F O K U S

Nabi Daud Tentang Siapakah Kristus

Ia Adalah Seorang Nabi Dan Ia Telah   Melihat Ke Depan Dan Telah Berbicara Tentang Kebangkitan Mesias Oleh: Blogger Martin Simamora ...

0 IMAN & KUASA TUHAN

Oleh : DR. Jerry Bridges

Ilustrasi :123rf

Penyembuhan anak laki-laki yang dirasuki oleh  setan ( Matius 17:14-20)  sekilas   terlihat  hanya satu lagi dari sebuah rangkaian penyembuhan mujizat yang dicatat oleh  Matius. Apa yang membuat  mujizat penyembuhan ini unik adalah penekanan Yesus pada peran iman.  Memang benar bahwa iman  menonjol dalam mujizat-mujizat yang dicatat dalam bab 9, tetapi dalam bab 17 ketiadaan iman yang ditekankan  oleh Yesus.


Tuhan tidak bergantung pada iman manusia untuk menuntaskan pekerjaan-Nya   terlihat jelas dari kisah-kisah mujizat lain yang dicatat  oleh Matius. Segera setelah Transfigurasi Yesus terjadi,  berlangsunglah  penyembuhan anak laki-laki, ini adalah sebuah contoh utama. Ini adalah sebuah mujizat spektakuler; namun demikian iman manusia tidak dilibatkan. Hal ini juga benar terjadi dalam pemberian lima ribu orang ( Matius 14:13-21) dan  empat ribu orang ( Matius 15:32-38). Sehingga hal pertama yang  harus kita pelajari mengenai iman dan kuasa Tuhan adalah bahwa Dia tidak bergantung pada iman kita untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tuhan tidak akan tersandera pada ketiadaan iman kita.


Akan tetapi, hal kedua yang harus kita pelajari adalah, bahwa Tuhan kerap  menuntut  iman kita untuk menjalankan maksud-maksudnya. Kita melihat ini dalam penyembuhan anak laki-laki  yang kerasukan setan. Markus dalam catatannya, mengutarakan hal ini secara tajam dalam percakapan Yesus dengan ayah  dari anak laki-laki tersebut. Si ayah, dalam kesedihan besar, berkata kepada Yesus :” jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Markus 9:22).  Si ayah telah mengalami kegagalan para murid, sehingga dia tidak yakin jika Yesus dapat menolong. Imannya pada titik ini   yang  dapat digambarkan tidak lebih dari sebuah pengharapan yang tidak pasti bahwa Yesus dapat  melakukan apa yang tidak dapat dilakukan murid-murid.



Yesus menjawab  ayah anak  tersebut : ” Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (ayat 23). Iman biblikal dapat digambarkan dalam cara-cara  yang berbeda bergantung pada situasi. Deskripsi iman dalam Ibrani 11:1 berbunyi “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat,” adalah  sesuai atau cocok bagi  penerima  surat tersebut, orang Yahudi, yang sedang menghadapi penentangan yang keras dan  harus diberikan semangat terkait kepastian pengharapan mereka dalam Kristus.



Bagi ayah si anak lelaki tadi, iman dapat bermakna  mempercayai bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya. Kita kerap seperti ayah dari anak ini. Kita mungkin menghadapi apa yang terlihat  sebagai sebuah keadaan yang sulit untuk diatasi, dan karena kita telah berdoa  dalam waktu yang lama tanpa sebuah jawaban, kita mulai meragukan Tuhan dapat menjawab doa kita. Tetapi kita harus percaya bahwa bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.



Sara, isteri Abraham, telah meragukan bahwa Tuhan dapat memberikan mereka seorang putera dalam usia mereka yang lanjut, yang mana Tuhan menjawab, “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?” (Kejadian 18:14). Berabad-abad kemudian, nabi Yeremia goyah imannya  ketika Tuhan berkata kepadanya untuk membeli sebidang  ladang  saat bangsa Babilon  menginvasi ( Yeremia 32:6-26). Kembali respon Tuhan adalah “adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (ayat 27). Untuk memiliki iman kepada Tuhan, bahkan kala dihadapan doa yang tak terjawab atau  terlihat situasi yang mustahil,  berarti kita terus  percaya bahwa Dia dapat melakukan apa yang terlihat mustahil bagi kita.



Pentingnya iman  lebih lanjut ditekankan  dalam jawaban Yesus  terhadap pertanyaan murid-murid : “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" (Matius 17:19). Dia mengatakan hal itu karena iman mereka yang   lemah. Kita tidak diberitahu dalam hal apakah iman mereka tidak  memadai. Kita tahu bahwa Yesus sebelumnya telah memberikan kepada mereka kuasa atas setan-setan untuk mengusir mereka ( Matius 10:1-8), lalu mengapa iman mereka demikian lemah saat ini?  Berangkali  hal ini karena setan itu tidak merespon mereka dengan segera terhadap perintah mereka, dan  membuat mereka mulai meragukan kuasa Yesus. Atau  berangkali mereka telah berpikiran  bahwa karena mereka trelah berhasil sebelumnya, mereka pasti berhasil juga kali ini. Sehingga kita melihat bahwa iman tidak hanya sebuah kebergantungan yang pasti terhadap kuasa dan kemampuan Yesus, tetapi juga sebuah  pembuangan dari segala bentuk keyakinan pada diri kita sendiri.



Bulan lalu kita telah meninjau secara ringkas subyek providensia Tuhan. Pada Matius 17 kita melihat sebuah contoh providensia dalam   aksinya, dalam kaitan dengan  sebuah peristiwa duniawi—membayar pajak bait suci. Yesus, sebagai Anak Allah, tidak dibawah kewajiban apapun untuk membayar  pajak. Namun demikian agar tidak melanggar, Dia mengirim Petrus untuk menangkap  seekor ikan yang didalam mulutnya ada  uang  yang diperlukan untuk membayar pajak. Kisah singkat ini memunculkan sejumlah Tanya: Bagaimana  koin uang itu  masuk kedalam mulut ikan tersebut? Bagaimana Petrus “kebetulan” belaka menangkap ikan itu dan  bukannya ikan  lain yang ada dekat dengan ikan tersebut? Adalah mungkin bagi Yesus   untuk mengadakan mujizat dan menciptakan   koin dari yang tidak ada dalam mulut ikan tersebut.


Akan tetapi, hal semacam ini lebih seperti   kerja providensia . Seseorang  “secara kebetulan” telah menjatuhkan sebuah koin uang kedalam   laut. Seekor ikan tertentu telah memagutnya, dan koin itu tersangkut dalam mulutnya. Ikan tersebut berenang ke tempat tepat dimana Petrus menebarkan jaringnya dan ikan tertangkap. Tidak satupun dari peristiwa ini adalah  mujizat; namun keseluruhan peristiwa ini penting untuk menggenapi maksud  Yesus, dan Yesus memegang kendali atas setiap kejadian. Kuasa Tuhan adalah sebanyak kerja providensianya  seperti dalam mujizat-mujizat-Nya. Sehingga kita bergumul dengan iman kita sendiri, atau  kurang beriman, dalam situasi-situasi hidup yang sulit, marilah kita percaya bahwa Tuhan  mampu, apakah melalui mujizat-mujizat-mujizat atau providensia, untuk memelihara kita.



Faith and  The Power of God – Tabletalk-Ligoniere Ministries and R.C Sproul | diterjemahkan : Martin Simamora

No comments:

Post a Comment

Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9