0 KEKUDUSAN TUHAN (5 Selesai) : "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus"


Ananias and Sapphira – Raphael – Wikipedia entry on Ananias and Sapphira
1 Petrus 1:
16) sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.(17) Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.
Kekudusan Tuhan dan Gereja
(Kisah Para Rasul 5:1-16; 1 Korintus 11:17-34)

Kisah Ananias dan Safira merupakan kisah  yang dikenal baik oleh orang-orang Kristen. Pada masa-masa awal gereja, ada perhatian  yang besar terhadap mereka yang miskin. Ketika kebutuhan meningkat, orang-orang percaya/kudus akan menjual beberapa benda miliknya dan menyerahkannya di kaki para rasul untuk didistribusikan (lihat Kisah Para Rasul 2:44-45; 4:34-37). Ananias dan Safira juga melakukannya, tetapi tidak dengan sepenuh hati dan dalam sebuah cara  tipu daya. Mereka telah menjual sebuah properti tetapi mengambil kembali sebagian dari hasil penjualan untuk diri mereka sendiri. Mereka  menyerahkan sisanya kepada para rasul seolah-olah itulah jumlah keseluruhannya. Ketika dosa mereka terungkap oleh Petrus, dia mempersoalkan dengan mereka, dan mereka berdua mati. Ketakutan besar melanda seluruh gereja, belum lagi masyarakat sekitarnya.



Bacalah terlebih dahulu bagian sebelumnya :


Saya selalu terkonsentrasi  pada fakta bahwa pasangan ini  berdusta atas apa yang telah mereka lakukan. Tetapi dalam konteks mempelajari kekudusan Tuhan, dua detail tambahan   terlihat lebih penting daripada  yang saya pikirkan sebelumnya. Pertama, kedua orang  ini telah berdusta pada Roh Kudus. Penipuan mereka merupakan sebuah tindakan yang tidak patut terhadap kekudusan Tuhan. Juga merupakan perbuatan yang dapat memiliki efek mengkhamirkan gereja itu sendiri ( lihat 1 Korintus 5:6-7). Sebagaimana yang didorong oleh Barnabas yang murah hati agar  yang lain  memberikan dengan cara yang sama, tindakan Ananias dan isterinya yang setengah hati dan menipu dapat memberikan efek yang jelek bagi orang lain didalam jemaat dengan mendorong yang lain untuk melakukan   kecurangan yang sama. Ingat bahwa  gereja adalah tempat Tuhan berdiam di muka bumi ini. Tuhan itu kudus, dan oleh sebab itu gereja-Nya harus kudus juga.  Dosa Ananias dan Safira merupakan sebuah  tindakan penghinaan terhadap kekudusan Tuhan didalam gereja-Nya.

Lebih lanjut, Lukas memasukan sebuah komentar pada efek kematian Ananias dan Safira yang dialami gereja dan komunitas tersebut. Sebuah ketakutan besar melanda seluruh gereja dan mereka yang mendengar kejadian tersebut (Kisah Para Rasul 5:11,13). Orang-orang tidak percaya segera saja diliputi dengan ketakutan membuat mereka menjauhi gereja, dan orang-orang percaya  termotivasi untuk menjaga jarak dengan dunia (terkait dengan perbuatan  dosa).

Takut adalah  respon manusia terhadap kekudusan Tuhan. Jadi dosa Ananias dan isterinya  merupakan sebuah dosa  tidak hormat, sebuah dosa  terhadap kekudusan Tuhan. Tetapi pelanggaran terhadap kekudusan Tuhan yang mengakibatkan kematian pada pasangan ini  juga membawa ketakutan pada mereka yang mendengar insiden ini.

Teks terkait hal ini ditemukan  dalam 1 Korintus 11 dimana Paulus menghardik dan menegur   gereja itu karena tidak benar dalam mengadakan perjamuan. Gereja mengenang  Yesus Kristus dengan mengadakan komuni sebagai sebuah bagian dari  jamuan makan, sebagaimana yang kita lihat dalam  jamuan terakhir  yang digambarkan injil-injil. Beberapa orang  dapat  membawa banyak makanan dan minuman ke acara makan malam sederhana, sementara yang lainnya membawa sedikit atau bahkan tidak membawa sama sekali. Beberapa  orang mendapatkan makanan yang terbaik karena datang awal, sementara yang lainnya terlambat. Mereka  yang membawa banyak dan datang awal tidak mau menunggu atau berbagi dengan yang lainya, sehingga mereka terlampau kekenyangan. Dalam prosesnya, beberapa menjadi mabuk dan  berperilaku tidak pantas sehingga  perayaan  mengenang kematian Yesus menjadi memalukan, menyerupai perayaan-perayaan agama berhala yang dilakukan tetangga-tetangga mereka di Korintus.

Paulus menghardik orang-orang  Korintus, untuk tidak mengambil bagian komuni dalam cara yang  tidak pantas, tetapi mengambil bagian didalamnya dengan sebuah cara yang hormat.  Banyak  orang Kristen menduga Paulus menghardik orang-orang  Korintus karena mengambil roti dan anggur sebagai orang yang  “tidak layak” untuk mengambil bagian,  ketimbang menyadari bahwa Paulus sedang melarang untuk mengambil bagian roti dan anggur dalam sebuah cara yang  tidak sesuai—“dengan cara yang tidak pantas/layak.  Tidak seorangpun yang pernah layak atau pantas atas  tubuh dan darah  Yesus Kristus, tetapi kita dapat mengenangnya dalam sebuah   cara  yang  pantas/terhormat  dan patut.

Paulus lebih lanjut berkata bahwa ketika orang-orang Kristen makan  roti dan minum anggur “ secara tidak layak/pantas,” mereka bersalah terhadap tubuh dan darah  Yesus Kristus ( 1 Korintus 11:27), dan dengan  berlaku demikian maka mereka tidak “menilai tubuh secara benar” (ayat 29). Dia melanjutkannya dengan menjelaskan bahwa  perilaku demikian dalam meja perjamuan telah mendatangkan   penyakit pada beberapa orang dan kematian pada orang-orang lain ( ayat 30).

Ketika saya memahami kata-kata Paulus, dosa  orang-orang Korintus pada Perjamuan Tuhan adalah  tindakan tidak hormat. Tubuh Tuhan kita—tubuh jasmani dan darah—adalah kudus.  Yesus Kristus    adalah korban kematian tanpa dosa menggantikan kita. Tubuh Tuhan kita juga adalah  gereja,  sehingga gereja juga kudus. Dengan membiarkan diri mereka dalam kemabukan dan perilaku yang tidak pantas pada Perjamuan Tuhan,  gereja telah memperlihatkan sebuah penghinaan terhadap tubuh jasmani Kristus dan tubuh spiritual-Nya, yaitu  jemaat. Perilaku tidak hormat sangat menghina Tuhan sehingga Dia menimpakan beberapa orang dengan penyakit dan yang lainnya dengan kematian. Perilaku tidak hormat dalam ibadah merupakan sebuah kegagalam dalam memahami kekudusan Tuhan dan sekaligus sebuah  sikap menghina terhadap kekudusan Tuhan. Tidak menghormati adalah sebuah dosa yang memiliki dampak besar dengan berbagai konsekuensi yang  mengerikan . Kekudusan Tuhan  mensyaratkan kita untuk menjalankan ibadah secara serius dan tidak  mengambil bagian dalam ibadah dalam cara   yang sesukanya. Ini tidak lantas berarti bahwa ibadah haruslah sesuatu yang tanpa sukacita, khusuk dan muram. Pada dasarnya dalam ibadah kita harus menghargai hadirat Tuhan secara serius dan sangat  berhati-hati akan perilaku tak pantas  terhadap  hadirat-Nya oleh perilaku kita yang tidak hormat.

Kekudusan Tuhan dan  Kekristenan Masa Kini
Kekudusan Tuhan  bukan sekedar sebuah doktrin dimana kita memberikan  persetujuan. Sebaliknya, doktrin kekudusan Tuhan sepatutnyalah memandu dan  memerintah kehidupan kita.

(1) Kekudusan Tuhan  sepatutnya memandu dan mengatur pemikiran kita   pada “penerimaan Tuhan.”
Saya kerap mendengar orang-orang Kristen menggunakan ungkapan “ penerimaan tak bersyarat.” Nampaknya istilah ini pertama-tama dikenakan pada Tuhan dan kemudian pada orang-orang percaya. “ Tuhan menerima kita tanpa syarat,” mereka beralasan,” dan demikian juga harus menerima orang lain tanpa syarat.” Kesulitan saya adalah, bahwa ungkapan  ini bukanlah sebuah ekspresi yang berakar pada Alkitab. Bahkan, berangkali lebih buruk, ekspresi semacam itu tidak terlihat sebagai sebuah konsep yang berlandankan pada Alkitab. Tuhan  tidak  “menerima kita  terlepas dari” apa yang kita lakukan. Perhatikan bangsa Israel. Karena dosanya yang berlangsung terus-menerus, Tuhan berkata mereka bukan lagi umat-Nya ( lihat Hosea 1). Tuhan tidak menerima Kain atau persembahannya (Kejadian 4:5). Tuhan menerima kita hanya melalui  darah Yesus Kristus yang  tercurah  sehingga dengan demikian orang-orang Kristen tidak diterima tanpa syarat, terlepas dari perbuatan-perbuatan dan perilaku-perilaku mereka. Kekudusan Tuhan menunjukan Tuhan tidak menerima apa yang tidak kudus. Pada kenyataannya,  semua yang Tuhan terima dari kita adalah apa yang Dia hasilkan didalam dan melalui diri kita.  Berbicara mengenai penerimaan tanpa syarat secara gampangan  terlihat mendorong kehidupan yang ceroboh dan  dalam ketidakpatuhan.

Gereja tidak dapat “menerima” mereka yang mengaku menjadi orang-orang Kristen tetapi mereka hidup seperti penyembah berhala  ( 1 Korintus 5:1-13). Kita harus disiplin dan menyingkirkan mereka yang menolak untuk hidup seperti orang-orang Kristen. Gereja harus menjadi kudus, dan ini berarti membuang “ragi” dari tengah-tengah gereja.    Mari pertimbangkan, bagi mereka yang menekankan penerimaan tanpa syarat untuk memperhatikan dengan seksama kata-kata ini :

Wahyu 3:14-16
(14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

(2) Doktrin kekudusan Tuhan harus dipertimbangkan ketika kita berbicara tentang akuntabilitas ( pertanggungjawaban atas apa yang diperbuat dan diucapkan terhadap publik/jemaat)
Konsep “akuntabilitas”  yang ada, dalam pandangan saya, diimpor dari dunia sekuler. Saya tidak sepenuhnya menentang akuntabilitas , kecuali gereja tersebut terkadang bicara lebih banyak  mengenai akuntabilitas terhadap manusia dari pada akuntabilitas terhadap Tuhan. Mari janganlah  kita  melupakan kepada siapa kita harus memberikan pertanggungan jawab :

Matius 12:36
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.

Ibrani 13:17
Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. Lihat juga 1 Korintus 3:10-15

Roma 14:12
Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah

1 Petrus 4:4-5
(4) Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu (5) Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

(3) Kekudusan Tuhan  semestinya  mengendalikan pemikiran kita mengenai  harga diri
Saya tersentak oleh pernyataan ini yang dibuat oleh seorang psikolog  di permulaan abad ini yang sangat berbeda dari apa yang selama ini diberitahukan kepada kita :

Penghormatan ini telah didefinisikan secara signifikan oleh  psikolog bernama William McDougall sebagai “ emosi  relegius  yang  par excellence ( sungguh baik malampaui semuanya);    beberapa saja  manusia biasa dengan kekuatan-kekuatannya  yang mampu   menikmati   penghormatan, ini perpaduan  takjub, takut,   ungkapan syukur, dan perasaan pada  diri sendiri yang  negatif  .”--- William McDougall, An Introduction to Social Psychology (New York: Methuen, 1908), p. 132, cited by Kenneth Prior, The Way of Holiness (Downers Grove: Inter-Varsity Press, rev. ed., 1982), p. 20.

[“This reverence has been significantly defined by the psychologist William McDougall as ‘the religious emotion
par excellence; few merely human powers are capable of exciting reverence, this blend of wonder, fear, gratitude, and negative self-feeling.”]

Mengapa kita berbicara ( pada puncaknya)  tentang  menemukan  harga diri kita didalam Kristus  ketika  Yesaya berjumpa dengan kekudusan Tuhan yang menyebabkan dia berkata,

Yesaya 6:5
Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."?
Saya takut seluruh orientasi kita salah, dan kita datang kepada Kristus untuk merasa lebih baik mengenai diri kita sendiri ketimbang merasa   jatuh tersungkur dihadapan Dia dalam kerendahan hati dan terpesona pada kekudusan-Nya.   Hati kita semua seharusnya dipenuhi dengan  rasa syukur dan pujian untuk anugerah yang telah Dia berikan kepada kita. Itu adalah  orang yang  menganggap dirinya memiliki kebenaran diri sendiri dihadapan Tuhan, percaya diri akan  siapa diri mereka, bukan orang-orang  benar yang  percaya diri didalam    siapakah Dia ( Lukas 9-14).

Oleh karena itu  takut dan takjub yang secara sama dikaitkan Kitab suci, orang-orang kudus dilanda dan diliputi dengan perasaan-perasaan tersebut manakala mereka memandang  kekudusan Tuhan…Orang-orang tidak pernah terjamah dan terkesan dalam  cara yang seharusnya yaitu dengan  dengan sebuah keyakinan  akan  ketakberartian mereka, hingga mereka mengenali perbedaan menyolok pada  diri mereka dengan kemuliaan Tuhan.”--- John Calvin, sebagaimana dikutip oleh  R. C. Sproul, The Holiness of God,  hal. 68.

[“Hence that dread and amazement with which as Scripture uniformly relates, holy men were struck and overwhelmed whenever they beheld the presence of God.… Men are never duly touched and impressed with a conviction of their insignificance, until they have contrasted themselves with the majesty of God.]

(4)Kekudusan Tuhan Semestinya memperingatkan kita akan apa yang kita terima dan praktekan dari  gerakan “pertumbuhan gereja” masa kini.
Gerakan pertumbuhan gereja masa kini  mendapatkan pujian dalam beberapa hal. Namun, sepertinya, dalam upayanya untuk menginjili “para pencari” dengan menjadi “ pencari yang bersahabat.” Upaya ini gagal untuk menekankan kekudusan Tuhan secara  cukup serius. Saya akan menyebutkan sejumlah hal yang menjadi kepedulian saya. Bagaimana bias sebuah gereja   mengarahkan pehatian pelayanannya (Minggu pagi) pada penginjilan ketika pokok-pokok pelayanan  gereja  terarah pada  hal-hal lain, sebagaimana yang digambarkan pada Kisah Para Rasul 2:42 ( dimana pokok-pokok pelayanan gereja : pengajaran  para rasul, bersekutu, memecah  roti, dan berdoa)? Menerapkannya  lain dengan yang diajarkan Alkitabm bagaimana bisa gereja berfokus pada penginjilan didalam pertemuannya ketika pokok-pokok  fungsi yang  ada menjadi penyembahan dan  perbaikan pikiran dan karakter? Lebih jauh lagi, bagaimana dapat  seorang mengundang orang yang belum percaya untuk berpartisipasi dalam sebuah ibadah sebagai seorang yang tidak percaya? Alkitab mengajarkan  tida ada “para pencari” semacam ini ( Roma 3:10-12). Mereka yang akan diselamatkan adalah mereka  yang  telah dipilih, yang hatinya akan dihidupkan Roh Kudus ,yang pikirannya akan dicerahkan Roh Kudus. Mereka yang mati didalam dosa-dosa mereka, Dia buat menjadi hidup ( Efesus 2:1-7).

Tak seorangpun yang telah Tuhan pilih dan yang didalamnya  Roh Kudus bekerja dapat gagal  untuk datang kepada Tuhan, jadi apa perlunya menjadi begitu bersemangat merayu orang-orang yang belum percaya untuk datang ke gereja? Mereka yang  baru saja diselamatkan bergabung dengan gereja dalam kitab Kisah Para Rasul, dan mereka yang tidak diselamatkan menjaga jarak dari  gereja. Dengan semua penekanan pada pertumbuhan gereja,  terlihat hanya ada sedikit perhatian yang diberikan kepada pengurangan jemaat melalui disiplin dan  ketaatan yang kecil untuk memproklamasikn dan mempraktekan kekudusan Tuhan. Ketika Tuhan menimpakan kematian kepada Ananias dan Safira, orang-orang  yang tidak percaya tidak berbondong-bondong ke gereja, tetapi  semua menjadi takut akan Tuhan dan inilah yang benar. Jika takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat, mak kekudusan Tuhan tidak boleh diabaikan. Kekudusan Tuhan akan menyingkirkan beberapa orang, tetapi akan mendorong yang dipilih menuju salib.

Kala saya mempelajari Yesaya 6 dan  2 Korintus 2-7 diantara teks-teks lainnya, saya mendapatkan Yesaya dan Paulus, keduanya memiliki  kesadaran yang  mendalam   terhadap kekudusan Tuhan. Pengetahuan  ini menyebabkan mereka menjadi orang-orang  yang  ada untuk menyenangkan Tuhan ketimbang menjadi penyenang-penyenang manusia ( lihat  Galatia 1:10). Paulus tidak akan melunakan atau mengurangi bobot asli pemberitaannya atau menerapkan metoda-metoda yang tak sepatutnya  terhadap injil dan  tidak  hormat terkait dengan kekudusan Tuhan. Orang-orang pilihan Tuhan dan diselamatkan oleh  Tuhan tidak  memerlukan  penyelamatan dengan metoda-metoda pemasaran. Gereja yang memiliki  pengertian kekudusan Tuhan akan memproklamasikan, menjalankan dan menjaga  sebuah injil yang murni.

(5) Sebuah Pengertian kekudusan Tuhan semestinya mengubah  sikap dan  cara melakukan ibadah
Dalam Perjanjian Lama, ibadah  sangat diatur. Dalam Perjanjian Baru, kebebasan yang  lebih besar  nampaknya diberikan  dalam melakukan ibadah. Keimamatan terbatas dalam Perjanjian Lama telah menjadi keimamatan semua orang percaya dalam  Perjanjian Baru. Tetapi Kisah Para Rasul 5 dan 1 Korintus 5 dan 11  secara tegas  memperingatkan kita tentang ibadah yang gagal untuk membawa kekudusan Tuhan secara cukup serius. Sikap tidak hormat merupakan tindakan tidak pantas yang sangat serius, sebagaimana kita lihat baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dan ibadah adalah  satu area dimana  sikap tidak hormat adalah sebuah  hal yang selalu menjadi perhatian. Saya merasa tertekan oleh mereka yang dalam  antusiasme dan kegairahan dalam ibadah mereka, melanggar secara nyata-nyata  instruksi-instruksi terhadap gereja terkait ibadah. Satu kaus dalam sorotan adalah pengajaran biblical pada peran waninta yang dapat berperan didalam pertemuan gereja. Juga , Uza  yang terlihat  memiliki ketulusan dan  bersemangat sekali dalam perannya untuk membawa pulang tabut Tuhan ke Yerusalem, namun Tuhan menimpakan kematian padanya karena sikap tidak hormat. Musa telah ditahan untuk memasuki tanah yang dijanjikan karena sikap tidak hormatnay dan kegagalannya untuk mematuhi Tuhan  tepat sebagaimana yang telah diinstruksikan. Ini membawa kita kepada pengamatan berikutnya.

Mazmur 96 :9
Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!


(6) Respon yang   sepatutnya terhadap kekudusan Tuhan adalah  takut (hormat), dan hasil dari takut itu adalah kepatuhan
Saat saya mengamati  nas-nas  yang berbicara  mengenai kekudusan Tuhan dan  takut akan Tuhan maka nas-nas firman Tuhan itu pasti   menghasilkannya  dalam hati semua orang, saya menemukan sebuah keterkaitan yang amat kuat antara takut (atau hormat) dan kepatuhan. Sebagai contoh, isteri  harus menghormati ( maksudnya takut)  suaminya dalam Efesus 5:33. Penundukan  isteri  terhadap suaminya paling sering diungkapkan oleh kepatuhannya terhadap suaminya ( lihat 1 Petrus 3:5-6). Takut atau hormat membawa kepada kepatuhan. Korelasi yang sama terlihat didalam 1 Petrus 2:13-25 dan Roma 13:1-7  yang menunjukan hormat terhadap warga  Negara dan penguasa-penguasa yang memerintah dan budak-budak dan tuan-tuan mereka.
Takut akan Tuhan adalah akibat dari pemahaman akan Kekudusan Tuhan. Sehingga  ini  terlebih lagi  adalah sumber hal yang baik. Takut adalah permulaan hikmat ( Amsal 1:7). Takut akan Tuhan menyebabkan kita untuk membenci dan menjauhi yang jahat ( Amsal 8:13; 16:6). Takut akan Tuhan juga dasar untuk keyakinan yang kokoh ( Amsal 14:26).  Takut akan Tuhan  merupakan mata air kehidupan ( Amsal 14:27). Kekudusan Tuhan adalah akar dari banyak buah-buah yang luar biasa, yang memancar keluar dari sebuah hati ytang telah memiliki hormat akan Tuhan sebagai  Dia yang kudus.

(7) Kekudusan Tuhan adalah  dasar dan keharusan yang  mendesak bagi pengudusan kita
Kekudusan Tuhan adalah  alasan  mengapa kita juga diperintahkan untuk menjalani kehidupan yang kudus :

1 Petrus 1:14-19
(14) Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, (15) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, (16) sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.(17) Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. (18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Karena Tuhan itu kudus, kita yang adalah umatnya harus   menjadi kudus juga. Kekudusan adalah panggilan kita ( Efesus 1:4; Roma 8:29; 1 Tesalonika 4:3). Kita harus menjalankan dan memproklamasikan kemuliaan-Nya kepada dunia ( 1 Petrus 2:9), dan yang terutama diantara kemuliaan Tuhan adalah kekudusan-Nya.
(8)Kekudusan Tuhan  membuat injil  kebutuhan yang mulia
Ketika saya berpikir mengenai kekudusan Tuhan dan Yesus Kristus (termasuk Roh Kudus), saya semakin terpana kagum oleh  salib kalvari. Saya kerap berpikir tentang  sengsara Yesus Kristus di Taman Getsemani. Biasanya, saya memikirkan sengsara-Nya dalam pengertian ketakutannya pada   saat  dia melalui  murka Bapa, murka yang  patut kita terima. Tetapi dalam   mempelajari kekudusan Tuhan , telah  mempesona saya dengan  sebuah perubahan yang mendadak dimana  Tuhan yang kudus diperhadapkan pada dosa—dosa kita.  Dan walaupun, tidak dapat bersama dengan  dosa sebagai Tuhan yang kudus, Dia harus, Yesus  Kristus mengambil semua dosa-dosa dunia ini kepada diri-Nya sendiri ketika dia  pergi ke Kalvari. Yesus tidak hanya menderita atas murka Bapa, Dia menderita atas dosa yang Dia harus tanggung menggantikan kita. Juru selamat yang luar biasa!

Dari pemahaman saya atas sejarah gereja, kebangunan-kebangunan rohani  telah begitu erat dihubungkan dengan  sebuah kesadaran akan kekudusan Tuhan  yang diperbarui dan diperbaiki , diikuti dengan  meningkatnya keinsyafan akan dosa pribadi. Jika  kekudusan Tuhan menyelesaikan dalam kehidupan kita apa yang telah terjadi didalam kehidupan  mereka seperti Yesaya yang kit abaca didalam Alkitabm kita akan semakin menyadari kedalaman dosa kita dan  kebutuhan  mendesak akan pengampunan. Tanpa kekudusan, kita tidak dapat  masuk kedalam surga Tuhan. Dalam kekudusan-Nya, tuhan membuat sebuah ketentuan untuk dosa-dosa kita. Dengan pengorbanan kematian diatas kayu salib Kalvari, Yesus  Kristus telah membayar penghukuman  untuk dosa-dosa kita, dan  dengan demikian membuatnya menjadi mungkin bagi kita untuk mengambil bagian didalam kekudusan-Nya.Ketika kita mengkui dosa kita, ketidakbenaran kita, dan percaya pada kematian Kristus menggantikan kita, kita dilahirkan kembali.  Dosa-dosa kita diampuni. Ketidakkudusan kita dibersihkan. Kita  menjadi seorang anak Tuhan.

Minggu Paskah adalah hari dimana kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Ini dapat menjadi sebuah waktu ketika anda datang kepada hidup dari kematian juga, hanya bila anda  percaya kepada Kristus.

Efesus 2:1-7
(1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.(2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. (3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain (4) Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, (5) telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan—(6) dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga,(7) supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Selesai
The Holiness of God Study By: Bob Deffinbaugh | diterjemahkan oleh : Martin Simamora







P O P U L A R - "Last 7 days"