0 Kehidupan & Motivasi Bergereja







KEBAKTIAN
Minggu, tgl 29 Juni 2014, pk 08.00
PDT. BUDI ASALI. M. DIV.
 

Kehidupan & Motivasi Bergereja
Kis 4:32-37 - “(32) Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. (33) Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. (34) Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (35) dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (36) Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. (37) Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.”.


Kis 5:1-11 - “(1) Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. (2) Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. (3) Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (4) Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ (5) Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. (6) Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. (7) Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. (8) Kata Petrus kepadanya: ‘Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?’ Jawab perempuan itu: ‘Betul sekian.’ (9) Kata Petrus: ‘Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.’ (10) Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. (11) Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.”



I) Keindahan gereja abad pertama.
1) Ada kesatuan (4:32).
Ay 32: “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.”

Dalam Kis 4:4 dikatakan bahwa jumlah jemaat sudah mencapai 5000 orang, tetapi mereka toh bisa bersatu. Dan kesatuan ini bukan hanya kesatuan secara lahiriah saja (dipersatukan oleh organisasi atau sekedar kumpul-kumpul), tetapi merupakan kesatuan hati / pikiran (4:32). Kesatuan seperti ini memang merupakan kehendak Tuhan untuk orang-orang Kristen (Yoh 17:20-21).


  • Fil 2:2 - “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,”.
  • Yoh 17:20-21 - “(20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; (21) supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”.



Mengapa mereka bisa bersatu?
a) Karena ada Pemberitaan Injil (Kis 4:33).
Ay 33: “Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.”.

Ini menyebabkan orang-orang itu betul-betul bertobat dan datang kepada Kristus. Mereka bukan orang-orang Kristen KTP, tetapi orang kristen sejati yang memiliki Roh Kudus, dan Roh Kudus inilah yang mempersatukan mereka.



b)Karena ada pengajaran Firman Tuhan yang kuat (Kis 2:42).
Pengajaran Firman Tuhan mempersatukan cara berpikir, tujuan dan motivasi mereka sehingga mereka bisa bersatu.

 

c)Karena ada penganiayaan terhadap gereja / orang kristen (Kis 3-4).
Ini menyebabkan orang kristen KTP memilih untuk keluar dari gereja. Dan penganiayaan ini juga menyebabkan orang-orang kristen yang dianiaya ini makin bersatu.


Penerapan:
Jadi, ada 3 unsur pemersatu, yaitu Pemberitaan Injil, pengajaran Firman Tuhan, dan penganiayaan. Kalau dalam gereja saudara tidak ada Pemberitaan Injil ataupun pengajaran Firman Tuhan yang baik, maka jangan harapkan akan ada kesatuan / kesehatian. Tetapi bisa saja bahwa suatu gereja ada banyak Pemberitaan Injil dan Firman Tuhan, tetapi masih kurang kesatuan. Gereja yang seperti itu harus bertobat, karena kalau tidak maka Tuhan akan memaksa mereka bersatu melalui pemberian penganiayaan.


2) Ada kasih.
Banyak orang menganggap lawan dari ‘kasih’ adalah ‘benci’. Ini tidak sepenuhnya benar. Lawan kata dari ‘kasih’ adalah ‘selfishness / egoisme’. 


Ini terlihat dari:
a) 1Kor 13:4-5 - “Kasih ... tidak mencari keuntungan diri sendiri ...”.

b) Gal 5:22-23 menyebutkan 9 hal yang merupakan buah Roh dimana yang pertama adalah kasih, sedangkan Gal 5:19-21 menyebutkan sederetan hal yang merupakan perbuatan daging (kontras dengan buah Roh), dan salah satu di antaranya adalah ‘kepentingan diri sendiri’ (Gal 5:20).

Pada jemaat abad pertama, tidak ada egoisme (ay 32b). Ini menunjukkan bahwa mereka betul-betul penuh dengan kasih! Saling mengasihi dan membuang egoisme memang adalah perintah Kitab Suci yang harus ditaati oleh semua orang kristen.


Fil 2:3-8 - “(3) dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (4) dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”.


Penerapan: Apakah pada saudara ada kasih atau ada egoisme? Pada waktu makan bersama, apakah saudara memikirkan orang lain? Atau saudara mengambil makanan tanpa mempedulikan apakah yang lain akan kebagian atau tidak? (Bdk. 1Kor 11:20-22). Kalau ada saudara seiman yang menderita (sakit, miskin, problem keluarga, musibah, dsb), apakah saudara peduli atau acuh tak acuh?



3) Kesatuan dan kasih itu ada wujudnya (4:34-37).
Kis 4:34-37 - “(34) Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (35) dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (36) Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. (37) Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.”.


Kesatuan dan kasih mereka bukan hanya sekedar bersifat teoritis / hanya di mulut saja.


  • Yak 2:15-16 - “(15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”.
  • 1Yoh 3:18 - “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”.


Orang-orang kaya menjual rumah dan tanah untuk membantu orang miskin, padahal hal semacam itu bukanlah suatu keharusan. Tidak ada perintah dari rasul supaya mereka menjual rumah dan tanah untuk menolong orang miskin.



Bdk. Kis 5:4 - “Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’”.

Tetapi mereka toh melakukan hal itu! Mereka betul-betul bebas dari sifat kikir / pelit / tamak. Bagaimana dengan saudara?



II) Cacat dalam gereja abad pertama.
Mungkin setelah Kis 4:34-37 terjadi, orang banyak lalu memuji orang-orang yang telah menjual tanah / rumahnya untuk menolong orang miskin. Ini menyebabkan Ananias dan Safira lalu ikut-ikutan menjual tanah / rumah dan mempersembahkan sebagian hasil penjualan kepada rasul-rasul. Dosa mereka bukan terletak pada persembahan yang hanya sebagian itu, tetapi karena mereka berdusta dan mengatakan bahwa itu adalah seluruh hasil penjualan tanah / rumah mereka. 


Jadi dosa mereka adalah:
1) Motivasi yang salah dalam memberi.
Orang-orang dalam Kis 4:34-37 memberi karena unselfishness / tidak ada egoisme. Tetapi Ananias dan Safira justru memberi karena selfishness / egoisme. Mereka memberi karena mereka ingin dipuji.

Bdk. Mat 6:2-4 - “(2) Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (3) Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. (4) Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.’”.


Penerapan: Apakah saudara sering memberi dengan motivasi yang bersifat egois?
Misalnya:
a) Memberi supaya dipuji.
b) Memberi supaya diberkati Tuhan secara berlipat ganda.
c) Memberi supaya tidak dihukum Tuhan.
d) Memberi supaya ada damai dan sukacita dalam hati.
e) Memberi karena malu kalau tidak memberi.


2) Dusta (5:3,4b,8).
Kis 5:3,4,8 - “(3) Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (4) Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ … (8) Kata Petrus kepadanya: ‘Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?’ Jawab perempuan itu: ‘Betul sekian.’”.



3)Dosa ini disepakati dan direncanakan bersama-sama (ay 4b,9).
Kis 5:4,9 - “(4) Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ ... (9) Kata Petrus: ‘Mengapa kamu berdua BERSEPAKAT untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.’”



III) Hukuman Tuhan.
1) Kata-kata Petrus, atau lebih tepat, kata-kata Tuhan melalui Petrus.
Ay 3-4: “(3) Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (4) Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’”


Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari bagian ini:
a) Petrus tahu kejahatan mereka (ay 3-4).
Dalam Kitab Suci kadang-kadang terjadi bahwa seorang hamba Tuhan bisa tahu kejahatan seseorang, tentu karena Tuhan memberitahu dia. Tetapi:


1.Ini tidak berarti bahwa seorang hamba Tuhan harus SELALU tahu kejahatan orang lain. Kalau Tuhan tidak memberitahu, tentu hamba Tuhan itu tidak akan tahu. Ada banyak kasus dimana seorang hamba Tuhan tidak tahu kejahatan orang, seperti:
a. Waktu Ishak didustai oleh Yakub dan Ribka (Kej 27:18-29).
b. Waktu Yakub didustai anak-anaknya (Kej 37:31-35).
c. Waktu Yosua didustai oleh orang Gibeon (Yosua 9).
d. 11 rasul tidak tahu kejahatan / pengkhianatan Yudas Iskariot.



2. Ini juga tidak berarti bahwa orang yang bisa tahu kejahatan / isi hati orang lain, pasti adalah hamba Tuhan. Bisa saja ia tahu karena menggunakan kuasa gelap (seperti telepati, dsb).


b) Dari kata-kata Petrus ini terlihat bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri, karena dalam ay 3 Petrus berkata ‘engkau mendustai Roh Kudus’ tetapi dalam ay 4 Petrus berkata ‘Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah’, dan dalam ay 9 Petrus berkata: ‘Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?’.



c) Dosa kepada manusia sama dengan dosa kepada Allah.
Sebetulnya Ananias dan Safira berdusta kepada manusia. Mungkin sekali mereka mengatakan kepada Petrus bahwa yang mereka persembahkan adalah seluruh hasil penjualan tanah mereka. Tetapi toh Petrus berkata: bahwa ‘mereka mendustai Roh Kudus / Allah’ (ay 3-4) dan ‘mencobai Roh Tuhan’ (ay 9).


Ada banyak orang yang kalau berbuat dosa, beranggapan bahwa dosa itu tidak ada hubungannya dengan Allah. Mungkin ia beranggapan bahwa hanya dosa-dosa tertentu yang berhubungan dengan Allah, seperti kalau ia membolos dari kebaktian, atau kalau ia tidak memberi persembahan persepuluhan, atau kalau ia menyembah berhala, dsb.


Tetapi dosa-dosa yang lain, seperti berdusta, tidak tunduk kepada suami, tidak mengasihi istri, tidak hormat kepada orang tua, bahkan berzinah, dsb, ia anggap merupakan dosa antara manusia dengan manusia. Tetapi ini jelas tidak benar. Semua dosa adalah dosa kepada Allah.


Bandingkan ini juga dengan doa pengakuan dosa raja Daud dalam Maz 51 yang merupakan pengakuan dosanya karena berzinah dengan Batsyeba, membunuh Uria dsb. Ia berkata dalam Maz 51:6 - “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat,”.


d)Dari kata-kata ‘hatimu dikuasai Iblis’ terlihat dengan jelas bahwa Iblis / setan selalu ikut campur dalam terjadinya dosa. Tetapi perhatikan juga bahwa Petrus tidak lalu menengking ‘roh dusta’ atau ‘roh kesombongan’ atau ‘roh ingin dipuji’ dari diri Ananias. Sebaliknya Petrus (dan juga Tuhan) tetap menyalahkan Ananias maupun Safira. Ini terlihat dari:

1.Ay 3-4: “engkau mendustai Roh Kudus ... engkau merencanakan perbuatan itu ... Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’”.
2.Ay 9: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?”.
3. Hukuman mati kepada mereka berdua (ay 5,10).
Contoh lain: Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena godaan Iblis, tetapi Adam dan Hawa tetap bertanggung jawab atas dosanya dan mereka dihukum (Kej 3).

Jadi, sekalipun seseorang berbuat dosa karena godaan setan, orang itu sendiri yang berbuat dosa, dan ia tetap bertanggung jawab atas dosanya. Kita tidak boleh menjadikan roh jahat sebagai kambing hitam, dan melemparkan semua tanggung jawab kepada roh jahat itu.

2) Ananias dihukum mati dan dikubur (ay 5-6), dan sebentar lagi Safira yang juga berdusta (ay 7-8) mengikuti jejak suaminya (ay 9-10).

Mereka bersatu dalam dosa, maka mereka bersatu juga dalam kematian / hukuman.
Ay 5,10: ‘putuslah nyawanya’.
KJV: ‘gave up / yielded up the ghost’ menyerahkan roh).
RSV/NIV: ‘died’ mati).
NASB: ‘breathed his / her last’ menghembuskan nafas terakhirnya).
Kata Yunani yang dipakai adalah EXEPSUXEN (dalam Perjanjian Baru kata ini hanya digunakan 3 x, yaitu dalam Kis 5:5,10 Kis 12:23), yang berasal dari kata dasar EKPSUCHO. Kata EKPSUCHO ini pasti berasal dari 2 kata Yunani yaitu EK [= from dari), out from keluar dari), away from jauh dari)] + PSUCHE [= soul jiwa)]. Kata Yunani ini menunjukkan bahwa mati merupakan perpisahan dari tubuh dengan jiwa.
Penerapan: Kalau selama ini saudara adalah orang yang meremehkan dusta, renungkan hukuman Tuhan kepada kedua pendusta ini, dan bertobatlah!


Ada orang yang mempertanyakan: mengapa Allah bertindak begitu keras terhadap Ananias dan Safira? Jawabnya:


a) Allah itu berdaulat, dan karena itu Ia berhak untuk menghukum pada saat dan dengan cara yang Ia kehendaki. Ia berhak untuk berbelas-kasihan dan menunda penghukuman supaya orang itu bertobat (Ro 2:4), tetapi ia juga berhak untuk langsung menghukum.
Bdk. Ro 9:15 yang berbunyi: “Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’”.


b) Kitab Suci tidak menceritakan kehidupan Ananias dan Safira sebelum saat ini. Mungkin Ananias dan Safira sudah lama hidup dalam dosa, dan Allah sudah lama bersabar terhadap mereka. Tetapi mereka tetap tidak bertobat, dan karena itu sekarang Allah menghukum mereka. Faktor ini juga harus kita perhitungkan dalam kasus-kasus lain dimana Allah tidak memberikan peringatan / kesempatan bertobat, tetapi langsung menghukum seseorang dengan keras, yaitu dengan hukuman mati. Misalnya kasus Uza dalam 2Sam 6:6-7.


c) Saat itu gereja baru berdiri sehingga harus ada disiplin yang keras supaya yang lain menjadi takut untuk berbuat dosa (perhatikan ay 5b,11 dimana dikatakan bahwa orang-orang menjadi takut).

Ay 5,11: “(5) Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. ... (11) Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.”.


d) Ada orang yang mengatakan bahwa kadang-kadang Allah menghukum dosa kecil dengan hukuman yang berat untuk menunjukkan bahwa itulah sebetulnya upah dari dosa kecil!


Penutup / kesimpulan.
Sebagus-bagusnya gereja, karena gereja terdiri dari manusia berdosa, pasti tetap ada cacatnya. Tetapi Allah tidak mau membiarkan cacat itu. Allah ingin gereja dimurnikan. Karena itu mari kita melihat dalam diri kita, secara individuil maupun kolektif, untuk melihat hal-hal jelek apa yang masih ada. Sebelum Allah menghajar / menghukum, marilah kita bertobat dan menyucikan diri kita dari segala hal yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Maukah saudara?


-AMIN-

Kredit  Foto:  Gereja HKBP  Pansurnapitu -   fotografer: Youngky Gultom



P O P U L A R - "Last 7 days"