dapat memprotes kala  ia diperlakukan demikian. Misalkan saja, pada contoh kasus ini :

Kelompok ketiga ini tidak membenci terhadap Anak Allah tetapi juga tidak mengasihi. Mereka hanya menghormati Tuhan Yesus dan Injilnya beserta dengan Pengikut-Nya pada batas toleransi beragama. Berkenaan dengan kelompok orang seperti ini Tuhan Yesus menyatakan: “… sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk 9:50)

Sebagaimana yang dapat anda baca pada paragraf 6 dalam “Keselamatan Di Luar Kristen – 03, By Dr.Erastus Sabdono.” Bagaimana bisa Lukas 9:50  yang merupakan perstiwa eksorsis atau pengusiran setan dari dalam diri manusia, digunakan untuk mendukung pengajarannya bahwa ada “kelompok ketiga?” Sementara Yesus sendiri senantiasa mengaitkan pengusiran Setan dengan kuasa pengutusan yang berasal dari dirinya dan keberimanan dengan dirinya, tak ada Setan yang dapat takluk pada diri seorang manusia  hanya sekedar mengucapkan namanya, sebab mengusir setan bukan dengan mengucapkan MANTERA nama Yesus. Mengusir setan demi nama Yesus tanpa relasi iman pada dirinya, sama dengan menyatakan bahwa semua orang cukup menghapal nama Yesus bagaikan mantera.” Saya tak akan mengulas ini, sebab tepat pada Lukas 9:50 saya sudah menjawabnya pada “ Tinjauan Bagian 2M.”

Pada kesempatan ini, saya akan memperlihatkan bagaimana model represif digunakan oleh Pendeta Dr. Erastus Sabdono dalam spektrum yang lebih luas.


Keselamatan Bukan  “Merasa Selamat” Tetapi Kasih Karunia Allah Yang Memberikan Hidup


Perhatikan pernyataan pendeta Erastus berikut ini:
Kesalahan yang bisa dikategorikan fatal adalah pengertian yang salah mengenai menerima Yesus Kristus. Banyak orang Kristen yang merasa sudah menerima Yesus Kristus dengan dasar atau alasan sudah menjadi orang Kristen dan pergi ke gereja. Hal ini membuat mereka sudah merasa bahwa dirinya adalah umat pilihan dan pasti masuk Sorga, sedangkan mereka yang tidak menjadi orang Kristen dan tidak pergi ke gereja dinilai bukanlah umat pilihan Allah seperti dirinya dan dipastikan masuk api neraka kekal. [ paragraf 9, Keselamatan Di Luar Kristen-03]

Pendeta Erastus menyatakan: “merasa sudah menerima Yesus Kristus dengan dasar atau alasan sudah menjadi Kristen dan pergi ke gereja, sehingga dengan demikian dirinya adalah umat pilihan dan pasti masuk sorga.”


Sekarang, apakah Yesus Kristus dan tentu saja Alkitab memang mendukung  pandangan orang-orang Kristen sebagaimana yang dinyatakan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono. Pastinya tidak. Yesus tidak pernah berkata atau bersabda atau mengajarkan  demikian, saya sudah menjelaskan siapakah dan bagaimanakah seseorang itu menjadi pengikut Kristus  atau seorang pilihan pada  “tinjauan bagian1P,” “tinjauan bagian1i,” “tinjauan bagian1H,” dan “tinjauan bagian1J.” Mari,  sementara anda bisa mempelajari lebih mendetail pada bagian 1P, 1i, 1H dan IJ, saya sajikan bagi anda, sejumlah pengajaran Yesus:

Yohanes 6:35-40 “.....Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman....”

Yohanes 10:9: Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Yohanes 8:24 Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu."

Yohanes 8:31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
[Bacalah juga, “tinjauan Bagian 1U,” khususnya pada bagian lampiran Mymorning dew “ Sentralitas dan Absolutias Yesus.”]

Jelas sekali, bahwa menjadi umat pilihan bukan berdasarkan upaya-upaya manusia untuk membuat dirinya pantas untuk disebut sebagai umat pilihan atau yang diselamatkan sehingga masuk ke sorga. Menurut Yesus, perihal itu sangat bergantung sepenuhnya pada tindakan Bapa atau kasih karunia-Nya, dan di dalam hal itu ada relasi nyata antara Yesus dengan siapapun yang telah diserahkan Bapa kepadanya, yaitu: “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.”


Saat pendeta Dr. Erastus Sabdono melakukan kritisi terhadap kehidupan orang-orang  yang “merasa” Kristen, sebab mendasarkannya pada tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan lahiriahnya sebagai pangkal kesejatian Kristennya atau keterpilihannya oleh Allah, maka, diharapkan ia dapat melakukan koreksi berdasarkan pada apa yang diajarkan oleh  Yesus Kristus.


Namun, faktanya tidak. Justru, ia  telah melakukan kesalahan yang sama fatalnya dengan orang-orang Kristen yang memang salah, dan yang sedang dikritisinya, sebab ia sendiri kemudian membangun sebuah dasar kekristenan sejati yang sama sekali tak berdasarkan pengajaran Kristus. Malahan, ia telah menyerongkan kebenaran itu hingga lepas sama sekali dari kebenaran yang ada didalam diri Yesus Kristus: membangun  pengelompokan manusia berdasarkan relasinya dengan Kristus di era atau zaman anugerah sehingga ada peluang keselamatan berdasarkan penghakiman sementara tanpa kasih karunia Kristus. Saya sudah membantah pengelompokan-pengelompokan tersebut pada bagian sebelumnya : “tinjauan bagian 3C”.

Keselamatan menurut Yesus memang bukan berdasarkan “merasa” selamat yang mendasarkan pada perbuatan-perbuatan lahiriahnya untuk menjadi pangkal penentu bahwa diri orang yang mengaku atau berkehidupan budaya Kristen itu sebagai umat pilihan. Tidak pernah demikian, dan memang benar Kekristenan semacam itu sungguh keliru.


Namun, pendeta Dr. Erastus Sabdono tidak pernah melakukan koreksi kesalahan atau kekeliruan demikian dengan merujuk pada apa yang sebenarnya  Yesus ajarkan. Ia, malahan, menciptakan pengajaran asing:
Kelompok pertama adalah manusia yang menerima Tuhan Yesus. Ini adalah kelompok manusia yang terpilih sebagai umat pilihan dan merespon pilihan Tuhan dengan benar


Kelompok kedua adalah manusia yang menolak Tuhan Yesus. Pengertian menolak disini adalah memusuhi Yesus Kristus dalam bentuk membenci dan mendatangkan kesulitan bagi orang Kristen


Kelompok ketiga adalah manusia yang tidak menerima Tuhan Yesus Kristus tetapi juga tidak bisa dikatakan menolak….

Kelompok ketiga ini tidak membenci terhadap Anak Allah tetapi juga tidak mengasihi. Mereka hanya menghormati Tuhan Yesus dan Injilnya beserta dengan Pengikut-Nya pada batas toleransi beragama. Berkenaan dengan kelompok orang seperti ini Tuhan Yesus menyatakan: “… sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk 9:50). Kadang-kadang orang-orang ini melakukan pembelaan terhadap orang Kristen ketika diperlakukan tidak adil. Mereka tidak berbuat apa-apa yang berarti bagi Tuhan Yesus Kristus karena mereka tidak mengenal Injil dengan benar. Hal ini bisa dimengerti, sebab bagaimana mereka bisa memperlakukan Tuhan Yesus secara pantas sementara mereka tidak mengenal Dia.


Kelompok keempat adalah manusia yang tidak pernah mendengar Injil sama sekali sehingga mereka tidak pernah menerima Tuhan Yesus
Berdasarkan pengklasifikasian semacam inilah, pendeta Dr. Erastus Sabdono kemudian “membuka” peluang keselamatan yang terlepas dari sentralitas keselamatan pada Yesus Kristus.

Tuhan Yesus sudah menyatakan, bahwa mengenal Dia sangat bergantung keberkenan-Nya kepada orang tersebut::
Lukas 10:21-22  Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
Luke 10:22 NIV  "All things have been committed to me by my Father. No one knows who the Son is except the Father, and no one knows who the Father is except the Son and those to whom the Son chooses to reveal him."

KJV “All things are delivered to me of my Father: and no man knoweth who the Son is, but the Father; and who the Father is, but the Son, and he to whom the Son will reveal him.”

Mereka yang tak bisa mengenal siapakah Yesus, oleh Yesus, dinyatakan sebagai akibat “ tidak dipilih oleh-Nya untuk dapat mengenal-Nya.”

Bukannya menjelaskan pandangan Yesus, pendeta Erastus malah membungkam pengajaran Yesus Kristus dengan cara menciptakan pengajaran baru yang   menghasilkan pengklasifikasian-pengklasifikasian lain. Bagi Yesus,  hanya ada 2 klasifikasi: mengenal dirinya atau tidak mengenal dirinya; dalam kedua hal itu konsekuensinya: binasa atau memperoleh hidup yang  kekal:
Yohanes 6:37- 40Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."


Percaya atau mengenal Yesus, mustahil sebagai upaya manusia itu sendiri kecuali kasih karunia atau pemberian Bapa. Dalam orang tersebut mengenal Yesus Kristus sebagai akibat   penyerahan Bapa kepada Yesus, maka orang tersebut pasti memiliki relasi dengan Yesus dimana diri orang tersebut tidak lagi memerintah dirinya sendiri tetapi Kristus:
Yohanes 6:56-57 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.


Seorang Kristen adalah umat pilihan bukan oleh karena “merasa” yang didasarkan karena aktifitas-aktifitas lahiriah apapun yang bermakna rohani. Mustahil rajin ke gereja dan memperjuangkan diri hidup penuh kekudusan akan menjadikan seorang itu menjadi umat pilihan [ingat, dalam relasinya dengan Kristus maka Kristus yang kudus akan memberikan kehidupan baru bagi orang percaya itu untuk belajar didalam kekudusan Kristus, hidup sebagai orang yang dikuduskan dan menguduskan dirinya dalam perbuatan-perbuatan didalam Kristus - Titus 2:11-14]. Apa yang ada, sebagaimana Yesus berkata: seorang adalah orang yang telah dipilih Allah, karena:
-Bapa telah memberikan orang tersebut kepada Yesus Kristus
-Yesus Kristus tinggal di dalam orang tersebut [memiliki relasi di dalam kesatuan dengan Kristus]
-Orang tersebut memiliki hidup kekal oleh Kristus[ bahwa kekekalan itu adalah pemberian sebagai akibat ia telah dipilih oleh Bapa untuk diserahkan kepada Kristus]


Seorang dapat percaya atau mengenal Yesus Kristus, sama sekali bukan karena pertama apakah seseorang itu pernah mendengarkan Injil itu atau tak pernah sama sekali. Dalam hal ini, tidak hendak menyatakan bahwa pemberitaan Injil menjadi pelengkap belaka, sebagaimana sudah saya kemukakan pada bagian sebelumnya.


Injil Yohanes sendiri mendemonstrasikan hal ini:
Yohanes 6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
Siapakah yang sanggup percaya dengan berita Injil bahwa kehidupan kekal ada pada diri Yesus belaka?

Yohanes 6:47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal

Yesus bahkan mengetahui bahwa ini bukan sekedar masalah dapat mempercayainya atau tidak namun menunjukan bahwa perkataan atau pengajaran Yesus di rumah Allah [Yohanes 6:59] ini telah menggocangkan iman, bukan meneguhkan iman:"Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? [Yohanes 6:61].

Apakah perkataannya itu? Itu termasuk bahwa keselamatan  atau hidup kekal hanya ada di dalam dirinya dan bagaimanakah seseorang itu dapat beriman kepadanya, sangat bergantung pada apakah Bapa berkenan atau tidak [ Yohanes 6:36-40; 6:43-44].


Mengapa pemberitaan Injil diri Yesus Kristus menjadi begitu keras dan tak mungkin  untuk diimani, malahan menggoncangkan iman? Penyebabnya bukan pada bagaimana Yesus memberitakan Injil itu dan karena pendengarnya kurang cerdas atau tanggap untuk mengerti, tetapi:
Yohanes 6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."

Bukankah penginjilan itu sendiri adalah kasih karunia? Apakah sebuah wilayah  tak pernah sama  sekali mendengarkan berita Injil ataukah mendengarkan, sangat bergantung pada kasih karunia Bapa kepada para penginjil itu sendiri untuk dapat datang menjangkau dan memberitakan injil itu:

Kisah Para Rasul 13:47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi."

Bandingkan dengan Yesaya 49:6
Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.


Apakah pada akhirnya sebuah suku tak pernah sama sekali mendengarkan Injil?  Apakah keselamatan dari Allah sampai ke ujung bumi? Itu sangat bergantung pada pertama-tama Allah yang memberikan kasih karunia-Nya kepada para penginjil untuk sampai ke ujung bumi tersebut, dan, Allah yang memberikan kasih karunia sehingga  yang mendengar, ada yang dapat datang menjadi percaya  kepada Yesus yang diberitakan itu.


Mengapa bagi mereka yang tak mendengarkan Injil pada tetap harus dikatakan tak memiliki kasih karunia  keselamatan itu? Jawabnya ada pada penjelasan Yesus sendiri:
Kisah Para Rasul 26:15-18 Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.


Mengapa Yesus menghendaki penginjil-penginjil menjangkau bangsa-bangsa lain? Sebab Yesus tahu betapa kehidupan bangsa-bangsa lain itu didalam sebuah tragedi yang tak terpecahkan oleh manusia: bagaimana mereka yang buta terhadap realita rohani mereka, dapat melihat sehingga berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis.
Yesus sendiri pernah mengajarkan perihal ini di  rumah ibadat:
Lukas 4:17-21 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Apakah dasar pemberitaan kabar baik di dalam Yesus Kristus atau Injil yang adalah diri Yesus Kristus sendiri? Dasar pemberitaan itu adalah Yesus yang telah diutus oleh Bapa untuk:
-Memberitakan pembebasan
-Membebaskan
-Memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang

Itu sebabnya, pemberitaan Injil bukan aktifitas yang departemental (pekabaran Injil) seolah-olah itu adalah agenda organisasi gereja atau agenda mendongkrak jumlah orang Kristen sebesar-besarnya atau mengkristenkan sebanyak-banyaknya orang. Bukan itu yang sebetulnya terjadi. Bagi Yesus, tak ada urusannya dengan “kompetisi” semacam itu. Apa yang ingin dilakukannya adalah agar orang-orang  dimanapun berdiri di atas bumi ini dapat mengenal dirinya, mengikutnya dan hidup baginya, berdasarkan kasih karunia Bapa kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ketika anda melihat atau mengetahui bahwa ada sebuah suku yang belum sama sekali terjamah atau mendengarkan berita Injil, maka, ketahuilah, Bapa tahu dan peduli,dan kasih karunia-Nya, jika itu adalah kehendak-Nya, pasti sampai sekalipun begitu sukar untuk dilakukan oleh manusia-manusia yang bergerak melakukan penginjilan itu. Dia sendiri yang menetapkan manusia-manusia penginjilan itu maka Dia sendiri yang memberikan kepada pemberitaan Injil itu, siapa yang akan menjadi percaya. Bukankah itu yang  telah didemonstrasikan oleh Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta?[Bacalah “tinjauan bagian 3B,”  dan “tinjauan bagian 2B.”]

Pendeta Dr.Erastus Sabdono, sama sekali tak punya hak untuk melakukan  tindakan represif kepada kebenaran firman Tuhan, sebab Yesus berkata bahwa Ia sendiri yang akan menggenapkan kehendak Bapa agar kabar baik yaitu dirinya sendiri sebagai pembebas manusia dari kebutaan dan kegelapan Iblis, telah memperhitungkan orang-orang di ujung bumi yang hingga kini belum pernah mendengarkan Injil. Tak pernah ada pengklasifikasian –pengklasifikasian sehingga melemahkan sentralitas keselamatan hanya pada Yesus, sebagaimana telah diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri [ bacalah juga “tinjauan bagian 2C”]

Bumi masih berputar, matahari masih setia terbit di Timur dan terbenam di barat, hingga saat ini; firman-Nya masih berlaku untuk mendatangkan keselamatan dari Allah hingga ke ujung bumi ini. Lalu, apakah dasar baginya untuk menghadang Kristus untuk menjangkau hingga ke ujung bumi, dengan mengatakan kelompok ke empat tidak otomatis masuk ke neraka, sekalipun tak mendengarkan Injil?  Apakah Yesus sudah tidak sanggup melakukannya, atau sudah habis “plafon” kasih karunia Allah di abad modern ini?Apakah pendeta Erastus Sabdono, sudah pernah naik ke sorga dan berjumpa dengan Yesus Kristus sehingga dapat mengoreksi pengajaran Yesus?? Pemberitaan Injil pasti akan menjangkau ujung bumi, dan berdasarkan kasih karunia Bapa, maka, akan ada orang yang datang percaya kepada pemberitaan tahun rahmat Tuhan itu!


Bersambung ke “TinjauanPengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (3E):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristen Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”

AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN

***
The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross
Baca juga:

P O P U L A R - "Last 7 days"