0 ALLAH SEBELUM ISLAM

“Pihak Berwajib Malaysia menyita 15.000 Alkitab yang diimpor dari Indonesia karena memuat nama Allah.”

Inilah berita hangat saat ini, ada apa dengan Malaysia? Berita demikian sebenarnya tidak aneh karena dua hal: Pertama, memang sebagian orang Malaysia ada yang berwatak ego-posesif, bayangkan angklung, reog, batik, dan lainnya yang milik Indonesia di klaim sebagai miliknya, dan sekarang nama ‘Allah’ bahasa milik orang Arab diklaim sebagai miliknya pula, padahal itu bukan bahasa mereka.

Kedua, Umat Islam Malaysia tertentu merasa terusik karena belakangan ini makin banyak orang Malaysia yang masuk kristen, maka isu nama ‘Allah’ diangkat. Gejala fundamentalisme demikian memang baru karena orang Arab sendiri, baik yang beragama Islam, Yahudi maupun Kristen, dari dahulu sampai sekarang, menggunakan nama ‘Allah’ itu bersama-sama untuk menunjuk ‘Allah Monotheisme Abraham/Ibrahim’ yang mereka sembah sekalipun masing-masing memiliki aqidah berbeda mengenai ‘Allah’ yang sama itu.

Secara hukum peradilan sebenarnya pengadilan Malaysia tidak bisa melarang penggunaan itu namun keputusan politik yang didasari sentimen agama mayoritas ditambah watak sebagian orang yang diskrimintatif terhadap kelompok minoritas menjadikan pencekalan itu terjadi.
Apakah nama ‘Allah’ itu milik agama Islam? kalau begitu mengapa sudah digunakan jauh sebelum agama Islam lahir? Nama Allah sudah ada setua kelahiran bahasa Arab. Jauh sebelumnya di Mesopotamia dimana rumpun semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El/Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon babilonia. Namun bagi sebagian besar keturunan Sem (dimana nama rumpun Semitik berasal), nama itu dimengerti sebagai ‘Tuhan Yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.’ Nama El berkembang ke wilayah Utara dan Barat menjadi Ela, Elah, dan khususnya di Aram-Siria nama itu disebut Elah/Alaha dan dikalangan Ibrani disebut El/Elohim/Eloah. Sedangkan nama Il berkembang di wilayah Timur dan Selatan menjadi Ila, Ilah, dan di Arab disebut Ilah/Allah.
Catatan tertua pada milenium kedua sebelum Kristus menurunkan keturunan Abraham yang disebut suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah, yang dikenal sebagai kaum Hanif (jmk. Hunafa) dan mereka menyebut nama ‘Allah’ dalam dialek Arab sejak zaman kuno. Ensiklopedia Islam (hlm.50-51) menyebutkan, bahwa:
“Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa’ (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju­kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail.”
 Dalam penemuan inskripsi dikalangan suku Lyhian/Tamud ditemukan catatan dari sekitar abad VI/V SM (semasa Ezra) bahwa nama Allah sudah digunakan, dan menarik mengetahui bahwa suku Lyhian sangat erat dengan suku Dedan pendahulunya, Dedan adalah cucu Ketura, isteri Abraham:
“Inskripsi Arab Utara. … Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks Lyhian. … Bukti ditemukannya nama Allah menunjukkan bahwa Lyhian adalah pusat penyembahan Allah di Arab. … “Orang Siria, menekankan kata benda umum ‘allah’ menjadi nama diri dengan menambahkan elemen “a”: allaha = “the god” lalu menjadi “God”. … Ketika orang Lyhian mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen “a”.” (F.V. Winnet, Allah Before Islam, dalam The Muslim World, Vol.38, 1938, hlm.245-248)
Ada yang mencoba memberikan stigmatisasi seakan-akan nama Allah itu nama berhala Siria kuno, namun dari Tanakh kita mengetahui bahwa dalam kitab Ezra yang berasal abad VI SM, kita mengenal ada banyak nama ‘Alaha’ yang ditujukan kepada ‘Elah Yisrael’ (Ezr.5:1;6:14). Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya ‘Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times’, yaitu bahwa nama ‘Allah’ sudah lama digunakan dikalangan suku-suku Arab termasuk yang kristen dan berasal dari ‘Alaha’ Aram, bahasa Arab diketahui berkembang dari Nabati-Aram.

Jadi adanya dugaan bahwa ‘Allah sesembahan Lihyan itu dewa Siria, oleh Winnet dan Trimingham disebutkan  bahwa nama itu ditujukan kepada ‘Alaha’ Aram yang menunjuk kepada ‘Elah Yisrael.’ Pendapat Trimingham tidak bisa diabaikan, sebab ia belajar ilmu sosial (Birmingham) dan studi Arab & Persia (Oxford) kemudian mengambil doktor dan mengajar ‘Studi Arab & Islam’ selama 11 tahun di University of Glasgow, ia juga menjabat sekertaris badan misi ke Sudan dan melakukan kunjungan secara intensif ke Afrika. Setelah memperdalam bahasa Arab di Siria dan Palestina ia mengajar Sejarah Arab selama 13 tahun di American University (Beirut).
Berbeda dengan anggapan sekelompok orang yang menyebutkan bahwa orang Kristen Arab semula menyebut ‘Al-Ilah’ dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama ‘Allah,’ fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama ‘Allah’ dalam ibadat mereka. Pater Pacerillo, arkeolog Franciscan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari abad IV dengan inskripsi ‘Bism Ellah al Rahmani al Rahimi’ (Dalam nama Allah yang pengasih dan penyayang).

Trimingham juga menyebutkan bahwa pada Konsili Efesus (431) hadir seorang uskup Arab bernama Abdelas/Abdullah (Abdi Allah), sedangkan Bambang Noorsena S.H. yang mengambil pasca-sarjana dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyebut bahwa sebelum Islam lahir, pemakaian istilah Allah di lingkungan Kristen bisa dilihat dari sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan disekitar wilayah Syria dimana nama Al-Ilah/Allah disebut:
“Ada dua inskripsi penting: pertama inskripsi Zabad (tahun 512) yang diawali dengan rumusan ‘Bism al-Ilah’ (Dengan nama al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen Syria, dan kedua, Inskripsi ‘Umm al-Jimmal’ (juga berasal abad ke-6 Masehi) yang diawali dengan ucapan ‘Allahu ghafran’ (Allah mengampuni).” (History of Allah, hlm.10)
Noorsena juga menyebutkan bahwa ada teks Aram Suryani masa itu dimana nama  ‘Alaha’ diterjemahkan menjadi teks ‘Allah’ Arab:
Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad (bahasa Suryani-Arab), karya Mar Ya’qub al-Rahawi (James of Eddesa). Buku ini diawali kalimat: Allah..., menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha... (teks asli Suryani ditulis tahun 578 M)”. (The History of Allah, hlm.12.)
Menarik juga mengamati penggunaan nama ‘Allah’ di kalangan Arab beragama Yahudi, dimana sebelum Islam lahir ada Imam Sinagoge di Medinah yang bernama ‘Abdallah bin Saba.’ Bukan hanya itu, data Al-Quran sendiri menyebutkan bahwa pada masa Muhammad di gereja dan sinagoge sudah banyak disebut nama Allah:
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS.22:40)
Muhammad menyebut bahwa nama ‘Allah’ sudah disebut orang Yahudi dan Nasrani, ia tidak menyebut orang-orang itu mengucapkan ‘Al-Ilah,’ maka karena waktu itu Islam dan Al-Quran baru lahir, tentunya penggunaan nama ‘Allah’ dikalangan Arab beragama Yahudi dan Nasrani sudah lebih dahulu terjadi lama sebelumnya.
Dari kenyataan diatas kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan pra-tulis, penggunaan nama ‘Allah’ bisa terjadi sebagai derivasi ‘allaha’ Aram, dan sekalipun mayoritas pakar Arab menyebutnya sebagai padanan ‘Al-Ilah,’ belakangan ini ada yang berpendapat bahwa itu nama diri yang berdiri sendiri. Memang pada masa modern dengan berkembangnya ilmu tata-bahasa (gramatika) orang berusaha merumuskan bahasa secara diskriptif, namun bahasa adalah ilmu yang berkembang sepanjang waktu, karena itu tidak bisa dibatasi dengan gamatika modern sebagaimana halnya rumus-rumus ilmu pasti/fisika yang mengamati hukum-hukum alam yang tetap.
Nama ‘Allah’ sudah digunakan Alkitab bahasa Arab sedini tahun 630-an sebelum Al-Quran ditulis, dimana fragmen-fragmen dalam bahasa Arab mulai ditulis oleh Patriakh Abu Sedra II, dan yang disusun lengkap berasal dari Hunayan bin Ishaq dan Saadia Gaon pada abad IX. Sejak itu nama ‘Allah’ terus digunakan dalam Alkitab bahasa Arab termasuk empat versi yang sekarang digunakan oleh sekitar 29 juta umat kristen Arab diseluruh dunia. Di Indonesia sejak masuknya agama Islam (abad XIII) dan Kristen (abad XVI), nama ‘Allah’ sudah terserap dalam bahasa Melayu dan kemudian masuk kosa-kata bahasa Indonesia, dan sudah digunakan sedini ditulisnya terjemahan Alkitab Melayu pada tahun 1629 dan kemudian digunakan sampai sekarang. Sekalipun Indonesia memiliki populasi Islam terbesar di dunia selama ini tidak ada yang mempersoalkan penggunaan nama Allah itu mengingat nama itu sudah menjadi kosa-kata bahasa Indonesia dan digunakan dalam Alkitab Kristen selama 4 abad sejak awal, kecuali dipersoalkan oleh sekelompok kecil orang.
Menarik juga untuk diamati bahwa di Timur Tengah, penggunaan nama ‘Allah’ oleh mereka yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam yang berbahasa Arab dilakukan bersama tanpa masalah, karena itu aneh kalau ada orang diluar Palestina yang bukan Arab/berbahasa ibu Arab yang memberikan stigmatisasi seakan-akan itu nama ‘berhala dewa bulan.’ Mereka kurang mengerti Al-Quran tidak pernah menyebut ‘Allah’ sebagai nama dewa bulan, Al-Quran menyebut:
 “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS.29:61)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS.41:37)
Ini tidak menutup kemungkinan bahwa dikalangan Arab Lihyan dan Arab Jahiliah, disamping kaum Hanif ada juga penyembah berhala yang menyebut dewa mereka dengan sebutan Allah. Dalam sejarah Arab, masa jahiliah pra-Islamlah yang disebut sebagai masa sinkretisme yang berat dengan diimpornya berhala-berhala asing ke Arab sehingga kemungkinan banyak yang lalu menyembah berhala, namun pada masa Islam hadir, keyakinan monotheisme kaum Hanif itu dipulihkan.
“Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa’ (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju­kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. Menjelang abad ke-7, kesadaran agama Ibrahim di kalangan bangsa Arab ini telah menghilang, dan kedudukan­nya digantikan oleh pemujaan sejumlah berhala ... dalam waktu 20 tahun seluruh tradisi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran Tuhan yang terakhir, yakni Risalah Islam”. (Ensiklopedia Islam, hlm.50-51)
“Karena Islam memperbaiki agama yang dibawa Ibrahim, yakni agama fitrah, maka jahiliyah dipandang sebagai sebuah zaman sebelum keda­tangan Islam, ibarat kegelapan sebelum terbit fajar. Pada zaman ini ajaran monotheisme Ibrahim telah musnah berganti dengan sistem pa­ganisme, dan diwarnai dekadensi moral. Sejumlah berhala sesembahan didatang­kan ke Makkah dari berbagai negeri di Timur Tengah. Namun tidak semua warga Arab pada saat itu menganut sistem keyakinan pagan, me­lainkan terdapat beberapa suku Arab memeluk agama Kristen dan Ya­hudi. Bahkan terdapat sejumlah pribadi yang menekuni dunia spiritual, mereka itu dinamakan ’hunafa’ (tgl. hanif) yang mana mereka tidak memihak kepada satu di antara kedua agama tersebut, melainkan mereka bertahan pada ajaran monotheisme Ibrahim”. (Ensiklopedia Islam, hlm.190)
Kemerosotan penggunaan nama sesembahan ‘Allah’ tidak hanya terjadi dikalangan Arab, sebab dikalangan Israel pun kemerosotan yang sama juga terjadi. ‘Elohim’ disamping untuk menyebut ‘Pencipta Langit dan Bumi’ (Kej.1:1) juga digunakan untuk menyebut ‘berhala anak lembu’ (Kel.32:1,4), bahkan ‘berhala anak lembu’ itu juga dirayakan sebagai YHWH (Kel.32:5). Jadi disini kita melihat bahwa yang menjadi masalah bukan nama ‘Elohim/Allah’nya melainkan apa kandungan aqidah dibalik nama itu yang secara berbeda-beda diajarkan dalam Kitab Suci masing-masing agama.
Marilah kita mendengarkan wejangan Dr. Olaf Schuman, teolog kristen Jerman yang fasih berbahasa Arab yang selama 3 tahun belajar dan mengajar di Universitas Al-Ashar di Kairo:
“Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang men­jadi masalah ialah soal dogmatika atau ’aqida, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tin­dakan-tindakannya. (Keluar dari Benteng-Benteng Pertahanan, hlm.177)
Menarik juga melihat fakta bahwa ada Al-Quran dalam bahasa Ibrani yang diterbitkan di Israel dimana nama ‘Allah’ diterjemahkan ‘Elohim’ (Al-Quran Tirgem Avrit, Devir Publishing House, Tel-Aviv, 1945), ini menunjukkan bahwa setidaknya di Palestina ‘Allah’ itu sinonim ‘Elohim.’
Marilah kita mendoakan mereka yang tidak merasa damai sejahtera dengan penggunaan nama ‘Allah’ di kalangan kristen, sebab itu berarti bahwa mereka menolak ‘YHWH’ yang nama lainnya ‘El/Elohim/Eloah’ dalam dialek Arab ‘Allah’ ditolak bahkan diberikan stigmatisasi sebagai ‘berhala.’
“Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.” (Rm.15:33)

 
Salam kasih dari Sekertariat
 

-yabina.org

P O P U L A R - "Last 7 days"