0 John MacArthur's Sermon : Bahaya-Bahaya Pragmatisme Dalam Kekristenan (2)

Pengkhotbah yang menyampaikan khotbah dalam alur komedi atau bahkan parodi bahkan akan berdampak sangat fatal, setidaknya membuat pendengar tak mengenal Siapa Yesus sesungguhnya. Pada video dibawah  ini ,   seorang pengkhotbah terkenal   diawal video,  menyatakan bahwa Yesus bagaikan  badut, demikian juga murid-muridnya. Walaupun si pengkhotbah segera mengimbuhinya dengan koreksi artifisial :"dalam konteks positif", namun sungguh tak pantas jika  orang Kristen memparodikan Yesus bagaikan badut, sebab seluruh khotbah tak lagi menghadirkan Yesus yang adalah Anak Allah sebab  Yesus dan para murid dikatakan  bagaikan badut!




Alkitab sama sekali tak pernah menunjukan penyampaian Firman dapat dilakukan dengan cara memparodikan Tuhan, bahkan  dengan serampangan dan berani menggunakan kalimat "to the Truth of Scripture" dalam rangkaian parodinya sebaliknya Alkitab  menyatakan kepada kita :

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.(2 Tim 4:1-2)

Metode-metode "baru" semacam ini dalam penyampaian firman Tuhan dinilai lebih bernilai setidaknya hal ini dikatakan oleh mereka yang menggunakannya. Mereka berupaya menarik kerumunan ramai sebanyak mungkin dan mendapatka respon segera dalam jangka pendek. Sehigga bagi kebanyakan orang kriteria utama  untuk menentukan bahwa sebuah pelayanan  gereja sukses  berdasarkan pada seberapa banyak jumlah kehadiran, seberapa baik khotbah yang disampaikan dapat diterima oleh pendengar, menjadi hal-hal yang terkait dengan kegiatan-kegiatan khotbah dan pelayanan.

Apapun juga yang disampaikan kepada banyak orang bila menghasilkan respon yang baik akan diterima sebagai dasar untuk menilai-sesuatu   pasti bagus karena metode ini mendatangkan sesuatu yang diharapkan, dan ini adalah ciri  Pragmatisme.

Sebab perhatian utama Pragmatisme selalu pada "apakah saya mendapatkan hasil yang baik?" Orang-orang meresponnya  sehingga kesimpulan yang diambil : ini pasti baik. Situasi ini sangat  kontras dengan perkabaran Injil pada 1600 dan  1700 kesuksesan penyampaian kabar Injil hanya mengandalkan Firman Tuhan dan khotbah yang gamblang, akurat dan  biblikal tak peduli apakah khotbah semacam ini akan diterima atau tidak, para pengkhotbah menyerahkan sepenuhnya  kepada Tuhan apakah pendengar akan merespon atau tidak.

Dan Alkitab, terkait akan hal ini,menegaskan apa yang dianggap bodoh oleh dunia lebih berhikmat daripada hikmat dunia, dan yang lemah dari Tuhan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan dunia. Jadi apakah dia  menanam, ataukah menyiram hanya Tuhan yang dapat memberikan pertumbuhan sehingga tugas kita adalah menaburkan benih  dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang dapat memelihara benih itu tetap hidup.

Apakah anda ingin melihat bagaimana Alkitab menggambarkan bagaimana pelayanan yang alkitabiah yang orisinal? Mari  kita lihat pelayanan  nabi Yehezkiel :

Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau."
Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar  Dia yang berbicara dengan aku.
Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.
Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka:  Beginilah firman Tuhan ALLAH.
Dan baik mereka mendengarkan atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak--mereka akan mengetahui bahwa seorang  nabi ada di tengah-tengah mereka.
Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di  tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan  janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak. (Yehezkiel 2:1-6)


Selanjutnya Tuhan menyatakan sesuatu kepada Yehezkiel, dan ini menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dalam pelayanan

:
Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.
Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu."       (Yehezkiel 2:7-8)

Tuhan dengan gamblang meminta nabi Yehezkiel untuk  menyampaikan perkataan Tuhan sebagaimana telah Tuhan sampaikan  kepadanya, tak peduli apakah mereka akan mendengarkannya atau tidak. Sebab Tuhan telah menetapkan baginya untuk  menyampaikannya dengan apa adanya, tak peduli apakah  mereka akan mendengarkannya atau tidak, ia harus menyatakan  pesan Tuhan.

Menyampaikan pesan  dengan mengkhotbahkannya menjadi instrumen utama yang dipilih Yeremia dalam melaksanakan tugasnya hingga tuntas. Dan ia berhasil merampungkan tugas yang Tuhan embankan kepadanya. Hal yang dilupakan oleh  pragmatis : pekerjaan Tuhan memiliki 2 tujuan ; pastilah untuk menyelamatkan  tetapi juga ada yang makin keras  hatinya. Namun Alkitab mengungkapkan kepada kita bahwa Firman Tuhan yang disampaikan tak pernah sia-sia, firman yang disampaikan akan selalu melakukan pekerjaan sebagaimana yang Tuhan maksudkan.

Tetapi tentu saja bagaimana firman itu akan mendatangkan dampak tak selalu seperti apa yang kita bayangkan dalam  benak kita. Saya akan ungkapkan sesuatu kepada anda terkait metode mengkhotbahkan pesan/firman Tuhan yang Tuhan pilih yang jelas-jelas sebuah metode yang kurang menarik dan menghibur.

Cara Tuhan dalam "mengkhotbahkan" perkataan-Nya (melalui hamba-hamba-Nya) tak ditujukan untuk membuat pendengarnya menjadi tergugah dan berhasrat sebab Tuhan memisahkan anak-anak-Nya  secara roh bukan berdasarkan daging-dengan kata lain Tuhan tidak menggunakan metode atau menciptakan daya tarik yang memikat "kedagingan" manusia sehingga banyak orang akan datang dan mengerumuni-Nya lalu tiba-tiba  Tuhan beralih dan mulai menyentuh manusia secara roh.

Mari perhatikan apa yang tertulis di dalam 1 Korintus 1: 18-24

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."
Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?
Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.
Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,
tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

For the message of the cross is foolishness to those who are perishing, but to us who are being saved it is the power of God.
For it is written: "I will destroy the wisdom of the wise, And bring to nothing the understanding of the prudent."
Where [is] the wise? Where [is] the scribe? Where [is] the disputer of this age? Has not God made foolish the wisdom of this world?
For since, in the wisdom of God, the world through wisdom did not know God, it pleased God through the foolishness of the message preached to save those who believe.
For Jews request a sign, and Greeks seek after wisdom;
but we preach Christ crucified, to the Jews a stumbling block and to the Greeks foolishness,
but to those who are called, both Jews and Greeks, Christ the power of God and the wisdom of God.

Tahukah anda harga yang harus dibayar untuk menyampaikan firman yang tak biblikal, tak relevan dengan Kebenaran  dan berorientasi pada pertimbangan "entertain" atau bagaimana agar pendengar menjadi senang? Jawabnya : gereja, pendeta, dan jemaat akan kehilangan kekudusan Tuhan, kehilangan pengertian utuh terhadap keadilan, Tuhan yang kudus. Tuhan seharusnya menjadi rujukan utama dan ditaati.

Jika kita mulai mengumpulkan orang-orang berdasarkan pada apa yang direspon  dan dibutuhkan pendengar  maka penyampaian tentang Tuhan adalah Raja, kemuliaan Tuhan, menaati Tuhan  dalam kehidupan  bukan lagi menjadi keutamaan. Dan kita mulai melihat bagaimana gereja mulai mengkompromikan hal-hal semacam ini (lihat dan dengarkan video diatas pada menit 7:27 dimana seorang pengkhotbah dan penulis terkemuka dengan beraninya memperolok-olok  firman Tuhan, Tuhan Yesus, kedatangan Tuhan, bahkan menyatakan bahwa Revival dapat kita rencanakan dan kita jadwalkan, dan olok-olok pengkhotbah besar ini disambut gelak tawa oleh jemaatnya).

Sangat jelas bahwa pengkhotbah dan penulis terkemuka ini mengabaikan peringatan Tuhan dalam Yakobus 4:13-16

Come now, you who say, "Today or tomorrow we will go to such and such a city, spend a year there, buy and sell, and make a profit";
whereas you do not know what [will happen] tomorrow. For what [is] your life? It is even a vapor that appears for a little time and then vanishes away.
Instead you [ought] to say, "If the Lord wills, we shall live and do this or that."
But now you boast in your arrogance. All such boasting is evil.

Anda dapat dengan jelas menyaksikan atmosfir gereja semacam ini, kehidupan para pemimpinnya yang sangat duniawi,bahkan  yang terparah mereka sama sekali menghilangkan Doktrin Penderitaan dari elemen pengajarannya. Padahal Rasul Paulus menyatakan dalam 1 Tim 4:16 :

Take heed to yourself and to the doctrine. Continue in them, for in doing this you will save both yourself and those who hear you.

Namun sayangnya, gereja-gereja masa kini semakin mengabaikan peringatan Paulus terkait doktrin dengan menyatakan bahwa doktrin adalah hal yang berat dan tak relevan lagi, membosan, atau bahkan tak diperlukan lagi.

Dan yang lebih mengherankan lagi dan sulit untuk dijelaskan adalah kenyataan pergeseran yang meninggalkan  pengajaran  KEKUDUSAN dan KEBENARAN dinilai sebagai sebuah tren yang positif. Jika anda bertanya kepada pelaku atau gereja yang bergaya pragmatis semacam ini, mereka akan menyatakan bahwa ini adalah cara utama bagi gereja kontemporer dewasa ini, dalam hal ini mereka memandang diri mereka sebagai gereja yang lebih memiliki kasih dan lebih menekankan berkat. Tetapi sebenarnya itu bukan berkat, bukan kasih tetapi Pragmatisme.

Terlepas dari  kenyataan bahwa mereka yang berada didalam gereja-gereja pragmatis ini terlihat lebih mengasihi dan diberkati, namun apa yang kini mulai dirasakan  adalah : Masyarakat kita mengalami kekacauan konsep-konsep tersebut. Misalnya : memberikan kepada anak kita apapun yang dia inginkan dan membiarkan anak-anak mendikte orang tua, bagaimana keinginan mereka dipenuhi. Sebenarnya orang tua sedang membuatkan kuburan bagi anaknya dalam jangka panjang dan khususnya bahaya dalam jangka pendek.

~bersambung~

(Diekstrasi oleh Martin Simamora)

P O P U L A R - "Last 7 days"