0 KECEMASAN YANG TAK TERKENDALI


foto : parentdish.co.uk

Ditengah-tengah menuliskan kolomku bulan ini, saya telah menghapus yang sudah kutuliskan dan telah memulainya lagi dari awal karena saya baru saja menerima kabar dari salah satu sahabat karibku bahwa isterinya, hamil dengan penantian yang lama untuk anak kedua, kemungkinan akan mengalami keguguran.  Hatiku diliputi dengan kesedihan tak tahu bagaimana masa depan mereka. Selagi  saya menulis, sahabatku dan isterinya sedang dalam perjalanan menuju    dokter.


Memiliki pengalaman yang serupa pada anak pertama kami beberapa tahun lampau, isteriku dan saya sendiri berempati dengan sahabat-sahabatku ini. Mereka yang  telah mengalami kehilangan seorang anak yang belum lagi lahir mengetahui ketakutan dan kegelisahan yang sedang  saya bicarakan. Kata-kata  tak mampu untuk mengekspresikan  kepedihan karena kehilangan semacam ini. Sebagai seorang pria, seorang sahabat, seorang pastor, saya memiliki beberapa patah kata bijak baginya selagi dia berupaya  menghibur isterinya dan selagi mereka berdua mencari penghiburan dari Tuhan kita yang berdaulat.


Sebagai orang percaya, kita tidak mempertanyakan kedaulatan Tuhan—sebaliknya. Kita tidak kuatir karena kita telah melupakan prinsip teologia yang paling mendasar, yaitu bahwa Tuhan adalah Tuhan—berdaulat. Kita kuatir mengenal dengan sangat baik  bahwa Dia  memang berdaulat, namun dalam  kerajaan egois kita sering lupa bahwa itu adalah kedaulatan abadi yang  baik hati terhadap orang yang  diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus.



Selagi kita hidup dihadapan Tuhan setiap hari  ada  berbagai alasan untuk kecemasan yang nyata, kita dapat yakin  bahwa kedaulatan-Nya (bukan kita)—kendali-Nya (bukan kendali kita)—kesetiaan-Nya (bukan kesetiaan kita)—adalah satu-satunya pengharapan nyata dalam dunia yang menyedihkan ini. Karena apa yang Dia ciptakan Dia topang, yang Dia  mulai adakan  
Foto : www.bhmpics.com
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan
tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam
lumbung, namun diberi makan   oleh Bapamu yang di sorga.
Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Mat 6:26
 
Dia sempurnakan, dan yang telah Dia mulai Dia selesaikan. Dan apakah kita  sepenuhnya tak dapat  memahaminya  atau sepenuhnya menyadari akan hal-hal tersebut, hal ini bukan tentang penerimaan, kendali kita, atau juga rasionalisasi akan akan hal-hal tersebut.



Kita hanya akan merdeka  ketika kita menjadi yang  bergantung pada Tuhan seperti burung-burung di udara yang diberi makan oleh Bapa surgawi kita dan yang nyanyian-nyanyiannya mengarahkan  mata kita ke arah langit  ketika kita mendengarkan burung-burung itu menyanyikan, “Anak Adam, jangan kuatir akan hari esok, serahkanlah semua kuatirmu kepada Dia, karena jika Dia peduli kepadaku, betapa lebih besar lagi Dia peduli kepadamu?



Uncontrollable  Anxiety- Tabletalk Magazine | diterjemahkan: Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"