Penerimaan Bantuan Keuangan BENCANA Gunung Sinabung - GEREJA BATAK KARO PROTESTAN :"klik gambar "

Penerimaan Bantuan Keuangan BENCANA Gunung Sinabung - GEREJA BATAK KARO PROTESTAN :"klik gambar "
Donasi Via BNI Cabang Kabanjahe an Benderhara Bencana Kristiani br Ginting/Agustinus Purba No.0201112446 Contact Person:Pdt.Agustinus Purba,S.Th,MA - 081389230745

0 Tritunggal (01) : Pandangan Bapa-Bapa Gereja

Pengantar

Penting untuk diketahui bahwa doktrin atau ajaran tentang Allah Tritunggal hanya ada di dalam Kekristenan. Jadi, boleh dikatakan bahwa ini adalah salah satu keunikan agama Kristen. Ajaran seperti ini tidak ada di dalam agama lain. Bukan saja tidak ada, ajaran seperti ini ditentang oleh agama tertentu di mana pemahaman seperti ini dianggap bertentangan dengan natur atau keberadaan Allah itu sendiri.




Allah Tritunggal atau Trinity God adalah pemahaman akan Allah yang memiliki tiga oknum yang berbeda (hypostasis) tapi di dalam satu keberadaan (essensi atau substansi), yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pemahaman ini berbeda dengan Unitarianisme yang menekankan keesaan Allah dan menyangkali oknum Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus sebagai Allah yang setara dengan YHWH.

I. Pandangan Bapak-bapak Gereja

Sekalipun pemikiran tentang Allah Tritunggal telah dimulai pertama kali pada abad kedua oleh Athenagoras, namun doktrin ini secara jelas diajarkan pada abad ketiga oleh Tertullian (fl.c.196-c.212). Tertullian menegaskan bahwa hanya ada satu Allah dengan tiga oknum yang berbeda. Namun pemahaman Tertullian yang dikenal dengan “economic Trinitaniarism” kelihatannya bermasalah, di mana Tertullian memahami bahwa Allah Bapa menggunakan kedua ‘tanganNya’, yaitu Anak dan Roh Kudus sebagai perantara untuk menciptakan dunia.

Sejarah kehidupan manusia dibagi menjadi tiga periode di mana ketiga oknum dari Allah Tritunggal bekerja secara berurutan pada masing-masing periode tersebut. Perjanjian Lama merupakan periode Bapa, Perjanjian Baru hingga hari Pentakosta merupakan periode Anak, dan akhirnya, mulai dari hari Pentakosta dan seterusnya merupakan periode Roh Kudus.

Tentu saja pandangan tersebut di atas kurang memuaskan, karena membatasi Allah pada periode tertentu saja. Pandangan ini juga membuka peluang bagi pemahaman Modalistik atau Monarchianisme. 

Pandangan Monarchianisme ini juga disebut sebagai Sabellianisme sesuai nama pencetusnya, yaitu Sabellius yang hidup pada abad ketiga. Menurut pandangan ini, sebenarnya hanya ada satu oknum Allah, bukan tiga oknum. Allah yang Esa tersebut menyatakan diri dengan tiga cara, atau tiga manifestasi.

Sebagai pencipta alam semesta, Allah muncul sebagai Bapa; kemudian, sebagai Penebus manusia, Allah muncul sebagai Anak dan akhirnya Roh Kudus muncul sebagai pribadi yang menguduskan. Untuk menjelaskan hal ini, seringkali orang mengambil ilustrasi es, air dan uap. 

Pada temperatur di bawah 0 derajat kita menemukan zat es, sedangkan di atas temperatur 0 derajat es tersebut akan berubah menjadi air, dan pada temperatur di atas 100 derajat air itu akan berubah menjadi uap. Ada juga yang menggambarkannya dengan seorang yang berperan sebagai ayah di rumah, tapi di kantor sebagai pimpinan dan pada kesempatan lain sebagai orang yang bermain golf. Artinya, orang yang sama dan yang satu itu berperan sebagai ayah, pimpinan dan pemain golf. Pengajaran inipun tidak memuaskan karena tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab.

Jika Sabellianisme berusaha menghindari tuduhan bahwa dia menganut paham politheisme (percaya kepada banyak Allah) dengan mempertahankan sifat keesaan Allah dan menolak adanya ketiga oknum yang berbeda dalam Allah Tritunggal, tidak demikian dengan Arianisme oleh Arius (c. 250-336).

Arius mengakui adanya ketiga oknum dalam diri Allah, yaitu Bapa, Anak dan Roh. Namun menurut Arius, Anak subordinate dengan Bapa, demikian juga dengan Roh Kudus. Karena itu, Anak tidak memiliki kekekalan yang sama (co-eternal) dengan Bapa. Anak juga tidak dapat disejajarkan dengan Bapa, melainkan lebih rendah dari Bapa, sedangkan Roh Kudus lebih rendah dari Anak.

Pemahaman Sabellianisme tersebut ditentang oleh Athanasius (c. 297-373), di mana dia menegaskan bahwa Bapa memiliki substansi yang sama dengan Anak dan Roh Kudus (Yunani, Bapa homoousia dengan Anak dan Roh Kudus. Homo artinya sama, sedangkan ousia artinya zat, atau substansi. Perlu diketahui dua kata yang hampir mirip tetapi mengandung arti yang berbeda, yaitu “homo” dengan “homoi”. (Yang pertama berarti sama, sedangkan yang kedua berarti mirip atau seperti.).


Karena Bapa memiliki substansi yang sama dengan Anak dan Roh Kudus, maka Bapa juga memiliki kekekalan yang sama dan setara dengan Anak dan Roh Kudus. Sidang oikumene pertama (sidang yang mempersatukan Gereja Barat dan Timur) yaitu konsili Nicea pada tahun 325 meneguhkan bahwa Yesus adalah Allah dan sehakekat dengan Bapa. Penegasan bahwa Anak sehakekat dengan Bapa terlihat dengan penggunaan kata bahwa Anak homo ousia dengan Bapa Selanjutnya konsili Konstantinopel pada tahun 381 meneguhkan bahwa Roh Kudus adalah Allah yang setara, sehakekat dan memiliki kekekalan yang sama dengan Bapa dan Anak.

Setelah mendiskusikan hal di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kepercayaan kepada Allah Tritunggal merupakan satu pengakuan kepada Allah yang Esa (dalam esensi atau substansi) namun memiliki tiga oknum yang berbeda. Pengakuan ini meneguhkan bahwa Bapa, Anak dan Roh adalah Allah yang sehakekat, setara dan memiliki kekekalan yang sama (co-existence, co-equal dan co- eternal).
Beberapa hal yang perlu dihindari, yaitu:

1.Menyangkali keesaan Allah (Arianisme)
2.Menyangkali adanya ketiga oknum yang berbeda (Sabellianisme)
3.Menyangkali kesetaraan Allah Bapa, Anak dan Roh


(bersambung)

Pdt. Mangapul Sagala