0 Mengapa Hukum Diberikan (Bagian 2/2)

Kasih adalah Buah Iman

Poin kedua adalah ini : kasih bukan sebuah upaya yang kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri untuk menunjukan  kelayakan kita dihadapan Tuhan; kasih adalah buah iman didalam janji-janji Tuhan. Tentu saja, kasih yang sejati akan menuju pada perbuatan besar. Tetapi tidak sama dengan dengan mengupayakannya. Ini lebih dalam daripada  berbuat baik dan niat berbuat baik dan mengupayakan perbuatan baik. Ada banyak orang yang berbuat baik untuk Tuhan dan sesama manusia yang tidak dilakukan didalam kasih. Kasih lebih dari sekedar praktek-praktek keagamaan dan  pelayanan-pelayanan kemanusiaan. Itu sebabnya Paulus dapat berkata dalam 1 Korintus 13:3,"jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna."


Beberapa orang mungkin bertanya,"Baiklah, jika anda mau mati bagi seseorang dan tidak memiliki kasih, apakah kasih itu dalam dunia ini?" Jawabannya adalah bahwa kasih tidak ada didalam dunia ini. "Kasih berasal dari Tuhan" (1 Yohanes 4:7). Dimana tidak ada iman yang menyatukan hati dengan Tuhan, tidak ada kasih sejati. Kasih bekerja dari iman yang sejati dan menyelamatkan. Ini adalah ayat-ayat kunci : Galatia 5:6, "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. Sumber kasih adalah iman yang sejati. Selanjutnya dalam Galatia 5:22, kasih disebut buah Roh. Dengan kata lain, buah Roh adalah sesuatu yang tidak dapat hasil tanpa dimampukan oleh Tuhan. Jadi bagaimana kita menjadi orang yang kasih?

Galatia 3:5 menjawab,"Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?" Jalan dimana Roh Kudus datang kepada kita adalah iman dalam janji-janji Tuhan; dan ketika ia datang, buah yang dihasilkan Roh  adalah kasih. Oleh karena itu, kasih adalah buah Roh dan bekerja dalam iman.

Dalam 1 Timotius 1:5 Paulus menuliskan demikian,"Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Hanya iman yang tulus akan menghasilkan kasih.Saya pikir kita dapat menggambarkan  cara kerjanya dengan menghadirkan situasi di gereja kita  "Baptis Betlehem". Ada tiga keputusan signifikan yang berangkali akan kita buat pada ahir Januari: apakah membeli rumah disebelah untuk perluasan parkir  mendatang, apakah memperbaiki perjanjian gereja, dan apakah mengadakan asisten pastor untuk pendidikan dan pelayanan-pelayanan dewasa muda dan  seorang pekerja anak-anak pada September 1982. Saya sangat berkeinginan ketiganya dapat dilakukan. Tetapi saya juga tahu ada beberapa orang yang menolak salah satu, beberapa menolak 2 hal, dan beberapa lagi menolak semuanya. Kasih seperti apakah yang akan nampak antara mereka yang tidak sepakat dengan mereka yang tidak setuju dalam 3 bulan mendatang, dan akan datang darimanakah kasih itu?


Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.( 1 Kor 13:4-7).

Kasih  menatap mata dan mengkomunikasikan maksud baik. Kasih tidak mencibir, tidak mengasihi diri sendiri, tidak menggunakan ancaman-ancaman untuk mendapatkan keinginannya. Kasih yang seperti inilah yang akan nampak dalam tiga bulan mendatang. Dan betapa besarnya kesempatan yang kita miliki untuk membuktikan kepada diri kita sendiri dan kepada dunia bahwa damai kita tidak didasarkan pada semata kesamaan. Tidak diperlukan anugerah apapun juga  bagi orang  Kristen untuk hidup dimana  setiap orang berpikir dan merasakan hal yang sama. Dan demikian juga saat kontroversi dimana kita mendapatkan diri kita tidak memiliki pikiran dan perasaan yang sama. adalah sebuah keputusan yang baik untuk menguji apakah ada anugerah sejati atau tidak didalam diri kita.

Ketika saya membuat daftar bagi diri saya mengenai tuntutan kasih, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya harus mendukung iman saya dengan beberapa janji-janji. Janji-janji seperti :
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Matius 16:18)

Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. (Ibrani 13:5)

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.(Yesaya 55:10,11)

Ketika saya menenangkan hatiku dengan  ayat-ayat ini dan menangkap sekelebat masa depan yang ada dalam kedaulatan dan terang Tuhan, lantas saya dapat mengasihi kembali. Saya tidak merasa terancam lagi. Saya tidak merasa marah atau tertekan atau cemas. Saya merasa bahwa masa depan dipelihara Tuhan. Dan jika saya sepenuhnya dipelihara, maka rasanya sangat alami untuk ingin mempedulikan anda, menatap matamu dan tersenyum dan menginginkan hanya yang baik terjadi padamu. Poinnya adalah : seberapa tinggipun kita mencapai kasih yang ilahi ini bagi sesama manusia, kasih ini berutang kepada iman dalam membebaskan janji-janji Tuhan.

Hukum, dalam Panggilan untuk Kasih, Panggilan untuk Iman

Jadi poin pertama dalam teologi kita mengenai hukum adalah : bahwa kasih menggenapi hukum. Poin kedua adalah :bahwa kasih hanya datang dari iman dalam janji-janji Tuhan. Poin ketiga, oleh karena itu, bahwa hukum tidak menuntut perbuatan-perbuatan yang mendatangkan pujian, tetapi menuntut kepatuhan yang mengalir dari iman. Jika kasih adalah apa yang dibidik oleh hukum, dan hanya iman dapat mengasihi, maka hukum pasti mengajarkan iman. Inilah hal yang kerap terlewatkan. Tetapi hal ini dapat diperlihatkan dari pengajaran Paulus dan dari hukum itu sendiri. Ayat kuncinya adalah Roma 9:30-32. Disini Paulus menjelaskan mengapa Israel tidak memenuhi hukum itu walaupun mereka berupaya keras untuk memenuhinya selama berabad-abad. Paulus berkata :
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman.Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu.Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan,

Frasa kecil "sungguhpun" atau "sekalipun" memiliki arti penting yang luar biasa. "Sungguhpun" memperlihatkan secara jelas bahwa Paulus tidak percaya bahwa Tuhan pernah memaksudkan hukum itu untuk dipatuhi dengan "usaha-usaha". Oleh sebab itu, jika anda mencoba menggunakan hukum itu sebagai sebuah deskripsi kerja bagaimana untuk mendapatkan keberkenanan Tuhan anda sedang melakukan sesuatu yang ditentang oleh hukum itu sendiri. Hukum itu sendiri menentang "daya upaya melakukan hukum." Hukum tidak pernah memerintahkan siapapun untuk mencoba memperoleh upah keselamatannya. Hukum itu berlandaskan pada iman dalam janji-janji Tuhan, bukan berlandaskan pada upaya-upaya legalistik. Kesalahan Israel bukan pada  mengejar hukum, tetapi mengejar hukum dengan usaha-usaha untuk melakukannya bukan dengan iman. (Lihat Roma 3:31; Matius 23:23).

Sekarang mari kita lihat pada hukum itu sendiri. Sepuluh perintah adalah jantung Perjanjian Musa dan ditemukan pada Keluaran 20. Israel telah tiba di gurun Sinai, tiga bulan setelah keluar dari Mesir. Derita perbudakan dan pembebasan spektakuler melalui Laut Merah  sangat jelas dalam ingatan mereka. (Bayangkan betapa jelasnya ingatan kam konsentrasi yang masih akan terbayang-bayang selama 3 bulan setalah pembebasan Israel!) Salah satu tujuan Tuhan dalam keluaran adalah untuk membuat umatnya percaya kepadanya, sehingga ia akan memelihara mereka dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Sehingga Keluaran 14:31 berkata ," Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan  kepada Musa, hamba-Nya itu."

Oleh karena itu, ketika 10 perintah dimulai dengan, "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:2,3), Tuhan bermaksud :"Ingatlah bagaimana Aku memperlihatkan kasihku kepadamu dan kuasaku yang tiada bandingnya bagimu!Percayalah padaku sekarang, dan jangan mencari sumber pertolongan lain." Sepuluh perintah adalah dasar sebuah panggilan iman dalam Tuhan pada keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir, seperti halnya pengajaran-pengajaran moral dalam Perjanjian Baru didasarkan pada sebuah  panggilan iman  dalam  Tuhan  Jumat Agung dan Paskah.

Keluarnya Israel dari Mesir adalah sebuah tanda bagi Israel, seperti halnya kematian dan kebangkitan Yesus adalah sebuah tanda bagi gereja. Arti tanda disini adalah : bahwa Tuhan ada bagimu dan akan berkarya bagimu dan memelihara anda hanya jika anda akan memercayainya. Peristiwa lampau keluaran adalah sebuah tanda kehendak Tuhan untuk membantu Israel dimasa mendatang. Oleh karena itu tujuan Tuhan atas iman untuk menghasilkan  sebuah kepercayaan melalui iman bahwa Tuhan akan melakukan bagi kita di masa akan datang apa yang ia telah lakukan dimasa lampau.

Ini menjadi jelas dalam Ulangan 1:29-32 dimana Musa menceritakan mengapa Israel menolak untuk masuk ke tanah yang dijanjikan dan terpaksa berputar-putar selam 40 tahun di gurun. Musa mengatakan kepada mereka ketika mereka kali pertama mendekati tanah yang dijanjikan itu."Ketika itu aku berkata kepadamu: Janganlah gemetar, janganlah takut kepada mereka.TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu...Tetapi walaupun demikian, kamu tidak percaya kepada TUHAN, Allahmu." (Lihat juga Bilangan 14:11; Ulangan 9:22-24).

Keluarnya Israel dari perbudakan Mesir adalah sebuah tanda bahwa Tuhan akan memelihara Israel dimasa mendatang. Oleh karena itu, keluaran adalah fondasi iman Israel. Dan iman ini adalah basis hukum itu.
Hukum Musa sederhananya menyatakan cara orang-orang Israel akan hidup jika mereka secara tulus merasa bahwa  masa depan mereka aman didalam tangan Tuhan. Anda tidak akan mencuri jika masa depanmu aman didalam tangan Tuhan. Anda tidak akan memperalat orang lain untuk keuntungan diri sendiri atau berbohong atau merayu  pasangan lain atau tidak menghormati orang tuamu, jika anda sungguh-sungguh percaya pada Tuhan yang mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan Tuhan yang mengadakan Paskah sedang  mengadakan masa depan yang terbaik bagimu. Semua dosa ini datang dari ketidakpercayaan terhadap Tuhan. Hukum adalah sebuah deskripsi kepatuhan iman; bukan sebuah deskripsi kerja untuk bagaimana memperoleh pahala berkat-berkat Tuhan.

Hukum Digenapi Melalui Kepatuhan Iman

Sehingga poin utama dalam teologi hukum kita adalah : bahwa kasih menggenapi hukum. Poin kedua adalah :bahwa kasih bekerja dari iman. Dan poin ketiga adalah : oleh karena itu, hukum itu sendiri tidak menuntut perbuatan-perbuatan yang layak dipuji, tetapi hanya menuntut kepatuhan yang berasal dari iman. Poin keempat mengalir secara alami yaitu : oleh sebab itu kita harus mematuhi atau memenuhi perintah-perintah dalam Perjanjian Lama dalam cara yang sama terhadap perintah-perintah Perjanjian Baru--bukan untuk mendapatkan keberkenanan Tuhan, tetapi karena kita sudah bergantung pada anugerahnya yang cuma-cuma dan percaya bahwa perintah-perintahnya akan menuntun kita pada sukacita yang penuh dan abadi. 
Tentu saja karena Kristus sudah datang dan menggenapi sisi pengorbanan dalam Perjanjian Lama ( 1 Korintus 5:7), dan telah mendeklarasikan semua makanan adalah halal (Markus 7:19), dan sudah mendirikan sebuah  umat Tuhan yang baru yang bukan merupakan sebuah kebangsaan tertentu atau kelompok etnik, maka ada banyak perintah-perintah dalam Perjanjian Lama yang tidak berlaku bagi kita (misalnya hukum-hukum mengenai makanan, hukum-hukum mengenai kurban-kurban, hukum-hukum terkait organisasi-organisasi politik dan tindakan bangsa). Tetapi porsi-porsi yang luas dalam Perjanjian Lama menggambarkan dimensi-dimensi kepatuhan yang benar bagi umat Tuhan di sepanjang masa.

Roma 8:3,4 mengajarkan bahwa Hukum itu sendiri tidak berdaya untuk menghasilkan kepatuhan semacam ini. Huruf itu membunuh; Roh yang memberikan hidup (2 Korintus 3:6). Oleh karena itu, Tuhan mengirimkan Kristus untuk menebus dosa (Roma 8:3), sehingga ia dapat mencurahkan Roh Kudus kedalam hati kita,"supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh" (Roma 8:4). Jadi Paulus mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengabaikan hukum, tidak menolak hukum ini untuk sesuatu yang lain, tetapi menggenapi dalam kuasa Roh Kudus melalui iman yang mengerjakanya dalam kasih.

Kita Harus Bersukacita dalam Hukum Tuhan dan Menyanyikan Nilai-Nilainya
Menyimpulkannya dalam poin-poin adalah : Pertama, hukum digenapi didalam kita ketika kita mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri kita sendiri. Kedua, kasih adalah hasil kerja iman yang tulus hati dan menyelamatkan. Ketiga, oleh sebab itu, hukum itu tidak mengajarkan kita untuk menghasilkan perbuatan-perbuatan yang layak dipuji, namun hanya mengajarkan kepada kita untuk percaya kepada kemurahan Tuhan yang mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir dan untuk hidup sepenuhnya dalam kepatuhan iman. Keempat, oleh karena itu, Perjanjian Musa secara fundamental tidak berbeda dengan Perjanjian MUsa dan Perjanjian Baru, karena kita harus mematuhi perintah-perintah semua ketiga perjanjian itu dengan motif yang sama--tidak bermotif mendapatkan keberkenanan Tuhan, karena kita sudah bergantung pada anugerahnya yang cuma-cuma dan percaya bahwa perintah-perintahnya akan membawa kita kepada sukacita penuh dan abadi. Poin terakhir, bahwa kita seharusnya bersuka dalam hukum Tuhan, merenungkannya siang dan malam (Mazmur 119:97) dan menyanyikan nilainya kepada semua generasi (Mazmur 19:7-14).

John Piper,Why the Law Was Given | Martin Simamora

P O P U L A R - "Last 7 days"