0 Memiliki Kehidupan Melalui Kematian Kristus : Tidak Sama Dengan Yang Dahulu Karena Kristus...

Sekarang inilah yang menjadi jantung teologia Perjanjian Baru bahwa seorang Kristen bukan hanya seorang yang telah  dinyatakan benar, seorang Kristen adalah seorang yang dibuat menjadi benar. Sebuah kehidupan yang diubahkan/ditransformasikan dan inilah yang dimaksudkan oleh Paulus. Namun Paulus menyatakannya dalam sebuah cara yang lebih sistematis dan lebih cermat pada bagian lain di kitab suci,dan ini yang hendak saya sampaikan kepada anda sekalian untuk mejelaskan teks tersebut.

Kembali ke Roma, Bab 6, sekarang kita semua sangat menyadari terhadap fakta bahwa Paulus adalah seorang yang menggunakan logika. Dia sangat logikal dan sangat berurutan dalam pemikirannya. Dan disini dalam Roma 6 ia memaparkan dengan logika yang sempurna mengenai esensi hidup yang diubahkan. Ditransformasi adalah karakteristik orang-orang Kristen. Sehingga anda harus mengenakan kerangka berpikir dan berpikir secara logika dengan Paulus selagi kita menjelajahi Roma bagian pertama, Bab 6.

Paulus sudah bicara mengenai anugerah. Ia telah bicara tentang anugerah Tuhan dan pada penghujung Bab 5 ia membuat sebuah pernyataan yang mengagumkan pada Ayat 20. Ia berkata "di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." Dengan kata lain, semakin dosa bertambah, semakin besar anugerah. Baiklah, beberapa orang mungkin menyimpulkan  bahwa kita harus berbuat dosa sebanyak-banyaknya sehingga Tuhan memberikan anugerah yang sangat limpah. Karena ketika Tuhan memperlihatkan  anugerahnya, ia memperoleh kemuliaan dan demikian juga jika kita sungguh-sungguh ingin memuliakan, kita berbuat banyak dosa, Tuhan memberikan banyak anugerah, Dia mendapatkan banyak kemuliaan.

Dalam membicarakan anugerah; adalah hal yang  mungkin terjadi bagi seseorang untuk menyimpulkan bahwa jika Tuhan dimuliakan dengan memperlihatkan anugerah, jika hal itu menyukakan Tuhan untuk memberikan anugerah, maka marilah biarkan Tuhan menjadi semulia mungkin dengan berbuat dosa sebanyak mungkin yang kita dapat lakukan. Ini adalah jenis pemikiran yang  keliru sebuah pemahaman keselamatan yang salah. Saya hendak nyatakan jika keselamatan hanyalah sebuah pernyataan deklarasi oleh Tuhan dimana ia berkata Saya menyatakan anda benar, saya membenarkan anda, saya mengalirkan kebenaran Kristus kedalam dirimu sebagai kebenaranmu sekalipun kebenaran itu bukan milikmu; saya memperlakukanmu seolah kebenaran itu milikmu. Jika demikian  adanya keselamatan, maka kita harus berbuat saja dosa dan melakukan dosa dan melakukan dosa dan ia harus terus memberikan anugerah terus-menerus. Hal demikian baik saja jadinya.

Tetapi tidak demikian  cara kerjanya. Kita tidak boleh terus-menerus melakukan dosa dan Tuhan melimpahkan  anugerahnya terus-menerus, tidak bisa kita dalam cara  terus-menerus berbuat dosa dan dalam cara Tuhan bermurah hati menutupi dosa-dosa  dalam kehidupan kita yang berada dalam keselamatan , karena ada sebuah perubahan dramatis, pada Bab 6 ayat 1. Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di  dalamnya?

Sekarang kita tidak sedang membicarakan hal forensik, kita sedang membicarakan kenyataan. Kita tidak sedang membicarakan tentang  sesuatu yang Tuhan katakan, Kita sedang membicarakan sesuatu yang telah ia lakukan kepadamu.  Kamu telah mati. Beberapa terjemahan   berkata "siapa yang sudah mati terhadap dosa" dan itu memberi ide untuk  menyatakan bahwa bukan seperti itu terjemahanya, sudah mati terhadap dosa berbicara tentang peristiwa dimasa lalu.

Anda tidak dapat melanjutkan kehidupan dalam dosa, anda tidak hanya dinyatakan benar, anda telah dibuat menjadi  benar. Anda tak hanya dibenarkan anda telah dikuduskan. Anda Sudah ditransformasi. Paulus memperlihatkan perasaan marah yang luar biasa dalam Ayat 2 ketika ia berkata, Sekali-kali tidak! Kita telah mati bagi dosa dan inilah yang  fondasi kenyataan kehidupan Kristen. Manusia lama sudah mati. Dan kita adalah ciptaan yang baru. Kita beberapa waktu lalu telah mempelajari didalam 2 Korintus, Bab 5, Ayat 14. Bahwa Kristus telah mati bagi semua oleh karena itu semua yang mati didalam dia  telah mati bagi dosa. Dan kita telah bangkit bersama dia dan kita sekarang tidak hidup untuk diri kita sendiri, tetapi  kita hidup untuk dia yang telah mati dan telah bangkit kembali bagi kita.

Sehingga tepat di jantung iman Kristen, tepat di jantung teologia Kristen, pengajaran Perjanjian Baru tidak hanya mengenai pembenaran, tetapi transformasi. Kita telah mati terhadap dosa. Ini adalah   kenyataan yang mendasar. Kita tidak dapat melanjutkan kehidupan yang berada dala keberdosaan, cara hidup yang sama dengan sebelumnya karena kita telah mati maka kita bukan lagi manusia yang sama. Kita adalah ciptaan yang baru, hal-hal lama telah berlalu dan hal-hal baru telah datang. Kita telah dipindahkan dari kerajaan kegelapan kedalam kerajaan Anak-Nya yang dikasihi.

Kita telah diberikan Roh Kudus yang berdiam didalam diri kita, kita telah diberikan sebuah natur yang baru, kita adalah ciptaan-ciptaan yang baru. Dan kesemuanya ini berkaitan dengan mengalami mati. Konsep mengalami mati adalah jantung memahami transformasi keselamatan yang dialami.

Sekarang itulah yang dikatakan Paulus pada Ayat 2. Anda tidak dapat melanjutkan cara yang anda jalani sebelum anda diselamatkan karena anda telah mati. Dan pertanyaannya kemudian adalah apakah maksudmu? Dan Paulus menjawab pertanyaan itu mulai pada Ayat 3 dengan sebuah argumen yang sangat logis dan runut. Ia mengembangkan serangkaian kebenaran-kebenaran yang logikal yang memandumu melalui sebuah proses. Pertama, kebenaran sederhana pertamanya adalah dibenamkan kedalam Kristus. Perhatikan di Ayat 3. Tidak tahukan kamu bahwa kita semua, yang telah dibenamkan arau dibaptis kedalam Kristus Yesus, berhenti disini. Ini adalah sebuah ayat dimana tidak ada air didalamnya saudara-saudara. Ini adalah ayat yang kering. Ayat ini tidak sedang berbicara baptisan air, ayat ini menggunakan kata Baptis secara metafora. Kata tersebut digunakan didalam ayat 3 dalam cara yang kerap digunakan. Kita berangkali berkata ketika kita melalui sebuah pengalaman perjuangan yang sangat sulit  maka kita telah mengalami sebuah baptisan api. Kita tidak sedang memaknainya secara hurufiah yang bermakna sungguh-sungguh terbakar, kita pada dasarnya memaknainya sebagai dibenamkan dalam sebuah pencobaan kesulitan yang mencekam.

Kita sedang  membicarakan seseorang yang memasuki lingkungan akademik atau masuk kedalam sebuah tugas yang sangat sulit dan mereka berupaya untuk mengerjakan dengan menghasilkan terlebih dahulu informasi awal yang intensif, bangkit untuk mempercepat segala sesuatunya. Dan kita berkata bahwa mereka  sedang melalui baptisannya. Secara literal  yang kita maksudkan adalah mereka sedang dibenamkan/dibaptis. Mereka sedang dibenamkan. Kita tidak sedang membicarakan tentang sebuah pengalaman aktual didalam air. Dan tidak demikian juga yang dimaksudkan oleh Paulus, Roma 6 tidak memiliki kata air didalamnya. Paulus berkata bahwa kita semua orang percaya sudah dibenamkan kedalam Kristus secara literal.

Kita telah ditempatkan didalam Kristus. Itulah idenya. Diletakan didalam Kristus. Dipersatukan dengan Kristus, disatukan dengan Dia. Dan ini adalah kemuliaan yang tak terkatakan. Ini adalah kenyataan yang luar bias bahwa seorang berdosa  harus dipersatukan  kepada Kristus ke tingkat dimana dia yang disatukan kepada Kristus adalah satu roh dengan dia, 1 Korintus 6:17. Paulus berkata anda yang telah disatukan kepada Kristus sehingga anda tidak lagi terpisah dari Kristus, anda disatukan dalam penyatuan yang tak mungkin dipisahkan dari Kristus, anda telah ditempatkan kedalam Kristus. Inilah misteri rohani.

Kita dapat saja berbicara banyak dalam konsep. Konsep ini sungguh kaya. Sebagai contoh, kita dapat membicarakan tentang fakta bahwa kita bahkan dapat diidentifikasi dalam beberapa cara terkait penyunatannya. Pada usia 8 hari setelah kelahirannya dia dibawa untuk disunat. Ini melambangkan fakta bahwa ia menempatkan dirinya sendiri dibawah Hukum untuk menebus mereka yang berada dibawah hukum. Hukum mempersyaratkan sunat; ia tentu saja tak membutuhkan penyunatan hati. Ia tak memerlukan pembersihan dari dosa, tetapi ia menerima penyunatan secara lahiriah agar ia menempatkan dirinya sendiri dibawah syarat Hukum. Ia tidak membutuhkan sebuah sunat hati tetapi ia melakukan simbol itu  untuk mengidentifikasi dirinya dengan Hukum Tuhan.

Pada Kolose, Bab 2 dalam ayat 11 dikatakan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia." Kita telah memiliki sebuah sunat rohani karena Kristus telah meletakan dirinya dibawah Hkum  untuk menggenapi seluruh Hukum; dia adalah Juru Selamat yang pantas dan membawa kita kepada sebuah sunat rohani. Kita bahkan dapat melihat sebuah hubungan didalam kehidupan kita dalam beberapa hal dengan dirinya dalam baptisannya. Dia  telah membaptismu, ingat, oleh Yohanes pembaptis dan pada baptisannya Roh Kudus turun atasnya dengan kuasa. Ketika kita dibaptis dengan Roh Tuhan ia datang berdiam didalam kita untik memberikan kuasa kepada kita.


Alive Through Christ's Death, John MacArthur  | Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"