0 Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen” (2”O”)




“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristus Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Agama Kristen”
 Oleh:Martin Simamora

Bacalah lebih dulu bagian 2N
Untuk mengokohkan pengajarannya bahwa ada pola lain keselamatan  atau keselamatan yang dihasilkan oleh kematian Kristus berlaku juga bagi mereka yang tak menerima Kristus, Surat Roma  2:6-16  telah dikutip untuk kepentingan pribadi dan  pengajaran pribadinya, sebagaimana pada paragraph 12:
Jika tidak ada pengorbanan darah Tuhan Yesus Kristus maka tidak akan ada keselamatan sama sekali. Tanpa salib Kristus maka semua manusia tanpa penghakiman sudah langsung dibuang ke dalam lautan api. Justru karena adanya salib itulah maka penghakiman bisa digelar. Inilah injil itu, kabar baik. Injil yang sebenarnya menyelamatkan mereka (Rom 2:6-16). Dalam hal ini yang berhak menghakimi mereka adalah Tuhan Yesus Kristus sebab Tuhan Yesus Kristus telah mati bagi semua orang (Yoh 8:16; Wah 19:11). Sebenarnya ini merupakan jawaban dari pertanyaan: Mengapa Bapa tidak langsung menghakimi mereka yang sudah mati? Penghakiman bisa digelar bila sudah ada kepastian, apakah ada yang bisa menebus dosa. Dan yang bisa membuang para pendakwa (Wah 12:10).

Pertanyaan terpenting, dengan demikian, apakah rasul Paulus sedang memberitakan injil sebagaimana yang telah diajarkan oleh pendeta Dr.Erastus Sabdono? Dan apakah memang,dengan demikian, Roma 2:6-16 tepat digunakan untuk menjadi landasan pengajaran “kesempatan keselamatan bagi mereka yang menolak Kristus” untuk masuk ke dunia yang akan datang, dalam pengadilan akhir zaman, kelak?


Injil Untuk Menuntun Semua Bangsa Kepada Kristus
Jika pendeta Dr.Erastus Sabdono, mengutip pengajaran rasul Paulus, maka mutlak untuk mengetahui bagaimanakah injil atau kabar baik bagi manusia itu? Apakah hanya bagi yang beriman, ataukah juga berdampak bagi keselamatan orang-orang tak beriman kepada Kristus.

                                                                             
Pada bab 1 epistel Roma, Paulus memperkenalkan dirinya sebagai: “hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah”[Roma 1:1]. Ia menunjukan bagaimana relasinya dengan Kristus dan apakah panggilan baginya [Kisah Para Rasul 9:15]. Ia dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil. Ini poin terpenting yang harus diperhatikan, sebab ini akan menjelaskan begitu banyak hal pada setiap bagian Surat Roma itu sendiri.

Injil, menurutnya, bukanlah kabar baik yang baru ada setelah dirinya ada atau menjadi seorang pengikut Kristus, juga bukan kabar  baik menurut pandangan dan filsafat manusia apalagi hikmat manusia:

Roma 1:2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,
Rasul Paulus, sebagaimana Kristus terlebih dahulu, menyatakan bahwa Injil yang diberitakannya adalah kabar baik yang telah dijanjikan Bapa  melalui perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci:
Lukas 1:21-23 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.

Kabar baik atau Injil yang sedang dibicarakan  rasul Paulus adalah apa yang telah ada didalam kitab-kitab Perjanjian Lama, sebagai hal yang telah dijanjijkan untuk dinantikan penggenapannya.

Apakah Kabar baik itu, yang telah dijanjikan dan dituliskan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama?
Roma 1:3  tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

Bukan apa yang pertama-tama, tetapi siapakah.  Kabar baik yang telah dijanjikan Bapa melalui perantaraan nabi-nabinya dan kitab-kitab suci perjanjian lama adalah: Yesus Kristus dan kebangkitannya dari antara orang mati.

Perhatikan, yang disebut sebagai kabar baik yang telah lama dijanjikan Bapa, adalah Yesus Kristus dan kebangkitannya dari antara orang mati. Bukan apapun yang lain!

Lalu, jika ini adalah injil itu sendiri atau Yesus dan kebangkitan dari antara orang mati adalah kabar baik itu sendiri, bagaimana kabar baik semacam ini dapat benar-benar menjadi kabar baik bagi semua orang?
Rasul Paulus memberikan jawabannya sebagai berikut:
Roma 1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

Sebagai seorang yang menerima  kasih karunia dan jabatan rasul, maka pekerjaan Paulus adalah menuntun agar percaya dan taat kepada Kristus. Perhatikan bagaimana Paulus  menekankan apakah tugasnya itu terkait kabar baik. Hanya dengan menuntun atau memberitakan dan mengajarkannyalah, maka kabar baik itu dapat mendekat kepada banyak orang dan manakala seseorang menjadi percaya dan taat maka kabar baik itu adalah miliknya; Yesus Kristus adalah miliknya.

Sehingga Injil atau kabar baik, benar-benar menjadi kabar baik bagi seorang manusia, kala ia benar-benar memiliki Kristus dalam percaya atau beriman dan taat kepada Kristus.

Orang-orang yang mengalami kabar baik atau memiliki Kristus dan  kebangkitannya dari antara  orang mati, digambarkan Paulus sebagai orang yang telah dipanggil menjadi milik Kristus [Roma 1:6].

Semua bangsa, berarti bukan hanya bangsa Israel belaka, dan dalam hal bangsa-bangsa lain yang bukan Israel maka mengalami kabar baik adalah, jika:
untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat – Roma 1:5

Bagi Paulus Injil atau Yesus Kristus dan kebangkitannya dari antara orang mati adalah kekuatan Allah dan itulah keyakinan kokoh Paulus yang akan menyelamatkan setiap orang yang percaya!
Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

Bangsa-bangsa lain harus  menerima atau beriman kepada Yesus Kristus, jika ingin mengalami kabar baik itu atau mengalami keselamatan, dan demikianlah senantiasa penekanan Paulus:
Roma 15:15 - 21Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."

Bangsa-bangsa lain harus menerima dan  beriman kepada Kristus, itulah juga yang dikerjakan Kristus didalam diri Paulus. Kristuslah yang memimpin bangsa-bangsa lain melalui pelayanan Paulus untuk taat  kepada Kristus. DALAM HAL INI, PAULUS TIDAK BERANI BERKATA-KATA TENTANG  SESUATU YANG LAIN.

Bahkan Paulus berkeliling memberitakan  injil  kepada orang-orang non Yahudi yang sama sekali belum pernah menerima berita tentang Dia sehingga mereka dapat menerima atau beriman, oleh  Kristus yang menuntun mereka. Sehingga  Paulus bukan hanya memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi namun juga kepada mereka yang memiliki keyakinan-keyakinan berbeda. Hal ini harus diperhatikan serius sebab dalam hal ini Kristuslah yang memimpin bangsa-bangsa lain kepada diri-Nya melalui pelayanan Paulus.

Beriman kepada Kristus adalah kunci mengalami kabar baik itu, tak mungkin mengalami kabar baik tanpa memiliki Kristus dan tak mungkin turut menikmati kasih karunia tanpa memiliki Kristus sang Kabar Baik:

Roma 1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."


Pengadilan Allah Dan Tuntutan Allah Atas Semua Manusia
Sekarang mari kita perhatikan teks Roma yang dilandaskan oleh pendeta Dr. Erastus Sabdono:
Roma 2:6-16 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu. Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Pada tinjauan bagian 1, hal –hal prinsip teks ini sudah saya paparkan  pada bagian 1B, bagian 1D, juga bagian 1K, dan bagian 1L.


Apa yang Paulus nyatakan atau hendak kemukakan dalam Roma 2:6-16 adalah penghakiman Allah berdasarkan pada perbuatan manusia. Ada 2 macam  manusia berdasarkan perbuatannya:
a. Mereka yang tekun berbuat baik
b Mereka yang tidak Taat kepada kebenaran
dan beserta upahnya masing-masing:
a.Ketidakbinasaan
b.Murka dan geram atau kebinasaan


Jika saja ada manusia yang dapat TEKUN berbuat baik, maka kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh. Dengan demikian,  manusia memang memiliki kesempatan untuk memperjuangkan ketidakbinasaan dirinya dengan mengupayakan sebuah ketekunan dalam perbuatan baik.

Epistel Roma 2: 6-16 dengan demikian dapat dikatakan sebagai sebuah konstitusi keselamatan berdasarkan perbuatan untuk tidak binasa. Barangsiapa mengupayakan sebagaimana yang dikehendaki konstitusi keselamatan berdasarkan perbuatan maka ia mendapatkan damai sejahtera dan kemuliaan.

Namun, bagaimanakah realita manusia terhadap konstitusi Allah tersebut? Paulus menyatakannya sebagai berikut:

Roma 3:9-18 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu."

Konstitusi Keselamatan Berdasarkan Perbuatan Baik dari Allah memang membuka sebuah jalan keselamatan yang dapat diusahakan sendiri oleh manusia dengan berjerih payah memperjuangkannya. Namun dihadapan konstitusi itu, Paulus menunjukan, baik orang Yahudi maupun bangsa lain : semua ada dibawah kuasa dosa, tidak ada yang mencari Allah dan tidak ada yang berbuat baik. Ini, sangat serius dan tak main-main, sebab sama saja dengan mengatakan bahwa sekalipun manusia selalu berupaya untuk berbuat baik, faktanya tidak menunjukan bahwa dengan berbuat baik itu membebaskan mereka dari kuasa dosa; sekalipun manusia berupaya untuk selalu berbuat baik, namun, tidak menunjukan bahwa manusia itu mencari Allah yang diberitakan oleh Paulus; sekalipun mereka berupaya untuk berbuat baik, namun, itu tidak menunjukan sama sekali bahwa manusia itu pada dasarnya baik [bagian1L, bagian1M]!

Jika demikian realita manusia, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, maka dihadapan  konstitusi perbuatan baik untuk mendapatkan ketidakbinasaan, maka hasil finalnya: tak ada satupun yang tak binasa! Ini adalah sebuah situasi  kronis yang tak tertanggulangi dari dan oleh manusia dalam cara apapun juga.

Perhatikan, sebelumnya, Paulus terkait semua manusia di hadapan Allah:
Roma 1:18,21 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

Sekalipun Allah telah membuat  manusia-manusia itu, semua manusia siapapun dia dapat mengenali Allah didalam dirinya:
Roma 1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.

Memang benar, bahwa Allah bukan hanya menyatakan bahwa Ia ada hanya bagi Israel, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain, walau memang bukan dalam cara seistimewa Israel:
Roma 2:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Allah mewahyukan keberadaannya kepada segenap manusia melalui ciptaan-ciptaannya. Namun sekalipun demikian mereka tidak memuliakan Allah sebagai Allah.

Paulus, sudah menyatakan sejak  mula epistelnya bahwa semua manusia pada dasarnya ada di dalam murka Allah, sebab manusia senantiasa condong untuk tidak memuliakan Allah, sebagaimana dikehendaki-Nya.

Realita manusia keseluruhan adalah: tak merasa membutuhkan Tuhan, bisa merencanakan dan melakukan apapun juga tanpa Tuhan. Tanpa-Nya pun saya bisa:
Roma 1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
Manusia-manusia yang tidak merasa  perlu untuk mengakui Allah dalam sebuah totalitas penuh, akhirnya melahirkan  buah perbuatan-perbuatan yang menjijikan bagi Allah:
Roma 1:29-31 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.

Penuh dengan rupa-rupa atau berbagai macam modus mulai dari yang laten hingga yang nyata; dari yang halus hingga vulgar; dari yang bermuka manis hingga bermuka licik, begitulah wujud kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan.


Manusia-manusia, semuanya,  akibat tak mengakui Allah sebagaimana Allah adanya telah menjadikan manusia itu begitu kaya dan begitu melimpah ruah dalam berbagai-bagai hal kekejian di hadapan Allah. Tak habis-habisnya dan begitu makmurnya dalam hal tersebut. Manusia-manusia telah menjadi alat atau sarana kemuliaan kekejian sebab kekejian berbuah lebat pada tubuh manusia.

Kondisi manusia, siapapun manusia itu, begitu beraninya terhadap Tuhan dalam melawan dan meremehkan Tuhan:
Roma 1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati. Apakah hal-hal demikian itu? Itu mencakup rupa-rupa :
-kelaliman
-kejahatan
-keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki,
-pembunuhan,
-perselisihan,
-tipu muslihat dan kefasikan.
-pengumpat,
-pemfitnah,
-pembenci Allah,
- kurang ajar,
-congkak,
- sombong,
- pandai dalam kejahatan,
-tidak taat kepada orang tua,
-tidak berakal,
-tidak setia,
-tidak penyayang,
-tidak mengenal belas kasihan
Inilah semua realita manusia, bahwa semua manusia berbuahkan begitu lebatnya dengan  hal-hal yang patut mendatangkan hukuman mati!

Konstitusi Roma 2:6-16 menuntut semua manusia untuk tidak sama sekali melakukan hal itu sebagai sebuah wujud sikap dari pengakuan akan Allah sebagaimana Ia adalah Allah. Jikalau manusia dapat secara tekun berbuat baik atau tak melakukan hal-hal yang mendatangkan hukuman mati tersebut maka jelas ketidakbinasaan adalah bagiannya.

Siapapun melihat daftar kelaliman-kelaliman yang merepresentasikan buah-buah lebat kebusukan jiwa manusia, maka juga akan diingatkan akan apa yang menjadi tuntutan Taurat pada bangsa Israel. Sehingga pada dasarnya baik orang-orang Israel dan bukan Israel, Allah menuntut hal yang sama. Walau kepada Israel Allah menyatakannya dengan cara sangat Istimewa:
Roma 2:17- 20 Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.

Membaca teks ini, bagi saya pribadi, sangat menakjubkan dan hati tak akan kuat untuk tidak berhenti mengagumi betapa Allah begitu bermurah hati mempercayakan kekudusan kehendak-Nya didalam sabda titah-titahnya kepada sebuah bangsa agar bangsa itu menjadi lampu pijar keberadaan-Nya dan kekudusan-Nya yang bukan hanya  melalui ciptaan-ciptaan-Nya yang menakjubkan tetapi melalui manusia-manusia yang kepada mereka dikehendaki untuk bersandar kepada hukum Taurat. Israel, satu-satunya manusia di muka bumi yang dapat:
-tahu akan kehendak Allah
-tahu mana yang baik dan mana yang tidak dalam perspektif  hukum Taurat [baca: kekudusan Allah]
-memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran, sebab memiliki hukum Taurat Allah [kekudusan Allah, walau itu berupa pengetahuan akan sabda Allah]
Manusia-manusia Israel memiliki keistimewaan dan dengan demikian diistimewakan, bukan untuk mendapatkan keistimewaan agar bisa sesuka-sukanya, sebaliknya sebuah kepercayaan untuk menunjukan bagaimanakah menjadi manusia-manusia yang dapat mengajar dan sekaligus mempraktikan segenap kebenaran  yang ada di dalam hukum Taurat yang mereka miliki,  sehingga menjadi teladan  dalam perbuatan atau penggenapan tuntutan  taurat itu: “bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa.” Jelas terlihat bahwa orang-orang Israel dengan menerima hukum Taurat dan hidup didalamnya agar dapat menjadi TERANG bagi bangsa-bangsa lain. Mereka dapat menjadi terang oleh sebab menerima hukum Taurat  atau kehendak kudus Allah dalam bentuk sabda tertulis.


Tetapi, bagaimanakah realitanya? Orang-orang Israel yang memiliki  kegenapan kebenaran, tahu kehendak Allah dan tahu mana yang baik dan  benar? Apakah mereka lebih baik daripada bangsa-bangsa lain, yang tak memilikinya? Perhatikan penjelasan Paulus berikut ini:
Roma 2:21-23 Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?

Apakah yang diharapkan pada Israel yang tahu  kehendak Allah dan tahu mana yang baik dan jahat serta memiliki kegenapan kebenaran dalam Taurat? Bisakah anda menjawabnya?Menjadi PARA PENGGENAP  segala tuntutan yang terdapat dalam hukum Taurat itu secara sempurna. Sempurna memenuhi tuntutan kekudusan Allah sebagaimana yang dikehendaki setiap huruf bahkan titik dalam sabda tertulis itu, sehingga dapat menjadi terang bagi segenap manusia lainnya dengan mengajarkan kebenaran yang mereka miliki sebagai pelaku, bukan pengajar yang miskin teladan. Israel dituntut untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, namun gagal secara fatal.
Keistimewaan Israel, dengan demikian menjadi  tak berdampak apapun:
Roma 2:25 Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya.

Keiistimewaan Israel yang berdasarkan kemampuan mereka untuk menggenapi segenap tuntutan kudus hukum Taurat dapat menjadi tidak efektif, membuat mereka juga harus menerima konsekuensi pelanggaran  terhadapa tuntutan kudus hukum Allah itu.

Apa yang baru saja kita pelajari ini atau saya sajikan, merupakan landasan kerja konsitusi Roma 2:6-16 : penghakiman berdasarkan perbuatan untuk menentukan apakah dibinasakan ataukah tidak dibinasakan.

Seperti telah saya kemukakan sebelumnya pada bagian 1 , terutama mulai bagian 1B, pengadilan atau perhitungan upah atau konsekuensi berdasarkan perbuatan semacam ini, memang merupakan kebenaran. Namun sama sekali tidak menunjukan adanya sedikit saja ketidakbinasaan melalui kebenaran ini.

Apa yang dapat dinyatakan adalah sebuah fakta teramat menakjubkan terkait Allah yang kudus itu:
-Ia, kepada bangsa-bangsa lain, yang tak menerima hukum taurat telah membuat dirinya dapat dikenali sehingga diharapkan dapat  mengakui Allah sebagaimana adanya Ia.

-Ia, kepada bangsa Israel, memang memberikan sebuah keistimewaan yang mulia yaitu: tahu kehendak Allah, tahu mana yang baik dan yang jahat, dan memiliki kegenapan kebenaran dalam taurat, dengan maksud menjadi terang dan  penuntun manusia  dalam kegelapan dan kebutaan kebenaran dalam sebuah cara mengetahui kebenaran dan hidup dalam kebenaran itu, atau dengan kata lain sebagai para penggenap  hukum taurat. Sehingga kebenaran yang ilahi ini dapat sampai kepada bangsa-bangsa lain juga.

Sekarang kita tahu, apakah maksud keistimewaan  dan pengistimewaan Israel diantara bangsa-bangsa dunia lainnya, agar Israel menjadi terang di tangan Allah, agar Israel menyinarkan terang yang ada didalam genggaman tangan mereka dengan mengajarkannya sebagai sebuah kebenaran yang dihidupi, kebenaran yang digenapi dalam perbuatan-perbuatan.

Seharusnya Israel akan membuat sebuah kebedaan yang menyolok di dunia ini, bahwa sebagai yang memiliki kebenaran Ilahi mereka menjadi terang diantara dunia  yang gelap ini, bahwa melalui mereka akan ada  bangsa-bangsa lain yang memiliki terang ilahi itu  melalui pelayanan Israel.

Seharusnya Konstitusi Roma 2:6-16 akan melahirkan sebuah kebedaan yang luar biasa:
“yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.”
Realitanya, tidak sama sekali demikian. Apa yang ada: semua menerima murka dan geram sebab tidak taat kepada kelaliman!

Lihatlah Israel:
-Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?-Ro 2:21

- Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah?-Ro 2:22

- Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?- Ro 2:22

- Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?- Ro 2:23

Lihatlah semua bangsa-bangsa lain:
- Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya – Ro 1:21

- Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.- Ro 1:22

- Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.- Ro 2:23

- mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah – Ro 1:28

- penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan – Ro 1:29

- Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan,- Ro 1:30-31

- walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.- Ro 1:32

Kesemua ini bahkan dilakukan setelah Allah menyatakan keberadaannya yang tak dapat mereka elakan dalam cara apapun [ Roma 1:19-20].

Baik Israel dan bangsa-bangsa lain pada  hakikatnya: dalam murka Allah yang telah nyata dari sorga [Roma 1:18]. Bagi Allah semua manusia adalah: penindas kebenaran dengan kelaliman.

Justru karena Israel memiliki taurat, maka semakin membuat keberadaan diri mereka yang sesungguhnya semakin nyata:
Roma 3:19-20 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.

Roma 7:7 Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"        

Ini tidak hendak mengatakan bahwa ada sebuah masalah yang serius pada hukum taurat, hukum ini baik dan kudus. Apa yang menjadi masalah adalah: tidak pernah  ketakudusan dapat memenuhi kekudusan; jika manusia pada faktanya sanggup melawan Allah sekalipun Allah sudah menyatakan keberadaannya dan sekalipun Allah sudah menyatakan kekudusan dan kebenarannya melalui hukum taurat, itu pada dasarnya menunjukan apakah hakikat manusia itu:
Roma 7:12-13 Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.

Hukum taurat yang merupakan terang kebenaran dan kekudusan Allah, justru menyingkapkan tabir manusia-manusia Israel itu: manusia-manusia yang pada dasarnya berhakikat dosa! Ini keadaan yang yang tak bisa mereka tanggulangi, menghalangi mereka menjadi PENGGENAP segenap tuntutan Taurat itu dan menghalangi mereka untuk menjadi TERANG dan PENUNTUN bagi manusia yang berada dalam kegelapan dan kebutaan kebenaran:

Roma 7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.
Natur semua manusia : bersifat daging dan dibawah kuasa dosa. Ini tak bisa ditanggulangi dengan berjuang sekuat tenaga untuk menggapai kekudusan dan memenuhi tuntutan-tuntutan kesempurnaan Allah.

Ketika Paulus berkata “tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat” jangan pernah disalah artikan bahwa dengan demikian manusia begitu dungu dan tololnya tak mau berjuang, atau manusia  hanya mau enak-enaknya saja, memiliki keselamatan tanpa perjuangan. Paulus tak sedang berbicara demikian, Ia sudah menyingkapkan sebagai seorang rasul Kristus, apakah problem semua manusia, baik Israel dan bangsa-bangsa  lain: TERJUAL DIBAWAH KUASA DOSA! Kuasa dosa tidak bisa dipatahkan dengan perbuatan jasmaniah dan kekuatan fisik dengan cara perbuatan baik. Kegagalan terdasar manusia untuk dapat melayani  kehendak  kudus Allah adalah tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosa. Kuasa dosa bukan sesuatu yang bisa ditaklukkan dengan semata-mata pembaruan pikiran sebab kuasa dosa bukan terletak pada intelijensia atau cara berpikir/cara pandang, dan bukan problem filsafat;kuasa dosa bukan semacam pengetahuan akan apakah dosa yang dapat dipersepsikan oleh otak melalui pengetahuan dan pengenalan permasalahan. Pendekatannya tak bisa sebagai spiritualisme pengetahuan manusia dan berdasarkan itu, manusia mengambil langkah-langkah perjuangan jiwa atau batiniah dengan sebuah pembaruan pikiran berdasarkan pengetahuan manusia batiniah itu. Ini, pada akarnya, memang dapat  terlihat menjadi sebuah kebijaksanaan bernilai luhur, namun tak memiliki kuasa untuk menaklukan kuasa dosa yang menyandera kemanusiaan manusia. Ada sebuah problem yang tak mungkin lahir dari keluhuran jiwa manusia sementara ia sendiri tersandera oleh kuasa dosa itu. Adakah yang dapat disebut sebagai sebuah kebenaran yang ilahi manakala di saat yang sama manusia-manusia itu berada dibawah kuasa dosa?


Inilah maksud Paulus, untuk kemudian berkata:
Roma 3:23-26 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.
Jangan pernah dipahami bahwa menyatakan “semua orang telah berbuat dosa” sebagai fatalisme  dan dengan demikian keberdiaman atau “ya…sudah, jika berdosa, berdosa sajalah,” seolah mengajarkan ini, orang-orang Kristen menjadi  begitu amoralnya dan tak memiliki lagi apresiasi terhadap kekudusan. Siapakah yang dengan pengajaran ini menjadi kehilangan kerinduannya untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, termasuk dalam kehidupan rohaninya sehingga dapat menjadi terang bagi dunia memenuhi pengharapan Yesus “hendaklah terangmu bersinar”- Matius 5:16. Paulus memang menunjukan, karena realita segenap manusia : terjual dibawah kuasa dosa, maka solusinya ada pada pihak Allah: penebusan Kristus. Apakah dengan demikian, karena kebenaran saya adalah kasih karunia maka dosa bukan masalah serius lagi sehingga OK saja untuk berdosa seolah-olah itu problem ringan? Perhatikan bagaimana Paulus menjawab perihal ini:
Roma 6:15-16 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! (16) Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
Apa yang luar biasa adalah: penebusan Kristus sebagai dasar kebenaran orang-orang percaya untuk dibenarkan saat itu juga, tidak menganjurkan sedikit saja bahwa orang-orang percaya itu dengan demikian bebas saja berbuat dosa sebab tak lagi terikat dengan konsekuensi-konsekuensi mematikan dari kekudusan hukum Taurat [memang benar setiap orang yang ditebus berdasarkan kasih karunia tak lagi terikat pada kebenaran dan konsekuensi Taurat agar Ia memperoleh pembenaran]. Sebaliknya, kekudusan sebagai sebuah buah-buah keberimanan akan nampak kuat, dengan Kristus menjadi penebusmu, sebab tuanmu adalah Kristus, bukan lagi dosa. Kristus memang sudah mengampuni segenap dosa kita  baik masa lalu, masa sekarang bahkan masa yang akan datang [Ibrani 9:24-28]. Dalam hal itu, harus dipahami bahwa hal ini berlangsung karena Kristus adalah domba kurban satu kali untuk selama-lamanya, Ia tak perlu mengurbankan dirinya berkali-kali agar dapat menghapus dosa-dosa yang akan dilakukan oleh umatnya. Ini harus dipahami, agar anda justru  semakin sangat menghargai, betapa Kristus itu begitu mahal bagi dirimua sehingga akan lahir sebuah apresiasi ilahi dari dalam dirimu oleh Kristus yang ada di dalammu.

Tetapi, apakah dengan demikian Kristus adalah babu atau pelayan bagi dosa-dosa kita? Pada surat yang lain, yaitu Galatia, Paulus memberikan sebuah penjelasan yang sangat luar biasa:
Galatia 2:16-21 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak. Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Jadi, apakah kemuliaan hidup dalam hukum taurat lebih tinggi kemuliaannya dibandingkan dengan hidup dalam kasih karunia? Tidak sama sekali.

Perhatikan, ketika anda hidup oleh kasih karunia maka  anda harus tahu bahwa Kristus bukan pelayan bagi dosa-dosamu. Tahu bahwa Kristus telah menjadi kurban  penebus dosa manusia untuk masa lalu, saat ini dan yang akan datang  memang adalah sebuah kebenaran yang begitu mulia akan betapa Allah mengasihi manusia, TETAPI manakala manusia-manusia yang mengaku tebusan Kristus hidup sebagai begundal-begundal dan onak berduri bagi kemuliaan kebenaran yang begitu mulia ini, maka sama saja manusia-manusia berlabel kasih karunia ini, mengulangi kesalahan yang sama oleh Israel: tak dapat menjadi terang dan teladan bagi kebenaran ini. Ingat, dalam hal ini, sebagaimana Paulus berkata, bahwa pelayanan pemberitaan kebenaran ini dikerjakan oleh Kristus di dalam dirimu. Mengapa? Sebab bukan aku  sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Jika anda mengaku hidup dalam kasih karunia, namun anda bangga sekali mencomot sekali selamat tetap selamat sambil berbajukan dosa sebagai jubah kebesaranmu, maka itu hanya membuktikan bahwa Kristus tidak pernah hidup didalammu dan anda tak pernah menjadi hamba Kristus. Anda adalah Kristen Palsu yang menjijikan!

Apakah kekuatan saya untuk menjadi teladan dan terang yang bersinar; menaklukan keinginan daging dan bertumbuh menjadi manusia Kristen yang dewasa? Bukan aku, tetapi Kristus yang hidup di dalamku. Jelas kehidupan Kristus bukan melayani kehendak daging apalagi dosa, namun kehendak Bapa, dalam hal itulah saya dan anda memiliki sumber kekuatan untuk menjadi pelayan terang dan kebenaran bagi dunia. Hal yang gagal dilakukan Israel.

Camkan ini baik-baik! Menjadi tebusan Kristus atau mengalami penebusan oleh Kristus, maka anda dan saya mengalami 2 hal sekaligus:
-Anda dan saya dilepaskan dari kuasa perbudakan dosa
-Anda memiliki Kristus yang hidup didalammu, anda tidak lagi hidup bagimu sendiri
Dan dua hal ini adalah sebuah kekayaan yang tak pernah dialami oleh mereka yang hidup didalam taurat yang kudus itu. Huruf-huruf yang merangkai perintah-perintah kudus itu tak dapat berdiam didalam diri orang-orang Israel sebab tak membebaskan mereka dari perbudakan dosa, namun menegaskan keberadaan mereka yang demikian. Sebaliknya kasih  karunia di dalam Kristus, seharusnya dan mutlak tak membuat anda dan saya antipati dan muntah kala berbicara kehidupan yang berkenan pada Allah, membangun kehidupan kudus yang menyukakan Tuhan dan membangun diri agar terangmu bersinar bukannya redup. Mengapa? Sebab, pertama-tama, dalam membicarakan dan melakukan semua itu, anda dan saya bukan lagi sekedar bukan hamba dosa, tetapi, Kristus, Penebusmu itu, berdiam di dalammu. Inilah dasar terkuat dan teraman bagimu untuk penuh percaya diri membangun potensi terhebat yang Tuhan anugerahkan dalam dirimu, setiap orang sesuai kasih karunia-Nya menyimpan benih –benih kebenaran dan ilahi yang sedang bertumbuh dalammu dan bagimu untuk berbuah atau membuahkan terang-terang bagi dunia ini.

Kasih karunia atau keselamatan hanya oleh kasih karunia memang akan terlihat murahan manakala di dunia yang memang kian amoral ini, anda menggunting kebenaran kasih karunia itu sehingga lepas dari Kristus. Anda senantiasa berbicara kasih karunia namun anda anti membicarakan Kristus yang hidup dalammu dan anda bukan lagi hidup bagimu sendiri tetapi bagi Kristus yang ada didalammu! Anda hanya senang membicarakan posisimu yang ada di dalam Kristus sehingga apapun dosamu dan kapanpun itu anda pasti memperoleh pengampunan, sehingga tak perlu meminta pengampunan. Dalam hal ini, anda membuat kasih karunia menjadi pelayan  atau babu dosa-dosamu. Itu menjijikan dan memuakan, jauh dari kudusnya sebuah kebenaran yang datang dari Tuhan yang kudus dan menguduskanmu, tetapi lebih merupakan kebenaran yang dikelambui oleh pemikiran Setan!

Kasih karunia, bukanlah konsepsi kebenaran tetapi sebuah kehidupan yang telah dilepaskan dari perbudakan dosa oleh penebusan Kristus, sehingga anda bisa dalam keinginan dan pewujudan untuk hidup merdeka dari perbudakan dosa pada segenap jiwamu dan melayani Kristus, sekalipun didalam kelemahan dagingmu yang akan senantiasa anda perangi oleh sebab Kristus berdiam di dalammu dan menghidupkan kekudusan-Nya bagimu, dalam hal ini, maka, sumber kuatmu adalah Kristus.

Jadi teks Roma 2:6-16 sama sekali bukan untuk menunjukan adanya sebuah jalan lain keselamatan, yaitu berdasarkan perbuatan, sehingga orang-orang yang tak menerima atau tak pernah mendengarkan kebenaran dapat berkesempatan masuk ke dunia baru. Tidak sama sekali demikian. Juga, harus ditekankan, bahwa Kasih karunia bukanlah sebuah kemerdekaan sehingga anda bertuankan pada kemerdekaan itu sendiri, TIDAK! Anda bertuankan pada Sang Pemberi Kemerdekaan, Kristus. Anda melayani Dia, bukan melayani kemerdekaanmu yang meninggalkan Kristus yang menginginkanmu hidup dalam kekudusan sebagaimana Ia yang ada didalammu Kudus.

Kristus adalah sang Penggenap taurat dan kesempurnaan kekudusan Allah, dan kebenaran kasih karunia oleh penebusannya, menyingkapkan ketakberdayaan manusia untuk memenuhi tuntutan kudus Allah atau hukum taurat Allah. Terkait hal ini, bacalah lampiran "mymorning dew Yesus Menurut Diri-Nya Sendiri [19]" seusai artikel ini.

Bersambung ke “Tinjauan Pengajaran Pdt. Dr.Erastus Sabdono “Keselamatan Diluar Kristen”(2P):“Tidak Ada Keselamatan Di Luar Kristen Tetapi Ada Keselamatan Di Luar Kristen”


                                                                  AMIN
Segala Pujian Hanya Kepada TUHAN


The cross
transforms present criteria of relevance: present criteria of relevance do not transform
the cross
[oleh seorang teolog yang  namanya tidak saya ingat]


Lampiran: “klik pada  bagian “tanggal” untuk dapat membaca
-Yesus Menurut-Nya Sendiri [19] – Yohanes 5:46


"Yesus Menurut-Nya Sendiri [19]"  Yohanes 5:46
Posted by Martin Harry Simamora on Sunday, September 13, 2015
,

P O P U L A R - "Last 7 days"