0 M A N U S I A (Part 3)




Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN)

“R E V I V A L”
Kebaktian Minggu : Jam 09.00 di Hotel Sylvia Lt.4; Pemahaman Alkitab : Rabu, Jam 17.00 di Hotel Dewata

Khotbah Minggu, 11 Nov 2012
M A N U S I A (Part 3)
By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.


Dalam bagian 1-2, kita sudah membahas 4 hal seputar penciptaan manusia :
      1.    Manusia diciptakan melalui perundingan ilahi.
      2.    Manusia diciptakan langsung dan segera.
      3.    Manusia diciptakan pada hari ke enam
      4.    Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Sekarang kita akan melihat fakta-fakta yang lain lagi :

V.    MANUSIA DICIPTAKAN DENGAN MULTI ASPEK.

Mengamati catatan Alkitab tentang penciptaan manusia maka akan terlihat bahwa sewaktu Allah menciptakan manusia, Ia telah menggabungkan 2 unsur penting di dalam diri manusia yakni debu tanah dan nafas hidup/roh.

Kej 2:7 - Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Bandingkan :

Kej 3:19 – “… sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Ayub 33:4 - Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.
Penggabungan antara debu tanah dan nafas hidup inilah yang disebut sebagai manusia. Debu tanah saja bukan manusia (paling-paling bisa dibentuk menjadi patung). Nafas / roh Allah saja bukan manusia tetapi roh. Manusia adalah debu yang bernafas sehingga lalu disebut makhluk hidup. Debu bersifat jasmaniah sedangkan nafas hidup / roh bersifat rohaniah. Akibat penggabungan ini maka manusia menjadi semacam dikotomi yang terdiri dari tubuh (yang berasal dari debu) dan jiwa/roh (yang berasal dari nafas Allah).

Memang ada juga pandangan trikotomi yang mengatakan bahwa manusia terdiri dari 3 bagian yakni tubuh, jiwa dan roh. Salah satu dasarnya adalah 1 Tes 5:23.

1 Tes 5:23 - Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Tetapi studi yang cermat tidak memberikan dukungan yang kuat pada pandangan trikotomi ini. Bahwa dalam 1 Tes 5:23 kata jiwa dan roh muncul bersamaan tidak harus berarti bahwa jiwa dan roh memang adalah 2 elemen berbeda. Ini sama seperti kata “gambar” dan “rupa” dalam Kej 1:26 juga muncul bersamaan tetapi seperti yang sudah dijelaskan, itu mempunyai makna yang sama. Jadi maksud dari kata-kata ‘roh, jiwa dan tubuhmu’ adalah menekankan seluruh dirimu’ (bandingkan dengan bagian awal dari 1Tes 5:23 itu). Itu saja!

1 Tes 5:23 - Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Selain itu Alkitab secara berulang-ulang menunjukkan bahwa manusia terdiri dari 2 bagian saja (dikotomi) sekaligus memperlihatkan bahwa kata jiwa dan roh dipergunakan secara “interchangeable” (dibolak-balik).


  • Pada waktu diciptakan, manusia hanya terdiri dari 2 bagian saja, yaitu ‘tubuh yang dibuat dari debu tanah’, dan ‘nafas hidup’ yang Allah hembuskan.

Kej 2:7 - ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

  • Ada ayat-ayat yang menyebutkan 2 elemen saja yakni tubuh dan roh.

Pengkh 12:7 - dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.
Mat 26:41 - Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging (= tubuh) lemah."}
Rom 8:10 - Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.
1 Kor 5:5 - orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.
Yak 2:26 - Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

  • Ada ayat-ayat yang menyebutkan 2 elemen saja yakni tubuh dan jiwa.

Mat 6:25 - "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu (Yun. PSUCHE = jiwa), akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai….”

Mat 10:28 - Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Perhatikan bahwa kalau pandangan trikotomi yang benar, maka ayat ini akan jadi aneh sekali, karena ayat ini akan berkata: jangan takut kepada manusia yang bisa membunuh tubuh (1/3 dari kamu), takutlah akan Allah yang bisa membunuh tubuh dan jiwamu (2/3 dari kamu). Bukankah lebih cocok kalau pandangan dikotomi yang benar, sehingga ayat ini akan berkata: jangan takut kepada manusia yang bisa membunuh tubuh (1/2 dari kamu), takutlah kepada Allah yang bisa membunuh tubuh dan jiwamu (seluruh dirimu)?


  • Ada ayat yang menyebut 2 unsur saja dengan sebutan jasmani dan rohani.

2 Kor 7:1 – “… marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.
Bahwa 2 elemen manusia itu kadang-kadang dinyatakan sebagai ‘tubuh dan jiwa’, dan kadang-kadang sebagai ‘tubuh dan roh’, menunjukkan bahwa ‘jiwa’ dan ‘roh’ adalah 2 kata yang bersifat interchangeable (bisa dibolak-balik). Dan dengan demikian jiwa dan roh adalah elemen yang sama. Jadi jelas bahwa manusia adalah dikotomi yang dibentuk dari unsur jasmaniah yakni debu tanah dan unsur rohaniah yakni roh Allah.

Bahwa Allah menghembuskan nafas atau roh-Nya sehingga manusia yang dibentuk dari debu tanah itu menjadi makhluk yang hidup tentu wajar dan dapat dipahami, tetapi yang harus dipikirkan adalah mengapa Allah harus membentuk manusia dari debu tanah? Bukankah penciptaan dari debu tanah ini menjadikan manusia sama atau selevel dengan binatang?

Kej 2:19 - Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara….”

Pengkh 3:19-20 – (19) Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain…. (20) Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.

Memang derajat manusia lebih tinggi daripada binatang karena adanya gambar dan rupa Allah yang diberikan ke dalam manusia, juga penghembusan roh Allah kepada manusia itu, tetapi yang menjadi persoalan adalah mengapa harus dari debu tanah yang adalah elemen yang sama dengan binatang? Saya memahami bahwa di sini Allah hendak membuat keseimbangan bagi manusia. Hal-hal yang sudah diberikan / dilakukan terhadap manusia sebagaimana yang sudah kita bahas (diciptakan melalui perundingan ilahi, diciptakan pada hari ke enam, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga menjadi mirip/hampir sama seperti Allah) dan juga bahwa ia diberikan kuasa untuk mengatur segala ciptaan (Kej 1:28), semuanya dapat saja membuat manusia menjadi menjadi sombong / besar kepala dan merasa diri seperti Tuhan Allah dan pada akhirnya melawan Tuhan Allah.  Tuhan tidak ingin manusia merasa seperti itu dan karena itu Ia menciptakan manusia dari debu tanah yang fana dan tak berarti, persis seperti elemen yang dipakai-Nya untuk menciptakan binatang agar manusia selalu mengingat hal itu ketika ia merasa diri begitu hebat di hadapan Tuhan Allah. Dia harus ingat bahwa segala yang baik yang ada padanya, yang membedakannya dari binatang berasal dari Tuhan dan Tuhan kalau Tuhan menarik semuanya, ia tidak ada beda dengan binatang.

John J. Davis – Agar manusia tidak memberi penilaian yang terlalu tinggi terhadap manusia yang pertama, di sini dicatat bahwa meskipun manusia mempunyai kedudukan tinggi karena Allah dijadikan menurut gambar Allah, manusia memiliki bagian pokok dalam susunannya yang selalu melarang timbulnya kebanggaan diri yang tidak pantas ...” (Paradise to Prison, hal. 79)

Ini perlu diingat oleh setiap kita supaya kita jangan menjadi sombong dan merasa tidak perlu Tuhan atau menganggap remeh Tuhan. Abraham sangat menyadari ini sehingga ketika ia menghadap Tuhan dan hendak mengajukan permohonan terkait dengan nasib Sodom, ia berkata :

Kej 18:27 - Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.
Berbeda dengan Abraham, Yehu tidak menyadari hal ini dan karena itu firman Tuhan datang kepadanya :

1 Raj 16:2 - "Oleh karena engkau telah Kutinggikan dari debu dan Kuangkat menjadi raja atas umat-Ku Israel, tetapi engkau telah hidup seperti Yerobeam dan telah menyuruh umat-Ku Israel berdosa, sehingga mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan dosa mereka.

Jadi kenyataan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah seharusnya membuat manusia sadar diri dan tidak menjadi sombong atau kurang ajar dengan segala apa yang ada padanya dan merasa tidak perlu Tuhan. Setiap kali kita merasa diri hebat, setiap kali kita merasa diri terlalu berarti, setiap kali kita merasa diri benar di hadapan Tuhan, ingatlah bahwa kita adalah debu tanah dan dalam aspek itu, kita tidak lebih daripada binatang.

Ayub 25:4-6 – (4) Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? (5) Sesungguhnya, bahkan bulan pun tidak terang dan bintang-bintang pun tidak cerah di mata-Nya. (6) Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!"
Bandingkan bunyi ayat ini dalam Terjemahan Lama :

TL – (4) Maka bagaimana gerangan manusia benar di hadapan Allah? bagaimana gerangan orang yang diperanakkan oleh perempuan itu suci dari pada salah? (5) Bahwasanya bulan juga tiada terang betul dan segala bintangpun tiada suci kepada pemandangan-Nya; (6) istimewa pula manusia, yang ulat adanya, dan anak Adam, yang seperti cacing tanah!
Tetapi kenyataan bahwa kita diciptakan dari debu tanah juga tak selamanya bermakna negatif. Itu bisa bermakna positif. Tuhan yang menciptakan kita dari debu tanah, berarti Dia tahu persis siapa kita sebenarnya. Dia sadar bahwa tanpa Dia kita hanyalah debu dan tidak ada artinya apa-apa. Dia bisa mengerti bahwa sebagai debu terlepas dari providensi-Nya, kita adalah makhluk yang lemah dan mudah jatuh dalam dosa. Karena itu Dia juga dapat menjadi Allah yang peduli dan bersimpati pada kita, bisa memahami kelemahan-kelemahan kita. Dia memang tidak bisa kompromi dengan dosa, tetapi Dia bisa mengerti kelemahan manusia. Dia bisa mengerti bagaimana Daud yang begitu cinta kepada-Nya bisa melakukan perzinahan yang hebat bahkan pembunuhan. Dia bisa mengerti mengapa semangat yang menyala-nyala dalam diri Petrus bisa berubah menjadi sebuah penyangkalan. Demikian juga Dia bisa mengerti pergumulan saudara di dalam menghadapi dosa. Mengapa Dia bisa mengerti kelemahan-kelemahan kita? Jawabannya :

Maz 103:14 - Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

Yesus juga pernah berkata : “Roh memang penurut tetapi daging (tubuh yang dibentuk dari debu tanah) lema”. Jikalau Dia saja ingat bahwa kita ini debu, kita juga musti selalu ingat bahwa kita ini debu dan karena itu kita perlu bergantung sepenuhnya pada Dia. Kita tidak mungkin bisa tetap kuat iring Dia, taat pada Dia, setia pada Dia tanpa Dia menopang kita.

Kembali pada pembahasan utama kita, manusia adalah makhuk yang diciptakan secara multi aspek yakni aspek jasmaniah (debu tanah) dan aspek rohaniah (nafas/roh Allah). Ini berarti bahwa manusia adalah penggabungan/kombinasi antara debu tanah dan nafas/Roh Allah. Debu dari bawah dan nafas dari atas. Maka manusia adalah kombinasi antara ‘atas’ dan ‘bawah’. Debu bersifat fana dan nafas/Roh Allah bersifat kekal/baka. Maka manusia adalah kombinasi antara kefanaan dan kebakaan/kekekalan. Debu dari bumi dan nafas dari surga. Maka manusia adalah kombinasi antara bumi dan surga. Karena itu manusia barulah memahami hakikat diri sesungguhnya dalam kesadaran dan keseimbangan 2 aspek ini. Manusia harus sadar bahwa dirinya di satu sisi adalah fana tapi di sisi yang lain adalah kekal. Manusia harus senantiasa melihat ke atas sambil sadar bahwa ia ada di bawah. Manusia harus belajar menatap ke surga sementara ia ada di bumi.

Ada banyak orang hidup secara tidak seimbang dalam hubungan dengan 2 aspek ini. Ada orang yang terlalu peduli dengan urusan jasmaniah (kekayaan, harta, uang, kesehatan, pekerjaan, dll) tetapi tidak peduli dengan urusan yang bersifat rohani. Sebaliknya ada orang yang terlalu peduli dengan urusan rohani dan lupa bahwa dia masih ada di bumi. Ingat, manusia tidak boleh merasa sudah di atas dan lupa bahwa ia masih di bawah. Tetapi manusia juga harus belajar melihat ke atas selagi ia masih ada di bawah. Yesus pernah berkata : “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:4). Itu berarti bahwa dalam hidupnya manusia membutuhkan 2 hal ini. Roti (jasmani) dan firman (rohani). Sudahkah 2 hal ini ditekankan secara seimbang di dalam hidup anda?

VI. MANUSIA DICIPTAKAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN.

Fakta berikutnya dari penciptaan manusia adalah bahwa manusia diciptakan laki-laki dan perempuan.

Kej 1:27 - Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Dalam Kej 2, penciptaan jenis perempuan ini didahului dengan kata-kata Tuhan sendiri : “tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”.

Kej 2:18 – “…"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Ini pertama kalinya muncul kata-kata “tidak baik” dalam kisah penciptaan setelah sebelumnya berkali-kali dikatakan bahwa “Allah melihat segala yang diciptakan itu baik”. Tetapi kata-kata ‘tidak baik’ di sini tidak bertentangan dengan kata-kata ‘sungguh amat baik’ dalam Kej 1:31 karena Kej 1:31 terjadi setelah Hawa ada, sedangkan Kej 2:18 diucapkan oleh Allah sebelum Hawa ada. Juga ‘tidak baik’ di sini tidak berarti ‘jelek’, tetapi ‘tidak lengkap’. Jadi Tuhan menciptakan perempuan untuk laki-laki guna melengkapi apa yang belum lengkap. Karena itu laki-laki tidak boleh meremehkan perempuan karena tanpa mereka hidup saudara belum lengkap. Tetapi perempuan juga jangan menjadi sombong karena saudara hanyalah pelengkap, tanpa laki-laki apa yang akan saudara lengkapi?

Kita sudah belajar bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dan itu berarti bahwa Allah telah memasukkan sebagian sifat diri-Nya ke dalam manusia sehingga sampai pada taraf tertentu, manusia menjadi mirip dengan Allah. Kita sudah menyinggung sejumlah aspek yang berkenaan dengan itu tetapi juga dapat ditambahkan bahwa salah satu sifat Allah yang lain adalah sifat sosial. Maksudnya adalah Allah bukanlah suatu “makhluk” dengan 1 pribadi yang menyendiri tanpa pribadi lain di samping-Nya. Ia adalah Tritunggal. Ia adalah Allah yang esa yang memiliki 3 pribadi yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus dan dengan demikian dari kekekalan hingga kekekalan, Allah hidup dalam suatu persekutuan antar pribadi Tritunggal ini. Allah adalah Allah yang berelasi, Allah yang berinteraksi, Allah yang bergaul, Allah yang bersahabat. Nah, karena Ia menciptakan manusia seturut dengan gambar dan rupa-Nya maka sifat sosial dari Allah ini lalu dimanifestasikan dalam penciptaan manusia dalam 2 jenis berbeda agar manusia dapat juga menjadi makhluk sosial seperti Allah. Dengan adanya jenis perempuan di samping jenis laki-laki, maka manusia laki-laki dan perempuan itu dapat berelasi, berinteraksi, bergaul, bersahabat, seperti yang terjadi di antara pribadi-pribadi dari Allah Tritunggal. 

Kembali pada penciptaan manusia laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa Allah dengan jelas memberi perbedaan antara jenis laki-laki dan jenis perempuan itu : “diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Ia menciptakan manusia laki-laki, Ia juga menciptakan manusia perempuan. Ia menciptakan manusia laki-laki sedemikian rupa sehingga ketika orang melihatnya, orang tahu bahwa itu adalah jenis laki-laki. Ia menciptakan manusia perempuan sedemikian rupa sehingga ketika orang melihatnya, orang tahu bahwa itu adalah jenis perempuan. Jadi Tuhan tidak pernah menciptakan 1 jenis yang “abu-abu” atau 1 jenis “campuran” yakni setengah laki-laki dan setengah perempuan yang sering disebut sebagai “waria”. Tidak!!! Kalau ada seperti itu, itu jelas sebuah penyakit psikologis. Begitu tegasnya Tuhan dalam hal ini sehingga Tuhan melarang semua upaya pengaburan jenis kelamin ini.

Ul 22:5 - "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.
Ayat ini seringkali dipakai oleh orang-orang Persekutuan Doa untuk melarang perempuan memakai celana panjang. Tetapi ini jelas salah! Celana panjang itu bukan dominasi laki-laki. Perempuan kan bisa memakai celana panjang khusus perempuan. Tujuan ayat ini bukan semata-mata terletak pada jenis pakaian melainkan jenis pakaian yang dapat mengaburkan perbedaan jenis kelamin. Jadi maksudnya adalah bahwa seorang perempuan tidak boleh memakai pakaian laki-laki sehingga identitas keperempuannya menjadi kabur. Demikian juga seorang laki-laki tidak boleh memakai pakaian perempuan sehingga identitas kelaki-lakiannya menjadi kabur. (Ini tentu tidak dimaksudkan jika ada tujuan tertentu seperti ketika orang bermain drama/film atau sementara menyamar). Jadi intinya adalah Tuhan menciptakan manusia 2 jenis yakni laki-laki dan perempuan dan Tuhan tidak mau jenis ini dikaburkan. Karena itu seorang laki-laki tidak boleh berpakaian dan berperilaku seperti perempuan, sebaliknya seorang perempuan tidak boleh berpakaian dan berperilaku seperti laki-laki. Lebih daripada itu, tidak boleh melakukan operasi penggantian kelamin seperti yang dilakukan Dorce Gamalama, cs. Itu adalah dosa!

Selanjutnya, manusia laki-laki dan perempuan itu diberkati oleh Tuhan, dan Tuhan mengawinkan mereka. Inilah perkawinan pertama di dunia. Dan saya percaya bahwa perkawinan pertama yang digagas langsung oleh Allah ini boleh menjadi pola bagi pernikahan Kristen selanjutnya dan banyak hal tentang pernikahan dapat ditiru dari pernikahan/perkawinan Adam dan Hawa ini, tetapi dalam kaitan dengan tema kita tentang manusia, saya hanya akan memberikan beberapa saja yang relevan :

a.    Perkawinan haruslah terjadi antara manusia dengan manusia.

Karena Allah mengawinkan Adam dan Hawa yang adalah manusia maka ini menjadi pola bahwa seorang manusia haruslah kawin dengan sesama manusia. Manusia tidak boleh kawin dengan yang bukan manusia seperti binatang. Perkawinan / hubungan seks dengan binatang adalah kelainan seksual yang disebut sebagai bestiality / zoophilia, dan ini dilarang oleh Alkitab bahkan diancam dengan hukuman mati.

Kel 22:19 - Siapapun yang tidur dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati.

Im 18:23 - Janganlah engkau berkelamin dengan binatang apa pun, sehingga engkau menjadi najis dengan binatang itu. Seorang perempuan janganlah berdiri di depan seekor binatang untuk berkelamin, karena itu suatu perbuatan keji.
Im 20:15-16 – (15) Bila seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati, dan binatang itu pun harus kamu bunuh juga. (16) Bila seorang perempuan menghampiri binatang apa pun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

Karena itu janganlah kawin dengan binatang (babi, ayam, kambing, dll). Itu untuk dipelihara / dimakan, bukan dikawini. Kawinlah dengan sesama manusia!

b.    Perkawinan haruslah antara manusia laki-laki dan manusia perempuan.

Karena Allah mengawinkan manusia laki-laki dan perempuan, maka ini juga menjadi pola bahwa sebuah perkawinan harusnya adalah antara seorang manusia laki-laki dan seorang manusia perempuan. Jadi laki-laki tidak boleh kawin dengan laki-laki dan perempuan tidak boleh kawin dengan perempuan (lesbian). Ini dosa! Hukumannya menurut Taurat adalah hukuman mati!

Im 20:13 - Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

Rom 1:26-27 – (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar (LESBIAN). (27) Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki (HOMOSEKSUAL), dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
Karena itu janganlah sekali-kali kita melakukan dosa homoseksual dan lesbian ini. Ini adalah penyimpangan dari apa yang Tuhan tetapkan!

John J. Davis - “… perkawinan harus di antara orang yang berbeda jenis kelamin; pasangan yang Allah ciptakan bagi Adam, seorang laki-laki, adalah Hawa, seorang perempuan. Meskipun "gerakan pembebasan orang homoseksual" dengan gigih mengemukakan alasan agar homoseksualitas disahkan, alasannya tak dapat bertahan bila dipandang dari sudut penyataan alkitabiah. Seandainya Allah merencanakan perkawinan homoseksual, tentu Kejadian 2 akan mengatakan sesuatu mengenai Adam dan Bambang. Perkawinan pertama yang diselenggarakan oleh Allah jelas merupakan pola. Orang-orang yang berusaha menyusun alasan yang alkitabiah untuk homoseksualitas harus meninggalkan sama sekali hermeneutik yang masuk akal. (Paradise to Prison, hal. 82).

Saudara mungkin sukar mendapatkan jodoh, tetapi apapun terjadi janganlah sampai kawin dengan jenis yang sama dengan saudara. Seorang teman yang kesulitan mendapatkan jodoh sampai usia 40 berkata pada saya : “bagaimanapun juga tahun depan saya harus menikah. Saya tidak akan pilih-pilih orang lagi. Saya tidak peduli kaya atau miskin, putih atau hitam, berpenbdidikan atau tidak, laki-laki atau perempuan, yang penting baik hatinya”. Jelas ini pandangan orang yang stress. Mario Teguh pernah mengatakan kalimat seperti dalam gambar di samping ini. Walaupun saya tidak setuju bahwa perbedaan agama tidak penting, tetapi saya setuju bahwa perbedaan kelamin adalah hal yang penting.

Atas dasar ini pula maka orang Kristen apalagi gereja harus menolak sama sekali pernikahan orang sesama jenis. Kita tidak boleh berpandangan seperti Presiden Amerika Serikat Barak Obama maupun artis Madonna yang mendukung perkawinan sejenis. Kita juga tidak boleh setuju dengan apa yang dilakukan oleh sejumlah gereja gila dan sesat yang melakukan pemberkatan terhadap pasangan sejenis. Sampai tahun 2009 sudah ada 13 negara yang melegalkan pernikahan sejenis di antaranya adalah Denmark, Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada, Afrika Selatan, Swedia, Portugal, Meksiko, Argentina. Tetapi yang paling liberal adalah Swedia.

www.eramuslim.com - Pernikahan sejenis (homoseksual) telah disahkan menjadi undang-undang di Swedia. Swedia menjadi negara ketujuh yang melegalkan pernikahan ala kaum Luth ini. Dalam jajak pendapat terakhir 71% dari penduduk Swedia menyetujui pernikahan ini. Bahkan hasil jajak pendapat yang dilakukan Sveriges Television (SVT) di kalangan gereja menunjukkan 68% dari 1700 pastur melegalkan pernikahan sejenis di gereja mereka, 21% menolak, dan 11% abstain. Ini menjadikan Swedia menjadi negara pertama yang melagalkan perkawinan sejenis di mayoritas gereja.

www.jawabannews.com - Dewan Gereja Swedia akhirnya menyetujui sakramen pemberkatan netral untuk para gender baru ini setelah diadakannya voting dengan hasil yang cukup jauh, 176-62. Uskup Agung Swedia, Anders Wejryd, mengatakan bahwa dukungan atas gerakan gereja tersebut adalah ‘sebuah keputusan yang tepat'.

Gereja Kristen yang benar tidak boleh setuju dengan praktek pernikahan homoseksual seperti ini.
                                                                                              
c.    Perkawinan haruslah antara 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Perhatikan bahwa Tuhan hanya memberikan 1 orang Adam untuk 1 orang Hawa dan setelah itu mengukuhkan perkawinan mereka. Itu berarti bahwa pernikahan tidak boleh bersifat poligami maupun poliandri. Memang ada tokoh Alkitab yang berpoligami (Abraham, Daud, Salomo, Yakub, dll) tapi itu bukan teladan yang harus diikuti. Itu adalah kesalahan yang tidak boleh ditiru! Karena itu adalah salah juga orang-orang dari sekte-sekte tertentu yang mengawini banyak perempuan dengan dalih perintah Tuhan.  Misalnya :§  Ziona Chana.

www.terselubung.blogspot.com - Seorang pria India dari Mizoram, di bagian timur laut negara itu, memiliki keluarga terbesar di dunia dengan jumlah 181 jiwa yang meliputi 39 istri, 94 anak-anak dan 14 anak menantu dan 33 cucu. Ziona Chana 67 tahun dan keluarganya tinggal di rumah dengan 100 kamar, rumah berlantai empat di tengah-tengah perbukitan Baktwang di desa Mizoram. Keluarga ini menerapkan disiplin mirip militer, dengan istri tertua Zathiangi pengorganisasian mitra rekan-rekan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan, mencuci dan menyiapkan makanan. Satu makan malam bisa melihat mereka memotong 30 ayam, 132 kulit dari kentang dan menanak sampai 220 liter beras. Ziona menjaga istri muda di dekat kamar tidurnya dengan anggota keluarga yang lebih tua tidur lebih jauh. Istri-istrinya mengunjungi kamar tidurnya secara bergiliran. Ziona bertemu istrinya tertua, yang tiga tahun lebih tua daripada dirinya, ketika ia berusia 17 tahun. 'Saya pernah menikah 10 wanita dalam satu tahun,' ia mengatakan. 'Bahkan saat ini, saya siap untuk memperluas keluarga saya dan bersedia untuk pergi ke batas tertentu untuk menikah. Aku punya begitu banyak orang untuk merawat dan memperhatikanku, dan saya menganggap diri saya orang beruntung”. Ziona adalah kepala sebuah sekte Kristen agama setempat yang disebut 'Chana', yang memungkinkan poligami. Dibentuk pada Juni 1942, bagian dari keyakinan sekte adalah bahwa mereka akan segera memerintah dunia dengan Kristus.

Berikut ini adalah foto Ziona Chana dengan para isteri dan anak-anaknya serta rumah tempat mereka tinggal.



§  Bello Maasaba (Nigeria)
www.terselubung.blogspot.com - Bello Maa-saba ternyata seorang pria yang memiliki istri terbanyak yang berjumlah 107 orang. Saat ini dia telah berusia 87 tahun. Saat ini dia tinggal bersama 87 orang istrinya. sementara 9 orang istrinya sudah meninggal dan 12 diantaranya sudah bercerai…. Selama masa 21 tahun Bello Maasaba hanya memiliki 2 orang istri. Kemudian pada tahun 1970, ia mengklaim memperoleh 'pencerahan'. Katanya dia dikunjungi malaikat Jibril. Ia menyatakan disuruh jibril untuk terus menikah. "Saya mendapat wahyu dari Tuhan yang meminta saya untuk menikahi wanita yang ingin saya nikahi. Jika tidak dari Tuhan, saya tak akan menikah lebih dari dua kali," ujar Maasaba. Maka menikahlah Maasba dengan para wanita. Ia melamar istri ketiganya setelah melihatnya sekali saja. "Saya melihatnya, lalu menyukainya. Kemudian saya temui orang tuanya dan melamarnya," katanya. Maasaba tak kesulitan hidup bersama puluhan istri. Sebagai kepala keluarga, ia dapat membuat suasana damai penuh kasih sayang dalam keluarga besarnya itu. …Lalu, bagaimana ia memenuhi kebutuhan seksual istri-istrinya itu? "Inilah rahmat Tuhan. Ia telah memberi saya tenaga untuk memenuhi kebutuhan seks mereka” katanya dengan bangga.


Inilah implikasi-implikasi dari kenyataan bahwa Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan.

Satu hal lagi yang perlu ditambahkan adalah bahwa sekalipun laki-laki dan perempuan ini berjenis kelamin berbeda, tetapi mereka sesungguhnya adalah jenis yang sama yakni manusia. Ini berarti bahwa manusia laki-laki dan perempuan sebenarnya adalah sederajat. Laki-laki tidak lebih tinggi derajatnya daripada perempuan dan perempuan tidak lebih rendah derajatnya daaripada laki-laki. Memang dalam kebudayaan tertentu termasuk kebudayaan Yahudi, perempuan dianggap mempunyai derajat yang lebih rendah tetapi dilihat dari sudut pandang penciptaan, juga di dalam Kristus, laki-laki dan perempuan sama derajatnya.

Gal 3:28 - Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Kalau ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan berumah tangga di mana laki-laki ditetapkan sebagai kepala keluarga, maka itu adalah perbedaan fungsi dan bukan derajat. Karena itu seorang laki-laki tidak boleh menganggap dirinya lebih penting atau lebih tinggi derajatnya daripada seorang perempuan, sorang perempuan tidak boleh menganggap dirinya lebih rendah derajatnya daripada seorang laki-laki. Demikian juga para orang tua tidak boleh memperlakukan anak laki-laki lebih istimewa daripada anak perempuan.



- AMIN -

P O P U L A R - "Last 7 days"