0 John MacArthur's Sermon : Bahaya-Bahaya Pragmatisme Dalam Kekristenan (3-selesai)

Adalah lebih baik bagi kita untuk selalu memosisikan firman Tuhan sebagai pengukur kedalaman nilai-nilai yang kita  miliki, pastikan bahwa nilai-nilai yang kita miliki selaras dengan firman Tuhan, dan setiap ide  khotbah harus  sebangun dengan definisi pada  firman Tuhan, dan menyampaikannya sebagai sebuah kebutuhan walau mungkin saja, bukan  itu yang diinginkan oleh pendengar; sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua manapun yang peduli kepada anaknya : memberikan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan.


Bila anda ingin melihat bagaimana gereja seharusnya beroperasi dan berfungsi dan bagaimana seharusnya anugerah dan kasih itu, Gereja mula-mula sebagaimana yang tercatat dalam Kisah Para Rasul adalah tempat yang baik untuk  memahaminya. Dan bila kita memperhatikan gereja mula-mula di dalam kitab suci, ada 4 prioritas utama yang melekat  pada gereja mula-mula.

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan  roti dan berdoa. (Kisah Para Rasul 2:42)

Empat prioritas ini juga seharusnya melekat pada  Tubuh Kristus :

1. Pengajaran Rasul
2. Persekutuan
3. Memecahkan Roti
4. Berdoa

Namun tentang ini ada pengkhotbah--sangat disayangkan--memandangnya dengan murah. Ia--pada 01:15 video ini--menyatakan : bahwa bila ada yang menyatakan bahwa jemaat mula-mula merupakan jemaat yang "murni", maka pendapat  seperti ini adalah gila. Jika anda menyatakan bahwa mereka saling mengasihi, dimana pikiranmu? Anda harus lebih  banyak lagi membaca Alkitab, mereka sama buruknya dengan kita, bahkan kadang lebih buruk lagi. Dan saya berjalan  dengan orang-orang yang lebih baik di seminari daripada Paulus dengan Barnabas.

Betulkah klaim yang dinyatakan pendeta tersebut diatas? Betulkah jemaat mula-mula sama buruknya dengan jemaat masa kini? dan benarkan Barnabas-mitra Paulus-lebih buruk daripada mitra si pengkhotbah diatas? Mari perhatikan apa kataAlkitab mengenai kehidupan jemaat mula-mula :

Kisah Para Rasul 22 :42-47

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecah kan roti dan berdoa.
Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Permasalahan utama yang dihadapi oleh gereja-gereja dewasa ini adalah pemrioritasan pada agenda-agenda pelayanan, gereja semakin mengedepankan drama, rekreasi, entertainman,pop psikologi, dan self help program. Meninggalkan apa yang diteladankan oleh gereja mula-mula dan menganggap segala sesuatu yang berkembang dalam pelayanan gereja masa kini sebagai sebuah tren, kecuali mengkhotbahkan Alkitab.

Pragmatisme menilai berkhotbah-mengkhotbahkan firman Tuhan apalagi penyampaian firman yang bersifat gamblang dan ekspositori sebagai hal yang usang. Kini menyampaikan firman Tuhan  dengan gamblang-apa adanya dianggap sebagai sesuatu yang membosankan dan  terlalu keras/menyerang, serta tak efektif. Saya diberitahu bahwa agar sukses maka harus menyenangkan dan menghibur, melakukan sejumlah tip untuk sukses dengan filosopi yang ditawarkan kepada jemaat (menit 03:08).

Padahal Alkitab dengan jelas dan tegas menyatakan :

Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (Kolose 2:8)

Lalu  lambat laun dalam periode waktu yang panjang, jemaat akan terbiasa dengan pengajaran yang tak menjadikan kehidupan kudus, Tuhan yang kudus, doktrin dan dosa sebagai keutamaan yang harus dipahamai oleh jemaat. Jemaat hanya mengenal ayat-ayat Alkitab tertentu tanpa penekanan yang terlalu dalam pada firman Tuhan yang mengajrkan perihal doktrin dosa, Tuhan yang kudus.

Penyampaian khotbah kini lebih dipolakan dengan penyampaian yang singkat dan pastikan menghibur.  Ini berangkali bagaikan sebuah pilihan antara ; gaya dan isi, membuat khotbah semenarik mungkin atau memastikan khotbah yang disampaikan akurat (selaras dengan firman). Hal-hal ini telah menjadi agenda di dalam gereja masa kini, tak peduli apakah hal itu benar atau salah.

Kini saya akan beritahukan lebih lanjut, lalu jika demikian apa yang terjadi? Jawabnya, firman Tuhan menjadi terdelusi, bahkan ada gereja-gereja pun melarang  khotbah yang sepenuhnya pengajaran Alkitab, mendorong pengkhotbahuntuk lebih menekankan aspek-aspek yang menyenangkan jemaat sebab terkait dengan besaran respon dan target jumlahjemaat yang diharapkan.

Efek kedua yang muncul sebagai akibat pergeseran semacam ini adalah : banyak para pengkhotbah yang sebenarnya penyampai firman yang orisinal--sangat memperhatikan kandungan khotbatnya berdasarkan Alkitab-- pun mulai merasa perlu untuk  berkompromi agar mendapatkan respon yang positif, berkompetisi dengan gereja-gereja baru yang lebih sukses dalam menjaring jemaat dalam jumlah yang jauh lebih baik.

Bahkan pergeseran semacam ini juga terjadi pada gereja-gereja yang mengutamakan khotbah-khotbah yang sepenuhnya biblikal, secara perlahan dan tersamar hingga akhirnya penyampaian khotbah yang seutuhnya biblikal terkalahkan oleh penyampaian firman yang mengedepankan aspek entertain.

Tidak ada yang salah untuk menjadi menarik, atau mampu merebut perhatian orang banyak, atau bahkan untuk berhumor,sebagai contoh : ada banyak energi yang terpakai untuk memproduksi video ini agar menarik perhatian banyak pendengar, tetapi kami tak lantas mengurangi derajat ketajaman isinya agar nyaman bagi seluruh pendengar, atau isinya dibuat agar menyentuh  kegairahan pendengarnya, dan ini hal kunci yang membedakannya.

Saya memahami bahwa banyak gereja melakukan prubahan semacam ini dengan motif yang sangat tulus agar sebanyak mungkin orang tertarik untuk mendengarkannya. Pada dasarnya gereja-gereja ini sangat ingin menarik lebih banyak orang untuk mengenal Kristus.

Tetapi sayangnya ditengah-tengah maksud baik tersebut terdapat kekeliruan yang serius dan fundamental. Kekeliruan tersebut adalah  :"mereka meyakini bila kita mampu menarik minat mereka berdasarkan pada apa yang mereka inginkan akan menjadi metode penginjilan dan pengajaran Alkitab yang lebih efektif.

Tetapi kebenaran yang dinyatakan Alkitab : 1 Chor 2:14, mengingatkan kita sebuah hal yang sangat kritikal :

But the natural man does not receive the things of the Spirit of God, for they are foolishness to him; nor can he
know [them], because they are spiritually discerned.

Esensi penting ayat ini : jika kita sedang membicarakan Kebenaran, orang tersebut tak memiliki Roh Tuhan didalamdirinya, jika mereka tak pernah  dilahirkan kembali, atau bahkan kedagingannya mendominasi kehidupannya dan Kebenaran-maksudnya hal-hal duniawi lebih menarik ketimbang hal-hal rohani, maka jika hal-hal spiritual diajarkan, hal-hal tentang Tuhan dikhotbahkan, jika kebenaran dan doktrin Alkitab disampaikan, Firman Tuhan disampaikan kepadanya maka firman baginya menjadi hal yang tak bermakna, membosankan bahkan kebodohan kepada orang yang tak memiliki Roh Tuhan.

Jadi ini pesan utama dari seluruh program ini, sangat tidak alkitabiah bila kita mencoba dan menarik perhatian spiritual pendengar  yang masih sangat duniawi melalui metode-metode yang erat dengan pendekatan yang duniawi. Misal pada menit 10:40 pengkhotbah berupaya menarik perhatian pendengarnya dengan menyatakan : Yesus memiliki rumah yang besar dan bagus; Yesus mengelola uang dalam jumlah besar; Yohanes 19 menyatakan Yesus menggunakan busana yang dibuat disainer busana, padahal Yohanes 19 sangat tak pantas untuk dikomedikan dalam derajata apapun juga!

Kita tak perlu malu dengan realita yang dipaparkan dalam Yohanes 19 sebagai bagian dari penderitaan yang dialami oleh Yesus. Bukankah Alkitab mengingatkan kita dengan tidak main-main agar kita tak coba-coba mengelak dari seluruh realita yang dialami Yesus juga menjadi bagian yang harus kita tanggung SETIAP HARI sebagai pengikut Kristus.

Lukas 9:23
Then He said to [them] all, "If anyone desires to come after Me, let him deny himself, and take up his cross daily, and follow Me.

Dan kita tak perlu malu jika Yesus tak memiliki rumah besar atau properti mewah lainnya, kita tak boleh memalsukan fakta atau sejarah tentang Yesus, sekalipun itu dengan cara  humor, sebab yang kita humorkan adalah Tuhan.

Lukas 9:58
And Jesus said to him, "Foxes have holes and birds of the air [have] nests, but the Son of Man has nowhere to lay [His] head."

Kita tak boleh memelintir pernyataan Yesus sedikitpun dalam khotbah yang kita sampaikan.

Kini kita telah melihat banyak strategi yang dijalankan oleh banyak gereja, para pendeta berpikir jika ia hanya
menyampaikan firman Tuhan saja maka tak akan mendatangkan hasil, para pendengar akan menjadi bosan, tak akan ada respon dalam jumlah besar.

Jika para pendeta mulai berkompromi, coba tebak apa yang akan terjadi? Mereka akan sukses, pragmatis akan menyebutnya sukses, dalam jumlah and hanya pada besarnya jumlah respon, namun ini dikatakan sebagai sukses.

Tolong jangan salah pahami saya. Tak ada yang salah dengan melontarkan humor yang tepat  dalam khotbah, atau minum kopi setelah itu, namun bila hal-hal ini menjadi semacam umpan untuk menarik perhatian pendengar yang adalah kerumunan yang sebenarnya tak tertarik, maka sebenaranya pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan tanpa kekuatan spiritual untuk mentransformasi kehidupan.

Para pendeta kini malah beralih ke buku-buku yang mengajarakan metode marketing semacam tehnik baru untuk membantu pertumbuhan gereja. Dan banyak seminari kini beralih ke kurikulum Alkitab dan Teologi ke tehnik konseling dan teori pertumbuhan gereja.

Dan dapat dikatakan 95% Kekristenan memtuskan untuk  berkompromi, meninggalkan pola penyampaian firman Tuhan yang gamblang dan orisinal beralih ke metode baru. Intinya hal ini menggambarkan semakin berkembangnya komitmen gereja kepada sebuah hal, yaitu Pragmatisme.

(Diekstrasi oleh Martin Simamora)