0 Jujur Kepada Tuhan! Dia Bukan sebuah “Pit Stop” (Bagian 3 Selesai)


Bacalah terlebih dahulu  Dua bagian sebelumnya di sini untuk bagian 1 dan di sini untuk bagian 2


Oleh : Daniel B. Wallace, Ph.D

Kedua, Pengakuan dosa melibatkan sebuah  pengakuan akan  ketidakcukupan dan kebutuhan kita
. Ketika saya mengaku, “Tuhanku, Aku mengakui dosa-dosaku. Dan aku berjanji, aku tidak akan melakukannya lagi! Saya  sesungguhnya sedang bertindak tidak jujur dengan Tuhan. Dengan nafas yang sama kita mengatakan kepada Tuhan kita telah kacau dan bahwa kita  memiliki kemampuan untuk tidak melakukan kekacauan lagi! Tetapi bukankah Yesus berkata,”Diluar Aku , tidak ada yang dapat kamu lakukan”? Dan bukankah Paulus berkata bahwa “tidak satupun yang berbuat baik, tidak seorangpun”—dan bahkan  orang-orang percaya secara konstan “kehilangan kemuliaan Tuhan”?

Pada sisi lain, adalah baik untuk mengungkapkan  keguncangan dan kengerian atas dosa kita dihadapan Tuhan. Tetapi ketika kita mengungkapkan ketidakpercayaan (“Bagaimana bisa saya dapat melakukan hal itu?”) maka kita nyaris dalam bahaya untuk berpikir bahwa kita memiliki kemampuan untuk kembali ke jalurnya  terlepas dari Roh Kudus.  Pada dasarnya,  pengakuan adalah menjadi jujur dengan Tuhan mengenai siapakah kita.



Ketiga, konteks untuk pengakuan bukan hanya yudisial: tetapi juga relasional. Pada satu sisi, pengakuan dihadapan Tuhan seperti seorang yang melalui persidangan. Dan dia  melaluinya tanpa ada penghukuman bagi mereka yang telah meletakan iman mereka kepada Kristus. Ada kebenaran yang mahal disini: karena Kristus telah membayar lunas harga dosa, adalah tidak adil bagi Tuhan untuk  mengenkan sebuah  penghukuman pada siapapun yang ada didalam Kristus. Oleh karena itu tidak perlu bahkan tidak benar untuk memohon kepada Tuhan untuk  mengampuni kita. Permohonan semacam ini  akan menjadi tamparan di wajah Yesus—Dia telah membayar lunas! Itu sebabnya  adalah adil bagi Tuhan untuk mengampuni dosa-dosa kita: Yesus telah membayar lunas harganya.


Sehingga  saya dapat sangat setuju dengan mereka yang memandang sebuah konteks yudisial terhadap pengakuan. Tetapi ada lebih banyak lagi—sangat banyak. Jika ini semata sebuah konteks yudisial, kita dapat berharap  untuk hanya menemukan istilah-istilah legal yang digunakan. Kita tidak perlu berharap adanya terminologi keluarga dalam  bentuk apapun.


Tetapi perhatikan :
  • Ayat 2-3---“Bapa” digunakan dua kali; “persekutuan” ada disebutkan (Kita tidak dapat memiliki persekutuan dengan seorang hakim) 
  • Ayat 6-7 (kembali, kita tidak memiliki persekutuan dengan serang hakim) 
  • 2:1 (Yesus adalah pengantara kita, ya!tetapi dengan Bapa! Yohanes mencampurkan  metaforanya disini. Ini merupakan gambaran yang luar biasa dari 2  macam cara kita semestinya berelasi dengan Tuhan.)

Saya percaya bahwa Katekisasi Wesminster versi yang lebih pendek sangat tepat ketika  menyatakan :”Apakah tujuan utama manusia? Untuk memuliakan Tuhan dan menikmati dia selama-lamanya.” Sampai kita tiba pada  pandangan  Tuhan sebagai Bapa, kita tidak hanya tidak dapat menikmati dia; kita juga tidak akan memahami apa  makna sesungguhnya mengakui dosa-dosa kita kepada dia.


Tuhan bukan sebuah tempat dimana kita   membuang dosa-dosa kita. Tuhan adalah sebuah pribadi; dia adalah Bapa kita. Memahami hubungan semacam ini membantu kita untuk memahami poin berikutnya.

Keempat, pengakuan dosa selalu melibatkan pertobatan. Nas-nas kitab suci sangat jelas bahwa seseorang tidak dapat  masuk kedalam sebuah hubungan dengan Tuhan tanpa pertobatan; dan ini sama jelasnya  bahwa seseorang tidak  dapat  melanggengkan persekutuan dengan Tuhan tanpa pertobatan.

Ketika Lukas  berbicara tentang  keselamatan dia menggunakan istilah-istilah  seperti “bertobat, percaya,” dan “berbalik dari dosa-dosa.” Semua istilah-istilah ini digunakan cukup sering dalam kitab Kisah  Para Rasul. Terkadang hanya “percaya” yang disebutkan , yang dengan percaya menyelamatkan orang itu. Kita semua sangat mengenal Kisah Para  Rasul 16:31—“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat.” Beberapa orang suka berpikir bahwa seluruh injil tersimpulkan  didalam kata-kata ini. Dalam banyak hal, memang benar.  Tetapi perhatikan, apa  yang terhilang : tidak  ada satu kata  yang menyebutkan apakah  yang dipercayai. Siapakah Yesus Kristus ini yang  harus dipercayai oleh orang Filipi yang ditahan ini? Mungkinkah dia mempercayai apapun juga tentang dia yang dia inginkan—dan masih diselamatkan? Jelas tidak. Misalnya ,dia tidak dapat menyangkali kebangkitan. Apa yang sedang berlangsung disini sangat  kerap terjadi dalam Perjanjian Baru—sesuatu  yang terkait dengan sebuah peringkasan teologikal. Paulus pasti telah  mengkomunikasikan isi-isi dari injil kepada  tahanan tersebut pada waktu-waktu sebelumnya. Ketika waktunya tepat, dia cukup berkata, “percaya.”



Ditempat lainya dalam Kisah Para Rasul, “percaya” bahkan tidak disebutkan, namun demikian jelas bahwa iman diperlukan. Perhatikan Kisah Para Rasul 3:19—“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.” Apakah Lukas sedang  mengatakan bahwa dosa-dosa  seseorang dapat diampuni terlepas dari Iman?  Atau apakah dia sedang mengatakan ada dua cara  berbeda untuk diselamatkan; Satu, oleh iman dan yang satunya lagi oleh pertobatan? Tidak bisa! Dia pada dasarnya  menggunakan  peringkasan teologikal, berfokus pada satu aspek pada teks ini.

Dalam beberapa  teks, Lukas mengkombinasikan baik iman dan pertobatan. Perhatikan Kisah Para Rasul 20:21. Ini merupakan jantung perkabaran Injil yang dilakukan oleh Paulus. Konstruksi dalam bahasa Yunani  menunjukan kemungkinan yang  amat dekat pada hubungan antara pertobatan dan iman. Faktanya, seseorang dapat berkata bahwa semua iman yang murni mencakup pertobatan.


Apa yang saya dapatkan  adalah ini : sebagaimana percaya dan iman tidak selalu harus disebutkan  didalam teks bagi kita untuk mengetahui bahwa kedua hal itu ada didalamnya, maka demikian juga dengan pertobatan tidak selalu harus disebutkan.

Kembali kepada 1 Yohanes 1:9:Kini anda mungkin berkata: “Tetapi kata pertobatan bahkan tidak disebutkan dalam teks ini. Bagaimana bisa menjadi bagian dari pengakuan?” Karena menginterpretasikan kitab suci tidak sekedar mengerjakan studi dan etimologi terhadap setumpuk kata Yunani yang tidak berkaitan. Interpretasi  memeriksa kata-kata yang oleh penulis tertentu digunakan dalam konteks-konteksnya.

Setiap siswa seminari mengetahui bahwa kitab-kitab dalam Alkitab harus diinterpretasikan dalam terang penggunaan ekspresi-eskpresi dan terminologi-terminologi yang dipakai penulis. Beberapa penulis  lebih menyukai kata “bertobat” untuk mengatakan bagaimana kita, sebagai orang-orang Kristen, semestinya berhubungan dengan Tuhan.    Beberap penulis menggunakan kata “percaya”; sementara yang lainya menggunakankata “patuh” atau “mengaku.” Kesemunya hendak mengatakan bahwa kita   ini bobrok/bejad dan  terhilang—kita membutuhkan baik belas kasih Tuhan dan kuasanya untuk menghadapi dosa. Agar dapat memahami kata-kata didalam konteksnya, anda harus memahami bagaimana si penulis  menggunakan istilah-istilah. Mari saya gambarkan:

  • Katakanlah, ibuku  menulis sebuah surat. Dalam surat tersebut, dia berkata:”Ayah   sedang mengalami depresi  ringan hari-hari ini.” Saya akan memandang hal tersebut sebagai  kabar peringatan! Ayahku seorang yang tangguh, dapat diandalkan, tidak pernah lemah.

  • Tetapi anggaplah seseorang  yang lain yang  ibu tuliskan dalam sebuah surat dengan kata-kata yang persis sama. Anak yang menerima surat tersebut berangkali berpikir ini  merupakan kabar baik!”hanya agak depresi” berarti dia  melakukan   hal yang  hebat. Mengapa? Karena biasanya ayah ini selalu mengalami depresi.

Ingat, membaca  surat-surat Perjanjian Baru seperti mendengarkan setengah percakapan dalam  telepon… kecuali anda tahu pihak di sisi satunya, sangatlah untuk mengatakan apa yang sedang dikatakan.


Mari saya jelaskan lebih lanjut dengan menggunakan Kitab suci.
  • Injil Yohanes : disebut “Injil Percaya.” Namun kata  benda “percaya” atau “iman” tidak pernah  muncul idalam injil ini ( saya sedang merujuk pada teks dalam bahasa Yunani). Akankah kita mengatakan kemudian bahwa  ide tentang iman tidak hadir didalam Yohanes karena istilah itu tidak pernah digunakan? Jelas tidak. Kita memahami  apa yang sedang dimaksudkan si penulis  bukan oleh kata-katanya, tetapi  dengan bagaimana dia menggunakan kata-katanya.

Ini benar-benar sebuah konsep yang sangat  penting untuk dipegang. Sangat gampang bagi kita untuk  terperangkap dalam kata-kata dari sebuah teks dan kita melupakan maknanya. Jadi mari saya ilustrasikan lebih  lanjut :”Ibuku  dahulu  suka memanjat tanaman anggur” [My mother used to like climbing vines]. Apa yang sedang saya maksudkan dengan kalimat tersebut? (Ada dua pilihan disini.  ibuku  dahulu suka dengan  tanaman anggur yang merambat, atau bisa juga dia dahulu suka memanjat tanam anggur yang merambat. Bagaimana anda dapat mengatakan apakah yang sedang saya maksudkan dengan kalimat-kalimat ini kecuali anda mengenalku atau mengenal ibuk?)


Sekarang kembali ke  1 Yohanes 1:9 (kembali!): walaupun Yohanes tidak menggunakan kata “bertobat” dia secara pasti menyiratkanya. “Bertobat” adalah sebuah terminologi, faktanya, bahwa Yohanes tidak  pernah menggunakan kata itu—baik dalam Injil Yohanes,  atau didalam 1 Yohanes , atau 2 Yohanes, atau 3 Yohanes. Tetapi itu tidak berarti bahwa Yohanes menentang pertobatan terlebih lagi dia menentang iman. Karena ketika dia  menulis kitab Wahyu, ketika dia mengutip Tuhan Yesus yang telah bangkit dan telah dimuliakan dalam instruksi-instruksinya kepada 7 jemaat,  tiba-tiba saja mendadak pertobatan muncul didalam tulisan-tulisan Yohanes. Dan delapan kali Tuhan mengatakan kepada Jemaat-jemat untuk bertobat. Pada satu titik, dia bahkan berkata,”
Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”[Wahyu 3:19]. Bertobat, kemudian, merupakan bagian dari bagaimana orang-orang  Kristen secara berkelanjutan berelasi dengan Tuhan.

Saya  tidak dapat  melihat adanya perbedaan yang besar antara “bertobat” disatu sisi dan “pengakuan” pada sisi lainnya. Jika pengampunan dijanjikan bagi mereka  orang-orang Kristen yang bertobat pada satu sisi, dan kepada orang-orang Kristen yang mengaku pada sisi lainnya., apakah ini  merupakan  tindakan yang tidak diperlukan? Tentu tidak. Itu pada dasarnya bermakna bahwa terminologi-terminologi yang digunakan adalah berbeda [secara kebetulan, hanya Yesus dikatakan untuk “mengaku” apapun dalam kitab Wahyu. Hal ini kembali menggambarkan  kekeliruan dalam menghubungkan kata-kata dengan konsep-konsep]. Dan begitu  kebetulanya Yohanes lebih suka untuk menggunakan istilah  mengaku sementara Yesus lebih suka menggunakan istilah bertobat.

Kecuali kita  hendak mengatakan bahwa Yohanes tidak sepakat dengan Yesus, saya pikir yang terbaik dengan melihat pengakuan sebagai yang  termasuk dalam pertobatan.

Mengapa hal ini begitu penting?  Persisnya karena bagaimana anda memandang pengakuan mengindikasikan bagaimana anda memandang Tuhan. Apakah Dia semata Hakim Agung yang  memberikan anugerah kapanpun kita “menyebutkan dosa-dosa kita,” atau apakah dia Bapa kita?
  • [ilustrasi] Saya memiliki seorang sahabat yang menyukai golf. Faktanya, dia memiliki sebuah ruangan khusus yang didedikasikan untuk olah raga ini. Kini anggaplah puteranya suatu hari melakukan kesalahan didalam ruangan khsusus pria ini. Dan anak laki-laki tersebut mulai mengayunkan sebuah stik golf dan secara tidak sengaja memotong atau merobek gambar Byron Nelson yang dibubuhi tanda tangannya. Kemudian, dia mengakui dosanya kepada ayahnya. Dan percakapannya berlangsung seperti ini :

“Yah, saya telah merobek gambar pada  leher Byron.  Saya menyesal akan  hal itu!” Dan dia melangkah keluar dari ruangan itu untuk  bermain. Apakah itu sebuah pengakuan yang benar? Saya pikir tidak. Mengapa? Karena dia tidak  peduli dengan  hubungan. Dia hanya menggunakan ayahnya.

Tetapi jika dia datang menemui ayahnya dan berkata,”Yah, ada sesuatu yang  harus saya akui. Hari ini, saya telah  melakukan kesalahan di sekitar ruang belajarmu. Dan saya telah melakukan hal yang salah. Saya telah merusak gambar Byron Nelson. Saya tahu betapa pentingnya hal tersebut bagi anda. Itu adalah kebodohan yang saya lakukan bermain-main di ruang belajarmu. Saya sungguh-sungguh menyesal.


Itu menjadi pengakuan yang benar.


Tak satu skenariopun diatas dimana anak muda itu berpikir bahwa ayahnya tidak akan mengampuninya. Tetapi hanya pada skenario kedua dia sungguh-sungguh melakukan pengakuan sejati. Pengakuan dihadapan seorang hakim tidak akan melibatkan  pertobatan—Untunglah, anda tidak akan pernah melihat hakim itu kembali; tetapi pengakuan di hadapan Bapa selalu melibatkan pertobatan, karena kamu hidup dengan  Bapa.



Kelima, pengakuan melibatkan pengakuan dosa-dosa kita dan dosa kita.
Kita harus mengaku tidak hanya akan apa yang telah kita lakukan, tetapi juga  keadaan kita (1 Yohanes 1 ayat 8). Kita tidak  jujur  kepada Tuhan jika kita sekedar mengakui  gejala-gejalanya,” atau semata merasa menyesal atas konsekuensi-konsekuensi.


Hampir semua orang Kristen memiliki pandangan atas dosa yang naïf dan simplistik. Pada dasarnya, kita memandang dosa dalam terminologi-terminologi perbuatan dan konsekuensi-konsekuensi, bukan dalam  terminologi  sikap perilaku  dan penyebab-penyebab. Tetapi perbuatan-perbutan dosa pada dasarnya merupakan  hasil akhir dari sebuah proses.

  • Ilustrasi :  Jika anda melihat seorang bayi dengan ibunya, anda tahu bahwa hal itu bukan hal  yang terjadi begitu saja. Itu merupakan hasil dari sebuah proses  yang dimulai beberapa bula sebelumnya, dan, hampir dapat dipastikan , telah melibatkan orang lain.

Yakobus berkata ketika  hawa nafsu menggoda, hal itu membuahkan dosa dan dosa membawa kematian ( Yakobus 1:14-15). Dengan kata lain, ada sebuah gerakan dari hawa nafsu menuju godaan  untuk  terbuka pada dosa menuju kematian. Ketika kita  memplester dosa yang menganga, kita tidak  berurusan dengan keseluruhan masalah. Kita sesungguhnya sedang berbohong pada diri kita sendiri  mengenai akar penyebab-penyebab dosa.

Pendekatan semacam ini  terhadap dosa seperti mengusir godaan, tetapi meninggalkan alamat surat!


3
. Mengakui Perbuatan-Perbuatan Dosa Masa Lampau ( 1 Yohanes 1:10)
Ketika kita merasionalisasikan mengenai apa yang telah kita perbuat, hal ini seolah-olah kita sedang  memanggil Tuhan “si Iblis.” Teks dalam bahasa Yunani  berangkali semestinya diterjemahkan demikian, “Jika kita berkata kita tidak  memiliki dosa, kita membuat dia [Tuhan] menjadi  pembohong, dan kebenaran tidak ada didalam kita.” Menyangkali dosa kita  sama dengan membuat surga menjadi neraka dan neraka menjadi surge. Kita  harus jujur dengan Tuhan mengenai siapakah kita kini dan siapakah kita dahulu.


Kesimpulan
Saya semakin diyakinkan bahwa dasar-dasar dari apa yang Tuhan harapkan dari diri kita dapat diletakan atau dinyatakan  dengan sangat sederhana. Kehidupan Kristen tidaklah sulit untuk dimengerti;  hanya  tidak mungkin untuk dilakukan secara menyeluruh—hal itu jika terlepas dari karya Roh didalam hidup kita. Pada dasarnya,  Tuhan menginginkan kita menjadi jujur dengan dia mengenai  keadaan  kita yang sebenarnya dan siapakah Dia. Kita harus mengakui baik keadaan kita dan menerima ketetapan Tuhan. Kita harus hidup didalam ketergantungan yang terus menerus kepada Dia. Kehidupan Kristen tidak dapat dihidupi tanpa  iman. Tidak juga dapat dihidupi jika kita menyangkali keberdosaan kita yang sangat.

Kita telah tercekoki  dengan sebuah mitos besar kekudusan. Kita  berpikir bahwa semakin lama kita  menjadi orang-orang Kristen, semakin kudus kita jadinya—dan menjadi lebih kudus  kita rasakan. Bukan ini pokoknya. Pertumbuhan rohani tidak  berarti bahwa  kita merasa kudus. Malah sebaliknya: kekudusan bermakna bahwa kita merasa sangat berdosa—dan kita tahu bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita. Hal ini berarti bahwa selagi kita melangkah lebih jauh dan lebih jauh  lagi kedalam terang Tuhan,  maka kotoran, kuman, sarang laba-laba di sudut-sudut yang gelap dalam jiwa kita menjadi tersingkap.  Sekalipun kita berpikir rumah kita telah rapih, Tuhan menyinari pada sudut-sudut yang diabaikan dengan lampu sorot berkekuatan besar. Itu adalah tempat- tempat  yang sudah lama ada, yang kita pikir merupakan bagian dari pola lantai. Tetapi Tuhan mengatakan itu adalah kotoran, dan kita  tiba pada kesetujuan. Anda tidak dapat berbantah dengan lampu sorot berkekuatan besar. Tetapi kita tidak dapat menyingkirkan tempat  tersebut. Hanya Roh Kudus yang dapat. Dan ketika kita mengakui kepada Tuhan bahwa itu adalah kotoran dan kita tidak dapat membersihkannya, namun DIA DAPAT, maka kita sedang jujur dengan Tuhan!



Garis besarnya, pengakuan melibatkan kejujuran  dalam sebuah hubungan dengan Bapa kita.  Itu sebabnya    saya  secara pribadi tidak  peduli  terhadap  ekspresi  : “Bangkit kembali dan terus bergerak.” Karena  terlalu banyak orang Kristen yang memaknainya:
  • bangun sebuah “pit stop” di stasiun pengisian bbm di Kalvari dan  buanglah semua sampah disana
  • dan kemudian isilah segera tangki  dengan bbm Roh Kudus  beroktan tinggi
  • dan bayarlah di  pompa bensin dengan Visa Card  milik Bapa
  • Kemudian,  keluarlah  secepat-cepatnya,dan kembali ke jalan raya dimana kita dapat mengendarai mobil seperti setan.

Jika ini yang dimaksud “ Bangkit kembali dan  terus bergerak”, saya tidak akan melakukan apapun juga dengan slogan ini. Kita menerima pengampunan Tuhan—Ya!Tetapi kita juga menerima Tuhan sebagai Bapa kita! Dia bukanlah sarana/alat untuk mencapai tujuan, atau sebuah  pit atau perhentian istirahat dan perbaikan sesaat disepanjang jalan. Dia adalah tujuan itu, Dia adalah sasaran kita.


“Apakah tujuan utama manusia? Untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya.”- Westminster Shorter Catechism.


Selesai
Honestto God! Or, God is not a Pit Stop (1 John 1:5-10)| diterjemahkan dan diedit oleh : Martin Simamora






P O P U L A R - "Last 7 days"