0 Apa Yang Baik dan Berkenan dan Sempurna

Roma 12 :2
...sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang  sempurna.
Ketika kita memfokuskan perhatian kita pada Roma 12:2 anda mungkin ingat bahwa saya tidak terlalu banyak membincangkan  bagian ahir dari ayat ini. Ayat 2 ini berkata :"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Saya hampir-hampir tak pernah mengatakan apapun pada 3 kata terahir ini: baik,berkenan, sempurna. Jadi saya akan bertanya sekarang, Apa yang hendak dinyatakan kata-kata ini kepada kita?
Pertama, ketiga kata ini tidak hendak menyatakan ada 3 hal berbeda terkait kehendak Tuhan: hal-hal baik, hal-hal  yang berkenan, dan hal-hal yang sempurna. Paulus tidak sedang berkata bahwa ada beberapa hal bahwa kehendak-kehendak  Tuhan adalah baik (dan ini tidak berkenan pada Tuhan), dan yang lain lagi  hal-hal  yang berkenan kepada Tuhan (dan tidak baik).

Dengan kata lain kata-kata, "baik" adalah satu cara penggambaran kehendak Tuhan, dan "berkenan" adalah cara lainnya  penggambaran kehendak Tuhan.


Ketika Paulus menegaskan bahwa  perbuatan-perbuatan "baik" adalah kehendak Tuhan, ia sedang memastikan bahwa kita  tidak memperlakukan Kekristenan sebagai sebuah agama yang mistik tanpa adanya tuntutan-tuntutan moral yang kongkrit.

Paulus berkata : ada yang baik dan yang jahat di dunia ini. Kehendak Tuhan adalah baik. Melakukan hal-hal baik, dan  engkau akan mengerjakan kehendak Tuhan. Jangan hanya memiliki pengalaman-pengalaman mistik dan menyebut dirimu  seorang Kristen. Tanya: Apakah baik itu? Dan lakukan hal itu. Ini adalah cara Kristen berjalan dalam kehendak Tuhan.

Akan tetapi, ini adalah perbincangan yang beresiko. Ini terdengar moralis. Itulah sebabnya, banyak orang-orang  "bermoral" mencoba melakukan apa yang "baik" tetapi bukan Kristen. Ada pejuang-pejuang moral disetiap lini yang  tidak dilandaskan pada Tuhan,  hanya pada Yesus saja. Sehingga Paulus selanjutnya meneruskan dan menambahkan  "berkenan". Paulus bermaksud "berkenan pada Tuhan". Kata yang sama digunakan dalam ayat 1 dimana berkenan secara eksplisit berkaitan dengan Tuhan (Serahkanlah tubuhmu sebagai korban yang hidup, kudus dan berkenan pada Tuhan).

Oleh karena itu apa yang Paulus sedang lakukan dengan kata ini adalah mendefinisikan  "baik" sebagai baik dalam relasi dengan Tuhan. "Dengan euareston (berkenan) ia menggarisbawahi fakta bahwa kebaikan yang sedang dipertanyakan  bukanlah kebaikan yang  antroposentrik (berdasarkan nilai dan pengalaman manusia/humanis) tetapi sebuah kebaikan yang ditentukan oleh  kehendak Tuhan yang disingkapkan, sebuah hal mengenai kepatuhan terhadap perintah-perintah Tuhan"(C.E.B. Cranfield, Romans, vol. 2, p. 610) Dengan kata lain, ini tidak akan hanya sekedar berkata :"yang "baik" adalah kehendak Tuhan. Lebih daripada itu kita harus berkata : yang "baik" itu ditetapkan oleh Kehedak Tuhan.

Karena itu, yang baik adalah apa yang berkenan-kepada Tuhan. Inilah apa yang dikatakan oleh Paulus.Kini tiba pada kata yang terahir yang menentukan kehendak Tuhan dalam Roma 12: 2, yaitu kata, "sempurna" (teleion).

Mungkinkan kata ini hal yang lainnya lagi?  Ya, anda mungkin harus tetap mengingat perbedaan yang saya buat dalam  khotbah 22 Agustus 2004(lihat pada tautan ini:  What Is the Will of God and How Do We Know It?) antara kedaulatan kehendak Tuhan dan   kehendak Tuhan yang disingkapkan. Saya berkata bahwa Perjanjian Baru berbicara tentang, pada satu sisi, tentang kehendak  Tuhan sebagai  segala sesuatu yang pasti terjadi dalam kedaulatan Tuhan, termasuk berbagai peristiwa jahat/dosa  seperti pembunuhan Yesus (Kisah Para Rasul 4:27-28) dan penganiayaan terhadap  orang-orang Kristen ( 1 Petrus 3:17; 4:19).

Tetapi, pada sisi lainnya, juga berbicara tentang kehendak Tuhan sebagai Semua perintah-perintah Tuhan, yang  didalamnya tidak pernah terkait hal dosa! Sebagai contoh ,"Inilah kehendak Tuhan, pengudusanmu:bahwa engkau tidak terlibat dalam imoralitas seksual"(1 Tesalonika 4:3). Semua yang merupakan perintah-perintah Tuhan adalah kehendak Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah memerintah kita untuk melakukan dosa.

Ketika Paulus berkata bahwa kita akan ditransformasikan dalam pembaharuan pikiran-pikiran kita sehingga kita dapat membedakan dan melakukan apa itu kehendak Tuhan (Roma 12:2), ia bermaksud menyatakan kehendak Tuhan yang disingkapkan dan  penerapan-penerapannya yang tepat  bagi kehidupan kita. Paulus tidak bermaksud : mencoba untuk menggambarkan rencana kedaulatan Tuhan dan melakukannya. Ini adalah rahasia Tuhan. Kita harus melakukan kehendak-Nya yang telah disingkapkan dan meninggalkan kedaulatan yang memerintah semesta, menuju kepada kedaulatan kehendak Tuhan.

Jadi mari kita kembali kepada kata "sempurna". Kita harus membedakan dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan:  apa yang baik dan berkenan dan sempurna. Apa yang sedang dikatakan oleh Paulus? Ia dalam hal ini sedang berkata :  berupayalah untuk mengenal dan melakukan yang baik, yaitu yang menyukakan Tuhan, yaitu, yang sempurna. Tidak ada makna lainnya. Tuhan tidak akan memerintahkan ketaksempurnaan. Tujuan-Nya bagi kita adalah kesempurnaan.
Sesungguhnya sejak permulaan hingga akhir alkitab, tuntutannya atas kita adalah kesempurnaan. Ketika Tuhan berkata kepada Adam, "Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman  ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah  kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati"(Kejadian 2:16-17), Tuhan tidak bermaksud  :"Jika anda memakan sedikit buah itu, anda tidak akan mati," atau "jika anda makan itu sekali saja, anda tidak akan  mati," atau :"jika anda memiliki alasan yang baik, anda tidak akan mati." Tuhan bermaksud : patuhi secara sempurna  perintah ini, atau anda mati.

Yesus berkata :"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna"(Matius 5:48).  Dan Roma 12:2 berkata, Berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat melakukan apa yang sempurna. Ini bukan sebab mengapa Paulus menempatkan   Roma 12 dimulai dengan Kemurahan Tuhan :"demi kemurahan Allah aku menasihatkan  kamu..." Seluruh isi Roma 12 berdasarkan  Roma bab 11 sebelumnya. Bab-bab ini mengenai kemurahan Tuhan didalam  Kristus. Inilah yang menyelamatkan kita sekalipun kita dalam ketaksempurnaan. Dan Roma 6 dan 7 secara terus terang menyatakan bahwa ketaksempurnaan kita masih berlanjut dalam kehidupan Kristen kita.
Sehingga perintah ayat ke dua bahwa kita melakukan apa yang "baik,berkenan, dan sempurna" melemparkan kita kembali  kepada "kemurahan Tuhan" dalam Kristus. Dan kemurahan ini mengirimkan kita kembali kepada pengejaran kepatuhan yang sempurna. Tidak ada orang yang dapat berdiri pada Salib, menerima kemurahan Tuhan dan bersikap biasa-biasa saja terhadap kehendak Tuhan.

Salib mendesak kita dengan tindakan terimakasih yang besar dan harapan dan sukacita untuk "memotong" tangan kita, jika itu harus melakukannya, untuk  mengikuti Kristus. Jadi marilah kita hidup pada Salib untuk berkat belas  kasih dan marilah kita memikul salib dalam kepatuhan yang penuh belas kasih.


John Piper, What Is Good and Acceptable and Perfect| Martin Simamora



P O P U L A R - "Last 7 days"