0 AYUB DAN AKU (Bagian 2 SELESAI)



Oleh :  Prof.Dr. Gary R. Habermas


[Bagian 1]“Jawablah aku sekali lagi—kamu tidak terlihat  sungguh memahami maksudku. Apakah  kamu sungguh-sungguh percaya bahwa Aku telah membangkitkan Yesus dari kematian?” “Pasti aku percaya, tetapi…”“Dan kamu memiliki  alasan untuk berpikir bahwa aku masih memegang kendali atas  alam semesta ini?” “Ya…aku  berpikir  engkau memang memegang kendali, Tuan. Aku tidak memiliki alasan untuk mempertanyakan hal itu.” “Kemudian bukankan demikian juga halnya dengan masalahmu, meskipun kamu tidak mengetahui mengapa engkau menderita, aku masih memegang kendali?”……

Ilustrasi: Ekonomi Eropa Masih Mencekam,
sebuah kemencekaman yang menguatirkan dan entah kapan berakhir
"Merkel's Stealth Plan to Keep Euro Crisis From Exploding Again"
Credit: businessweek.com


Jadi bagaimana aku dapat benar-benar menerapkan pengetahuan ini  kepada  berbagai situasi ketika aku  tidak  tahu mengapa hal-hal ini telah terjadi  dalam cara demikian? Dalam kesempatan-kesempatan ini, saya  menyelesaikannya dengan mengingatkan diriku sendiri  apa yang telah aku ketahui tentang Tuhan. Pendekatan ini dapat  dalam berbagai bentuk. Subyek-subyek perenungan dapat mencakup atribut-atribut Tuhan, kebenaran tentang surga, sejumlah janji-janji Tuhan, atau aspek-aspek lain Firman-Nya.


Tetapi mengacu kepada lebih dari setengah lusin buku-buku yang telah kutulis dimana aku telah menulis pada subyek kebangkitan Yesus,pemikiran-pemikiranku  hampir selalu diikuti dengan sebuah jejak –jejak kebangkitan Yesus. Hal ini selalu memberikanku pemulihan instan selama masa-masa sulit di masa lampau. Tetapi dapatkah hal yang sama dihasilkan  pada situasi Debbie? Atau akankah gagal untuk menghasilkan manfaat-manfaat yang diinginkan kali  ini?




Sehingga disini apa yang telah saya katakan  dalam banyak kesempatan  kepada diriku sendiri selama sakit yang diderita Debbie : “Aku tidak selalu yakin mengapa  hal-hal ini terjadi seperti ini, tetapi ini  masih dunia yang sama dimana Tuhan telah membangkitkan Anak-Nya dari kematian. Hidup kekal bagi orang-orang percaya adalah hasilnya. Oleh karena itu aku dapat mempercayai Tuhan bahwa ada sebuah jawaban yang baik terhadap situasi ini bahkan jika aku tidak tahu apakah itu. Paling buruk, aku akan melihat Debbie kembali di surga.”



Jadi bagaimanakah pelajaran Ayub diterapkan selama masa perjuangan Debbie terhadap kankernya? Bagaimana aku dapat membangun sebuah jembatan antara teori dan praktek? Bahkan lebih membumi lagi, apakah yang dapat membuatku rileks dan merasa lebih baik, bahkan ketika aku tidak mengetahui semua jawaban-jawabannya?


Krisis Ekonomi Eropa yang berkepanjangan
memicu lonjakan tindakan Bunuh Diri, selain merosotnya
kesehatan masyarakat secara umum
Credit: Independent.com


Saya telah menggambarkan sebuah keadaan yang serupa dengan  yang dialami Ayub—bersamaku menanyakan pertanyaan-pertanyaan “Mengapa?”  Apakah yang akan Tuhan katakan  kepadaku jika Dia datang dan berkata kepadaku sebagai yang Dia telah lakukan kepada Ayub  dalam Ayub 38:3. :


Persiapkanlah dirimu seperti seorang pria; Aku akan menanyaimu, dan engkau akan menjawabku. (terjemahan bebas dari NIV)



Apakah  yang Tuhan akan tanyakan dalam sebuah situasi seperti ini? Aku tahu dalam sekejab: Dia akan  secara  pasti menanyakanku mengenai kebangkitan, tentang bagaimana aku telah melakukan penelitian sejauh ini.


Ini adalah sebuah contoh bagaimana aku telah menggambarkan perbincangan yang sedang berlangsung:


“Tuhan, Aku sungguh  tidak dapat memahami mengapa engkau  membiarkan hal-hal ini terjadi kepada keluargaku dan aku. Mengapa kami, terutama kala Debbie masih begitu muda dan semua anak-anak kami masih tinggal bersama-sama dengan kami?”


“Aku hanya ingin menanyakan satu hal. Apakah Aku telah membangkitkan Anakku dari kematian?”


“Oh ya,  pasti, Tuhan. Tetapi bagaimana itu  membantuku dalam kesedihanku saat ini?”


“Jawablah aku sekali lagi—kamu tidak terlihat  sungguh memahami maksudku. Apakah  kamu sungguh-sungguh percaya bahwa Aku telah membangkitkan Yesus dari kematian?”


“Pasti aku percaya, tetapi…”


“Karena engkau tahu bahwa ini adalah sebuah dunia dimana aku telah membangkitkan Yesus, tidakah engkau juga tahu bahwa pengajaran-pengajarannya adalah   benar?”


“Ya, aku selalu berkata bahwa aku meyakininya.”

Mesir adalah salah negara yang terus bergejolak,
tak  jarang menimbulkan korban seperti beberapa
waktu lalu
Credit :TIME

“Dan kamu memiliki  alasan untuk berpikir bahwa aku masih memegang kendali atas  alam semesta ini?”


“Ya…aku  berpikir  engkau memang memegang kendali, Tuan. Aku tidak memiliki alasan untuk mempertanyakan hal itu.”


“Kemudian bukankan demikian juga halnya dengan masalahmu, meskipun kamu tidak mengetahui mengapa engkau menderita, aku memegang kendali?”


“Ya, jelas saja itu benar.”


“Dan entah   kamu mengetahuinya atau tidak mengapa Debbie menderita, tidakah aku telah memilih   kalian berdua  didalam Anakku, untuk ada bersama-sama dengan aku di surga, dimana kamu akan melihatnya kembali?”


“Ya, Tuhan. Aku tidak dapat membayangkan sebuah kebenaran mulia yang lebih hebat lagi.”

“Kemudian apa lagi yang masih harus ditanyakan? Karena kamu telah mengetahui kebenaran-kebenaran, termasuk kebangkitan, tidak seharusnyakah kamu mempercayaiku dalam area-area dimana kamu tidak mengetahui semuanya?”


(DIAMTERHENYAK)


“Apakah kamu, lantas, memiliki cukup pengetahuan untuk mempercayai seluruh situasi yang engkau tidak, belum, mengerti?”



“Aku pikir engkau telah membuatku memahami maksudmu, Tuhan. Ya, aku harus mempercayaimu dengan segenap hatiku.”



“Kemudian tinjau dan praktekkan kebenaran-kebenaran ini. Jangan keluar dari jalur oleh isu-isu lainnya, tak peduli seberapa menyakitkannya itu. Engkau tidak  perlu membawa beban berat atau berupaya untuk mencari tahu  semua hal ini. Aku ingin kamu  untuk mempercayaiku dengan segenap hatimu.”



Diterima  sepenuhnya tanpa pengecualian,terkadang pertanyaan-pertanyaanku dan kuatir-kuatirku lebih keras kepala daripada ini. Tetapi saya telah mempelajari bahwa, dalam kasus-kasus ini, saya hanya perlu menjadi lebih kuat dengan diriku sendiri. Tak peduli seberapa besar aku terluka atau seberapa  kuatnya aku ingin berteriak dalam  kesedihan mendalam, aku harus membuat diriku terarah pada isu-isu faktual itu saja.



Aku tidak dapat  menekankan terlampau banyak pada  keakuratan pendekatan tersebut: aku tidak dapat membiarkan diriku menjadi keluar dari jalur. Ada sangat sedikit isu yang harus diselesaikan pada poin khusus ini. Ketika aku ingin mengalihkan diskusi kembali kepada penyakit dan rasa sakit, aku  terkadang harus berketetapan hati  berkata,” Tidak sekarang. Ini bukan waktunya  untuk hal ini.”



Setiap kali rasa sakit  itu tidak tertahankan, aku akan duduk, biasanya diluar di terasku. Kemudian aku mendesak diriku untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang aku pikir Tuhan akan tanyakan jika Dia menanyakanku, seperti Dia  telah lakukan pada Ayub. Aku segera tersadar bahwa aku tidak dapat menjawab  alur argumentasi ini. Karena fakta-faktanya benar, kesimpulanya sesuai.


Aku membuat diriku sendiri menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan seolah-olah aku sedangmendengarkannya untuk kali pertama. Sekali lagi, aku  harus memutuskan. Bukankah fakta-fakta mengatakan bahwa Tuhan telah membangkitkan Anak-Nya dari kematian? (Ya atau Tidak?) Kemudian, apakah kehidupan kekal sebuah realitas? (Ya atau Tidak?) Kemudian, apakah pengajaran lainnya dari Yesus juga benar? (Ya atau Tidak?) Meskipun isu-isu lain berangkali penting,  pertanyaan-pertanyaan ini memadai bagiku untuk mengetahui bahwa segala sesuatu akan selesai pada akhirnya, bahkan secara kekal. Aku  kelak  mengetahui  jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku pada suatu hari. Aku dapat  menantikannya, dipastikan bahwa sudah ada, memang benar, jawaban-jawaban. Dan yang paling baik dari semuanya, Debbie akan menantikanku di surga, semua tersenyum, karena dia telah mengetahuinya!


SELESAI
Job and Me[1-1-1997],  Liberty University, Faculty Publications and Presentations. Paper 36.|diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora

Gary R. Habermas is Distinguished Professor and Chair of the Department of Philosophy and Theology at Liberty University. 





© 2001 by Dr. Gary R. Habermas. All rights reserved. ©






P O P U L A R - "Last 7 days"